Articles by "Satire"

Tampilkan postingan dengan label Satire. Tampilkan semua postingan

     Dalam acara penutupan munas alim ulama di Bangkalan, Presiden Prabowo mengorasikan keheranannya:

     Ekonomi tumbuh, katanya. Angka-angka bergerak naik. Grafik menanjak dengan penuh optimisme. Tetapi mengapa orang miskin justru bertambah?

     Sungguh sebuah misteri besar. Sedemikian besar sehingga rakyat yang setiap hari membeli beras dengan harga baru, membayar listrik dengan tarif baru, dan menghitung ulang isi dompetnya, tiba-tiba merasa menjadi saksi atas sebuah keajaiban: orang yang paling memiliki akses pada data ternyata ikut bingung.

     Padahal, rakyat yang tidak pernah membaca laporan ekonomi tahunan pun tahu bahwa pertumbuhan dan kesejahteraan bukanlah saudara kembar. Yang tumbuh bisa saja laba perusahaan, nilai investasi, atau gedung-gedung yang semakin tinggi menusuk langit. Tetapi tinggi gedung tidak pernah menjamin isi panci.

     Sebuah negara dapat memiliki jalan tol yang panjang, pelabuhan yang megah, dan angka pertumbuhan yang mengilap. Namun di dapur-dapur kecil, orang tetap berdiskusi tentang berapa butir telur yang bisa dibeli hari ini.

     Itu bukan rahasia negara. Itu juga bukan teori ekonomi yang hanya dipahami profesor.

     Bahkan tukang kopi di pinggir jalan pun tahu: bila kue ekonomi membesar tetapi potongannya tetap berada di meja yang sama, maka orang yang berdiri jauh dari meja hanya akan melihat kue itu dari kejauhan sambil menelan ludah.

     Karena itu, ketika presiden mengatakan dirinya heran, rakyat mungkin ikut terdiam sejenak.

     Heran?

     Bukankah seorang presiden hidup di tengah lautan data? Bukankah setiap hari ada laporan statistik, analisis ekonomi, simulasi, rapat kabinet, dan nasihat para ahli? Bukankah seluruh mesin negara bekerja untuk memetakan persoalan seperti ini?

     Sulit membayangkan bahwa seseorang yang melihat seluruh peta justru tidak memahami jalan yang sedang dilalui.

     Mungkin kata "heran" memang bukan tentang ketidaktahuan.

     Mungkin itu adalah bahasa yang lebih halus. Sebuah cara untuk berdiri di sisi rakyat dan berkata, "Saya juga terkejut."

     Atau mungkin lebih halus lagi: ketika persoalan dibingkai sebagai sesuatu yang mengherankan, maka penyebabnya tampak seperti kabut. Tidak jelas dari mana datangnya, tidak jelas siapa yang harus menjawabnya.

     Seolah kemiskinan adalah hujan yang turun dari langit tanpa sebab. Seolah daya beli melemah dengan sendirinya. Seolah ketimpangan tumbuh seperti rumput liar yang tidak pernah disentuh oleh kebijakan.

     Dan rakyat, yang sejak lama menjadi penonton paling setia, kembali menyaksikan sebuah pertunjukan lama: semua orang tampak prihatin, semua orang tampak terkejut, tetapi tak seorang pun tampak menjadi penulis naskahnya.

     Lucunya, rakyat tidak pernah punya kemewahan untuk heran terlalu lama.

     Mereka harus tetap bekerja. Tetap membayar cicilan. Tetap mengurangi lauk. Tetap menunda berobat. Tetap mengubur pelan-pelan cita-cita yang dahulu mereka tanam dengan harapan.

     Sementara itu, angka-angka terus diumumkan dengan wajah optimistis, seperti foto udara sebuah kota yang tampak indah dari ketinggian. Dari sana, rumah-rumah reyot tidak terlalu terlihat. Dapur yang sepi tidak masuk bingkai. Anak yang membatalkan kuliah karena biaya pun hanya menjadi titik kecil yang hilang di antara statistik.

     Mungkin memang ada sesuatu yang salah dengan cara kita melihat.

     Atau mungkin tidak.

     Mungkin semua orang sebenarnya sudah tahu apa yang terjadi. Hanya saja, ada yang menanggung akibatnya, dan ada yang cukup nyaman untuk mengaku heran.

     Dan di situlah pertanyaan yang sesungguhnya berdiri, sederhana tetapi sukar dihindari:

     "Kalau Anda saja heran, lalu siapa yang memegang kemudi?"

     Ada sesuatu yang menggelitik sekaligus menyedihkan dari kegiatan sensus ekonomi yang telah berlangsung sejak lama di negeri ini. Setiap beberapa tahun, negara datang mengetuk pintu rumah rakyat dengan kesungguhan yang hampir menyerupai kasih sayang. Mereka ingin tahu siapa kita, berapa penghasilan kita, berapa meter luas rumah kita, apakah dindingnya permanen atau papan, apakah lantainya keramik atau semen, berapa jumlah motor yang terparkir, bahkan kadang lebih mengetahui kondisi ekonomi kita daripada kita sendiri yang setiap malam masih sibuk menghitung sisa uang di dompet.

     Namun suatu hari, seorang warga memutuskan untuk membalik arah pertanyaan itu. Setelah menjawab dengan sabar semua yang ditanyakan petugas, ia menatap wajah muda di hadapannya dan bertanya dengan nada datar, "Apa untungnya untuk saya?"

     Petugas itu tentu sudah dibekali jawaban. Data ini untuk pembangunan, untuk pemerataan ekonomi, untuk kesejahteraan, untuk program yang lebih tepat sasaran. Kalimat-kalimat yang terdengar baik dan mulia, seolah diambil dari sebuah negeri yang sangat teratur dan hampir sempurna. Namun warga itu kembali bertanya, "Apa untungnya untuk saya?" Lagi dan lagi. Sampai tujuh kali. Sampai sembilan belas kali. Bukan karena ia tidak mengerti, tetapi justru karena ia terlalu mengerti.

     Ia mengerti bahwa selama puluhan tahun negara begitu rajin menghitung rakyatnya, tetapi hasil perhitungannya sering kali terasa seperti ramalan cuaca: terdengar meyakinkan, tetapi tidak selalu cocok dengan kenyataan di lapangan. Ia melihat orang yang rumahnya besar, kendaraannya lebih dari satu, usahanya berkembang, tetapi tetap menjadi penerima bantuan sosial. Sebaliknya, ia mengenal seorang janda tua yang hidup dari menjual gorengan, yang atap rumahnya bocor di tiga tempat dan harus menaruh ember saat hujan, tetapi namanya tak pernah ditemukan dalam daftar penerima bantuan. Negeri ini rupanya memiliki definisi kemiskinan yang unik. Anda boleh miskin dalam kehidupan nyata, tetapi bila tidak miskin dalam database, maka kemiskinan Anda hanyalah perasaan pribadi yang sayangnya tidak memiliki kekuatan administratif.

     Maka setiap kali ada kekeliruan, jawaban yang selalu muncul adalah: datanya akan diperbaiki. Betapa menenteramkan kalimat itu. Seolah-olah nasib rakyat hanyalah file excel yang suatu saat akan diperbarui versinya. Anehnya, data terus diperbaiki, tetapi orang yang sama tetap miskin, tetap kesulitan berobat, tetap menunggu bantuan yang kadang salah alamat. Barangkali yang diperbaiki memang data, bukan kenyataan.

     Warga itu lalu teringat rumah sakit. Ia membayar iuran BPJS dengan disiplin, bahkan ketika penghasilannya sedang tidak baik. Namun ketika sakit, ia harus berhadapan dengan antrean, rujukan yang berbelit, ruang tunggu yang penuh, dan biaya-biaya kecil yang jika dikumpulkan tidak lagi kecil. Ia pernah bercanda kepada tetangganya bahwa penyakit yang paling cepat berkembang di rumah sakit mungkin bukan diabetes atau hipertensi, melainkan bisnis parkir. Sebab orang boleh menunggu dokter berjam-jam, tetapi tarif parkir tumbuh dengan penuh semangat, seolah sedang mengejar cita-cita menjadi sektor ekonomi unggulan.

