Latest Post

     Ada sesuatu yang menarik dalam kehidupan manusia. Hampir setiap perjalanan besar selalu dimulai dengan sebuah kalimat. Kadang berupa doa. Kadang berupa semboyan. Kadang hanya sepotong kata yang diulang pelan sebelum seseorang melangkah. Anehnya, kalimat-kalimat itu tidak pernah mengubah kenyataan. Tebing tetap terjal. Hutan tetap lebat. Laut tetap menyimpan badai. Namun manusia tetap merasa perlu membawanya.

     Mengapa?

     Barangkali karena manusia mengetahui sesuatu yang sering dilupakannya. Keberanian saja kadang tidak cukup.

     Pendaki mengetahui bahwa keberanian tidak membuat cuaca menjadi bersahabat. Penjelajah memahami bahwa keberanian tidak menghilangkan kemungkinan tersesat. Seorang peneliti mengetahui bahwa keberanian tidak menjamin temuannya benar. Seorang pemimpin pun memahami bahwa keberanian tidak membuat setiap keputusannya bebas dari kekeliruan. Namun, meskipun mengetahui semua itu, manusia tetap melangkah. Seolah-olah selalu ada sesuatu yang ingin diyakini sebelum langkah pertama diambil.

     Mungkin karena itulah hampir setiap kebudayaan memiliki kalimat-kalimat yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Sebagian menyebutnya doa. Sebagian menyebutnya petuah. Sebagian lagi menyebutnya semboyan. Bentuknya berbeda-beda, tetapi fungsinya hampir sama. Ia bukan penjelasan tentang dunia, melainkan penguatan bagi manusia yang sedang menghadapinya.

     Kalimat-kalimat seperti itu sesungguhnya tidak sedang berbicara tentang Tuhan. Ia lebih banyak berbicara tentang manusia yang sedang mencari keberanian.

     Keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut. Orang yang berani mengetahui apa yang sedang dipertaruhkannya, memahami risikonya, lalu tetap memilih melangkah. Karena itu keberanian tidak selalu tampak dalam tindakan yang besar. Kadang ia hadir ketika seseorang bersedia mengakui kekeliruannya, membuka diri terhadap pandangan yang berbeda, atau menerima bahwa sesuatu yang selama ini diyakini ternyata masih dapat diperbaiki. Bagi banyak orang, langkah-langkah seperti itu sering kali lebih sulit daripada mendaki gunung.

kado ulang tahun ke-41 Korpala

     Empat puluh satu tahun memberi Korpala pengalaman yang tidak sedikit. Pengalaman memang layak dihormati, tetapi ia tidak pernah boleh menjadi alasan untuk berhenti bertanya. Justru karena pengalamanlah, setiap generasi mempunyai tanggung jawab untuk terus memastikan bahwa apa yang dijalankan hari ini masih memiliki makna bagi zamannya.

     Pada ulang tahun Korpala ini, saya mempersembahkan Arsitektur Pendidikan Korpala sebagai sebuah kado. Bukan kado yang berisi kumpulan jawaban, melainkan undangan untuk berdialog dengan diri sendiri dan dengan organisasi yang telah membentuk begitu banyak perjalanan hidup. Barangkali keberanian pertama yang diminta buku ini sangat sederhana: berani membacanya sampai selesai. Memberi kesempatan kepada setiap gagasan untuk utuh terlebih dahulu, sebelum memutuskan menerima atau menolaknya.

     Tidak semua orang akan sepakat dengan seluruh isinya. Memang tidak seharusnya demikian. Sebuah buku yang selesai dibaca tidak selalu selesai dipikirkan. Kadang ia baru benar-benar dimulai ketika halaman terakhir ditutup, lalu percakapan-percakapan kecil lahir di sekretariat, di perjalanan, di lereng gunung, atau di bawah langit malam ketika api unggun mulai mengecil.

     Ingatan itu kemudian membawa saya kembali ke wall lama. Sarana latihan waktu itu sangat sederhana. Salah satu dinding yang dipasangi potongan-potongan kayu eboni sebagai pegangan untuk latihan pull up dan traversing. Dinding yang juga kadang sebagai ujian kecil untuk KC membubuhkan tanda tangan di lembar absensi. Dinding itu masih berdiri hingga hari ini. Barangkali fungsinya kini lebih sering menjadi latar foto daripada tempat orang bergelantungan seperti dulu. Waktu memang mengubah banyak hal, tetapi rupanya tidak semua jejak ikut hilang.

