Articles by "Para Pejuang"

Tampilkan postingan dengan label Para Pejuang. Tampilkan semua postingan

     Ada saat-saat ketika pikiran terasa menua lebih cepat dari tubuh. Ia mulai berhenti berkelana dan memilih duduk, bersandar pada buku-buku lama yang dulu sempat membuatnya bergetar. Di titik itu, intelektualitas berubah dari petualangan menjadi museum. Dan di dalam museum itu, banyak intelektual yang masih hidup, tapi pikirannya sudah jadi artefak. Mereka tidak lagi mencari, hanya menjaga agar debu di rak gagasan tidak terlalu tebal.

     Mungkin memang ada “jiwa tua” di setiap kepala yang dulu pernah berani berpikir. Suara lirih yang membisikkan: “berhentilah bertanya, nikmatilah kepastian.” Ia menenangkan, bahkan memeluk kita seperti doa ibu di masa kecil. Tapi seperti semua kenyamanan, ia berbahaya. Sebab begitu seseorang berhenti mempertanyakan keyakinannya, ia berhenti menjadi intelektual dan berubah menjadi penjaga altar pikirannya sendiri. Ia masih bicara tentang kebenaran, tapi yang dimaksud bukan lagi pencarian—melainkan warisan yang dijaga dengan takut-takut.

     “Jiwa tua” bukan soal umur, tapi soal keberanian yang memudar. Ia bersembunyi di ruang seminar yang sama, menggunakan slide PowerPoint yang sama, dan masih memulai kalimat dengan “menurut Habermas” tanpa pernah menanyakan, apakah Habermas masih relevan untuk era algoritma dan kecerdasan buatan. Ia senang pada kepastian, alergi pada ambiguitas. Ia lebih percaya pada dogma yang dipoles rapi ketimbang kebenaran yang belum selesai. Ia hidup dari nostalgia, dari masa ketika kutipan bisa menggantikan keberanian berpikir. Dalam dirinya, intelektualitas menjadi kebaktian rutin: penuh tata cara, tapi tanpa getaran makna.

     Ironisnya, banyak pikiran muda yang diam-diam bermimpi menjadi tua secepat mungkin. Mereka meniru gestur dan nada intelektual senior — bukan semangatnya. Mereka membangun persona akademik yang serius, menulis dengan kalimat panjang, berlapis jargon yang membingungkan, seolah kompleksitas bahasa adalah bukti kedalaman isi. Mereka lupa bahwa kedalaman sejati justru adalah kemampuan menyederhanakan tanpa kehilangan makna. Begitulah lahir generasi “tua sebelum waktunya”: pintar mengutip, tapi miskin keberanian berpikir dari nol. Mereka seperti tanaman dalam pot: tumbuh, tapi tidak pernah berakar di tanah realitas.

     Sebaliknya, “pikiran muda” adalah kesadaran yang jujur pada ketidaktahuannya. Ia berani menanggung risiko menjadi salah. Ia tahu bahwa pengetahuan bukan menara, melainkan sungai yang terus mengalir. Pikiran muda tidak sibuk menjaga keaslian gagasan, sebab ia sadar bahwa gagasan yang hidup memang harus berubah bentuk. Ia menghormati tradisi, tapi tidak menyembahnya. Ia mendengarkan sejarah, tapi tidak ingin tinggal di sana. Ia memiliki sesuatu yang hilang dari banyak ruang akademik hari ini: rasa ingin tahu yang tidak malu.

     Kita hidup di masa yang lucu: orang-orang berbicara tentang spiritualitas sambil berdagang wacana, sementara para ilmuwan sibuk mencari Tuhan lewat rumus. Banyak yang berdoa di laboratorium dan meneliti di tempat ibadah. Mereka semua tampak sibuk mencari pembenaran, bukan kebenaran. Di sinilah tragedi kesadaran intelektual modern berakar — ketika rasionalitas kehilangan keberanian untuk jujur, dan mistik kehilangan kerendahan hatinya untuk menjadi manusiawi. Akal dan jiwa sama-sama kehilangan keseimbangan, karena keduanya lebih sibuk mengafirmasi diri ketimbang memahami dunia.

     Menjadi intelektual hari ini berarti menerima bahwa berpikir adalah kerja yang melelahkan sekaligus menegangkan. Tidak ada istirahat dalam pencarian. Pikiran yang sehat harus siap disangkal, diuji, dan dipatahkan — sebab justru di sanalah ia tumbuh. Mungkin inilah alasan banyak orang memilih kenyamanan “jiwa tua” ketimbang kedewasaan berpikir yang jernih. Karena berpikir dengan waras berarti berdiri di antara dua tebing: emosi yang ingin berkuasa, dan keyakinan yang ingin memerintah.

     Maka, intelektual sejati bukanlah mereka yang menyimpan jawaban, melainkan yang sanggup terus bertanya bahkan setelah dunia berhenti mendengarkan. Ia menjaga pikirannya tetap muda tanpa kehilangan kematangan jiwanya. Ia tahu bahwa kebenaran selalu sementara, dan karena itu, ia mencintainya tanpa rasa memiliki. Sebab pikiran tidak perlu menua — cukup matang. Dan di tengah dunia yang gemar berpura-pura paham, mungkin satu-satunya sikap intelektual yang tersisa adalah tetap ingin tahu, dengan kepala yang dingin dan hati yang berani.

     “Siapakah sebenarnya yang pantas kita sebut sebagai intelektual di era kebisingan informasi ini?” Pertanyaan itu menghantui ruang publik kita yang hari-hari ini lebih mirip pasar malam ketimbang arena perdebatan gagasan. Semua orang ingin tampil cerdas, sebagian benar-benar berusaha dengan kesungguhan, sebagian lain hanya berdandan dengan kostum kepintaran. Komentar, opini, dan jargon bertebaran di mana-mana, tetapi sedikit yang mampu bertahan sebagai pijakan nalar. Di tengah hiruk pikuk ini, kita perlu menengok ulang apa arti menjadi intelektual hari ini.

     Intelektualitas, sesungguhnya, hanyalah kapasitas—kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan kreatif. Tapi kapasitas tidak serta merta melahirkan intelektual. Ia baru menjadi sesuatu yang berarti ketika berani menjelma peran sosial. Intelektual sejati bukan hanya orang yang berpikir, tetapi yang memperjuangkan agar pikirannya berguna bagi orang lain. Seperti lilin, nilainya bukan pada bentuknya yang indah, melainkan pada kesediaannya habis demi menerangi sekitar.

     Edward Shils pernah menulis bahwa seorang intelektual memiliki obsesi pada nilai-nilai transenden—dorongan untuk mencari makna yang melampaui kepentingan pribadi dan pragmatisme jangka pendek. Ia bisa saja ekonom, petani, jurnalis, atau musisi. Yang membedakan hanyalah orientasi: apakah pikirannya masih berpijak pada nurani publik, atau telah menjadi budak gengsi dan pasar. Dalam dunia yang memuja efisiensi, keberanian untuk tetap mencari makna menjadi tindakan subversif tersendiri. Kadang justru di sanalah kemanusiaan menemukan napasnya: di antara mereka yang tetap berpikir ketika semua sibuk menghitung, dan tetap bertanya ketika dunia memilih diam.

     Sayangnya, di negeri yang demam gelar dan sertifikasi, intelektualitas sering disamakan dengan prestasi administratif. Profesor yang mengoleksi ratusan publikasi jurnal sering dielu-elukan seolah setiap tulisan ilmiah otomatis menambah kecerdasan bangsa. Padahal banyak di antara mereka yang tak pernah turun dari menara gadingnya, membiarkan publik terjebak dalam gelapnya kebodohan struktural. Ilmu, tanpa keberanian untuk dibagikan, hanyalah artefak yang tersimpan di rak perpustakaan, indah tapi tak hidup.

     Sebaliknya, ada petani yang mampu mengartikulasikan penderitaan kaumnya dan mengaitkannya dengan kebijakan agraria. Ia tak punya gelar, tetapi punya kesadaran. Ada buruh yang dengan sederhana menjelaskan bagaimana sistem ekonomi global menciptakan rantai ketergantungan upah murah. Di hadapan mereka, banyak sarjana justru tampak seperti pengunjung seminar yang tersesat dalam power point-nya sendiri. Dan mungkin, di antara suara mereka yang sederhana itulah, kita mendengar sesuatu yang telah lama hilang: kejujuran pikiran, yang tak membutuhkan gelar untuk berani mengatakan yang benar.

     Panggung kita memang penuh dengan bayangan semu yang menampilkan diri sebagai intelektual. Mereka bermunculan dalam rupa-rupa yang ironis sekaligus menggelikan. Ada sang pertapa akademis, yang terkurung dalam menara gading, menulis artikel untuk dibaca oleh segelintir kolega internasional. Ia menatap dunia lewat grafik dan tabel, tapi tak pernah menatap manusia di balik angka-angka itu. Di luar kampus, masyarakat berteriak butuh arah, sementara sang profesor sibuk mengejar indeks sitasi.

     Lalu muncul komentator luwes, si serba-tahu yang hadir di setiap talk show dengan wajah percaya diri dan volume suara tinggi. Ia berbicara tentang apa pun—politik, moral, sampai cuaca—dengan keyakinan seorang nabi dan riset seorang amatir. Kata-katanya deras, tapi esensinya hampa, seperti kicauan burung murai yang indah namun tak pernah selesai menjadi kalimat.

     Dan tentu saja, selalu ada para penyulap jargon. Mereka senang membuat orang bingung agar tampak penting. Setiap kalimatnya terdengar seperti mantra akademik: “melampaui wacana hegemonik dalam ruang intertekstual yang liminal”. Pendengar terdiam, kagum, lalu lupa apa yang sedang dibicarakan. Inilah gaya intelektual yang menjadikan kebingungan sebagai estetika dan kekosongan sebagai gaya hidup.

     Tiga wajah ini menghuni ruang publik kita, dan sering kali mendapat panggung lebih besar daripada mereka yang benar-benar menyalakan obor pengetahuan. Mungkin karena kebodohan yang dikemas dengan percaya diri memang lebih menghibur ketimbang kebenaran yang disampaikan dengan kerendahan hati. Dan ironisnya, justru di tangan mereka, kata “intelektual” kehilangan maknanya—menyusut menjadi aksesoris sosial, tanda pengenal di balik jas, bukan cahaya dalam gelap.

