Articles by "Para Pejuang"

Tampilkan postingan dengan label Para Pejuang. Tampilkan semua postingan

     Tahun 2022, pemerintah pernah terlihat menang.

     Waktu itu Menteri Perhubungan mengumumkan perubahan rasio bagi hasil dari 20:80 menjadi 15:85. Suasananya panas. Demo driver berlangsung di banyak tempat. Televisi menyiarkan perdebatan, pengamat bermunculan, publik mulai sadar bahwa ada sesuatu yang tidak sehat di balik hubungan antara driver dan aplikator.

     Lalu negara datang membawa angka baru.

     Lima persen mungkin terlihat kecil bagi orang yang duduk nyaman di ruang rapat berpendingin udara. Tapi bagi driver yang hidup dari hitungan order harian, lima persen itu bisa berarti bensin untuk beberapa hari, makan anak, atau cicilan motor yang tidak telat dibayar.

     Publik melihat pengumuman itu sebagai kemenangan.

     Masalahnya, kemenangan itu ternyata terlalu cepat dirayakan.

     Dua atau tiga bulan kemudian, perlahan-lahan situasi kembali seperti semula. Tidak ada konferensi pers besar. Tidak ada pengumuman dramatis. Tidak ada breaking news di televisi.

     Tiba-tiba saja, skemanya kembali ke format 20:80.

     Aplikator punya penjelasan yang terdengar cerdas dan modern. Lima persen itu, kata mereka, dikembalikan lagi ke driver dalam berbagai bentuk promo, subsidi, dan skema insentif lain. Bahasa yang dipakai rapi sekali. Begitu rapi sampai publik sulit menangkap apa sebenarnya yang sedang terjadi.

     Dan di situlah letak persoalannya.

Negara berbicara dalam bahasa regulasi lama.
Aplikator bermain dalam bahasa sistem.

Negara menghitung persentase.
Aplikator mengatur definisi.

Negara mengumumkan kebijakan di depan kamera.
Aplikator menyesuaikan implementasi di belakang algoritma.

     Pada akhirnya, publik hanya melihat panggung depan. Sementara perubahan sesungguhnya terjadi di ruang yang tidak terlihat.

     Karena itu, ketika pemerintah hari ini kembali mengumumkan rasio baru 8:92, kegembiraan itu terasa perlu disertai kewaspadaan.

      Bukan karena kebijakannya buruk. Justru sebaliknya, ini langkah yang jauh lebih berani dibanding sebelumnya. Angka 8:92 terlalu besar untuk dengan mudah dipelintir diam-diam seperti kasus 15:85 dahulu.

     Maka arah permainan tampaknya berubah.

     Bukan lagi mengubah angka secara diam-diam, melainkan mempersempit wilayah berlakunya.

     Dan di sinilah persoalan yang lebih mendasar mulai terlihat.

     Ketika pemerintah, pakar, bahkan sebagian publik membicarakan ojek online, yang mereka bayangkan masih satu hal: transportasi. Seolah-olah seluruh persoalan ini hanya soal memindahkan manusia dari satu tempat ke tempat lain.

     Padahal realitas di lapangan sudah lama berubah.

     Hari ini driver bukan hanya mengantar manusia.

Mereka membeli makanan.
Mengantar paket.
Membelikan obat.
Mengirim dokumen.
Berbelanja kebutuhan rumah tangga.
Mengantar barang elektronik.

Dan entah layanan apa lagi yang akan lahir beberapa tahun ke depan.

     Artinya, aplikator sudah lama berhenti menjadi perusahaan “transportasi” dalam pengertian lama. Mereka telah berubah menjadi makelar digital raksasa yang mempertemukan kebutuhan pasar dengan tenaga kerja manusia secara real-time.

     Kata “makelar” mungkin terdengar kasar bagi sebagian orang modern yang terlalu mencintai istilah startup dan inovasi. Tapi secara fungsi, itulah yang terjadi.

     Makelar tradisional di terminal punya informasi: bus mana yang kosong, mana yang cepat, mana yang murah, mana yang sedang cari penumpang.

     Lalu ia mengambil bagian dari transaksi.

     Aplikator melakukan hal yang sama dalam bentuk yang jauh lebih canggih.

Mereka menguasai data permintaan.
Mengatur distribusi order.
Menentukan prioritas.
Mengarahkan perilaku pengguna.
Mengendalikan visibilitas.

     Bedanya, makelar terminal bekerja dengan teriakan dan intuisi. Makelar modern bekerja dengan algoritma dan miliaran data.

     Dan seperti semua makelar dalam sejarah manusia, mereka selalu ingin satu hal: tetap menjadi pihak yang paling menentukan aturan permainan.

     Masalah muncul ketika negara masih sibuk mengatur definisi lama.

     Karena transportasi dipahami sekadar memindahkan manusia, maka rasio 8:92 pun diarahkan terutama ke layanan pengangkutan penumpang.

     Sementara layanan lain—belanja, antar makanan, kirim barang—tetap berada di wilayah abu-abu yang fleksibel.

Padahal risikonya tidak berubah.

Driver tetap memakai kendaraan pribadi.
Tetap membeli bensin sendiri.
Tetap mempertaruhkan tubuhnya di jalan raya.
Tetap menghadapi kemungkinan kecelakaan setiap hari.

     Dan jalan raya bukan ruang yang romantis seperti iklan aplikasi di televisi.

     Jalan raya adalah salah satu ruang paling mematikan dalam kehidupan modern.

     Tubuh driver tetap tubuh yang sama, apakah ia membawa manusia, nasi goreng, dokumen, atau galon air.

     Tapi anehnya, begitu objek yang dibawa berubah, perhatian regulasi ikut mengecil.

     Di titik ini, kita mulai melihat keterlambatan cara berpikir negara.

     Negara masih melihat kendaraan.
     Aplikator sudah lama mengelola tenaga hidup manusia.

     Ini bukan lagi soal transportasi.

     Ini ekonomi gig berbasis platform.

     Driver menjual waktu.
     Menjual tenaga.
     Menjual kesabaran.
     Menjual energi psikologis.
     Menjual risiko hidup.

Motor hanyalah alat.

Dan semua itu hari ini diekstraksi melalui satu sistem yang sama.

     Karena itu, ketika rasio 8:92 hanya diarahkan pada layanan angkutan manusia, ada absurditas yang sulit diabaikan. 

     Seolah-olah risiko kecelakaan berubah hanya karena yang dibawa bukan manusia, melainkan nasi uduk.

     Seolah-olah tubuh driver menjadi lebih aman hanya karena yang diantar adalah paket.

Padahal aspal tetap keras.
Truk tetap melaju.
Hujan tetap turun.
Kelelahan tetap menggerogoti tubuh yang sama.

     Inilah sebabnya pembahasan para pakar sering terasa normatif dan dangkal. Banyak dari mereka terlalu lama melihat dari menara analisis, sementara realitas di lapangan sudah berubah bentuk jauh lebih cepat dibanding bahasa akademik dan regulasi.

     Mereka masih berbicara tentang tarif transportasi. Padahal yang sedang terbentuk adalah infrastruktur distribusi tenaga kerja manusia berbasis algoritma.

     Dan di sinilah urgensi membangun kerangka hukum baru menjadi sangat mendesak.

Bukan sekadar revisi aturan transportasi.
Bukan sekadar negosiasi tarif.
Bukan sekadar pembagian persentase.

     Indonesia membutuhkan semacam omnibus law untuk ekonomi gig berbasis platform.

     Karena masalahnya sudah lintas sektor: ketenagakerjaan, transportasi, perlindungan konsumen, keselamatan kerja, algoritma, persaingan usaha, hingga distribusi risiko.

     Kalau semua tetap diatur secara parsial, aplikator akan selalu lebih cepat menemukan celah dibanding negara menemukan bahasanya.

     Dan pengalaman tahun 2022 seharusnya cukup menjadi pelajaran.

     Tanpa kerangka hukum yang kokoh, regulasi mudah dinegosiasikan ulang. Mudah dipelintir definisinya. Mudah dipersempit wilayah berlakunya.

