Latest Post

Sahabatku,

     Lebaran selalu datang seperti tamu lama yang tahu jalan pulang, namun setiap kali ia mengetuk, ada ruang-ruang dalam diri yang kembali terbuka—yang dulu kita isi bersama, lalu perlahan kita tinggalkan tanpa benar-benar sadar kapan terakhir kali menutupnya.

     Di sela gema takbir dan kesibukan yang berulang tiap tahun, ada satu hal yang diam-diam ingin kutunaikan: menemuimu.

     Bukan sekadar kalimat ringan yang kita ucapkan agar percakapan terasa hangat. Bukan basa-basi yang menguap sebelum sempat menjadi nyata. Aku ingin benar-benar datang. Pelan saja. Tanpa perlu dirancang berlebihan. Duduk bersama, mungkin dengan kopi yang biasa saja, tapi cukup untuk menemani percakapan yang sudah terlalu lama kita tunda—atau bahkan tak pernah sempat kita mulai lagi.

     Aneh memang, bagaimana hidup membuat jarak terasa wajar. Dulu, kita tidak pernah memikirkan itu.

     Kita berboncengan sepeda sepulang sekolah, menembus jalanan dengan napas yang terengah, tapi hati entah kenapa selalu ringan. Waktu seperti tidak pernah menagih apa pun dari kita. Kita juga pernah memilih bolos, bukan untuk alasan besar, hanya untuk memanjat diam-diam pohon mangga di sebelah sekolah—dengan rasa puas yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh manisnya buah itu sendiri.

     Lalu ada hari ketika kita berjalan sepanjang Pantai Losari—yang dulu kita sebut, setengah bercanda, sebagai restoran terpanjang. Makanan berjajar di sepanjang pantai, orang-orang duduk menikmati, sementara kita hanya berjalan, karena tidak membawa uang sama sekali. Tapi anehnya, kita tidak merasa kekurangan. Kita tetap tertawa, seolah kebersamaan itu sendiri sudah cukup mengenyangkan.

     Dan malam itu—di gunung—yang mungkin tak pernah benar-benar pergi dari ingatan. Hujan badai memaksa kita bersembunyi di celah batu yang sempit, menunggu sampai pagi. Dingin, basah, dan hanya dua sachet kopi yang kita bagi seolah itu adalah kemewahan terakhir yang kita miliki. Kita bertahan bukan karena kita hebat, tapi karena kita tidak sendirian.

     Semua itu kini seperti hidup di jarak yang lain. Tidak hilang, tapi juga tidak lagi bisa disentuh begitu saja.

     Mungkin karena itu aku ingin menemuimu sekarang.

     Aku tidak ingin menunda seperti yang sering kita lakukan pada banyak hal yang kita kira masih punya waktu. Aku tidak ingin suatu hari nanti berdiri di antara keramaian, datang tergopoh-gopoh, hanya karena waktu sudah menutup semua kemungkinan untuk bertemu dengan cara yang utuh. Aku tidak ingin langkahku dipercepat oleh kehilangan.

     Aku juga tidak akan mengajakmu ke rumahku. Kau tahu aku bukan orang yang pandai menjadikan hidup sebagai sesuatu yang perlu diperlihatkan. Dan memang, tidak ada yang layak dipamerkan. Yang ingin kutemui bukanlah ruang, tapi dirimu—sebagaimana dulu kita saling menemukan tanpa perlu panggung apa pun.

     Jika aku datang, itu bukan karena kewajiban Lebaran, bukan karena adat yang menuntut, tapi karena aku masih punya waktu—dan aku memilih untuk tidak menyia-nyiakannya.

     Kalau kau berkenan, beri tahu kapan aku bisa menemuimu. Tidak perlu repot. Aku yang akan menyesuaikan langkah.

     Selamat Lebaran.
Semoga yang sederhana tetap terasa cukup, dan yang jauh tidak benar-benar menjadi asing.

     Aku akan mencarimu—sebelum waktu mengajarkan kita arti kehilangan dengan cara yang terlalu sunyi.