     Namun, intelektual sejati tetap ada, meski suaranya kerap tenggelam dalam kebisingan. Mereka yang dengan sabar menjadi penerjemah pengetahuan, seperti Yuval Noah Harari yang mengubah narasi sejarah menjadi refleksi kolektif umat manusia. Mereka yang disebut Gramsci sebagai intelektual organik, pemimpin serikat buruh yang jeli membaca jerat regulasi ketenagakerjaan atau aktivis lingkungan dari komunitas adat yang menghubungkan perjuangan lokal dengan krisis iklim global. Mereka juga hadir dalam wujud seniman, Pramoedya Ananta Toer yang dengan tetralogi Burunya menyingkap sejarah alternatif bangsa, atau Goenawan Mohamad yang lewat esai-esainya melatih kita untuk curiga pada kebekuan sambil tetap kagum pada keajaiban kecil hidup.

     Benang merahnya jelas: mereka hadir bukan untuk mengejar gelar atau popularitas, tetapi untuk menanggung risiko gagasan. Intelektual sejati adalah warga negara gagasan—mereka yang percaya bahwa pemikiran bisa menjadi bentuk keberanian, bahwa kalimat bisa menjadi tindakan. Mereka menjaga agar ruang publik tetap berdenyut dengan akal sehat, menjadi kompas moral sekaligus penanda arah ketika kabut kebodohan menebal.

     Di tengah banjir informasi, mereka adalah jangkar kewarasan yang menolak hanyut dalam arus opini. Mereka tahu, tugasnya bukan memenangkan perdebatan, melainkan menjaga agar percakapan tetap mungkin. Dan mungkin, itulah bentuk tertinggi dari intelektualitas hari ini: keberanian untuk berpikir jernih ketika semua sibuk berteriak, dan kesetiaan untuk berharap ketika logika publik mulai tenggelam. Karena pada akhirnya, bangsa ini tidak kekurangan orang pandai—hanya kekurangan mereka yang mau menggunakan otaknya dengan jujur.

     Sebuah nama bukan sekadar tanda pengenal, melainkan penjelmaan makna yang mengikat masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dalam konteks lembaga pengetahuan dan riset, nama sering kali menjadi fondasi identitas: ia menampung cita-cita, visi, sekaligus arah gerak. Demikian halnya dengan gagasan Institut Karst Nusa Purusa. Nama ini menyimpan resonansi yang khas, baik secara geografis, filosofis, maupun kultural.

     Kata karst menjadi jangkar yang menautkan lembaga ini pada ruang ekologis yang nyata. Karst bukan hanya bentang alam dari batu gamping dan dolomit, melainkan sistem hidup yang kompleks: gua, sungai bawah tanah, mata air, hingga biota endemik yang rapuh. Ekosistem karst adalah penyangga vital kehidupan manusia, penyedia air, ruang budaya, sekaligus lanskap spiritual dalam banyak kebudayaan Nusantara. Dengan mencantumkan “karst” dalam nama, lembaga ini menegaskan fokusnya: mengkaji, menjaga, sekaligus memberdayakan ekosistem yang kerap terabaikan ini (Ford & Williams, 2007).

     “Nusa” mengaitkan lembaga pada ruang kepulauan Indonesia. Ia menegaskan bahwa karst yang menjadi perhatian bukanlah entitas abstrak, melainkan bagian dari tanah air: tersebar dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara hingga Papua. Karst hadir sebagai denyut nadi dari “nusa-nusa” yang menyusun mosaik bangsa. Dengan demikian, “nusa” memperluas cakrawala: lembaga ini tidak hanya berpijak pada satu lokasi, tetapi hadir untuk menghubungkan seluruh kepulauan dalam semangat pengetahuan dan konservasi (Day & Urich, 2000).

     Sementara “purusa” memberi dimensi filosofis yang lebih dalam. Dalam bahasa Sanskerta, purusa merujuk pada prinsip manusia, jiwa, atau inti keberadaan. Purusa adalah kesadaran yang memberi arti pada alam raya. Dengan memilih kata ini, lembaga tidak semata bicara tentang batu, gua, atau air, tetapi tentang manusia yang hidup dan berelasi dengan lanskap karst. Nama ini mengingatkan bahwa studi karst harus melibatkan dimensi antropologis, kultural, bahkan spiritual. Bahwa dalam setiap tetes air yang mengalir dari mata air karst, ada riwayat manusia yang menggantungkan hidupnya. Bahwa setiap gua bukan hanya rongga geologi, melainkan juga arsip budaya dan sejarah spiritual (Kapur, 2019; Kusumayudha, 2010).

     Gabungan ketiga kata itu—Karst Nusa Purusa—melahirkan sintesis: lembaga yang berakar pada lanskap geologi, berjejaring dalam ruang kepulauan, dan berorientasi pada manusia sebagai pusat makna. Nama ini tidak kering secara teknis, tidak pula abstrak secara berlebihan, melainkan menampung keseimbangan antara sains, budaya, dan nilai hidup. Jika tujuan sebuah institut adalah membangun pengetahuan yang membumi sekaligus melampaui, maka nama ini sudah mencerminkan arahnya. Institut Karst Nusa Purusa dapat menjadi ruang pertemuan antara ilmu bumi, ekologi, kebudayaan, dan filsafat manusia. Sebuah wadah yang tidak hanya menjaga karst sebagai batuan, tetapi juga sebagai rumah kehidupan (Gunn, 2004).


Daftar Pustaka

  1. Day, M. J., & Urich, P. B. (2000). An Assessment of Protected Karst Landscapes in Southeast Asia. Cave and Karst Science, 27(2), 61–70.

  2. Ford, D. C., & Williams, P. (2007). Karst Hydrogeology and Geomorphology. Wiley.

  3. Gunn, J. (Ed.). (2004). Encyclopedia of Caves and Karst Science. Routledge.

  4. Kapur, R. (2019). Purusha and Prakriti in Indian Philosophy. Indian Journal of Philosophy, 45(3), 201–214.

  5. Kusumayudha, S. B. (2010). Karst Indonesia: Bentang Alam, Air Tanah, dan Pengelolaannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

  6. Vermeulen, J. J., & Whitten, A. J. (1999). Biodiversity and Cultural Heritage in Karst. World Bank.

  7. Gillieson, D. (1996). Caves: Processes, Development and Management. Blackwell.

     Di sebuah desa di kaki Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (Babul), seorang ibu bangun sebelum matahari terbit. Ia berjalan ke sumur yang dalamnya lebih dari 20 meter, menimba air dengan kerekan tua. Suaminya bersiap ke sawah tadah hujan yang hanya bisa ditanami padi sekali setahun. Anak-anaknya berjalan kaki ke sekolah, melewati bukit kapur yang tampak gersang. Sehari-hari mereka hidup dalam lanskap karst yang keras, tetapi bagi mereka bukit-bukit itu bukan sekadar batu, melainkan ruang hidup yang diwariskan leluhur.

     Masyarakat karst, baik di Babul, Gunung Sewu, maupun wilayah tropis lain, selalu berhadapan dengan paradoks. Dari luar, tanah mereka tampak kering, tetapi sesungguhnya di bawah kaki mereka tersimpan air yang melimpah. Sayangnya, akses ke air itu tidak mudah. Mereka harus tahu di mana gua yang menyimpan mata air, kapan musim hujan bisa ditadah, atau bagaimana menjaga pepohonan di sekitar bukit agar resapan tetap bekerja. Pengetahuan ekologis ini tidak lahir dari buku, melainkan dari pengalaman panjang hidup bersama karst.

     Namun pengetahuan lokal itu sering terpinggirkan. Dalam kebijakan pembangunan, masyarakat karst kerap dianggap “terbelakang”. Alih-alih dilibatkan, mereka disuguhi janji modernisasi: jalan baru, pabrik semen, atau wisata massal. Padahal, tanpa masyarakat lokal, karst tidak akan pernah terjaga. Mereka adalah penjaga pertama yang tahu gua mana yang boleh dimasuki, pohon mana yang tak boleh ditebang, atau mata air mana yang harus dijaga kesuciannya.

     Di Babul, banyak gua yang dianggap keramat. Larangan adat mencegah orang merusak mulut gua atau menebang hutan di sekitarnya. Dari perspektif ekologis, larangan itu melindungi zona resapan air dan menjaga kestabilan akuifer karst. Tetapi dalam logika pembangunan modern, aturan adat semacam itu dianggap hambatan. Ketika tambang batu gamping dibuka, masyarakat sering kali hanya jadi penonton. Mereka kehilangan tanah, sementara air yang dulu bisa diakses bersama perlahan menghilang.

      Contoh serupa terjadi di gunung Sewu, Yogyakarta. Ketika wisata Goa Pindul dibuka besar-besaran, masyarakat lokal diundang untuk bekerja sebagai pemandu. Namun, keputusan soal tata kelola, tiket, dan investasi sering kali diambil pihak luar. Pengetahuan masyarakat tentang gua diwarisi turun-temurun, tetapi nilainya kalah dibanding modal dan otoritas. Fenomena ini menunjukkan betapa mudahnya masyarakat karst tersingkir, bahkan di tanah yang sudah mereka jaga selama ratusan tahun.

     Ironisnya, ketika krisis datang, masyarakat lokal pula yang paling merasakan dampaknya. Di Babul, beberapa desa mengalami penurunan debit mata air setelah pembukaan tambang gamping. Di Gunung Kidul, kekeringan panjang membuat warga harus membeli air dengan harga mahal, sementara gua-gua yang dulunya kaya air menjadi kering. Situasi ini menunjukkan bahwa karst tidak bisa dipisahkan dari masyarakat yang menghuninya: ketika karst rusak, mereka pula yang pertama menanggung derita.

     Padahal, potensi masyarakat karst sangat besar untuk menjadi mitra konservasi. Pengetahuan lokal tentang resapan, larangan adat, dan tata cara memanen air bisa dipadukan dengan teknologi modern. Program konservasi di Taman Nasional Babul, misalnya, akan lebih efektif jika melibatkan petani lokal dalam pemantauan debit mata air dan perlindungan gua. Begitu juga dengan riset karst tropis: tanpa partisipasi masyarakat yang mengenali setiap ceruk dan lorong, para ilmuwan akan kesulitan mengakses data yang valid.

