Latest Post

     Ada percakapan yang selesai sebelum sempat dimulai. Bukan karena tak ada kata-kata, melainkan karena semuanya diucapkan pada waktu yang salah.

     Di sebuah warung kopi, dua sahabat duduk berhadapan. Mereka berbicara tentang pekerjaan, harga beras, pertandingan sepak bola semalam, dan hujan yang semakin sulit ditebak. Hampir satu jam percakapan berlangsung. Ketika mereka berpisah, tak satu pun dari keduanya menyadari bahwa ada hal yang sejak tadi ingin disampaikan, tetapi pulang bersama pemiliknya. Yang paling sering gagal diucapkan bukanlah kebohongan. Melainkan kejujuran yang datang terlambat.

     Begitulah hidup bekerja. Manusia jarang kehilangan kata-kata. Yang lebih sering hilang adalah keberanian untuk mengucapkannya pada saat yang masih berarti.

     Mungkin karena itulah beberapa kalimat terus mengikuti seseorang sepanjang hidupnya. Bukan karena indah, tetapi karena ia datang beberapa tahun setelah kesempatan terakhir berlalu. Waktu rupanya memiliki kebiasaan yang aneh. Ia tidak selalu memberi jawaban ketika pertanyaan diajukan. Kadang ia membiarkan pertanyaan itu berjalan bertahun-tahun, sampai suatu sore, ketika seseorang sedang menyapu halaman atau menunggu air mendidih, jawabannya datang begitu saja. Pengertian sering berjalan lebih lambat daripada peristiwa.

     Di rak buku yang mulai berdebu, terselip sebuah foto lama. Tidak ada peristiwa besar di dalamnya. Hanya beberapa orang yang tersenyum kepada kamera, seolah hidup akan selalu memiliki cukup waktu untuk mempertemukan mereka lagi. Tidak ada yang tahu bahwa sebagian senyum memang hanya sempat hidup di dalam sebuah foto. Kenangan tidak pernah meminta untuk diingat. Manusialah yang diam-diam tidak sanggup melepaskannya.

     Barangkali usia memang bukan sekadar kumpulan tahun. Ia adalah tempat berbagai kalimat yang dulu terdengar biasa perlahan menemukan artinya. Nasihat yang pernah dianggap cerewet berubah menjadi kerinduan. Teguran yang dulu terasa menyakitkan berubah menjadi rasa terima kasih. Bahkan diam seseorang kadang baru dipahami setelah suara itu benar-benar tidak ada lagi. Sebagian kehilangan bukan mengajarkan arti memiliki. Ia mengajarkan betapa sedikitnya perhatian yang pernah diberikan ketika semuanya masih ada.

     Di pasar, seorang anak memperhatikan ibunya menawar sayuran. Ia heran mengapa ibunya begitu lama memperdebatkan selisih yang begitu kecil. Bertahun-tahun kemudian, ketika ia sendiri membawa daftar belanja sambil menghitung sisa uang di dalam dompet, barulah ia mengerti bahwa yang sedang diperjuangkan ibunya bukan beberapa lembar uang. Yang sedang dijaga adalah agar hari esok tetap mempunyai kemungkinan. Pemahaman sering datang tepat ketika orang yang ingin menjelaskannya sudah berhenti menjelaskan.

     Begitulah hampir semua pelajaran terbaik datang. Tidak dengan suara keras, melainkan dengan kesediaan waktu mengulang pengalaman yang sama dalam bentuk yang berbeda. Barangkali sebab itu manusia mudah memaafkan dirinya ketika muda. Ia mengira masih akan selalu ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Padahal hidup tidak pernah berjanji akan mengulang peristiwa. Yang diulang hanyalah kesempatan untuk menyesalinya.

     Menjelang malam, jalanan kembali lengang. Lampu-lampu rumah menyala satu per satu. Dari kejauhan terdengar seseorang memanggil nama anaknya untuk pulang. Pemandangan seperti itu telah terjadi ribuan kali. Justru karena terlalu biasa, hampir tak pernah ada yang benar-benar melihatnya. Yang paling mudah luput bukanlah keajaiban. Melainkan hal-hal yang setiap hari setia hadir.

     Barangkali manusia memang hidup lebih banyak di dalam penundaan daripada di dalam kepastian. Menunda meminta maaf. Menunda berterima kasih. Menunda berkunjung. Menunda berkata rindu. Anehnya, hampir tidak ada yang menunda penyesalan.