—Aku

     Ada sesuatu yang selalu terasa ganjil sekaligus akrab dalam setiap perdebatan awal bulan qamariah. Ia seperti drama tahunan yang naskahnya sudah kita hafal, tapi tetap saja dimainkan dengan penuh kesungguhan, seolah hasil akhirnya akan menentukan arah semesta.

     Di satu sisi, ada mata yang menengadah ke langit, mencari sabit tipis yang nyaris seperti goresan pensil di ujung cakrawala. Di sisi lain, ada angka-angka yang bekerja dalam diam—rumus, koordinat, lintasan—yang jauh lebih pasti daripada getaran tangan manusia yang mengintip ufuk. Di antara keduanya, manusia berdiri: tidak sepenuhnya percaya pada mata, tapi juga belum sepenuhnya menyerahkan diri pada kalkulasi.

     Perdebatan ini sebenarnya bukan sekadar soal kapan lebaran tiba. Ia menyentuh sesuatu yang lebih dalam: bagaimana manusia memaknai otoritas, tradisi, dan kebenaran itu sendiri. Sejak masa Muhammad, metode rukyat (melihat langsung) menjadi praksis yang hidup—bukan hanya sebagai teknik, tetapi sebagai pengalaman kolektif: langit sebagai teks, manusia sebagai pembacanya. Lalu datang ilmu falak, berkembang pelan-pelan, hingga kini mampu menghitung posisi bulan dengan presisi yang bahkan melampaui kemampuan mata telanjang.

     Di titik ini, konflik mulai terasa bukan karena datanya berbeda, tetapi karena cara memercayai data itu berbeda.

     Ada yang percaya bahwa kebenaran harus “disaksikan”, bukan sekadar dihitung. Bahwa ada nilai eksistensial dalam melihat langsung hilal—sebuah momen di mana manusia dan kosmos saling bertatap, meski hanya sekejap. Sementara yang lain melihat itu sebagai romantisme yang mahal: ketika sains sudah bisa memberi kepastian, mengapa masih bergantung pada kondisi cuaca dan keterbatasan penglihatan?

     Lalu ada satu kemungkinan yang menarik—tentang cahaya bulan yang sebenarnya adalah pantulan cahaya matahari dari 8,3 menit lalu. Itu membuka satu lapisan ironi yang lebih dalam: bahkan apa yang kita “lihat” pun sesungguhnya adalah masa lalu. Tidak ada yang benar-benar hadir dalam detik ini; semua adalah keterlambatan cahaya.

     Jika logika ini ditarik lebih jauh, maka rukyat pun bukanlah melihat bulan “sekarang”, tetapi melihat jejak waktu. Dan hisab? Ia mencoba menebak posisi sesuatu yang bahkan tidak pernah kita lihat secara real-time. Dua-duanya, pada akhirnya, adalah cara manusia berdamai dengan keterbatasan persepsi.

     Apakah akan lahir “mazhab baru”? Kemungkinan itu selalu ada. Sejarah Islam sendiri penuh dengan dinamika ijtihad—cara berpikir yang tidak pernah benar-benar beku. Tapi menariknya, perpecahan metode ini sering kali bukan karena kurangnya pengetahuan, melainkan karena berlebihnya makna yang disematkan pada metode itu sendiri.

     Metode berubah menjadi identitas. Identitas berubah menjadi posisi. Dan posisi, seperti biasa, sulit untuk dilonggarkan.

     Namun, jika dilihat dengan jarak yang sedikit lebih tenang, ada satu kemungkinan yang jarang dibicarakan: bahwa perbedaan ini justru adalah bentuk kejujuran epistemik. Bahwa manusia tidak pura-pura sepakat ketika memang belum sepakat. Bahwa dalam urusan langit, bahkan dengan teleskop tercanggih sekalipun, kita tetap membawa tafsir ke dalamnya.

     Mungkin yang akan datang bukan mazhab baru dalam arti formal, tetapi cara pandang baru—yang tidak lagi melihat rukyat dan hisab sebagai dua kubu yang harus saling mengalahkan, melainkan dua bahasa berbeda untuk membaca langit yang sama.