     Rumah sakit kini berdiri megah dengan lobi yang lebih menyerupai hotel. Ada kafe, toko, mesin ATM, bahkan sudut swafoto yang nyaman. Orang miskin yang datang ke sana kadang bingung apakah ia sedang mencari kesembuhan atau sedang mengunjungi pusat perbelanjaan yang menyediakan layanan kesehatan sebagai usaha sampingan. Tetapi keheranan seperti ini tentu tidak pernah masuk ke dalam formulir sensus. Yang dicatat hanyalah angka. Manusia terlalu rumit untuk ditanyakan.

     Begitu pula dengan beras bantuan yang semestinya sampai kepada warga miskin, tetapi kadang lebih mudah ditemukan di kios pasar. Beras itu tampaknya memiliki naluri dagang yang lebih baik daripada naluri sosial. Ia berangkat sebagai bantuan, lalu berubah menjadi komoditas. Mungkin ia tersesat. Atau mungkin ia sedang mengikuti peta yang tidak pernah dicetak secara resmi.

     Namun semua itu belum cukup menjelaskan mengapa warga tadi terus mengulang pertanyaannya. Jawabannya mungkin terletak pada sesuatu yang lebih besar: ia sudah terlalu lama menyaksikan bagaimana uang negara bergerak dengan cara yang misterius. Ada program yang lahir dengan anggaran fantastis dan slogan yang menyentuh hati, tetapi hasilnya sulit ditemukan di lapangan. Ada proyek yang diresmikan berkali-kali, diperbaiki berkali-kali, lalu rusak berkali-kali, seolah yang sedang dibangun bukan infrastruktur melainkan kesempatan untuk menganggarkan ulang.

     Ada pula perjalanan dinas ke luar negeri yang tampaknya sangat penting. Rombongan pejabat berangkat mempelajari tata kota, transportasi, pengelolaan sampah, hingga digitalisasi pelayanan. Mereka pulang dengan koper penuh pengalaman dan ribuan foto, sementara jalan di kampung warga itu tetap berlubang, drainase tetap mampet, dan pelayanan publik masih meminta kesabaran yang setara dengan seorang pertapa. Mungkin ilmu yang mereka pelajari memang sangat canggih sehingga membutuhkan puluhan tahun untuk diterapkan. Atau mungkin oleh-oleh terbaik dari perjalanan itu memang hanya foto bersama.

     Warga itu tidak tahu pasti. Tetapi ia mulai memiliki dugaan yang nakal. Jangan-jangan sensus ekonomi ini bukan hanya untuk membangun kesejahteraan. Jangan-jangan data yang begitu rinci ini juga membantu agar segala sesuatu berjalan lebih efisien, termasuk jika ada yang ingin mengelola anggaran secara kreatif. Dulu mungkin penyimpangan dilakukan secara kasar dan kira-kira. Sekarang semuanya bisa berbasis data, lebih terukur, lebih tepat sasaran, lebih modern. Bahkan korupsi pun tampaknya dipaksa mengikuti perkembangan zaman.

     Pikiran itu tentu terdengar sinis. Tetapi sinisme sering kali lahir bukan karena rakyat terlalu curiga, melainkan karena mereka terlalu sering kecewa. Mereka melihat negara sangat teliti menghitung jumlah ayam, kambing, motor, dan penghasilan warga, tetapi tampak lebih sulit menghitung berapa banyak uang yang hilang dalam perjalanan menuju kesejahteraan. Negara begitu rajin mendata kemiskinan, tetapi tampak kurang bersemangat mendata penyebab mengapa kemiskinan itu terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

     Mungkin sudah waktunya sensus tidak hanya mengumpulkan data ekonomi. Mungkin petugas juga perlu bertanya: berapa kali Anda merasa bantuan salah sasaran? Berapa kali Anda menunda berobat karena takut biaya tambahan? Berapa kali Anda merasa negara lebih rajin menghitung Anda daripada mendengarkan Anda? Sebab manusia tidak hanya hidup dari pendapatan per bulan. Ia juga hidup dari kepercayaan. Dan jika kepercayaan itu terus menyusut, maka suatu hari nanti angka-angka statistik akan tetap terlihat indah, sementara rakyat diam-diam kehilangan keyakinan bahwa semua perhitungan itu pernah benar-benar dibuat untuk mereka.

     Maka pertanyaan sederhana itu masih menggantung sampai sekarang: "Apa untungnya untuk saya?" Dan mungkin ironi terbesar negeri ini adalah bahwa setelah puluhan tahun melakukan sensus, kita masih belum memiliki jawaban yang mampu membuat rakyat berhenti bertanya.

     Entah buzzer siapa yang memulainya. Entah pembela pemerintah. Entah pembenci pemerintah. Entah mereka yang marah kepada mahasiswa. Entah mereka yang marah kepada program makan gratis. Entah siapa. Yang jelas, beberapa hari terakhir beredar sebuah logika yang begitu cepat menyebar hingga orang lupa memeriksa kakinya.

foto : cyrustimes.com

     Mahasiswa berdemonstrasi memprotes kenaikan harga Pertamaxmenuntut harganya diturunkan. Mahasiswa juga mengkritik program makan bergizi gratis yang dinilai kacau, bocor, dan digerogoti korupsimenuntut program itu dihentikan. Lalu dari berbagai sudut ruang publik lahirlah kesimpulan yang tampak gagah sekaligus ganjil: mahasiswa sedang membela orang kaya pemilik mobil dan berusaha merampas makanan orang miskin.

     Selesai.

     Tidak perlu berpikir lebih jauh. Tidak perlu bertanya lagi. Vonis dijatuhkan sebelum sidang dimulai.

     Cara berpikir seperti ini sebenarnya sangat efisien. Ia menghemat energi otak. Sama seperti seseorang yang melihat asap di kejauhan lalu langsung menyimpulkan gunung meletus, tanpa peduli apakah yang terbakar sebenarnya hanya tumpukan sampah di belakang rumah tetangga.

     Padahal kenyataan memiliki kebiasaan buruk: ia jarang sesederhana slogan.

     Harga Pertamax memang menyangkut BBM non-subsidi. Namun di negeri yang penyaring subsidinya bocor seperti ember tua, kenaikan harga BBM non-subsidi sering mendorong perpindahan konsumsi ke BBM subsidi. Orang yang semestinya berada di jalur kanan perlahan masuk ke jalur kiri. Mereka yang seharusnya membeli tanpa bantuan negara ikut mengantre bantuan negara. Akibatnya, mereka yang benar-benar membutuhkan subsidi harus berbagi dengan mereka yang sekadar tidak ingin mengurangi kenyamanan.

     Sementara itu, program makan bergizi gratis juga bukan kitab suci yang turun dari langit dalam keadaan sempurna. Tujuannya mungkin mulia. Pelaksanaannya belum tentu. Di negeri yang bahkan kesulitan menjaga uang pembangunan jembatan, sekolah, jalan, stadion, bansos, pupuk, dan proyek-proyek lain dari tangan-tangan kreatif, publik tentu berhak bertanya ketika uang dalam jumlah besar mulai mengalir ke dapur-dapur baru yang tumbuh lebih cepat daripada jamur setelah hujan.

     Namun pertanyaan semacam itu terlalu merepotkan bagi sebagian orang. Jauh lebih mudah menghapus seluruh kerumitan tersebut.

     Mahasiswa protes Pertamax?
     Berarti pembela orang kaya.
 
     Mahasiswa mengkritik MBG?
     Berarti pembenci orang miskin.
 
     Sederhana. Praktis. Tidak perlu membaca. Tidak perlu menghitung. Tidak perlu memahami.

     Kalau logika seperti ini diterapkan secara konsisten, kita mungkin bisa mencapai efisiensi nasional yang luar biasa.

     Dokter yang mengkritik rumah sakit berarti membenci pasien. Guru yang mengkritik sekolah berarti membenci murid. Wartawan yang mengkritik korupsi berarti membenci pembangunan. Orang yang mengkritik kebocoran kapal berarti membenci penumpang.

