Articles by "Sosial Politik"

Tampilkan postingan dengan label Sosial Politik. Tampilkan semua postingan

     Nama Tan Malaka hari ini beredar seperti diskon musiman: muncul ramai, dielu-elukan, lalu perlahan menghilang setelah algoritma bosan. Kutipannya dipajang rapi, dipoles, diberi latar belakang estetik—siap dikonsumsi tanpa risiko. Seolah-olah gagasan bisa dipakai seperti parfum: cukup disemprotkan, lalu kita ikut harum oleh sejarah.

     Tidak ada yang benar-benar ingin tahu bagaimana kalimat-kalimat itu lahir.

     Tidak ada yang ingin terlalu lama membayangkan seorang manusia yang menulis sambil berpindah-pindah, menghindari penangkapan, hidup dari ketidakpastian yang tidak romantis sama sekali. Menulis bukan di kafe dengan colokan listrik dan Wi-Fi, tetapi di sela-sela kemungkinan ditangkap atau mati. Kertas bukan medium ekspresi, tapi medan pertaruhan. Pikiran bukan konten, tapi risiko.

     Membayangkan itu terlalu mahal. Terlalu mengganggu kenyamanan.

     Maka yang tersisa adalah versi jinaknya: kutipan yang sudah disterilkan dari konteks, dibagikan dengan penuh semangat, lalu diakhiri dengan ritual kecil yang sakral—melirik angka. Berapa yang suka, berapa yang membagikan, berapa yang mengomentari. Sebuah bentuk perenungan baru: refleksi yang diukur dalam notifikasi.

     Ada sesuatu yang nyaris lucu, jika tidak terasa tragis.

     Orang-orang mengutip Tan Malaka seolah sedang melanjutkan perjuangan. Padahal yang mereka lanjutkan mungkin hanya trafik. Mereka tidak sedang berhadapan dengan kekuasaan, hanya dengan sepi—dan bahkan sepi itu pun kini bisa diatasi dengan sedikit optimasi waktu unggah.

     Jika dulu kekuasaan harus repot-repot membungkam, hari ini tidak perlu. Tidak ada pelarangan buku yang dramatis, tidak ada pengasingan yang heroik. Cukup beri semua orang panggung kecil, sedikit perhatian, dan ilusi bahwa suara mereka penting. Sisanya akan berjalan otomatis.

     Algoritma bekerja lebih halus daripada polisi rahasia.

     Ia tidak menangkap siapa pun. Ia hanya mengarahkan, membelokkan, menghibur, lalu perlahan meninabobokan. Orang-orang tetap berbicara, tetap merasa kritis, tetap merasa melawan—tanpa pernah benar-benar keluar dari lingkaran yang sama. Mereka bergerak, tapi seperti roda hamster: cepat, lelah, dan tidak ke mana-mana.

     Dan di tengah semua itu, nama Tan Malaka terus dipanggil.

     Bukan untuk dihidupi, tapi untuk ditemani.

     Seperti jimat kecil yang digenggam agar terlihat berani, tanpa pernah benar-benar ingin berjalan di jalan yang ia tempuh. Karena di ujung jalan itu tidak ada panggung, tidak ada angka, tidak ada validasi—hanya kesunyian yang keras kepala, dan keberanian yang tidak bisa dipalsukan.

     Mungkin yang paling menggelisahkan bukan bahwa kita lupa.

     Tapi bahwa kita ingat—dengan cara yang begitu aman, begitu nyaman, sampai-sampai kehilangan alasan mengapa ia dulu harus berbahaya.

     Halal bi halal itu selalu terasa seperti sesuatu yang sederhana—terlalu sederhana, bahkan—sehingga kita jarang benar-benar berhenti untuk menatapnya lebih lama. Ia lewat setiap tahun, seperti angin yang hafal jalan pulang, membawa kalimat yang sama, gestur yang sama, dan mungkin juga rasa yang tidak selalu sama.

     Ia terdengar seperti istilah Arab, seolah punya akar yang dalam di tanah Timur Tengah. Tapi justru di situlah ia diam-diam menyimpan keunikannya: ia lahir di sini, tumbuh di antara gang-gang sempit, ruang tamu, aula kantor, hingga lapangan-lapangan tempat orang berkumpul tanpa banyak alasan selain ingin merasa kembali terhubung. “Halal” menjadi kata kunci—yang dilepaskan, yang dibolehkan, yang tidak lagi dibebani. Ketika diulang menjadi halal bi halal, ia seperti gema yang memantul: bukan hanya aku membebaskanmu, tapi kita saling membebaskan diri dari sesuatu yang mungkin sudah lama terlalu berat untuk terus dibawa.

     Namun yang benar-benar ada dari halal bi halal bukanlah kata-katanya. Ia tidak hidup dalam kamus, melainkan di antara manusia. Ia hadir dalam jeda kecil sebelum jabat tangan, dalam tatapan yang menghindar lalu kembali, dalam senyum yang sedikit dipaksakan tapi tetap diusahakan. Ia tidak memiliki tubuh, tapi kita bisa merasakannya—seperti udara lembap setelah hujan, tidak terlihat tapi menempel di kulit.

     Ia adalah ritus, tapi bukan ritus yang sepenuhnya sakral. Ia juga bukan sekadar kebiasaan duniawi. Ia berdiri di tengah-tengah, seperti jembatan bambu yang dibangun seadanya namun terus dilalui karena semua orang diam-diam tahu: kita perlu menyeberang.

     Dalam sejarahnya, ia tidak turun sebagai perintah yang kaku. Ia lebih mirip kesepakatan yang perlahan menemukan bentuknya sendiri. Sering disebut bahwa gagasan ini pernah disentuh oleh Wahid Hasyim, lalu dipopulerkan dalam konteks politik oleh Soekarno—sebagai cara meredakan ketegangan tanpa harus memperpanjang konflik. Sebuah jalan memutar yang khas: tidak langsung menyelesaikan masalah di pusatnya, tapi melembutkan tepi-tepinya sampai ia tidak lagi terasa tajam.

     Di titik itu, halal bi halal menjadi lebih dari sekadar tradisi. Ia berubah menjadi semacam teknologi sosial—cara halus untuk mengelola luka tanpa perlu membukanya terlalu lebar. Cara untuk mengatakan, “kita lanjut saja,” tanpa harus mengurai seluruh benang kusut yang ada.

     Seiring waktu, ia tumbuh. Dari ruang keluarga yang hangat dan penuh nama, ia merambah ke ruang-ruang institusional yang lebih dingin dan anonim. Di kantor, di sekolah, di organisasi, ia menjadi agenda. Disiapkan, dijadwalkan, kadang dipaksakan untuk terasa khidmat. Ada sambutan, ada konsumsi, ada barisan orang yang saling berjabat tangan seperti antrean panjang yang tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang ditunggu.

     Maknanya pun ikut bergeser. Ia tidak lagi selalu tentang hubungan personal, tapi tentang menjaga permukaan agar tetap tenang. Tentang memastikan tidak ada gelombang yang terlalu besar untuk mengganggu jalannya sistem.

     Di organisasi pencinta alam, misalnya, halal bi halal punya warna yang sedikit berbeda. Ia sering tidak berlangsung di ruang ber-AC atau aula dengan kursi tersusun rapi, tapi di tanah yang kadang masih basah oleh sisa hujan semalam. Di antara carrier yang belum dibersihkan, tali-temali yang digulung seadanya, dan sepatu yang masih menyimpan lumpur dari perjalanan terakhir.

     Di sana, orang-orang yang mungkin pernah berselisih di jalur pendakian—tentang keputusan rute, tentang ego yang muncul di ketinggian, tentang siapa yang merasa paling benar ketika badai datang—bertemu kembali dalam suasana yang lebih datar. Tidak selalu ada kata maaf yang diucapkan dengan jelas. Kadang hanya ada tawaran kopi panas dari kompor kecil, atau tepukan di bahu yang sedikit lebih lama dari biasanya.

     Dan anehnya, itu cukup.

     Seperti gunung yang tidak pernah benar-benar menyimpan dendam, mereka belajar bahwa konflik sering kali hanya bagian dari perjalanan, bukan sesuatu yang harus dibawa pulang terlalu lama. Halal bi halal di sana terasa lebih sunyi, tapi justru lebih jujur. Tidak banyak kata, tapi banyak yang dilepaskan.

