Pada suatu pagi yang tidak istimewa, Gregor Samsa terbangun dari tidur yang gelisah dan mendapati dirinya telah berubah menjadi serangga yang sangat besar. Ia tidak menjerit. Tidak juga panik. Ia hanya bertanya-tanya bagaimana ia bisa turun dari ranjang tanpa melukai perutnya yang kini keras dan melengkung. Ia khawatir karena ia akan terlambat kerja. Dan di situlah, bahkan sebelum cerita benar-benar dimulai, kita tahu bahwa ini bukan kisah horor biologis—ini adalah kisah tentang manusia.

     Samsa tidak menolak tubuh barunya, setidaknya tidak dalam pengertian biasa. Ia tidak bertanya mengapa ini terjadi. Tidak mencari sihir, kutukan, atau eksperimen ilmiah yang salah arah. Ia hanya mencoba beradaptasi, karena ia adalah anak yang baik, karyawan yang patuh, dan makhluk yang terlanjur belajar untuk tidak banyak menuntut dari hidup. Itulah tragedinya yang pertama: ia tidak memberontak. Dan justru karena itu, ia dikutuk dua kali—pertama sebagai tubuh yang menjijikkan, kedua sebagai jiwa yang tidak tahu bagaimana melawan.

Dalam Metamorfosis, Kafka menciptakan ruang yang tak perlu dijelaskan secara simbolik terlalu cepat, karena yang paling menyakitkan justru adalah kejelasannya. Gregor bukanlah metafora belaka, ia adalah seseorang. Seseorang yang tidak asing bagi kita. Ia seperti orang tua yang suatu hari tubuhnya menjadi beban. Seperti teman yang depresi namun tetap datang bekerja karena gaji bulan ini dibutuhkan adiknya. Seperti tubuh kita sendiri saat mulai terasa berat untuk bangun pagi dan kita tak tahu kenapa. Ia adalah ikon manusia yang tidak salah, tetapi tetap dihukum oleh dunia yang tidak menyediakan ruang untuk keberadaan yang rapuh.

Sebelum menjadi serangga, Gregor adalah tulang punggung keluarga. Ia bekerja sebagai sales keliling untuk membayar utang ayahnya, mendukung ibu yang sakit-sakitan, dan membiayai adik perempuan yang masih belajar bermain biola. Ia mengerjakan semua itu tanpa keluh, hanya kadang berharap punya waktu lebih untuk tidur. Tapi setelah tubuhnya berubah, semua hal itu runtuh dalam diam. Bukan hanya karena ia tak bisa lagi bekerja, melainkan karena semua kasih sayang yang dulu terlihat ternyata bersumber dari fungsi, bukan dari dirinya sebagai makhluk hidup. Dan setelah ia tak lagi berfungsi, ia pun ditolak.

Kita melihat betapa pelan tapi pasti keluarganya menjauh. Sang ibu pingsan setiap kali melihatnya, sang ayah menyemprotkan apel ke tubuhnya, dan adik tercintanya, yang dulu mengurusnya setiap hari, mulai muak dan akhirnya menyebutnya “itu”—bukan lagi “Gregor”. Ia tak lagi disebut, tak lagi diakui, tak lagi diberi tempat dalam tata bahasa keluarga. Dan saat seseorang kehilangan tempat dalam bahasa, maka ia telah didepak dari makna. Ia bukan manusia lagi. Bahkan bukan makhluk pun. Ia hanya beban yang harus dihapus.

Ironi terbesar adalah bahwa Gregor sendiri tidak pernah benar-benar memprotes. Ia hanya memeluk keterasingannya seperti seseorang yang kedinginan memeluk kabut. Ia menyembunyikan diri di balik kursi, menempel di dinding, berusaha agar kehadirannya tidak mengganggu. Ia ingin tetap berguna, atau setidaknya tidak menyusahkan. Tapi tidak ada cara bagi seekor serangga untuk dicintai dalam rumah modern. Dan mungkin, memang tak ada cara bagi manusia pun untuk tetap dicintai setelah tidak bisa berperan.