     Penting untuk diingat, karst bukan hanya bentang alam; ia adalah bentang budaya. Gua bukan sekadar ruang geologi, tetapi juga ruang spiritual, ekonomi, dan sosial. Masyarakat karst adalah penjaga yang paling tahu bagaimana hidup di antara kekeringan dan kelimpahan, di antara keterbatasan dan keberlanjutan. Mengabaikan mereka sama saja dengan merobek halaman penting dari arsip kehidupan karst itu sendiri.

     Maka, bila kita ingin bicara tentang konservasi karst, kita harus bicara juga tentang masyarakatnya. Tidak cukup hanya dengan undang-undang, zonasi taman nasional, atau penelitian ilmiah. Karst akan tetap rapuh jika manusia yang tinggal di sekitarnya dipinggirkan. Sebaliknya, karst akan tetap hidup jika pengetahuan lokal diberi ruang, jika masyarakat diberdayakan sebagai aktor utama. Pada akhirnya, tanpa masyarakat, karst hanyalah batu; tetapi dengan masyarakat, ia menjadi peradaban yang berdenyut


Daftar Pustaka

  1. Brunn, S., & Haryono, E. (2017). Sustainable livelihoods in tropical karst environments: Lessons from Gunung Sewu, Indonesia. Environmental Earth Sciences, 76(4), 175.

  2. Haryono, E., & Day, M. (2004). Karst in Indonesia: Review of research, resources and conservation. Cave and Karst Science, 31(3), 131–138.

  3. Sukri, S., & Fitriani, N. (2019). Kearifan lokal masyarakat karst dalam menjaga sumber daya air di Kabupaten Maros. Jurnal Sosial dan Humaniora, 9(2), 45–56.

  4. Wiradi, G. (2015). Masyarakat dan perubahan tata guna lahan di kawasan karst Gunung Sewu. Jurnal Ilmu Sosial Indonesia, 21(1), 55–70.

  5. World Bank. (2020). Living with karst: Socio-ecological resilience in Southeast Asia. Washington, DC.

Dari Batu Kapur ke Taman Nasional

     Bagi banyak orang, istilah “gunung kapur” identik dengan sesuatu yang remeh. Gunung yang tandus, berdebu, gundul, lalu diangkut truk-truk besar untuk dijadikan semen. Imajinasi publik tentang karst sering berhenti pada gambaran muram: wilayah miskin, penuh lubang tambang, dan tidak layak huni. Padahal, di balik label sederhana itu tersembunyi salah satu ekosistem paling rumit sekaligus paling vital bagi kehidupan manusia. Menganggap karst hanya sebagai “gunung kapur” sama artinya dengan menyebut perpustakaan nasional hanya sebagai “gedung penuh kertas”.

     Di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (Babul), misalnya, imajinasi publik sering terpaku pada kupu-kupu. Julukan “Kerajaan Kupu-kupu” memang melekat sejak lama, dan memang benar: Alfred Russel Wallace yang singgah pada abad ke-19 terpesona oleh keragaman spesiesnya. Namun Babul lebih dari sekadar panggung serangga yang indah. Ia adalah lanskap karst tropis raksasa yang menyimpan ratusan gua, sungai bawah tanah, serta arsip kehidupan manusia berusia puluhan ribu tahun. Di Leang Bulu Sipong, ditemukan lukisan gua berusia sekitar 44.000 tahun, salah satu seni figuratif tertua di dunia (Aubert et al., 2019). Fakta ini saja cukup untuk mengguncang imajinasi: bahwa “gunung kapur” ternyata menyimpan sejarah seni manusia.

     Di banyak daerah Indonesia lain, stigma serupa masih berlangsung. Gunung Sewu di selatan Jawa disebut “tanah miskin”, karena sulit bercocok tanam di permukaan berbatu. Tak heran jika migrasi besar-besaran menjadi pola bertahan hidup warga sejak lama. Namun di balik wajah keras itu, karst menyimpan reservoir air raksasa yang kini dipahami sebagai kunci ketahanan pangan regional (Adji & Haryono, 2015). Begitu pula di Babul: air yang menyusup ke dalam batu kapur membentuk jaringan akuifer yang menjadi sumber utama bagi ribuan hektar sawah di dataran rendah sekitarnya. Apa yang dulu dianggap kering kerontang ternyata adalah “bank air” raksasa yang nyaris tak ternilai.

     Ironisnya, narasi publik jarang melihat karst dengan kaca mata semacam itu. Karst lebih sering diposisikan sebagai beban. Bagi pemerintah daerah, ia dianggap wilayah yang sulit dikembangkan. Bagi investor, ia hanya dihitung sebagai cadangan batu gamping untuk industri semen. Bagi sebagian masyarakat, ia dipersepsi sebagai tanah keras yang bikin repot. Imajinasi kolektif ini yang berbahaya, sebab begitu narasi “gunung kapur” mendominasi, maka ekspolitasi dianggap wajar. Tak ada yang merasa kehilangan bila “hanya” sebuah bukit kapur yang diratakan.

     Padahal, perubahan status karst menjadi taman nasional mestinya membongkar imajinasi itu. Penetapan Babul sebagai taman nasional pada 2004 bukanlah sekadar administrasi birokrasi. Itu adalah pengakuan bahwa karst adalah ruang hidup yang memiliki nilai ekologis, kultural, dan historis. Status taman nasional menegaskan bahwa karst adalah warisan yang harus dijaga, bukan hanya ditambang. Namun, apakah perubahan status otomatis mengubah cara pandang masyarakat? Belum tentu. Banyak warga di sekitar masih merasa karst sebagai beban, sebab janji ekonomi dari pariwisata atau konservasi sering tidak segera terasa.

     Di sinilah pentingnya membangun imajinasi baru. Imajinasi bukan soal khayal kosong, tetapi kerangka berpikir yang menentukan cara kita bertindak. Bila karst dipandang sebagai “batu mati”, maka kebijakan akan mengarah ke tambang. Bila ia dipahami sebagai “peradaban air”, maka arah pembangunan berubah: infrastruktur air, pertanian, pariwisata berkelanjutan, riset ilmiah. Perubahan imajinasi inilah yang bisa menggeser karst dari posisi marginal menjadi pusat kebanggaan nasional.

     Kita bisa belajar dari Vietnam, yang berhasil mengangkat Phong Nha-Ke Bang dari sekadar “gunung kapur” menjadi situs warisan dunia UNESCO. Imajinasi kolektif di sana bergeser: gua bukan lagi lubang gelap tak berguna, melainkan aset budaya dan ekowisata kelas dunia. Begitu pula di Slovenia, kawasan karst klasik yang bahkan melahirkan istilah “karst” itu sendiri kini menjadi simbol identitas nasional, hingga dijadikan obyek wisata sains dan pendidikan. Indonesia, dengan 15 juta hektar karst dari Sumater hingga Papua, memiliki modal yang tak kalah besar. Bedanya hanya soal narasi: apakah kita masih terjebak di kata “gunung kapur”, atau berani melihat karst sebagai warisan global.

     Mengubah imajinasi bukan pekerjaan sekejap. Ia perlu ditopang oleh riset ilmiah yang komunikatif, pendidikan publik yang membumi, serta kebijakan yang konsisten. Misalnya, publikasi hasil penelitian tentang lukisan gua purba Babul bisa disajikan dalam bentuk populer, bukan hanya jurnal akademik. Atau, pengetahuan lokal masyarakat tentang mata air bisa diangkat sebagai bagian dari kearifan ekologi, bukan dianggap tradisi pinggiran. Dengan cara itu, karst tidak lagi diposisikan di ruang bawah, tetapi dinaikkan ke panggung utama kesadaran bangsa.

     Pada akhirnya, membongkar imajinasi tentang karst berarti mengubah relasi kita dengan batu itu sendiri. Dari benda keras yang tak bernilai, menjadi ruang hidup yang menopang air, pangan, seni, hingga identitas manusia. Dari beban pembangunan, menjadi kebanggaan nasional. Jika Babul bisa dipandang bukan sekadar “gunung kapur”, melainkan taman nasional yang menyimpan jejak peradaban, maka karst tidak lagi sunyi dalam kesalahpahaman, melainkan berbicara lantang sebagai saksi sejarah dan guru kehidupan.


Daftar Pustaka

  1. Adji, T. N., & Haryono, E. (2015). Water balance in the Gunung Sewu karst area and its significance for water resource management. Environmental Earth Sciences, 74(12), 8293–8305. https://doi.org/10.1007/s12665-015-4735-8

  2. Aubert, M., Setiawan, P., Brumm, A., et al. (2019). Earliest hunting scene in prehistoric art. Nature, 576, 442–445. https://doi.org/10.1038/s41586-019-1806-y

  3. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). (2004). Penetapan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. Jakarta: KLHK.

  4. LIPI. (2010). Inventarisasi dan Identifikasi Flora dan Fauna di Kawasan Karst Bantimurung-Bulusaraung. Laporan Penelitian. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

  5. UNESCO. (2015). Phong Nha-Ke Bang National Park (Vietnam). World Heritage Centre. https://whc.unesco.org/en/list/951 

  6. Aubert, M., Setiawan, P., Brumm, A., et al. (2019). Earliest hunting scene in prehistoric art. Nature, 576, 442–445. https://doi.org/10.1038/s41586-019-1806-y

     Apa gunanya sebuah sistem jika ia lupa pada manusia? Apa gunanya sebuah revolusi jika hanya mengganti wajah penindas, sementara luka batin tetap dibiarkan membusuk? Pertanyaan itu, kalau ditaruh di tengah keramaian zaman modern, terasa seperti bisikan yang kalah oleh bising iklan, target kerja, dan notifikasi. Namun justru di situlah suara Marx terdengar—sunyi, dalam, dan keras kepala.

     Kita hidup di dunia yang sibuk tapi hampa. Kita bekerja, berpikir, bergerak, seolah-olah tahu arah, padahal sering kali hanya mengikuti arus yang digerakkan mesin raksasa bernama sistem. Kapitalisme modern adalah mesin canggih yang menjanjikan kebebasan, tetapi ironisnya membuat kita semakin jauh dari diri sendiri. Marx menyebut keadaan ini sebagai keterasingan: saat manusia tidak lagi mengenali dirinya di dalam hidup yang ia bangun sendiri. Kita mengerahkan tenaga, waktu, bahkan jiwa untuk menghasilkan sesuatu, namun hasil itu tidak pernah menjadi milik kita. Seperti buruh yang membuat kursi indah, tapi tidak pernah duduk di atasnya.