     Betapa indahnya dunia ketika setiap kritik bisa diubah menjadi kejahatan hanya dengan menghapus beberapa premis yang mengganggu.

     Barangkali inilah warisan pendidikan kita yang paling berhasil. Kita menghasilkan begitu banyak orang yang pandai mengambil kesimpulan dan begitu sedikit orang yang sabar memeriksa dasar kesimpulannya. Kita melatih murid menjawab soal pilihan ganda selama bertahun-tahun, lalu terkejut ketika mereka mulai melihat dunia sebagai pilihan ganda: setuju atau musuh, mendukung atau membenci, pemerintah atau oposisi, rakyat atau oligarki.

     Padahal kehidupan nyata lebih mirip sungai berlumpur daripada lembar ujian. Arusnya bercabang. Dasarnya tidak selalu terlihat. Banyak batu tersembunyi di bawah permukaan.

     Sayangnya, dunia yang rumit tidak pernah cocok dengan kebutuhan propaganda.

     Propaganda membutuhkan cerita yang pendek. Ia membutuhkan pahlawan dan penjahat. Ia membutuhkan kambing hitam. Ia membutuhkan kesimpulan yang bisa ditelan dalam sekali teguk.

     Karena itu, ketika seseorang datang membawa argumen yang rumit, pekerjaan pertama propaganda adalah memotongnya menjadi karikatur. Setelah karikaturnya selesai dibuat, barulah karikatur itu dipukul ramai-ramai.

     Mungkin itulah yang sedang kita saksikan hari ini.

     Bukan pertarungan antara mahasiswa dan pemerintah. Bukan pertarungan antara Pertamax dan makan gratis. Melainkan pertarungan yang jauh lebih tua: antara keinginan untuk berpikir dan godaan untuk menyederhanakan segala sesuatu sampai kehilangan akal sehatnya.

     Dan seperti biasa, yang paling ramai bukan mereka yang sedang berpikir.

     Melainkan mereka yang sudah terlanjur tiba di kesimpulan sebelum perjalanan dimulai.

     MBG saat ini mulai terlihat seperti kanker.

     Mungkin awalnya ia hanya sebuah implan kecil yang ditanam dengan niat baik. Tidak ada yang keberatan ketika negara mengatakan akan memberi makan anak-anak. Bahkan orang yang paling sinis sekalipun akan berpikir bahwa memberi makan anak sekolah adalah ide yang lebih masuk akal daripada sebagian besar proyek yang biasa lahir dari rapat-rapat panjang para pejabat.

     Namun ada satu hal yang sering terlupakan. Kanker tidak pernah datang dengan wajah menyeramkan. Ia datang sebagai sesuatu yang tampak normal. Ia tumbuh perlahan, menyelinap ke jaringan yang sehat, lalu suatu hari orang sadar bahwa tubuh yang mereka kenal telah berubah menjadi sesuatu yang lain.

     MBG tampaknya sedang berada di fase itu.
     Ia ada di mana-mana.

     Ia masuk ke organisasi masyarakat, kampus, yayasan, kelompok relawan, partai politik, aparat, pengusaha katering, kontraktor, pemasok bahan makanan, dan entah berapa banyak lagi simpul yang tidak pernah dibayangkan ketika program ini pertama kali diperkenalkan kepada publik. Ia tumbuh begitu cepat sehingga kadang sulit membedakan mana program negara dan mana ekosistem baru yang hidup dari keberadaan program tersebut.

     Presiden tentu bangga. Dalam banyak kesempatan MBG tampil seperti anak kesayangan yang selalu dipamerkan kepada tamu. Lambat laun rakyat mulai menemukan humornya sendiri. Apa pun masalahnya, MBG solusinya. Kalimat itu awalnya terdengar seperti lelucon. Belakangan terdengar seperti deskripsi keadaan yang cukup akurat.

     Ekonomi lesu, MBG.
     Pengangguran, MBG.
     Kemiskinan, MBG.

     Mungkin jika suatu hari hujan terlambat turun, akan ada usulan menambah menu protein untuk memperbaiki cuaca.

     Lalu datanglah korupsi.

     Sebetulnya kata "korupsi" di Indonesia sudah kehilangan daya kejutnya sejak lama. Ia muncul hampir sesering iklan pinjaman online. Tidak ada yang benar-benar terkejut lagi ketika mendengar ada uang negara yang bocor. Yang menarik justru bukan korupsinya, melainkan apa yang terlihat setelah tirai sedikit tersingkap.

     Tiba-tiba muncul nama-nama.
     Lalu muncul organisasi.
     Lalu muncul yayasan.
     Lalu muncul tokoh-tokoh yang sebelumnya tidak pernah terlihat.
     Lalu muncul pembelaan dari berbagai arah.
     Lalu muncul penjelasan mengapa program ini harus tetap berjalan.

     Lalu muncul penjelasan atas penjelasan.

     Untuk sesaat rasanya seperti menyaksikan seseorang menyalakan lampu di sebuah gedung yang selama ini tampak kosong dari luar. Ternyata di dalamnya banyak sekali penghuni.

     Yang lebih menarik lagi, ketika sejumlah dapur mulai ditutup, saya mengira yang akan paling gaduh adalah anak-anak yang kehilangan makan siang.

     Ternyata bukan.

     Anak-anak tidak punya konferensi pers. Anak-anak tidak punya akun media sosial dengan centang biru. Anak-anak tidak punya jaringan politik. Anak-anak hanya kehilangan makan siang.

     Kegaduhan justru datang dari orang-orang dewasa.

     Mendadak begitu banyak pihak yang berbicara tentang pentingnya keberlanjutan program. Tentang masa depan bangsa. Tentang generasi emas. Tentang kepentingan rakyat. Dan entah mengapa, semuanya terdengar seperti orang yang sedang berusaha meyakinkan diri bahwa aliran uang yang sangat besar tidak boleh berhenti mengalir.

     Di tengah keramaian itu, ada satu pernyataan seorang politisi yang menurut saya jauh lebih jujur daripada seluruh konferensi pers yang pernah digelar.

     MBG tidak bisa dihentikan.

     Saya sempat mengira itu bentuk pembelaan. Belakangan saya sadar, mungkin itu pengakuan.

     Sebab program pemerintah seharusnya selalu bisa dihentikan. Program dibuat manusia. Program dievaluasi manusia. Program diganti manusia. Tidak ada yang sakral.

     Kalau sebuah program sudah dianggap tidak bisa dihentikan, berarti kita sedang berbicara tentang sesuatu yang lain. Kita sedang berbicara tentang organisme yang telah tumbuh terlalu besar.

     Terlalu banyak orang hidup darinya. Terlalu banyak orang menggantungkan keuntungan padanya. Terlalu banyak kepentingan telah menempel di tubuhnya.

     Terlalu banyak yang akan kehilangan sesuatu jika ia berhenti.

     Dan semua itu terjadi pada saat ekonomi sedang megap-megap mencari udara. Warung-warung kecil tutup lebih dulu karena pembeli makin jarang datang. Pedagang kaki lima mulai menghilang dari sudut-sudut jalan yang dulu ramai. Lembaga pendidikan dipaksa berhemat. BPJS terus berbicara tentang defisit. Rupiah melemah dan harga-harga bergerak dengan caranya sendiri yang selalu berhasil membuat rakyat menghela napas panjang di depan etalase.

     Dalam keadaan seperti itu, mungkin kita akhirnya memahami mengapa banyak orang tampak lebih takut kehilangan proyek daripada kehilangan akal sehat.

     Karena kanker memiliki satu sifat yang menarik. Semakin besar ia tumbuh, semakin sulit tubuh membayangkan hidup tanpa dirinya. Ia menyerap nutrisi, mengambil ruang, membangun jaringan, lalu perlahan membuat seluruh tubuh percaya bahwa keberadaannya adalah sesuatu yang mutlak.

     Sampai akhirnya muncul satu pertanyaan sederhana. Apakah tubuh ini masih memelihara kanker, atau kanker yang sedang memelihara tubuh?

     Dan untuk pertama kalinya saya merasa sepenuhnya setuju dengan para penggemar MBG. Mereka benar! Apa pun masalahnya, MBG memang solusinya.