     Lalu kita sampai pada fase yang lebih modern, di mana halal bi halal menjadi semakin ringan—atau mungkin terlalu ringan. Ia hadir dalam pesan berantai, dalam unggahan media sosial, dalam kalimat “mohon maaf lahir dan batin” yang dikirim ke ratusan kontak sekaligus. Tidak ada lagi tatapan, tidak ada jeda, tidak ada canggung. Semua menjadi cepat, efisien, dan sedikit kosong.

     Seperti kata yang terlalu sering diucapkan hingga kehilangan beratnya sendiri.

     Namun ia tidak hilang.

     Di balik semua formalitas dan repetisi itu, halal bi halal tetap menyisakan ruang kecil untuk sesuatu yang nyata. Dalam satu keramaian, bisa saja ada dua orang yang benar-benar sedang menyelesaikan sesuatu yang selama ini mengendap. Dalam satu barisan panjang, bisa saja ada satu jabat tangan yang terasa berbeda—lebih hangat, lebih lama, lebih jujur.

     Mungkin di situlah ia bertahan.

     Karena pada akhirnya, halal bi halal memperlihatkan sesuatu yang agak ganjil tentang manusia: kita membutuhkan momen kolektif untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya bisa kita lakukan kapan saja. Meminta maaf. Mengakui kesalahan. Melepaskan beban.

     Tapi kita jarang melakukannya sendirian.

Kita butuh kalender. Kita butuh tradisi. Kita butuh keramaian sebagai tameng kecil dari rasa malu.

     Dan di antara semua itu, ketika kebisingan mulai mereda, tersisa satu momen yang sederhana—dua manusia yang berhenti sejenak dari keinginan untuk menjadi benar, lalu memilih sesuatu yang lebih ringan.

     Menjadi lega.

     Ada satu jenis keyakinan yang tumbuh subur di zaman ini: keyakinan bahwa membaca satu kutipan sudah cukup untuk memahami dunia. Ia ringan, praktis, dan sangat efisien—seperti mie instan, tapi dengan konsekuensi geopolitik.

     “Bila ingin damai, bersiaplah untuk perang.” Kalimat itu sering dipanggil ke panggung diskusi dengan penuh percaya diri, seolah ia baru saja lahir dari kepala Samuel P. Huntington. Padahal, jauh sebelum ia menjadi bahan debat WhatsApp dan caption media sosial, seorang penulis Romawi bernama Vegetius sudah lebih dulu menuliskannyasi vis pacem, para bellum. Tapi memang, sejarah selalu kalah populer dibanding potongan kalimat yang terdengar tegas.

     Di tangan Huntington, terutama melalui The Clash of Civilizations, kalimat itu menjelma menjadi semacam ramalan dingin: dunia tidak lagi bertarung karena ideologi, tapi karena identitas. Peradaban saling mengintai, bukan untuk memahami, tapi untuk memastikan siapa yang lebih dulu tersinggung. Sebuah tesis yang terasa masuk akal—terutama jika kita memang sudah berangkat dengan kecurigaan.

     Lalu datanglah para penjaga moral yang dengan cepat menyatakan: konsep seperti itu 'liberal' tidak sesuai dengan sunah. Sebuah pernyataan yang terdengar tegas, bersih, dan—kalau boleh jujur—sedikit terlalu nyaman. Seolah sejarah bisa dipilih seperti menu prasmanan: bagian yang damai diambil, bagian yang berdarah ditinggalkan di sudut meja.

     Padahal, jika kita cukup sabar membuka halaman demi halaman, kita akan menemukan sesuatu yang sedikit lebih rumit. Tradisi keagamaan, termasuk yang paling sering diklaim sebagai sumber damai, tidak pernah sepenuhnya steril dari konflik. Ia mengenal perang, mengenal strategi, bahkan mengenal kebutuhan untuk bersiap. Bukan karena ia haus darah, tapi karena ia hidup di dunia yang tidak pernah sepenuhnya jinak.

     Di titik ini, Karen Armstrong lewat Holy War seperti datang membawa cermin—dan cermin itu tidak terlalu ramah. Ia menunjukkan bahwa apa yang kita sebut “perang suci” seringkali hanyalah perang biasa yang diberi pakaian religius. Tuhan dipinjam untuk membungkus ambisi, dan manusia, seperti biasa, cukup kreatif untuk meyakini kemasannya.

     Ironinya, sebagian orang membaca realitas ini lalu berkata, “lihat, Huntington benar.” Sebagian lain menolak keras, “tidak, ini semua salah tafsir.” Keduanya berdiri di sisi berlawanan, tapi berbagi satu kebiasaan yang sama: menyederhanakan.

     Yang satu menganggap konflik sebagai takdir yang tak terelakkan. Yang lain menganggap damai sebagai sesuatu yang bisa dicapai hanya dengan niat baik dan beberapa kutipan bijak. Keduanya terdengar meyakinkan—sampai realitas datang dengan caranya yang tidak sopan.

     Di Timur Tengah hari ini, misalnya, konflik tidak pernah benar-benar dimulai dari satu kalimat, satu ayat, atau satu teori. Ia adalah akumulasi panjang dari luka, kepentingan, identitas, dan kekuasaan. Tapi tentu saja, semua itu terlalu rumit untuk diringkas dalam satu status. Maka yang tersisa adalah potongan-potongan kecil yang dipelintir menjadi kebenaran utuh.

     Dan di sinilah kita menemukan bentuk lain dari kesiapan perang: bukan kesiapan militer, tapi kesiapan untuk salah paham. Orang-orang bersenjata kutipan, berbaris dengan keyakinan setengah matang, dan saling melemparkan potongan teks seperti batu. Tidak ada yang benar-benar membaca, tapi semua merasa cukup memahami untuk menghakimi.

     Mungkin yang paling menggelikan bukanlah konflik itu sendiri, tapi kepercayaan diri yang menyertainya. Keyakinan bahwa dengan satu dua referensi, seseorang sudah bisa menilai mana yang sesuai sunah dan mana yang tidak. Seolah-olah tradisi yang berusia berabad-abad bisa diperas menjadi satu kalimat, lalu diselesaikan dalam satu paragraf.

     Pada akhirnya, persoalannya bukan pada Huntington, bukan pada sunah, bahkan bukan pada perang. Persoalannya adalah pada cara kita memahami—atau lebih tepatnya, cara kita merasa telah memahami.

     Karena seringkali, perang tidak dimulai dari kebencian.

     Ia dimulai dari kesederhanaan yang dipaksakan pada sesuatu yang seharusnya dipahami dengan kerendahan hati.

     “Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa.” Kalimat itu ditulis oleh Milan Kundera dalam novelnya The Book of Laughter and Forgetting, lahir dari pengalaman hidup di bawah bayang-bayang rezim yang tidak hanya mengatur langkah kaki manusia, tetapi juga mencoba mengatur apa yang boleh diingat oleh pikirannya. Ia tidak menulisnya sebagai seruan, melainkan sebagai semacam kesimpulan yang sunyi—seperti seseorang yang sudah terlalu lama menyaksikan bagaimana sejarah bisa diubah tanpa suara tembakan.

     Kekuasaan memang sering tampil dengan wajah yang keras: senjata, aparat, larangan, dan hukuman. Namun itu hanya permukaan. Senjata bisa melumpuhkan tubuh, tetapi waktu tetap berjalan, dan ingatan diam-diam mengumpulkan serpihannya sendiri. Di situlah kekuasaan belajar menjadi lebih halus. Ia tidak lagi sekadar memaksa, tetapi mulai menyunting.

     Ia menyunting masa lalu.

     Dalam banyak kisah sejarah, kita menemukan pola yang hampir berulang seperti kebiasaan lama: tokoh-tokoh yang dulu dielu-elukan tiba-tiba menghilang dari buku pelajaran; foto-foto lama dipotong, menyisakan ruang kosong yang tak pernah dijelaskan; arsip dikunci rapat, atau lebih buruk—ditulis ulang dengan bahasa yang lebih “rapi”. Bahkan kata-kata perlahan digeser maknanya, sehingga orang bukan hanya lupa pada peristiwa, tetapi juga kehilangan cara untuk menyebutnya.

     Sebuah bangsa bisa dibuat lupa bahwa ia pernah memiliki keberanian. Bahwa pernah ada masa ketika orang-orang biasa berani mengatakan tidak. Bahwa pernah ada kemungkinan lain selain kenyataan yang sekarang tampak tak terelakkan.

     Di titik itu, kalimat Kundera menjadi semacam pisau kecil yang tajam. Ia mengingatkan bahwa perlawanan tidak selalu berwujud teriakan atau kerumunan. Ada bentuk lain yang lebih sepi, tetapi tidak kalah penting: menjaga ingatan tetap hidup.

