Articles by "Para Pejuang"

Tampilkan postingan dengan label Para Pejuang. Tampilkan semua postingan

     Jika perbedaan IQ dapat membuat manusia memandang dunia dengan cara yang berbeda, pertanyaan berikutnya menjadi jauh lebih penting. Apakah jurang itu benar-benar tetap, atau masih mungkin dipersempit?

     Sebagian kemampuan kognitif memang lazim diukur melalui berbagai tes inteligensi yang dikenal sebagai IQ. Angka itu tentu tidak menjelaskan seluruh manusia, tetapi cukup membantu memahami mengapa dua orang yang melihat kenyataan yang sama dapat membangun gambaran dunia yang sangat berbeda. Ibarat sebuah mesin, ada yang sejak awal memiliki kapasitas lebih besar, ada pula yang lebih kecil. Ketika berhadapan dengan satu persoalan, sebagian orang hanya mampu menghubungkan beberapa variabel sekaligus, sementara yang lain sanggup menampung puluhan variabel sebelum menarik sebuah kesimpulan.

     Kenyataan itu tidak perlu disangkal. Namun ia juga tidak perlu diperlakukan seperti vonis yang menutup seluruh kemungkinan.

     Sebuah mesin tidak hanya ditentukan oleh kapasitasnya. Mesin yang sama dapat menghasilkan perjalanan yang sangat berbeda bergantung pada bagaimana ia digunakan, dirawat, dan terus dipaksa menghadapi jalan-jalan yang belum pernah dilaluinya. Demikian pula kemampuan berpikir. IQ mungkin menggambarkan sebagian kapasitas awal, tetapi ia bukan sesuatu yang sepenuhnya beku.⁸ Dunia yang akhirnya sanggup dipahami seseorang dibentuk oleh jauh lebih banyak hal yang saling bekerja bersama.

     Pendidikan¹ membuka cara-cara baru untuk memandang persoalan. Keluarga² memperkenalkan kebiasaan bertanya atau sebaliknya, membiasakan jawaban yang berhenti terlalu cepat. Bacaan³ menambahkan variabel-variabel baru yang sebelumnya tidak pernah hadir di dalam pikiran. Pengalaman⁴ sering kali memaksa keyakinan lama disusun ulang ketika kenyataan menolak mengikuti teori yang telah diyakini. Lingkungan⁵ memperluas atau mempersempit kesempatan seseorang bertemu gagasan yang berbeda. Percakapan⁶ membuat sebuah pikiran diuji oleh pikiran yang lain. Semua itu bekerja perlahan, hampir tidak terdengar, tetapi sedikit demi sedikit memperluas dunia yang sanggup dihuni oleh akal.

     Perubahan itu jarang terjadi melalui lompatan besar. Ia lebih sering menyerupai seseorang yang mula-mula hanya mampu melihat lima titik, lalu sepuluh, lalu dua puluh. Yang berubah bukan sekadar jumlah informasi yang dimiliki, melainkan kemampuan melihat hubungan di antara informasi-informasi itu. Sebab sebuah persoalan tidak menjadi lebih rumit hanya karena variabelnya bertambah. Ia menjadi lebih kaya karena hubungan di antara variabel-variabel itu mulai terlihat.

     Ada satu hal yang membuat seluruh proses itu mungkin. Rasa ingin tahu dan kerendahan hati intelektual⁷. Tanpa keduanya, pengalaman hanya berubah menjadi kenangan, bacaan hanya menjadi hafalan, dan pendidikan hanya berhenti sebagai ijazah. Sebaliknya, ketika seseorang terus bersedia mengakui bahwa masih ada sesuatu yang belum ia pahami, setiap perjumpaan dapat menjadi kesempatan untuk memperluas cara berpikirnya.

     Kosmos memang tidak pernah membagikan segala sesuatu secara merata. Ada yang lebih cepat memahami matematika, ada yang lebih mudah memainkan musik, ada yang lebih kuat secara fisik, ada pula yang sejak awal lebih mudah mengolah kompleksitas. Kenyataan itu sama tuanya dengan manusia sendiri.

     Namun permainan tidak berhenti ketika kartu dibagikan.

     Selama manusia masih bersedia belajar, membaca, bekerja, berdiskusi, mengalami kegagalan, memperbaiki kesalahan, dan membuka diri terhadap pandangan yang belum pernah ia temui, selalu ada kemungkinan untuk memperluas dunia yang dapat ia pahami. Jurang itu mungkin tidak pernah benar-benar hilang. Tetapi ia dapat menjadi cukup sempit sehingga percakapan tidak lagi mustahil, kerja sama menjadi lebih mungkin, dan manusia yang memandang dunia dengan cara berbeda tetap dapat membangun sesuatu bersama.

     Barangkali itulah satu-satunya jembatan yang benar-benar layak dibangun. Bukan jembatan yang menghapus perbedaan, melainkan jembatan yang membuat perbedaan tidak lagi menjadi alasan untuk berhenti saling memahami.


Catatan Kaki

¹ Pendidikan

Pendidikan dalam esai ini tidak dipahami sebatas sekolah atau perguruan tinggi. Yang dimaksud adalah seluruh proses belajar yang melatih manusia mengenali pola, berpikir abstrak, menyusun argumen, dan memecahkan persoalan. Berbagai penelitian dalam psikologi perkembangan dan ilmu kognitif menunjukkan bahwa pendidikan yang baik tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mengubah cara seseorang mengolah informasi. Gagasan ini dapat ditemukan, antara lain, dalam pemikiran Lev Vygotsky tentang perkembangan kognitif melalui interaksi sosial, Jean Piaget mengenai perkembangan struktur berpikir, Richard E. Nisbett dalam Intelligence and How to Get It, serta Stanislas Dehaene dalam How We Learn.

² Keluarga

Keluarga merupakan lingkungan kognitif pertama yang ditemui setiap manusia. Percakapan sehari-hari, kebiasaan bertanya, cara orang tua merespons rasa ingin tahu anak, hingga jumlah kosakata yang diperkenalkan sejak usia dini memberi pengaruh terhadap perkembangan kemampuan berpikir. Salah satu penelitian yang banyak dibahas adalah karya Betty Hart dan Todd R. Risley mengenai perbedaan lingkungan bahasa pada masa kanak-kanak. Meskipun beberapa angka dalam penelitian tersebut kemudian diperdebatkan, gagasan pokoknya tetap memperoleh banyak dukungan: kualitas interaksi di rumah memiliki pengaruh nyata terhadap perkembangan kemampuan kognitif.

³ Bacaan

Membaca bukan sekadar menambah informasi. Setiap bacaan memperkaya jaringan konsep yang dimiliki seseorang sehingga pengetahuan baru lebih mudah dihubungkan dengan pengetahuan yang telah ada. Semakin luas jaringan itu, semakin banyak kemungkinan hubungan yang dapat dibangun ketika menghadapi persoalan baru. Keith E. Stanovich menjelaskan bagaimana kebiasaan membaca menciptakan efek akumulatif yang dikenal sebagai Matthew Effect, sementara Stanislas Dehaene menunjukkan bagaimana aktivitas membaca secara bertahap membentuk dan mengubah jaringan saraf di otak.

⁴ Pengalaman

Tidak semua pengalaman menghasilkan pembelajaran. Pengalaman baru menjadi sumber perkembangan ketika seseorang bersedia merefleksikannya, menghubungkannya dengan pengetahuan yang telah dimiliki, lalu merevisi pemahamannya bila diperlukan. David A. Kolb mengembangkan gagasan ini melalui teori Experiential Learning, yaitu bahwa pembelajaran lahir dari siklus pengalaman, refleksi, konseptualisasi, dan percobaan kembali.

⁵ Lingkungan

Manusia berpikir di dalam sebuah ekosistem. Lingkungan yang kaya akan percakapan, buku, keberagaman gagasan, serta kesempatan untuk mencoba dan gagal memberi lebih banyak bahan bagi pikiran untuk diolah. Sebaliknya, lingkungan yang miskin stimulasi cenderung membatasi variasi pengalaman yang dapat diproses. Urie Bronfenbrenner melalui Ecological Systems Theory menunjukkan bahwa perkembangan manusia merupakan hasil interaksi berlapis antara individu dan lingkungan sosialnya.