     Bagi Marx, kerja seharusnya bukan sekadar alat bertahan hidup, melainkan medium untuk mengekspresikan jati diri. Melalui kerja, manusia bisa menanamkan dirinya ke dunia, mewujudkan potensi yang tersembunyi menjadi nyata. Tetapi dalam kapitalisme, kerja berubah menjadi beban, bahkan kutukan. Kita bangun pagi bukan karena cinta, melainkan karena ketakutan—takut tidak bisa membayar sewa, takut kehilangan pekerjaan, takut dianggap tidak berguna. Bukankah ini ironi paling tragis dari zaman kita? Kita bekerja bukan untuk hidup, melainkan agar tidak hancur.

     Alienasi inilah inti penderitaan modern. Ia bukan sekadar masalah ekonomi, melainkan pengalaman eksistensial. Manusia menjadi asing terhadap dirinya, terhadap sesama, bahkan terhadap hasil ciptaannya sendiri. Kita mungkin produktif secara statistik, tetapi batin kita kosong. Kita mungkin sibuk mengisi kalender kerja, tetapi lupa mengisi jiwa. Kapitalisme bukan hanya merampas tenaga, tapi juga mencederai rasa cinta, solidaritas, dan kebermaknaan. Pertanyaannya pun bergeser: bukan lagi “siapa aku?”, melainkan “apa gunanya aku bagi pasar?” Dan ketika nilai manusia diukur dari kegunaannya bagi pasar, tragedi psikis itu dimulai: merasa tak berguna, bahkan di tengah produktivitas yang melimpah.

     Marx menolak untuk melihat manusia sebagai benda mati, sesuatu yang tetap dan selesai. Bagi dia, manusia adalah proses yang berdenyut, terus berubah, membentuk dan dibentuk oleh relasi sosial. Maka kalau dunia ini penuh keterasingan, yang perlu dirombak bukan hanya struktur ekonomi atau sistem politik, melainkan juga cara kita memandang diri sendiri. Kita bukan mesin, bukan sekadar fungsi. Kita adalah kemungkinan yang belum selesai.

     Di titik ini, Marx bukan sekadar ekonom revolusioner yang berteriak soal kelas pekerja, melainkan seorang pemikir tentang luka batin manusia modern. Revolusi baginya bukan sekadar pergantian rezim, tapi semacam terapi kolektif. Ia tidak bermimpi membakar dunia demi ideologi, melainkan mengingatkan bahwa dunia tidak akan sembuh jika manusia di dalamnya tetap tercerabut dari makna. Emansipasi, bagi Marx, adalah upaya menyambung kembali koneksi manusia dengan dirinya sendiri, dengan pekerjaannya, dengan sesamanya.

     Erich Fromm, salah satu pembaca Marx yang paling simpatik, menolak reduksi terhadap Marx sebagai semata ideolog ekonomi. Dalam karyanya Konsep Manusia Menurut Marx, Fromm menampilkan wajah Marx yang lain—seorang humanis radikal yang percaya bahwa cinta, solidaritas, dan martabat adalah bagian dari perjuangan. Marx, menurut Fromm, bukan sekadar pengkritik kapitalisme, melainkan penafsir jiwa yang terluka. Ia menentang agama yang mematikan harapan, tetapi ia juga tahu: tanpa harapan, manusia tak punya kekuatan untuk bertahan.

     Kapitalisme menjanjikan kebebasan, namun justru merampas ruang batin. Ia mencetak manusia yang cerdas tapi cemas, produktif tapi rapuh. Kita didorong untuk berlari cepat, mengejar karier, pencapaian, dan status, tetapi jarang diberi ruang untuk bertanya: sudahkah aku hidup sebagai manusia? Atau aku hanya bertahan sebagai fungsi? Kita punya ponsel pintar, kendaraan cepat, dan mesin produksi mutakhir, tapi entah kenapa kita tetap kesepian. Kita punya pilihan makanan dari berbagai aplikasi, tapi kehilangan rasa lapar akan makna.

     Di sinilah Marx kembali relevan, bukan sebagai dogma politik, tetapi sebagai pengingat bahwa manusia tidak bisa direduksi menjadi mesin produksi. Emansipasi sejati bukan hanya kebebasan politik, melainkan pembebasan dari penindasan batin—dari kecemasan, keserakahan, dan rasa tidak cukup. Marx ingin agar manusia kembali menjadi subjek, bukan objek. Agar manusia mencintai karena bebas, bukan karena harus. Agar kerja bukan hanya alat bertahan hidup, melainkan cara untuk menghidupkan diri.

     Menjadi manusia seutuhnya, kata Marx, adalah tugas yang belum selesai. Dan tugas itu menuntut dunia yang memungkinkan kita tumbuh otentik, bukan dunia yang memaksa kita jadi roda dalam mesin raksasa. Sosialisme, dalam kacamata ini, bukan sistem tertutup, melainkan ruang terbuka untuk “menjadi manusia.” Ia bukan utopia kaku, melainkan kemungkinan bersama untuk hidup tanpa keterasingan.

     Mungkin, di zaman serba cepat dan serba instan ini, kita perlu mengulang pertanyaan sederhana: apakah aku hidup sebagai manusia, atau hanya bertahan sebagai fungsi? Jika kita berhenti sejenak, menarik napas, dan berani menatap diri sendiri, mungkin kita menemukan bahwa revolusi paling radikal bukanlah menggulingkan rezim, melainkan menyembuhkan jiwa.


book: Gagasan Tentang Manusia - Erich Fromm

      Di suatu senja, ketika langit ibukota memerah seperti darah yang teroksidasi, Dr. Arini menyelesaikan presentasinya tentang bioteknologi tanaman obat di hadapan para kolega bergelar doktor. Layar proyektor masih memamerkan grafik spektrometri massa ketika ia merogoh tas Hermès-nya, mengeluarkan botol kecokelatan bertuliskan "Ekstrak Bajakah Super — Warisan Leluhur Dayak". "Untuk diabetes," bisiknya pada profesor di sebelahnya, "Tapi jangan bilang-bilang, ya. Risetnya masih tahap awal." Suara tawa mereka menggema di ruang ber-AC, sementara di luar, seorang driver ojol yang menderita gula darah tinggi mengutip harga ramuan itu — setara dengan tiga hari upahnya.

     Inilah ironi zaman: kaum terdidik yang seharusnya menjadi mercusuar logika, justru menjadi penenun kabut antara sains dan tahayul. Mereka berbicara tentang placebo effect dalam seminar, tapi di grup WhatsApp alumni kampus ternama, mereka ramai-ramai membagikan tutorial "detoksifikasi aura dengan kristal kuarsa". Tan Malaka, dari dalam debu sejarah, mungkin sedang menggigit jari melihat bagaimana "akal" yang ia perjuangkan dikhianati oleh mereka yang paling pantas menjaganya.

     Di laboratorium universitas negeri di Jawa Tengah, aroma etanol 70% bercampur dengan dupa yang mengepul dari sudut ruangan. "Biar alat-alat ini tidak 'dingin'," kata seorang asisten lab sambil menyemburkan air bunga ke spektrofotometer. Alat senilai miliaran rupiah itu — yang bisa menganalisis struktur molekul hingga tingkat atom — dianggap perlu "dihidupi" oleh ritual yang sama primitifnya dengan upacara meminta hujan zaman prasejarah. Di meja sebelah, tumpukan proposal penelitian tentang uji klinis jamu antikanker bersanding dengan sesajen nasi kuning yang mulai berjamur.

     Tapi absurditas sejati terjadi di ruang rapat dekanat. Seorang guru besar farmakologi, penulis puluhan paper terindeks Scopus, dengan serius mengusulkan: "Bagaimana jika kita buka program magister pengobatan tradisional? Syarat masuknya bisa pakai tes meditasi chakra ketujuh!" Rekan-rekannya manggut-manggut, sambil sesekali menyentuh jimat kecil di saku — pemberian seorang shaman yang diundang sebagai guest lecturer bulan lalu.

     Di pelosok Kalimantan, akar bajakah yang dulu hanya digunakan untuk menyamak kulit binatang, tiba-tiba menjelma "obat dewa". Yang menarik bukanlah para dukun yang menjualnya di pasar, melainkan doktor-doktor muda lulusan luar negeri yang membuat video TikTok dengan latar belakang perpustakaan penuh buku teks: "Inilah bukti superioritas pengobatan lokal atas imperialisme farmasi Barat!" Mereka lupa bahwa "farmasi Barat" yang mereka kutuk itu justru mematenkan 84% bahan aktif dari tanaman obat negara dunia ketiga — setelah melalui uji klinis ketat yang mereka sendiri enggan lakukan.

     Sementara itu, di klinik-klinik alternatif yang bermekaran di kawasan elite, pasien kanker stadium akhir dijejali ramuan akar-akaran dengan harga selangit. "Ini bukan sekadar herbal," bisik seorang terapis lulusan S2 biologi molekuler sambil menunjukkan sertifikat seminar "Quantum Healing", "Ini tentang menyelaraskan frekuensi DNA dengan energi alam semesta." Di dinding, ijazahnya dari universitas negeri terakreditasi A tergantung malu-malu, seolah tak ingin terlibat dalam drama pseudosains yang dipentaskan di ruang periksa.

     Di dunia yang lebih modern, logika mistika memakai baju baru. Sebuah startup di Bandung — didirikan oleh lulusan ITB dan Stanford — menawarkan aplikasi "AI Spiritual Healing". "Dengan algoritma machine learning dan kebijaksanaan leluhur Nusantara," demikian pengumuman mereka di LinkedIn, "kami bisa mendiagnosis penyakit melalui foto aura." Para venture capitalist berebut menanamkan dana, sementara di balik layar, coding mereka hanya bisa membedakan antara foto yang diambil dalam cahaya hangat dan dingin.

     Tak ketinggalan, di gedung DPR, seorang menteri bergelar doktor ekonomi dari universitas Ivy League dengan yakin menyatakan: "Krisis pangan bisa diatasi dengan gerakan nasional makan tempe — karena fermentasi kedelai mengandung probiotik yang meningkatkan kecerdasan kolektif!" Argumen ini — yang lebih cocok untuk stand-up comedy — justru diajukan dalam rapat kerja nasional, lengkap dengan grafik-grafik warna-warni yang dibuat asistennya semalaman.

     Di tengah riuh rendah ini, bayangkan Tan Malaka duduk di sudut ruang rapat itu. Matanya menyipit melihat para doktor yang membangun kerajaan ilusi dari ketidaklogisan. "Kalian pikir kolonialisme sudah mati?" gumamnya, "Lihatlah bagaimana kalian menjajah pikiran rakyat sendiri dengan mitos-mitos baru berbalut jargon akademik!"