     Tubuh Gregor adalah tubuh yang dijatuhi hukuman. Ia menjijikkan, tetapi tidak salah. Ia menyedihkan, tapi tidak menyuarakan kesedihan itu. Ia hanya perlahan-lahan menghilang, seperti seseorang yang sakit lama dan tak diobati bukan karena tidak ada obat, tetapi karena keluarga terlalu sibuk bekerja. Kafka menulis tubuh itu dengan detail yang ganjil dan penuh welas: punggung keras seperti perisai, banyak kaki kecil yang tak tahu harus bergerak ke mana, suara pelan yang tak lagi bisa dimengerti manusia. Tubuh itu bukan monster. Ia adalah kesepian yang tak bisa lagi dibicarakan.

     Dan ketika akhirnya Gregor mati—diam-diam, di pojok kamarnya—keluarganya merasa lega. Mereka pergi piknik. Mereka bersyukur karena beban mereka telah lenyap. Ini adalah momen yang terlalu jujur, terlalu manusiawi untuk disebut sadis. Karena kita tahu bahwa keluarga itu tidak jahat. Mereka hanya lelah. Dan kelelahan itu, dalam sistem sosial yang menuntut fungsi dari setiap anggota, berubah menjadi penolakan. Keluarga Samsa bukan simbol kebengisan, melainkan contoh betapa mudahnya cinta bergeser jadi beban jika manusia berubah bentuk—secara harfiah atau metaforis.

     Gregor tidak pernah benar-benar dimengerti, bahkan oleh pembacanya sendiri. Apakah ia representasi dari penderita penyakit kronis? Ataukah simbol manusia modern yang kehilangan jati diri di tengah kapitalisme? Atau mungkin hanya seseorang yang suatu hari menjadi “asing” dalam hidup yang dulu ia anggap miliknya? Semua bisa benar. Tetapi tak satu pun menjelaskan perasaan getir yang timbul saat membaca kisahnya. Perasaan bahwa kita pernah atau sedang menjadi Gregor. Dan lebih menakutkan lagi, bahwa kita pernah memperlakukan orang lain seperti keluarga Samsa.

     Kafka menulis dengan ketelitian seorang jaksa dan empati seorang penyair. Ia tidak memberi jalan keluar. Tidak menyisipkan moral. Ia hanya memperlihatkan apa yang terjadi jika manusia kehilangan tempat dalam bahasa, dalam fungsi, dalam cinta. Ia menulis bukan untuk mengutuk keluarga Gregor, tetapi untuk memperlihatkan bagaimana sistem hidup modern menyudutkan siapa pun yang berhenti berlari. Dalam dunia itu, kasih adalah kemewahan. Dan tubuh yang cacat adalah peringatan.

     Dan mungkin itulah kenapa Metamorfosis tidak pernah terasa usang. Kita hidup dalam dunia yang menuntut produktivitas, performa, dan bentuk yang bisa diterima. Kita menilai cinta dengan pertanyaan: “Apa yang bisa kau lakukan untukku?” Dan tubuh kita, perlahan, semakin menjadi musuh—entah karena usia, penyakit, depresi, atau hanya kelelahan yang tak bisa dijelaskan.

     Gregor Samsa tetap tinggal bersama kita karena ia tidak pernah meninggalkan kita. Ia ada di tubuh yang menua, di pekerjaan yang menindih, di malam-malam sepi di mana kita merasa tidak dipahami bahkan oleh orang yang paling kita cintai. Dan Kafka, dengan nada lirih dan tangan yang tidak menuduh, membisikkan bahwa meski tubuh kita berubah dan kata-kata menjauh, masih ada ruang untuk mengingat: bahwa di dalam serangga itu, ada seseorang yang dulu hanya ingin tidur sedikit lebih lama. (part 2 of 7)


Prolog

     Di sebuah kamar sempit di Praha, seorang lelaki bertubuh kurus, berpakaian rapi, duduk di meja tulis dan menatap halaman kosong dengan kecemasan yang tak pernah benar-benar asing. Ia menulis dengan tangan yang gemetar, seolah sedang mencatat dosa-dosa yang tidak pernah diperbuat namun sudah ditetapkan. Namanya Franz Kafka. Ia tidak hidup lama, hanya empat puluh tahun lebih sedikit, namun dunia yang ia torehkan tetap berlangsung dalam waktu yang seperti tak memiliki akhir. Dunia di mana orang ditangkap tanpa tahu kenapa, menjadi serangga tanpa sebab, dan menunggu untuk diterima oleh sebuah kastil yang tak pernah benar-benar ada.