⁶ Percakapan

Percakapan bukan sekadar pertukaran informasi. Percakapan yang sehat memaksa seseorang menguji asumsi, menemukan kelemahan argumennya sendiri, dan melihat hubungan yang sebelumnya luput dari perhatian. Philip E. Tetlock menunjukkan bahwa kemampuan mempertimbangkan berbagai sudut pandang berkaitan erat dengan kualitas penalaran dan pengambilan keputusan. Berbagai penelitian mengenai dialog kolaboratif juga menunjukkan bahwa diskusi yang terbuka dapat memperkaya representasi mental terhadap suatu persoalan.

⁷ Rasa ingin tahu dan kerendahan hati intelektual

Rasa ingin tahu membuat seseorang terus mencari informasi baru. Kerendahan hati intelektual membuatnya bersedia mengubah keyakinan ketika berhadapan dengan bukti yang lebih baik. Keduanya merupakan pasangan yang sulit dipisahkan. Tanpa rasa ingin tahu, pengetahuan berhenti bertambah. Tanpa kerendahan hati intelektual, pengetahuan baru hanya dipaksa menyesuaikan keyakinan lama. Dalam dua dekade terakhir, intellectual humility berkembang menjadi salah satu bidang penelitian tersendiri dalam psikologi. Di antaranya melalui karya Tenelle Porter, Elizabeth Krumrei-Mancuso, Mark Leary, dan Keith E. Stanovich yang menunjukkan bahwa kesediaan mengakui keterbatasan pengetahuan justru berkaitan dengan kualitas berpikir yang lebih baik.

⁸ IQ dan plastisitas kemampuan kognitif

Selama bertahun-tahun inteligensi sering dipandang sebagai kemampuan yang relatif tetap. Pandangan tersebut kini menjadi jauh lebih bernuansa. Penelitian mengenai neuroplastisitas menunjukkan bahwa otak terus membentuk dan memperkuat jaringan saraf sebagai respons terhadap pengalaman, pembelajaran, dan latihan. Di sisi lain, fenomena yang dikenal sebagai Flynn Effect memperlihatkan bahwa skor IQ rata-rata di banyak negara meningkat dari generasi ke generasi selama sebagian besar abad ke-20. Temuan ini menunjukkan bahwa lingkungan memiliki pengaruh nyata terhadap performa kognitif manusia.

Para peneliti masih berbeda pendapat mengenai seberapa besar peningkatan kemampuan tersebut dapat dicapai oleh setiap individu dan di mana batas-batas biologisnya. Karena itu, esai ini tidak berangkat dari anggapan bahwa semua orang dapat mencapai tingkat kemampuan yang sama. Gagasan yang digunakan jauh lebih sederhana: kemampuan kognitif bukan sesuatu yang sepenuhnya beku. Pendidikan, pengalaman, literasi, lingkungan, kesehatan, nutrisi, latihan berpikir, dan berbagai bentuk stimulasi intelektual dapat mengubah cara otak memproses informasi, meskipun besarnya perubahan berbeda pada setiap individu. Pembahasan lebih lanjut dapat ditemukan dalam karya James R. Flynn, Richard E. Nisbett (Intelligence and How to Get It), Stanislas Dehaene (How We Learn), serta Richard J. Haier (The Neuroscience of Intelligence).


     Ada satu hal yang sering membuat manusia merasa lebih mulia daripada yang sebenarnya: sebuah label. Ia dapat mengubah kegiatan biasa menjadi luar biasa, mengubah pengalaman menjadi prestasi, bahkan mengubah kebanggaan pribadi menjadi kehormatan kolektif. Manusia menyukai itu. Sebab tidak semua orang mampu menciptakan sesuatu yang besar, tetapi hampir semua orang ingin terhubung dengan sesuatu yang dianggap besar. Maka lahirlah berbagai cara untuk meminjam kebesaran, dan salah satu yang paling elegan adalah meminjam nama ilmu pengetahuan.

     Sejumlah mahasiswa berlayar mengikuti jejak pelayaran nenek moyangnya. Mereka menggunakan perahu yang dirancang berdasarkan temuan arkeologis, menempuh rute yang diyakini pernah dilalui para pelaut masa lalu, singgah di titik-titik yang telah ditentukan jauh sebelum layar dikembangkan. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Bahkan ada sesuatu yang romantis di sana. Laut selalu menyimpan daya tariknya sendiri, begitu pula sejarah. Anak-anak muda yang belajar hidup bersama di tengah ombak, merasakan kerasnya angin, dan menyentuh kembali kisah masa lalu dengan tubuh mereka sendiri adalah pemandangan yang menyenangkan untuk dibayangkan.

     Namun persoalan mulai muncul ketika seluruh kegiatan itu diberi nama: ekspedisi akademis.

     Kata itu terdengar gagah. Begitu gagahnya hingga hampir tidak ada yang berhenti untuk bertanya, bagian mana yang sebenarnya akademis. Sebab akademis bukanlah kata sifat yang membuat segala sesuatu tiba-tiba menjadi ilmiah. Akademis bukan semacam bumbu penyedap yang dapat ditaburkan di atas petualangan agar rasanya lebih intelektual. Ia memiliki syarat yang jauh lebih keras daripada sekadar niat baik dan semangat yang tinggi.

     Ilmu pengetahuan lahir dari ketidakpuasan terhadap jawaban. Ia hidup dari pertanyaan yang mengganggu kenyamanan. Ia berkembang karena ada kemungkinan salah. Bahkan seorang ilmuwan yang baik lebih takut pada keyakinannya sendiri daripada pada kritik orang lain, sebab ia tahu bahwa sesuatu yang hari ini dianggap benar dapat runtuh oleh satu bukti baru esok hari.

     Lalu apa yang sedang dipertanyakan dalam pelayaran itu?

     Rute sudah diketahui. Jenis perahu telah ditentukan. Tujuan perjalanan telah dipetakan.

     Narasi yang dibawa sejak awal pun tampaknya tidak berubah: nenek moyang adalah pelaut hebat, dan perjalanan ini adalah pembuktian atas kehebatan itu.

     Kalau begitu, apa yang sedang dicari?

     Atau mungkin pertanyaannya harus sedikit lebih jujur: adakah sesuatu yang sungguh-sungguh sedang dicari?

     Jika ekspedisi pertama dilakukan tiga puluh tahun lalu, kemudian diulang lima belas tahun setelahnya, lalu diulang kembali dengan pola yang hampir sama, sementara yang berubah hanya nama peserta dan angka di belakang judul kegiatan, apakah yang sebenarnya sedang diwariskan? Semangat akademis atau tradisi mengulang sesuatu yang pernah mendapat tepuk tangan?

     Pertanyaan ini terasa tidak sopan hanya karena terlalu jarang diajukan. Sebab yang terlihat justru suasana yang hangat dan membanggakan. Mahasiswa merasa menjadi bagian dari sejarah. Kampus merasa sedang menjalankan misi besar. Masyarakat ikut bangga melihat generasi muda menghormati warisan leluhurnya. Semua orang tampak puas. Semua orang bertepuk tangan.

     Dan tepuk tangan memang memiliki kemampuan yang luar biasa. Ia sering kali membuat manusia lupa bertanya.

     Tidak ada yang salah dengan napak tilas sejarah. Tidak ada yang salah dengan pelayaran budaya. Tidak ada yang salah dengan petualangan yang mengubah cara pandang seseorang terhadap hidup. Semua itu baik. Yang terasa mengganggu justru kebutuhan untuk menyebutnya akademis, seolah pengalaman tidak cukup bernilai jika tidak mengenakan jas ilmiah.