     Karena setelah melihat bagaimana ia tumbuh, menjalar, membangun jaringan, menciptakan ketergantungan, dan membuat begitu banyak orang ketakutan ketika namanya disentuh, saya yakin MBG memang dapat menyelesaikan satu masalah yang sangat besar.

     Masalah itu bernama MBG sendiri.

     STOP MBG sekarang juga!

     Pagi itu saya membaca kabar tentang ketua MBG dan dua wakilnya yang diamankan dalam kasus dugaan korupsi. Saya membaca beritanya sampai selesai, lalu menaruh telepon genggam di meja. Tidak marah. Tidak terkejut. Tidak juga sedih. Yang muncul justru sebuah kenangan yang aneh.

     Saya teringat Gus Dur.

     Bukan pidatonya. Bukan kisah-kisah politiknya. Yang muncul justru sebuah lelucon lama yang mungkin sudah berkeliaran puluhan tahun di republik ini.

     Katanya, di zaman Orde Lama korupsi dilakukan di bawah meja. Di zaman Orde Baru korupsi dilakukan di atas meja. Di zaman Reformasi, mejanya sekalian dikorupsi.

     Saya tertawa ketika pertama kali mendengarnya bertahun-tahun lalu. Seperti banyak lelucon Gus Dur lainnya, kalimat itu terdengar ringan, bahkan nakal. Namun semakin tua umur lelucon itu, semakin terasa bahwa ia sedang menyembunyikan sesuatu yang tidak lucu.

     Ada jenis humor tertentu yang sebenarnya lahir dari keputusasaan. Kita tertawa bukan karena bahagia, tetapi karena kenyataan terlalu ganjil untuk ditanggapi dengan wajah serius.

     Saya membayangkan bagaimana perasaan seseorang yang hidup beberapa dekade lalu ketika mendengar kalimat itu. Mungkin ia menganggapnya hiperbola. Mungkin ia menganggap Gus Dur sedang melebih-lebihkan keadaan. Sebab bagaimanapun, mengorupsi meja terdengar mustahil. Korupsi seharusnya mengambil uang. Mengambil proyek. Mengambil barang. Bukan mengambil meja.

     Namun rupanya kehidupan politik Indonesia memiliki bakat khusus dalam mengubah metafora menjadi laporan lapangan.

     Dari tahun ke tahun kita menyaksikan sesuatu yang menarik. Korupsi tidak lagi tampak sebagai penyimpangan dari sistem. Ia seperti spesies yang berhasil beradaptasi dengan lingkungannya. Ketika satu celah ditutup, ia menemukan celah lain. Ketika satu aturan dibuat, ia mempelajari cara hidup di dalam aturan tersebut. Kadang-kadang bahkan tampak lebih memahami aturan daripada orang yang membuatnya.

     Karena itu ketika membaca berita tentang MBG, pikiran saya justru melompat ke lelucon tadi. Program Makan Bergizi adalah sebuah gagasan yang begitu sederhana sehingga hampir mustahil ditolak. Anak-anak makan lebih baik. Gizi membaik. Masa depan diperkuat. Bahkan namanya terdengar seperti sesuatu yang lahir dari ruang kelas sekolah dasar yang penuh gambar matahari dan awan berwarna cerah.

     Lalu kenyataan datang membawa kebiasaan lamanya.

     Ternyata di negeri ini, bahkan gagasan tentang anak-anak yang sedang makan pun dapat dikerumuni oleh orang-orang dewasa yang lebih dulu lapar.

     Di titik itulah saya mulai merasa bahwa mungkin kita selama ini salah memahami lelucon Gus Dur. Kita mengira tokoh utama dalam cerita itu adalah meja. Padahal bukan.

     Meja hanya korban.

     Bayangkan nasib sebuah meja di republik ini. Ia dibuat oleh tukang kayu. Dipernis dengan baik. Diletakkan di kantor pemerintahan. Ia mungkin berharap hidup tenang sebagai tempat rapat, tempat menandatangani dokumen, atau tempat meletakkan secangkir kopi. Namun sepanjang hidupnya ia terus-menerus dituduh terlibat korupsi.

     Di bawah meja ada korupsi.
     Di atas meja ada korupsi.
     Lalu mejanya ikut dikorupsi.

     Seandainya meja bisa berbicara, mungkin sejak lama ia sudah meminta pindah profesi menjadi lemari.

     Yang membuat semua ini terasa lebih ganjil adalah kenyataan bahwa bangsa ini sebenarnya sangat kaya akan slogan moral. Hampir tidak ada kekurangan slogan. Integritas ada. Transparansi ada. Akuntabilitas ada. Amanah ada. Pengabdian ada. Setiap tahun kita memproduksi slogan-slogan baru seperti pabrik memproduksi mi instan.

     Masalahnya, slogan tidak pernah kenyang. Seperti manusia dengan usus 36 jari.

     Mungkin karena itu korupsi di Indonesia sering kali memiliki sifat yang unik. Ia tidak muncul sebagai perampok yang memecahkan jendela pada tengah malam. Ia datang mengenakan seragam resmi, membawa stempel, menyusun proposal, membuat presentasi, lalu berbicara panjang tentang pengabdian kepada rakyat. Kadang-kadang ia bahkan berbicara lebih fasih tentang moralitas daripada orang yang benar-benar bermoral.

     Lalu bertahun-tahun kemudian, ketika sebuah kasus terbongkar, masyarakat kembali mendengar istilah yang sama. Dugaan penyimpangan. Dugaan mark-up. Dugaan pengaturan proyek. Dugaan pengadaan. Kata "dugaan" berbaris begitu panjang hingga terdengar seperti nama jalan.

     Dan rakyat membaca semuanya dengan ekspresi yang semakin sulit dibedakan antara tertawa dan lelah.

     Barangkali itulah bagian yang paling menyedihkan dari korupsi. Bukan jumlah uangnya. Angka-angka pada akhirnya selalu bisa dihitung. Auditor bisa menghitungnya. Penyidik bisa menghitungnya. Hakim bisa menghitungnya.

     Yang lebih sulit dihitung adalah saat masyarakat mulai kehilangan kemampuan untuk terkejut. Saat sebuah berita tentang dugaan korupsi tidak lagi terasa seperti gempa, melainkan seperti prakiraan cuaca.

     Hari ini berawan.
     Besok hujan.
     Lusa kemungkinan ada kasus baru.
 

     Dan di tengah semua itu, lelucon Gus Dur tetap berjalan dari satu generasi ke generasi berikutnya, seperti seorang pengembara tua yang terus menemukan alamat yang sama meskipun nama jalannya sudah berkali-kali diganti.

     Saya tidak tahu apakah suatu hari nanti lelucon itu akan kehilangan relevansinya. Saya berharap demikian. Sebab ada lelucon yang memang seharusnya pensiun dengan tenang.

     Tetapi setiap kali membaca berita semacam ini, harapan itu terasa seperti menatap meja tua di sebuah kantor pemerintahan dan bertanya dalam hati: "setelah semua yang dialaminya selama puluhan tahun, apakah meja itu masih berani percaya kepada manusia?"

     Dahulu manusia berburu rusa, menangkap ikan, dan menghindari harimau. Kini manusia berburu angka, menangkap gelar, dan menghindari pertanyaan yang terlalu jujur. Kemajuan memang menakjubkan. Kita berhasil mengganti ancaman yang nyata dengan ancaman yang diciptakan sendiri, lalu menghabiskan hidup untuk mengatasinya.

     Salah satu hasil ciptaan yang paling terkenal adalah IQ. Sebuah angka yang begitu dihormati sehingga banyak orang membawanya seperti mahkota, sementara yang tidak memilikinya sering berusaha membuktikan bahwa mahkota itu tidak terlalu penting. Maka lahirlah kalimat yang begitu populer: IQ tinggi tidak menjamin sukses.

     Kalimat itu terdengar bijaksana. Ia diucapkan dengan anggukan kepala, dibagikan di media sosial dengan latar belakang matahari terbit, dan diterima seperti kebenaran yang turun dari langit. Sayangnya, jarang ada yang bertanya lebih dahulu: IQ tinggi itu apa? Dan sukses itu apa?