Mengingat bahwa sesuatu memang pernah terjadi, meskipun kini disangkal.
Mengingat bahwa ada suara yang pernah menolak, meskipun kini dibungkam.
Mengingat bahwa dunia ini pernah membuka lebih dari satu kemungkinan jalan.

     Ingatan tidak tinggal di satu tempat. Ia tidak sepenuhnya bisa ditangkap oleh negara, tidak seluruhnya bisa disita oleh kekuasaan. Ia menyelinap ke dalam cerita-cerita keluarga yang diceritakan berulang di meja makan; ia hidup dalam catatan kecil yang disembunyikan di antara buku-buku lama; ia bernafas dalam lagu, dalam puisi, dalam percakapan larut malam yang tak pernah tercatat oleh arsip resmi. Bahkan dalam diam, ia tetap bekerja.

     Mungkin karena itu, yang paling membuat kekuasaan gelisah bukanlah senjata, melainkan orang-orang yang terus mengingat. Orang-orang yang menyimpan dokumen, yang menulis ulang kisah yang dilupakan, yang bersikeras bahwa apa yang pernah terjadi tidak bisa dihapus hanya karena tidak lagi diakui.

     Lupa memberi ilusi keabadian. Seolah-olah kekuasaan selalu seperti ini, selalu wajar, selalu tak tergoyahkan.
Ingatan, sebaliknya, membuka retakan. Ia menunjukkan bahwa segala sesuatu pernah dimulai—dan karena itu, mungkin saja berakhir.

     Sejarah, jika dilihat tanpa kepentingan untuk merapikannya, adalah pertarungan panjang antara dua arus itu. Di satu sisi, manusia yang berusaha mengikat pengalaman ke dalam ingatan. Di sisi lain, kekuasaan yang tak pernah lelah mencoba menuliskannya kembali.

     Kadang ingatan memang kalah. Ia terhapus, terkubur, atau dibiarkan membusuk dalam kesunyian yang terlalu lama.

     Namun selama masih ada satu orang yang mengingat—dengan jujur, dengan keras kepala—maka cerita itu belum benar-benar selesai.

     Di negeri tropis yang kaya warna ini, baik dan buruk tidak pernah benar-benar berkelahi. Mereka duduk satu meja, memesan es teh manis, lalu sepakat untuk saling mengerti. Hitam terlalu tegas. Putih terlalu menyinggung. Maka lahirlah warna paling diplomatis sepanjang sejarah: abu-abu. Warna yang tidak pernah salah, karena ia tidak pernah cukup jelas untuk bisa dipersalahkan.

     Kita pandai sekali merawat wilayah kabur itu. Ketika ada kebijakan publik yang setengah matang, kita bilang, “ya namanya juga proses.” Ketika ada pejabat tersandung perkara, kita bisikkan, “semua orang juga begitu.” Ketika janji kampanye berubah menjadi akrobat administratif, kita menonton seperti pertandingan hiburan. Moralitas tidak dibuang; ia hanya diperlunak, dipijat, lalu diajak kompromi demi suasana yang tetap kondusif.

     Di ruang tamu, televisi menyiarkan gosip selebritas dengan kesungguhan yang hampir religius. Di layar ponsel, orang berlari pagi sambil berjoget, memamerkan keringat yang disunting menjadi estetika. Di sudut lain, foto gelas retak diunggah dengan kalimat, “bahagia itu sederhana.” Gelasnya memang retak, tapi sudut pengambilannya tepat, cahayanya hangat, dan retaknya terlihat seperti metafora yang bisa dimonetisasi. Retak menjadi konten. Konten menjadi penenang. Penenang menjadi budaya.

     Sementara itu, program makan bergizi gratis—yang semestinya terdengar seperti utopia—berjalan dengan irama yang lebih mirip orkestra tanpa konduktor. Anggaran berdebat dengan realitas, birokrasi menari dengan logika sendiri. Namun rakyat tetap bekerja, tetap bercanda, tetap antre di minimarket. Seolah ada kesepakatan diam-diam: selama nasi masih mengepul di piring masing-masing, negara boleh sedikit gagap.

     Para penguasa membaca situasi ini dengan lega. Rakyat tampak baik-baik saja. Tidak ada lautan massa di jalan. Tidak ada teriakan panjang yang memecah kaca gedung. Timeline media sosial lebih ramai oleh tren tarian daripada telaah kebijakan. Maka disimpulkanlah sebuah teori sosial yang sangat nyaman: kebahagiaan rakyat adalah indikator keberhasilan. Jika orang masih bisa tertawa, berarti sistem bekerja.

     Padahal tertawa kadang hanya cara paling murah untuk bertahan.

     Di negeri abu-abu, protes sering berubah menjadi lelucon. Kritik menjadi meme. Kemarahan dikemas dalam humor agar tidak terlalu menyakitkan saat ditelan. Kita menyamarkan kegelisahan dengan ironi, lalu menyebutnya kearifan lokal. Harmoni dijaga seperti pusaka, meski kadang yang dijaga sebenarnya hanyalah ketenangan permukaan.

     Yang menarik, masyarakat kita bukan tidak tahu membedakan benar dan salah. Kita hanya sangat terampil menunda konfrontasi. Kita ahli dalam seni mengangguk sambil menyimpan catatan. Kita mampu berkata, “sudah lah,” sambil diam-diam mengingat. Abu-abu bukan kebodohan; ia sering kali strategi. Tetapi strategi yang terlalu lama dipakai bisa berubah menjadi kebiasaan. Dan kebiasaan yang tak dikritik perlahan menjadi karakter nasional.

     Maka lahirlah generasi yang bisa membahas filsafat moral di warung kopi, lalu menutup diskusi dengan kalimat, “yang penting kita bahagia.” Bahagia menjadi mantra. Ia ditempel di dinding, dijadikan caption, dijual dalam seminar motivasi. Seolah kebahagiaan pribadi cukup untuk menebus kekacauan publik. Seolah selama kita bisa tersenyum di foto profil, negara otomatis sedang baik-baik saja.

     Padahal gelas retak tetaplah gelas retak. Ia bisa dipakai, benar. Tapi setiap kali diisi, ada risiko bocor. Retaknya kecil, mungkin. Namun jika semua orang pura-pura tidak melihatnya, suatu hari airnya habis tanpa pernah kita sadari.

     Abu-abu memberi ruang bernapas. Ia lentur, ia toleran, ia tidak tergesa-gesa menghukum. Tetapi jika segala hal dibiarkan kabur, maka tanggung jawab pun ikut kabur. Dan ketika tanggung jawab kabur, yang tersisa hanyalah estetika kebahagiaan.

     Kita mungkin memang bangsa yang sabar. Namun sejarah menunjukkan kesabaran juga punya titik jenuh. Gelombang laut tampak tenang berbulan-bulan, lalu dalam satu malam ia berubah arah. Negeri ini berkali-kali membuktikan bahwa di balik tawa santai, ada ingatan panjang.

     Jadi mungkin benar: bahagia itu sederhana. Tetapi mempertahankan negeri agar tidak tenggelam dalam abu-abu yang terlalu nyaman, itu tidak pernah sederhana. Dan suatu hari nanti, ketika warna harus dipilih, kita akan tahu apakah selama ini kita sedang dewasa—atau sekadar pandai berdamai dengan kabut.

     Dalam dunia penelitian, kesalahan adalah bagian dari napas pengetahuan. Seorang peneliti boleh keliru, boleh salah membaca data, boleh membuat hipotesis yang kemudian runtuh oleh eksperimen berikutnya. Sejarah ilmu penuh dengan kesalahan semacam itu. Tetapi ada satu garis yang tidak boleh dilintasi: kebohongan. Jika data dipalsukan, jika hasil direkayasa, maka seluruh bangunan pengetahuan runtuh. Ilmu tidak menuntut peneliti menjadi manusia yang selalu benar, tetapi ia menuntut kejujuran radikal. Kesalahan masih bisa diperbaiki oleh peneliti lain. Kebohongan meracuni seluruh jaringan kepercayaan.