     Ini seperti membangun panggung jazz yang megah, lengkap dengan pencahayaan artistik, poster tokoh-tokoh besar, dan suasana yang intelektual. Ketika pertunjukan dimulai, ternyata yang dimainkan adalah dangdut koplo yang riuh dan menghibur. Penonton menari dengan gembira. Tidak ada yang salah dengan musiknya. Bahkan banyak yang pulang dengan perasaan bahagia. Tetapi tetap ada satu keganjilan yang tidak dapat dihapus: mengapa harus disebut jazz?

     Begitulah kira-kira perasaan yang muncul ketika sebuah kegiatan yang kaya pengalaman tetapi miskin pertanyaan tetap bersikeras menyebut dirinya akademis. Seolah kata itu dapat diwariskan seperti nama keluarga. Seolah semangat ilmiah dapat dipindahkan begitu saja hanya karena kegiatan tersebut dilakukan oleh mahasiswa dan mendapat pengakuan dari kampus.

     Padahal ilmu tidak pernah bekerja seperti itu.

     Ia tidak mengenal penghormatan kepada kenyamanan. Ia tidak tumbuh karena rasa bangga. Ia bahkan tidak terlalu peduli pada tradisi jika tradisi itu berhenti bertanya. Ilmu bergerak ke depan dengan cara yang kadang kejam: ia menggugat, mengoreksi, dan jika perlu menghancurkan keyakinan yang telah lama diterima.

     Ironisnya, kegiatan yang mengaku mengikuti nenek moyang pelaut justru tampak mengabaikan sifat paling penting dari para pelaut itu sendiri. Mereka tidak dikenang karena mengikuti jalur yang telah tersedia. Mereka dikenang karena berani memasuki wilayah yang belum diketahui. Mereka berlayar bukan untuk membuktikan bahwa dunia sesuai dengan keyakinannya, tetapi untuk mengetahui apakah keyakinannya memang sesuai dengan dunia.

     Barangkali itulah sebabnya ada gagasan yang terasa jauh lebih hidup: bukan mengulang pelayaran lama, tetapi menciptakan pelayaran baru. Bukan sekadar mengikuti rute yang diwariskan, melainkan berlayar membawa pertanyaan zaman sendiri, mengumpulkan data baru, berkolaborasi dengan dunia, menguji keyakinan, bahkan jika perlu pulang dengan kesimpulan yang menghancurkan asumsi awal. Bukankah itu jauh lebih dekat dengan semangat seorang pelaut? Bukankah itu lebih jujur untuk disebut akademis?

     Sayangnya, manusia memang memiliki hubungan yang rumit dengan ketidakpastian. Mereka mengagumi para penjelajah, tetapi tidak selalu ingin menjadi penjelajah. Mereka memuji keberanian, tetapi lebih nyaman mengulang keberanian orang lain. Mereka bangga menyebut nenek moyangnya seorang pelaut, tetapi lebih memilih berlayar di laut yang sudah dipetakan.

     Dan mungkin, tanpa disadari, itulah ironi terbesar dari semuanya: semangat eksplorasi perlahan berubah menjadi seremoni eksplorasi, sementara kata akademis berdiri di atasnya seperti papan nama yang megah, mengundang kekaguman banyak orang, meskipun isi bangunannya sudah lama berhenti menjadi rumah bagi pertanyaan.

     Ada kegembiraan yang aneh ketika manusia menemukan nenek moyangnya. Ia membuka silsilah, mengunjungi makam tua, mengenakan pakaian adat, menelusuri jalur pelayaran kuno, lalu pulang dengan dada yang lebih tegak. Ada kebanggaan yang tumbuh karena merasa terhubung dengan rantai panjang sejarah. Ia merasa dirinya bukan manusia yang jatuh dari langit, melainkan cabang dari pohon tua yang akarnya menembus jauh ke dalam tanah waktu.

     Itu wajar. Manusia memang membutuhkan akar. Namun persoalannya mulai menarik ketika akar itu perlahan berubah menjadi altar, dan sejarah berubah menjadi benda suci yang tidak boleh disentuh selain untuk dipuji.

     Maka lahirlah berbagai kegiatan yang megah. Ada yang menelusuri jejak pelaut leluhurnya, ada yang menghidupkan kembali ritual kuno, ada yang bersumpah menjaga warisan budaya agar tetap lestari. Semuanya dilakukan dengan penuh kebanggaan, dengan wajah serius seolah sedang memegang estafet suci dari masa lalu.

     Yang agak menggelikan adalah kenyataan bahwa hampir tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar hidup seperti nenek moyangnya.

     Seorang pelaut masa kini berdiri di atas kapal berbahan baja, ditemani radar, GPS, peta digital, dan komunikasi satelit. Ia berlayar mengikuti rute yang telah diprediksi komputer, lalu dengan khidmat berkata bahwa ia sedang menapaki jejak leluhur yang dahulu membaca arah angin dan menghafal konfigurasi bintang.

     Sungguh luar biasa. Nenek moyangnya bertaruh nyawa pada langit, sedangkan ia bertaruh pada daya baterai.

     Namun ia tetap merasa sedang melakukan hal yang sama.

     Barangkali memang begitu cara kerja ingatan manusia. Ia tidak mencari masa lalu apa adanya, tetapi masa lalu yang telah ia poles agar tampak mulia. Yang dikenang adalah keberanian leluhur, tetapi bukan ketakutan mereka. Yang diingat adalah kejayaan, bukan kesalahan. Yang dirayakan adalah kebijaksanaan, bukan kebingungan yang dahulu mungkin mereka alami ketika menghadapi perubahan zaman.

     Akhirnya nenek moyang tidak lagi menjadi manusia sejarah. Mereka berubah menjadi tokoh mitologi yang selalu benar, selalu bijaksana, dan selalu harus diikuti.

     Lalu mulailah orang-orang berjalan beriringan sambil berkata bahwa mereka sedang mengikuti jejak leluhur.

     Padahal, apa sebenarnya yang mereka ikuti?

     Rumah adat yang berdiri hari ini dibangun dengan beton, baja ringan, dan lampu LED. Upacara adat direkam drone, disiarkan langsung melalui internet, dan dipromosikan di media sosial. Pakaian tradisional diproduksi dengan mesin modern dan dijual secara daring ke seluruh dunia.

     Tidak ada yang salah dengan semua itu. Justru itulah bukti bahwa budaya selalu berubah.

     Yang lucu adalah ketika semua perubahan itu disangkal, lalu diberi label "pelestarian". Seolah-olah budaya adalah serangga yang dapat diawetkan di dalam kotak kaca. Seolah-olah masa lalu dapat dibekukan.

     Seolah-olah mengikuti nenek moyang berarti mengulang apa yang mereka lakukan.

     Padahal jika direnungkan lebih jauh, nenek moyang yang kita kagumi itu mungkin justru adalah para pembangkang pada zamannya.

     Mungkin ada seorang yang pertama kali meninggalkan pantai dan berani melaut lebih jauh. Ada yang pertama kali mengganti alat batu dengan logam. Ada yang meninggalkan kebiasaan lama karena menemukan cara yang lebih baik. Mereka adalah orang-orang yang tidak puas hanya menjadi pengikut.

     Bayangkan jika pada masa itu mereka berkata, "Aku akan mengikuti jejak nenek moyangku sepenuhnya."

     Mungkin mereka tidak akan pernah berangkat. Mungkin mereka tidak akan pernah menemukan apa pun. Mungkin kita tidak akan pernah mengenal mereka sebagai leluhur yang hebat.

     Ironis sekali. Kita mengagumi mereka karena keberaniannya mengubah keadaan, tetapi menghormati mereka dengan cara menolak perubahan.

     Kita memuji keberanian mereka menjelajah, tetapi kita sendiri sibuk berputar di tempat sambil memoles jejak lama.

     Lalu dengan bangga mengatakan, "Aku telah melestarikan budaya."

     Padahal yang dilestarikan sering kali bukan budaya itu sendiri, melainkan bayangan tentang budaya yang kita ciptakan pada masa kini.