     Orang-orang tampaknya sepakat bahwa IQ adalah ukuran kecerdasan. Kesepakatan yang menarik, sebab dunia ini penuh dengan manusia cerdas yang tidak pernah diukur. Nelayan tua yang dapat membaca cuaca dari arah angin, petani yang mengenali musim dari bau tanah, ibu yang memahami perubahan suasana hati anaknya hanya dari tatapan mata, tidak pernah diberi angka. Mereka terlalu hidup untuk dimasukkan ke dalam tabel.

     Sebaliknya, seseorang yang mampu menemukan pola geometri dalam serangkaian gambar akan memperoleh angka tinggi, lalu disebut sangat cerdas. Tidak ada yang salah dengan itu. Yang lucu adalah ketika angka tersebut perlahan berubah menjadi identitas. Seolah-olah manusia akhirnya dapat diringkas seperti spesifikasi barang elektronik: tinggi sekian sentimeter, berat sekian kilogram, IQ sekian, selesai.

     Mungkin suatu hari akan lahir iklan yang lebih jujur.

     "Dijual manusia, kondisi mulus, IQ 145, kemampuan sosial terbatas, mudah cemas, sulit tidur, tetapi sangat baik dalam menyelesaikan teka-teki."

     Peradaban tampaknya akan menerimanya dengan gembira.

     Lalu datanglah kata "sukses", yang lebih ajaib lagi. Tidak ada benda yang bentuknya lebih kabur tetapi lebih banyak diperebutkan. Anak-anak diajari mengejarnya sebelum mereka tahu apa yang sedang mereka kejar. Mereka didorong berlari secepat mungkin, lalu setelah dewasa baru sadar bahwa garis finisnya terus dipindahkan.

     Ketika miskin, sukses berarti kaya.
     Ketika kaya, sukses berarti terkenal.
     Ketika terkenal, sukses berarti dihormati.
     Ketika dihormati, sukses berarti hidup tenang.
 

     Dan ketika hidup mulai tenang, sebagian orang justru merindukan masa ketika mereka belum mengejar semua itu.

     Sungguh permainan yang sangat efisien. Kita dibuat berlari mengelilingi lingkaran, lalu diberi medali karena tidak menyadari bahwa kita sedang berputar.

     Anehnya, ketika seseorang memiliki rumah besar, mobil mewah, dan rekening yang tak habis dihitung nolnya, masyarakat dengan cepat menyebutnya sukses. Tidak banyak yang bertanya apakah ia tidur nyenyak. Tidak banyak yang peduli apakah ia masih mampu mencintai tanpa curiga, tertawa tanpa kepentingan, atau menikmati hujan tanpa menghitung peluang bisnis air kemasan.

     Ada sesuatu yang sangat aneh dalam cara kita menilai hidup.

     Seekor burung tidak pernah merasa gagal karena tidak memiliki properti. Pohon tua tidak merasa rendah diri karena tidak terkenal. Sungai tidak pernah mengikuti seminar tentang cara menjadi lebih sukses sebagai sungai.

     Hanya manusia yang menciptakan perlombaan, menentukan peringkat, lalu mengalami depresi karena kalah dalam perlombaan yang ia buat sendiri.

     Dan ketika kelelahan mulai terasa, lahirlah buku-buku motivasi. Sebagian menyuruh kita bekerja lebih keras. Sebagian menyuruh kita berpikir positif. Sebagian menyuruh kita bangun pukul empat pagi.

     Tidak ada yang bertanya mengapa kita harus ikut lomba itu sejak awal.

     Maka kalimat "IQ tinggi tidak menjamin sukses" sebenarnya terasa seperti perdebatan kecil di dalam penjara yang sama. Yang satu berkata, "Kecerdasan bukan segalanya." Yang lain berkata, "Tetapi kecerdasan tetap penting."

     Keduanya masih menerima satu keyakinan yang tidak pernah diperiksa: bahwa manusia harus diukur, dibandingkan, dan diberi peringkat.

     Padahal mungkin persoalannya bukan pada alat ukurnya. Mungkin justru obsesi untuk mengukur itulah yang perlu dicurigai.

     Sebab semakin modern manusia, semakin banyak pita ukur yang dibawanya. Ia mengukur kecerdasan, mengukur penghasilan, mengukur popularitas, mengukur produktivitas, bahkan mengukur kebahagiaan. Seolah-olah hidup adalah proyek konstruksi raksasa yang tidak boleh menyisakan satu sentimeter pun tanpa angka.

     Lalu pada suatu malam yang sunyi, setelah semua ukuran tercapai, sebagian orang diam-diam bertanya pada dirinya sendiri: "Aku sudah mendapatkan semuanya. Mengapa masih ada ruang kosong yang tidak bisa kujelaskan?"

     Pertanyaan itu biasanya datang terlambat. Karena selama ini kita terlalu sibuk mengukur hidup, sampai lupa menjalani hidup itu sendiri.

     Dan mungkin, hanya mungkin, manusia baru benar-benar merdeka ketika ia berani meletakkan seluruh pita ukur itu di atas meja, lalu berdiri di hadapan dirinya sendiri tanpa angka, tanpa peringkat, tanpa label.

     Tentu saja itu bukan perkara mudah. Sebab banyak orang rela kehilangan kebebasan, asalkan tetap bisa mengatakan kepada dunia: "Lihatlah, aku lebih berhasil daripada yang lain."

     Kalimat yang, jika dipikir-pikir, terdengar sangat cerdas. 

     Atau mungkin justru sebaliknya. 😂😂

     "Saya tidak berarti bagi siapa pun, itulah kebebasan terbesar saya." Ungkapan yang cukup provokatif, bahkan menggoda jeda untuk berfikir. Menjadi berarti bagi orang lain sesungguhnya tidak pernah berada dalam wilayah yang dapat kita kuasai. Kita dapat mencintai seseorang sepenuh hati, tetapi tidak dapat memaksanya menganggap kita berarti. Kita dapat menghabiskan seluruh hidup untuk menjadi orang baik, tetapi tidak dapat menentukan bagaimana dunia akan mengingat kita. Bahkan ketika kita yakin telah meninggalkan jejak yang dalam, boleh jadi kita hanya menjadi bayangan yang lewat sebentar di ingatan seseorang.

     Kesadaran itu mula-mula terdengar menyedihkan. Namun setelah direnungkan lebih lama, ia justru terasa membebaskan. Jika makna diri memang selalu lahir di dalam kesadaran orang lain, mengapa kita harus menghabiskan tenaga untuk mengendalikan sesuatu yang sejak awal bukan milik kita?

     Sayangnya, manusia tidak hidup sendirian. Kita hidup di tengah masyarakat yang dibangun di atas tafsir-tafsir yang saling dipertukarkan. Kita saling menyapa, saling tersenyum, saling bertanya kabar, saling mengucapkan selamat dan belasungkawa. Semua itu membuat kehidupan terasa lebih halus. Gesekan-gesekan kecil dapat diredam oleh serangkaian ritual yang kita sebut kesopanan.

     Lama-kelamaan, ritual itu tidak lagi sekadar menjadi pelumas hubungan antarmanusia. Ia berubah menjadi bahasa yang wajib dikuasai. Senyum harus muncul pada waktu yang tepat. Kesedihan harus diperlihatkan dalam kadar yang dapat dipahami. Antusiasme harus memiliki ekspresi yang dikenali. Bahkan diam pun mempunyai tata caranya sendiri.

     Kita mengira sedang belajar memahami manusia. Padahal yang sering dipelajari hanyalah tata bahasa agar mudah dipahami manusia lain.

     Mungkin karena itulah masyarakat begitu cepat memberi label "cerdas secara sosial". Label itu tidak selalu diberikan kepada mereka yang paling mampu memahami penderitaan orang lain. Tidak selalu pula kepada mereka yang paling tulus. Yang lebih sering mendapat penghargaan adalah mereka yang fasih memainkan tata bahasa sosial. Mereka tahu kapan harus tertawa meskipun tidak lucu, kapan harus mengangguk meskipun tidak setuju, kapan harus menyembunyikan pikirannya agar suasana tetap nyaman.