     Di kaki dinding itu terbentang satu baris tegel semen tua. Di sanalah, entah sejak kapan, pernah tertulis sebuah kalimat yang begitu sederhana hingga nyaris tidak menarik perhatian. Anehnya, justru kalimat itulah yang tetap tinggal ketika banyak hal lain perlahan terlupakan.

     "Tuhan bersama orang-orang berani."

     Tulisan itu sudah lama tidak ada. Namun gemanya ternyata tidak pernah benar-benar pergi.

     Benarkah Tuhan bersama orang-orang berani?

     Saya tidak tahu.

     Sebab ada kalimat-kalimat yang tidak pernah meminta untuk dijelaskan.

     Ia hanya meminta seseorang memiliki cukup keberanian untuk membacanya, lalu melangkah.

     Tidak lama setelah longsor besar melanda Gunung Bawakaraeng pada Maret 2004, yang bergerak turun ke lembah bukan hanya batu, tanah, dan pepohonan. Turun pula berbagai tafsir. Hampir semua orang mempunyai penjelasannya sendiri, dan penjelasan-penjelasan itu sering kali lebih cepat menyebar daripada kabar tentang berapa luas lereng yang runtuh atau berapa besar material yang meluncur ke Sungai Jeneberang.

     Entah siapa yang pertama kali mengatakannya. Orang hanya saling mengulang. Memang sudah waktunya.

     Kalimat itu kemudian tumbuh ke mana-mana. Ada yang mengatakan Bawakaraeng sudah terlalu ramai. Gunung yang dahulu sakral, hanya didatangi oleh segelintir orang, berubah menjadi tujuan ribuan pendaki. Jalur yang dulu lebih sering dilewati suara angin kini lebih akrab dengan tawa, teriakan, musik dari pengeras suara kecil, dan antrean manusia menuju puncak.

     Lalu pembicaraan bergeser kepada hal-hal yang justru lebih membekas di ingatan. Bungkus mi instan yang terselip di sela akar. Botol plastik yang tertinggal di dekat mata air. Kaleng minuman yang berkarat di balik semak. Kaus dan jaket yang sengaja ditinggalkan. Bahkan kondom bekas yang beberapa kali ditemukan di sepanjang jalur pendakian. Tidak ada yang menghitung jumlahnya. Orang hanya menunjuknya sebagai tanda bahwa sesuatu telah berubah. Bukan pada gunungnya, melainkan pada manusia yang datang kepadanya.

     Di banyak kampung di sekitar Bawakaraeng, gunung tidak pernah diperlakukan sebagai hamparan batu belaka. Ia dianggap memiliki kehidupannya sendiri. Karena itu, ketika longsor terjadi, tidak sedikit yang menganggap Bawakaraeng sedang menunjukkan bahwa kesabarannya telah habis. Gunung yang selama ini diam akhirnya memilih berbicara dengan caranya sendiri.

     Tidak ada perdebatan tentang benar atau salah. Di sana, mempertanyakan penjelasan seperti itu justru terasa mengada-ada. Orang mendengarkan, mengangguk, lalu melanjutkan percakapan ke hal lain. Cerita itu diterima sebagaimana orang menerima hujan yang datang pada musimnya—sebuah kenyataan yang tidak memerlukan pembuktian laboratorium untuk bisa diyakini.

     Barangkali yang sedang dipelihara bukan sekadar keyakinan tentang gunung yang hidup. Yang dijaga justru cara manusia memperlakukan gunung. Larangan membuang sampah, menjaga ucapan, tidak merusak sumber air, atau menghormati tempat-tempat tertentu memperoleh wibawanya bukan dari papan peringatan, melainkan dari keyakinan bahwa alam bukan sesuatu yang boleh diperlakukan sesuka hati.

     Di lereng yang sama, perubahan telah berlangsung jauh lebih lama daripada umur semua keyakinan itu.

     Bawakaraeng merupakan bagian dari kompleks gunung api purba Bawakaraeng–Lompobattang. Tubuhnya tersusun oleh batuan vulkanik yang selama ratusan ribu tahun terus berhadapan dengan hujan tropis. Air memasuki rekahan-rekahan batuan, melapukkan mineral sedikit demi sedikit, mengubah batuan yang semula keras menjadi semakin rapuh. Di beberapa tempat, batuan itu telah lebih dahulu mengalami alterasi hidrotermal, perubahan mineral akibat fluida panas pada masa ketika aktivitas vulkaniknya masih berlangsung. Perubahan itu tidak tampak dari kejauhan, tetapi cukup untuk mengurangi kekuatan lereng dari dalam.

