Maros Tidak Pernah Tenggelam
Ada satu kalimat yang sering beredar ketika orang membicarakan karst Maros-Pangkep: "Dulu Maros pernah tenggelam di bawah laut." Kalimat ini terdengar dramatis. Ia mudah memancing rasa takjub. Sayangnya, ia juga menyederhanakan proses geologi yang jauh lebih menarik daripada sekadar kisah tentang daratan yang "tenggelam".
Maros tidak pernah tenggelam, karena sejak awal batu gamping yang menyusun sebagian besar bentang alamnya memang lahir di laut.
Perbedaannya mungkin terdengar sepele, tetapi secara geologi sangat mendasar.
Batu gamping bukanlah batuan yang berasal dari gunung berapi atau dari tanah yang kemudian terendam. Sebagian besar batu gamping terbentuk dari akumulasi cangkang, kerangka, dan sisa organisme laut seperti karang, alga berkapur, foraminifera, moluska, serta berbagai mikroorganisme yang hidup di laut dangkal. Setelah organisme-organisme itu mati, cangkangnya mengendap sedikit demi sedikit di dasar laut. Selama jutaan tahun, endapan tersebut mengalami pemadatan dan sementasi hingga berubah menjadi batu gamping.
Lingkungan tempat proses itu berlangsung pun bukan sembarang laut. Batu gamping umumnya terbentuk di laut yang hangat, jernih, relatif dangkal, kaya cahaya matahari, dan memiliki pH sedikit basa, sekitar 8 hingga 8,3. Kondisi seperti inilah yang memungkinkan organisme pembentuk kalsium karbonat berkembang dengan baik. Laut tropis masa kini di sekitar Kepulauan Bahama, Maladewa, atau sebagian Great Barrier Reef memberikan gambaran yang cukup baik tentang lingkungan tempat batu gamping purba terbentuk.
Lalu muncul pertanyaan yang sering membingungkan: jika batu gamping terbentuk di laut dangkal, mengapa ketebalannya bisa mencapai ribuan meter? Bukankah laut dangkal hanya memiliki kedalaman puluhan meter?
Jawabannya terletak pada satu proses yang jarang diceritakan dalam narasi populer: penurunan dasar cekungan atau subsidence.
Selama jutaan tahun pengendapan berlangsung, dasar laut tempat endapan batu gamping terbentuk perlahan-lahan ikut turun akibat proses tektonik dan penyesuaian kerak bumi terhadap beban sedimen. Ketika dasar laut turun beberapa meter, pertumbuhan organisme karbonat terus "mengejar" permukaan laut. Akibatnya, lingkungan tetap dangkal meskipun dasar cekungannya terus bergerak turun. Proses ini berlangsung berulang kali selama jutaan tahun sehingga menghasilkan tumpukan batu gamping yang sangat tebal.
Formasi Tonasa di Sulawesi Selatan merupakan contoh yang sangat baik. Batuan ini mulai diendapkan sekitar 50 juta tahun yang lalu, ketika Sulawesi bagian barat masih berupa laut tropis yang hangat dan dangkal. Selama kira-kira 35 juta tahun, hingga pengendapannya berakhir sekitar 15 juta tahun yang lalu, generasi demi generasi organisme laut lahir, hidup, mati, lalu meninggalkan kerangka kapurnya di dasar laut. Dari siklus kehidupan yang nyaris tak terhitung jumlahnya itu, butiran demi butiran karbonat terus bertumpuk, perlahan membangun endapan yang akhirnya mencapai ketebalan sekitar dua kilometer.
Angka ini bukan berarti laut tempat pembentukannya sedalam dua kilometer. Sebaliknya, lingkungan pengendapannya tetap berupa laut dangkal yang kaya kehidupan, sementara dasar cekungannya perlahan mengalami penurunan sehingga selalu tersedia ruang bagi endapan baru. Selama 35 juta tahun, laut tropis itu bekerja tanpa suara. Tidak ada ledakan, tidak ada peristiwa dramatis yang bisa disaksikan dalam satu generasi. Hanya jutaan organisme kecil yang menjalani hidupnya, mati, lalu menjadi bagian dari lapisan berikutnya. Apa yang kini tampak sebagai tebing-tebing karst Maros sesungguhnya adalah hasil akumulasi kesabaran bumi dalam rentang waktu yang hampir mustahil dibayangkan oleh umur manusia.
Bayangkan sebuah eskalator yang bergerak turun sangat perlahan. Di atasnya, para pekerja terus menyusun batu bata sehingga permukaannya tetap berada pada ketinggian yang sama. Setelah waktu yang sangat lama, tumpukan batu bata menjadi sangat tinggi, bukan karena pekerjanya berpindah ke tempat yang lebih dalam, melainkan karena lantai tempat mereka bekerja terus bergerak turun. Demikianlah kira-kira cara alam membangun Formasi Tonasa. Lautnya tetap dangkal, kehidupan terus berlangsung, sementara dasar cekungannya perlahan-lahan turun selama puluhan juta tahun.
Karena itu, mengatakan bahwa "Maros pernah tenggelam" sebenarnya kurang tepat. Kalimat tersebut seolah menggambarkan bahwa dahulu ada daratan yang kemudian ditelan laut. Padahal, yang terjadi adalah kawasan itu memang merupakan bagian dari lingkungan laut ketika batu gampingnya sedang terbentuk.
Analogi sederhana mungkin bisa membantu. Mengatakan Maros pernah tenggelam karena batu gampingnya terbentuk di laut sama ganjilnya dengan mengatakan seekor ikan pernah tenggelam. Ikan tidak tenggelam; air memang habitatnya. Demikian pula batu gamping. Ia lahir, tumbuh, dan berkembang di lingkungan laut. Baru jauh kemudian, akibat tumbukan lempeng tektonik dan proses pengangkatan kerak bumi, endapan batu gamping itu terangkat ke daratan. Hujan tropis selama jutaan tahun kemudian mengukirnya menjadi bentang karst yang kita lihat hari ini: bukit-bukit kapur, gua, sungai bawah tanah, dolina, dan menara-menara batu yang menjadi ciri khas Maros-Pangkep.
Ironisnya, penjelasan yang lebih akurat justru jauh lebih menakjubkan daripada narasi "pernah tenggelam". Yang sedang kita lihat hari ini bukanlah daratan yang kebetulan pernah berada di bawah laut. Kita sedang berdiri di atas sebuah laut purba yang membatu, kemudian diangkat ke permukaan bumi oleh tenaga tektonik, sebelum akhirnya dipahat perlahan oleh air hujan tropis selama puluhan juta tahun.
Bumi tidak membutuhkan dramatisasi agar tampak menakjubkan. Tiga puluh lima juta tahun diperlukan untuk membangun Formasi Tonasa, lapis demi lapis, cangkang demi cangkang, generasi demi generasi. Dibandingkan kisah itu, narasi bahwa "Maros pernah tenggelam" terasa terlalu kecil untuk menjelaskan keajaiban yang sebenarnya terjadi.






