Aku Dalam Permainan Orang Tersesat
Ada momen tertentu dalam hidup ketika seseorang baru menyadari bahwa tersesat bukanlah ancaman, melainkan seni kecil yang nyaris semua orang mainkan tanpa pernah mengakuinya. Geolog seperti aku pernah berkali-kali membaca peta yang tak lagi cocok dengan kontur di hadapan mata; pendaki sepertiku juga pernah melangkah tanpa tahu apakah jalur itu akan berujung di punggungan atau tebing patah. Dan dalam hidup yang lebih dalam dari medan, aku bahkan lebih sering kehilangan arah sambil tetap menunjukkan wajah yang tenang—seolah kompas batin ini tahu sesuatu yang tak kuketahui. Pada titik tertentu aku menerima satu hal: tersesat bukan kecelakaan; ia adalah keahlian manusia untuk terus bergerak meski tanpa alamat yang pasti.
Filsafat mungkin lahir dari momen tersesat semacam itu—ketika kesadaran mendadak sadar pada dirinya sendiri, lalu mematung, bingung, bertanya: “Di mana saya sebenarnya berdiri?” Dari Socrates yang berkeliaran di pasar Athena, sampai Heidegger yang mengusir kita ke tengah “hutan makna”, semuanya memulai dengan satu premis sederhana: kita tidak benar-benar tahu arah. Namun entah mengapa kebingungan itu justru melahirkan struktur-struktur agung—metafisika, etika, epistemologi. Para filsuf seperti para pendaki yang terlalu serius menafsirkan batu-batu kecil di jalur, sampai akhirnya tanpa disadari membuat peta baru yang dipakai generasi berikutnya, meskipun peta itu juga kelak terbukti menyesatkan. Ada humor halus di situ: peta terbaik manusia hanyalah kesalahan yang kebetulan berhasil menuntun perjalanan cukup jauh.
Pada tataran manusiawi, tersesat bukan hanya soal tidak tahu arah; ia adalah kondisi dasar keberadaan. Anak muda tersesat di lapangan hasratnya. Orang dewasa tersesat dalam tuntutan yang bertumpuk seperti kontur rapat pada peta topografi. Orang tua tersesat dalam ingatan yang mulai kabur, antara yang pernah dicita-citakan dan yang sebenarnya terjadi. Bahkan cinta—yang selalu kita agungkan—tidak lebih dari dua orang yang sama-sama tak tahu jalan pulang tetapi memutuskan untuk berjalan bersama agar nyasarnya tidak terlalu menyakitkan. Mungkin itu sebabnya hubungan yang paling jujur bukan yang paling pasti, tetapi yang paling berani mengakui kebingungannya.
Ada ironi yang menenangkan: manusia terus membuat instrumen agar tidak tersesat—peta, kompas, GPS, kitab suci, teori filsafat, rencana hidup lima tahun—namun seluruh instrumen itu hanya bekerja jika dunia bersedia jinak. Dan dunia, seperti gunung tempat aku sering melangkah, tidak punya kewajiban untuk memanjakan siapa pun. Kadang jalur tertutup kabut. Kadang sungai meluap dan memakan jejak yang dulu bisa diikuti. Kadang pikiran sendiri berubah arah. Kadang hidup sengaja memutar kita ke jalan yang tampak bodoh hanya untuk menunjukkan bahwa kepastian adalah bentuk lain dari kesombongan yang samar.
Yang membuat permainan ini semakin menarik adalah kenyataan bahwa tersesat bukan sekadar keadaan pasif. Ia membentuk karakter. Orang yang nyaman dengan ketidakpastian belajar mendengarkan intuisi seperti seorang pendaki memeriksa arah angin. Orang yang tidak panik ketika keadaan membingungkan biasanya lebih mudah melihat detail kecil yang justru menyelamatkan. Dan orang yang pernah tersesat dengan brutal—di gunung, di cinta, di pemikiran—biasanya memiliki kebijaksanaan yang tidak bisa diajarkan, hanya bisa dibayar dengan luka.
Menyadari permainan orang tersesat adalah latihan merangkul absurditas tanpa menyerah pada kekacauan. Kita tidak diminta untuk tahu semuanya, hanya diminta untuk terus bergerak. Dan dalam gerak itu muncul semacam kejernihan aneh: bukan kepastian, tetapi penerimaan; bukan jawaban, tetapi kemampuan untuk menanggung pertanyaan tanpa gemetar. Mungkin itu sebabnya banyak orang bijak selalu terdengar sedikit lucu—karena mereka tahu hidup ini tidak pernah sepenuhnya masuk akal, namun manusia tetap bergeming, tetap mencoba, tetap menggambar peta bahkan ketika tinta imajinasinya hampir habis.
Maka jika ada satu kebijaksanaan sederhana yang bisa diambil: tersesatlah dengan anggun. Rawat kebingunganmu seperti merawat api kecil yang membuat malam tak terlalu dingin. Jangan buru-buru mencari jalan pulang, karena kadang jalan pulang adalah hal terakhir yang kita butuhkan. Dan ketika akhirnya engkau menemukan arah, jangan percaya sepenuhnya. Dunia suka mengubah bentuknya, dan pikiran suka bergerak lebih cepat dari kaki.
Permainan ini tidak pernah selesai. Kita hanya menjadi lebih terampil. Dan pada hari yang baik, kita bahkan bisa menertawakan diri sendiri sambil berkata: "setidaknya kali ini aku tersesat di tempat yang indah."