     Semua berlangsung tanpa suara. Setiap musim hujan menambah air ke dalam tanah. Setiap rekahan memberi jalan bagi air untuk masuk lebih jauh. Sedikit demi sedikit kekuatan batuan berkurang, sementara gravitasi tidak pernah berhenti menarik seluruh massa lereng ke bawah. Tidak ada satu hari tertentu ketika gunung tiba-tiba menjadi rapuh. Yang ada hanyalah perubahan kecil yang terus bertumpuk dalam rentang waktu yang teramat panjang.

     Hujan dengan intensitas tinggi pada Maret 2004 bukanlah awal dari semuanya. Ia lebih menyerupai tetes terakhir pada sebuah rangkaian proses yang telah berlangsung ribuan tahun. Lereng yang perlahan kehilangan kestabilannya akhirnya tidak lagi mampu menahan bebannya sendiri. Dalam hitungan menit, jutaan meter kubik batuan dan tanah bergerak menuruni lembah, membendung alur Sungai Jeneberang, mengubah bentang alam, dan meninggalkan persoalan sedimentasi yang masih harus dihadapi Bendungan Bili-Bili bertahun-tahun sesudahnya.

     Sesudah longsor itu, lereng berubah. Sungai berubah. Peta pun berubah. Tetapi Bawakaraeng tetap menjadi Bawakaraeng. Yang terus berubah justru cara manusia memandangnya. Sebagian melihat gunung yang sedang mengingatkan manusia agar tahu batas. Sebagian lagi melihat sebuah lereng yang akhirnya mencapai batas kestabilannya setelah bekerja sangat lama di bawah hujan, pelapukan, dan gravitasi.

     Barangkali bumi tidak pernah membutuhkan salah satu dari kedua penjelasan itu. Lereng tidak merasa perlu menjelaskan mengapa ia runtuh. Hujan tidak pernah merasa perlu meminta maaf karena turun terlalu lama. Batuan juga tidak pernah berusaha meyakinkan siapa pun tentang bagaimana ia lapuk. Semua penjelasan lahir dari manusia. Sebab sejak dahulu, setiap kali berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya, manusia hampir selalu melakukan hal yang sama: berusaha memahami bumi, dengan bahasa yang dimilikinya.

     Barangkali moral adalah salah satu kata yang paling sering diucapkan manusia, tetapi paling jarang disentuh. Ia hadir di ruang sidang, di rumah ibadah, di ruang keluarga, di sekolah, di media sosial. Semua orang tampak mengerti ketika mengucapkannya. Anehnya, begitu ditanya apa sebenarnya moral itu, jawaban segera bercabang ke mana-mana. Ada yang menunjuk kitab suci. Ada yang menunjuk hukum. Ada yang menunjuk adat. Ada pula yang menunjuk hati nurani. Semakin banyak penjelasan diberikan, semakin jauh kata itu berjalan dari dirinya sendiri.

     Mungkin karena selama ini perhatian terlalu lama diarahkan kepada cerita tentang moral, bukan kepada apa yang sebenarnya ada sebelum semua cerita itu lahir.

     Bayangkan sebuah dunia yang belum mengenal manusia. Gunung runtuh menimpa lembah. Petir membelah pohon tua. Laut menelan pulau kecil. Tidak ada satu pun peristiwa itu yang bermoral ataupun tidak bermoral. Alam tidak sedang berlaku adil. Alam juga tidak sedang berlaku kejam. Ia hanya berlangsung.

     Kemudian kehidupan muncul. Namun kehidupan saja ternyata belum cukup. Seekor ular yang memangsa tikus tidak sedang melakukan kejahatan. Seekor singa yang membunuh anak zebra pun tidak sedang melanggar aturan apa pun. Kehidupan telah dipenuhi pembunuhan jauh sebelum kata "membunuh" ditemukan.

     Lalu evolusi melakukan sesuatu yang jauh lebih ganjil daripada sekadar menciptakan kehidupan. Ia melahirkan makhluk yang mampu mengalami kehidupannya sendiri.

     Rasa sakit tidak lagi hanya menjadi rangkaian impuls listrik yang melintas di sistem saraf. Ia berubah menjadi pengalaman. Takut menjadi pengalaman. Kehilangan menjadi pengalaman. Kasih sayang menjadi pengalaman. Untuk pertama kalinya, alam semesta bukan hanya berisi benda dan peristiwa, tetapi juga sesuatu yang dapat merasakan peristiwa itu dari dalam dirinya.

     Namun moral masih belum ada.

     Sebab kemampuan merasakan belum cukup melahirkan moral. Yang diperlukan adalah satu hal lagi: kemampuan memilih.