     Yang dipelihara bukan masa lalu, melainkan perasaan nyaman bahwa kita memiliki hubungan dengan masa lalu. Mungkin karena hubungan dengan masa lalu terasa jauh lebih aman daripada tanggung jawab kepada masa depan. Sebab menjadi keturunan orang-orang besar tidak membutuhkan apa-apa, sementara menjadi nenek moyang yang layak dikenang menuntut sesuatu yang jauh lebih mahal: keberanian untuk gagal ketika menciptakan jejak sendiri.

     Dan perasaan nyaman itu begitu menenangkan, sehingga kita rela mengorbankan satu hal yang dahulu justru dimiliki oleh leluhur kita: keberanian untuk menciptakan sesuatu yang baru.

     Mungkin itulah ironi terbesar dari seluruh kisah ini. Kita begitu takut dianggap meninggalkan jejak leluhur, sampai lupa bahwa para leluhur dahulu dihormati justru karena mereka berani meninggalkan jejaknya sendiri.

     Mereka tidak hidup untuk menjadi pengikut.

     Mereka hidup untuk menjadi awal.

     Dan saya membayangkan suatu hari nanti, ketika kita semua telah menjadi foto kusam di dinding sejarah, anak cucu kita memandang kita sambil menghela napas, lalu berkata dengan nada kecewa:

     "Nenek moyangku hanyalah sekumpulan follower yang begitu bangga mengikuti jejak leluhurnya, tetapi tak pernah cukup berani membuat jejaknya sendiri."

     Tahun 2022, pemerintah pernah terlihat menang.

     Waktu itu Menteri Perhubungan mengumumkan perubahan rasio bagi hasil dari 20:80 menjadi 15:85. Suasananya panas. Demo driver berlangsung di banyak tempat. Televisi menyiarkan perdebatan, pengamat bermunculan, publik mulai sadar bahwa ada sesuatu yang tidak sehat di balik hubungan antara driver dan aplikator.

     Lalu negara datang membawa angka baru.

     Lima persen mungkin terlihat kecil bagi orang yang duduk nyaman di ruang rapat berpendingin udara. Tapi bagi driver yang hidup dari hitungan order harian, lima persen itu bisa berarti bensin untuk beberapa hari, makan anak, atau cicilan motor yang tidak telat dibayar.

     Publik melihat pengumuman itu sebagai kemenangan.

     Masalahnya, kemenangan itu ternyata terlalu cepat dirayakan.

     Dua atau tiga bulan kemudian, perlahan-lahan situasi kembali seperti semula. Tidak ada konferensi pers besar. Tidak ada pengumuman dramatis. Tidak ada breaking news di televisi.

     Tiba-tiba saja, skemanya kembali ke format 20:80.

     Aplikator punya penjelasan yang terdengar cerdas dan modern. Lima persen itu, kata mereka, dikembalikan lagi ke driver dalam berbagai bentuk promo, subsidi, dan skema insentif lain. Bahasa yang dipakai rapi sekali. Begitu rapi sampai publik sulit menangkap apa sebenarnya yang sedang terjadi.

     Dan di situlah letak persoalannya.

Negara berbicara dalam bahasa regulasi lama.
Aplikator bermain dalam bahasa sistem.

Negara menghitung persentase.
Aplikator mengatur definisi.

Negara mengumumkan kebijakan di depan kamera.
Aplikator menyesuaikan implementasi di belakang algoritma.

     Pada akhirnya, publik hanya melihat panggung depan. Sementara perubahan sesungguhnya terjadi di ruang yang tidak terlihat.

     Karena itu, ketika pemerintah hari ini kembali mengumumkan rasio baru 8:92, kegembiraan itu terasa perlu disertai kewaspadaan.

      Bukan karena kebijakannya buruk. Justru sebaliknya, ini langkah yang jauh lebih berani dibanding sebelumnya. Angka 8:92 terlalu besar untuk dengan mudah dipelintir diam-diam seperti kasus 15:85 dahulu.

     Maka arah permainan tampaknya berubah.

     Bukan lagi mengubah angka secara diam-diam, melainkan mempersempit wilayah berlakunya.

     Dan di sinilah persoalan yang lebih mendasar mulai terlihat.

     Ketika pemerintah, pakar, bahkan sebagian publik membicarakan ojek online, yang mereka bayangkan masih satu hal: transportasi. Seolah-olah seluruh persoalan ini hanya soal memindahkan manusia dari satu tempat ke tempat lain.

     Padahal realitas di lapangan sudah lama berubah.

     Hari ini driver bukan hanya mengantar manusia.

Mereka membeli makanan.
Mengantar paket.
Membelikan obat.
Mengirim dokumen.
Berbelanja kebutuhan rumah tangga.
Mengantar barang elektronik.

Dan entah layanan apa lagi yang akan lahir beberapa tahun ke depan.

     Artinya, aplikator sudah lama berhenti menjadi perusahaan “transportasi” dalam pengertian lama. Mereka telah berubah menjadi makelar digital raksasa yang mempertemukan kebutuhan pasar dengan tenaga kerja manusia secara real-time.

     Kata “makelar” mungkin terdengar kasar bagi sebagian orang modern yang terlalu mencintai istilah startup dan inovasi. Tapi secara fungsi, itulah yang terjadi.

     Makelar tradisional di terminal punya informasi: bus mana yang kosong, mana yang cepat, mana yang murah, mana yang sedang cari penumpang.

     Lalu ia mengambil bagian dari transaksi.

     Aplikator melakukan hal yang sama dalam bentuk yang jauh lebih canggih.

Mereka menguasai data permintaan.
Mengatur distribusi order.
Menentukan prioritas.
Mengarahkan perilaku pengguna.
Mengendalikan visibilitas.

     Bedanya, makelar terminal bekerja dengan teriakan dan intuisi. Makelar modern bekerja dengan algoritma dan miliaran data.

     Dan seperti semua makelar dalam sejarah manusia, mereka selalu ingin satu hal: tetap menjadi pihak yang paling menentukan aturan permainan.

     Masalah muncul ketika negara masih sibuk mengatur definisi lama.

     Karena transportasi dipahami sekadar memindahkan manusia, maka rasio 8:92 pun diarahkan terutama ke layanan pengangkutan penumpang.

     Sementara layanan lain—belanja, antar makanan, kirim barang—tetap berada di wilayah abu-abu yang fleksibel.

Padahal risikonya tidak berubah.

Driver tetap memakai kendaraan pribadi.
Tetap membeli bensin sendiri.
Tetap mempertaruhkan tubuhnya di jalan raya.
Tetap menghadapi kemungkinan kecelakaan setiap hari.

     Dan jalan raya bukan ruang yang romantis seperti iklan aplikasi di televisi.

     Jalan raya adalah salah satu ruang paling mematikan dalam kehidupan modern.

     Tubuh driver tetap tubuh yang sama, apakah ia membawa manusia, nasi goreng, dokumen, atau galon air.

     Tapi anehnya, begitu objek yang dibawa berubah, perhatian regulasi ikut mengecil.

     Di titik ini, kita mulai melihat keterlambatan cara berpikir negara.

     Negara masih melihat kendaraan.
     Aplikator sudah lama mengelola tenaga hidup manusia.

     Ini bukan lagi soal transportasi.

     Ini ekonomi gig berbasis platform.

     Driver menjual waktu.
     Menjual tenaga.
     Menjual kesabaran.
     Menjual energi psikologis.
     Menjual risiko hidup.

Motor hanyalah alat.

Dan semua itu hari ini diekstraksi melalui satu sistem yang sama.

     Karena itu, ketika rasio 8:92 hanya diarahkan pada layanan angkutan manusia, ada absurditas yang sulit diabaikan. 

     Seolah-olah risiko kecelakaan berubah hanya karena yang dibawa bukan manusia, melainkan nasi uduk.

     Seolah-olah tubuh driver menjadi lebih aman hanya karena yang diantar adalah paket.

Padahal aspal tetap keras.
Truk tetap melaju.
Hujan tetap turun.
Kelelahan tetap menggerogoti tubuh yang sama.