     Sementara aplikator akan terus berkembang: lebih canggih, lebih kompleks, lebih sulit disentuh.

     Negara tidak boleh terus-menerus tertinggal seperti orang yang sibuk mengatur terminal kecil, sementara di depannya sudah berdiri bandara internasional otomatis tanpa menara kontrol.

     Karena kalau keterlambatan ini terus dibiarkan, yang hilang bukan sekadar keadilan ekonomi.

     Yang hilang adalah kendali negara atas mekanisme yang mengatur hidup warganya sendiri.

     Ada sesuatu yang tampak baik ketika pemerintah mengumumkan rasio baru bagi hasil antara driver dan aplikator: 8 banding 92. Waktunya pun tidak sembarangan—Hari Buruh. Dari kejauhan, itu terlihat seperti pernyataan sikap: negara hadir, negara mencoba berpihak.

     Dan kita tidak perlu sinis untuk mengakui itu sebagai niat baik.

     Masalahnya bukan pada niat. Masalahnya ada pada kedalaman.

     Karena yang diatur baru hasil, belum cara hasil itu diproduksi.

     Driver tidak hidup di dalam angka 8:92. Mereka hidup di dalam sistem yang menentukan siapa mendapat order, siapa tidak; siapa mendapat insentif, siapa tertinggal; siapa dinilai baik, siapa perlahan disingkirkan. Sistem itu tidak transparan. Tidak bisa ditanya. Tidak punya kewajiban untuk menjelaskan dirinya.

     Di sinilah kita harus berhenti sebentar, lalu jujur pada diri sendiri: yang sedang kita hadapi bukan sekadar perubahan model bisnis, tapi perubahan cara kekuasaan bekerja.

     Kalau dulu kita bicara soal hubungan kerja—majikan dan pekerja—sekarang relasinya lebih rumit. Tidak ada mandor yang berdiri di depan. Tidak ada perintah langsung yang bisa dilawan. Yang ada adalah sistem yang mengarahkan.

     Di titik ini, apa yang disebut oleh Michel Foucault sebagai biopolitik menjadi relevan. Bukan sebagai istilah akademik yang jauh dari realitas, tapi sebagai cara membaca apa yang sebenarnya terjadi.

     Biopolitik adalah cara kekuasaan bekerja bukan dengan paksaan terbuka, tapi dengan mengatur kehidupan: ritme kerja, pilihan yang tersedia, kemungkinan yang bisa diakses. Ia tidak selalu memaksa. Ia mengarahkan, menyaring, dan membentuk.

     Sekarang lihat aplikator dengan kacamata itu.

Driver tidak dipaksa untuk bekerja. Mereka “diberi kesempatan”.
Mereka tidak diperintah secara langsung. Mereka “didorong” oleh insentif.
Mereka tidak dihukum secara kasar. Mereka “dinilai”, lalu konsekuensi mengikuti.

     Semua tampak wajar. Bahkan modern.

     Tapi di balik itu, ada pengaturan hidup yang sangat konkret.

     Seorang driver menerima pesanan belanja. Ia mengeluarkan uang sendiri untuk membeli barang. Ia mengantar ke tujuan. Penerima tidak ada. Di titik itu, yang terjadi bukan sekadar kendala teknis, tapi pergeseran tanggung jawab.

Sistem menahan uangnya.
Sistem meminta bukti.
Sistem menentukan langkah yang harus diikuti.

     Foto barang. Foto struk. Cari tempat penyaluran. Dokumentasikan semuanya.

     Waktu berjalan. Tenaga terkuras. Risiko sepenuhnya berada di tangan driver.

     Jika semua sesuai, uang dikembalikan. Sistem terlihat seperti “menolong”.
Padahal yang terjadi: sistem memindahkan beban ke individu, lalu mengemasnya sebagai prosedur yang wajar.

     Di hari lain, tekanan datang dari arah berbeda.

     Perjalanan tidak selalu mulus. Jalan macet, restoran lambat, pelanggan tambah pesanan di luar aplikasi. Titik antar melenceng jauh, jalur rute dari aplikator dibuat sependek mungkin, bahkan kadang nyasar ke landasan pacu pesawat. Semua itu di luar kendali driver. Tapi ketika sampai, satu tuntutan tetap berlaku: ramah.

     Lalu muncullah si pelanggan perfeksionis yang mungkin sedang PMS, mungkin baru putus cinta, atau bahkan mungkin juga sedang sakit gigi, menatap sinis wajah driver yang penuh drama. Jempolnya menari, fitur penilaian muncul. Satu bintang. “Tidak ramah.”

     Sistem tidak melihat proses. Tidak melihat konteks. Tidak melihat kenyataan. Ia hanya mencatat hasil.

     Dari hasil itu, konsekuensi muncul—teguran, penurunan performa, hingga risiko kehilangan akses kerja.

     Di sini, sesuatu yang lebih dalam terlihat jelas: sistem tidak hanya mengatur pekerjaan, tapi juga emosi.

     Ia menentukan bagaimana seseorang harus bersikap. Ia memberi sanksi jika standar itu tidak terpenuhi, bahkan ketika kondisi tidak memungkinkan.

     Dan semua ini terjadi melalui sesuatu yang tidak pernah benar-benar dibuka: algoritma.

     Inilah inti yang selama ini tidak disentuh oleh regulasi.

     Negara hadir, tapi hanya menyentuh permukaan. Rasio diatur. Tarif dibahas. Tapi logika yang mengatur distribusi kerja, penilaian, dan risiko—dibiarkan sebagai wilayah privat.

     Alasannya sederhana: rahasia dagang.

     Tapi di titik ini, kita harus berani bertanya: apakah sesuatu yang menentukan kehidupan ribuan, bahkan jutaan orang, masih bisa sepenuhnya dianggap urusan privat?

     Kalau jawabannya ya, maka kita menerima satu hal: bahwa sebagian kendali atas kehidupan warga telah berpindah ke sistem yang tidak tunduk pada kewajiban publik.

     Dan di sinilah isu ini tidak lagi sekadar ekonomi. Ini soal kedaulatan.

     Bukan kedaulatan dalam arti simbolik—bendera, wilayah, atau retorika kebangsaan. Tapi kedaulatan dalam arti paling konkret: siapa yang mengatur hidup warga?

     Apakah negara, melalui hukum yang bisa diperdebatkan?
     Ataukah sistem privat, melalui algoritma yang tidak bisa disentuh?

     Kalau negara membiarkan sistem seperti ini berjalan tanpa kerangka hukum yang memadai, maka yang terjadi bukan sekadar kelalaian. Negara sedang menyerahkan sebagian fungsinya—secara diam-diam.

     Dan ini bukan tuduhan berlebihan. Ini bisa dilihat dari fakta sederhana:

     Driver menanggung risiko yang tidak mereka desain.
     Driver tunduk pada keputusan yang tidak bisa mereka pahami.
     Driver dinilai oleh sistem yang tidak memberi mereka hak untuk membela diri.

     Ini bukan relasi pasar biasa. Ini struktur kekuasaan.

     Karena itu, kebijakan seperti 8:92 tidak salah. Tapi ia tidak cukup.

     Ia menyentuh hasil, bukan proses. Ia memperbaiki angka, tapi tidak membongkar mesin.

     Kalau kita berhenti di situ, maka yang terjadi hanyalah perapihan permukaan. Sementara fondasi tetap sama.

     Di titik ini, kita butuh keberanian untuk melangkah lebih jauh.

     Bukan sekadar menambah aturan, tapi membangun kerangka baru.

     Pendekatan seperti omnibus law bisa dipertimbangkan—bukan untuk menyederhanakan, tapi untuk mengintegrasikan berbagai aspek yang selama ini terpisah: ketenagakerjaan, perlindungan konsumen, persaingan usaha, dan yang paling penting—pengaturan sistem berbasis algoritma.

     Fokusnya harus jelas.