     Madilog mengajarkan bahwa jalan keluar bukan pada penolakan terhadap tradisi, tetapi pada transformasi radikal cara berpikir. Jamu bukan musuh — musuhnya adalah klaim-klaim tanpa bukti. Ketika nenek di pedalaman Papua menggunakan getah pohon untuk menyembuhkan luka, itu adalah kearifan lokal. Tapi ketika profesor di Jakarta menjual getah yang sama sebagai "obat kanker yang diteliti secara turun-temurun", itu adalah penipuan intelektual.

     Revolusi yang sesungguhnya dimulai ketika kita berani memaksa setiap klaim melalui tungku logika yang membara. Uji klinis bukan penghinaan pada leluhur, melainkan penghormatan tertinggi — dengan mengubah "katanya" menjadi "terbukti". Ketika petani di Boyolali menggabungkan kalender pranata mangsa dengan data satelit NASA, mereka sedang menulis bab baru dalam sejarah: di mana tradisi bukan lagi dogma, tetapi hipotesis yang siap diuji.

     Di akhir hari, ketika lampu-lampu kampus mulai padam, bayangan para intelektual itu masih terlihat sibuk di balik jendela laboratorium. Ada yang sedang menganalisis kromatografi, ada yang menyiapkan sesaji untuk ritual penyambutan alat baru. Di suatu sudut, seorang mahasiswa S3 yang idealis — mungkin satu-satunya yang masih membaca Madilog — menatap ijazah sarjananya yang terbungkus plastik. "Apa gunanya gelar ini," gumamnya, "jika kita lebih takut pada hantu ketimbang kesalahan metodologi?"

     Di luar, kabut mulai turun menyelimuti kota. Kabut yang sama yang pernah menyelubungi pikiran manusia purba, lalu diusir oleh obor revolusi sains. Kini, ia kembali dalam bentuk baru — lebih licin, lebih menggoda — menyusup melalui celah-celah gelar doktor dan jurnal bereputasi. Tantangannya tetap sama: apakah kita cukup berani membawa obor logika itu, meski harus membakar habis topeng-topeng intelektual kita sendiri?

     Seperti kata Tan Malaka: "Di medan perang pikiran, kompromi adalah kekalahan." Dan medan perang itu kini ada di meja-meja laboratorium kita, di layar-laptop kita, di ruang-ruang rapat tempat kita menjual jiwa keabadian ilmiah untuk sesaji popularitas semu.


     Kehilangan adalah bahasa yang dipelajari manusia sejak pertama kali menyadari bahwa cinta dan kepedihan adalah dua sisi dari koin yang sama, berputar dalam orbit kehidupan yang tak pernah sepenuhnya bisa dimengerti. Dalam getar-getar kepergian, kita bukan hanya meratapi yang lenyap, tetapi merengkuh kembali setiap serpihan makna yang pernah melekat pada sesuatu yang kini menjadi bayangan. Dunia ini adalah panggung tempat setiap kepergian menorehkan puisi sunyi tentang bagaimana cinta tak pernah benar-benar mati, hanya berubah bentuk menjadi lanskap batin yang lebih dalam, lebih gelap, dan lebih sakral.

     Hamlet berdiri di tepian istana Elsinore yang dingin, bukan sebagai pangeran yang meratapi ayahnya, melainkan sebagai manusia pertama yang tersadar bahwa kematian sesungguhnya terletak pada hancurnya tiang-tiang logika yang selama ini menopang langit-langit keyakinannya. Ketika Raja Hamlet wafat, yang terkubur bukan hanya jenazah seorang ayah, melainkan seluruh sistem koordinat yang memberi arti pada gerak bintang dan alur waktu. "To be or not to be" adalah jeritan metafisik dari jiwa yang tercabut akarnya, mengambang di antara realitas yang retak dan ilusi yang tak lagi mampu menipu. Kehilangan di sini adalah gempa yang mengguncang fondasi epistemologi, meninggalkan retakan-retakan di mana kegelapan merayap masuk seperti kabut yang tak bisa diusir.

     Di ruang lain yang lebih sunyi, Simone menyaksikan tangan ibunya yang dulu kuat mencangkul kebun kini gemetar memegang sendok sup. Kematian ternyata bukan dentangan gong yang tiba-tiba, melainkan erosi halus seperti air yang mengikis batu selama ribuan musim. Setiap keriput di wajah ibunya adalah halaman yang terlepas dari buku ingatan, setiap napas yang pendek adalah detak jam pasir yang tak bisa diputar ulang. Yang tersisa hanyalah keheningan yang aneh: tubuh yang sama yang dulu menggendongnya ke pasar kini menjadi semacam artefak asing, seolah-olah jiwa telah mulai melakukan perjalanan panjang sementara raga masih tertinggal di ruang waktu yang salah. Di sini, kehilangan adalah proses penyepuhan yang kejam, mengubah emosi menjadi patina kebiruan yang menyelubungi kenangan.

     Melintasi lumpur Mississippi yang lebih pekat daripada duka, keluarga Bundren menggotong peti berisi Addie menuju kuburan. Faulkner membisikkan kebenaran pahit: yang mereka bawa bukan hanya jasad seorang ibu, melainkan potongan-potongan puzzle hubungan yang tak pernah tersusun utuh. Setiap langkah kaki yang terbenam dalam tanah basah adalah cermin dari hati yang tak pernah benar-benar bertemu meski tinggal dalam atap yang sama. Kehilangan di sini menjadi parasit yang bersarang di ruang keluarga, tumbuh subur dalam diam-diamnya perbedaan persepsi tentang cinta dan pengorbanan. Kuburan tak lagi sekadar tempat peristirahatan terakhir, melainkan monumen bagi semua kata yang tak terucap, pelukan yang tertahan, dan permintaan maaf yang mengkristal menjadi bebatuan dalam dada.

     Di Tokyo yang diselimuti salju, Toru Watanabe berjalan di lorong-lorong ingatan bersama Naoko yang perlahan larut seperti es di bawah matahari April. Kematian Naoko hanyalah titik final dari sebuah penguapan yang telah berlangsung bertahun-tahun; kepergiannya yang sesungguhnya terjadi setiap kali matanya kehilangan cahaya, setiap kali senyumnya menjadi lebih tipis dari kertas washi, setiap kali diamnya mengental menjadi tembok yang tak bisa ditembus. Murakami menggambarkan kehilangan sebagai hutan di malam hari: kita tak pernah benar-benar tahu kapan mulai tersesat, hanya tiba-tiba menyadari bahwa suara yang dulu memanggil nama kita telah berubah menjadi gema yang jauh.

     Meursault di tepi pantai Aljir menatap matahari yang sama yang menyilaukan saat ia menghadiri pemakaman ibu. Bagi Camus, kehilangan terbesar justru terjadi ketika kita kehilangan kemampuan untuk merasakan kehilangan itu sendiri. Matahari yang terik itu bukan simbol kematian, melainkan alegori atas kebisuan eksistensial: bagaimana dunia terus berputar dengan acuh, bagaimana pasir tetap panas, bagaimana laut tetap biru, sementara sesuatu di dalam diri kita telah mati tanpa upacara. Kehilangan di sini adalah pengasingan ganda: dari dunia dan dari diri sendiri.

     Di ruang bawah sadar Esther Greenwood, kehilangan berubah menjadi kaca bening yang memisahkan diri dari dunia. Plath melukiskan absennya diri sebagai kematian dalam kehidupan—saat seseorang menjadi penonton bagi keberadaan sendiri, menyaksikan dunia melalui dinding kaca yang tak bisa ditembus. Yang hilang bukan lagi orang lain, melainkan sensasi menjadi 'ada'. Sentuhan kehilangan di sini adalah dinginnya embun pagi di kulit yang mati rasa, adalah bisikan angin yang tak lagi membawa pesan, adalah langit biru yang tak lagi terasa relevan. Kehilangan diri adalah kematian bertahap yang terjadi dalam diam, di mana setiap helaan nafas justru mengikis sisa-sisa keinginan untuk tetap bertahan.

     Di tanah yang tercabik konflik, Biru Laut kehilangan bukan hanya tubuhnya, tetapi hak untuk menjadi bagian dari narasi sejarah. Kepergiannya adalah luka kolektif yang dibungkus dalam diam, sebuah kehilangan yang tak bisa diratapi karena semua makam telah dihapus dari peta. Di sini, duka menjadi sungai bawah tanah yang mengalir melalui generasi, membentuk delta trauma yang tak terlihat tapi menentukan alur hidup. Kehilangan jenis ini adalah gempa bumi yang terus bergetar meski permukaan tanah sudah tenang, adalah hujan asam yang menggerogoti akar identitas, adalah memori yang diwariskan seperti kutukan genetis.

     Tapi di tengah semua kepedihan ini, melepaskan bukanlah tanda kekalahan. Zachariades membisikkan hikmah kuno: bahwa cinta sejati justru bersinar paling terang ketika belajar membuka tangan. Melepaskan adalah tarian paradox di mana kita tetap mencintai tanpa menuntut kepemilikan, tetap merindukan tanpa mengikat, tetap mengingat tanpa membebani. Seperti Heidi yang menulis surat kepada bayangan, kehilangan mengajarkan seni mencintai dalam ketiadaan—sebuah cinta yang tak lagi membutuhkan bukti atau pengakuan, tetapi bertahan sebagai api unggun di tengah padang gurun kesendirian. 

     Duka tiba seperti angin malam yang menyusup lewat celah-celah kenangan. Setelah upacara penguburan usai, setelah para pelayat pulang, barulah kehilangan menunjukkan wajah aslinya: dalam sendok yang masih tertinggal di wastafel, dalam bau teh vanila yang tak lagi sama, dalam kursi kosong yang masih menyimpan lekuk tubuh seseorang. Rumah yang dulu bergetar dengan tawa kini menjadi museum senyap yang memamerkan artefak ketidakhadiran. Setiap sudut menjadi altar kecil untuk ritual mengingat yang tak pernah usai, di mana bahkan debu di jendela pun bercerita tentang tangan yang tak lagi membersihkannya.