     Inilah sebabnya pembahasan para pakar sering terasa normatif dan dangkal. Banyak dari mereka terlalu lama melihat dari menara analisis, sementara realitas di lapangan sudah berubah bentuk jauh lebih cepat dibanding bahasa akademik dan regulasi.

     Mereka masih berbicara tentang tarif transportasi. Padahal yang sedang terbentuk adalah infrastruktur distribusi tenaga kerja manusia berbasis algoritma.

     Dan di sinilah urgensi membangun kerangka hukum baru menjadi sangat mendesak.

Bukan sekadar revisi aturan transportasi.
Bukan sekadar negosiasi tarif.
Bukan sekadar pembagian persentase.

     Indonesia membutuhkan semacam omnibus law untuk ekonomi gig berbasis platform.

     Karena masalahnya sudah lintas sektor: ketenagakerjaan, transportasi, perlindungan konsumen, keselamatan kerja, algoritma, persaingan usaha, hingga distribusi risiko.

     Kalau semua tetap diatur secara parsial, aplikator akan selalu lebih cepat menemukan celah dibanding negara menemukan bahasanya.

     Dan pengalaman tahun 2022 seharusnya cukup menjadi pelajaran.

     Tanpa kerangka hukum yang kokoh, regulasi mudah dinegosiasikan ulang. Mudah dipelintir definisinya. Mudah dipersempit wilayah berlakunya.

     Sementara aplikator akan terus berkembang: lebih canggih, lebih kompleks, lebih sulit disentuh.

     Negara tidak boleh terus-menerus tertinggal seperti orang yang sibuk mengatur terminal kecil, sementara di depannya sudah berdiri bandara internasional otomatis tanpa menara kontrol.

     Karena kalau keterlambatan ini terus dibiarkan, yang hilang bukan sekadar keadilan ekonomi.

     Yang hilang adalah kendali negara atas mekanisme yang mengatur hidup warganya sendiri.

 

=================

baca juga :
Empat Esai tentang Manusia, Pasar, dan Kekuasaan
 

1. 8:92 Tidak Cukup: Negara Harus Mengatur Algoritma

2. 8:92 dan Kesalahan Membaca Realitas Pekerja Gig 

3. Negara, Platform, dan Martabat Kerja: Pelajaran dari Dunia untuk Indonesia

4. DRIVER INDONESIA: Sebuah Gagasan tentang Negara, Makelar, dan Keadilan Sosial di Era Platform Digital 

============
Keempat esai diatas, sudah saya satukan menjadi ebook dengan judul:
APA YANG DIANGGAP NORMAL

     Manusia memiliki kebiasaan yang hampir refleks: ketika berhadapan dengan sesuatu yang rumit, ia ingin segera merapikannya. Memberi nama, membuat kategori, menarik kesimpulan. Ada rasa tenang ketika dunia berhasil dipadatkan menjadi bentuk yang bisa dijelaskan dengan cepat. Seolah segala sesuatu akan lebih mudah dijalani jika cukup jelas untuk dimengerti dalam beberapa kalimat.

     Namun tidak semua hal bersedia diperlakukan seperti itu.

     Ada pengalaman-pengalaman tertentu yang memang ingin dipahami, tetapi menolak ketika dipaksa menjadi terlalu sederhana. Ia seperti hutan yang bisa dimasuki, tetapi marah jika dipotong menjadi taman yang rapi. Semakin seseorang mencoba menjelaskannya secara singkat, semakin banyak bagian penting yang hilang di pinggir jalan.

     Mungkin karena kehidupan sendiri tidak pernah benar-benar bekerja dalam garis lurus. Perasaan manusia misalnya, jarang datang dalam bentuk tunggal. Seseorang bisa mencintai dan lelah pada saat yang sama. Bisa merasa bersyukur sekaligus kecewa. Bisa ingin pergi sambil diam-diam berharap ditahan. Tetapi dunia sering tidak sabar dengan kerumitan seperti itu. Kita diminta memilih: bahagia atau sedih, yakin atau ragu, berhasil atau gagal. Padahal sebagian besar hidup justru terjadi di wilayah campuran yang tidak nyaman untuk diringkas.

     Ada keinginan yang sangat manusiawi untuk membuat segala sesuatu menjadi mudah dijelaskan. Itu membantu kita merasa lebih aman. Ketika sesuatu punya definisi yang jelas, kita merasa punya pegangan. Namun sering kali definisi hanya menyelamatkan permukaan. Ia memberi bentuk, tetapi menghilangkan kedalaman.

     Lihat saja bagaimana manusia berbicara tentang cinta, kehilangan, keyakinan, atau kesepian. Kata-kata itu terdengar sederhana karena sering diucapkan, tetapi pengalaman di dalamnya nyaris tidak pernah identik. Dua orang bisa menggunakan kata yang sama sambil merasakan dunia yang sama sekali berbeda. Bahasa membantu kita mendekat, tetapi juga diam-diam menyamarkan kompleksitas yang tidak muat di dalamnya.

     Di titik tertentu, seseorang mulai menyadari bahwa kejelasan tidak selalu berarti penyederhanaan. Ada jenis kejelasan lain yang lebih tenang: bukan kejelasan yang memotong cabang-cabang rumit, tetapi yang mampu melihat kerumitan tanpa panik. Ia tidak buru-buru menghapus kontradiksi. Ia membiarkan beberapa hal tetap memiliki banyak lapisan.

     Ini sulit, karena manusia dibesarkan dalam budaya jawaban cepat. Pendapat harus singkat, posisi harus tegas, penjelasan harus langsung sampai. Bahkan dalam percakapan sehari-hari, keraguan sering dianggap kelemahan. Orang lebih nyaman dengan keyakinan yang sederhana daripada pemahaman yang dalam tetapi penuh nuansa.

     Padahal ada banyak hal yang memang hanya bisa dipahami jika seseorang cukup sabar tinggal di dalam kerumitannya.

     Hubungan antar manusia misalnya. Dari jauh, semuanya tampak mudah dijelaskan: siapa salah, siapa benar, siapa meninggalkan siapa. Namun ketika seseorang benar-benar berada di dalamnya, garis-garis itu mulai kabur. Ada luka yang diwariskan diam-diam, ada ketakutan yang tidak pernah diucapkan, ada kebutuhan untuk dicintai yang berubah bentuk menjadi kemarahan. Sesuatu yang tampak sederhana dari luar ternyata penuh lorong-lorong kecil di dalamnya.

     Begitu pula dengan diri sendiri. Manusia sering ingin menemukan “siapa dirinya” seperti menemukan jawaban final. Padahal diri bukan benda mati yang tinggal ditemukan sekali lalu selesai. Ia berubah bersama waktu, pengalaman, kehilangan, dan hal-hal kecil yang tidak tercatat. Kita ingin jelas tentang diri sendiri, tetapi diri kita sendiri menolak disederhanakan.

     Ada ironi kecil di sini: semakin dewasa seseorang, semakin ia sadar bahwa banyak hal tidak bisa diringkas tanpa kehilangan sesuatu yang penting. Dan justru kesadaran itu membuatnya lebih hati-hati dalam menilai, lebih lambat menyimpulkan, lebih rela membiarkan pertanyaan tetap terbuka sedikit lebih lama.

     Mungkin itu sebabnya beberapa percakapan terasa begitu berharga. Bukan karena mereka menghasilkan jawaban yang final, tetapi karena di dalamnya ada ruang bagi kompleksitas untuk bernapas. Tidak semua hal harus selesai malam ini. Tidak semua luka harus segera diberi makna. Tidak semua manusia harus dipahami dalam satu sudut pandang.

     Pada akhirnya, mungkin kedewasaan bukan kemampuan menjelaskan segalanya dengan sederhana, melainkan kemampuan menjaga kejernihan tanpa menghancurkan kerumitan yang membuat sesuatu tetap hidup.

     Karena ada hal-hal yang memang ingin jelas—tetapi juga ingin tetap utuh.

     Ada sesuatu yang tampak baik ketika pemerintah mengumumkan rasio baru bagi hasil antara driver dan aplikator: 8 banding 92. Waktunya pun tidak sembarangan—Hari Buruh. Dari kejauhan, itu terlihat seperti pernyataan sikap: negara hadir, negara mencoba berpihak.