     Pertama, transparansi prinsip kerja algoritma.
Bukan membuka seluruh kode, tapi membuka logika dasar: bagaimana order didistribusikan, bagaimana penilaian dilakukan, bagaimana penalti dijatuhkan.

     Kedua, hak atas penjelasan.
Setiap keputusan yang berdampak pada penghasilan atau status kerja harus bisa dijelaskan. Bukan sekadar notifikasi, tapi alasan yang bisa dipahami dan diuji.

     Ketiga, mekanisme keberatan yang nyata.
Driver harus punya ruang untuk menantang keputusan, dengan proses yang adil, bukan formalitas.

     Keempat, audit independen.
Sistem tidak bisa hanya dinilai oleh pembuatnya sendiri. Harus ada pihak lain yang punya akses untuk memastikan bahwa sistem berjalan secara adil.

     Kelima, pembatasan distribusi risiko.
Tidak semua risiko boleh dipindahkan ke individu. Harus ada batas yang jelas tentang apa yang menjadi tanggung jawab sistem.

     Ini bukan tuntutan berlebihan. Ini penyesuaian yang wajar terhadap bentuk kekuasaan baru.

     Dan di sinilah negara diuji.

     Apakah ia hanya akan menjadi pengatur angka?
     Ataukah ia berani masuk ke wilayah yang lebih dalam—wilayah yang selama ini dianggap terlalu teknis, terlalu kompleks, atau terlalu sensitif?

     Karena kalau tidak, maka kita akan terus berada di situasi yang sama.

     Kebijakan akan terus diumumkan.
     Perbaikan akan terus diklaim.
     Tapi pengalaman di lapangan tidak banyak berubah.

     Sementara itu, sistem akan terus berkembang—lebih canggih, lebih halus, lebih sulit dipahami.

     Dan tanpa disadari, kita akan terbiasa dengan satu hal yang seharusnya tidak normal: bahwa kehidupan banyak orang diatur oleh sesuatu yang tidak pernah mereka lihat, tidak pernah mereka setujui, dan tidak pernah benar-benar bisa mereka lawan.

     Di titik itu, persoalannya bukan lagi ekonomi.

     Tapi siapa yang sebenarnya memegang kendali.

     Dan karena itu, ini bukan soal memilih antara teknologi atau perlindungan, bukan pula soal menghambat inovasi atau mendorong investasi. Ini soal memastikan bahwa sistem yang mengatur hidup warga negara tetap tunduk pada prinsip keadilan yang bisa diperiksa.

     Negara tidak boleh puas hadir di permukaan, sementara inti dari kekuasaan baru dibiarkan tumbuh tanpa batas.

     Jika hukum tidak segera mengejar perubahan ini, maka hukum bukan lagi alat untuk melindungi, melainkan sekadar saksi yang terlambat.

     Nama Tan Malaka hari ini beredar seperti diskon musiman: muncul ramai, dielu-elukan, lalu perlahan menghilang setelah algoritma bosan. Kutipannya dipajang rapi, dipoles, diberi latar belakang estetik—siap dikonsumsi tanpa risiko. Seolah-olah gagasan bisa dipakai seperti parfum: cukup disemprotkan, lalu kita ikut harum oleh sejarah.

     Tidak ada yang benar-benar ingin tahu bagaimana kalimat-kalimat itu lahir.

     Tidak ada yang ingin terlalu lama membayangkan seorang manusia yang menulis sambil berpindah-pindah, menghindari penangkapan, hidup dari ketidakpastian yang tidak romantis sama sekali. Menulis bukan di kafe dengan colokan listrik dan Wi-Fi, tetapi di sela-sela kemungkinan ditangkap atau mati. Kertas bukan medium ekspresi, tapi medan pertaruhan. Pikiran bukan konten, tapi risiko.

     Membayangkan itu terlalu mahal. Terlalu mengganggu kenyamanan.

     Maka yang tersisa adalah versi jinaknya: kutipan yang sudah disterilkan dari konteks, dibagikan dengan penuh semangat, lalu diakhiri dengan ritual kecil yang sakral—melirik angka. Berapa yang suka, berapa yang membagikan, berapa yang mengomentari. Sebuah bentuk perenungan baru: refleksi yang diukur dalam notifikasi.

     Ada sesuatu yang nyaris lucu, jika tidak terasa tragis.

     Orang-orang mengutip Tan Malaka seolah sedang melanjutkan perjuangan. Padahal yang mereka lanjutkan mungkin hanya trafik. Mereka tidak sedang berhadapan dengan kekuasaan, hanya dengan sepi—dan bahkan sepi itu pun kini bisa diatasi dengan sedikit optimasi waktu unggah.

     Jika dulu kekuasaan harus repot-repot membungkam, hari ini tidak perlu. Tidak ada pelarangan buku yang dramatis, tidak ada pengasingan yang heroik. Cukup beri semua orang panggung kecil, sedikit perhatian, dan ilusi bahwa suara mereka penting. Sisanya akan berjalan otomatis.

     Algoritma bekerja lebih halus daripada polisi rahasia.

     Ia tidak menangkap siapa pun. Ia hanya mengarahkan, membelokkan, menghibur, lalu perlahan meninabobokan. Orang-orang tetap berbicara, tetap merasa kritis, tetap merasa melawan—tanpa pernah benar-benar keluar dari lingkaran yang sama. Mereka bergerak, tapi seperti roda hamster: cepat, lelah, dan tidak ke mana-mana.

     Dan di tengah semua itu, nama Tan Malaka terus dipanggil.

     Bukan untuk dihidupi, tapi untuk ditemani.

     Seperti jimat kecil yang digenggam agar terlihat berani, tanpa pernah benar-benar ingin berjalan di jalan yang ia tempuh. Karena di ujung jalan itu tidak ada panggung, tidak ada angka, tidak ada validasi—hanya kesunyian yang keras kepala, dan keberanian yang tidak bisa dipalsukan.

     Mungkin yang paling menggelisahkan bukan bahwa kita lupa.

     Tapi bahwa kita ingat—dengan cara yang begitu aman, begitu nyaman, sampai-sampai kehilangan alasan mengapa ia dulu harus berbahaya.

     Ada kalimat yang terasa seperti tamparan halus namun sulit dilupakan dari Tan Malaka: kematian sejatinya bukan semalam tanpa makan, melainkan sehari tanpa berpikir. Kalimat itu berdiri tegak seperti seruan—seolah hidup manusia diukur dari nyala akalnya, dari keberaniannya meragukan, mempertanyakan, dan menolak tunduk pada dunia yang dianggap sudah selesai.

     Namun manusia, jika ditelusuri lebih dalam, tidak pernah benar-benar dibangun di atas akal terlebih dahulu. Ia tumbuh dari sesuatu yang lebih tua, lebih liar, dan lebih diam: emosi. Jauh sebelum manusia mampu merumuskan gagasan, ia sudah bisa takut, mencintai, marah, dan berharap. Evolusi tidak membentuk kita sebagai makhluk yang berpikir, melainkan sebagai makhluk yang bertahan—dan yang menjaga keberlangsungan itu bukan logika, melainkan perasaan.

     Akal, dalam banyak hal, datang seperti tambahan yang terlambat. Ia menyusul, merapikan, memberi nama pada sesuatu yang sudah lebih dulu bekerja tanpa bahasa. Bahkan keputusan yang tampak rasional pun sering kali hanya pembenaran yang halus atas dorongan yang lebih dalam. Manusia tahu banyak hal, tetapi tetap melakukan yang lain. Bukan karena ia tidak mampu berpikir, melainkan karena ia digerakkan oleh sesuatu yang lebih purba dari pikiran itu sendiri.

     Ironisnya, justru dari wilayah emosi itulah lahir apa yang kita anggap sebagai puncak pemikiran manusia. Filsafat sering tumbuh dari kegelisahan yang tidak menemukan tempat. Sains berakar pada rasa ingin tahu yang tak mau diam. Seni lahir dari luka, rindu, atau kekosongan yang mencari bentuk. Pikiran bukan sumber pertama—ia lebih mirip alat yang menyusun dan menyalurkan energi yang datang dari kedalaman yang lebih gelap.