     Kafka tidak menciptakan dunia-dunia ini karena ia gemar fantasi. Ia menulis karena tidak bisa tidak menulis. Dan ia menulis seperti orang yang sedang memohon ampun pada bahasa, memohon agar kalimat-kalimat itu memberinya tempat untuk bersembunyi. Namun kalimat-kalimat itu seperti ikut menuduhnya, seperti suara-suara dari lorong pengadilan dalam The Trial yang tak pernah memberikan kesempatan untuk membela diri.

     Karyanya adalah kisah-kisah yang seolah berjalan di jalur hukum, etika, dan kesadaran, tapi semuanya membelok seperti mimpi buruk yang terlalu logis untuk dibilang mimpi dan terlalu ganjil untuk disebut kenyataan. Dalam Metamorfosis, Gregor Samsa tidak bertanya kenapa ia berubah menjadi serangga—ia hanya gelisah karena terlambat masuk kerja. Dalam The Castle, K. terus mencari akses ke otoritas yang tak pernah mengakuinya, sementara dalam The Trial, Joseph K. hidup dalam proses tuduhan yang bahkan tidak membutuhkan kejahatan.

     Di tengah absurditas ini, Kafka bukan sedang menggambarkan dunia yang aneh, tetapi dunia yang terlalu familiar. Ia tidak bicara tentang fiksi, tapi tentang perasaan sehari-hari: rasa bersalah tanpa alasan, kecemasan tanpa objek, keinginan untuk diterima yang tak tahu oleh siapa. Dunia Kafka adalah dunia modern, hanya saja semua topeng dilepas dan absurditasnya ditampilkan telanjang.

     Ia sendiri hidup seperti tokoh-tokohnya: karyawan yang tekun, anak yang takut pada ayah, kekasih yang ragu, penulis yang malu pada tulisannya sendiri. Ia pernah meminta agar semua naskahnya dibakar setelah ia mati. Untunglah Max Brod mengkhianatinya—pengkhianatan paling mulia dalam sejarah sastra.

     Warisan Kafka menyebar seperti kabut yang meresap ke dalam pemikiran manusia abad ke-20. Albert Camus menyebut dunia Kafka sebagai cermin dari absurditas eksistensial yang tak dapat dijelaskan tapi terus kita jalani. Jean-Paul Sartre, meskipun tidak mengklaim Kafka sebagai eksistensialis, tak bisa menghindari jejak-jejak Kafka dalam pencarian makna di tengah absurditas. Jorge Luis Borges, dengan labirinnya, pernah berkata bahwa Kafka menciptakan pendahulunya—karena begitu besar pengaruhnya, seakan-akan seluruh sejarah sastra hanya menunggu untuk dijelaskan kembali dalam gaya Kafka. Milan Kundera menyebutnya sebagai akar dari sastra Eropa Tengah, tempat di mana sejarah dan identitas menjadi teka-teki yang menyakitkan.

     Dan Samuel Beckett? Dunia Waiting for Godot seolah merupakan anak spiritual Kafka—di mana tokoh-tokoh terus menunggu sesuatu yang tidak datang, namun tetap berdiri dalam absurditas karena tidak ada pilihan lain. Kafka juga menembus dunia hukum, filsafat, dan psikoanalisis: ia dibaca oleh para ahli hukum sebagai representasi paling tajam tentang alienasi hukum modern, oleh para psikoanalis sebagai teks yang penuh dengan represi, mimpi buruk, dan trauma masa kanak-kanak yang membusuk menjadi alegori dewasa.

     Namun barangkali yang paling mengganggu dari Kafka adalah ini: ia tidak menyelesaikan apa-apa. Novelnya terputus. Karakter-karakternya tak pernah mencapai tujuan. Tidak ada jawaban, hanya pertanyaan yang menggema. Tetapi justru karena itu, Kafka menjadi suara yang terus berbicara pada dunia yang juga tak pernah selesai menjelaskan dirinya sendiri. Ia adalah penulis yang tak ingin dimengerti, tapi justru karena itu dipahami oleh begitu banyak orang.