     Sebaliknya, orang yang tidak fasih memainkan permainan itu segera dicurigai. Ia dianggap kaku, dingin, tidak peka, bahkan arogan. Bukan karena ia membenci manusia, melainkan karena ekspresinya tidak sesuai dengan kamus yang telah disepakati bersama.

     Di titik inilah mulai muncul pertanyaan: jangan-jangan yang disebut ketidakcerdasan sosial sering kali hanyalah nama lain bagi kebebasan.

     Bukan kebebasan untuk menyakiti orang lain. Bukan pula kebebasan untuk mengabaikan empati. Melainkan kebebasan untuk tidak terus-menerus mengatur diri demi memenuhi harapan tentang bagaimana seorang manusia seharusnya tampil.

     Ironisnya, kebebasan semacam itu justru membuat seseorang sulit dibaca. Ia tidak memberikan ekspresi yang diharapkan. Ia tidak selalu menunjukkan kesedihan ketika masyarakat menunggu air mata. Ia tidak selalu menunjukkan kegembiraan ketika dunia berharap tepuk tangan. Ia tidak selalu mengucapkan kalimat yang dianggap pantas.

     Dan manusia rupanya lebih mudah memaafkan keburukan daripada kebingungan. Orang yang berbuat salah masih dapat dimasukkan ke dalam kategori yang telah dikenal. Namun orang yang tidak dapat dibaca menciptakan kegelisahan yang lebih dalam. Ia merusak keyakinan bahwa kita memahami sesama.

     Mungkin itulah sebabnya begitu banyak hubungan retak bukan karena perbedaan nilai, melainkan karena perbedaan ekspresi. Kita merasa tidak dicintai hanya karena cinta hadir dalam bahasa yang tidak kita mengerti. Kita merasa diabaikan hanya karena perhatian datang dalam bentuk yang tidak kita harapkan. Kita marah bukan karena seseorang tidak peduli, melainkan karena ia gagal memainkan peran yang telah kita tulis diam-diam di kepala kita.

     Bukankah ini tragis? Kita tidak berhubungan dengan manusia sebagaimana adanya. Kita berhubungan dengan tafsir kita tentang manusia itu. Dan mereka pun melakukan hal yang sama kepada kita.

     Barangkali tidak ada yang benar-benar mengenal siapa pun. Yang hidup berdampingan hanyalah jutaan tafsir yang sesekali saling bersinggungan, sesekali bertabrakan, lalu perlahan menjauh.

     Kalau begitu, kebebasan terbesar bukanlah menjadi berarti bagi semua orang. Kebebasan terbesar mungkin justru menerima bahwa kita tidak akan pernah sepenuhnya dapat dikendalikan oleh tafsir mereka, sebagaimana mereka tidak pernah dapat sepenuhnya dikendalikan oleh tafsir kita.

     Risikonya memang tidak kecil. Masyarakat mungkin akan menyebutnya ketidakcerdasan sosial.

     Padahal bisa jadi, untuk pertama kalinya, seseorang sedang berhenti menjadi aktor dan mulai menjadi manusia.

     Barangkali memang sudah saatnya cara menghormati nenek moyang itu diperbarui. Bukan karena masa lalu tidak lagi penting, bukan pula karena tradisi harus disingkirkan, melainkan karena terlalu banyak orang terjebak pada keyakinan bahwa penghormatan hanya dapat diwujudkan dengan mengulang. Seolah-olah kesetiaan tertinggi kepada para pelaut besar adalah menapaki rute yang sama, menghidupkan kembali perahu yang sama, dan mengisahkan lagi cerita yang sama. Padahal, semakin lama dipikirkan, semakin terasa janggal. Sebab para pelaut yang kini dipuja itu dahulu justru tidak hidup dengan cara demikian. Mereka tidak menjadi besar karena mengulang. Mereka menjadi besar karena berani meninggalkan apa yang telah ada.

     Jika benar nenek moyang adalah pelaut, maka warisan terbesarnya tidak terletak pada kayu perahunya, tidak pula pada jalur pelayarannya. Warisan terbesar mereka adalah keberanian untuk berangkat ketika arah belum tersedia, ketika peta belum selesai dibuat, ketika jawaban belum ditemukan. Maka penghormatan yang paling jujur kepada mereka bukanlah dengan menghafal ke mana mereka pernah pergi, melainkan dengan tetap memiliki keberanian untuk pergi ke tempat yang bahkan belum pernah mereka bayangkan.

     Dari situlah sebuah gagasan sederhana muncul. Jika dunia pernah begitu gaduh oleh perdebatan tentang bumi datar dan bumi bulat, mengapa tidak menjawabnya dengan cara yang paling tua sekaligus paling ilmiah: berlayar mengelilingi dunia? Bukan untuk mencari sensasi, bukan pula untuk mengulang kisah kejayaan masa lalu, melainkan untuk mengalami secara langsung bagaimana ilmu pengetahuan bekerja. Mengamati, mengukur, menguji, meragukan, memperbaiki, lalu menguji kembali. Sebab ilmu pengetahuan tidak tumbuh dari kemenangan berdebat. Ia tumbuh dari keberanian menghadapkan keyakinan pada kenyataan.

     Pelayaran itu dapat dimulai dari Makassar, kota yang telah lama hidup berdampingan dengan laut. Sebuah phinisi berangkat mengelilingi dunia, menelusuri tepian benua, melintasi samudra, singgah dari satu negeri ke negeri lain. Namun kali ini, tujuan pelayaran bukan untuk mengulang jalur nenek moyang. Tujuannya adalah menjawab pertanyaan zaman sekarang dengan seluruh kemampuan yang dimiliki manusia hari ini. Phinisi tidak lagi menjadi simbol romantisme masa lalu, melainkan menjadi ruang kerja yang hidup; tempat penelitian dilakukan, tempat gagasan diperdebatkan, tempat mahasiswa dan ilmuwan dari berbagai negara bertemu untuk membangun pengetahuan bersama.

     Mengapa phinisi? Jawabannya justru sangat sederhana: karena ia mampu membawa banyak manusia, banyak ilmu, banyak pertanyaan, dan banyak kemungkinan. Tidak ada alasan untuk membekukannya menjadi benda museum yang hanya dipandang dengan rasa kagum. Ia dibangun untuk berlayar. Ia lahir dari kemampuan beradaptasi. Bahkan bentuknya sendiri merupakan hasil perkembangan panjang, hasil perjumpaan dengan berbagai pengalaman dan kebutuhan zamannya. Maka menggunakan phinisi dengan teknologi termutakhir, laboratorium kecil, sistem komunikasi satelit, perangkat navigasi modern, dan segala instrumen penelitian yang tersedia bukanlah pengkhianatan terhadap tradisi. Itu justru bentuk kesetiaan yang paling jujur kepada semangat yang melahirkannya.

     Kalau nenek moyang hidup hari ini, mungkinkah mereka menolak teknologi? Mungkinkah mereka bersikeras menggunakan cara lama hanya karena takut disebut tidak setia kepada tradisi? Rasanya sulit dipercaya. Para pelaut besar pada masanya adalah para pemanfaat teknologi terbaik yang tersedia. Mereka belajar dari banyak bangsa, memperbaiki apa yang mereka miliki, lalu berlayar lebih jauh. Mereka tidak jatuh cinta pada bentuk. Mereka jatuh cinta pada kemungkinan.

     Maka ekspedisi ini tidak hanya tentang laut. Ia adalah sekolah yang bergerak. Seorang mahasiswa mungkin tidak pernah naik ke atas phinisi, tetapi ia dapat menghabiskan berbulan-bulan menyusun metodologi penelitian, berkorespondensi dengan universitas luar negeri, menghubungkan para peneliti, menyiapkan konferensi, mengelola data, dan menyusun publikasi ilmiah. Mahasiswa lain mungkin mengurus logistik yang rumit, mengatur pergantian peserta dari berbagai negara, atau menjadi penghubung antara kampus dan institusi yang terlibat. Mereka mungkin tidak memegang kemudi, tetapi mereka ikut menggerakkan pelayaran itu.