     Dostoevsky mengukir tragedi terkelam melalui tokoh suami yang baru memahami cinta ketika istrinya telah menjadi mayat di bawah jendela. Kehilangan di sini adalah cermin yang memantulkan kebenaran pahit: bahwa kita seringkali belajar mendengar hanya setelah suara itu berhenti, memahami kehangatan hanya setelah tubuh itu menjadi dingin. Yang mati bukan hanya sang istri, melainkan kemungkinan-kemungkinan dialog yang tertunda, pelukan yang ditunda, maaf yang terpendam di balik ego.

     Di setiap sudut ruang yang sunyi pasca-kepergian, duka tak hadir sebagai badai, melainkan sebagai kelembapan yang merembes pelan. Bau kopi di dapur yang tak lagi direbus, sudut bantal yang tak lagi berlekuk, sepatu tua yang tetap tertata rapi di rak—inilah sisa-sisa cinta yang berubah menjadi fosil halus. Kehilangan adalah katedral tak kasatmata tempat kita belajar memeluk keabadian dalam bentuk yang lain: melalui luka yang tak lagi berdarah, melalui senyum yang muncul di antara air mata, melalui kesadaran bahwa mencintasi sesuatu berarti juga merelakannya menjadi bagian dari langit, laut, atau angin yang suatu hari akan menyapa kita dalam bentuk yang berbeda.

     Akhirnya, kehilangan bukanlah akhir dari cinta, melainkan kelahiran kembali cinta dalam dialek yang lebih dalam. Seperti cahaya bintang yang tetap terlihat meski sumbernya telah musnah ribuan tahun silam, cinta sejati tak pernah pergi—ia hanya berubah menjadi cahaya yang lebih halus, lebih bijak, lebih mampu menyinari kegelapan yang tak terjamah kata-kata. Di sini, di puing-puing yang tersisa, kita menemukan paradoks terbesar: bahwa justru dalam kehilangan, kita belajar mencintai dengan cara yang lebih luas, lebih dalam, lebih abadi—seperti samudera yang tetap mengirimkan buih ke pantai meski bulan telah lama berhenti menariknya.

Proyek Genting Sebagai Human

     Kita berdiri di sini, di tengah gemuruh zaman, sedang bertahan tanpa kehilangan tujuan, bagai pelaut kuno yang menatap bintang di langit yang gelap gulita, berpegang pada kompas yang kadang bergetar liar. Tujuan itu, bagaimanapun, bukan pelabuhan akhir yang megah, melainkan lebih mirip cahaya samar di kejauhan yang terus bergerak, memanggil kita untuk melangkah, meski kaki lelah dan jalanan licin oleh keraguan. Kita bukan makhluk yang selesai, bukan patung marmer yang kaku dalam museum keabadian. Kita adalah proyek yang selalu genting, bangunan yang belum selesai, yang kerangkanya berderit ditiup angin perubahan, yang fondasinya kadang diuji gempa dahsyat ketidakpastian. 

     Jean-Paul Sartre, dalam bisikan eksistensialisnya yang tajam, menegur kita dengan lembut sekaligus menggigit: janganlah menyandarkan kesalahan pada takdir yang kejam, pada masa lalu yang membelenggu, atau pada dunia yang seolah acuh tak acuh. Makna hidup, katanya, bukanlah warisan yang diantarkan ke depan pintu, melainkan pilihan yang kita rangkai sendiri, butir demi butir, dalam setiap tarikan napas dan keputusan kecil yang seringkali terasa remeh. Pilihan-pilihan itulah batu bata proyek genting kita, yang menentukan apakah kita hanya akan menjadi reruntuhan atau candi yang meski retak, tetap menjulang.

     Ada hari-hari ketika langit terasa terlalu tinggi, dunia terlalu luas dan berisik, sementara kita merasa kecil, sangat kecil, seperti debu yang tersapu angin, suara yang tenggelam dalam paduan suara kosmik yang kacau. Rasanya tak ada yang mengerti, tak ada telinga yang cukup peka untuk mendengar gemuruh sunyi dalam diri. Namun, di tengah rasa terasing yang menusuk itu, ingatan akan Anne Frank menyelinap masuk bagai seberkas cahaya dari celah loteng rahasia. Bayangkan kegelapan yang menyesak, ruang sempit yang menyimpan napas ketakutan, namun di sanalah jiwa seorang gadis muda tumbuh subur, merambat ke atas mencari cahaya, mengalir deras ke dalam halaman-halaman buku hariannya yang polos. 

     Itulah keajaiban yang menggetarkan: bahkan dalam sangkar yang paling mencekam, selama masih ada secarik kertas untuk ditulisi, secercah tinta untuk mengabadikan kerinduan dan mimpi, jiwa manusia menemukan jalan untuk bersinar, membuktikan bahwa ruang batin jauh lebih luas dari tembok mana pun. Cahaya itu tak selalu gemerlap; seringkali ia hanya bisikan samar, suara yang tersembunyi dalam keroncongan perut yang lapar atau dalam lipatan surat yang tak kunjung sampai, surat-surat yang berisi curahan hati yang tak terbaca, nasib yang terkatung-katung dalam ketidakpastian pos.

     Kehidupan, sungguh, jarang berteriak-teriak menyatakan dramanya. Ia lebih sering berbisik, menyampaikan kisah pilunya melalui bahasa yang halus namun menusuk: derit lantai kayu di rumah tua, tatapan kosong di keramaian pasar, atau kesenyapan panjang setelah pertanyaan tak terjawab. Dunia Dostoevsky dalam Poor Folk mengajak kita menyelami samudra kesunyian ini, lautan cinta yang diekspresikan bukan dengan kata-kata manis, melainkan dengan pengorbanan diam-diam, penderitaan yang ditanggung dengan penuh kesopanan seolah-olah itu adalah pakaian terbaik yang mereka miliki. 

     Di sana, di antara manusia-manusia kecil yang nyaris tak terlihat, tersimpan api mimpi yang membandel. Mereka, para penghuni ceruk tak bernama itu, tahu dunia jarang berpihak, tahu nasib seringkali kejam bagai musim dingin Rusia, namun hati mereka tetap menghangatkan harapan, meski hanya harapan untuk sepasang sepatu baru atau secangkir teh hangat yang dibagi. Kekuatan mereka terletak pada ketekunan yang sunyi, pada keberanian untuk tetap bermimpi di tengah kenyataan yang pahit – sebuah satir halus terhadap dunia yang mengagungkan gemerlap dan sukses gemuruh, seolah melupakan keindahan yang tumbuh di celah-celah kesederhanaan.

     Kita menyentuh dunia ini, tentu saja, bukan hanya dengan ujung jari yang meraba permukaan benda-benda. Sentuhan yang lebih dalam, yang meninggalkan bekas pada jalinan realitas, terjadi melalui batin, melalui resonansi jiwa yang merasakan getaran di balik wujud. Bi Feiyu, dalam Massage, membawa kita ke dunia gelap yang justru memancarkan penglihatan yang luar biasa. Sunyinya para tuna netra itu bukanlah kekosongan, melainkan ruang resonansi yang peka, di mana mereka melihat bukan dengan mata yang tertutup, melainkan dengan hati yang terbuka lebar. 

     Mereka meraba dunia bukan hanya untuk mengenali bentuk, tetapi dengan keberanian yang mengagumkan untuk memahami esensi, untuk menemukan makna di balik kegelapan yang dipaksakan. Mereka tak diberi kemewahan cahaya matahari, namun tak pernah berhenti mencari sumber cahaya lain – cahaya kasih, cahaya ketekunan, cahaya dari bunyi langkah kaki yang dikenali atau sentuhan hangat tangan yang memahami. Di sinilah ironi besar terungkap: mereka yang dianggap 'kekurangan' justru mengajarkan kita tentang kelimpahan persepsi, tentang cara 'melihat' yang lebih utuh, sebuah satir elegan terhadap kita yang bermata jernih namun seringkali buta batin, tersesat dalam gemerlap ilusi.

     Di tengah kebisingan pendapat yang saling tumpang tindih, hiruk-pikuk teori yang berkoar-koar layaknya pasar malam intelektual, kadang yang kita rindukan bukanlah wacana rumit yang berputar-putar di awang-awang. Yang kita butuhkan adalah suara yang masuk akal, teriakan waras yang mampu menembus kabut kebodohan kolektif. Common Sense Thomas Paine bukan sekadar pamflet politik tua; ia adalah dentuman kesadaran, sebuah seruan untuk berhenti mengikuti arus buta kekuasaan dan dogma. 

     Paine mengingatkan kita, dengan nada yang bisa jadi satir di zamannya (dan masih relevan hingga kini), bahwa akal sehat bukanlah hadiah bawaan lahir yang sempurna. Ia adalah tanaman yang harus disirami, yaitu dengan keberanian untuk berhenti ikut-ikutan, untuk mempertanyakan narasi yang dipaksakan, untuk berdiri tegak di atas kaki pikiran sendiri di tengah kerumunan yang sedang menari mengikuti irama gendang yang tak jelas. Kekuatan sejati, tampaknya, seringkali terletak pada keberanian untuk tidak melakukan sesuatu – untuk tidak terjerat dalam jebakan pikiran yang justru meruntuhkan kita dari dalam.

     Kita pun, dalam proyek genting kita ini, sering terobsesi dengan pertanyaan besar: apa takdir kita? Ke mana arah peta kosmis ini membawa? Namun, kita jarang berhenti sejenak untuk bertanya pada diri sendiri: mengapa kita begitu gigih, begitu haus, untuk menjelaskan takdir itu? Jonathan Black, dalam The Sacred History, membawa kita bukan pada kronologi fakta yang kering, tetapi pada sebuah perjalanan melalui kisah-kisah besar yang bersifat simbolik, mitos-mitos yang mengandung kesunyian kosmik yang merenungkan asal-usul dan tujuan. 

     Kesunyian itulah yang membuat kita merenung dalam-dalam: mungkin hakikat kita bukan sekadar makhluk sosial yang berinteraksi di pasar dan kantor. Kita adalah makhluk simbolik yang tak henti-hentinya mencari arti, merajut narasi, mencoba memahami diri kita dalam cermin besar alam semesta yang seringkali membingungkan. Setiap mitos, setiap ritual, setiap karya seni, adalah usaha kita yang genting dan indah untuk menuliskan puisi panjang tentang keberadaan kita, untuk menemukan pola dalam kekacauan, untuk merasa 'dirumahkan' dalam kehampaan yang luas. Proyek genting kita adalah proyek pemberian makna.

