Percakapan Yang Terlambat
Ada percakapan yang selesai sebelum sempat dimulai. Bukan karena tak ada kata-kata, melainkan karena semuanya diucapkan pada waktu yang salah.
Di sebuah warung kopi, dua sahabat duduk berhadapan. Mereka berbicara tentang pekerjaan, harga beras, pertandingan sepak bola semalam, dan hujan yang semakin sulit ditebak. Hampir satu jam percakapan berlangsung. Ketika mereka berpisah, tak satu pun dari keduanya menyadari bahwa ada hal yang sejak tadi ingin disampaikan, tetapi pulang bersama pemiliknya. Yang paling sering gagal diucapkan bukanlah kebohongan. Melainkan kejujuran yang datang terlambat.
Begitulah hidup bekerja. Manusia jarang kehilangan kata-kata. Yang lebih sering hilang adalah keberanian untuk mengucapkannya pada saat yang masih berarti.
Mungkin karena itulah beberapa kalimat terus mengikuti seseorang sepanjang hidupnya. Bukan karena indah, tetapi karena ia datang beberapa tahun setelah kesempatan terakhir berlalu. Waktu rupanya memiliki kebiasaan yang aneh. Ia tidak selalu memberi jawaban ketika pertanyaan diajukan. Kadang ia membiarkan pertanyaan itu berjalan bertahun-tahun, sampai suatu sore, ketika seseorang sedang menyapu halaman atau menunggu air mendidih, jawabannya datang begitu saja. Pengertian sering berjalan lebih lambat daripada peristiwa.
Di rak buku yang mulai berdebu, terselip sebuah foto lama. Tidak ada peristiwa besar di dalamnya. Hanya beberapa orang yang tersenyum kepada kamera, seolah hidup akan selalu memiliki cukup waktu untuk mempertemukan mereka lagi. Tidak ada yang tahu bahwa sebagian senyum memang hanya sempat hidup di dalam sebuah foto. Kenangan tidak pernah meminta untuk diingat. Manusialah yang diam-diam tidak sanggup melepaskannya.
Barangkali usia memang bukan sekadar kumpulan tahun. Ia adalah tempat berbagai kalimat yang dulu terdengar biasa perlahan menemukan artinya. Nasihat yang pernah dianggap cerewet berubah menjadi kerinduan. Teguran yang dulu terasa menyakitkan berubah menjadi rasa terima kasih. Bahkan diam seseorang kadang baru dipahami setelah suara itu benar-benar tidak ada lagi. Sebagian kehilangan bukan mengajarkan arti memiliki. Ia mengajarkan betapa sedikitnya perhatian yang pernah diberikan ketika semuanya masih ada.
Di pasar, seorang anak memperhatikan ibunya menawar sayuran. Ia heran mengapa ibunya begitu lama memperdebatkan selisih yang begitu kecil. Bertahun-tahun kemudian, ketika ia sendiri membawa daftar belanja sambil menghitung sisa uang di dalam dompet, barulah ia mengerti bahwa yang sedang diperjuangkan ibunya bukan beberapa lembar uang. Yang sedang dijaga adalah agar hari esok tetap mempunyai kemungkinan. Pemahaman sering datang tepat ketika orang yang ingin menjelaskannya sudah berhenti menjelaskan.
Begitulah hampir semua pelajaran terbaik datang. Tidak dengan suara keras, melainkan dengan kesediaan waktu mengulang pengalaman yang sama dalam bentuk yang berbeda. Barangkali sebab itu manusia mudah memaafkan dirinya ketika muda. Ia mengira masih akan selalu ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Padahal hidup tidak pernah berjanji akan mengulang peristiwa. Yang diulang hanyalah kesempatan untuk menyesalinya.
Menjelang malam, jalanan kembali lengang. Lampu-lampu rumah menyala satu per satu. Dari kejauhan terdengar seseorang memanggil nama anaknya untuk pulang. Pemandangan seperti itu telah terjadi ribuan kali. Justru karena terlalu biasa, hampir tak pernah ada yang benar-benar melihatnya. Yang paling mudah luput bukanlah keajaiban. Melainkan hal-hal yang setiap hari setia hadir.
Barangkali manusia memang hidup lebih banyak di dalam penundaan daripada di dalam kepastian. Menunda meminta maaf. Menunda berterima kasih. Menunda berkunjung. Menunda berkata rindu. Anehnya, hampir tidak ada yang menunda penyesalan.
Lalu suatu hari, ketika rambut mulai memutih dan rumah terasa lebih sunyi daripada biasanya, berbagai percakapan itu datang kembali. Bukan untuk diulang, melainkan untuk dipahami. Mereka duduk diam di sudut ingatan, tanpa menyalahkan siapa pun. Seolah hanya ingin mengatakan bahwa hidup sebenarnya berkali-kali memberi kesempatan, hanya saja pengertian sering memilih datang belakangan.
Mungkin karena itulah ada kalimat-kalimat yang tidak pernah terasa tua. Ia lahir bukan dari kepandaian merangkai kata, melainkan dari waktu yang terlalu lama menyimpan makna. Sebelum menjadi satu kalimat, ia pernah menjadi keraguan, penantian, kehilangan, juga kesunyian yang tak kunjung selesai.
Dan mungkin, seluruh hidup tidak lain hanyalah percakapan yang terus berlangsung dengan diri sendiri. Sebagian selesai hari ini. Sebagian lagi baru menemukan jawabannya bertahun-tahun kemudian. Tidak ada yang benar-benar terlambat, kecuali keyakinan bahwa segala sesuatu selalu dapat ditunda.