     Politik berdiri di panggung yang berbeda. Politisi hidup dalam arena persepsi, bukan dalam laboratorium verifikasi. Yang mereka kelola bukan data, melainkan keyakinan publik. Karena itu kebohongan sering menjadi alat retorika: janji yang dibesar-besarkan, narasi yang dipoles, kenyataan yang dipilih sebagian. Anehnya, publik sering masih memaafkan itu. Yang tidak dimaafkan adalah kesalahan yang tampak nyata—kebijakan gagal, strategi yang salah langkah, keputusan yang membuat negara tersandung. Politisi bisa selamat dari tuduhan tidak jujur, tetapi jarang selamat dari citra “tidak kompeten”.

     Di satu sisi, peneliti bekerja dalam ekosistem koreksi: kritik, replikasi, peer review. Kesalahan di sana seperti batu kecil di sungai; arus pengetahuan perlahan akan menggesernya. Di sisi lain, politisi bekerja dalam ekosistem persepsi: opini, media, emosi massa. Di sana yang berbahaya bukan batu kecil, melainkan kesan bahwa nahkoda tidak tahu arah.

     "Peneliti boleh salah tapi tidak boleh bohong, Politisi boleh bohong tapi tidak boleh salah" seperti lelucon pahit tentang dua profesi yang sama-sama berpengaruh besar terhadap dunia, tetapi dijaga oleh standar moral yang berbeda. Ilmu menuntut kejujuran bahkan ketika ia salah. Politik menuntut ketepatan bahkan ketika ia tidak sepenuhnya jujur.

     Dan di antara keduanya, masyarakat sering berdiri kebingungan: mempercayai politisi yang pandai berbicara, sambil kadang mencurigai peneliti yang terlalu jujur mengakui ketidaktahuannya. Ironi kecil yang membuat sejarah manusia terus berputar—seperti kompas yang kadang menunjuk utara, kadang hanya menunjuk arah yang paling meyakinkan.

     Ada satu keyakinan yang sangat populer di dunia modern: manusia adalah makhluk rasional. Kalimat ini sering diulang dengan nada bangga, seolah-olah kita baru saja menemukan mahkota kemuliaan spesies kita sendiri. Universitas mengajarkannya, buku filsafat mengukuhkannya, pidato-pidato publik memeliharanya dengan penuh rasa hormat.

     Namun siapa pun yang cukup lama mengamati kehidupan sosial manusia biasanya akan menemukan sesuatu yang sedikit janggal.

     Manusia memang menyukai gagasan tentang rasionalitas. Tetapi mereka tidak terlalu menyukai orang yang benar-benar menggunakannya.

     Ada perbedaan halus antara keduanya. Perbedaan ini jarang dibicarakan secara terang-terangan, karena jika diucapkan dengan jujur ia akan terdengar agak memalukan.

     Rasionalitas adalah slogan yang sangat indah. Ia memberi kesan bahwa masyarakat dibangun di atas pertimbangan yang matang, diskusi yang terbuka, dan keberanian menghadapi kebenaran. Tetapi orang yang benar-benar berpikir sering memiliki kebiasaan yang sangat tidak praktis: mereka bertanya pada saat yang tidak tepat.

     Misalnya dalam sebuah rapat yang hampir selesai.

     Semua orang sudah sepakat. Wajah-wajah tampak lega. Kata-kata besar seperti “kemajuan”, “kebaikan bersama”, atau “kesepahaman” sudah beredar dengan nyaman di udara. Segala sesuatu berjalan menuju akhir yang tenang.

     Lalu seseorang mengangkat tangan dan berkata: “Maaf, saya belum yakin ini masuk akal.”

     Kalimat seperti itu memiliki efek yang sangat aneh. Ia tidak menghancurkan meja, tidak mengganggu listrik, tidak membuat keributan. Tetapi tiba-tiba ruangan menjadi dingin.

     Orang yang mengucapkannya biasanya tidak langsung dimusuhi. Ia hanya diberi beberapa pandangan yang halus, semacam tatapan yang berkata: mengapa kamu harus mempersulit keadaan.

     Dalam masyarakat yang sehat, kata “berpikir” selalu dipuji. Dalam masyarakat yang nyata, kata “terlalu banyak berpikir” sering digunakan sebagai teguran.

     Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Ia sudah menjadi kebiasaan lama manusia, bahkan sejak zaman yang sangat jauh.

     Di Athena kuno pernah hidup seorang lelaki yang memiliki hobi bertanya. Namanya Socrates. Ia tidak memiliki jabatan penting, tidak mendirikan lembaga besar, bahkan tidak menulis buku yang bisa dijual di toko.

     Ia hanya melakukan satu kegiatan yang ternyata sangat mengganggu: ia mengajak orang berpikir tentang apa yang mereka katakan.

     Ia bertanya kepada para politisi tentang keadilan. Ia bertanya kepada para penyair tentang kebenaran. Ia bertanya kepada para pemuda tentang kebajikan. Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sopan, tetapi memiliki sifat yang agak merusak. Ia membuka kemungkinan bahwa banyak orang sebenarnya tidak terlalu memahami hal-hal yang mereka ucapkan dengan penuh keyakinan.

     Athena, yang terkenal sebagai kota demokrasi dan kebijaksanaan, akhirnya menemukan cara yang sangat elegan untuk menyelesaikan masalah intelektual itu. Mereka menuduhnya merusak pemuda dan tidak menghormati dewa-dewa kota. Lalu, dengan prosedur hukum yang sangat rapi, mereka membungkam lelaki yang terlalu banyak bertanya itu dengan secangkir racun hemlock.

     Demokrasi Athena, yang begitu bangga pada rasionalitasnya, rupanya memiliki toleransi terbatas terhadap orang yang terlalu serius menggunakan akal.

     Beberapa abad kemudian, seorang astronom dari Polandia melakukan kesalahan yang hampir sama. Nicolaus Copernicus memeriksa langit dengan terlalu serius. Setelah menghitung dengan sabar, ia sampai pada kesimpulan yang agak tidak sopan: bumi bukan pusat alam semesta.

     Masalahnya bukan pada matematika. Masalahnya pada psikologi manusia.

     Selama ribuan tahun manusia hidup dengan gagasan yang sangat nyaman bahwa mereka berada di tengah panggung kosmik. Segala sesuatu berputar mengelilingi mereka dengan kesetiaan astronomis.

     Copernicus tiba-tiba berkata bahwa kita sebenarnya hanya salah satu benda kecil yang ikut berputar mengelilingi matahari.

     Sulit membayangkan cara yang lebih efektif untuk melukai harga diri spesies manusia.

     Nicolaus Copernicus sendiri cukup beruntung. Ia meninggal tepat ketika bukunya De revolutionibus orbium coelestium terbit, seolah-olah sejarah memberinya waktu yang sangat tepat untuk menghindari keributan besar yang akan datang.

     Namun gagasannya tidak seberuntung itu. Otoritas religius yang berkuasa kemudian memasukkan teori heliosentris ke dalam daftar ajaran berbahaya. Langit, ternyata, juga memiliki birokrasi yang tidak terlalu ramah terhadap orang yang berpikir terlalu jauh.

     Untungnya waktu memiliki sifat yang menenangkan. Beberapa abad kemudian manusia akhirnya menerima gagasan itu dengan tenang. Bahkan sekarang kita mengajarkannya kepada anak-anak sekolah sebagai bukti kemajuan sains.

     Ini adalah salah satu trik favorit sejarah: ia selalu memuliakan para pemikir setelah mereka mati. Sementara ketika mereka masih hidup, keadaannya sering sedikit berbeda.

     Beberapa abad setelah Copernicus, seorang filsuf Jerman bernama Friedrich Nietzsche mengamati masyarakat Eropa dengan rasa geli yang tipis. Ia melihat manusia modern berbicara dengan sangat percaya diri tentang moralitas, kebenaran, dan kebajikan.

     Nietzsche memiliki kebiasaan buruk: ia memeriksa asal-usul hal-hal yang dianggap suci. Dan hasilnya ternyata tidak terlalu menyenangkan.

     Ia menemukan bahwa banyak nilai moral ternyata tumbuh dari ketakutan, kebiasaan kawanan, dan kebutuhan manusia untuk merasa benar bersama-sama. Moralitas yang terlihat luhur sering kali hanyalah cara yang sopan untuk mengatakan: jangan berbeda dari yang lain.

     Gagasan seperti ini tidak selalu diterima dengan hangat. Manusia sangat menghargai kebebasan berpikir, selama kebebasan itu tidak menyentuh hal-hal yang mereka anggap terlalu penting.

      Cerita yang sama bahkan muncul dalam dunia spiritual, yang sering dianggap wilayah paling murni dari kehidupan manusia.