     Dan bukankah itu juga berarti ikut mengukir laut?

     Ada sesuatu yang sangat berbeda antara membaca bagaimana ilmu pengetahuan bekerja dengan mengalami seluruh keruwetannya secara langsung. Di ruang kuliah, seseorang dapat memahami metodologi penelitian sebagai teori. Namun ketika harus menghubungi ilmuwan dari berbagai negara, menyusun rancangan penelitian lintas disiplin, menghadapi perbedaan pandangan, menyesuaikan metode dengan kondisi lapangan, lalu mempertanggungjawabkan hasilnya di hadapan komunitas ilmiah, ilmu pengetahuan tidak lagi menjadi pelajaran. Ia berubah menjadi pengalaman hidup.

     Barangkali inilah bentuk akademis yang sering terlupakan. Ia bukan sekadar label yang ditempelkan pada sebuah kegiatan agar terdengar lebih terhormat. Ia adalah keberanian untuk bertanya, bekerja, berkolaborasi, dan menerima kemungkinan bahwa hasil akhirnya mungkin berbeda dari apa yang dibayangkan sejak awal. Akademis bukan panggung yang meminta tepuk tangan. Akademis adalah perjalanan panjang yang sering kali penuh keraguan, tetapi justru karena itu ia terus berkembang.

     Di sinilah dua esai sebelumnya menemukan jawabannya. Jika dahulu manusia begitu bangga mengikuti jejak nenek moyangnya, mungkin sekarang sudah saatnya mereka mewarisi keberanian nenek moyangnya. Jika dahulu akademis sering kali berhenti pada nama dan simbol, mungkin sekarang sudah saatnya ilmu kembali turun ke laut, berhadapan dengan kenyataan, dan mengakui bahwa masih banyak hal yang belum diketahui.

     Warisan terbesar nenek moyang bukanlah perahunya. Melainkan keberanian untuk membangun perahu yang berbeda, berlayar ke laut yang berbeda, dan menjawab pertanyaan yang bahkan belum pernah mereka bayangkan.

     Karena pada akhirnya, kita tidak menghormati pelaut besar dengan menghafal arah yang mereka tempuh. Kita menghormati mereka dengan tetap berani berlayar ketika arah itu belum ada. Sebab warisan terbesar nenek moyang bukanlah perahunya, melainkan keberanian untuk meninggalkan pelabuhan.

     Ada satu hal yang sering membuat manusia merasa lebih mulia daripada yang sebenarnya: sebuah label. Ia dapat mengubah kegiatan biasa menjadi luar biasa, mengubah pengalaman menjadi prestasi, bahkan mengubah kebanggaan pribadi menjadi kehormatan kolektif. Manusia menyukai itu. Sebab tidak semua orang mampu menciptakan sesuatu yang besar, tetapi hampir semua orang ingin terhubung dengan sesuatu yang dianggap besar. Maka lahirlah berbagai cara untuk meminjam kebesaran, dan salah satu yang paling elegan adalah meminjam nama ilmu pengetahuan.

     Sejumlah mahasiswa berlayar mengikuti jejak pelayaran nenek moyangnya. Mereka menggunakan perahu yang dirancang berdasarkan temuan arkeologis, menempuh rute yang diyakini pernah dilalui para pelaut masa lalu, singgah di titik-titik yang telah ditentukan jauh sebelum layar dikembangkan. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Bahkan ada sesuatu yang romantis di sana. Laut selalu menyimpan daya tariknya sendiri, begitu pula sejarah. Anak-anak muda yang belajar hidup bersama di tengah ombak, merasakan kerasnya angin, dan menyentuh kembali kisah masa lalu dengan tubuh mereka sendiri adalah pemandangan yang menyenangkan untuk dibayangkan.

     Namun persoalan mulai muncul ketika seluruh kegiatan itu diberi nama: ekspedisi akademis.

     Kata itu terdengar gagah. Begitu gagahnya hingga hampir tidak ada yang berhenti untuk bertanya, bagian mana yang sebenarnya akademis. Sebab akademis bukanlah kata sifat yang membuat segala sesuatu tiba-tiba menjadi ilmiah. Akademis bukan semacam bumbu penyedap yang dapat ditaburkan di atas petualangan agar rasanya lebih intelektual. Ia memiliki syarat yang jauh lebih keras daripada sekadar niat baik dan semangat yang tinggi.

     Ilmu pengetahuan lahir dari ketidakpuasan terhadap jawaban. Ia hidup dari pertanyaan yang mengganggu kenyamanan. Ia berkembang karena ada kemungkinan salah. Bahkan seorang ilmuwan yang baik lebih takut pada keyakinannya sendiri daripada pada kritik orang lain, sebab ia tahu bahwa sesuatu yang hari ini dianggap benar dapat runtuh oleh satu bukti baru esok hari.

     Lalu apa yang sedang dipertanyakan dalam pelayaran itu?

     Rute sudah diketahui. Jenis perahu telah ditentukan. Tujuan perjalanan telah dipetakan.

     Narasi yang dibawa sejak awal pun tampaknya tidak berubah: nenek moyang adalah pelaut hebat, dan perjalanan ini adalah pembuktian atas kehebatan itu.

     Kalau begitu, apa yang sedang dicari?

     Atau mungkin pertanyaannya harus sedikit lebih jujur: adakah sesuatu yang sungguh-sungguh sedang dicari?

     Jika ekspedisi pertama dilakukan tiga puluh tahun lalu, kemudian diulang lima belas tahun setelahnya, lalu diulang kembali dengan pola yang hampir sama, sementara yang berubah hanya nama peserta dan angka di belakang judul kegiatan, apakah yang sebenarnya sedang diwariskan? Semangat akademis atau tradisi mengulang sesuatu yang pernah mendapat tepuk tangan?

     Pertanyaan ini terasa tidak sopan hanya karena terlalu jarang diajukan. Sebab yang terlihat justru suasana yang hangat dan membanggakan. Mahasiswa merasa menjadi bagian dari sejarah. Kampus merasa sedang menjalankan misi besar. Masyarakat ikut bangga melihat generasi muda menghormati warisan leluhurnya. Semua orang tampak puas. Semua orang bertepuk tangan.

     Dan tepuk tangan memang memiliki kemampuan yang luar biasa. Ia sering kali membuat manusia lupa bertanya.

     Tidak ada yang salah dengan napak tilas sejarah. Tidak ada yang salah dengan pelayaran budaya. Tidak ada yang salah dengan petualangan yang mengubah cara pandang seseorang terhadap hidup. Semua itu baik. Yang terasa mengganggu justru kebutuhan untuk menyebutnya akademis, seolah pengalaman tidak cukup bernilai jika tidak mengenakan jas ilmiah.

     Ini seperti membangun panggung jazz yang megah, lengkap dengan pencahayaan artistik, poster tokoh-tokoh besar, dan suasana yang intelektual. Ketika pertunjukan dimulai, ternyata yang dimainkan adalah dangdut koplo yang riuh dan menghibur. Penonton menari dengan gembira. Tidak ada yang salah dengan musiknya. Bahkan banyak yang pulang dengan perasaan bahagia. Tetapi tetap ada satu keganjilan yang tidak dapat dihapus: mengapa harus disebut jazz?

     Begitulah kira-kira perasaan yang muncul ketika sebuah kegiatan yang kaya pengalaman tetapi miskin pertanyaan tetap bersikeras menyebut dirinya akademis. Seolah kata itu dapat diwariskan seperti nama keluarga. Seolah semangat ilmiah dapat dipindahkan begitu saja hanya karena kegiatan tersebut dilakukan oleh mahasiswa dan mendapat pengakuan dari kampus.

     Padahal ilmu tidak pernah bekerja seperti itu.

     Ia tidak mengenal penghormatan kepada kenyamanan. Ia tidak tumbuh karena rasa bangga. Ia bahkan tidak terlalu peduli pada tradisi jika tradisi itu berhenti bertanya. Ilmu bergerak ke depan dengan cara yang kadang kejam: ia menggugat, mengoreksi, dan jika perlu menghancurkan keyakinan yang telah lama diterima.