     Franz Kafka tidak menciptakan dunia yang aneh—ia hanya membiarkan kita melihat dunia seperti adanya, tanpa kacamata harapan, tanpa cahaya penebusan. Dunia di mana seseorang bisa dikutuk bahkan sebelum dilahirkan, di mana penderitaan adalah satu-satunya bentuk kejujuran yang tersisa, dan di mana bahasa tidak lagi menyelamatkan, hanya membiarkan kita berdiri, diam, di tengah kekacauan yang terorganisir.

     Dan mungkin itulah sebabnya, di abad yang dipenuhi dengan birokrasi, algoritma, dan kebingungan makna, Kafka justru terasa semakin dekat. Seperti bisikan lembut yang memberitahu kita bahwa tidak apa-apa jika kita tidak mengerti semuanya—karena dunia memang tidak pernah didesain untuk dimengerti. (part 1 of 7)


     Di sebuah kedai kopi yang remang, dua sosok bersua dalam obrolan yang seolah melompati ruang dan waktu. Friedrich Nietzsche, dengan tatapan tajam dan kumis melintang, menyeruput kopinya dengan santai. Di hadapannya, Yuval Noah Harari tersenyum tipis, seakan-akan menyadari bahwa ia sedang berbincang dengan arwah dari masa lalu.

     "Jadi, kau benar-benar yakin Tuhan sudah mati?" Harari membuka percakapan dengan nada bercanda.

     Nietzsche mengangkat bahu. "Sudah lama. Manusia telah membunuhnya dengan sains, rasionalitas, dan nihilisme. Tapi menarik, kau bicara tentang Homo Deus—dewa-dewa baru yang diciptakan oleh manusia sendiri. Apakah ini semacam kebangkitan dari kematian yang kusebutkan?"

     Harari terkekeh. "Sebagian besar manusia masih mencari makna, meskipun mereka tak lagi bersandar pada dogma. Dulu, mereka memandang ke langit dan berdoa, kini mereka melihat ke layar ponsel dan bertanya pada algoritma. Tuhan mungkin mati, tapi otoritas tetap hidup, hanya saja sekarang ia berbasis data."

     Nietzsche mengangguk pelan, kemudian bersandar ke kursinya. "Kau berbicara seperti seorang nabi teknologi. Jadi, menurutmu, data dan kecerdasan buatan akan menggantikan peran Tuhan?"

     "Bukan menggantikan, lebih tepatnya mengubah. Jika dulu manusia bertanya pada pendeta tentang makna hidup, kini mereka bertanya pada Google. Jika dulu mereka mengikuti kitab suci, kini mereka mengikuti rekomendasi algoritma. Dan, ironisnya, mereka lebih taat pada peta Google dibandingkan pada perintah Tuhan."

     Nietzsche tertawa keras. "Menarik! Tapi, apakah ini berarti manusia benar-benar bebas, atau justru semakin terkungkung oleh sistem baru? Aku berbicara tentang Ubermensch, manusia yang melampaui dirinya sendiri. Apakah Homo Deus yang kau gambarkan ini benar-benar bebas atau hanya makhluk yang tunduk pada tirani data?"

     Harari menghela napas. "Itu dilema kita. Kita menciptakan teknologi, tapi teknologi juga membentuk kita. Kita semakin bergantung pada data, bukan hanya untuk memahami dunia, tetapi juga untuk memahami diri sendiri. Apakah itu kebebasan, atau bentuk perbudakan yang lebih halus?"

     Dari sudut ruangan, seseorang yang lain menyela. Stephen Hawking, dengan suara sintetis khasnya, menyatakan, "Pertanyaannya bukan hanya tentang kebebasan, tetapi tentang keberadaan manusia itu sendiri. Jika AI berkembang hingga titik di mana ia lebih pintar dari kita, apakah kita masih relevan?"

     Nietzsche dan Harari saling berpandangan. "Jika Tuhan sudah mati, apakah manusia akan menyusul?" tanya Nietzsche.

     Harari mengusap dagunya. "Bukan mati, tapi berubah. Evolusi tidak pernah berhenti. Kita telah menjadi Homo Sapiens, dan mungkin, dalam waktu dekat, kita akan menjadi Homo Deus."

     "Dan apakah Homo Deus ini masih memiliki kehendak bebas?" tanya Nietzsche dengan sinis.

     Hawking menjawab dengan nada netral, "Jika kehendak itu ditentukan oleh algoritma, apakah masih bisa disebut bebas?"