     Lalu suatu hari, ketika rambut mulai memutih dan rumah terasa lebih sunyi daripada biasanya, berbagai percakapan itu datang kembali. Bukan untuk diulang, melainkan untuk dipahami. Mereka duduk diam di sudut ingatan, tanpa menyalahkan siapa pun. Seolah hanya ingin mengatakan bahwa hidup sebenarnya berkali-kali memberi kesempatan, hanya saja pengertian sering memilih datang belakangan.

     Mungkin karena itulah ada kalimat-kalimat yang tidak pernah terasa tua. Ia lahir bukan dari kepandaian merangkai kata, melainkan dari waktu yang terlalu lama menyimpan makna. Sebelum menjadi satu kalimat, ia pernah menjadi keraguan, penantian, kehilangan, juga kesunyian yang tak kunjung selesai.

     Dan mungkin, seluruh hidup tidak lain hanyalah percakapan yang terus berlangsung dengan diri sendiri. Sebagian selesai hari ini. Sebagian lagi baru menemukan jawabannya bertahun-tahun kemudian. Tidak ada yang benar-benar terlambat, kecuali keyakinan bahwa segala sesuatu selalu dapat ditunda.

     Ada satu kalimat yang sering beredar ketika orang membicarakan karst Maros-Pangkep: "Dulu Maros pernah tenggelam di bawah laut." Kalimat ini terdengar dramatis. Ia mudah memancing rasa takjub. Sayangnya, ia juga menyederhanakan proses geologi yang jauh lebih menarik daripada sekadar kisah tentang daratan yang "tenggelam".

     Maros tidak pernah tenggelam, karena sejak awal batu gamping yang menyusun sebagian besar bentang alamnya memang lahir di laut.

     Perbedaannya mungkin terdengar sepele, tetapi secara geologi sangat mendasar.

     Batu gamping bukanlah batuan yang berasal dari gunung berapi atau dari tanah yang kemudian terendam. Sebagian besar batu gamping terbentuk dari akumulasi cangkang, kerangka, dan sisa organisme laut seperti karang, alga berkapur, foraminifera, moluska, serta berbagai mikroorganisme yang hidup di laut dangkal. Setelah organisme-organisme itu mati, cangkangnya mengendap sedikit demi sedikit di dasar laut. Selama jutaan tahun, endapan tersebut mengalami pemadatan dan sementasi hingga berubah menjadi batu gamping.

     Lingkungan tempat proses itu berlangsung pun bukan sembarang laut. Batu gamping umumnya terbentuk di laut yang hangat, jernih, relatif dangkal, kaya cahaya matahari, dan memiliki pH sedikit basa, sekitar 8 hingga 8,3. Kondisi seperti inilah yang memungkinkan organisme pembentuk kalsium karbonat berkembang dengan baik. Laut tropis masa kini di sekitar Kepulauan Bahama, Maladewa, atau sebagian Great Barrier Reef memberikan gambaran yang cukup baik tentang lingkungan tempat batu gamping purba terbentuk.

     Lalu muncul pertanyaan yang sering membingungkan: jika batu gamping terbentuk di laut dangkal, mengapa ketebalannya bisa mencapai ribuan meter? Bukankah laut dangkal hanya memiliki kedalaman puluhan meter?

     Jawabannya terletak pada satu proses yang jarang diceritakan dalam narasi populer: penurunan dasar cekungan atau subsidence.

     Selama jutaan tahun pengendapan berlangsung, dasar laut tempat endapan batu gamping terbentuk perlahan-lahan ikut turun akibat proses tektonik dan penyesuaian kerak bumi terhadap beban sedimen. Ketika dasar laut turun beberapa meter, pertumbuhan organisme karbonat terus "mengejar" permukaan laut. Akibatnya, lingkungan tetap dangkal meskipun dasar cekungannya terus bergerak turun. Proses ini berlangsung berulang kali selama jutaan tahun sehingga menghasilkan tumpukan batu gamping yang sangat tebal.

     Formasi Tonasa di Sulawesi Selatan merupakan contoh yang sangat baik. Batuan ini mulai diendapkan sekitar 50 juta tahun yang lalu, ketika Sulawesi bagian barat masih berupa laut tropis yang hangat dan dangkal. Selama kira-kira 35 juta tahun, hingga pengendapannya berakhir sekitar 15 juta tahun yang lalu, generasi demi generasi organisme laut lahir, hidup, mati, lalu meninggalkan kerangka kapurnya di dasar laut. Dari siklus kehidupan yang nyaris tak terhitung jumlahnya itu, butiran demi butiran karbonat terus bertumpuk, perlahan membangun endapan yang akhirnya mencapai ketebalan sekitar dua kilometer.

