Pertanyaan apakah dua belas watak itu bisa diubah terdengar sederhana tetapi menyengat. Ia menyerempet sesuatu yang lebih dalam dari urusan politik: apakah watak itu bawaan genetis, atau hanya endapan sejarah yang tidak pernah kita bersihkan karena malas. Mochtar Lubis tidak menuduh bangsa ini diciptakan cacat. Ia hanya menunjukkan bahwa sejarah pernah memanjakan kita.
Penjajahan di Nusantara tidak pernah memaksa bangsa ini melewati fase pendewasaan modern seperti yang dialami bangsa lain. Kita tidak dipaksa menjalani revolusi borjuis seperti Perancis, tidak dipaksa menjalani revolusi industri seperti Inggris, dan tidak dipaksa menjalani revolusi pertobatan moral seperti Jerman pascaperang. Kita dijajah untuk diambil komoditasnya, bukan untuk dipaksa menjadi warga negara modern.
Modernitas datang terlambat dan datang dengan cara yang kikuk. Ia datang bukan sebagai proyek kebudayaan, tetapi sebagai proyek pembangunan. Dan pembangunan yang tidak mengubah kebudayaan hanya akan menghasilkan aspal yang mulus tetapi mentalitas yang tetap feodal. Di sinilah dua belas watak itu menemukan ruang napasnya.
Bangsa ini tidak pernah mengalami momen Sartrean, ketika kebebasan dipilih sebagai beban yang harus dipikul, bukan sebagai slogan kampanye. Tidak pernah mengalami momen Weberian, ketika rasionalitas menjadi standar kehidupan, bukan dekorasi prosedural yang ditulis di dokumen birokrasi. Tidak mengalami momen Tocquevillian, ketika demokrasi diasosiasikan dengan asosiasi sipil dan musyawarah horizontal, bukan dengan baliho, bansos, dan konser menjelang pemilu. Karena momen-momen itu tidak terjadi, watak-watak lama tidak menemukan lawan. Mereka bertahan, bahkan berkembang.
Chie Nakane mencatat bahwa Jepang hanya berubah setelah perang menghancurkan seluruh struktur lama sehingga struktur baru bisa tumbuh dari nol. Weber mengingatkan bahwa kapitalisme modern tidak lahir dari kerakusan pedagang, tetapi dari etika disiplin dan kecemasan eksistensial kaum Puritan. Jerman modern tumbuh bukan dari rasa percaya diri, tetapi dari rasa bersalah kolektif yang memalukan. Setiap bangsa yang berubah memiliki trauma moral yang tidak bisa dihapus begitu saja.
Pertanyaan pahit untuk kita adalah: trauma kolektif apa yang pernah memaksa bangsa ini dewasa? Jawabannya mengecewakan. Tidak ada. Bahkan tragedi nasional—1965, 1998, kebakaran hutan yang diulang, banjir yang berkarier, pandemi yang disulap jadi panggung—semua diperlakukan sebagai musim politik. Kita mengganti dekorasi, bukan etika. Kita mengganti rezim, bukan kebiasaan. Kita mengganti jargon, bukan mentalitas. Dua belas watak itu akhirnya tidak mendapatkan alasan sejarah untuk pergi.
Maka apakah dua belas watak itu bisa diubah? Bisa. Tetapi bangsa ini belum menemukan alasan kuat untuk mengubahnya. Kita masih terlalu nyaman untuk marah dan terlalu lucu untuk serius. Dan bangsa yang lucu sering menjadi korban sejarah tanpa sadar bahwa sejarah tidak menganggap humor sebagai alasan untuk pengampunan.
Yang menghalangi perubahan bukan tank, bukan penjajah, bukan embargo. Yang menghalangi adalah hal-hal yang tidak berwujud.
Penghalang pertama adalah narasi. Bangsa yang tidak jujur pada dirinya—tidak bisa berubah. Kita menyebut diri bangsa besar tanpa definisi, memuja gotong royong tanpa mekanisme, memeluk Pancasila tanpa logika, merayakan masa lalu tanpa memilah mana yang diwariskan dan mana yang seharusnya dikremasi. Nietzsche pernah menulis bahwa bangsa yang tidak tahu bagaimana mengingat juga tidak tahu bagaimana melupakan. Kita tidak tahu melakukan keduanya. Kita menyimpan luka yang salah dan membuang pelajaran yang benar.
Penghalang kedua adalah struktur. Demokrasi membutuhkan institusi, tetapi institusi membutuhkan etika batin. Kita memiliki institusi dalam bentuk, tetapi tidak memiliki etika dalam isinya. Weber mungkin akan tersenyum sinis melihat bahwa birokrasi kita masih pralogis: lebih tunduk pada patronase dan perasaan daripada aturan impersonal. Selama institusi hanya dipakai sebagai ornamen modernitas, ia tidak akan mengubah watak siapa pun, ia hanya akan mempercapakannya.
Penghalang ketiga adalah psikologi sosial. Bangsa ini dibesarkan untuk menghindari konflik. Kita tidak pandai bertengkar dengan benar. Konflik dianggap ancaman, bukan klarifikasi. Akibatnya tidak ada pertarungan gagasan, yang ada hanya pertarungan citra. Demokrasi tanpa konflik intelektual hanya akan melahirkan oligarki yang memakai topeng partisipasi.
Dan karena itulah dua belas watak itu belum mati. Mereka belum menemukan musuh, belum menemukan rasa malu, belum menemukan struktur, belum menemukan trauma kolektif yang memaksa kita berhenti bercanda dan mulai bertanggung jawab. Sampai hari ini bangsa ini belum menjawab pertanyaan paling awal: apakah ia ingin menjadi dewasa, atau cukup puas menjadi anak bungsu sejarah yang selalu ditopang humor, improvisasi, dan keberuntungan? ( part 2 of 5 )

Posting Komentar
...