     Dan bisa jadi, di masa depan, perdebatan ini tidak akan hilang. Ia hanya akan berubah bentuk—dari soal “terlihat atau tidak”, menjadi “apa arti melihat itu sendiri”.

     Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya mencari bulan. Ia sedang mencari kepastian—dan sering kali, tanpa sadar, juga sedang mencari dirinya sendiri di balik langit yang gelap itu.

     Dalam dunia penelitian, kesalahan adalah bagian dari napas pengetahuan. Seorang peneliti boleh keliru, boleh salah membaca data, boleh membuat hipotesis yang kemudian runtuh oleh eksperimen berikutnya. Sejarah ilmu penuh dengan kesalahan semacam itu. Tetapi ada satu garis yang tidak boleh dilintasi: kebohongan. Jika data dipalsukan, jika hasil direkayasa, maka seluruh bangunan pengetahuan runtuh. Ilmu tidak menuntut peneliti menjadi manusia yang selalu benar, tetapi ia menuntut kejujuran radikal. Kesalahan masih bisa diperbaiki oleh peneliti lain. Kebohongan meracuni seluruh jaringan kepercayaan.

     Politik berdiri di panggung yang berbeda. Politisi hidup dalam arena persepsi, bukan dalam laboratorium verifikasi. Yang mereka kelola bukan data, melainkan keyakinan publik. Karena itu kebohongan sering menjadi alat retorika: janji yang dibesar-besarkan, narasi yang dipoles, kenyataan yang dipilih sebagian. Anehnya, publik sering masih memaafkan itu. Yang tidak dimaafkan adalah kesalahan yang tampak nyata—kebijakan gagal, strategi yang salah langkah, keputusan yang membuat negara tersandung. Politisi bisa selamat dari tuduhan tidak jujur, tetapi jarang selamat dari citra “tidak kompeten”.

     Di satu sisi, peneliti bekerja dalam ekosistem koreksi: kritik, replikasi, peer review. Kesalahan di sana seperti batu kecil di sungai; arus pengetahuan perlahan akan menggesernya. Di sisi lain, politisi bekerja dalam ekosistem persepsi: opini, media, emosi massa. Di sana yang berbahaya bukan batu kecil, melainkan kesan bahwa nahkoda tidak tahu arah.

     "Peneliti boleh salah tapi tidak boleh bohong, Politisi boleh bohong tapi tidak boleh salah" seperti lelucon pahit tentang dua profesi yang sama-sama berpengaruh besar terhadap dunia, tetapi dijaga oleh standar moral yang berbeda. Ilmu menuntut kejujuran bahkan ketika ia salah. Politik menuntut ketepatan bahkan ketika ia tidak sepenuhnya jujur.

     Dan di antara keduanya, masyarakat sering berdiri kebingungan: mempercayai politisi yang pandai berbicara, sambil kadang mencurigai peneliti yang terlalu jujur mengakui ketidaktahuannya. Ironi kecil yang membuat sejarah manusia terus berputar—seperti kompas yang kadang menunjuk utara, kadang hanya menunjuk arah yang paling meyakinkan.

     Ada sesuatu yang aneh dalam manusia modern. Lidahnya begitu lincah, seolah dunia ini harus terus-menerus diberi komentar. Setiap peristiwa segera diberi opini, setiap berita disambut dengan kesimpulan, setiap persoalan langsung diberi sikap. Tetapi di balik kelincahan itu, ada kekosongan yang sunyi: jarang sekali ada yang benar-benar bertanya.

     Pertanyaan sebenarnya adalah tanda kerendahan hati intelektual. Ia lahir dari kesadaran sederhana bahwa dunia lebih luas daripada kepala kita. Bertanya berarti mengakui bahwa kita belum tahu, bahwa kita mungkin keliru, bahwa ada ruang untuk memahami sesuatu lebih dalam. Tetapi manusia modern hidup dalam atmosfer yang aneh: ketidaktahuan tidak lagi dirayakan sebagai pintu belajar, melainkan dianggap sebagai kelemahan yang harus segera ditutupi. Maka orang lebih cepat berbicara daripada bertanya.