     Angka ini bukan berarti laut tempat pembentukannya sedalam dua kilometer. Sebaliknya, lingkungan pengendapannya tetap berupa laut dangkal yang kaya kehidupan, sementara dasar cekungannya perlahan mengalami penurunan sehingga selalu tersedia ruang bagi endapan baru. Selama 35 juta tahun, laut tropis itu bekerja tanpa suara. Tidak ada ledakan, tidak ada peristiwa dramatis yang bisa disaksikan dalam satu generasi. Hanya jutaan organisme kecil yang menjalani hidupnya, mati, lalu menjadi bagian dari lapisan berikutnya. Apa yang kini tampak sebagai tebing-tebing karst Maros sesungguhnya adalah hasil akumulasi kesabaran bumi dalam rentang waktu yang hampir mustahil dibayangkan oleh umur manusia.

     Bayangkan sebuah eskalator yang bergerak turun sangat perlahan. Di atasnya, para pekerja terus menyusun batu bata sehingga permukaannya tetap berada pada ketinggian yang sama. Setelah waktu yang sangat lama, tumpukan batu bata menjadi sangat tinggi, bukan karena pekerjanya berpindah ke tempat yang lebih dalam, melainkan karena lantai tempat mereka bekerja terus bergerak turun. Demikianlah kira-kira cara alam membangun Formasi Tonasa. Lautnya tetap dangkal, kehidupan terus berlangsung, sementara dasar cekungannya perlahan-lahan turun selama puluhan juta tahun.

     Karena itu, mengatakan bahwa "Maros pernah tenggelam" sebenarnya kurang tepat. Kalimat tersebut seolah menggambarkan bahwa dahulu ada daratan yang kemudian ditelan laut. Padahal, yang terjadi adalah kawasan itu memang merupakan bagian dari lingkungan laut ketika batu gampingnya sedang terbentuk.

     Analogi sederhana mungkin bisa membantu. Mengatakan Maros pernah tenggelam karena batu gampingnya terbentuk di laut sama ganjilnya dengan mengatakan seekor ikan pernah tenggelam. Ikan tidak tenggelam; air memang habitatnya. Demikian pula batu gamping. Ia lahir, tumbuh, dan berkembang di lingkungan laut. Baru jauh kemudian, akibat tumbukan lempeng tektonik dan proses pengangkatan kerak bumi, endapan batu gamping itu terangkat ke daratan. Hujan tropis selama jutaan tahun kemudian mengukirnya menjadi bentang karst yang kita lihat hari ini: bukit-bukit kapur, gua, sungai bawah tanah, dolina, dan menara-menara batu yang menjadi ciri khas Maros-Pangkep.

     Ironisnya, penjelasan yang lebih akurat justru jauh lebih menakjubkan daripada narasi "pernah tenggelam". Yang sedang kita lihat hari ini bukanlah daratan yang kebetulan pernah berada di bawah laut. Kita sedang berdiri di atas sebuah laut purba yang membatu, kemudian diangkat ke permukaan bumi oleh tenaga tektonik, sebelum akhirnya dipahat perlahan oleh air hujan tropis selama puluhan juta tahun.

     Bumi tidak membutuhkan dramatisasi agar tampak menakjubkan. Tiga puluh lima juta tahun diperlukan untuk membangun Formasi Tonasa, lapis demi lapis, cangkang demi cangkang, generasi demi generasi. Dibandingkan kisah itu, narasi bahwa "Maros pernah tenggelam" terasa terlalu kecil untuk menjelaskan keajaiban yang sebenarnya terjadi.

     Dalam acara penutupan munas alim ulama di Bangkalan, Presiden Prabowo mengorasikan keheranannya:

     Ekonomi tumbuh, katanya. Angka-angka bergerak naik. Grafik menanjak dengan penuh optimisme. Tetapi mengapa orang miskin justru bertambah?

     Sungguh sebuah misteri besar. Sedemikian besar sehingga rakyat yang setiap hari membeli beras dengan harga baru, membayar listrik dengan tarif baru, dan menghitung ulang isi dompetnya, tiba-tiba merasa menjadi saksi atas sebuah keajaiban: orang yang paling memiliki akses pada data ternyata ikut bingung.

     Padahal, rakyat yang tidak pernah membaca laporan ekonomi tahunan pun tahu bahwa pertumbuhan dan kesejahteraan bukanlah saudara kembar. Yang tumbuh bisa saja laba perusahaan, nilai investasi, atau gedung-gedung yang semakin tinggi menusuk langit. Tetapi tinggi gedung tidak pernah menjamin isi panci.