     Di titik ini, kalimat Tan Malaka tidak sepenuhnya gugur, tetapi berubah maknanya. Ia bukan lagi deskripsi tentang bagaimana manusia bertahan hidup, melainkan tentang bagaimana manusia menjaga martabatnya. Tanpa berpikir, manusia tetap hidup—tetapi mudah digerakkan, mudah dibentuk, mudah dijadikan bagian dari arus yang tidak ia pahami. Tanpa emosi, manusia mungkin tetap berpikir—tetapi kehilangan alasan untuk bergerak.

     Maka manusia berdiri di antara dua arus yang tidak pernah benar-benar berdamai. Di bawah, mengalir sungai purba yang membawa naluri dan perasaan. Di atas, berdiri bangunan rapuh bernama rasio yang mencoba memberi arah. Sebagian besar waktu, sungai itu menang—ia membawa manusia ke mana saja tanpa banyak tanya. Namun di saat-saat tertentu, dari bangunan itu, seseorang menyalakan cahaya kecil, dan untuk sesaat arah arus berubah.

     Barangkali hidup tidak pernah sekadar tentang berpikir atau merasa. Ia terjadi ketika keduanya saling menyalakan: emosi memberi api, pikiran memberi arah. Tanpa arah, api hanya membakar. Tanpa api, arah hanya menjadi garis dingin di atas peta. Dan manusia, dengan segala keganjilannya, terus berjalan di antara keduanya—kadang sadar, sering kali tidak, tetapi selalu bergerak.

     Halal bi halal itu selalu terasa seperti sesuatu yang sederhana—terlalu sederhana, bahkan—sehingga kita jarang benar-benar berhenti untuk menatapnya lebih lama. Ia lewat setiap tahun, seperti angin yang hafal jalan pulang, membawa kalimat yang sama, gestur yang sama, dan mungkin juga rasa yang tidak selalu sama.

     Ia terdengar seperti istilah Arab, seolah punya akar yang dalam di tanah Timur Tengah. Tapi justru di situlah ia diam-diam menyimpan keunikannya: ia lahir di sini, tumbuh di antara gang-gang sempit, ruang tamu, aula kantor, hingga lapangan-lapangan tempat orang berkumpul tanpa banyak alasan selain ingin merasa kembali terhubung. “Halal” menjadi kata kunci—yang dilepaskan, yang dibolehkan, yang tidak lagi dibebani. Ketika diulang menjadi halal bi halal, ia seperti gema yang memantul: bukan hanya aku membebaskanmu, tapi kita saling membebaskan diri dari sesuatu yang mungkin sudah lama terlalu berat untuk terus dibawa.

     Namun yang benar-benar ada dari halal bi halal bukanlah kata-katanya. Ia tidak hidup dalam kamus, melainkan di antara manusia. Ia hadir dalam jeda kecil sebelum jabat tangan, dalam tatapan yang menghindar lalu kembali, dalam senyum yang sedikit dipaksakan tapi tetap diusahakan. Ia tidak memiliki tubuh, tapi kita bisa merasakannya—seperti udara lembap setelah hujan, tidak terlihat tapi menempel di kulit.

     Ia adalah ritus, tapi bukan ritus yang sepenuhnya sakral. Ia juga bukan sekadar kebiasaan duniawi. Ia berdiri di tengah-tengah, seperti jembatan bambu yang dibangun seadanya namun terus dilalui karena semua orang diam-diam tahu: kita perlu menyeberang.

     Dalam sejarahnya, ia tidak turun sebagai perintah yang kaku. Ia lebih mirip kesepakatan yang perlahan menemukan bentuknya sendiri. Sering disebut bahwa gagasan ini pernah disentuh oleh Wahid Hasyim, lalu dipopulerkan dalam konteks politik oleh Soekarno—sebagai cara meredakan ketegangan tanpa harus memperpanjang konflik. Sebuah jalan memutar yang khas: tidak langsung menyelesaikan masalah di pusatnya, tapi melembutkan tepi-tepinya sampai ia tidak lagi terasa tajam.

     Di titik itu, halal bi halal menjadi lebih dari sekadar tradisi. Ia berubah menjadi semacam teknologi sosial—cara halus untuk mengelola luka tanpa perlu membukanya terlalu lebar. Cara untuk mengatakan, “kita lanjut saja,” tanpa harus mengurai seluruh benang kusut yang ada.

     Seiring waktu, ia tumbuh. Dari ruang keluarga yang hangat dan penuh nama, ia merambah ke ruang-ruang institusional yang lebih dingin dan anonim. Di kantor, di sekolah, di organisasi, ia menjadi agenda. Disiapkan, dijadwalkan, kadang dipaksakan untuk terasa khidmat. Ada sambutan, ada konsumsi, ada barisan orang yang saling berjabat tangan seperti antrean panjang yang tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang ditunggu.

     Maknanya pun ikut bergeser. Ia tidak lagi selalu tentang hubungan personal, tapi tentang menjaga permukaan agar tetap tenang. Tentang memastikan tidak ada gelombang yang terlalu besar untuk mengganggu jalannya sistem.

     Di organisasi pencinta alam, misalnya, halal bi halal punya warna yang sedikit berbeda. Ia sering tidak berlangsung di ruang ber-AC atau aula dengan kursi tersusun rapi, tapi di tanah yang kadang masih basah oleh sisa hujan semalam. Di antara carrier yang belum dibersihkan, tali-temali yang digulung seadanya, dan sepatu yang masih menyimpan lumpur dari perjalanan terakhir.

     Di sana, orang-orang yang mungkin pernah berselisih di jalur pendakian—tentang keputusan rute, tentang ego yang muncul di ketinggian, tentang siapa yang merasa paling benar ketika badai datang—bertemu kembali dalam suasana yang lebih datar. Tidak selalu ada kata maaf yang diucapkan dengan jelas. Kadang hanya ada tawaran kopi panas dari kompor kecil, atau tepukan di bahu yang sedikit lebih lama dari biasanya.

     Dan anehnya, itu cukup.

     Seperti gunung yang tidak pernah benar-benar menyimpan dendam, mereka belajar bahwa konflik sering kali hanya bagian dari perjalanan, bukan sesuatu yang harus dibawa pulang terlalu lama. Halal bi halal di sana terasa lebih sunyi, tapi justru lebih jujur. Tidak banyak kata, tapi banyak yang dilepaskan.

     Lalu kita sampai pada fase yang lebih modern, di mana halal bi halal menjadi semakin ringan—atau mungkin terlalu ringan. Ia hadir dalam pesan berantai, dalam unggahan media sosial, dalam kalimat “mohon maaf lahir dan batin” yang dikirim ke ratusan kontak sekaligus. Tidak ada lagi tatapan, tidak ada jeda, tidak ada canggung. Semua menjadi cepat, efisien, dan sedikit kosong.

     Seperti kata yang terlalu sering diucapkan hingga kehilangan beratnya sendiri.

     Namun ia tidak hilang.

     Di balik semua formalitas dan repetisi itu, halal bi halal tetap menyisakan ruang kecil untuk sesuatu yang nyata. Dalam satu keramaian, bisa saja ada dua orang yang benar-benar sedang menyelesaikan sesuatu yang selama ini mengendap. Dalam satu barisan panjang, bisa saja ada satu jabat tangan yang terasa berbeda—lebih hangat, lebih lama, lebih jujur.

     Mungkin di situlah ia bertahan.

     Karena pada akhirnya, halal bi halal memperlihatkan sesuatu yang agak ganjil tentang manusia: kita membutuhkan momen kolektif untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya bisa kita lakukan kapan saja. Meminta maaf. Mengakui kesalahan. Melepaskan beban.

     Tapi kita jarang melakukannya sendirian.

Kita butuh kalender. Kita butuh tradisi. Kita butuh keramaian sebagai tameng kecil dari rasa malu.

