Membakar Surga Memadamkan Neraka
“Aku ingin membakar surga dan memadamkan neraka.”
Kalimat itu seperti obor yang dilemparkan ke gudang mesiu teologi. Ia tidak lahir dari mimbar kekuasaan, tidak dari ruang kuliah para faqih, melainkan dari seorang perempuan yang hidupnya sejak awal telah dirampas: miskin, yatim karena wabah, dijual sebagai budak di kota Basra yang kala itu menjadi simpul perdebatan ilmu, politik, dan iman. Namanya Rabiah al-Adawiyah.
Di tangan orang biasa, kalimat itu mungkin terdengar seperti pembangkangan. Di telinga para penjaga ortodoksi, ia bisa dianggap racun. Tetapi di dalam jantung spiritualitas, kalimat itu adalah jeritan yang sangat jujur—jeritan yang lahir setelah semua sandaran dunia runtuh.
Rabiah tidak mewarisi kekayaan. Ia mewarisi kehilangan. Ia tidak mewarisi sistem, ia mewarisi kesepian. Dalam kesunyian itulah, kisah-kisah menyebutkan, ia mendengar bisikan yang tidak semua orang sanggup menanggungnya: jika engkau menyembah karena surga atau takut neraka, engkau belum mengenal Cinta.
Kalimat itu membelah batinnya. Di satu sisi, ada struktur doktrin: pahala, hukuman, ganjaran, ancaman. Sebuah pedagogi moral yang selama berabad-abad membentuk kesadaran umat. Di sisi lain, ada sesuatu yang lebih liar dan lebih murni—sebuah hasrat mencintai tanpa syarat.
Ia memilih yang kedua.
Pilihan itu bukan tanpa risiko. Di dunia yang sangat sadar hukum, mencintai tanpa kalkulasi bisa terlihat seperti kesesatan. Malam di Basrah, dalam imaji kolektif tasawuf, para sufi berkumpul. Di antara mereka ada Hasan al-Basri, tokoh zuhud yang dihormati. Tuduhan beredar: bagaimana mungkin seorang perempuan berkata ingin membakar surga? Bukankah surga adalah janji Tuhan?
Hasan bertanya, bukan dengan amarah, tetapi dengan kegelisahan: “Bagaimana mungkin kau berkata demikian?”
Rabiah menjawab bukan dengan argumen hukum, melainkan dengan pengakuan batin: manusia beribadah seperti pedagang. Menghitung laba-rugi. Mengkalkulasi dosa-pahala. Tuhan direduksi menjadi pasar metafisik. Surga menjadi bonus akhir tahun. Neraka menjadi denda administratif.
Kalimatnya sederhana, tetapi memukul. Ia tidak menolak keberadaan surga dan neraka. Ia menolak menjadikannya alasan.
Di sini, pertanyaannya menjadi lebih tajam: apakah Rabiah sedang keluar dari doktrin? Atau justru menembusnya hingga ke inti terdalam?
Jika doktrin dipahami sebagai format pedagogis—sebuah struktur yang menuntun manusia dari ketakutan menuju kesadaran—maka Rabiah sedang berjalan melewati tahap itu. Ia seperti anak yang telah belajar huruf-huruf dan kini ingin membaca puisi. Ia tidak membuang alfabet; ia melampauinya.
Para sufi setelahnya—Al-Hallaj yang berteriak “Ana al-Haqq”, atau Jalaluddin Rumi yang menari dalam pusaran cinta—akan membawa benih ini ke wilayah yang lebih radikal. Namun Rabiah adalah salah satu mata airnya. Ia menggeser pusat gravitasi spiritualitas: dari takut ke cinta.
Apakah ini kebebalan? Jika kebebalan berarti menolak struktur demi ego, maka tidak. Rabiah justru menghancurkan egonya. Ia hidup miskin, menolak lamaran para wali, memilih kesendirian. Ia tidak mendirikan tarekat, tidak membangun institusi. Ia hanya membakar dirinya sendiri dalam rindu.
Di titik ini, dialektika dengan filsafat eksistensial menjadi menarik. Soren Kierkegaard berbicara tentang lompatan iman—sebuah keputusan personal yang melampaui sistem rasional dan etik umum. Iman bukan kalkulasi; ia adalah keputusan yang sunyi, bahkan absurd di mata dunia. Rabiah melakukan lompatan itu. Ia meninggalkan keamanan religius yang transaksional dan melompat ke jurang cinta tanpa jaring pengaman pahala.
Atau ingat Jean-Paul Sartre yang mengatakan manusia dikutuk untuk bebas. Dalam kebebasan itu, ia bertanggung jawab atas maknanya sendiri. Rabiah, dalam bahasa yang sangat berbeda, mengambil tanggung jawab makna cintanya. Ia tidak membiarkan surga dan neraka menjadi motif eksternal yang menentukan kualitas relasinya dengan Tuhan. Ia memilih makna itu sendiri—secara sadar, secara bebas.
Namun berbeda dari eksistensialisme ateistik, kebebasan Rabiah tidak berakhir pada kesepian ontologis. Ia berakhir pada keterpautan total. Ia tidak membuang Tuhan untuk menemukan dirinya; ia membuang motif-motif rendah agar Tuhan menjadi satu-satunya pusat.
Di sinilah kita bisa membaca pernyataannya sebagai pencarian makna di luar format doktrin umum. Bukan anti-doktrin, melainkan pasca-doktrin. Seperti seseorang yang telah menempuh sekolah dasar dan kini belajar langsung kepada kehidupan. Bagi mayoritas spiritualis, surga dan neraka adalah pagar pedagogis. Bagi Rabiah, pagar itu sudah tidak diperlukan lagi.
Ia pernah menulis tentang dua cinta: cinta karena dirinya, dan cinta karena diri Tuhan. Cinta pertama masih memiliki jejak ego—ia mencintai karena ia membutuhkan, karena ia ingin selamat, ingin bahagia. Cinta kedua adalah cinta yang membakar kebutuhan itu sendiri. Yang tersisa hanya Dia.
“Membakar surga dan memadamkan neraka” menjadi metafora radikal: membakar motif utilitarian, memadamkan ketakutan yang infantil. Jika cinta murni hadir, bahkan surga bisa terasa sempit bila ia dijadikan imbalan. Surga bukan lagi tujuan, melainkan konsekuensi.
Di sini, tasawuf cinta melampaui hukum ganjaran-hukuman tanpa menolaknya. Ia menempatkannya sebagai tahap awal, bukan akhir. Seperti tangga yang harus dinaiki, tetapi tidak boleh dipeluk selamanya.
Pertanyaan akhirnya kembali pada kita: beranikah kita mencintai tanpa perhitungan? Ataukah kita masih nyaman menjadi pedagang spiritual, menghitung tasbih seperti menghitung koin?
Rabiah berdiri sendirian dalam malam Basrah, menangis bukan karena takut neraka, bukan pula karena rindu surga, tetapi karena ingin “melihat wajah Tuhan”. Yang ia cari bukan tempat, melainkan Sang Pemilik tempat. Bukan hadiah, melainkan Hadir.
Dan mungkin di situlah pencerahan tertinggi itu tersembunyi: ketika iman tidak lagi digerakkan oleh ancaman atau iming-iming, melainkan oleh cinta yang tak membutuhkan alasan. Sebuah cinta yang, jika perlu, rela membakar surga—agar tak ada lagi yang tersisa selain Dia.