     Sebuah negara dapat memiliki jalan tol yang panjang, pelabuhan yang megah, dan angka pertumbuhan yang mengilap. Namun di dapur-dapur kecil, orang tetap berdiskusi tentang berapa butir telur yang bisa dibeli hari ini.

     Itu bukan rahasia negara. Itu juga bukan teori ekonomi yang hanya dipahami profesor.

     Bahkan tukang kopi di pinggir jalan pun tahu: bila kue ekonomi membesar tetapi potongannya tetap berada di meja yang sama, maka orang yang berdiri jauh dari meja hanya akan melihat kue itu dari kejauhan sambil menelan ludah.

     Karena itu, ketika presiden mengatakan dirinya heran, rakyat mungkin ikut terdiam sejenak.

     Heran?

     Bukankah seorang presiden hidup di tengah lautan data? Bukankah setiap hari ada laporan statistik, analisis ekonomi, simulasi, rapat kabinet, dan nasihat para ahli? Bukankah seluruh mesin negara bekerja untuk memetakan persoalan seperti ini?

     Sulit membayangkan bahwa seseorang yang melihat seluruh peta justru tidak memahami jalan yang sedang dilalui.

     Mungkin kata "heran" memang bukan tentang ketidaktahuan.

     Mungkin itu adalah bahasa yang lebih halus. Sebuah cara untuk berdiri di sisi rakyat dan berkata, "Saya juga terkejut."

     Atau mungkin lebih halus lagi: ketika persoalan dibingkai sebagai sesuatu yang mengherankan, maka penyebabnya tampak seperti kabut. Tidak jelas dari mana datangnya, tidak jelas siapa yang harus menjawabnya.

     Seolah kemiskinan adalah hujan yang turun dari langit tanpa sebab. Seolah daya beli melemah dengan sendirinya. Seolah ketimpangan tumbuh seperti rumput liar yang tidak pernah disentuh oleh kebijakan.

     Dan rakyat, yang sejak lama menjadi penonton paling setia, kembali menyaksikan sebuah pertunjukan lama: semua orang tampak prihatin, semua orang tampak terkejut, tetapi tak seorang pun tampak menjadi penulis naskahnya.

     Lucunya, rakyat tidak pernah punya kemewahan untuk heran terlalu lama.

     Mereka harus tetap bekerja. Tetap membayar cicilan. Tetap mengurangi lauk. Tetap menunda berobat. Tetap mengubur pelan-pelan cita-cita yang dahulu mereka tanam dengan harapan.

     Sementara itu, angka-angka terus diumumkan dengan wajah optimistis, seperti foto udara sebuah kota yang tampak indah dari ketinggian. Dari sana, rumah-rumah reyot tidak terlalu terlihat. Dapur yang sepi tidak masuk bingkai. Anak yang membatalkan kuliah karena biaya pun hanya menjadi titik kecil yang hilang di antara statistik.

     Mungkin memang ada sesuatu yang salah dengan cara kita melihat.

     Atau mungkin tidak.

     Mungkin semua orang sebenarnya sudah tahu apa yang terjadi. Hanya saja, ada yang menanggung akibatnya, dan ada yang cukup nyaman untuk mengaku heran.

     Dan di situlah pertanyaan yang sesungguhnya berdiri, sederhana tetapi sukar dihindari:

     "Kalau Anda saja heran, lalu siapa yang memegang kemudi?"

     Pagi itu seorang lelaki tua menyapu halaman rumahnya. Daun-daun yang gugur semalam dikumpulkannya menjadi satu tumpukan kecil. Tak ada yang istimewa. Angin datang, menyebarkannya lagi. Lelaki itu hanya tersenyum, lalu mengulang pekerjaannya. Yang paling sabar bukan pohon. Yang paling sabar adalah orang yang tetap menyapu halaman yang tahu akan kembali dipenuhi daun.

     Barangkali hidup memang tidak pernah bergerak menuju kemenangan. Ia hanya bergerak dari satu pengulangan ke pengulangan berikutnya. Yang berubah bukan dunianya, melainkan cara manusia memandang dunia. Karena itulah dua orang dapat melewati jalan yang sama, tetapi pulang dengan cerita yang berbeda. Perjalanan tidak mengubah jalan. Ia mengubah siapa yang pulang. 

     Mungkin sebab itu masa kanak-kanak terasa lebih panjang daripada usia dewasa. Bukan karena waktu berjalan lebih lambat, melainkan karena hampir setiap hari menghadirkan sesuatu yang belum pernah dilihat.