     Dan di antara semua itu, ketika kebisingan mulai mereda, tersisa satu momen yang sederhana—dua manusia yang berhenti sejenak dari keinginan untuk menjadi benar, lalu memilih sesuatu yang lebih ringan.

     Menjadi lega.

     Ada dorongan halus dalam diri manusia untuk segera mengerti. Sesuatu terjadi, lalu kita tergesa mencari arti. Sebuah peristiwa belum sepenuhnya selesai, namun sudah ingin disimpulkan. Kita seperti tidak tahan membiarkan pengalaman berdiri tanpa label, tanpa penjelasan, tanpa posisi yang jelas dalam peta hidup kita. Padahal, tidak semua hal datang untuk langsung dimengerti. Sebagian hanya datang untuk dialami, lalu dibiarkan mengendap.

     Menunda makna bukan berarti menolak pemahaman. Ia lebih seperti memberi waktu bagi sesuatu untuk menemukan bentuknya sendiri. Ada peristiwa yang jika terlalu cepat dijelaskan justru menjadi sempit. Kata-kata yang kita pilih untuk menenangkannya sering kali terlalu kecil dibandingkan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Kita menyederhanakan, bukan karena itu cukup, tetapi karena kita ingin segera selesai dengan ketidakpastian.

     Namun pengalaman memiliki ritmenya sendiri. Ia tidak selalu mengikuti keinginan kita untuk segera rapi. Ada hal-hal yang baru terasa masuk akal setelah jarak tertentu, setelah emosi mereda, setelah sudut pandang berubah. Yang dulu tampak sebagai kesalahan bisa terlihat sebagai arah yang tidak kita kenali. Yang dulu terasa sebagai kehilangan bisa berubah menjadi ruang. Tapi semua itu tidak terjadi ketika kita memaksanya hadir lebih cepat dari waktunya.

     Ada semacam ketenangan yang lahir ketika seseorang mulai terbiasa tidak segera menamai apa yang ia alami. Ia tidak buru-buru menyebut sesuatu sebagai baik atau buruk, berhasil atau gagal, benar atau keliru. Ia memberi ruang bagi pengalaman untuk tetap terbuka, untuk bergerak, untuk berubah tanpa harus segera dipakukan pada satu arti. Ini bukan sikap acuh, melainkan bentuk perhatian yang lebih sabar.

     Menariknya, kemampuan ini jarang diajarkan. Dunia lebih menghargai kecepatan memahami daripada ketahanan untuk tidak memahami. Jawaban yang cepat sering terlihat lebih meyakinkan daripada pertanyaan yang bertahan. Padahal, ada kualitas tertentu dalam pertanyaan yang tidak buru-buru diselesaikan. Ia menjaga sesuatu tetap hidup, tetap bergerak, tidak membeku dalam definisi yang terlalu dini.

     Dalam kehidupan sehari-hari, menunda makna bisa terasa seperti berjalan tanpa pegangan. Kita terbiasa menjadikan arti sebagai penopang, sesuatu yang memberi rasa stabil. Ketika arti itu ditunda, muncul rasa kosong yang tidak nyaman. Seolah kita kehilangan pijakan. Namun jika seseorang cukup lama berada di sana, ia mulai menemukan bentuk lain dari kestabilan—bukan dari kepastian, tetapi dari kemampuan untuk tetap berdiri di dalam ketidakpastian.

     Ada juga keindahan kecil dalam hal ini. Pengalaman yang tidak segera diberi makna sering kali memiliki kedalaman yang berbeda. Ia tidak habis dalam satu kalimat, tidak selesai dalam satu kesimpulan. Ia tetap tinggal, berubah-ubah, memberi lapisan baru setiap kali disentuh kembali. Seperti lagu yang tidak langsung dipahami, tetapi justru semakin terasa setelah didengar berulang kali.

     Pada akhirnya, mungkin tidak semua hal perlu dimengerti sekarang. Tidak semua cerita harus ditutup dengan penjelasan. Ada nilai dalam membiarkan sesuatu tetap terbuka, dalam memberi waktu bagi hidup untuk menjelaskan dirinya sendiri dengan caranya yang tidak selalu langsung.

     Dan di dalam jeda itu, di antara keinginan untuk tahu dan keberanian untuk menunggu, ada keterampilan yang pelan-pelan tumbuh—keterampilan untuk hidup tanpa harus selalu segera mengerti ke mana semua ini mengarah.

     Ada semacam kesunyian yang jarang diakui setiap kali seseorang menandatangani sesuatu yang disebut “pakta integritas.” Bukan pada tintanya, bukan pada kertasnya, tapi pada jeda kecil di dalam diri—sebuah ruang di mana keputusan sebenarnya sudah terjadi bahkan sebelum pikiran sempat merumuskannya. Di situlah barangkali kita perlu mulai jujur: manusia tidak bergerak dari kesadaran yang jernih, setidaknya tidak pada awalnya. Ia bergerak dari rasa—takut, ingin aman, ingin diterima—lalu rasio datang belakangan, merapikan, memberi narasi, seolah semua itu hasil pertimbangan matang.

     Dari sana, pertanyaan tentang siapa yang benar-benar melanjutkan refleksi menjadi terasa seperti pertanyaan yang terlalu berharap. Yang sampai ke titik tidak nyaman itu, yang benar-benar berhenti sejenak dan bertanya ulang pada dirinya sendiri, jumlahnya tidak pernah ramai. Mereka ada, tapi seperti suara pelan di tengah pasar yang bising—tidak hilang, hanya tidak menjadi arus utama.

     Sebagian besar memilih berhenti di wilayah yang lebih ramah: cukup aman, cukup diterima, cukup tidak bermasalah. Itu bukan tanda kelemahan, melainkan semacam kesepakatan diam-diam dengan kenyataan bahwa hidup, jika dijalani dengan kejujuran penuh, bisa menjadi mahal. Kejujuran tidak selalu memberi imbalan cepat; ia justru sering mengganggu, menggeser posisi yang sudah nyaman, membuat seseorang tampak seperti batu kecil di sepatu sistem yang sedang berjalan rapi.

     Dan sistem, dengan kecerdasannya yang dingin, tahu betul cara merawat keteraturan itu. Ia tidak selalu menghukum yang berbeda, cukup memberi hadiah pada yang stabil. Yang tidak banyak bertanya, yang tidak terlalu mengguncang, yang tahu kapan harus diam—mereka perlahan menjadi contoh tanpa pernah diumumkan sebagai teladan. Dari situ, terbentuklah manusia-manusia yang mahir menjaga keseimbangan, bukan yang tergoda untuk menguji batas.

     Di tengah arus seperti itu, kejujuran menjadi sesuatu yang agak janggal. Ia tidak tampak seperti kebajikan besar, tapi lebih seperti kebiasaan yang merepotkan—semacam kegemaran aneh yang tidak menghasilkan apa-apa selain kegelisahan tambahan. Sementara itu, kenyamanan hadir tanpa perlu dipanggil. Ia tidak memaksa, tidak mengancam, hanya membisik pelan bahwa hidup sudah cukup rumit tanpa perlu ditambah pertanyaan yang tidak perlu.

     Namun justru di lapisan yang tidak mencolok itu, ada sesuatu yang tetap bertahan. Mereka yang tidak sepenuhnya bisa berdamai dengan kepura-puraan tidak selalu berubah menjadi sosok besar atau suara lantang. Kadang mereka hanya menjadi orang yang menjalani semuanya dengan sedikit jarak. Mereka tetap hadir, tetap menandatangani, tetap memainkan peran yang diminta—tapi ada satu ruang kecil dalam dirinya yang tidak pernah benar-benar diserahkan.

     Ruang itu tidak mengubah sistem. Ia tidak membuat institusi goyah, tidak menciptakan gelombang yang bisa dilihat dari jauh. Bahkan mungkin tidak pernah dikenali oleh siapa pun. Tapi di sanalah sesuatu tetap hidup—sejenis kebebasan yang gagal dijinakkan sepenuhnya, sepotong kejujuran yang menolak untuk larut.