     Seorang perempuan sufi bernama Rabiah al-Adawiyya pernah mengatakan bahwa ia mencintai Tuhan bukan karena takut neraka atau berharap surga.

     Kalimat ini tampak sangat indah. Namun bagi banyak sistem religius, ia memiliki implikasi yang cukup merepotkan. Jika manusia benar-benar mencintai Tuhan tanpa imbalan, maka seluruh mekanisme pahala dan hukuman tiba-tiba kehilangan sebagian besar kekuatannya.

     Cinta yang bebas selalu sedikit berbahaya bagi sistem yang ingin mengatur manusia dengan rapi.

     Beberapa abad kemudian, Jalal ad-Din Rumi menulis puisi-puisi yang bahkan lebih sulit dijaga oleh penjaga ortodoksi. Ia berbicara tentang Tuhan yang terlalu luas untuk dipenjara oleh batas identitas manusia.

     Puisi-puisi itu sekarang dikutip dengan penuh kekaguman di seluruh dunia. Untunglah para penyair biasanya lebih aman setelah mereka menjadi legenda.

     Di dunia politik, keadaan sering sedikit lebih kasar.

     Tan Malaka menghabiskan hidupnya sebagai seseorang yang selalu terlalu sulit dipelihara oleh kekuasaan mana pun. Ia membaca terlalu banyak, berpikir terlalu jauh, dan memiliki kebiasaan buruk: ia tidak sepenuhnya percaya pada narasi resmi.

     Ia menulis dengan semangat yang terlalu sulit ditoleransi oleh berbagai rezim. Buku-bukunya—seperti gagasan-gagasannya—pernah lama dilarang beredar dan dibaca pada masa Orde Baru, seakan-akan sebuah bangsa bisa dilindungi dari pemikiran hanya dengan menutup halaman buku.

     Akibatnya hidupnya lebih sering diisi pengasingan daripada upacara penghormatan.

     Pramoedya Ananta Toer mengalami nasib yang bahkan lebih dramatis. Ia dipenjara tanpa pengadilan. Ia menulis cerita tentang manusia, sejarah, dan kekuasaan. Karya-karyanya juga dilarang beredar oleh rezim Orde Baru, seolah-olah cerita tentang manusia dan sejarah bisa menjadi ancaman bagi stabilitas negara.

     Buku memiliki sifat yang aneh. Ia tidak berteriak, tidak berbaris di jalanan, tidak membawa senjata. Tetapi kadang-kadang ia membuat orang berpikir.

     Dan berpikir selalu memiliki reputasi yang agak mencurigakan.

     Seorang mahasiswa bernama Soe Hok Gie menulis kegelisahannya dengan kejujuran yang hampir naif. Ia hidup di tengah zaman yang penuh slogan revolusi, tetapi terlalu cepat melihat bagaimana idealisme bisa berubah menjadi kemunafikan yang rapi.

     Ia akhirnya memeluk akhir hidupnya di lereng Mahameru—gunung yang sering ia kunjungi untuk mencari udara yang lebih jujur—dengan keyakinan yang pernah ia tulis sendiri: lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.

     Generasi yang sama sering kali juga memiliki hubungan yang agak tegang dengan mahasiswa yang terlalu kritis.

     Sejarah memiliki selera humor yang sangat halus. Ia membangun patung bagi para pemikir masa lalu, lalu merasa sedikit tidak nyaman ketika pemikir baru muncul di depan mata.

     Dalam pidato-pidato resmi kita sering mendengar bahwa masyarakat membutuhkan pemikiran kritis. Kalimat ini terdengar sangat mulia. Ia memberi kesan bahwa peradaban berdiri di atas keberanian intelektual.

     Namun dalam praktik sehari-hari, pemikiran kritis sering kali diterjemahkan dengan cara yang lebih sederhana: berpikirlah dengan bebas, selama kesimpulanmu tidak terlalu berbeda dari yang sudah disepakati.

     Ini adalah bentuk kompromi yang sangat manusiawi.

Kita ingin kemajuan, tetapi tanpa gangguan.
Kita ingin kebenaran, tetapi tanpa kegelisahan.
Kita ingin pemikir, tetapi yang cukup sopan untuk tidak terlalu mengganggu ketenangan bersama.

     Masalahnya hanya satu. Pikiran yang benar-benar hidup jarang memiliki sopan santun semacam itu.

     Si bisu memberi kabar kepada si tuli, tentang si buta yang melihat si lumpuh berjalan. Kalimat itu seperti potongan teater absurd yang sangat jujur tentang manusia. Di panggung itu tidak ada yang benar-benar melihat, tidak ada yang benar-benar mendengar, namun cerita tetap beredar dengan percaya diri. Itulah manusia: makhluk yang hidup dari cerita, bahkan ketika cerita itu berputar-putar seperti kompas yang jarumnya patah.

     Perang di Timur Tengah selalu melahirkan badai cerita semacam ini. Peluru terbang di udara, tetapi narasi terbang lebih cepat. Kadang terasa seperti pasar malam metafisika: semua orang menjual kebenaran dengan pengeras suara yang rusak.

     Ada yang berkata dengan yakin bahwa Tuhan bersama pihak mereka. Lalu roket jatuh, seorang pemimpin gugur, dan seketika narasi bergeser dengan elegan: Tuhan memang bersama mereka, tetapi kemenangan tidak selalu berarti selamat dari kematian.

     Lima menit sebelumnya, hidup adalah bukti restu ilahi. Lima menit kemudian, mati juga bukti restu ilahi.

     Tuhan tampaknya sangat fleksibel dalam logika manusia.

     Ada pula narasi yang lebih kuno, hampir seperti peninggalan fosil teologi: siapa yang benar-benar Muslim, siapa yang bukan. Seolah perang itu kompetisi kartu identitas metafisik. Seolah bom dan drone berhenti sejenak untuk memeriksa mazhab korban.

     Di satu sisi ada yang berkata: Syiah bukan Islam. Di sisi lain ada yang berkata: Mereka mati sebagai syahid.

     Lucunya, kedua kalimat itu kadang diucapkan oleh orang yang sama—hanya berbeda hari, berbeda audiens, berbeda kebutuhan emosi.

     Politik menambah lapisan absurditas yang lain. Negara berbicara tentang keamanan, tetapi keamanan selalu berarti keamanan mereka sendiri. Rakyat berbicara tentang tanah leluhur, sementara garis peta terus berubah seperti pasir yang tertiup angin. Di ruang diplomasi, kata “perdamaian” sering terdengar seperti iklan sabun: wangi, tetapi licin.

     Sementara itu di internet, manusia menemukan panggung baru untuk homo narrans—manusia yang tidak tahan hidup tanpa cerita. Video sepuluh detik berubah menjadi bukti sejarah. Potongan foto menjadi dakwaan moral. Dan setiap orang tiba-tiba menjadi analis geopolitik, ahli tafsir kitab suci, sekaligus juru bicara Tuhan.

     Di sana muncul narasi-narasi yang hampir seperti lelucon kosmik:

     Ada yang berkata Tuhan melindungi kota suci mereka—lalu kota itu hancur oleh rudal. Maka dijelaskan bahwa kehancuran adalah ujian iman.

     Ada yang berkata musuh mereka pasti dihukum Tuhan—lalu musuh itu justru semakin kuat. Maka dijelaskan bahwa Tuhan memberi waktu sebelum hukuman.

     Jika suatu hari mereka menang, itu mukjizat. Jika kalah, itu rencana misterius.

     Dalam logika seperti itu, realitas menjadi seperti tanah liat: selalu bisa dibentuk ulang agar cocok dengan keyakinan awal.

     Ada juga narasi yang lebih duniawi, tetapi tidak kalah dramatis. Perang disebut sebagai perjuangan suci, padahal di baliknya ada pipa gas, jalur perdagangan, dan keseimbangan kekuatan regional. Kadang terdengar seperti duel para nabi, padahal sebenarnya lebih mirip permainan catur para jenderal.

     Agama memberi bahasa yang agung.
     Politik memberi motif yang sangat manusiawi.

     Keduanya sering bercampur seperti kopi pahit dengan gula yang terlalu banyak.

     Yang paling ganjil justru terjadi jauh dari medan perang. Orang-orang yang tidak pernah mendengar sirene bom berbicara paling keras tentang keberanian dan pengorbanan. Mereka menulis kalimat heroik dari sofa empuk, sambil menyeru orang lain untuk mati demi kehormatan.

     Sejarah manusia penuh adegan seperti ini: para pahlawan dilahirkan oleh pidato orang lain.