     Seorang anak kecil memandangi hujan dari balik jendela. Ia bertanya mengapa langit menangis. Bertahun-tahun kemudian ia belajar tentang penguapan, tekanan udara, dan kondensasi. Ia akhirnya mengetahui bagaimana hujan terjadi, tetapi diam-diam kehilangan satu pertanyaan yang dulu membuatnya menatap langit begitu lama. Pengetahuan menjawab banyak pertanyaan. Rasa ingin tahu melahirkan yang lebih penting.

     Bertambah usia sering disangka sama dengan bertambah mengerti. Padahal yang lebih sering terjadi adalah bertambah terbiasa. Sesuatu yang dulu dipandang dengan rasa ingin tahu perlahan diterima sebagai sesuatu yang sewajarnya ada. Pertanyaan-pertanyaan mengecil, sementara keyakinan tumbuh tanpa banyak disadari. 

     Manusia tumbuh bersama jawaban. Lalu perlahan menyadari bahwa setiap jawaban hanyalah pagar sementara. Di baliknya selalu ada ladang yang lebih luas. Orang yang paling cepat menemukan jawaban sering kali berhenti paling awal. Semakin luas pengetahuan, semakin sadar seseorang akan luasnya apa yang belum diketahuinya. Kesombongan adalah pengetahuan yang berhenti berjalan.

     Di pasar, seorang pedagang menimbang gula dengan timbangan yang sedikit dimiringkan. Selisihnya hampir tak terlihat. Pembeli pulang sambil tersenyum karena merasa mendapatkan harga murah. Pedagang pun tersenyum karena merasa lebih cerdik. Mereka berdua sama-sama merasa menang. Kecurangan yang paling awet adalah yang menguntungkan dua pihak pada saat yang sama.

     Tidak banyak orang menganggap dirinya tidak jujur. Hampir semua memiliki alasan yang terdengar masuk akal. Timbangan yang dimiringkan dianggap sekadar mencari untung. Janji yang diingkari disebut keadaan yang berubah. Kebohongan kecil diberi nama sopan: terpaksa. 

     Barangkali memang demikian cara hati bekerja. Ia lebih sibuk mencari pembenaran daripada mengakui kesalahan. Banyak keyakinan bertahan bukan karena benar, melainkan karena belum pernah dipertanyakan dengan sungguh-sungguh. Dan mungkin keyakinan yang paling sulit dipertanyakan adalah keyakinan tentang diri sendiri.

     Waktu berlalu. Rambut mulai memutih. Nama-nama yang dulu sering disebut perlahan menghilang dari percakapan. Wajah mulai kabur di dalam ingatan. Tanggal lahir dan tanggal kematian akhirnya hanya menjadi angka. 

     Anehnya, satu kalimat dapat bertahan jauh lebih lama daripada seluruh riwayat hidup yang melahirkannya. Tubuh berhenti menua ketika mati. Kalimat bisa terus menua tanpa pernah mati.

     Mungkin karena itulah ada kalimat-kalimat yang tidak terasa seperti hasil menulis. Ia lebih menyerupai sesuatu yang terlalu lama hidup di dalam seseorang, lalu suatu hari menemukan bentuknya. Sebelum menjadi satu kalimat, ia pernah menjadi kebingungan, kegagalan, penyesalan, percakapan yang terlambat dipahami, juga kesunyian yang terlalu lama menemani.

     Orang menyebutnya aforisme.

     Padahal aforisme bukanlah kalimat yang berhasil dipendekkan. Ia adalah pengalaman yang telah terlalu lama diendapkan hingga tak lagi menyisakan bagian yang bisa dibuang. Seperti sungai yang selama bertahun-tahun mengikis batu, waktu perlahan mengikis kata-kata yang tidak penting. Yang tertinggal hanyalah inti.

     Karena itu aforisme tidak lahir setiap hari. Yang lahir setiap hari hanyalah kalimat. 

     Aforisme lahir jauh lebih lambat. Ia membutuhkan mata yang bersedia memperhatikan, waktu yang bersedia mengendapkan, dan kehidupan yang cukup panjang untuk menghapus semua kata yang tidak perlu. Ketika akhirnya tiba, ia sering kali hanya terdiri atas satu kalimat. Namun di belakang satu kalimat itu, diam-diam berdiri bertahun-tahun kehidupan.