     Apakah itu cukup? Jika yang dicari adalah perubahan besar, tentu tidak. Dunia tidak berputar karena ruang-ruang kecil semacam itu. Ia terus berjalan, rapi dan efisien, seolah tidak membutuhkan keberadaan mereka.

     Namun anehnya, dunia juga tidak pernah benar-benar tanpa mereka. Ada semacam keseimbangan yang tidak terlihat, di mana kehidupan tetap menemukan napasnya justru dari mereka yang tidak sepenuhnya tunduk, meski juga tidak sepenuhnya melawan.

     Pada akhirnya, memang seperti itu: kebanyakan orang memilih nyaman, dan sebagian kecil memilih jujur—bukan karena lebih mulia, tapi karena mereka tidak cukup lentur untuk menjadi yang lain. Dan mungkin di situlah ironi paling tenang itu berdiam: kejujuran, yang sering dianggap sebagai pilihan sadar, kadang justru hanyalah bentuk lain dari ketidakmampuan untuk berbohong terlalu lama kepada diri sendiri.


     Kalau ingin melihat dampaknya pada karakter mahasiswa, kita perlu mengakui sejak awal bahwa yang bekerja di sini bukan sekadar aturan, melainkan suasana yang pelan-pelan meresap. Pakta integritas tidak membentuk manusia secara langsung seperti cetakan, tetapi menciptakan kondisi yang mendorong kecenderungan tertentu untuk tumbuh—tentang bagaimana seseorang merasa harus bersikap, apa yang aman untuk dilakukan, dan sejauh mana ia berani mengambil risiko. Dari situ, watak tidak dibentuk secara seragam, tetapi mengendap dalam variasi yang diam-diam konsisten.

     Ada tipe pertama: mereka yang belajar menjadi “rapi.” Bukan rapi dalam arti matang secara moral, tetapi rapi dalam membaca situasi. Mereka tahu kapan harus patuh, kapan harus diam, kapan harus berbicara dengan bahasa yang aman. Ini bukan kebodohan—ini kecerdasan adaptif. Mereka tidak menabrak sistem, mereka menari di dalamnya. Dalam jangka panjang, tipe ini sering terlihat “berhasil”: tidak banyak masalah, tidak banyak konflik. Tapi ada harga yang dibayar—keberanian perlahan menjadi sesuatu yang dinegosiasikan, bukan lagi refleks.

     Lalu ada tipe kedua: yang hidup dalam dua wajah. Di depan tanda tangan, di belakang realitas. Mereka tidak benar-benar percaya pada pakta itu, tapi juga tidak cukup kuat untuk menolaknya. Maka lahirlah keterampilan yang agak getir: mengatakan “iya” tanpa pernah benar-benar bermaksud “iya.” Ini bukan sekadar kemunafikan dalam arti moral sempit—ini bentuk survival. Tapi jika terlalu lama dipelihara, ia berubah jadi kebiasaan eksistensial: seseorang bisa kehilangan rasa utuh antara apa yang dipikirkan, dikatakan, dan dilakukan.

     Ada juga tipe ketiga: yang diam-diam mengeras. Mereka menandatangani, tapi bukan untuk tunduk—melainkan untuk mengamati. Mereka membaca sistem seperti membaca peta, mencari celah, memahami batas. Pada tipe ini, pakta integritas justru memicu oposisi yang lebih canggih. Mereka tidak frontal, tapi juga tidak jinak. Ini biasanya melahirkan karakter yang kritis, bahkan subversif, tapi dengan kesadaran strategis. Kalau diibaratkan, mereka bukan ombak besar, tapi arus bawah yang pelan dan konsisten mengubah bentuk dasar.

     Dan tentu, ada tipe keempat: yang benar-benar percaya. Mereka melihat pakta itu sebagai sesuatu yang memang perlu—bukan karena takut, tapi karena merasa ada nilai yang dijaga. Ini penting untuk diakui, karena tidak semua kepatuhan lahir dari tekanan. Ada yang memang tulus. Masalahnya muncul ketika ketulusan ini tidak pernah diuji dalam dialog, hanya diperkuat oleh struktur sepihak. Ketulusan yang tidak pernah diuji bisa berubah jadi kepatuhan yang naif.

     Kalau ditarik ke pendidikan karakter, pertanyaannya jadi lebih dalam: apakah kita sedang membentuk manusia yang bermoral, atau manusia yang terlatih membaca risiko?

Karakter yang sehat biasanya tumbuh dari ruang yang memungkinkan seseorang memahami alasan di balik aturan, bahkan menantangnya, lalu memilih secara sadar. Tapi jika yang dominan adalah mekanisme penandatanganan tanpa dialektika, maka karakter yang terbentuk cenderung pragmatis: bukan “ini benar atau salah,” tetapi “ini aman atau tidak.”

     Dan di situlah mungkin letak efek paling halusnya.

     Mahasiswa tidak hanya belajar apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan—mereka belajar bagaimana sistem bekerja. Mereka belajar bahwa kebenaran bisa dinegosiasikan selama bentuknya tetap rapi. Mereka belajar bahwa yang penting bukan selalu isi, tapi bagaimana sesuatu terlihat di permukaan.

     Namun jangan terlalu cepat pesimis. Manusia itu bandel dengan caranya sendiri. Bahkan dalam sistem yang paling tertata, selalu ada retakan kecil tempat kejujuran tumbuh. Kadang dalam bentuk obrolan larut malam, kadang dalam tulisan yang tidak pernah dipublikasikan, kadang dalam keputusan kecil untuk tetap jujur meski tidak ada yang melihat.

     Pakta integritas bisa membentuk pola, tapi tidak pernah sepenuhnya menentukan jiwa.

     Yang lebih menentukan, mungkin, adalah apa yang dilakukan mahasiswa setelah ia menandatangani—apakah ia berhenti berpikir, atau justru mulai berpikir lebih dalam, dengan sedikit rasa curiga yang sehat.


     Pakta integritas di negeri ini sering muncul seperti payung yang dibuka bukan karena hujan telah turun, melainkan karena ada kecemasan bahwa langit suatu saat akan runtuh—atau mungkin sekadar keinginan untuk tampak siap di hadapan cuaca yang tak pernah benar-benar dipahami. Ia hadir bukan sebagai respons terhadap sesuatu yang nyata, melainkan sebagai antisipasi yang setengah sadar, setengah cemas.

     Di kampus-kampus, ia datang dengan bahasa yang rapi, nyaris indah dalam cara menyembunyikan maksudnya sendiri. Kalimat-kalimatnya berbicara tentang menjaga nama baik, menjunjung moral, menghindari aktivitas tertentu—yang justru jarang dijelaskan dengan terang. Ia ditandatangani di atas meja yang bersih, oleh tangan-tangan muda yang masih percaya bahwa tanda tangan adalah pernyataan kehendak, bukan sekadar gerakan administratif yang diulang dari generasi ke generasi.

     Secara formal, semua ini masuk akal. Institusi memang membutuhkan pagar. Ia harus menjaga dirinya dari kemungkinan kacau, dari potensi yang tak terkendali. Kampus bukan hanya ruang berpikir, tetapi juga tubuh yang memiliki citra, kepentingan, dan ketakutan yang tidak selalu diucapkan. Ada bayangan yang diam-diam menghantui: bahwa kebebasan, jika dibiarkan terlalu lepas, bisa berubah menjadi kritik, lalu menjadi gerakan, lalu menjelma sesuatu yang sulit dikendalikan.

     Dari sanalah pakta itu lahir—bukan sebagai jawaban, tetapi sebagai penahan.

     Namun, semakin lama diperhatikan, semakin terasa bahwa yang bekerja di dalamnya bukan sekadar niat menjaga, melainkan hasrat untuk mengatur dengan cara yang halus. Pakta integritas tidak hanya membatasi tindakan, tetapi juga mencoba mengunci kemungkinan. Ia seperti menarik masa depan yang belum terjadi ke masa kini, lalu menjadikannya alasan untuk menutup pintu yang bahkan belum pernah dibuka.

     Di titik itu, ironi mulai berdenyut pelan.