     Ada juga rasa takut yang lebih dalam dari sekadar tidak tahu. Banyak orang sesungguhnya takut berpikir. Berpikir bukan pekerjaan ringan; ia seperti berjalan sendirian di hutan yang gelap. Di sana kita bisa menemukan hal-hal yang tidak nyaman: kontradiksi dalam keyakinan sendiri, retakan dalam moralitas yang kita banggakan, atau kenyataan bahwa sebagian besar pendapat yang kita pegang ternyata hanya warisan dari lingkungan, bukan hasil pencarian pribadi.

     Karena itu berbicara menjadi jalan yang lebih mudah. Bicara dapat dilakukan tanpa perjalanan panjang ke dalam diri. Kita bisa meminjam kalimat dari orang lain, mengulang slogan yang sedang populer, atau sekadar mengikuti arus percakapan umum. Dunia digital bahkan memberi panggung luas bagi kebiasaan ini: semua orang bisa berbicara, tetapi hampir tidak ada yang punya waktu untuk diam cukup lama agar sebuah pertanyaan lahir dengan jujur.

     Padahal sejarah pemikiran manusia bergerak justru karena pertanyaan-pertanyaan yang sederhana namun berani. Mengapa langit bergerak? Mengapa manusia harus hidup adil? Apa arti kebahagiaan? Mengapa kita mati? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering muncul dari orang yang bersedia menunda bicara, menahan diri dari kesimpulan yang cepat, dan memberi ruang bagi pikiran untuk berjalan perlahan.

     Mungkin masalah terbesar manusia modern bukan kurangnya informasi, melainkan hilangnya keberanian untuk tidak tahu. Kita dikelilingi jawaban sebelum sempat merasakan keindahan bertanya. Akibatnya, percakapan menjadi ramai tetapi pemikiran menjadi dangkal.

     Sesekali menarik juga membayangkan sebuah dunia kecil yang sebaliknya: orang-orang berbicara lebih sedikit, tetapi bertanya lebih banyak. Tidak terburu-buru menilai, tidak tergesa memberi opini, melainkan duduk sejenak dengan rasa ingin tahu yang tulus. Barangkali di tempat seperti itu, berpikir tidak lagi terasa menakutkan—melainkan seperti membuka jendela pada pagi hari, ketika udara segar masuk dan kita baru sadar betapa lama ruangan kita sebenarnya pengap.

     Ada satu keyakinan yang sangat populer di dunia modern: manusia adalah makhluk rasional. Kalimat ini sering diulang dengan nada bangga, seolah-olah kita baru saja menemukan mahkota kemuliaan spesies kita sendiri. Universitas mengajarkannya, buku filsafat mengukuhkannya, pidato-pidato publik memeliharanya dengan penuh rasa hormat.

     Namun siapa pun yang cukup lama mengamati kehidupan sosial manusia biasanya akan menemukan sesuatu yang sedikit janggal.

     Manusia memang menyukai gagasan tentang rasionalitas. Tetapi mereka tidak terlalu menyukai orang yang benar-benar menggunakannya.

     Ada perbedaan halus antara keduanya. Perbedaan ini jarang dibicarakan secara terang-terangan, karena jika diucapkan dengan jujur ia akan terdengar agak memalukan.

     Rasionalitas adalah slogan yang sangat indah. Ia memberi kesan bahwa masyarakat dibangun di atas pertimbangan yang matang, diskusi yang terbuka, dan keberanian menghadapi kebenaran. Tetapi orang yang benar-benar berpikir sering memiliki kebiasaan yang sangat tidak praktis: mereka bertanya pada saat yang tidak tepat.

     Misalnya dalam sebuah rapat yang hampir selesai.

     Semua orang sudah sepakat. Wajah-wajah tampak lega. Kata-kata besar seperti “kemajuan”, “kebaikan bersama”, atau “kesepahaman” sudah beredar dengan nyaman di udara. Segala sesuatu berjalan menuju akhir yang tenang.