     Bayangkan sejenak: kita seperti alien yang baru turun dari wahana antariksa, berdiri kikuk di permukaan planet biru ini, mata membelalak menyaksikan kekacauan sekaligus keindahan yang disebut 'manusia'. Apa yang pertama akan kita pelajari? Matt Haig, dalam The Humans, membalikkan sudut pandang dengan cerdas dan penuh kehangatan satir. Melalui mata seorang alien yang belum terkontaminasi oleh 'logika sosial' kita yang seringkali absurd, kita disuguhkan panorama kemanusiaan yang menakjubkan sekaligus menggelikan. Kita melihat bagaimana ritual minum teh bisa menjadi upacara perdamaian, bagaimana tangisan bisa menjadi ungkapan sukacita yang terdalam, bagaimana kekonyolan mencintai, berkeluarga, dan mengejar kebahagiaan yang tak jelas bentuknya, ternyata adalah hal yang luar biasa ajaib. 

     Dari ketinggian perspektif alien yang masih murni itu, kita tiba-tiba tersadar: betapa luar biasanya menjadi manusia! Betapa mengagumkan kemampuan kita untuk mencintai, menderita, mencipta, dan tertawa, meskipun dalam keseharian kita sering merasa justru sebaliknya – terjebak dalam rutinitas yang membosankan dan drama kecil yang melelahkan. Ini adalah satir yang membangunkan: keajaiban ada di depan mata, hanya saja kita terlalu terbiasa sehingga menjadi buta.

     Dan di tengah semua pencarian, pertanyaan, dan keajaiban yang terasa genting ini, kita belajar tentang kekuatan. Kekuatan itu seringkali kita bayangkan sebagai benteng baja, sikap tak tergoyahkan, raut wajah yang tak berkerut sedikitpun di bawah tekanan. Amy Morin, dalam 13 Things Mentally Strong People Don't Do, justru menawarkan kearifan yang berbeda, bahkan kontra-intuitif. Ia tidak sekadar memberi daftar cara bertahan seperti tentara di medan perang. Ia mengajak kita untuk berhenti menyiksa diri sendiri atas nama ilusi 'kekuatan' itu. Kekuatan mental yang sejati, menurutnya, seringkali terletak pada pengakuan jujur akan kerapuhan, pada keberanian untuk tidak terus-menerus menuntut diri menjadi superman atau superwoman yang tak boleh menangis, tak boleh lelah, tak boleh menunjukkan celah. 

     Karena, sungguh, luka terdalam seringkali bukan berasal dari panah musuh atau badai dunia luar. Luka yang paling menyakitkan dan menggerogoti justru berasal dari suara dalam diri sendiri – suara kritik yang kejam, tuntutan kesempurnaan yang tak manusiawi, bisikan bahwa menunjukkan kelemahan adalah aib terbesar. Satir halusnya terasa: kita membangun penjara batin dengan kunci bernama 'harus kuat', lalu mengurung diri di dalamnya sambil menyebutnya benteng. Kekuatan sejati adalah membebaskan diri dari penjara itu.

     Maka, proyek genting kita – manusia yang belum selesai, yang berdiri di antara cahaya dan bayangan, antara pemahaman dan kebingungan – terus berlangsung. Kita bertahan, bukan dengan mengeras menjadi batu, tetapi dengan kelenturan jiwa yang belajar dari Anne Frank, dari ketekunan diam manusia kecil Dostoevsky, dari 'penglihatan' batin para tuna netra Bi Feiyu. Kita menemukan makna bukan dengan menunggu takdir yang jelas, tetapi dengan berani memilih seperti pesan Sartre, didasari akal sehat waras Paine, dan diilhami oleh pencarian simbolik akan Yang Suci. Kita menemukan keajaiban menjadi manusia dengan sesekali melihat diri seperti alien penuh rasa ingin tahu ala Haig, dan menemukan kekuatan sejati bukan pada ketangguhan semu yang merobek diri, tetapi pada kelembutan untuk menerima diri secara utuh seperti ajaran Morin. 

     Proyek genting ini adalah tarian di tepi jurang makna, sebuah narasi yang terus ditulis dengan tinta rintihan dan air mata, tawa dan renungan, di halaman-halaman buku kehidupan yang tak pernah benar-benar selesai, namun selalu berusaha menangkap cahaya, meski hanya secercah. Kita terus menulis, terus memilih, terus meraba dalam gelap dan terkagum pada cahaya, terus bertahan tanpa kehilangan tujuan, karena dalam kegentingan itulah justru letak keindahan dan keunikan proyek bernama manusia.

     Di suatu sore di Ibu Kota, ketika langit kelabu bertabrakan dengan asap knalpot, seorang pegawai negeri duduk di balik meja kayunya yang penuh dokumen usang. Tangannya menstempel formulir surat-surat yang entah akan menguap ke mana—seperti nasib warga yang antre di depannya. Di luar, gedung pencakar langit menjulang, menggapai awan seolah hendak membuktikan bahwa Indonesia telah "maju". Tapi di kaki menara-menara itu, seorang ibu paruh baya menangis karena sertifikat tanahnya tak kunjung terbit, sementara pengembang sudah menggusur pohon mangga yang ditanam almarhum suaminya. Frankenstein, monster ciptaan Victor dalam novel Mary Shelley, mungkin akan tertawa getir melihat ironi ini: kita membangun kota dengan ambisi tanpa batas, tapi lupa bahwa setiap batu yang ditumpuk bisa menjadi kuburan bagi jiwa-jiwa yang terinjak.  

     Sastra selalu mengingatkan: "Yang kau ciptakan bisa mencintaimu, atau membinasakanmu." Tapi negara lebih memilih tuli. Di negeri ini, "pembangunan" diukur dari beton yang mengeras, bukan dari air mata yang mengering. Seperti Victor yang lari ketakutan dari monster ciptaannya, kita pun gemar melarikan diri dari konsekuensi sistem yang kita bangun. Lihatlah jalan tol yang membelah hutan, mengusir suku-suku yang telah hidup harmonis dengan alam selama ribuan tahun. Atau algoritma media sosial yang dirancang untuk "memajukan ekonomi digital", tapi justru melahirkan generasi teralienasi yang menggantungkan harga diri pada jumlah like. Frankenstein tak hanya ada dalam fiksi—ia hidup dalam setiap kebijakan yang mengorbankan manusia demi angka pertumbuhan ekonomi.  

     Di tengah hiruk-pikuk ini, sastra menawarkan cermin yang jujur. Kafka, dalam The Castle, menggambarkan birokrasi sebagai labirin tanpa akhir—sebuah lelucon tragis yang diterima sebagai kenyataan. K., sang tokoh utama, berkeliling mencari izin untuk bekerja di kastil yang tak pernah ia pahami. Di Indonesia, labirin itu bernama mengurus KTP, sertifikat tanah, atau sekadar mengajukan protes. Seorang nelayan di pesisir Jawa harus menghadap lima kantor berbeda hanya untuk memperoleh izin memperbaiki perahunya yang bocor. Setiap pegawai berkata, "Ini prosedur," sambil menunjuk ke meja berikutnya. Seperti K., kita semua adalah pencari izin yang tak tahu apa yang sebenarnya kita cari—apakah keadilan, atau sekadar ilusi bahwa "negara" ada di suatu tempat, dalam bentuk yang lebih nyata dari sekadar stempel dan antrean.  

     Bahasa, dalam labirin ini, bukan alat komunikasi, melainkan senjata. Orwell dalam 1984 menciptakan konsep newspeak: kosakata yang dipersempit untuk membatasi pikiran. Di sini, mekanisme itu lebih halus. Ketika aktivis lingkungan dijuluki "anti-pembangunan", atau mahasiswa yang protes disebut "dibayar asing", bahasa berubah menjadi pisau bermata tumpul—membunuh logika tanpa mengotori tangan. Tapi sastra menolak permainan ini. Pramoedya, dalam Rumah Kaca, menulis bagaimana kolonialisme Belanda menggunakan bahasa untuk mengerdilkan pribumi. Kini, kita menghadapi kolonialisme baru: kata "radikal" disematkan pada mereka yang bertanya, "Mengapa bantuan banjir tak kunjung datang?" atau "Ke mana larinya dana bansos?" Di ruang-ruang kosong ini, puisi-puisi Rendra menjadi granat makna. "Kita adalah manusia yang suaranya dibungkam, tapi air mata darahnya masih menetes." 

     Di suatu sudut lain, ada Keiko—tokoh dalam Convenience Store Woman—yang memilih hidup sederhana sebagai pekerja toko, jauh dari obsesi menikah atau menjadi "orang sukses". Di Indonesia, di mana nilai manusia diukur dari gaji, gelar, dan status perkawinan, Keiko-Keiko lokal dianggap "aneh", "gagal", atau "tertinggal". Tapi sastra justru membela mereka. Dalam The Stranger karya Camus, Meursault dieksekusi bukan karena membunuh, tapi karena ia menolak menangis di pemakaman ibunya—penolakannya terhadap performativitas sosial dianggap sebagai kejahatan. Di sini, mereka yang menolak mengejar "mimpi" kapitalis—seperti membeli rumah mewah atau mobil—dihukum oleh cibiran: "Kapan nikah?" atau "Kerja di mana sekarang?" Seolah kebahagiaan harus memiliki sertifikat kepemilikan.

     Tapi di balik semua topeng kepatuhan, ada suara-suara yang tak bisa dibungkam. Dostoevsky, dalam Crime and Punishment, mengisahkan Raskolnikov yang membunuh rentenir tua lalu dihantui rasa bersalah—bukan oleh polisi, tapi oleh suara hatinya sendiri. Di Indonesia, kita menyaksikan koruptor yang tersenyum di persidangan, sementara seorang pencuri sandal dipenjara lima tahun. Hukum mungkin bisa dibeli, tapi seperti kata Dostoevsky, jiwa tak pernah lupa. Seorang pejabat yang menyuap proyek mungkin masih bisa tidur di kasur empuk, tapi di kegelapan, bayangan anak-anak yang tak bisa sekolah karena dananya dikorup akan terus mengganggu. Sastra mengajarkan bahwa dosa sejati bukan pelanggaran aturan, tapi pengkhianatan terhadap kemanusiaan.  