     Pada saat seekor makhluk mulai mampu menentukan tindakannya, dan tindakan itu dapat mengubah pengalaman makhluk lain, di situlah sesuatu yang sama sekali baru muncul. Tangan yang sama dapat mengangkat seseorang yang jatuh, atau justru mendorongnya ke jurang. Lidah yang sama dapat menghibur, atau menghancurkan harga diri seseorang hanya dengan beberapa kata. Pikiran yang sama dapat menemukan obat, atau merancang cara membunuh yang lebih efisien.

     Barangkali moral lahir tepat di titik itu.

Bukan ketika manusia mengenal agama. Bukan ketika negara dibentuk. Bukan ketika hukum ditulis. Semua itu datang jauh belakangan. Yang lebih dahulu ada adalah kenyataan sederhana bahwa pengalaman hidup makhluk lain, sebagian, berada di dalam jangkauan tindakan kita.

     Sesudah itu manusia mulai bercerita.

     Ada yang mengatakan bahwa cara menggunakan kebebasan itu diajarkan oleh Tuhan. Ada yang percaya ia ditemukan oleh akal. Ada yang menganggapnya hasil kesepakatan masyarakat. Ada pula yang melihatnya sebagai warisan evolusi. Cerita terus bertambah, tetapi yang diceritakan sebenarnya tetap sama: bagaimana seharusnya kebebasan seseorang bertemu dengan kerentanan orang lain.

     Mungkin di sinilah sumber begitu banyak kebingungan. Kita terlalu sering mengira bahwa moral adalah cerita-cerita itu. Padahal cerita hanyalah cara sapiens menjelaskan sesuatu yang telah lebih dahulu ada. Sama seperti gravitasi tidak lahir ketika Newton menuliskannya, moral tidak lahir ketika manusia menemukan kata "baik" dan "buruk". Kata-kata hanya memberi nama pada sesuatu yang telah bekerja jauh sebelum bahasa menjadi begitu fasih.

     Karena itu, sejarah moral sebenarnya bukan sejarah tentang benar dan salah. Ia adalah sejarah tentang berbagai cara manusia menjelaskan kenyataan yang sama. Agama menjelaskannya dengan wahyu. Filsafat menjelaskannya dengan nalar. Ilmu pengetahuan mencoba menjelaskannya melalui evolusi, otak, dan perilaku sosial. Masing-masing berbicara dengan bahasa yang berbeda, tetapi semuanya sedang mengitari objek yang sama.

     Objek itu bukan hukum.
     Bukan norma.
     Bukan kitab.
     Bukan pula budaya.
 

     Objek itu adalah makhluk yang mampu terluka, sekaligus mampu menyebabkan luka.

     Di zaman ini, ketika setiap hari lahir moral-moral baru yang berteriak paling benar, ketika satu video dapat mengubah penilaian jutaan orang hanya dalam beberapa jam, ketika kebenaran dan kebohongan bercampur tanpa sempat dipisahkan, semua narasi itu tampak begitu cair. Hari ini seseorang dipuja karena dianggap bermoral, esok ia dihukum oleh moral yang lain. Seolah-olah moral berubah setiap kali lini masa berganti.

     Tetapi ada sesuatu yang tidak pernah ikut berubah.

     Tubuh yang disiksa tetap merasakan sakit. Kepercayaan yang dikhianati tetap meninggalkan luka. Anak yang kehilangan ibunya tetap mengalami duka.

     Pengalaman tidak pernah menjadi propaganda bagi pemiliknya.

     Mungkin karena itulah, setelah semua teori, semua kitab, semua ideologi, dan semua perdebatan selesai, yang tersisa ternyata tidak banyak. Hanya dua makhluk yang saling berhadapan. Yang satu memiliki kebebasan untuk bertindak. Yang lain memiliki kemampuan untuk merasakan akibat dari tindakan itu. Dari pertemuan sederhana itulah seluruh peradaban kemudian membangun hukum, agama, filsafat, adat, bahkan peperangan.

     Barangkali moral tidak pernah turun dari langit. Barangkali moral juga tidak pernah diciptakan oleh manusia.

     Yang lebih mungkin adalah: evolusi melahirkan makhluk yang bisa saling melukai. Sapiens kemudian memberi nama pada kenyataan itu.

Nama itulah yang hari ini kita sebut sebagai moral.

     Ada percakapan yang selesai sebelum sempat dimulai. Bukan karena tak ada kata-kata, melainkan karena semuanya diucapkan pada waktu yang salah.

     Di sebuah warung kopi, dua sahabat duduk berhadapan. Mereka berbicara tentang pekerjaan, harga beras, pertandingan sepak bola semalam, dan hujan yang semakin sulit ditebak. Hampir satu jam percakapan berlangsung. Ketika mereka berpisah, tak satu pun dari keduanya menyadari bahwa ada hal yang sejak tadi ingin disampaikan, tetapi pulang bersama pemiliknya. Yang paling sering gagal diucapkan bukanlah kebohongan. Melainkan kejujuran yang datang terlambat.