     Ironisnya, kegiatan yang mengaku mengikuti nenek moyang pelaut justru tampak mengabaikan sifat paling penting dari para pelaut itu sendiri. Mereka tidak dikenang karena mengikuti jalur yang telah tersedia. Mereka dikenang karena berani memasuki wilayah yang belum diketahui. Mereka berlayar bukan untuk membuktikan bahwa dunia sesuai dengan keyakinannya, tetapi untuk mengetahui apakah keyakinannya memang sesuai dengan dunia.

     Barangkali itulah sebabnya ada gagasan yang terasa jauh lebih hidup: bukan mengulang pelayaran lama, tetapi menciptakan pelayaran baru. Bukan sekadar mengikuti rute yang diwariskan, melainkan berlayar membawa pertanyaan zaman sendiri, mengumpulkan data baru, berkolaborasi dengan dunia, menguji keyakinan, bahkan jika perlu pulang dengan kesimpulan yang menghancurkan asumsi awal. Bukankah itu jauh lebih dekat dengan semangat seorang pelaut? Bukankah itu lebih jujur untuk disebut akademis?

     Sayangnya, manusia memang memiliki hubungan yang rumit dengan ketidakpastian. Mereka mengagumi para penjelajah, tetapi tidak selalu ingin menjadi penjelajah. Mereka memuji keberanian, tetapi lebih nyaman mengulang keberanian orang lain. Mereka bangga menyebut nenek moyangnya seorang pelaut, tetapi lebih memilih berlayar di laut yang sudah dipetakan.

     Dan mungkin, tanpa disadari, itulah ironi terbesar dari semuanya: semangat eksplorasi perlahan berubah menjadi seremoni eksplorasi, sementara kata akademis berdiri di atasnya seperti papan nama yang megah, mengundang kekaguman banyak orang, meskipun isi bangunannya sudah lama berhenti menjadi rumah bagi pertanyaan.

     Ada kegembiraan yang aneh ketika manusia menemukan nenek moyangnya. Ia membuka silsilah, mengunjungi makam tua, mengenakan pakaian adat, menelusuri jalur pelayaran kuno, lalu pulang dengan dada yang lebih tegak. Ada kebanggaan yang tumbuh karena merasa terhubung dengan rantai panjang sejarah. Ia merasa dirinya bukan manusia yang jatuh dari langit, melainkan cabang dari pohon tua yang akarnya menembus jauh ke dalam tanah waktu.

     Itu wajar. Manusia memang membutuhkan akar. Namun persoalannya mulai menarik ketika akar itu perlahan berubah menjadi altar, dan sejarah berubah menjadi benda suci yang tidak boleh disentuh selain untuk dipuji.

     Maka lahirlah berbagai kegiatan yang megah. Ada yang menelusuri jejak pelaut leluhurnya, ada yang menghidupkan kembali ritual kuno, ada yang bersumpah menjaga warisan budaya agar tetap lestari. Semuanya dilakukan dengan penuh kebanggaan, dengan wajah serius seolah sedang memegang estafet suci dari masa lalu.

     Yang agak menggelikan adalah kenyataan bahwa hampir tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar hidup seperti nenek moyangnya.

     Seorang pelaut masa kini berdiri di atas kapal berbahan baja, ditemani radar, GPS, peta digital, dan komunikasi satelit. Ia berlayar mengikuti rute yang telah diprediksi komputer, lalu dengan khidmat berkata bahwa ia sedang menapaki jejak leluhur yang dahulu membaca arah angin dan menghafal konfigurasi bintang.

     Sungguh luar biasa. Nenek moyangnya bertaruh nyawa pada langit, sedangkan ia bertaruh pada daya baterai.

     Namun ia tetap merasa sedang melakukan hal yang sama.

     Barangkali memang begitu cara kerja ingatan manusia. Ia tidak mencari masa lalu apa adanya, tetapi masa lalu yang telah ia poles agar tampak mulia. Yang dikenang adalah keberanian leluhur, tetapi bukan ketakutan mereka. Yang diingat adalah kejayaan, bukan kesalahan. Yang dirayakan adalah kebijaksanaan, bukan kebingungan yang dahulu mungkin mereka alami ketika menghadapi perubahan zaman.

     Akhirnya nenek moyang tidak lagi menjadi manusia sejarah. Mereka berubah menjadi tokoh mitologi yang selalu benar, selalu bijaksana, dan selalu harus diikuti.

     Lalu mulailah orang-orang berjalan beriringan sambil berkata bahwa mereka sedang mengikuti jejak leluhur.

     Padahal, apa sebenarnya yang mereka ikuti?

     Rumah adat yang berdiri hari ini dibangun dengan beton, baja ringan, dan lampu LED. Upacara adat direkam drone, disiarkan langsung melalui internet, dan dipromosikan di media sosial. Pakaian tradisional diproduksi dengan mesin modern dan dijual secara daring ke seluruh dunia.

     Tidak ada yang salah dengan semua itu. Justru itulah bukti bahwa budaya selalu berubah.

     Yang lucu adalah ketika semua perubahan itu disangkal, lalu diberi label "pelestarian". Seolah-olah budaya adalah serangga yang dapat diawetkan di dalam kotak kaca. Seolah-olah masa lalu dapat dibekukan.

     Seolah-olah mengikuti nenek moyang berarti mengulang apa yang mereka lakukan.

     Padahal jika direnungkan lebih jauh, nenek moyang yang kita kagumi itu mungkin justru adalah para pembangkang pada zamannya.

     Mungkin ada seorang yang pertama kali meninggalkan pantai dan berani melaut lebih jauh. Ada yang pertama kali mengganti alat batu dengan logam. Ada yang meninggalkan kebiasaan lama karena menemukan cara yang lebih baik. Mereka adalah orang-orang yang tidak puas hanya menjadi pengikut.

     Bayangkan jika pada masa itu mereka berkata, "Aku akan mengikuti jejak nenek moyangku sepenuhnya."

     Mungkin mereka tidak akan pernah berangkat. Mungkin mereka tidak akan pernah menemukan apa pun. Mungkin kita tidak akan pernah mengenal mereka sebagai leluhur yang hebat.

     Ironis sekali. Kita mengagumi mereka karena keberaniannya mengubah keadaan, tetapi menghormati mereka dengan cara menolak perubahan.

     Kita memuji keberanian mereka menjelajah, tetapi kita sendiri sibuk berputar di tempat sambil memoles jejak lama.

     Lalu dengan bangga mengatakan, "Aku telah melestarikan budaya."

     Padahal yang dilestarikan sering kali bukan budaya itu sendiri, melainkan bayangan tentang budaya yang kita ciptakan pada masa kini.

     Yang dipelihara bukan masa lalu, melainkan perasaan nyaman bahwa kita memiliki hubungan dengan masa lalu. Mungkin karena hubungan dengan masa lalu terasa jauh lebih aman daripada tanggung jawab kepada masa depan. Sebab menjadi keturunan orang-orang besar tidak membutuhkan apa-apa, sementara menjadi nenek moyang yang layak dikenang menuntut sesuatu yang jauh lebih mahal: keberanian untuk gagal ketika menciptakan jejak sendiri.

     Dan perasaan nyaman itu begitu menenangkan, sehingga kita rela mengorbankan satu hal yang dahulu justru dimiliki oleh leluhur kita: keberanian untuk menciptakan sesuatu yang baru.

     Mungkin itulah ironi terbesar dari seluruh kisah ini. Kita begitu takut dianggap meninggalkan jejak leluhur, sampai lupa bahwa para leluhur dahulu dihormati justru karena mereka berani meninggalkan jejaknya sendiri.

     Mereka tidak hidup untuk menjadi pengikut.

     Mereka hidup untuk menjadi awal.

     Dan saya membayangkan suatu hari nanti, ketika kita semua telah menjadi foto kusam di dinding sejarah, anak cucu kita memandang kita sambil menghela napas, lalu berkata dengan nada kecewa:

     "Nenek moyangku hanyalah sekumpulan follower yang begitu bangga mengikuti jejak leluhurnya, tetapi tak pernah cukup berani membuat jejaknya sendiri."

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.