     Dan kita tidak perlu sinis untuk mengakui itu sebagai niat baik.

     Masalahnya bukan pada niat. Masalahnya ada pada kedalaman.

     Karena yang diatur baru hasil, belum cara hasil itu diproduksi.

     Driver tidak hidup di dalam angka 8:92. Mereka hidup di dalam sistem yang menentukan siapa mendapat order, siapa tidak; siapa mendapat insentif, siapa tertinggal; siapa dinilai baik, siapa perlahan disingkirkan. Sistem itu tidak transparan. Tidak bisa ditanya. Tidak punya kewajiban untuk menjelaskan dirinya.

     Di sinilah kita harus berhenti sebentar, lalu jujur pada diri sendiri: yang sedang kita hadapi bukan sekadar perubahan model bisnis, tapi perubahan cara kekuasaan bekerja.

     Kalau dulu kita bicara soal hubungan kerja—majikan dan pekerja—sekarang relasinya lebih rumit. Tidak ada mandor yang berdiri di depan. Tidak ada perintah langsung yang bisa dilawan. Yang ada adalah sistem yang mengarahkan.

     Di titik ini, apa yang disebut oleh Michel Foucault sebagai biopolitik menjadi relevan. Bukan sebagai istilah akademik yang jauh dari realitas, tapi sebagai cara membaca apa yang sebenarnya terjadi.

     Biopolitik adalah cara kekuasaan bekerja bukan dengan paksaan terbuka, tapi dengan mengatur kehidupan: ritme kerja, pilihan yang tersedia, kemungkinan yang bisa diakses. Ia tidak selalu memaksa. Ia mengarahkan, menyaring, dan membentuk.

     Sekarang lihat aplikator dengan kacamata itu.

Driver tidak dipaksa untuk bekerja. Mereka “diberi kesempatan”.
Mereka tidak diperintah secara langsung. Mereka “didorong” oleh insentif.
Mereka tidak dihukum secara kasar. Mereka “dinilai”, lalu konsekuensi mengikuti.

     Semua tampak wajar. Bahkan modern.

     Tapi di balik itu, ada pengaturan hidup yang sangat konkret.

     Seorang driver menerima pesanan belanja. Ia mengeluarkan uang sendiri untuk membeli barang. Ia mengantar ke tujuan. Penerima tidak ada. Di titik itu, yang terjadi bukan sekadar kendala teknis, tapi pergeseran tanggung jawab.

Sistem menahan uangnya.
Sistem meminta bukti.
Sistem menentukan langkah yang harus diikuti.

     Foto barang. Foto struk. Cari tempat penyaluran. Dokumentasikan semuanya.

     Waktu berjalan. Tenaga terkuras. Risiko sepenuhnya berada di tangan driver.

     Jika semua sesuai, uang dikembalikan. Sistem terlihat seperti “menolong”.
Padahal yang terjadi: sistem memindahkan beban ke individu, lalu mengemasnya sebagai prosedur yang wajar.

     Di hari lain, tekanan datang dari arah berbeda.

     Perjalanan tidak selalu mulus. Jalan macet, restoran lambat, pelanggan tambah pesanan di luar aplikasi. Titik antar melenceng jauh, jalur rute dari aplikator dibuat sependek mungkin, bahkan kadang nyasar ke landasan pacu pesawat. Semua itu di luar kendali driver. Tapi ketika sampai, satu tuntutan tetap berlaku: ramah.

     Lalu muncullah si pelanggan perfeksionis yang mungkin sedang PMS, mungkin baru putus cinta, atau bahkan mungkin juga sedang sakit gigi, menatap sinis wajah driver yang penuh drama. Jempolnya menari, fitur penilaian muncul. Satu bintang. “Tidak ramah.”

     Sistem tidak melihat proses. Tidak melihat konteks. Tidak melihat kenyataan. Ia hanya mencatat hasil.

     Dari hasil itu, konsekuensi muncul—teguran, penurunan performa, hingga risiko kehilangan akses kerja.

     Di sini, sesuatu yang lebih dalam terlihat jelas: sistem tidak hanya mengatur pekerjaan, tapi juga emosi.

     Ia menentukan bagaimana seseorang harus bersikap. Ia memberi sanksi jika standar itu tidak terpenuhi, bahkan ketika kondisi tidak memungkinkan.

     Dan semua ini terjadi melalui sesuatu yang tidak pernah benar-benar dibuka: algoritma.

     Inilah inti yang selama ini tidak disentuh oleh regulasi.

     Negara hadir, tapi hanya menyentuh permukaan. Rasio diatur. Tarif dibahas. Tapi logika yang mengatur distribusi kerja, penilaian, dan risiko—dibiarkan sebagai wilayah privat.

     Alasannya sederhana: rahasia dagang.

     Tapi di titik ini, kita harus berani bertanya: apakah sesuatu yang menentukan kehidupan ribuan, bahkan jutaan orang, masih bisa sepenuhnya dianggap urusan privat?

     Kalau jawabannya ya, maka kita menerima satu hal: bahwa sebagian kendali atas kehidupan warga telah berpindah ke sistem yang tidak tunduk pada kewajiban publik.

     Dan di sinilah isu ini tidak lagi sekadar ekonomi. Ini soal kedaulatan.

     Bukan kedaulatan dalam arti simbolik—bendera, wilayah, atau retorika kebangsaan. Tapi kedaulatan dalam arti paling konkret: siapa yang mengatur hidup warga?

     Apakah negara, melalui hukum yang bisa diperdebatkan?
     Ataukah sistem privat, melalui algoritma yang tidak bisa disentuh?

     Kalau negara membiarkan sistem seperti ini berjalan tanpa kerangka hukum yang memadai, maka yang terjadi bukan sekadar kelalaian. Negara sedang menyerahkan sebagian fungsinya—secara diam-diam.

     Dan ini bukan tuduhan berlebihan. Ini bisa dilihat dari fakta sederhana:

     Driver menanggung risiko yang tidak mereka desain.
     Driver tunduk pada keputusan yang tidak bisa mereka pahami.
     Driver dinilai oleh sistem yang tidak memberi mereka hak untuk membela diri.

     Ini bukan relasi pasar biasa. Ini struktur kekuasaan.

     Karena itu, kebijakan seperti 8:92 tidak salah. Tapi ia tidak cukup.

     Ia menyentuh hasil, bukan proses. Ia memperbaiki angka, tapi tidak membongkar mesin.

     Kalau kita berhenti di situ, maka yang terjadi hanyalah perapihan permukaan. Sementara fondasi tetap sama.

     Di titik ini, kita butuh keberanian untuk melangkah lebih jauh.

     Bukan sekadar menambah aturan, tapi membangun kerangka baru.

     Pendekatan seperti omnibus law bisa dipertimbangkan—bukan untuk menyederhanakan, tapi untuk mengintegrasikan berbagai aspek yang selama ini terpisah: ketenagakerjaan, perlindungan konsumen, persaingan usaha, dan yang paling penting—pengaturan sistem berbasis algoritma.

     Fokusnya harus jelas.

     Pertama, transparansi prinsip kerja algoritma.
Bukan membuka seluruh kode, tapi membuka logika dasar: bagaimana order didistribusikan, bagaimana penilaian dilakukan, bagaimana penalti dijatuhkan.

     Kedua, hak atas penjelasan.
Setiap keputusan yang berdampak pada penghasilan atau status kerja harus bisa dijelaskan. Bukan sekadar notifikasi, tapi alasan yang bisa dipahami dan diuji.

     Ketiga, mekanisme keberatan yang nyata.
Driver harus punya ruang untuk menantang keputusan, dengan proses yang adil, bukan formalitas.

     Keempat, audit independen.
Sistem tidak bisa hanya dinilai oleh pembuatnya sendiri. Harus ada pihak lain yang punya akses untuk memastikan bahwa sistem berjalan secara adil.