     Begitulah hidup bekerja. Manusia jarang kehilangan kata-kata. Yang lebih sering hilang adalah keberanian untuk mengucapkannya pada saat yang masih berarti.

     Mungkin karena itulah beberapa kalimat terus mengikuti seseorang sepanjang hidupnya. Bukan karena indah, tetapi karena ia datang beberapa tahun setelah kesempatan terakhir berlalu. Waktu rupanya memiliki kebiasaan yang aneh. Ia tidak selalu memberi jawaban ketika pertanyaan diajukan. Kadang ia membiarkan pertanyaan itu berjalan bertahun-tahun, sampai suatu sore, ketika seseorang sedang menyapu halaman atau menunggu air mendidih, jawabannya datang begitu saja. Pengertian sering berjalan lebih lambat daripada peristiwa.

     Di rak buku yang mulai berdebu, terselip sebuah foto lama. Tidak ada peristiwa besar di dalamnya. Hanya beberapa orang yang tersenyum kepada kamera, seolah hidup akan selalu memiliki cukup waktu untuk mempertemukan mereka lagi. Tidak ada yang tahu bahwa sebagian senyum memang hanya sempat hidup di dalam sebuah foto. Kenangan tidak pernah meminta untuk diingat. Manusialah yang diam-diam tidak sanggup melepaskannya.

     Barangkali usia memang bukan sekadar kumpulan tahun. Ia adalah tempat berbagai kalimat yang dulu terdengar biasa perlahan menemukan artinya. Nasihat yang pernah dianggap cerewet berubah menjadi kerinduan. Teguran yang dulu terasa menyakitkan berubah menjadi rasa terima kasih. Bahkan diam seseorang kadang baru dipahami setelah suara itu benar-benar tidak ada lagi. Sebagian kehilangan bukan mengajarkan arti memiliki. Ia mengajarkan betapa sedikitnya perhatian yang pernah diberikan ketika semuanya masih ada.

     Di pasar, seorang anak memperhatikan ibunya menawar sayuran. Ia heran mengapa ibunya begitu lama memperdebatkan selisih yang begitu kecil. Bertahun-tahun kemudian, ketika ia sendiri membawa daftar belanja sambil menghitung sisa uang di dalam dompet, barulah ia mengerti bahwa yang sedang diperjuangkan ibunya bukan beberapa lembar uang. Yang sedang dijaga adalah agar hari esok tetap mempunyai kemungkinan. Pemahaman sering datang tepat ketika orang yang ingin menjelaskannya sudah berhenti menjelaskan.

     Begitulah hampir semua pelajaran terbaik datang. Tidak dengan suara keras, melainkan dengan kesediaan waktu mengulang pengalaman yang sama dalam bentuk yang berbeda. Barangkali sebab itu manusia mudah memaafkan dirinya ketika muda. Ia mengira masih akan selalu ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Padahal hidup tidak pernah berjanji akan mengulang peristiwa. Yang diulang hanyalah kesempatan untuk menyesalinya.

     Menjelang malam, jalanan kembali lengang. Lampu-lampu rumah menyala satu per satu. Dari kejauhan terdengar seseorang memanggil nama anaknya untuk pulang. Pemandangan seperti itu telah terjadi ribuan kali. Justru karena terlalu biasa, hampir tak pernah ada yang benar-benar melihatnya. Yang paling mudah luput bukanlah keajaiban. Melainkan hal-hal yang setiap hari setia hadir.

     Barangkali manusia memang hidup lebih banyak di dalam penundaan daripada di dalam kepastian. Menunda meminta maaf. Menunda berterima kasih. Menunda berkunjung. Menunda berkata rindu. Anehnya, hampir tidak ada yang menunda penyesalan.

     Lalu suatu hari, ketika rambut mulai memutih dan rumah terasa lebih sunyi daripada biasanya, berbagai percakapan itu datang kembali. Bukan untuk diulang, melainkan untuk dipahami. Mereka duduk diam di sudut ingatan, tanpa menyalahkan siapa pun. Seolah hanya ingin mengatakan bahwa hidup sebenarnya berkali-kali memberi kesempatan, hanya saja pengertian sering memilih datang belakangan.

     Mungkin karena itulah ada kalimat-kalimat yang tidak pernah terasa tua. Ia lahir bukan dari kepandaian merangkai kata, melainkan dari waktu yang terlalu lama menyimpan makna. Sebelum menjadi satu kalimat, ia pernah menjadi keraguan, penantian, kehilangan, juga kesunyian yang tak kunjung selesai.