     Ada sesuatu yang menggelitik sekaligus menyedihkan dari kegiatan sensus ekonomi yang telah berlangsung sejak lama di negeri ini. Setiap beberapa tahun, negara datang mengetuk pintu rumah rakyat dengan kesungguhan yang hampir menyerupai kasih sayang. Mereka ingin tahu siapa kita, berapa penghasilan kita, berapa meter luas rumah kita, apakah dindingnya permanen atau papan, apakah lantainya keramik atau semen, berapa jumlah motor yang terparkir, bahkan kadang lebih mengetahui kondisi ekonomi kita daripada kita sendiri yang setiap malam masih sibuk menghitung sisa uang di dompet.

     Namun suatu hari, seorang warga memutuskan untuk membalik arah pertanyaan itu. Setelah menjawab dengan sabar semua yang ditanyakan petugas, ia menatap wajah muda di hadapannya dan bertanya dengan nada datar, "Apa untungnya untuk saya?"

     Petugas itu tentu sudah dibekali jawaban. Data ini untuk pembangunan, untuk pemerataan ekonomi, untuk kesejahteraan, untuk program yang lebih tepat sasaran. Kalimat-kalimat yang terdengar baik dan mulia, seolah diambil dari sebuah negeri yang sangat teratur dan hampir sempurna. Namun warga itu kembali bertanya, "Apa untungnya untuk saya?" Lagi dan lagi. Sampai tujuh kali. Sampai sembilan belas kali. Bukan karena ia tidak mengerti, tetapi justru karena ia terlalu mengerti.

     Ia mengerti bahwa selama puluhan tahun negara begitu rajin menghitung rakyatnya, tetapi hasil perhitungannya sering kali terasa seperti ramalan cuaca: terdengar meyakinkan, tetapi tidak selalu cocok dengan kenyataan di lapangan. Ia melihat orang yang rumahnya besar, kendaraannya lebih dari satu, usahanya berkembang, tetapi tetap menjadi penerima bantuan sosial. Sebaliknya, ia mengenal seorang janda tua yang hidup dari menjual gorengan, yang atap rumahnya bocor di tiga tempat dan harus menaruh ember saat hujan, tetapi namanya tak pernah ditemukan dalam daftar penerima bantuan. Negeri ini rupanya memiliki definisi kemiskinan yang unik. Anda boleh miskin dalam kehidupan nyata, tetapi bila tidak miskin dalam database, maka kemiskinan Anda hanyalah perasaan pribadi yang sayangnya tidak memiliki kekuatan administratif.

     Maka setiap kali ada kekeliruan, jawaban yang selalu muncul adalah: datanya akan diperbaiki. Betapa menenteramkan kalimat itu. Seolah-olah nasib rakyat hanyalah file excel yang suatu saat akan diperbarui versinya. Anehnya, data terus diperbaiki, tetapi orang yang sama tetap miskin, tetap kesulitan berobat, tetap menunggu bantuan yang kadang salah alamat. Barangkali yang diperbaiki memang data, bukan kenyataan.

     Warga itu lalu teringat rumah sakit. Ia membayar iuran BPJS dengan disiplin, bahkan ketika penghasilannya sedang tidak baik. Namun ketika sakit, ia harus berhadapan dengan antrean, rujukan yang berbelit, ruang tunggu yang penuh, dan biaya-biaya kecil yang jika dikumpulkan tidak lagi kecil. Ia pernah bercanda kepada tetangganya bahwa penyakit yang paling cepat berkembang di rumah sakit mungkin bukan diabetes atau hipertensi, melainkan bisnis parkir. Sebab orang boleh menunggu dokter berjam-jam, tetapi tarif parkir tumbuh dengan penuh semangat, seolah sedang mengejar cita-cita menjadi sektor ekonomi unggulan.

     Rumah sakit kini berdiri megah dengan lobi yang lebih menyerupai hotel. Ada kafe, toko, mesin ATM, bahkan sudut swafoto yang nyaman. Orang miskin yang datang ke sana kadang bingung apakah ia sedang mencari kesembuhan atau sedang mengunjungi pusat perbelanjaan yang menyediakan layanan kesehatan sebagai usaha sampingan. Tetapi keheranan seperti ini tentu tidak pernah masuk ke dalam formulir sensus. Yang dicatat hanyalah angka. Manusia terlalu rumit untuk ditanyakan.

     Begitu pula dengan beras bantuan yang semestinya sampai kepada warga miskin, tetapi kadang lebih mudah ditemukan di kios pasar. Beras itu tampaknya memiliki naluri dagang yang lebih baik daripada naluri sosial. Ia berangkat sebagai bantuan, lalu berubah menjadi komoditas. Mungkin ia tersesat. Atau mungkin ia sedang mengikuti peta yang tidak pernah dicetak secara resmi.