     Kelima, pembatasan distribusi risiko.
Tidak semua risiko boleh dipindahkan ke individu. Harus ada batas yang jelas tentang apa yang menjadi tanggung jawab sistem.

     Ini bukan tuntutan berlebihan. Ini penyesuaian yang wajar terhadap bentuk kekuasaan baru.

     Dan di sinilah negara diuji.

     Apakah ia hanya akan menjadi pengatur angka?
     Ataukah ia berani masuk ke wilayah yang lebih dalam—wilayah yang selama ini dianggap terlalu teknis, terlalu kompleks, atau terlalu sensitif?

     Karena kalau tidak, maka kita akan terus berada di situasi yang sama.

     Kebijakan akan terus diumumkan.
     Perbaikan akan terus diklaim.
     Tapi pengalaman di lapangan tidak banyak berubah.

     Sementara itu, sistem akan terus berkembang—lebih canggih, lebih halus, lebih sulit dipahami.

     Dan tanpa disadari, kita akan terbiasa dengan satu hal yang seharusnya tidak normal: bahwa kehidupan banyak orang diatur oleh sesuatu yang tidak pernah mereka lihat, tidak pernah mereka setujui, dan tidak pernah benar-benar bisa mereka lawan.

     Di titik itu, persoalannya bukan lagi ekonomi.

     Tapi siapa yang sebenarnya memegang kendali.

     Dan karena itu, ini bukan soal memilih antara teknologi atau perlindungan, bukan pula soal menghambat inovasi atau mendorong investasi. Ini soal memastikan bahwa sistem yang mengatur hidup warga negara tetap tunduk pada prinsip keadilan yang bisa diperiksa.

     Negara tidak boleh puas hadir di permukaan, sementara inti dari kekuasaan baru dibiarkan tumbuh tanpa batas.

     Jika hukum tidak segera mengejar perubahan ini, maka hukum bukan lagi alat untuk melindungi, melainkan sekadar saksi yang terlambat.

 

=================

baca juga :
Empat Esai tentang Manusia, Pasar, dan Kekuasaan
 

1. 8:92 Tidak Cukup: Negara Harus Mengatur Algoritma

2. 8:92 dan Kesalahan Membaca Realitas Pekerja Gig 

3. Negara, Platform, dan Martabat Kerja: Pelajaran dari Dunia untuk Indonesia

4. DRIVER INDONESIA: Sebuah Gagasan tentang Negara, Makelar, dan Keadilan Sosial di Era Platform Digital 

============
Keempat esai diatas, sudah saya satukan menjadi ebook dengan judul:
APA YANG DIANGGAP NORMAL

     Nama Tan Malaka hari ini beredar seperti diskon musiman: muncul ramai, dielu-elukan, lalu perlahan menghilang setelah algoritma bosan. Kutipannya dipajang rapi, dipoles, diberi latar belakang estetik—siap dikonsumsi tanpa risiko. Seolah-olah gagasan bisa dipakai seperti parfum: cukup disemprotkan, lalu kita ikut harum oleh sejarah.

     Tidak ada yang benar-benar ingin tahu bagaimana kalimat-kalimat itu lahir.

     Tidak ada yang ingin terlalu lama membayangkan seorang manusia yang menulis sambil berpindah-pindah, menghindari penangkapan, hidup dari ketidakpastian yang tidak romantis sama sekali. Menulis bukan di kafe dengan colokan listrik dan Wi-Fi, tetapi di sela-sela kemungkinan ditangkap atau mati. Kertas bukan medium ekspresi, tapi medan pertaruhan. Pikiran bukan konten, tapi risiko.

     Membayangkan itu terlalu mahal. Terlalu mengganggu kenyamanan.

     Maka yang tersisa adalah versi jinaknya: kutipan yang sudah disterilkan dari konteks, dibagikan dengan penuh semangat, lalu diakhiri dengan ritual kecil yang sakral—melirik angka. Berapa yang suka, berapa yang membagikan, berapa yang mengomentari. Sebuah bentuk perenungan baru: refleksi yang diukur dalam notifikasi.

     Ada sesuatu yang nyaris lucu, jika tidak terasa tragis.

     Orang-orang mengutip Tan Malaka seolah sedang melanjutkan perjuangan. Padahal yang mereka lanjutkan mungkin hanya trafik. Mereka tidak sedang berhadapan dengan kekuasaan, hanya dengan sepi—dan bahkan sepi itu pun kini bisa diatasi dengan sedikit optimasi waktu unggah.

     Jika dulu kekuasaan harus repot-repot membungkam, hari ini tidak perlu. Tidak ada pelarangan buku yang dramatis, tidak ada pengasingan yang heroik. Cukup beri semua orang panggung kecil, sedikit perhatian, dan ilusi bahwa suara mereka penting. Sisanya akan berjalan otomatis.

     Algoritma bekerja lebih halus daripada polisi rahasia.

     Ia tidak menangkap siapa pun. Ia hanya mengarahkan, membelokkan, menghibur, lalu perlahan meninabobokan. Orang-orang tetap berbicara, tetap merasa kritis, tetap merasa melawan—tanpa pernah benar-benar keluar dari lingkaran yang sama. Mereka bergerak, tapi seperti roda hamster: cepat, lelah, dan tidak ke mana-mana.

     Dan di tengah semua itu, nama Tan Malaka terus dipanggil.

     Bukan untuk dihidupi, tapi untuk ditemani.

     Seperti jimat kecil yang digenggam agar terlihat berani, tanpa pernah benar-benar ingin berjalan di jalan yang ia tempuh. Karena di ujung jalan itu tidak ada panggung, tidak ada angka, tidak ada validasi—hanya kesunyian yang keras kepala, dan keberanian yang tidak bisa dipalsukan.

     Mungkin yang paling menggelisahkan bukan bahwa kita lupa.

     Tapi bahwa kita ingat—dengan cara yang begitu aman, begitu nyaman, sampai-sampai kehilangan alasan mengapa ia dulu harus berbahaya.

     Ada kalimat yang terasa seperti tamparan halus namun sulit dilupakan dari Tan Malaka: kematian sejatinya bukan semalam tanpa makan, melainkan sehari tanpa berpikir. Kalimat itu berdiri tegak seperti seruan—seolah hidup manusia diukur dari nyala akalnya, dari keberaniannya meragukan, mempertanyakan, dan menolak tunduk pada dunia yang dianggap sudah selesai.

     Namun manusia, jika ditelusuri lebih dalam, tidak pernah benar-benar dibangun di atas akal terlebih dahulu. Ia tumbuh dari sesuatu yang lebih tua, lebih liar, dan lebih diam: emosi. Jauh sebelum manusia mampu merumuskan gagasan, ia sudah bisa takut, mencintai, marah, dan berharap. Evolusi tidak membentuk kita sebagai makhluk yang berpikir, melainkan sebagai makhluk yang bertahan—dan yang menjaga keberlangsungan itu bukan logika, melainkan perasaan.

     Akal, dalam banyak hal, datang seperti tambahan yang terlambat. Ia menyusul, merapikan, memberi nama pada sesuatu yang sudah lebih dulu bekerja tanpa bahasa. Bahkan keputusan yang tampak rasional pun sering kali hanya pembenaran yang halus atas dorongan yang lebih dalam. Manusia tahu banyak hal, tetapi tetap melakukan yang lain. Bukan karena ia tidak mampu berpikir, melainkan karena ia digerakkan oleh sesuatu yang lebih purba dari pikiran itu sendiri.

     Ironisnya, justru dari wilayah emosi itulah lahir apa yang kita anggap sebagai puncak pemikiran manusia. Filsafat sering tumbuh dari kegelisahan yang tidak menemukan tempat. Sains berakar pada rasa ingin tahu yang tak mau diam. Seni lahir dari luka, rindu, atau kekosongan yang mencari bentuk. Pikiran bukan sumber pertama—ia lebih mirip alat yang menyusun dan menyalurkan energi yang datang dari kedalaman yang lebih gelap.