     Dan mungkin, seluruh hidup tidak lain hanyalah percakapan yang terus berlangsung dengan diri sendiri. Sebagian selesai hari ini. Sebagian lagi baru menemukan jawabannya bertahun-tahun kemudian. Tidak ada yang benar-benar terlambat, kecuali keyakinan bahwa segala sesuatu selalu dapat ditunda.

     Ada satu kalimat yang sering beredar ketika orang membicarakan karst Maros-Pangkep: "Dulu Maros pernah tenggelam di bawah laut." Kalimat ini terdengar dramatis. Ia mudah memancing rasa takjub. Sayangnya, ia juga menyederhanakan proses geologi yang jauh lebih menarik daripada sekadar kisah tentang daratan yang "tenggelam".

     Maros tidak pernah tenggelam, karena sejak awal batu gamping yang menyusun sebagian besar bentang alamnya memang lahir di laut.

     Perbedaannya mungkin terdengar sepele, tetapi secara geologi sangat mendasar.

     Batu gamping bukanlah batuan yang berasal dari gunung berapi atau dari tanah yang kemudian terendam. Sebagian besar batu gamping terbentuk dari akumulasi cangkang, kerangka, dan sisa organisme laut seperti karang, alga berkapur, foraminifera, moluska, serta berbagai mikroorganisme yang hidup di laut dangkal. Setelah organisme-organisme itu mati, cangkangnya mengendap sedikit demi sedikit di dasar laut. Selama jutaan tahun, endapan tersebut mengalami pemadatan dan sementasi hingga berubah menjadi batu gamping.

     Lingkungan tempat proses itu berlangsung pun bukan sembarang laut. Batu gamping umumnya terbentuk di laut yang hangat, jernih, relatif dangkal, kaya cahaya matahari, dan memiliki pH sedikit basa, sekitar 8 hingga 8,3. Kondisi seperti inilah yang memungkinkan organisme pembentuk kalsium karbonat berkembang dengan baik. Laut tropis masa kini di sekitar Kepulauan Bahama, Maladewa, atau sebagian Great Barrier Reef memberikan gambaran yang cukup baik tentang lingkungan tempat batu gamping purba terbentuk.

     Lalu muncul pertanyaan yang sering membingungkan: jika batu gamping terbentuk di laut dangkal, mengapa ketebalannya bisa mencapai ribuan meter? Bukankah laut dangkal hanya memiliki kedalaman puluhan meter?

     Jawabannya terletak pada satu proses yang jarang diceritakan dalam narasi populer: penurunan dasar cekungan atau subsidence.

     Selama jutaan tahun pengendapan berlangsung, dasar laut tempat endapan batu gamping terbentuk perlahan-lahan ikut turun akibat proses tektonik dan penyesuaian kerak bumi terhadap beban sedimen. Ketika dasar laut turun beberapa meter, pertumbuhan organisme karbonat terus "mengejar" permukaan laut. Akibatnya, lingkungan tetap dangkal meskipun dasar cekungannya terus bergerak turun. Proses ini berlangsung berulang kali selama jutaan tahun sehingga menghasilkan tumpukan batu gamping yang sangat tebal.

     Formasi Tonasa di Sulawesi Selatan merupakan contoh yang sangat baik. Batuan ini mulai diendapkan sekitar 50 juta tahun yang lalu, ketika Sulawesi bagian barat masih berupa laut tropis yang hangat dan dangkal. Selama kira-kira 35 juta tahun, hingga pengendapannya berakhir sekitar 15 juta tahun yang lalu, generasi demi generasi organisme laut lahir, hidup, mati, lalu meninggalkan kerangka kapurnya di dasar laut. Dari siklus kehidupan yang nyaris tak terhitung jumlahnya itu, butiran demi butiran karbonat terus bertumpuk, perlahan membangun endapan yang akhirnya mencapai ketebalan sekitar dua kilometer.

     Angka ini bukan berarti laut tempat pembentukannya sedalam dua kilometer. Sebaliknya, lingkungan pengendapannya tetap berupa laut dangkal yang kaya kehidupan, sementara dasar cekungannya perlahan mengalami penurunan sehingga selalu tersedia ruang bagi endapan baru. Selama 35 juta tahun, laut tropis itu bekerja tanpa suara. Tidak ada ledakan, tidak ada peristiwa dramatis yang bisa disaksikan dalam satu generasi. Hanya jutaan organisme kecil yang menjalani hidupnya, mati, lalu menjadi bagian dari lapisan berikutnya. Apa yang kini tampak sebagai tebing-tebing karst Maros sesungguhnya adalah hasil akumulasi kesabaran bumi dalam rentang waktu yang hampir mustahil dibayangkan oleh umur manusia.