     Namun semua itu belum cukup menjelaskan mengapa warga tadi terus mengulang pertanyaannya. Jawabannya mungkin terletak pada sesuatu yang lebih besar: ia sudah terlalu lama menyaksikan bagaimana uang negara bergerak dengan cara yang misterius. Ada program yang lahir dengan anggaran fantastis dan slogan yang menyentuh hati, tetapi hasilnya sulit ditemukan di lapangan. Ada proyek yang diresmikan berkali-kali, diperbaiki berkali-kali, lalu rusak berkali-kali, seolah yang sedang dibangun bukan infrastruktur melainkan kesempatan untuk menganggarkan ulang.

     Ada pula perjalanan dinas ke luar negeri yang tampaknya sangat penting. Rombongan pejabat berangkat mempelajari tata kota, transportasi, pengelolaan sampah, hingga digitalisasi pelayanan. Mereka pulang dengan koper penuh pengalaman dan ribuan foto, sementara jalan di kampung warga itu tetap berlubang, drainase tetap mampet, dan pelayanan publik masih meminta kesabaran yang setara dengan seorang pertapa. Mungkin ilmu yang mereka pelajari memang sangat canggih sehingga membutuhkan puluhan tahun untuk diterapkan. Atau mungkin oleh-oleh terbaik dari perjalanan itu memang hanya foto bersama.

     Warga itu tidak tahu pasti. Tetapi ia mulai memiliki dugaan yang nakal. Jangan-jangan sensus ekonomi ini bukan hanya untuk membangun kesejahteraan. Jangan-jangan data yang begitu rinci ini juga membantu agar segala sesuatu berjalan lebih efisien, termasuk jika ada yang ingin mengelola anggaran secara kreatif. Dulu mungkin penyimpangan dilakukan secara kasar dan kira-kira. Sekarang semuanya bisa berbasis data, lebih terukur, lebih tepat sasaran, lebih modern. Bahkan korupsi pun tampaknya dipaksa mengikuti perkembangan zaman.

     Pikiran itu tentu terdengar sinis. Tetapi sinisme sering kali lahir bukan karena rakyat terlalu curiga, melainkan karena mereka terlalu sering kecewa. Mereka melihat negara sangat teliti menghitung jumlah ayam, kambing, motor, dan penghasilan warga, tetapi tampak lebih sulit menghitung berapa banyak uang yang hilang dalam perjalanan menuju kesejahteraan. Negara begitu rajin mendata kemiskinan, tetapi tampak kurang bersemangat mendata penyebab mengapa kemiskinan itu terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

     Mungkin sudah waktunya sensus tidak hanya mengumpulkan data ekonomi. Mungkin petugas juga perlu bertanya: berapa kali Anda merasa bantuan salah sasaran? Berapa kali Anda menunda berobat karena takut biaya tambahan? Berapa kali Anda merasa negara lebih rajin menghitung Anda daripada mendengarkan Anda? Sebab manusia tidak hanya hidup dari pendapatan per bulan. Ia juga hidup dari kepercayaan. Dan jika kepercayaan itu terus menyusut, maka suatu hari nanti angka-angka statistik akan tetap terlihat indah, sementara rakyat diam-diam kehilangan keyakinan bahwa semua perhitungan itu pernah benar-benar dibuat untuk mereka.

     Maka pertanyaan sederhana itu masih menggantung sampai sekarang: "Apa untungnya untuk saya?" Dan mungkin ironi terbesar negeri ini adalah bahwa setelah puluhan tahun melakukan sensus, kita masih belum memiliki jawaban yang mampu membuat rakyat berhenti bertanya.

     Entah buzzer siapa yang memulainya. Entah pembela pemerintah. Entah pembenci pemerintah. Entah mereka yang marah kepada mahasiswa. Entah mereka yang marah kepada program makan gratis. Entah siapa. Yang jelas, beberapa hari terakhir beredar sebuah logika yang begitu cepat menyebar hingga orang lupa memeriksa kakinya.

foto : cyrustimes.com

     Mahasiswa berdemonstrasi memprotes kenaikan harga Pertamaxmenuntut harganya diturunkan. Mahasiswa juga mengkritik program makan bergizi gratis yang dinilai kacau, bocor, dan digerogoti korupsimenuntut program itu dihentikan. Lalu dari berbagai sudut ruang publik lahirlah kesimpulan yang tampak gagah sekaligus ganjil: mahasiswa sedang membela orang kaya pemilik mobil dan berusaha merampas makanan orang miskin.

     Selesai.