     Di tengah semua itu, kadang satu ironi kecil muncul seperti cahaya tipis. Semua pihak yakin Tuhan ada di pihak mereka. Tuhan, jika kita bayangkan sebagai penonton, mungkin sedang menyaksikan manusia bertengkar sambil memegang kitab yang sama-sama mereka klaim sebagai pesan-Nya.

     Dan manusia terus bercerita.

     Mungkin karena tanpa cerita kita akan terlalu cepat melihat kenyataan yang lebih sunyi: bahwa perang sering kali bukan pertarungan kebenaran melawan kesalahan, melainkan pertarungan cerita melawan cerita. Cerita tentang identitas, cerita tentang tanah, cerita tentang sejarah yang disunting ulang berkali-kali.

     Cerita memberi makna pada kematian. Tanpa itu, kematian di medan perang hanya menjadi statistik yang dingin.

     Di titik itulah manusia memilih tetap menjadi homo narrans. Kita menenun kisah bahkan dari serpihan tragedi. Kadang kisah itu membuat kita tertawa pahit. Kadang membuat kita marah. Kadang membuat kita merasa lebih benar daripada orang lain.

     Namun sesekali, jika kita diam cukup lama, kita melihat sesuatu yang lebih sederhana: di bawah semua narasi besar itu, yang mati tetap manusia. Yang kehilangan anak tetap manusia. Yang pulang dengan tubuh hancur tetap manusia.

     Dan cerita—betapapun megahnya—tidak pernah benar-benar bisa menambal lubang yang ditinggalkan peluru.

     Mungkin itu sebabnya kalimat di awal terasa begitu pas. Dunia kadang benar-benar seperti percakapan antara si bisu, si tuli, si buta, dan si lumpuh. Semua berusaha menjelaskan realitas yang tidak sepenuhnya mereka lihat.

     Namun cerita tetap berjalan.

     Karena bagi manusia, berhenti bercerita kadang lebih menakutkan daripada perang itu sendiri.

      Ada masa ketika kemarahan terasa jernih. Ketika seorang mahasiswa berdiri di tengah kabut politik dan berkata ingin merdeka, ia tahu betul siapa yang sedang ia lawan. Negara yang menua dalam otoritarianisme. Kekuasaan yang membatu. Aparat yang berseragam, jelas bentuknya. Musuh bisa ditunjuk.

     Soe Hok Gie berdiri di zaman itu. Ia menolak menjadi bagian dari massa yang mabuk slogan. Ia menolak diam ketika banyak orang memilih aman. Baginya, merdeka bukan sekadar lepas dari kolonialisme, bukan pula sekadar mengganti rezim. Merdeka adalah keberanian untuk tetap berpikir ketika arus ingin menyeret kita menjadi gema.

     Pertanyaannya sekarang memang terasa getir: apakah teriakan itu masih punya gema di zaman ketika orang tak lagi sibuk membela benar atau salah, melainkan sibuk membela atensi?

     Dulu, ketidakadilan berwajah keras. Hari ini, ia sering berwajah algoritma. Dulu orang takut pada tentara. Sekarang orang takut pada sepi. Pada tidak dilihat. Pada tidak viral. Pada tenggelam di lautan konten yang terus menggulung. Kita hidup di ekosistem di mana perhatian adalah mata uang, dan martabat sering ditukar dengan klik.

     Platform seperti Meta Platforms (induk dari Facebook dan Instagram) tidak pernah secara eksplisit meminta siapa pun menjadi badut digital. Tetapi sistem insentifnya begitu halus dan efektif. Ia memberi gula pada yang paling cepat menarik perhatian, bukan pada yang paling dalam berpikir. Akhirnya lahirlah generasi yang tidak lagi bertanya “apa yang benar?”, melainkan “apa yang laku?”

     Di sini letak pergeseran psikologisnya.

     Psikologi lama—yang melahirkan eksistensialisme—berangkat dari kesadaran akan absurditas, keterasingan, dan tanggung jawab personal. Jean-Paul Sartre berbicara tentang kebebasan sebagai beban. Albert Camus menulis tentang pemberontakan sebagai cara menjaga martabat di dunia yang tak masuk akal. Mereka hidup di tengah perang, ideologi besar, totalitarianisme. Ancaman mereka konkret. Maka eksistensialisme mereka keras, maskulin, kadang getir.

     Tetapi apakah dunia kita hari ini kurang absurd?

     Kita tidak lagi hidup dalam rezim tunggal yang membungkam. Kita hidup dalam kebisingan kolektif yang membuat suara jernih sulit terdengar. Dulu orang bisa dipenjara karena berbicara. Sekarang orang berbicara terus-menerus sampai makna itu sendiri dipenjara oleh kebisingan.

     Post-truth bukan sekadar kebohongan. Ia adalah keadaan di mana kebenaran kehilangan daya tarik emosional dibanding narasi yang lebih memancing amarah atau simpati instan. Dalam kondisi seperti ini, merdeka secara ontologis—merdeka sebagai kesadaran akan diri dan tanggung jawab—menjadi lebih sulit, bukan lebih mudah.

     Karena kini yang menjajah bukan hanya negara, tetapi sistem simbolik. Bukan hanya kekuasaan formal, tetapi logika viralitas.

     Apakah psikologi lama masih relevan?

     Saya kira justru semakin relevan, tetapi harus dibaca ulang. Eksistensialisme tidak lagi cukup berhenti pada “aku memilih”. Hari ini pertanyaannya lebih rumit: apakah aku sungguh memilih, atau aku dipilih oleh algoritma? Apakah kemarahanku murni refleksi etis, atau sekadar hasil kurasi timeline? Apakah apatisme itu sikap filosofis, atau kelelahan dopamin?

     Mengikuti arus hari ini sering tidak terasa seperti menyerah. Ia terasa seperti bertahan hidup. Menjadi konten kreator murahan bukan selalu karena orang tidak punya martabat; sering kali karena ekonomi menekan dan sistem memberi insentif yang sempit. Di sini kita perlu jujur: tidak semua yang hanyut adalah pengkhianat nilai. Banyak yang sekadar lelah.

     Namun tetap saja ada perbedaan antara bertahan hidup dan menjual kesadaran.

     Soe Hok Gie mungkin akan bingung melihat zaman ini. Ia mungkin tidak akan menulis pamflet tentang algoritma. Tetapi saya kira satu hal akan tetap ia pertahankan: kebencian pada kemunafikan kolektif. Ia tidak tahan pada masyarakat yang tahu ada yang salah tetapi memilih diam karena nyaman. Dan di situ, ia masih sangat relevan.

     Karena hari ini, korupsi bukan hanya soal uang negara yang bocor. Ia juga soal kesadaran yang bocor. Politik yang dangkal. Kebijakan yang dipoles citra. Rakyat yang marah seminggu lalu, lalu lupa karena ada tren baru. Atensi bergerak lebih cepat dari akal sehat.

     Merdeka dalam arti ontologis berarti mampu berdiri di tengah arus tanpa otomatis ikut hanyut. Bukan berarti selalu melawan dengan spanduk, tetapi mampu menjaga jarak dari histeria kolektif. Mampu mengatakan, “aku tidak akan menjadikan kebodohan sebagai komoditas.” Itu bentuk pemberontakan yang sunyi, tetapi mungkin lebih radikal dari demo viral.

     Kita memang hidup di zaman cair. Identitas cair. Kebenaran cair. Opini berubah secepat scroll jempol. Tetapi justru dalam dunia cair, orang yang memiliki kedalaman menjadi jangkar. Tidak banyak, mungkin. Tidak populer, sering kali. Tetapi peradaban selalu diselamatkan oleh minoritas yang tidak menyerahkan pikirannya.

     Apatisme dan mengikuti arus bukan fenomena baru. Ia hanya berganti medium. Dahulu orang mengikuti arus ideologi. Hari ini orang mengikuti arus algoritma. Struktur batinnya sama: takut sendirian, takut berbeda, takut kehilangan tempat.

     Maka pertanyaan bukan lagi apakah psikologi lama relevan. Pertanyaannya: apakah kita berani memperbaruinya? Apakah kita berani mendidik kesadaran digital sebagai bagian dari etika? Apakah kita berani mengajarkan anak-anak bahwa merdeka bukan berarti bebas mengunggah apa saja, tetapi bebas dari kebutuhan untuk selalu dilihat?

     Merdeka bukan status politik. Ia adalah kondisi batin yang langka.