     Hening sesaat. Di luar, lampu-lampu kota berkelap-kelip, seakan ikut merenungkan pertanyaan mereka.

     "Jadi, apa selanjutnya?" tanya Nietzsche akhirnya.

     Harari tersenyum. "Mungkin kita harus bertanya pada AI. Atau mungkin, kita harus mulai belajar bagaimana hidup tanpa ilusi kebebasan yang kita banggakan selama ini."

     Nietzsche terkekeh. "Ah, dunia ini memang panggung sandiwara. Jika Tuhan sudah mati, maka manusia adalah aktor yang sedang mencari sutradara baru."

     Dan di kedai kopi itu, obrolan mereka terus berlanjut, diiringi aroma kopi yang menguar, sementara dunia di luar terus berputar, mengikuti ritme data, algoritma, dan ilusi kebebasan yang terus berevolusi.

     Bayangkan sebuah gua tersembunyi, dihiasi lukisan purba di dindingnya. Di dalamnya, terdapat dua kelompok manusia purba. Kelompok pertama mengamati langit malam, mencatat pergerakan bintang, dan meramalkan musim. Kelompok kedua berkumpul di sekitar api unggun, menceritakan kisah-kisah leluhur dan asal mula dunia.

     Dua kelompok ini, tanpa disadari, sedang membangun fondasi pengetahuan, membuka jendela cakrawala mereka untuk memahami realitas. Kelompok pertama menjelajahi pengetahuan ilmiah, mengandalkan observasi dan eksperimen untuk membangun pemahaman objektif tentang dunia. Kelompok kedua merintis pengetahuan non-ilmiah, mengandalkan tradisi, kepercayaan, dan pengalaman subjektif untuk membentuk realitas intersubjektif.

Dua Pilar Pengetahuan

     Pengetahuan ilmiah, bagaikan sinar laser, menembus kabut ketidakpastian untuk menguak fakta objektif. Ia berlandaskan metodologi yang ketat, mengumpulkan data, dan membangun teori yang teruji. Contohnya, teori lempeng tektonik menjelaskan gempa bumi sebagai hasil pergerakan lempeng bumi. Pengetahuan ilmiah tentang gempa bumi membantu membangun sistem peringatan dini dan merancang bangunan tahan gempa.  

     Pengetahuan non-ilmiah, bagaikan lukisan abstrak, mencerminkan realitas yang diinterpretasikan melalui lensa budaya dan pengalaman. Di Jepang, gempa bumi dikaitkan dengan legenda Namazu, seekor ikan raksasa yang menggeliat di bawah bumi. 

     Di Jawa, gempa bumi dihubungkan dengan Ratu Pantai Selatan yang murka. Pengetahuan non-ilmiah, meskipun tidak selalu akurat secara objektif, memiliki kekuatan untuk menyatukan komunitas dan memberikan makna pada peristiwa yang kompleks. 

 Gerhana Dalam Dua Perspektif

     Pengetahuan ilmiah gerhana adalah fenomena alam yang terjadi ketika sebuah benda langit, seperti bulan atau planet, bergerak ke dalam bayangan benda langit lain. 

     Ada dua jenis utama gerhana: gerhana matahari dan gerhana bulan. Ketika gerhana matahari terjadi, itu berarti bulan bergerak di antara bumi dan matahari, sehingga bulan menutupi cahaya matahari untuk sementara waktu. Sedangkan gerhana bulan terjadi saat bumi berada di antara matahari dan bulan, sehingga bayangan bumi menutupi bulan.

     Pengetahuan non-ilmiah tentang gerhana bervariasi di berbagai budaya. Di negeri kita, ada yang percaya bahwa gerhana terjadi karena raksasa besar sedang mencoba memakan matahari atau bulan. Setiap kali gerhana terjadi, mereka membuat bunyi-bunyian keras, memukul-mukul panci, atau menyalakan obor untuk menakuti raksasa itu agar melepaskan matahari atau bulan.

    Di tempat lain, ada mitos tentang naga langit yang mengejar matahari dan bulan. Ketika naga itu berhasil menangkap salah satu dari mereka, terjadilah gerhana. Tetapi akhirnya, matahari atau bulan selalu berhasil lolos, dan terang kembali.