     Organisasi mahasiswa—yang seharusnya menjadi ruang dialektika, tempat gagasan diuji dan keberanian dilatih—justru diminta berjanji untuk tidak menyentuh hal-hal yang kerap menjadi napasnya sendiri. Tidak selalu dalam bentuk larangan yang terang, tetapi cukup untuk meninggalkan jejak rasa: jangan terlalu jauh, jangan terlalu keras, jangan sampai terlihat bahwa ada sesuatu yang bisa mengganggu ketenangan permukaan. Seperti diajak berenang, tetapi dengan pesan tersirat bahwa air ini sebaiknya tidak diaduk.

     Lebih dalam lagi, pakta itu bekerja bukan hanya di luar, tetapi masuk ke dalam. Ia menanamkan semacam pengawasan yang tidak terlihat. Sebelum bertindak, seseorang akan mengingat tanda tangannya sendiri—bukan sebagai komitmen yang dipilih secara sadar, tetapi sebagai batas yang sudah lebih dulu ditanamkan. Rasa bersalah bisa muncul bahkan sebelum kesalahan terjadi. Dan di situlah mekanismenya menjadi halus sekaligus efektif: tidak perlu diawasi terus-menerus, karena pengawasan telah berpindah ke dalam diri.

     Maka pakta integritas perlahan berubah bentuk. Ia bukan lagi sekadar dokumen, melainkan semacam teknologi sosial—cara merapikan perilaku tanpa harus menunjukkan kekuatan secara terbuka. Kepatuhan terasa seperti pilihan pribadi, padahal ia tumbuh dari struktur yang tidak sepenuhnya setara.

     Tentu, tidak semua di dalamnya keliru. Dalam batas tertentu, ia bisa mencegah konflik, menjaga agar sesuatu tidak jatuh ke dalam kekacauan yang sia-sia. Masalahnya bukan pada keberadaannya, melainkan pada cara ia digunakan—dan pada hal-hal yang tidak pernah benar-benar dibicarakan dengan jujur di baliknya.

     Sebab ketika ruang yang seharusnya memberi kebebasan justru dipenuhi oleh dokumen-dokumen yang mengatur, pertanyaan itu akan selalu kembali, meski sering diucapkan pelan: apakah ini benar-benar tentang menjaga nilai, atau sekadar cara lain untuk mengelola ketakutan?

     Jawabannya mungkin memang tidak pernah sederhana. Ia bergerak di wilayah abu-abu yang kita kenal terlalu baik. Namun seperti banyak hal lain, abu-abu pun memiliki kedalaman. Dan kadang, justru pada bagian yang tampak paling rapi, kita menemukan bayangan yang paling pekat.


      Ada masa ketika kemarahan terasa jernih. Ketika seorang mahasiswa berdiri di tengah kabut politik dan berkata ingin merdeka, ia tahu betul siapa yang sedang ia lawan. Negara yang menua dalam otoritarianisme. Kekuasaan yang membatu. Aparat yang berseragam, jelas bentuknya. Musuh bisa ditunjuk.

     Soe Hok Gie berdiri di zaman itu. Ia menolak menjadi bagian dari massa yang mabuk slogan. Ia menolak diam ketika banyak orang memilih aman. Baginya, merdeka bukan sekadar lepas dari kolonialisme, bukan pula sekadar mengganti rezim. Merdeka adalah keberanian untuk tetap berpikir ketika arus ingin menyeret kita menjadi gema.

     Pertanyaannya sekarang memang terasa getir: apakah teriakan itu masih punya gema di zaman ketika orang tak lagi sibuk membela benar atau salah, melainkan sibuk membela atensi?

     Dulu, ketidakadilan berwajah keras. Hari ini, ia sering berwajah algoritma. Dulu orang takut pada tentara. Sekarang orang takut pada sepi. Pada tidak dilihat. Pada tidak viral. Pada tenggelam di lautan konten yang terus menggulung. Kita hidup di ekosistem di mana perhatian adalah mata uang, dan martabat sering ditukar dengan klik.

     Platform seperti Meta Platforms (induk dari Facebook dan Instagram) tidak pernah secara eksplisit meminta siapa pun menjadi badut digital. Tetapi sistem insentifnya begitu halus dan efektif. Ia memberi gula pada yang paling cepat menarik perhatian, bukan pada yang paling dalam berpikir. Akhirnya lahirlah generasi yang tidak lagi bertanya “apa yang benar?”, melainkan “apa yang laku?”

     Di sini letak pergeseran psikologisnya.

     Psikologi lama—yang melahirkan eksistensialisme—berangkat dari kesadaran akan absurditas, keterasingan, dan tanggung jawab personal. Jean-Paul Sartre berbicara tentang kebebasan sebagai beban. Albert Camus menulis tentang pemberontakan sebagai cara menjaga martabat di dunia yang tak masuk akal. Mereka hidup di tengah perang, ideologi besar, totalitarianisme. Ancaman mereka konkret. Maka eksistensialisme mereka keras, maskulin, kadang getir.

     Tetapi apakah dunia kita hari ini kurang absurd?

     Kita tidak lagi hidup dalam rezim tunggal yang membungkam. Kita hidup dalam kebisingan kolektif yang membuat suara jernih sulit terdengar. Dulu orang bisa dipenjara karena berbicara. Sekarang orang berbicara terus-menerus sampai makna itu sendiri dipenjara oleh kebisingan.

     Post-truth bukan sekadar kebohongan. Ia adalah keadaan di mana kebenaran kehilangan daya tarik emosional dibanding narasi yang lebih memancing amarah atau simpati instan. Dalam kondisi seperti ini, merdeka secara ontologis—merdeka sebagai kesadaran akan diri dan tanggung jawab—menjadi lebih sulit, bukan lebih mudah.

     Karena kini yang menjajah bukan hanya negara, tetapi sistem simbolik. Bukan hanya kekuasaan formal, tetapi logika viralitas.

     Apakah psikologi lama masih relevan?

     Saya kira justru semakin relevan, tetapi harus dibaca ulang. Eksistensialisme tidak lagi cukup berhenti pada “aku memilih”. Hari ini pertanyaannya lebih rumit: apakah aku sungguh memilih, atau aku dipilih oleh algoritma? Apakah kemarahanku murni refleksi etis, atau sekadar hasil kurasi timeline? Apakah apatisme itu sikap filosofis, atau kelelahan dopamin?

     Mengikuti arus hari ini sering tidak terasa seperti menyerah. Ia terasa seperti bertahan hidup. Menjadi konten kreator murahan bukan selalu karena orang tidak punya martabat; sering kali karena ekonomi menekan dan sistem memberi insentif yang sempit. Di sini kita perlu jujur: tidak semua yang hanyut adalah pengkhianat nilai. Banyak yang sekadar lelah.

     Namun tetap saja ada perbedaan antara bertahan hidup dan menjual kesadaran.

     Soe Hok Gie mungkin akan bingung melihat zaman ini. Ia mungkin tidak akan menulis pamflet tentang algoritma. Tetapi saya kira satu hal akan tetap ia pertahankan: kebencian pada kemunafikan kolektif. Ia tidak tahan pada masyarakat yang tahu ada yang salah tetapi memilih diam karena nyaman. Dan di situ, ia masih sangat relevan.

     Karena hari ini, korupsi bukan hanya soal uang negara yang bocor. Ia juga soal kesadaran yang bocor. Politik yang dangkal. Kebijakan yang dipoles citra. Rakyat yang marah seminggu lalu, lalu lupa karena ada tren baru. Atensi bergerak lebih cepat dari akal sehat.

     Merdeka dalam arti ontologis berarti mampu berdiri di tengah arus tanpa otomatis ikut hanyut. Bukan berarti selalu melawan dengan spanduk, tetapi mampu menjaga jarak dari histeria kolektif. Mampu mengatakan, “aku tidak akan menjadikan kebodohan sebagai komoditas.” Itu bentuk pemberontakan yang sunyi, tetapi mungkin lebih radikal dari demo viral.