     Di zaman ketika atensi lebih mahal dari integritas, orang yang memilih jujur akan terlihat aneh. Di zaman ketika kebisingan lebih menguntungkan dari kedalaman, orang yang berpikir akan terlihat lambat. Tetapi mungkin justru di situlah bentuk kemerdekaan baru: keberanian untuk tidak tergesa-gesa menjadi konten.

     Soe Hok Gie pernah berdiri di tengah zamannya dan menolak larut. Zaman kita berbeda, tetapi tantangannya serupa: apakah kita akan menjadi arus, atau menjadi manusia yang sadar sedang berdiri di dalam arus?

     Itu bukan soal romantisme masa lalu. Itu soal keberanian hari ini.

     Beberapa hari terakhir, dua nama kembali menari di layar-layar kecil yang kita genggam dengan khusyuk hampir religius: Iran dan Israel. Keduanya bukan nama baru dalam sejarah luka global. Tetapi setiap kali mereka disebut bersamaan dalam satu kalimat dengan kata “perang”, ada getar yang berbeda. Getar itu bukan hanya militer. Ia psikologis. Ia spiritual. Ia ekonomis. Ia seperti bunyi retakan halus pada kaca jendela rumah yang sebenarnya jauh dari ledakan, tetapi tetap membuat kita menoleh.

     Saya membayangkan seseorang berdiri di depan rak bukunya. Tangannya menyentuh punggung buku Holy War karya Karen Armstrong. Ia tidak sedang membaca, hanya mengingat. Armstrong berkali-kali menunjukkan bahwa perang jarang sesederhana “demi Tuhan”. Tetapi publik, seperti biasa, lebih menyukai kalimat pendek yang bisa ditempel di status: “Ini bukan perang agama.” Atau kebalikannya: “Ini perang suci.” Dunia modern memang canggih; kita bisa mengirim roket lintas benua dan sekaligus menyederhanakan sejarah ribuan tahun menjadi satu kalimat penuh emosi.

     Ada kegelisahan identitas yang berdenyut keras di bawah semua itu. Sebagian orang merasa perlu menegaskan jarak: ini bukan urusan iman, ini murni politik. Mereka seperti ingin menyelamatkan agama dari noda mesiu. Yang lain justru merasa terwakili—seolah-olah dentuman di Timur Tengah adalah gema dari luka yang mereka simpan diam-diam di dada. Di lini masa, orang-orang mendadak menjadi analis geopolitik paruh waktu dan teolog penuh waktu. Kalimat-kalimat besar beterbangan: perlawanan, zionisme, hegemoni, akhir zaman. Kata-kata berat itu dipakai dengan ringan, seperti memesan kopi.

     Lalu muncul suara lama yang tak pernah benar-benar pensiun: “Iran itu Syiah, bukan Islam.” Sebuah kalimat yang terdengar teologis, tetapi beraroma politik dan sejarah panjang pertikaian. Dalam satu tarikan napas, iman yang mestinya menjadi ruang kontemplasi berubah menjadi pagar pembatas. Ironisnya, mereka yang mengucapkan kalimat itu sering melakukannya sambil duduk nyaman jauh dari garis depan, dengan koneksi internet stabil dan camilan di sampingnya. Dunia memang penuh keberanian jarak jauh.

     Di sisi lain, ada kekecewaan yang lebih dalam dan lebih jujur. Sebagian merasa negara-negara Muslim lain terlalu akrab dengan Amerika Serikat dan kekuatan global yang dianggap lawan. Dari sana lahir rasa keterwakilan pada Iran—bukan semata karena mazhab, melainkan karena simbol perlawanan. Dalam psikologi kolektif, simbol jauh lebih kuat daripada data. Ketika seseorang merasa kecil di hadapan peta dunia, ia mencari figur yang tampak berdiri tegak melawan arus. Dan simbol itu, betapapun kompleks dan politisnya, diberi aura moral. Seolah-olah negara adalah malaikat berseragam.

     Namun negara, seperti yang kita tahu, bukan malaikat. Ia kalkulasi. Ia strategi. Ia kepentingan. Dan romantisasi terhadapnya sering kali lebih berbahaya daripada musuh yang nyata. Kita mencintai ide perlawanan, tetapi lupa bahwa setiap peluru selalu menemukan tubuh manusia yang nyata, bukan metafora.

     Sementara itu, di dapur-dapur rumah yang jauh dari Tel Aviv atau Teheran, kegelisahan mengambil bentuk yang lebih sederhana: harga BBM. Nama Selat Hormuz mendadak akrab. Orang-orang yang sebelumnya tidak terlalu peduli pada jalur distribusi minyak kini berbicara tentangnya dengan wajah serius. Jika jalur itu terganggu, harga naik. Jika harga naik, ongkos angkut naik. Jika ongkos naik, dapur terasa sempit. Perang berubah dari isu geopolitik menjadi pertanyaan: berapa harga bensin minggu depan?

     Di sinilah absurditas dunia modern terasa paling telanjang. Rudal ditembakkan dengan dalih keamanan nasional; yang gelisah justru pengemudi ojek daring yang harus menghitung ulang pendapatan hariannya. Para analis pasar berbicara tentang volatilitas. Ibu-ibu berbicara tentang belanja bulanan. Dua bahasa berbeda, satu kecemasan yang sama.

     Ada pula kegelisahan spiritual yang lebih lembut namun tak kalah nyata: bagaimana dengan umrah? bagaimana dengan haji? Tanah Suci selalu dibayangkan sebagai ruang yang steril dari konflik, meskipun sejarah berkata sebaliknya. Ketika kawasan memanas, imajinasi pun ikut panas. Apakah penerbangan aman? Apakah visa akan ditunda? Bagi sebagian orang, perjalanan itu bukan sekadar tiket dan hotel; ia adalah nazar, doa yang ditabung bertahun-tahun. Ketika geopolitik menyentuh rencana ibadah, rasa cemas menjadi sangat personal.

     Dan tentu saja, ada narasi global yang tak pernah absen: apakah ini akan meluas? Apakah kekuatan besar seperti China dan Rusia akan masuk lebih dalam? Dunia hari ini terlalu terhubung untuk percaya bahwa konflik bisa berdiri sendirian. Setiap percikan api selalu punya potensi menjadi kebakaran hutan. Ketakutan akan perang regional yang menjelma global bukan paranoia semata; ia bagian dari ingatan kolektif abad ke-20 yang belum sepenuhnya sembuh.

     Namun ada satu aktor yang sering luput dari tuduhan: algoritma. Media sosial tidak menciptakan perang, tetapi ia mempercepat denyut emosinya. Ketakutan lebih laku daripada ketenangan. Kemarahan lebih cepat viral daripada kehati-hatian. Dalam beberapa jam, seseorang bisa merasa dunia hampir kiamat hanya karena terus-menerus melihat potongan video, analisis sepihak, dan komentar yang menyala-nyala. Kita tidak hanya menyaksikan perang; kita mengonsumsinya.

     Di balik semua itu, sebenarnya yang bekerja adalah kebutuhan dasar manusia: ingin aman, ingin diakui, ingin merasa berada di sisi yang benar. Ketika dua negara bertempur, sebagian orang merasa identitasnya ikut dipertaruhkan. Seolah-olah jika pihak yang ia dukung kalah, harga dirinya ikut runtuh. Di situlah kegelisahan terdalam bersembunyi. Bukan pada misil, bukan pada tank, melainkan pada rapuhnya rasa “siapa kita”.

     Barangkali yang paling dramatis bukanlah perang itu sendiri, melainkan cara kita meresponsnya. Kita mengemasnya menjadi pertempuran iman, perlawanan moral, ancaman ekonomi, atau tanda akhir zaman—sesuai kebutuhan batin masing-masing. Dunia luar menjadi layar proyeksi bagi ketakutan dan harapan kita sendiri.

     Dan di antara semua narasi yang saling bertabrakan itu, ada harapan kecil yang jarang viral: semoga akal sehat tetap menjadi mayoritas diam. Bahwa kita bisa berempati tanpa membakar diri dalam fanatisme. Bahwa kita bisa peduli tanpa kehilangan nalar. Karena sebelum perang menjadi global, ia biasanya lebih dulu menjadi perang dalam kepala—perang tafsir, perang identitas, perang imajinasi.

     Jika kita gagal meredakan yang di dalam, jangan heran bila yang di luar terasa semakin tak terkendali. Dunia memang penuh drama. Tetapi barangkali yang paling menentukan bukan siapa menembak siapa, melainkan bagaimana kita menjaga diri agar tidak ikut meledak.