     Tidak perlu berpikir lebih jauh. Tidak perlu bertanya lagi. Vonis dijatuhkan sebelum sidang dimulai.

     Cara berpikir seperti ini sebenarnya sangat efisien. Ia menghemat energi otak. Sama seperti seseorang yang melihat asap di kejauhan lalu langsung menyimpulkan gunung meletus, tanpa peduli apakah yang terbakar sebenarnya hanya tumpukan sampah di belakang rumah tetangga.

     Padahal kenyataan memiliki kebiasaan buruk: ia jarang sesederhana slogan.

     Harga Pertamax memang menyangkut BBM non-subsidi. Namun di negeri yang penyaring subsidinya bocor seperti ember tua, kenaikan harga BBM non-subsidi sering mendorong perpindahan konsumsi ke BBM subsidi. Orang yang semestinya berada di jalur kanan perlahan masuk ke jalur kiri. Mereka yang seharusnya membeli tanpa bantuan negara ikut mengantre bantuan negara. Akibatnya, mereka yang benar-benar membutuhkan subsidi harus berbagi dengan mereka yang sekadar tidak ingin mengurangi kenyamanan.

     Sementara itu, program makan bergizi gratis juga bukan kitab suci yang turun dari langit dalam keadaan sempurna. Tujuannya mungkin mulia. Pelaksanaannya belum tentu. Di negeri yang bahkan kesulitan menjaga uang pembangunan jembatan, sekolah, jalan, stadion, bansos, pupuk, dan proyek-proyek lain dari tangan-tangan kreatif, publik tentu berhak bertanya ketika uang dalam jumlah besar mulai mengalir ke dapur-dapur baru yang tumbuh lebih cepat daripada jamur setelah hujan.

     Namun pertanyaan semacam itu terlalu merepotkan bagi sebagian orang. Jauh lebih mudah menghapus seluruh kerumitan tersebut.

     Mahasiswa protes Pertamax?
     Berarti pembela orang kaya.
 
     Mahasiswa mengkritik MBG?
     Berarti pembenci orang miskin.
 
     Sederhana. Praktis. Tidak perlu membaca. Tidak perlu menghitung. Tidak perlu memahami.

     Kalau logika seperti ini diterapkan secara konsisten, kita mungkin bisa mencapai efisiensi nasional yang luar biasa.

     Dokter yang mengkritik rumah sakit berarti membenci pasien. Guru yang mengkritik sekolah berarti membenci murid. Wartawan yang mengkritik korupsi berarti membenci pembangunan. Orang yang mengkritik kebocoran kapal berarti membenci penumpang.

     Betapa indahnya dunia ketika setiap kritik bisa diubah menjadi kejahatan hanya dengan menghapus beberapa premis yang mengganggu.

     Barangkali inilah warisan pendidikan kita yang paling berhasil. Kita menghasilkan begitu banyak orang yang pandai mengambil kesimpulan dan begitu sedikit orang yang sabar memeriksa dasar kesimpulannya. Kita melatih murid menjawab soal pilihan ganda selama bertahun-tahun, lalu terkejut ketika mereka mulai melihat dunia sebagai pilihan ganda: setuju atau musuh, mendukung atau membenci, pemerintah atau oposisi, rakyat atau oligarki.

     Padahal kehidupan nyata lebih mirip sungai berlumpur daripada lembar ujian. Arusnya bercabang. Dasarnya tidak selalu terlihat. Banyak batu tersembunyi di bawah permukaan.

     Sayangnya, dunia yang rumit tidak pernah cocok dengan kebutuhan propaganda.

     Propaganda membutuhkan cerita yang pendek. Ia membutuhkan pahlawan dan penjahat. Ia membutuhkan kambing hitam. Ia membutuhkan kesimpulan yang bisa ditelan dalam sekali teguk.

     Karena itu, ketika seseorang datang membawa argumen yang rumit, pekerjaan pertama propaganda adalah memotongnya menjadi karikatur. Setelah karikaturnya selesai dibuat, barulah karikatur itu dipukul ramai-ramai.

     Mungkin itulah yang sedang kita saksikan hari ini.

     Bukan pertarungan antara mahasiswa dan pemerintah. Bukan pertarungan antara Pertamax dan makan gratis. Melainkan pertarungan yang jauh lebih tua: antara keinginan untuk berpikir dan godaan untuk menyederhanakan segala sesuatu sampai kehilangan akal sehatnya.

     Dan seperti biasa, yang paling ramai bukan mereka yang sedang berpikir.

     Melainkan mereka yang sudah terlanjur tiba di kesimpulan sebelum perjalanan dimulai.

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.