     Lalu seseorang mengangkat tangan dan berkata: “Maaf, saya belum yakin ini masuk akal.”

     Kalimat seperti itu memiliki efek yang sangat aneh. Ia tidak menghancurkan meja, tidak mengganggu listrik, tidak membuat keributan. Tetapi tiba-tiba ruangan menjadi dingin.

     Orang yang mengucapkannya biasanya tidak langsung dimusuhi. Ia hanya diberi beberapa pandangan yang halus, semacam tatapan yang berkata: mengapa kamu harus mempersulit keadaan.

     Dalam masyarakat yang sehat, kata “berpikir” selalu dipuji. Dalam masyarakat yang nyata, kata “terlalu banyak berpikir” sering digunakan sebagai teguran.

     Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Ia sudah menjadi kebiasaan lama manusia, bahkan sejak zaman yang sangat jauh.

     Di Athena kuno pernah hidup seorang lelaki yang memiliki hobi bertanya. Namanya Socrates. Ia tidak memiliki jabatan penting, tidak mendirikan lembaga besar, bahkan tidak menulis buku yang bisa dijual di toko.

     Ia hanya melakukan satu kegiatan yang ternyata sangat mengganggu: ia mengajak orang berpikir tentang apa yang mereka katakan.

     Ia bertanya kepada para politisi tentang keadilan. Ia bertanya kepada para penyair tentang kebenaran. Ia bertanya kepada para pemuda tentang kebajikan. Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sopan, tetapi memiliki sifat yang agak merusak. Ia membuka kemungkinan bahwa banyak orang sebenarnya tidak terlalu memahami hal-hal yang mereka ucapkan dengan penuh keyakinan.

     Athena, yang terkenal sebagai kota demokrasi dan kebijaksanaan, akhirnya menemukan cara yang sangat elegan untuk menyelesaikan masalah intelektual itu. Mereka menuduhnya merusak pemuda dan tidak menghormati dewa-dewa kota. Lalu, dengan prosedur hukum yang sangat rapi, mereka membungkam lelaki yang terlalu banyak bertanya itu dengan secangkir racun hemlock.

     Demokrasi Athena, yang begitu bangga pada rasionalitasnya, rupanya memiliki toleransi terbatas terhadap orang yang terlalu serius menggunakan akal.

     Beberapa abad kemudian, seorang astronom dari Polandia melakukan kesalahan yang hampir sama. Nicolaus Copernicus memeriksa langit dengan terlalu serius. Setelah menghitung dengan sabar, ia sampai pada kesimpulan yang agak tidak sopan: bumi bukan pusat alam semesta.

     Masalahnya bukan pada matematika. Masalahnya pada psikologi manusia.

     Selama ribuan tahun manusia hidup dengan gagasan yang sangat nyaman bahwa mereka berada di tengah panggung kosmik. Segala sesuatu berputar mengelilingi mereka dengan kesetiaan astronomis.

     Copernicus tiba-tiba berkata bahwa kita sebenarnya hanya salah satu benda kecil yang ikut berputar mengelilingi matahari.

     Sulit membayangkan cara yang lebih efektif untuk melukai harga diri spesies manusia.

     Nicolaus Copernicus sendiri cukup beruntung. Ia meninggal tepat ketika bukunya De revolutionibus orbium coelestium terbit, seolah-olah sejarah memberinya waktu yang sangat tepat untuk menghindari keributan besar yang akan datang.

     Namun gagasannya tidak seberuntung itu. Otoritas religius yang berkuasa kemudian memasukkan teori heliosentris ke dalam daftar ajaran berbahaya. Langit, ternyata, juga memiliki birokrasi yang tidak terlalu ramah terhadap orang yang berpikir terlalu jauh.

     Untungnya waktu memiliki sifat yang menenangkan. Beberapa abad kemudian manusia akhirnya menerima gagasan itu dengan tenang. Bahkan sekarang kita mengajarkannya kepada anak-anak sekolah sebagai bukti kemajuan sains.