     Voltaire, melalui Zadig, mengingatkan bahwa kebaikan sejati adalah keberanian melawan ketidakadilan, meski harus berhadapan dengan hukum. Di negeri ini, di mana aparat bisa membubarkan demo buruh dengan dalih "mengganggu ketertiban", sastra hadir sebagai suara yang tak bisa diborgol. Novel-nobel Pramoedya dilarang, tapi tetap diselundupkan dalam tas pelajar. Puisi-puisi Wiji Thukul dibakar, tapi dikutip diam-diam di ruang-ruang aktivis. Seperti Prometheus yang mencuri api untuk manusia, sastra menyalakan kesadaran meski risikonya adalah pengasingan.  

     Lalu ada pertanyaan Marlowe dalam The Big Sleep: "Apakah kejujuran masih punya tempat di dunia yang akarnya sudah busuk?" Di Jakarta, seorang jurnalis investigatif dibui karena membongkar korupsi daging impor, sementara para tersangka bebas berkeliaran. Tapi seperti Marlowe yang tetap nekat menyelidiki meski ancaman datang, sastra tak pernah berhenti bertanya. Dalam Lelaki Harimau, Eka Kurniaan menceritakan korupsi yang meracuni desa—sebuah metafora untuk Indonesia yang mengubur kejujuran demi kekuasaan.  

     Perempuan-perempuan dalam cerita ini punya narasi khusus. Intan Paramadhita, dalam Malam Seribu Jahanam, menulis tentang perempuan yang dijuluki "setan" hanya karena memilih menjadi single di usia 40. Di negeri yang masih mempersoalkan jilbab pendek vs. jilbab panjang, tubuh perempuan adalah medan perang ideologi. Seperti Hester Prynne dalam The Scarlet Letter yang dipaksa memakai huruf "A" (adulteress), perempuan Indonesia yang menolak norma dihukum dengan bisikan-bisikan: "liar", "tak bermoral", atau "ditinggal suami". Tapi sastra membalikkan narasi ini. Dalam 'Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam', Djenar Maesa Ayu menampilkan perempuan-perempuan yang berani menjual ginjal demi kebebasan—sebuah protes terhadap sistem yang menjual tubuh mereka sebagai komoditas.  

     Di ujung labirin ini, mungkin kita akan bertemu Ahab dari Moby Dick, yang tenggelam bersama kapalnya karena obsesi memburu paus putih. Indonesia punya Ahab-Ahabnya sendiri: politisi yang mengejar kekuasaan sampai menghalalkan segala cara, atau kelompok yang memburu "musuh imajiner
" seperti "komunis" atau "liberal" hingga mengorbankan persatuan. Tapi sastra mengajarkan bahwa kehancuran terbesar bukan datang dari luar, melainkan dari dalam. Seperti Babel dalam mitosnya, menara kita runtuh bukan karena angin, tapi karena kesombongan bahwa kita bisa menjadi tuhan.  

     Maka, di tengah gemuruh mesin pembangunan yang menggila, sastra tetap berbisik: "Kau bisa menciptakan monster, tapi kau juga bisa mencipta cahaya." Di lorong-lorong gelap birokrasi, di ruang sidang yang penuh kebohongan, di jalanan tempat demonstran diterjang water cannon, selalu ada buku-buku yang menunggu untuk dibuka. Seperti tokoh-tokoh dalam Real Breaker yang menghancurkan sistem bukan karena benci, tapi karena cinta pada kemanusiaan yang lebih utuh.  

     Kita mungkin tak akan pernah keluar dari labirin ini sepenuhnya. Tapi selama masih ada yang membaca puisi di sela rapat DPR, atau menyelipkan kutipan Kafka dalam surat protes, maka api itu tetap menyala. Nietzsche pernah berkata, "Dunia ini adalah teks yang perlu ditafsir ulang." Dan dalam teks itu, sastra adalah suara yang menolak diam—suara yang, meski dibungkam, akan selalu menggema dalam jiwa-jiwa yang tak mau menyerah pada kekerdilan.  

     Di akhir hari, ketika pegawai negeri tadi pulang ke rumahnya yang sempit, mungkin ia akan membuka Metamorphosis karya Kafka. Di situ, Gregor Samsa bangun sebagai kecoak—sebuah sindiran bahwa manusia sering diubah menjadi "serangga" oleh sistem yang tak manusiawi. Tapi esok pagi, ketika ia kembali ke meja kerjanya, mungkin—hanya mungkin—ia akan berpikir dua kali sebelum menstempel "ditolak" pada surat seorang janda tua. Karena sastra telah mengajarinya: dalam labirin yang absurd, satu tindakan jujur adalah revolusi.

     Di ketinggian, ketika dunia di bawah terbungkus lapisan awan, rasa yang hadir bukan sekadar dingin menusuk kulit. Ada keheningan yang berbicara dalam bahasa yang hanya dimengerti oleh mereka yang bersedia mendengar. Pernah suatu waktu, di tempat yang jauh dari peradaban, rasa itu berubah menjadi firasat yang sulit dijelaskan. Getaran halus yang mengalir seperti pesan dari kosmos, memberi tahu bahwa sesuatu telah terjadi. Pada malam itu, dalam bayang-bayang hutan yang gelap, ada keyakinan yang tumbuh, meski sulit diterima akal, bahwa seorang teman sedang berada di ujung perjalanan hidupnya.

     Pagi harinya, tubuhnya ditemukan, tergantung pada secuil harapan terakhir: sebatang pohon kecil yang menjadi pelindung dari jurang tak berdasar. Saat itu, kesedihan dan geram berpadu menjadi satu. Kehilangan adalah luka yang tak terhindarkan, tapi ketidakberdayaan menambah perihnya. Di antara pepohonan yang diam dan tanah yang basah, muncul pertanyaan yang terus menggema: apakah ini adalah kehendak alam, atau sekadar bukti bahwa manusia selalu kecil di hadapan kosmos?

     Rousseau pernah berkata bahwa manusia modern telah jauh dari alam, kehilangan harmoni dengan sumber kehidupannya. Di sini, di gunung yang tak peduli pada hierarki sosial atau kehebatan teknologi, kenyataan itu terasa begitu gamblang. Alam bukan hanya tempat untuk melarikan diri dari kebisingan kota, tetapi juga cermin yang memaksa untuk melihat keterbatasan dan ketidaksempurnaan diri. Ketika teman itu tergeletak dalam damainya yang terakhir, ada pelajaran yang diberikan oleh alam: hidup adalah keberanian untuk menghadapi risiko, meski tak ada jaminan hasil yang diinginkan.

     Mendaki gunung adalah perjalanan menuju hakikat. Bukan sekadar menaklukkan puncak, melainkan menemukan apa yang tersembunyi di dalam diri. Seperti dalam pengalaman lain, ketika makanan terakhir tercecer dari genggaman, ada keharusan untuk memungutnya kembali dari rerumputan, satu butir demi satu butir. Tindakan kecil ini, sederhana tapi penuh makna, menjadi simbol penghormatan pada kehidupan. Thoreau, dalam keheningan Walden-nya, mengajarkan pentingnya menghargai yang kecil dan sederhana. Di gunung, ajaran itu hidup, mengingatkan bahwa di balik kemewahan kota, terdapat dunia di mana setiap butir nasi adalah berkat yang tak boleh disia-siakan.

     Namun, gunung bukan hanya tentang keheningan dan renungan. Ia juga tentang tantangan yang memaksa untuk berpikir dan bertindak. Malam itu, saat sungai berarus deras menghadang perjalanan, keputusan harus diambil. Melanjutkan dengan risiko besar atau mencari jalan lain yang lebih panjang dan melelahkan. Heidegger mungkin akan menyebut momen ini sebagai ujian keberadaan. Di hadapan alam yang acuh, manusia dihadapkan pada pertanyaan fundamental: apa artinya menjadi? Ketika kaki terus melangkah melewati bukit-bukit dalam gelap malam, rasa takut dan harapan bercampur menjadi satu, membawa kesadaran bahwa hidup adalah gerakan, pilihan, dan tanggung jawab.

     Di ketinggian gunung, Nietzsche menemukan metafora untuk kehidupan. Gunung, dengan puncaknya yang menjulang, adalah simbol dari tujuan tertinggi, yang hanya dapat dicapai oleh mereka yang berani menanggung kesulitan. Pendakian adalah perlawanan terhadap gravitasi, baik fisik maupun mental. Ketika tubuh lelah dan napas terasa berat, semangat untuk terus maju menjadi bukti bahwa manusia, meski rapuh, memiliki kekuatan untuk melampaui dirinya sendiri. Dalam setiap langkah, ada pengingat bahwa kebahagiaan sejati bukanlah ketenangan di dasar lembah, melainkan perjuangan menuju puncak.

     Ada yang mengatakan bahwa gunung adalah tempat di mana manusia mendekat kepada yang ilahi. Bagi sebagian orang, firasat yang datang malam itu mungkin adalah bentuk kepekaan terhadap kosmos, sebuah bahasa yang tak bisa dipahami semua orang. Alam, dengan segala keheningannya, berbicara dalam frekuensi yang hanya dapat didengar oleh mereka yang mau menyelaraskan diri. Kesadaran kosmik ini adalah pengingat bahwa manusia bukanlah penguasa, melainkan bagian kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar.

     Setiap pendakian adalah cerita tentang keberanian, kerendahan hati, dan refleksi. Di gunung, waktu bergerak lebih lambat, memberikan ruang untuk merenung. Apakah kehilangan itu mengajarkan arti kehadiran? Apakah kesederhanaan memberi pemahaman tentang kelimpahan? Apakah setiap langkah menuju puncak adalah langkah menuju pemahaman yang lebih dalam tentang diri dan dunia?

     Barangkali di sinilah letak keindahan sejati dari mendaki gunung—bahwa ia tidak pernah memberikan jawaban pasti, hanya menawarkan ruang untuk pertanyaan, refleksi, dan mungkin, jika kita beruntung, sedikit kebijaksanaan. Dalam diamnya, gunung mengajarkan tentang hidup yang menerima ketidakpastian dengan keberanian dan rasa syukur.

     Mendaki gunung adalah perjalanan yang tidak pernah benar-benar berakhir, karena puncak yang sebenarnya bukanlah tempat fisik, melainkan sesuatu yang terus kita cari di dalam diri kita sendiri. Di sana, di tempat di mana langit dan bumi bertemu, manusia belajar bahwa hidup adalah perpaduan antara kehilangan dan harapan, kesederhanaan dan perjuangan, kesedihan dan kebahagiaan. Gunung adalah guru, sahabat, dan cermin yang tak pernah bosan mengingatkan bahwa di balik segala kerumitan, hidup ini adalah anugerah yang harus dijalani sepenuh hati.

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.