     Di titik ini, kalimat Tan Malaka tidak sepenuhnya gugur, tetapi berubah maknanya. Ia bukan lagi deskripsi tentang bagaimana manusia bertahan hidup, melainkan tentang bagaimana manusia menjaga martabatnya. Tanpa berpikir, manusia tetap hidup—tetapi mudah digerakkan, mudah dibentuk, mudah dijadikan bagian dari arus yang tidak ia pahami. Tanpa emosi, manusia mungkin tetap berpikir—tetapi kehilangan alasan untuk bergerak.

     Maka manusia berdiri di antara dua arus yang tidak pernah benar-benar berdamai. Di bawah, mengalir sungai purba yang membawa naluri dan perasaan. Di atas, berdiri bangunan rapuh bernama rasio yang mencoba memberi arah. Sebagian besar waktu, sungai itu menang—ia membawa manusia ke mana saja tanpa banyak tanya. Namun di saat-saat tertentu, dari bangunan itu, seseorang menyalakan cahaya kecil, dan untuk sesaat arah arus berubah.

     Barangkali hidup tidak pernah sekadar tentang berpikir atau merasa. Ia terjadi ketika keduanya saling menyalakan: emosi memberi api, pikiran memberi arah. Tanpa arah, api hanya membakar. Tanpa api, arah hanya menjadi garis dingin di atas peta. Dan manusia, dengan segala keganjilannya, terus berjalan di antara keduanya—kadang sadar, sering kali tidak, tetapi selalu bergerak.

     Halal bi halal itu selalu terasa seperti sesuatu yang sederhana—terlalu sederhana, bahkan—sehingga kita jarang benar-benar berhenti untuk menatapnya lebih lama. Ia lewat setiap tahun, seperti angin yang hafal jalan pulang, membawa kalimat yang sama, gestur yang sama, dan mungkin juga rasa yang tidak selalu sama.

     Ia terdengar seperti istilah Arab, seolah punya akar yang dalam di tanah Timur Tengah. Tapi justru di situlah ia diam-diam menyimpan keunikannya: ia lahir di sini, tumbuh di antara gang-gang sempit, ruang tamu, aula kantor, hingga lapangan-lapangan tempat orang berkumpul tanpa banyak alasan selain ingin merasa kembali terhubung. “Halal” menjadi kata kunci—yang dilepaskan, yang dibolehkan, yang tidak lagi dibebani. Ketika diulang menjadi halal bi halal, ia seperti gema yang memantul: bukan hanya aku membebaskanmu, tapi kita saling membebaskan diri dari sesuatu yang mungkin sudah lama terlalu berat untuk terus dibawa.

     Namun yang benar-benar ada dari halal bi halal bukanlah kata-katanya. Ia tidak hidup dalam kamus, melainkan di antara manusia. Ia hadir dalam jeda kecil sebelum jabat tangan, dalam tatapan yang menghindar lalu kembali, dalam senyum yang sedikit dipaksakan tapi tetap diusahakan. Ia tidak memiliki tubuh, tapi kita bisa merasakannya—seperti udara lembap setelah hujan, tidak terlihat tapi menempel di kulit.

     Ia adalah ritus, tapi bukan ritus yang sepenuhnya sakral. Ia juga bukan sekadar kebiasaan duniawi. Ia berdiri di tengah-tengah, seperti jembatan bambu yang dibangun seadanya namun terus dilalui karena semua orang diam-diam tahu: kita perlu menyeberang.

     Dalam sejarahnya, ia tidak turun sebagai perintah yang kaku. Ia lebih mirip kesepakatan yang perlahan menemukan bentuknya sendiri. Sering disebut bahwa gagasan ini pernah disentuh oleh Wahid Hasyim, lalu dipopulerkan dalam konteks politik oleh Soekarno—sebagai cara meredakan ketegangan tanpa harus memperpanjang konflik. Sebuah jalan memutar yang khas: tidak langsung menyelesaikan masalah di pusatnya, tapi melembutkan tepi-tepinya sampai ia tidak lagi terasa tajam.

     Di titik itu, halal bi halal menjadi lebih dari sekadar tradisi. Ia berubah menjadi semacam teknologi sosial—cara halus untuk mengelola luka tanpa perlu membukanya terlalu lebar. Cara untuk mengatakan, “kita lanjut saja,” tanpa harus mengurai seluruh benang kusut yang ada.

     Seiring waktu, ia tumbuh. Dari ruang keluarga yang hangat dan penuh nama, ia merambah ke ruang-ruang institusional yang lebih dingin dan anonim. Di kantor, di sekolah, di organisasi, ia menjadi agenda. Disiapkan, dijadwalkan, kadang dipaksakan untuk terasa khidmat. Ada sambutan, ada konsumsi, ada barisan orang yang saling berjabat tangan seperti antrean panjang yang tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang ditunggu.

     Maknanya pun ikut bergeser. Ia tidak lagi selalu tentang hubungan personal, tapi tentang menjaga permukaan agar tetap tenang. Tentang memastikan tidak ada gelombang yang terlalu besar untuk mengganggu jalannya sistem.

     Di organisasi pencinta alam, misalnya, halal bi halal punya warna yang sedikit berbeda. Ia sering tidak berlangsung di ruang ber-AC atau aula dengan kursi tersusun rapi, tapi di tanah yang kadang masih basah oleh sisa hujan semalam. Di antara carrier yang belum dibersihkan, tali-temali yang digulung seadanya, dan sepatu yang masih menyimpan lumpur dari perjalanan terakhir.

     Di sana, orang-orang yang mungkin pernah berselisih di jalur pendakian—tentang keputusan rute, tentang ego yang muncul di ketinggian, tentang siapa yang merasa paling benar ketika badai datang—bertemu kembali dalam suasana yang lebih datar. Tidak selalu ada kata maaf yang diucapkan dengan jelas. Kadang hanya ada tawaran kopi panas dari kompor kecil, atau tepukan di bahu yang sedikit lebih lama dari biasanya.

     Dan anehnya, itu cukup.

     Seperti gunung yang tidak pernah benar-benar menyimpan dendam, mereka belajar bahwa konflik sering kali hanya bagian dari perjalanan, bukan sesuatu yang harus dibawa pulang terlalu lama. Halal bi halal di sana terasa lebih sunyi, tapi justru lebih jujur. Tidak banyak kata, tapi banyak yang dilepaskan.

     Lalu kita sampai pada fase yang lebih modern, di mana halal bi halal menjadi semakin ringan—atau mungkin terlalu ringan. Ia hadir dalam pesan berantai, dalam unggahan media sosial, dalam kalimat “mohon maaf lahir dan batin” yang dikirim ke ratusan kontak sekaligus. Tidak ada lagi tatapan, tidak ada jeda, tidak ada canggung. Semua menjadi cepat, efisien, dan sedikit kosong.

     Seperti kata yang terlalu sering diucapkan hingga kehilangan beratnya sendiri.

     Namun ia tidak hilang.

     Di balik semua formalitas dan repetisi itu, halal bi halal tetap menyisakan ruang kecil untuk sesuatu yang nyata. Dalam satu keramaian, bisa saja ada dua orang yang benar-benar sedang menyelesaikan sesuatu yang selama ini mengendap. Dalam satu barisan panjang, bisa saja ada satu jabat tangan yang terasa berbeda—lebih hangat, lebih lama, lebih jujur.

     Mungkin di situlah ia bertahan.

     Karena pada akhirnya, halal bi halal memperlihatkan sesuatu yang agak ganjil tentang manusia: kita membutuhkan momen kolektif untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya bisa kita lakukan kapan saja. Meminta maaf. Mengakui kesalahan. Melepaskan beban.

     Tapi kita jarang melakukannya sendirian.

Kita butuh kalender. Kita butuh tradisi. Kita butuh keramaian sebagai tameng kecil dari rasa malu.

     Dan di antara semua itu, ketika kebisingan mulai mereda, tersisa satu momen yang sederhana—dua manusia yang berhenti sejenak dari keinginan untuk menjadi benar, lalu memilih sesuatu yang lebih ringan.

     Menjadi lega.

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.