     Kita memang hidup di zaman cair. Identitas cair. Kebenaran cair. Opini berubah secepat scroll jempol. Tetapi justru dalam dunia cair, orang yang memiliki kedalaman menjadi jangkar. Tidak banyak, mungkin. Tidak populer, sering kali. Tetapi peradaban selalu diselamatkan oleh minoritas yang tidak menyerahkan pikirannya.

     Apatisme dan mengikuti arus bukan fenomena baru. Ia hanya berganti medium. Dahulu orang mengikuti arus ideologi. Hari ini orang mengikuti arus algoritma. Struktur batinnya sama: takut sendirian, takut berbeda, takut kehilangan tempat.

     Maka pertanyaan bukan lagi apakah psikologi lama relevan. Pertanyaannya: apakah kita berani memperbaruinya? Apakah kita berani mendidik kesadaran digital sebagai bagian dari etika? Apakah kita berani mengajarkan anak-anak bahwa merdeka bukan berarti bebas mengunggah apa saja, tetapi bebas dari kebutuhan untuk selalu dilihat?

     Merdeka bukan status politik. Ia adalah kondisi batin yang langka.

     Di zaman ketika atensi lebih mahal dari integritas, orang yang memilih jujur akan terlihat aneh. Di zaman ketika kebisingan lebih menguntungkan dari kedalaman, orang yang berpikir akan terlihat lambat. Tetapi mungkin justru di situlah bentuk kemerdekaan baru: keberanian untuk tidak tergesa-gesa menjadi konten.

     Soe Hok Gie pernah berdiri di tengah zamannya dan menolak larut. Zaman kita berbeda, tetapi tantangannya serupa: apakah kita akan menjadi arus, atau menjadi manusia yang sadar sedang berdiri di dalam arus?

     Itu bukan soal romantisme masa lalu. Itu soal keberanian hari ini.

     Tidak semua penjara dibangun dengan batu. Sebagian justru dibangun dengan jadwal.

     Franz Kafka seperti sedang menertawakan sesuatu yang sangat kita anggap normal: rutinitas. Ia tidak berisik, tidak heroik, tidak menuntut keberanian untuk dilawan. Ia hanya mengulang dirinya sendiri, sampai suatu hari kita berhenti bertanya. Dan di saat itulah, pintu-pintu yang tidak pernah kita lihat mulai mengunci dari dalam.

     Beberapa abad sebelum algoritma menjadi dewa kecil yang kita sembah diam-diam, Jeremy Bentham sudah membayangkan sebuah bangunan bernama Panopticon—penjara melingkar dengan satu menara di tengah. Dari menara itu, seorang penjaga bisa melihat semua tahanan. Tapi para tahanan tidak pernah tahu apakah mereka sedang diawasi atau tidak. Ketidakpastian itu cukup. Mereka akan mendisiplinkan diri mereka sendiri.

     Yang mengerikan dari gagasan ini bukan arsitekturnya, tapi kesimpulannya: manusia tidak perlu diawasi terus-menerus untuk patuh. Cukup dibuat merasa mungkin diawasi.

     Lalu datang Michel Foucault, yang membaca Panopticon bukan sebagai bangunan, tapi sebagai metafora dunia modern. Baginya, kekuasaan tidak lagi bekerja dengan cambuk, tapi dengan norma. Ia menyusup ke dalam kebiasaan, ke dalam jam kerja, ke dalam cara kita duduk, berbicara, bahkan berpikir. Kita tidak dipaksa—kita dilatih.

     Dan hari ini, menara pengawas itu tidak lagi berdiri di tengah bangunan. Ia berada di saku kita. Ia bernama aplikasi.

     Seorang driver ojek online bangun pagi dengan satu harapan sederhana: cukup order untuk hari ini. Ia membuka aplikasi, dan di sana ada angka-angka yang tidak sepenuhnya ia pahami—rating, performa, insentif, bonus harian. Semuanya tampak seperti peluang, tapi bekerja seperti tali.

     Algoritma tidak pernah berteriak. Ia hanya memberi dan menahan. Sedikit order ketika performa turun. Bonus kecil yang menggoda ketika target hampir tercapai. Hukuman yang tidak disebut sebagai hukuman—hanya “penurunan prioritas”.

     Tidak ada yang memaksa driver itu bekerja 12 jam. Tidak ada yang mengunci pintu rumahnya. Tapi ia tahu, jika ia berhenti, sistem akan “mengingat”. Rating bisa turun. Akun bisa tenggelam. Dan perlahan, ia belajar untuk patuh—bukan karena takut, tapi karena tidak melihat alternatif lain.

     Di titik ini, Panopticon Bentham terasa kuno. Ia masih membutuhkan menara. Algoritma tidak. Ia bekerja seperti kabut—tidak terlihat, tapi mengatur arah langkah.

     Yang menarik, di sela-sela semua itu, ada rasa nyaman kecil yang tumbuh. Kebebasan semu: bisa memilih kapan online, bisa menolak order. Tapi seperti permainan yang sudah ditentukan sejak awal, setiap pilihan membawa konsekuensi yang diam-diam mengarahkan ke satu hal: tetap bermain.

     Dan ketika seseorang berkata, “Saya bebas, saya bisa kerja kapan saja,” sering kali yang ia maksud adalah: “Saya bebas memilih kapan saya harus tetap terikat.”

     Penjara tidak lagi terasa seperti penjara. Ia terasa seperti fleksibilitas.

     Hal yang sama terjadi di ruang yang lebih sunyi, lebih terhormat.

     Seorang pekerja kantoran duduk di depan layar, delapan jam sehari, lima hari seminggu. Tidak ada jeruji, hanya kalender penuh rapat. Ia tidak dipaksa untuk menjawab email di malam hari, tapi notifikasi itu seperti bisikan yang tidak sopan. Ia membuka laptop, hanya sebentar, katanya. Lalu satu jam berlalu.

     Tidak ada hukuman jika ia tidak membalas segera. Tapi ada sesuatu yang lebih halus: rasa bersalah. Rasa takut tertinggal. Rasa bahwa ia harus selalu “hadir”, bahkan ketika tubuhnya sudah pulang.

     Ia bukan tahanan. Ia profesional.

     Di ruang lain, seorang kreator konten menatap layar statistik. Angka views naik turun seperti detak jantung yang tidak stabil. Ia mulai belajar pola: kapan harus posting, bagaimana judul yang “menggigit”, jenis emosi apa yang paling laku.

     Pelan-pelan, ia tidak lagi menulis apa yang ingin ia katakan. Ia menulis apa yang akan ditonton. Algoritma menjadi editor tak terlihat. Ia tidak melarang, tapi menyaring. Tidak menghukum, tapi mengabaikan.

     Dan diabaikan, di dunia ini, adalah bentuk hukuman paling sunyi.

     Yang membuat semua ini terasa normal adalah karena tidak ada satu momen dramatis di mana kita sadar telah dikurung. Tidak ada pintu yang dibanting keras. Hanya serangkaian kompromi kecil yang masuk akal.

     Sedikit lembur. Sedikit mengikuti tren. Sedikit menyesuaikan diri.

     Sampai akhirnya, “sedikit” itu menjadi struktur.

     Foucault mungkin akan tersenyum getir melihat ini. Disiplin telah menjadi otomatis. Kekuasaan tidak lagi datang dari atas, tapi dari dalam diri yang sudah dilatih untuk menyesuaikan diri.

     Kafka, di sudut lain, mungkin hanya akan menulis satu kalimat pendek, lalu berhenti.

     Bahwa manusia tidak selalu butuh penjaga untuk tetap berada di dalam selnya. Kadang, ia hanya butuh rutinitas yang cukup rapi, cukup masuk akal, dan cukup nyaman—untuk membuatnya lupa bahwa pintu itu sebenarnya tidak pernah terkunci.

     Dan mungkin, yang paling menakutkan bukanlah bahwa kita terpenjara.

     Tapi bahwa kita bisa hidup cukup lama di dalamnya, tanpa pernah benar-benar merasa ingin keluar.

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.