     Bayangkan sebuah eskalator yang bergerak turun sangat perlahan. Di atasnya, para pekerja terus menyusun batu bata sehingga permukaannya tetap berada pada ketinggian yang sama. Setelah waktu yang sangat lama, tumpukan batu bata menjadi sangat tinggi, bukan karena pekerjanya berpindah ke tempat yang lebih dalam, melainkan karena lantai tempat mereka bekerja terus bergerak turun. Demikianlah kira-kira cara alam membangun Formasi Tonasa. Lautnya tetap dangkal, kehidupan terus berlangsung, sementara dasar cekungannya perlahan-lahan turun selama puluhan juta tahun.

     Karena itu, mengatakan bahwa "Maros pernah tenggelam" sebenarnya kurang tepat. Kalimat tersebut seolah menggambarkan bahwa dahulu ada daratan yang kemudian ditelan laut. Padahal, yang terjadi adalah kawasan itu memang merupakan bagian dari lingkungan laut ketika batu gampingnya sedang terbentuk.

     Analogi sederhana mungkin bisa membantu. Mengatakan Maros pernah tenggelam karena batu gampingnya terbentuk di laut sama ganjilnya dengan mengatakan seekor ikan pernah tenggelam. Ikan tidak tenggelam; air memang habitatnya. Demikian pula batu gamping. Ia lahir, tumbuh, dan berkembang di lingkungan laut. Baru jauh kemudian, akibat tumbukan lempeng tektonik dan proses pengangkatan kerak bumi, endapan batu gamping itu terangkat ke daratan. Hujan tropis selama jutaan tahun kemudian mengukirnya menjadi bentang karst yang kita lihat hari ini: bukit-bukit kapur, gua, sungai bawah tanah, dolina, dan menara-menara batu yang menjadi ciri khas Maros-Pangkep.

     Ironisnya, penjelasan yang lebih akurat justru jauh lebih menakjubkan daripada narasi "pernah tenggelam". Yang sedang kita lihat hari ini bukanlah daratan yang kebetulan pernah berada di bawah laut. Kita sedang berdiri di atas sebuah laut purba yang membatu, kemudian diangkat ke permukaan bumi oleh tenaga tektonik, sebelum akhirnya dipahat perlahan oleh air hujan tropis selama puluhan juta tahun.

     Bumi tidak membutuhkan dramatisasi agar tampak menakjubkan. Tiga puluh lima juta tahun diperlukan untuk membangun Formasi Tonasa, lapis demi lapis, cangkang demi cangkang, generasi demi generasi. Dibandingkan kisah itu, narasi bahwa "Maros pernah tenggelam" terasa terlalu kecil untuk menjelaskan keajaiban yang sebenarnya terjadi.

     Ada jenis ketidaktahuan yang lahir bukan karena seseorang tidak mampu mengetahui, melainkan karena ia memilih untuk tidak segera mengetahui. Ia bukan kekurangan informasi, bukan keterbatasan kemampuan berpikir, bukan pula penolakan terhadap pengetahuan. Ia adalah sebuah keputusan kecil untuk memberi jarak antara pertanyaan dan jawaban.

     Di zaman ketika hampir semua hal dapat ditemukan dalam beberapa detik, ketidaktahuan menjadi sesuatu yang terasa aneh. Manusia modern hidup dalam keyakinan bahwa setiap celah harus segera diisi. Pertanyaan harus memiliki jawaban, kebingungan harus segera dibereskan, dan ketidakpastian harus segera dikurangi. Tidak tahu dianggap sebagai keadaan sementara yang harus diperbaiki secepat mungkin.

     Padahal ada hal-hal yang justru kehilangan keindahannya ketika terlalu cepat diketahui.

     Seseorang yang membaca novel misteri tentu memahami godaan untuk langsung membuka halaman terakhir. Jawaban ada di sana. Pelaku sudah diketahui, teka-teki sudah selesai, rasa penasaran sudah dibereskan. Namun hampir semua orang tahu bahwa melakukan itu berarti kehilangan sesuatu yang lebih penting daripada jawaban: perjalanan menuju jawaban.

     Demikian pula dengan banyak hal dalam hidup.

     Ada pengalaman yang nilainya bukan terletak pada hasil akhirnya, melainkan pada ruang kosong sebelum hasil itu tiba. Menunggu kabar seseorang. Menjelajahi tempat yang belum dikenal. Mendengar lagu baru tanpa membaca ulasan sebelumnya. Membiarkan sebuah percakapan berkembang tanpa menyiapkan kesimpulan. Ada kenikmatan tertentu dalam tidak mengetahui, karena di sana imajinasi masih memiliki tempat untuk bergerak.