     Ada kegelisahan yang tidak selalu diucapkan, tetapi sering kali hadir seperti bayangan yang mengikuti pikiran: jangan-jangan yang kita sebut cinta hanyalah topeng halus dari naluri yang bekerja lebih tua, lebih dalam, dan lebih sabar daripada kesadaran kita sendiri. Sebuah strategi yang begitu canggih hingga ia menyamar sebagai keindahan.

     Upaya untuk membedakan cinta dan nafsu biasanya dimulai dengan niat yang baik, tetapi sering berakhir dengan garis yang kabur. Biologi menawarkan kerangka yang tampak jernih, meski agak dingin. Hasrat seksual—yang biasa kita sebut nafsu—datang seperti kilat: cepat, intens, menyambar tanpa banyak perkenalan. Ia tidak menuntut sejarah panjang, tidak membutuhkan narasi. Tubuh cukup melihat, mencium, merasakan—lalu bergerak.

     Sementara itu, apa yang kita sebut cinta tampak lebih lambat, lebih tekun. Ia tidak datang dengan ledakan, tetapi dengan pengulangan. Dari percakapan yang tidak selalu penting, dari perhatian kecil yang nyaris luput, dari kehadiran yang tidak spektakuler tetapi terus kembali. Ia tumbuh seperti akar—diam, tetapi mengikat.

     Namun realitas tidak pernah serapi kategori. Nafsu bisa menjadi pintu bagi keterikatan, dan cinta hampir selalu membawa jejak hasrat di dalamnya. Tubuh dan kesadaran bukan dua wilayah yang terpisah dengan pagar yang jelas; mereka seperti dua arus yang terus saling menyusup, menciptakan pusaran yang sulit dipetakan.

     Di titik ini, Arthur Schopenhauer mungkin akan tersenyum tipis, hampir sinis. Baginya, semua usaha membedakan itu hanyalah permainan bahasa. Cinta, katanya, adalah siasat halus dari kehendak hidup—cara elegan agar individu rela terlibat dalam sesuatu yang, jika dilihat tanpa ilusi, lebih menguntungkan kelangsungan spesies daripada kebahagiaan pribadi. Kita merasa memilih, padahal sedang dijalankan oleh sesuatu yang tidak meminta izin.

     Tetapi penjelasan itu, meski tajam, terasa belum cukup.

     Sebab ada hal-hal yang tidak sepenuhnya tunduk pada logika itu. Ada orang yang tetap tinggal ketika semua alasan biologis telah habis. Ada kesetiaan yang bertahan bahkan ketika ia tidak lagi menguntungkan, bahkan ketika ia merugikan. Ada pengorbanan yang, dalam hitungan evolusi, tampak seperti kesalahan.

     Di situ, cinta mulai melampaui kerangkanya sendiri. Ia tidak lagi sekadar dorongan, tetapi menjadi komitmen. Ia menjadi cerita yang diceritakan ulang, alasan yang dipertahankan, bahkan kadang bentuk perlawanan terhadap logika yang paling rasional sekalipun.

     Namun manusia tidak hanya hidup dalam ruang personal; ia juga hidup dalam jaringan yang lebih luas—keluarga, klan, masyarakat, bahkan negara. Dan di sana, cinta mengambil wajah yang berbeda.

     Sejarah mencatat banyak hubungan yang tidak lahir dari perasaan, melainkan dari kebutuhan. Putri dinikahkan untuk menghentikan perang yang terlalu lama. Putra dipersatukan untuk mengikat aliansi yang rapuh. Pernikahan menjadi alat diplomasi, tubuh menjadi jembatan, dan relasi intim menjadi kontrak yang lebih kuat daripada perjanjian tertulis.

     Dalam konteks seperti ini, cinta tidak selalu hadir di awal. Ia bisa muncul kemudian—atau tidak sama sekali. Yang pasti, hubungan itu sudah memiliki fungsi sebelum ia memiliki makna emosional.

     Apakah ini berarti cinta diperalat?

     Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Lebih tepat jika dikatakan bahwa manusia menemukan sesuatu yang sangat kuat: bahwa keterikatan antarindividu adalah salah satu “lem sosial” paling efektif yang pernah ada. Ketika dua orang terikat, yang disatukan bukan hanya tubuh, tetapi jaringan yang mengelilinginya—keluarga, harta, loyalitas, bahkan masa depan yang belum terjadi.

     Tidak banyak alat sosial yang mampu melakukan itu dengan kekuatan yang sama.

     Antropologi melihatnya sebagai bentuk kecerdasan kolektif. Manusia, secara sadar atau tidak, memahami bahwa menyatukan dua individu adalah cara menyatukan dua kelompok. Bahasa yang digunakan bisa berubah-ubah—tradisi, kehormatan, agama, atau cinta—tetapi fungsi dasarnya tetap serupa: menjaga stabilitas, meredam konflik, memperluas jaringan.

     Namun di dalam struktur yang tampak rapi itu, sesuatu yang lebih cair tetap bekerja.

     Ketika hubungan dimulai sebagai negosiasi, cinta tidak otomatis absen. Ia bisa tumbuh diam-diam, seperti tanaman yang tidak direncanakan tetapi menemukan celah di antara batu. Dua orang yang awalnya hanya bagian dari kesepakatan bisa saja, melalui rutinitas, kebersamaan, bahkan pertengkaran, membangun sesuatu yang lebih dalam. Cinta dalam bentuk ini tidak selalu meledak; ia sering kali lebih tenang, lebih sunyi, tetapi justru lebih tahan lama.

     Sebaliknya, hubungan yang dimulai dari cinta yang menggebu bisa runtuh ketika berhadapan dengan dunia yang tidak peduli pada perasaan. Realitas sosial, ekonomi, dan budaya sering kali menjadi ujian yang tidak romantis.

     Maka pertanyaan tentang mana yang lebih “asli” terasa seperti mencari jawaban pada pertanyaan yang salah arah.

     Cinta bukan benda yang bisa diuji kemurniannya. Ia bukan emas yang bisa ditimbang kadar karatnya. Ia adalah proses—yang bisa lahir dari hasrat, tumbuh dari kebiasaan, dipaksa oleh struktur, atau muncul dari kombinasi semuanya. Ia berubah bentuk, menyesuaikan diri, dan sering kali tidak setia pada definisi yang kita buat untuknya.

     Tentang cinta sebagai “mata uang”—ya, manusia menemukannya, atau mungkin lebih tepat: menyadari keberadaannya. Keterikatan emosional adalah alat yang luar biasa kuat. Ia bisa melunakkan konflik yang keras, mengikat kesetiaan yang rapuh, bahkan mengubah arah sejarah tanpa perlu deklarasi resmi.

     Dan seperti semua alat yang kuat, ia digunakan. Kadang dengan kesadaran penuh, kadang hanya sebagai warisan dari kebiasaan yang sudah terlalu lama hidup untuk dipertanyakan.

     Namun di tengah semua itu, ada satu hal yang sering terlewatkan.

     Meskipun cinta bisa diposisikan sebagai alat, pengalaman mencintai itu sendiri tetap bersifat personal, subjektif, dan tidak bisa sepenuhnya direduksi. Seseorang yang dinikahkan demi aliansi tetap bisa benar-benar jatuh cinta—atau tidak pernah sama sekali. Struktur sosial bisa mengatur pertemuan, tetapi tidak pernah sepenuhnya menguasai apa yang terjadi di dalam dada.

     Dan di sanalah ambiguitas itu tetap hidup.

     Cinta bisa menjadi strategi spesies, alat sosial, sekaligus pengalaman yang terasa sakral bagi individu. Ia bisa menjadi kartu truf dalam negosiasi, dan pada saat yang sama menjadi sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan oleh mereka yang menjalaninya.

     Manusia, dengan segala kecerdasannya, tampaknya tidak pernah benar-benar memutuskan ingin menempatkan cinta di mana. Kadang ia dipuja seperti kebenaran tertinggi, kadang digunakan seperti alat transaksi yang dingin. Kadang ia lahir dari kebebasan yang penuh, kadang dari keterpaksaan yang tidak diakui.

     Dan setiap kali kita mencoba mereduksinya menjadi satu hal saja, cinta seperti tersenyum tipis—lalu menghindar, berubah bentuk, dan meninggalkan kita dengan satu kesadaran yang agak mengganggu: bahwa apa yang paling kita yakini, sering kali justru yang paling sulit kita tangkap sepenuhnya.   (part 3 of 5)


Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.