Asal Usul Manusia: Menelusuri Jejak Leluhur

     Pengetahuan ilmiah tentang asal usul manusia berkisah tentang evolusi, dimulai dari hominid awal hingga manusia modern. Para ilmuwan menggunakan bukti fosil, DNA, dan arkeologi untuk mempelajari bagaimana manusia berevolusi dan bermigrasi ke seluruh dunia. Pengetahuan ini membantu kita memahami keragaman manusia dan hubungan kita dengan spesies lain.

     Pengetahuan non-ilmiah tentang asal usul manusia terjalin erat dengan mitologi dan kepercayaan. Di berbagai belahan dunia, terdapat kisah-kisah penciptaan manusia yang berbeda-beda. Dalam mitologi Yunani, manusia diciptakan oleh Prometheus dari tanah liat. Dalam tradisi Hindu, manusia diciptakan oleh Brahma, dewa pencipta. Pengetahuan non-ilmiah ini memberikan makna dan tujuan hidup bagi manusia, menghubungkan mereka dengan leluhur dan dunia spiritual.

Membangun Realitas

     Pengetahuan non-ilmiah, meskipun tidak selalu akurat secara objektif, memiliki kekuatan untuk menyatukan komunitas dan memberikan makna pada peristiwa yang kompleks. Cerita rakyat, legenda, dan tradisi menjadi perekat sosial, menumbuhkan rasa identitas dan rasa saling memiliki.

     Pengetahuan ilmiah, di sisi lain, memberikan landasan untuk memahami dunia secara objektif. Ia membantu kita memecahkan masalah, mengembangkan teknologi, dan meningkatkan kualitas hidup.

     Lantas, jenis pengetahuan apa yang mendominasi isi kepala kita saat ini? Jawabannya mungkin berbeda untuk setiap individu. Di era modern, pengetahuan ilmiah tampaknya mendominasi wacana publik. Media massa, pendidikan formal, dan penelitian ilmiah terus memproduksi dan menyebarkan pengetahuan ilmiah.

     Namun, pengetahuan non-ilmiah tetap memainkan peran penting dalam kehidupan kita. Tradisi, budaya, dan kepercayaan pribadi terus membentuk cara kita memandang dunia.

     Pada akhirnya, keseimbangan antara pengetahuan ilmiah dan non-ilmiah adalah kunci untuk memahami realitas secara menyeluruh. Kita membutuhkan pengetahuan ilmiah untuk memahami dunia secara objektif, namun kita juga membutuhkan pengetahuan non-ilmiah untuk memahami makna dan nilai-nilai yang kita pegang teguh.

Sebuah Perjalanan yang Tak Berujung

     Pengetahuan, bagaikan samudra luas, menyimpan rahasia dan misteri yang tak terhitung jumlahnya. Semakin banyak kita belajar, semakin kita menyadari betapa luasnya lautan pengetahuan dan betapa kecilnya pengetahuan yang kita miliki.

     Sebagai individu yang terpelajar, tugas kita adalah terus belajar dan menjelajahi samudra pengetahuan ini. Kita harus berani mempertanyakan asumsi, menggali lebih dalam, dan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab.

     Pada saat yang sama, kita harus selalu ingat bahwa pengetahuan bukan hanya tentang fakta dan teori. Pengetahuan juga tentang memahami diri sendiri dan orang lain, tentang membangun hubungan dan komunitas, dan tentang menciptakan dunia yang lebih baik.

     Di era digital ini, dimana informasi dan pengetahuan bagaikan samudra luas yang sangat mudah diakses, masih ada saja orang yang memilih untuk berenang di kolam kebodohan. Mereka seperti katak dalam tempurung, terperangkap dalam keyakinan sempit dan menolak untuk menjelajah lautan pengetahuan yang terbentang luas di hadapan mereka.

     Salah satu contohnya adalah penolakan terhadap teori evolusi. Masih ada yang bersikukuh bahwa paus, kambing, kecoa, cebong, kampret, ubur-ubur dan sebagainya itu adalah produk ciptaan sim salabim oleh suatu pencipta super, bukan hasil proses evolusi. Keriuhan di dunia maya penuh sesak dengan pola jawaban seperti itu, dari para netizen yang selalu merasa sebagai diri maha benar. Mereka menutup mata dari segudang bukti ilmiah dan memilih untuk berlindung di balik dogma yang lapuk.