     Ketidaktahuan yang disengaja bukanlah kebodohan yang dipelihara. Justru sering kali ia membutuhkan kedewasaan tertentu. Dibutuhkan keberanian untuk mengatakan, “aku belum tahu,” di dunia yang menghargai orang yang selalu tampak yakin. Ada kekuatan dalam menahan diri dari kesimpulan yang terlalu cepat.

     Karena mengetahui sesuatu bukan hanya tentang memiliki informasi, tetapi juga tentang memahami kapan informasi itu layak dimiliki.

     Ada orang yang membaca semua tentang suatu tempat sebelum mengunjunginya. Ia tahu sejarahnya, peta jalannya, foto-fotonya, komentar orang-orang yang pernah datang. Ketika tiba di sana, mungkin ia tidak akan tersesat, tetapi mungkin juga tidak benar-benar menemukan kejutan. Tempat itu datang bukan sebagai pengalaman, melainkan sebagai konfirmasi dari sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya.

     Tentu tidak ada yang salah dengan persiapan. Peta dan pengetahuan menyelamatkan banyak perjalanan. Seorang pendaki yang masuk hutan tanpa pengetahuan bisa membahayakan dirinya sendiri. Seorang ilmuwan yang menolak fakta akan kehilangan pijakan. Ketidaktahuan yang disengaja bukan berarti memusuhi pengetahuan.

     Ia hanya mengingatkan bahwa pengetahuan juga memiliki waktu.

     Ada saatnya mengetahui adalah bentuk kebijaksanaan. Tetapi ada pula saatnya menunggu adalah bentuk kebijaksanaan yang lain.

     Dalam hubungan manusia, misalnya, keinginan untuk mengetahui segala sesuatu kadang justru menjadi bentuk kecemasan. Kita ingin membaca semua tanda, mencari semua jawaban, memahami semua kemungkinan. Kita ingin memastikan tidak ada kejutan yang menyakitkan. Namun manusia bukan teka-teki matematika yang bisa diselesaikan sepenuhnya. Selalu ada ruang yang tidak terlihat, bahkan dalam diri orang yang paling dekat.

     Dan mungkin justru ruang itulah yang membuat hubungan tetap hidup.

     Ada sesuatu yang menarik dari manusia lain yang tidak sepenuhnya kita pahami. Ada bagian yang tetap menjadi wilayah asing, tempat kita terus belajar. Jika semuanya sudah diketahui, mungkin hubungan berubah menjadi arsip. Tidak ada lagi penemuan, tidak ada lagi rasa ingin tahu.

     Ketidaktahuan yang disengaja juga memiliki sisi lain yang lebih sunyi: kemampuan untuk tidak ikut campur. Ada hal-hal yang tidak perlu kita ketahui, tidak perlu kita bongkar, tidak perlu kita miliki. Dalam budaya yang sering menganggap akses sebagai hak, kemampuan untuk berhenti di batas tertentu menjadi semakin langka.

     Tidak semua pintu harus dibuka hanya karena kita memiliki kunci.

     Tidak semua rahasia harus dipecahkan hanya karena kita mampu.

     Mungkin di situlah letak ironi kecilnya. Manusia menghabiskan sejarah untuk mengurangi ketidaktahuan, membangun ilmu pengetahuan, menjelajah angkasa, membaca kode kehidupan. Semua itu adalah pencapaian yang luar biasa. Namun setelah mengetahui begitu banyak hal, manusia perlahan menemukan bahwa kemampuan untuk tidak tahu juga memiliki nilai.

     Sebab tidak semua ruang kosong adalah kekurangan.

     Sebagian adalah ruang bagi rasa ingin tahu. Sebagian adalah ruang bagi imajinasi. Sebagian lagi adalah ruang bagi kerendahan hati.

     Pada akhirnya, ketidaktahuan yang disengaja bukan tentang menutup mata terhadap dunia. Ia adalah cara lain untuk melihat dunia dengan lebih sabar. Membiarkan beberapa pertanyaan tetap terbuka, bukan karena tidak mampu menjawabnya, tetapi karena menyadari bahwa beberapa perjalanan akan kehilangan makna jika tujuannya sudah diketahui sejak awal.

     Dan mungkin dalam kehidupan yang penuh dengan jawaban cepat ini, salah satu bentuk kebijaksanaan yang mulai langka adalah kemampuan untuk berdiri di depan sebuah pertanyaan, tersenyum kecil, lalu berkata: belum sekarang.

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.