     Ini adalah salah satu trik favorit sejarah: ia selalu memuliakan para pemikir setelah mereka mati. Sementara ketika mereka masih hidup, keadaannya sering sedikit berbeda.

     Beberapa abad setelah Copernicus, seorang filsuf Jerman bernama Friedrich Nietzsche mengamati masyarakat Eropa dengan rasa geli yang tipis. Ia melihat manusia modern berbicara dengan sangat percaya diri tentang moralitas, kebenaran, dan kebajikan.

     Nietzsche memiliki kebiasaan buruk: ia memeriksa asal-usul hal-hal yang dianggap suci. Dan hasilnya ternyata tidak terlalu menyenangkan.

     Ia menemukan bahwa banyak nilai moral ternyata tumbuh dari ketakutan, kebiasaan kawanan, dan kebutuhan manusia untuk merasa benar bersama-sama. Moralitas yang terlihat luhur sering kali hanyalah cara yang sopan untuk mengatakan: jangan berbeda dari yang lain.

     Gagasan seperti ini tidak selalu diterima dengan hangat. Manusia sangat menghargai kebebasan berpikir, selama kebebasan itu tidak menyentuh hal-hal yang mereka anggap terlalu penting.

      Cerita yang sama bahkan muncul dalam dunia spiritual, yang sering dianggap wilayah paling murni dari kehidupan manusia.

     Seorang perempuan sufi bernama Rabiah al-Adawiyya pernah mengatakan bahwa ia mencintai Tuhan bukan karena takut neraka atau berharap surga.

     Kalimat ini tampak sangat indah. Namun bagi banyak sistem religius, ia memiliki implikasi yang cukup merepotkan. Jika manusia benar-benar mencintai Tuhan tanpa imbalan, maka seluruh mekanisme pahala dan hukuman tiba-tiba kehilangan sebagian besar kekuatannya.

     Cinta yang bebas selalu sedikit berbahaya bagi sistem yang ingin mengatur manusia dengan rapi.

     Beberapa abad kemudian, Jalal ad-Din Rumi menulis puisi-puisi yang bahkan lebih sulit dijaga oleh penjaga ortodoksi. Ia berbicara tentang Tuhan yang terlalu luas untuk dipenjara oleh batas identitas manusia.

     Puisi-puisi itu sekarang dikutip dengan penuh kekaguman di seluruh dunia. Untunglah para penyair biasanya lebih aman setelah mereka menjadi legenda.

     Di dunia politik, keadaan sering sedikit lebih kasar.

     Tan Malaka menghabiskan hidupnya sebagai seseorang yang selalu terlalu sulit dipelihara oleh kekuasaan mana pun. Ia membaca terlalu banyak, berpikir terlalu jauh, dan memiliki kebiasaan buruk: ia tidak sepenuhnya percaya pada narasi resmi.

     Ia menulis dengan semangat yang terlalu sulit ditoleransi oleh berbagai rezim. Buku-bukunya—seperti gagasan-gagasannya—pernah lama dilarang beredar dan dibaca pada masa Orde Baru, seakan-akan sebuah bangsa bisa dilindungi dari pemikiran hanya dengan menutup halaman buku.

     Akibatnya hidupnya lebih sering diisi pengasingan daripada upacara penghormatan.

     Pramoedya Ananta Toer mengalami nasib yang bahkan lebih dramatis. Ia dipenjara tanpa pengadilan. Ia menulis cerita tentang manusia, sejarah, dan kekuasaan. Karya-karyanya juga dilarang beredar oleh rezim Orde Baru, seolah-olah cerita tentang manusia dan sejarah bisa menjadi ancaman bagi stabilitas negara.

     Buku memiliki sifat yang aneh. Ia tidak berteriak, tidak berbaris di jalanan, tidak membawa senjata. Tetapi kadang-kadang ia membuat orang berpikir.

     Dan berpikir selalu memiliki reputasi yang agak mencurigakan.