     Kitab-kitab kuno, berisi kisah legenda dogma dan petuah-petuah moral adalah kitab pengetahuan non-ilmiah. Isi kitab-kitab itu tidak dapat digunakan menyanggah hasil-hasil riset yang dihasilkan dengan seperangkat metode yang ketat.

Menyanggah botol air mineral berisi 600 ml setelah mengukurnya menggunakan stopwatch, atau menyangkal kebenaran 30 km sebagai jarak Makassar ke Maros menggunakan timbangan daging, jelas merupakan kebodohan yang sangat lucu. Maka, semenggemaskan itulah rasanya ketika orang menolak temuan sains dengan argumen dari buku kuno yang berisi berbagai dongeng dan mitos.

     Sikap penolakan ini, alih-alih menunjukkan kecerdasan, justru mencerminkan kebodohan dan kemalasan dalam mencari ilmu. Di era digital ini, di mana buku dan artikel ilmiah berlimpah ruah, tak ada alasan untuk tetap terkungkung dalam ketidaktahuan. "Tak ada yang masuk akal di dalam biologi, kecuali dalam terang evolusi," kata Theodosius Dobzhansky, seorang ahli biologi ternama. Evolusi adalah fondasi ilmu biologi, dan menolaknya sama saja dengan menolak memahami kehidupan itu sendiri.

     Menjadi bodoh di zaman penuh informasi ini adalah sebuah pilihan. Kebodohan bukan takdir, bukan pula kutukan turun temurun. Orang memilih untuk menjadi bodoh ketika mereka mengabaikan akses mudah ke ilmu pengetahuan yang tersedia di sekeliling mereka.

     Internet bagaikan gerbang raksasa menuju ilmu pengetahuan. Wikipedia misalnya, membantu membuka pintu menuju sumber-sumber informasi yang lebih mendalam. Kebiasaan mencari tahu sebelum berkomentar dan melakukan riset singkat adalah langkah awal untuk melatih disiplin ilmiah dan menjauhkan diri dari kebodohan.

     Bagi yang terkendala bahasa, jangan khawatir. Di era digital ini, belajar bahasa asing semudah mengunduh aplikasi. Dulu, mempelajari bahasa asing membutuhkan biaya kursus yang mahal. Kini, hanya dengan modal pulsa, kita sudah bisa mempelajari bahasa apa pun di internet.

    Mencari ilmu memang membutuhkan ketekunan, sedangkan berkomentar bodoh hanya butuh jari dan kebebalan. Memilih untuk menjadi bodoh di era digital ini adalah sebuah kemubaziran. Bukankah lebih baik membuka diri terhadap pengetahuan dan menjelajahi lautan ilmu yang tak terbatas?

    Mari kita jadikan era digital ini sebagai gerbang menuju pencerahan, bukan kubangan kebodohan. Gunakan gawai di tangan kita untuk mengakses informasi yang melimpah sehingga memperkaya diri dengan ilmu, bukan sekadar untuk menonton hamburan sampah dunia maya yang tanpa faedah. 

     Di era ini, memilih bodoh adalah sebuah cerminan kebodohan absolut diri kita. 

note:

     Di dunia yang kerap melankolis dengan doa-doa panjang dan retorika ketakutan, Einstein, sang genius berambut kusut yang sering dipuja sebagai nabi sains, muncul dengan pertanyaan yang lebih tajam daripada pedang para nabi. Dalam sebuah percakapan hangat yang memercikkan ketidaknyamanan, seorang kawan bertanya padanya, “Einstein, kau percaya kepada Tuhan?”

     Einstein tersenyum, menatap dalam, lalu menjawab, “Aku percaya pada Tuhannya Spinoza.”

     Tetapi tunggu dulu. Tuhan Spinoza? Apakah yang dimaksud Einstein adalah Tuhan yang mencibir rumah ibadah, memutar balik makna kitab suci, dan bahkan menertawakan konsep neraka?

