Ketika Bawakaraeng Diberi Cerita
Tidak lama setelah longsor besar melanda Gunung Bawakaraeng pada Maret 2004, yang bergerak turun ke lembah bukan hanya batu, tanah, dan pepohonan. Turun pula berbagai tafsir. Hampir semua orang mempunyai penjelasannya sendiri, dan penjelasan-penjelasan itu sering kali lebih cepat menyebar daripada kabar tentang berapa luas lereng yang runtuh atau berapa besar material yang meluncur ke Sungai Jeneberang.
Entah siapa yang pertama kali mengatakannya. Orang hanya saling mengulang. Memang sudah waktunya.
Kalimat itu kemudian tumbuh ke mana-mana. Ada yang mengatakan Bawakaraeng sudah terlalu ramai. Gunung yang dahulu sakral, hanya didatangi oleh segelintir orang, berubah menjadi tujuan ribuan pendaki. Jalur yang dulu lebih sering dilewati suara angin kini lebih akrab dengan tawa, teriakan, musik dari pengeras suara kecil, dan antrean manusia menuju puncak.
Lalu pembicaraan bergeser kepada hal-hal yang justru lebih membekas di ingatan. Bungkus mi instan yang terselip di sela akar. Botol plastik yang tertinggal di dekat mata air. Kaleng minuman yang berkarat di balik semak. Kaus dan jaket yang sengaja ditinggalkan. Bahkan kondom bekas yang beberapa kali ditemukan di sepanjang jalur pendakian. Tidak ada yang menghitung jumlahnya. Orang hanya menunjuknya sebagai tanda bahwa sesuatu telah berubah. Bukan pada gunungnya, melainkan pada manusia yang datang kepadanya.
Di banyak kampung di sekitar Bawakaraeng, gunung tidak pernah diperlakukan sebagai hamparan batu belaka. Ia dianggap memiliki kehidupannya sendiri. Karena itu, ketika longsor terjadi, tidak sedikit yang menganggap Bawakaraeng sedang menunjukkan bahwa kesabarannya telah habis. Gunung yang selama ini diam akhirnya memilih berbicara dengan caranya sendiri.
Tidak ada perdebatan tentang benar atau salah. Di sana, mempertanyakan penjelasan seperti itu justru terasa mengada-ada. Orang mendengarkan, mengangguk, lalu melanjutkan percakapan ke hal lain. Cerita itu diterima sebagaimana orang menerima hujan yang datang pada musimnya—sebuah kenyataan yang tidak memerlukan pembuktian laboratorium untuk bisa diyakini.
Barangkali yang sedang dipelihara bukan sekadar keyakinan tentang gunung yang hidup. Yang dijaga justru cara manusia memperlakukan gunung. Larangan membuang sampah, menjaga ucapan, tidak merusak sumber air, atau menghormati tempat-tempat tertentu memperoleh wibawanya bukan dari papan peringatan, melainkan dari keyakinan bahwa alam bukan sesuatu yang boleh diperlakukan sesuka hati.
Di lereng yang sama, perubahan telah berlangsung jauh lebih lama daripada umur semua keyakinan itu.
Bawakaraeng merupakan bagian dari kompleks gunung api purba Bawakaraeng–Lompobattang. Tubuhnya tersusun oleh batuan vulkanik yang selama ratusan ribu tahun terus berhadapan dengan hujan tropis. Air memasuki rekahan-rekahan batuan, melapukkan mineral sedikit demi sedikit, mengubah batuan yang semula keras menjadi semakin rapuh. Di beberapa tempat, batuan itu telah lebih dahulu mengalami alterasi hidrotermal, perubahan mineral akibat fluida panas pada masa ketika aktivitas vulkaniknya masih berlangsung. Perubahan itu tidak tampak dari kejauhan, tetapi cukup untuk mengurangi kekuatan lereng dari dalam.
Semua berlangsung tanpa suara. Setiap musim hujan menambah air ke dalam tanah. Setiap rekahan memberi jalan bagi air untuk masuk lebih jauh. Sedikit demi sedikit kekuatan batuan berkurang, sementara gravitasi tidak pernah berhenti menarik seluruh massa lereng ke bawah. Tidak ada satu hari tertentu ketika gunung tiba-tiba menjadi rapuh. Yang ada hanyalah perubahan kecil yang terus bertumpuk dalam rentang waktu yang teramat panjang.
Hujan dengan intensitas tinggi pada Maret 2004 bukanlah awal dari semuanya. Ia lebih menyerupai tetes terakhir pada sebuah rangkaian proses yang telah berlangsung ribuan tahun. Lereng yang perlahan kehilangan kestabilannya akhirnya tidak lagi mampu menahan bebannya sendiri. Dalam hitungan menit, jutaan meter kubik batuan dan tanah bergerak menuruni lembah, membendung alur Sungai Jeneberang, mengubah bentang alam, dan meninggalkan persoalan sedimentasi yang masih harus dihadapi Bendungan Bili-Bili bertahun-tahun sesudahnya.
Sesudah longsor itu, lereng berubah. Sungai berubah. Peta pun berubah. Tetapi Bawakaraeng tetap menjadi Bawakaraeng. Yang terus berubah justru cara manusia memandangnya. Sebagian melihat gunung yang sedang mengingatkan manusia agar tahu batas. Sebagian lagi melihat sebuah lereng yang akhirnya mencapai batas kestabilannya setelah bekerja sangat lama di bawah hujan, pelapukan, dan gravitasi.
Barangkali bumi tidak pernah membutuhkan salah satu dari kedua penjelasan itu. Lereng tidak merasa perlu menjelaskan mengapa ia runtuh. Hujan tidak pernah merasa perlu meminta maaf karena turun terlalu lama. Batuan juga tidak pernah berusaha meyakinkan siapa pun tentang bagaimana ia lapuk. Semua penjelasan lahir dari manusia. Sebab sejak dahulu, setiap kali berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya, manusia hampir selalu melakukan hal yang sama: berusaha memahami bumi, dengan bahasa yang dimilikinya.