     Seorang mahasiswa bernama Soe Hok Gie menulis kegelisahannya dengan kejujuran yang hampir naif. Ia hidup di tengah zaman yang penuh slogan revolusi, tetapi terlalu cepat melihat bagaimana idealisme bisa berubah menjadi kemunafikan yang rapi.

     Ia akhirnya memeluk akhir hidupnya di lereng Mahameru—gunung yang sering ia kunjungi untuk mencari udara yang lebih jujur—dengan keyakinan yang pernah ia tulis sendiri: lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.

     Generasi yang sama sering kali juga memiliki hubungan yang agak tegang dengan mahasiswa yang terlalu kritis.

     Sejarah memiliki selera humor yang sangat halus. Ia membangun patung bagi para pemikir masa lalu, lalu merasa sedikit tidak nyaman ketika pemikir baru muncul di depan mata.

     Dalam pidato-pidato resmi kita sering mendengar bahwa masyarakat membutuhkan pemikiran kritis. Kalimat ini terdengar sangat mulia. Ia memberi kesan bahwa peradaban berdiri di atas keberanian intelektual.

     Namun dalam praktik sehari-hari, pemikiran kritis sering kali diterjemahkan dengan cara yang lebih sederhana: berpikirlah dengan bebas, selama kesimpulanmu tidak terlalu berbeda dari yang sudah disepakati.

     Ini adalah bentuk kompromi yang sangat manusiawi.

Kita ingin kemajuan, tetapi tanpa gangguan.
Kita ingin kebenaran, tetapi tanpa kegelisahan.
Kita ingin pemikir, tetapi yang cukup sopan untuk tidak terlalu mengganggu ketenangan bersama.

     Masalahnya hanya satu. Pikiran yang benar-benar hidup jarang memiliki sopan santun semacam itu.

     Si bisu memberi kabar kepada si tuli, tentang si buta yang melihat si lumpuh berjalan. Kalimat itu seperti potongan teater absurd yang sangat jujur tentang manusia. Di panggung itu tidak ada yang benar-benar melihat, tidak ada yang benar-benar mendengar, namun cerita tetap beredar dengan percaya diri. Itulah manusia: makhluk yang hidup dari cerita, bahkan ketika cerita itu berputar-putar seperti kompas yang jarumnya patah.

     Perang di Timur Tengah selalu melahirkan badai cerita semacam ini. Peluru terbang di udara, tetapi narasi terbang lebih cepat. Kadang terasa seperti pasar malam metafisika: semua orang menjual kebenaran dengan pengeras suara yang rusak.

     Ada yang berkata dengan yakin bahwa Tuhan bersama pihak mereka. Lalu roket jatuh, seorang pemimpin gugur, dan seketika narasi bergeser dengan elegan: Tuhan memang bersama mereka, tetapi kemenangan tidak selalu berarti selamat dari kematian.

     Lima menit sebelumnya, hidup adalah bukti restu ilahi. Lima menit kemudian, mati juga bukti restu ilahi.

     Tuhan tampaknya sangat fleksibel dalam logika manusia.

     Ada pula narasi yang lebih kuno, hampir seperti peninggalan fosil teologi: siapa yang benar-benar Muslim, siapa yang bukan. Seolah perang itu kompetisi kartu identitas metafisik. Seolah bom dan drone berhenti sejenak untuk memeriksa mazhab korban.

     Di satu sisi ada yang berkata: Syiah bukan Islam. Di sisi lain ada yang berkata: Mereka mati sebagai syahid.

     Lucunya, kedua kalimat itu kadang diucapkan oleh orang yang sama—hanya berbeda hari, berbeda audiens, berbeda kebutuhan emosi.

     Politik menambah lapisan absurditas yang lain. Negara berbicara tentang keamanan, tetapi keamanan selalu berarti keamanan mereka sendiri. Rakyat berbicara tentang tanah leluhur, sementara garis peta terus berubah seperti pasir yang tertiup angin. Di ruang diplomasi, kata “perdamaian” sering terdengar seperti iklan sabun: wangi, tetapi licin.