     Spinoza! Sebuah nama yang menghantui sejarah filsafat seperti bayangan yang menolak dilupakan. Baruch de Spinoza, filsuf Yahudi Portugis yang hidup di Belanda pada abad ke-17, adalah seorang revolusioner intelektual. Ia dibuang, dikutuk, bahkan dianggap pengkhianat oleh komunitasnya sendiri, tetapi pemikirannya tak pernah mati. Melalui renungan yang lebih dalam daripada lautan, Spinoza melahirkan sebuah visi tentang Tuhan yang lebih megah, lebih agung, lebih bebas daripada yang pernah dibayangkan manusia.. Ia menyodorkan gagasan yang membuat para imam berkeringat dan para raja berpikir ulang. Bagi Spinoza, Tuhan bukanlah pengawas moral atau algojo surgawi. Tuhan adalah alam itu sendiri—yang abadi, tanpa emosi, tanpa favoritisme.

     Spinoza seolah-olah ingin berteriak kepada dunia, “Berhenti mengasihani diri kalian di altar dosa-dosa kecil! Aku, Tuhan, tidak peduli dengan ritual kalian. Aku tidak memerlukan nyanyian pujian kalian yang palsu. Aku adalah hukum gravitasi yang membuat apel jatuh, aku adalah energi matahari yang memeluk bumi, aku adalah getaran cinta yang membuat hati kalian berdetak lebih cepat.”

     Einstein memahami hal ini dengan mendalam. Ia menyadari absurditas manusia yang memohon kepada Tuhan seperti pengemis di jalanan kosmik, memohon rezeki atau keselamatan dari hukuman yang mereka ciptakan sendiri. Dalam pandangan Einstein, Tuhan tidak punya waktu untuk itu. Jika Tuhan benar-benar ada, Ia mungkin sedang sibuk menciptakan galaksi baru atau mengamati ledakan supernova, bukan mengurusi apakah manusia memakan daging babi atau tidak.

     Dan lebih dari itu, Einstein tahu satu hal: “Jika Tuhan itu memang Tuhan, Ia tidak mungkin kecil.” Tidak mungkin Tuhan yang menciptakan alam semesta yang tak terhingga akan menyempitkan eksistensinya hanya untuk menghukum manusia yang tidak patuh pada aturan-aturan remeh.

     Tuhan Spinoza, seperti yang dipahami Einstein, adalah Tuhan yang tertawa ketika manusia mencoba menafsirkannya dalam kitab suci. “Kitab suci?” Tuhan mungkin akan berkata, “Itu hanya tulisan manusia yang terlalu takut untuk tidak punya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan besar.”

     Dan neraka? Einstein mungkin akan menambahkan dengan sarkasme, “Oh, ya, Tuhan menciptakan neraka. Karena apa lagi yang lebih ilahi daripada tempat penyiksaan abadi untuk makhluk yang bahkan tidak meminta untuk diciptakan?”

     Spinoza, melalui Einstein, memanggil manusia untuk bangkit dari ketakutan dan prasangka. “Hiduplah!” kata Tuhan Spinoza, “Aku menciptakan alam semesta ini untuk kalian nikmati, bukan untuk kalian ratapi. Berlarilah, bernyanyilah, cintailah dengan sepenuh hati. Jika kalian ingin menghormati aku, hormatilah hidup itu sendiri!”

     Namun, ironi terbesar adalah: manusia lebih suka takut pada Tuhan daripada mencintainya. Mereka lebih rela tunduk kepada imajinasi tentang neraka daripada memeluk keindahan alam. Mereka memuja Tuhan yang marah, bukan Tuhan yang indah.

     Einstein melihat ini dengan jelas. Ia tahu bahwa manusia terlalu terobsesi dengan makna hidup, sehingga mereka melupakan hidup itu sendiri. Mereka terlalu sibuk mencari Tuhan di luar, sehingga mereka melupakan Tuhan yang ada dalam setiap hembusan napas mereka.

     “Tuhan adalah musik,” Einstein pernah berkata. Dan seperti musik, Tuhan tidak membutuhkan definisi. Tuhan hanya membutuhkan penghayatan.

     Mungkin, jika Spinoza hidup di zaman Einstein, ia akan berdiri di sampingnya, menatap langit malam penuh bintang, lalu berkata, “Lihatlah, Einstein. Di sanalah Tuhan kita—tidak dalam kata-kata, tetapi dalam keheningan yang penuh makna.”

     Dan Einstein, dengan senyuman penuh misteri, akan menjawab, “Ya, Spinoza. Karena Tuhan tidak bermain dadu, Ia juga tidak membutuhkan rabbi, imam apalagi provokator untuk menerjemahkan kehendak-Nya".

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.