     Sementara itu di internet, manusia menemukan panggung baru untuk homo narrans—manusia yang tidak tahan hidup tanpa cerita. Video sepuluh detik berubah menjadi bukti sejarah. Potongan foto menjadi dakwaan moral. Dan setiap orang tiba-tiba menjadi analis geopolitik, ahli tafsir kitab suci, sekaligus juru bicara Tuhan.

     Di sana muncul narasi-narasi yang hampir seperti lelucon kosmik:

     Ada yang berkata Tuhan melindungi kota suci mereka—lalu kota itu hancur oleh rudal. Maka dijelaskan bahwa kehancuran adalah ujian iman.

     Ada yang berkata musuh mereka pasti dihukum Tuhan—lalu musuh itu justru semakin kuat. Maka dijelaskan bahwa Tuhan memberi waktu sebelum hukuman.

     Jika suatu hari mereka menang, itu mukjizat. Jika kalah, itu rencana misterius.

     Dalam logika seperti itu, realitas menjadi seperti tanah liat: selalu bisa dibentuk ulang agar cocok dengan keyakinan awal.

     Ada juga narasi yang lebih duniawi, tetapi tidak kalah dramatis. Perang disebut sebagai perjuangan suci, padahal di baliknya ada pipa gas, jalur perdagangan, dan keseimbangan kekuatan regional. Kadang terdengar seperti duel para nabi, padahal sebenarnya lebih mirip permainan catur para jenderal.

     Agama memberi bahasa yang agung.
     Politik memberi motif yang sangat manusiawi.

     Keduanya sering bercampur seperti kopi pahit dengan gula yang terlalu banyak.

     Yang paling ganjil justru terjadi jauh dari medan perang. Orang-orang yang tidak pernah mendengar sirene bom berbicara paling keras tentang keberanian dan pengorbanan. Mereka menulis kalimat heroik dari sofa empuk, sambil menyeru orang lain untuk mati demi kehormatan.

     Sejarah manusia penuh adegan seperti ini: para pahlawan dilahirkan oleh pidato orang lain.

     Di tengah semua itu, kadang satu ironi kecil muncul seperti cahaya tipis. Semua pihak yakin Tuhan ada di pihak mereka. Tuhan, jika kita bayangkan sebagai penonton, mungkin sedang menyaksikan manusia bertengkar sambil memegang kitab yang sama-sama mereka klaim sebagai pesan-Nya.

     Dan manusia terus bercerita.

     Mungkin karena tanpa cerita kita akan terlalu cepat melihat kenyataan yang lebih sunyi: bahwa perang sering kali bukan pertarungan kebenaran melawan kesalahan, melainkan pertarungan cerita melawan cerita. Cerita tentang identitas, cerita tentang tanah, cerita tentang sejarah yang disunting ulang berkali-kali.

     Cerita memberi makna pada kematian. Tanpa itu, kematian di medan perang hanya menjadi statistik yang dingin.

     Di titik itulah manusia memilih tetap menjadi homo narrans. Kita menenun kisah bahkan dari serpihan tragedi. Kadang kisah itu membuat kita tertawa pahit. Kadang membuat kita marah. Kadang membuat kita merasa lebih benar daripada orang lain.

     Namun sesekali, jika kita diam cukup lama, kita melihat sesuatu yang lebih sederhana: di bawah semua narasi besar itu, yang mati tetap manusia. Yang kehilangan anak tetap manusia. Yang pulang dengan tubuh hancur tetap manusia.

     Dan cerita—betapapun megahnya—tidak pernah benar-benar bisa menambal lubang yang ditinggalkan peluru.

     Mungkin itu sebabnya kalimat di awal terasa begitu pas. Dunia kadang benar-benar seperti percakapan antara si bisu, si tuli, si buta, dan si lumpuh. Semua berusaha menjelaskan realitas yang tidak sepenuhnya mereka lihat.

     Namun cerita tetap berjalan.

     Karena bagi manusia, berhenti bercerita kadang lebih menakutkan daripada perang itu sendiri.

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.