Latest Post

     Ada satu keyakinan yang sangat populer di dunia modern: manusia adalah makhluk rasional. Kalimat ini sering diulang dengan nada bangga, seolah-olah kita baru saja menemukan mahkota kemuliaan spesies kita sendiri. Universitas mengajarkannya, buku filsafat mengukuhkannya, pidato-pidato publik memeliharanya dengan penuh rasa hormat.

     Namun siapa pun yang cukup lama mengamati kehidupan sosial manusia biasanya akan menemukan sesuatu yang sedikit janggal.

     Manusia memang menyukai gagasan tentang rasionalitas. Tetapi mereka tidak terlalu menyukai orang yang benar-benar menggunakannya.

     Ada perbedaan halus antara keduanya. Perbedaan ini jarang dibicarakan secara terang-terangan, karena jika diucapkan dengan jujur ia akan terdengar agak memalukan.

     Rasionalitas adalah slogan yang sangat indah. Ia memberi kesan bahwa masyarakat dibangun di atas pertimbangan yang matang, diskusi yang terbuka, dan keberanian menghadapi kebenaran. Tetapi orang yang benar-benar berpikir sering memiliki kebiasaan yang sangat tidak praktis: mereka bertanya pada saat yang tidak tepat.

     Misalnya dalam sebuah rapat yang hampir selesai.

     Semua orang sudah sepakat. Wajah-wajah tampak lega. Kata-kata besar seperti “kemajuan”, “kebaikan bersama”, atau “kesepahaman” sudah beredar dengan nyaman di udara. Segala sesuatu berjalan menuju akhir yang tenang.

     Lalu seseorang mengangkat tangan dan berkata: “Maaf, saya belum yakin ini masuk akal.”

     Kalimat seperti itu memiliki efek yang sangat aneh. Ia tidak menghancurkan meja, tidak mengganggu listrik, tidak membuat keributan. Tetapi tiba-tiba ruangan menjadi dingin.

     Orang yang mengucapkannya biasanya tidak langsung dimusuhi. Ia hanya diberi beberapa pandangan yang halus, semacam tatapan yang berkata: mengapa kamu harus mempersulit keadaan.

     Dalam masyarakat yang sehat, kata “berpikir” selalu dipuji. Dalam masyarakat yang nyata, kata “terlalu banyak berpikir” sering digunakan sebagai teguran.

     Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Ia sudah menjadi kebiasaan lama manusia, bahkan sejak zaman yang sangat jauh.

     Di Athena kuno pernah hidup seorang lelaki yang memiliki hobi bertanya. Namanya Socrates. Ia tidak memiliki jabatan penting, tidak mendirikan lembaga besar, bahkan tidak menulis buku yang bisa dijual di toko.

     Ia hanya melakukan satu kegiatan yang ternyata sangat mengganggu: ia mengajak orang berpikir tentang apa yang mereka katakan.

     Ia bertanya kepada para politisi tentang keadilan. Ia bertanya kepada para penyair tentang kebenaran. Ia bertanya kepada para pemuda tentang kebajikan. Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sopan, tetapi memiliki sifat yang agak merusak. Ia membuka kemungkinan bahwa banyak orang sebenarnya tidak terlalu memahami hal-hal yang mereka ucapkan dengan penuh keyakinan.

     Athena, yang terkenal sebagai kota demokrasi dan kebijaksanaan, akhirnya menemukan cara yang sangat elegan untuk menyelesaikan masalah intelektual itu. Mereka menuduhnya merusak pemuda dan tidak menghormati dewa-dewa kota. Lalu, dengan prosedur hukum yang sangat rapi, mereka membungkam lelaki yang terlalu banyak bertanya itu dengan secangkir racun hemlock.

     Demokrasi Athena, yang begitu bangga pada rasionalitasnya, rupanya memiliki toleransi terbatas terhadap orang yang terlalu serius menggunakan akal.

     Beberapa abad kemudian, seorang astronom dari Polandia melakukan kesalahan yang hampir sama. Nicolaus Copernicus memeriksa langit dengan terlalu serius. Setelah menghitung dengan sabar, ia sampai pada kesimpulan yang agak tidak sopan: bumi bukan pusat alam semesta.

     Masalahnya bukan pada matematika. Masalahnya pada psikologi manusia.

     Selama ribuan tahun manusia hidup dengan gagasan yang sangat nyaman bahwa mereka berada di tengah panggung kosmik. Segala sesuatu berputar mengelilingi mereka dengan kesetiaan astronomis.

     Copernicus tiba-tiba berkata bahwa kita sebenarnya hanya salah satu benda kecil yang ikut berputar mengelilingi matahari.

     Sulit membayangkan cara yang lebih efektif untuk melukai harga diri spesies manusia.

     Nicolaus Copernicus sendiri cukup beruntung. Ia meninggal tepat ketika bukunya De revolutionibus orbium coelestium terbit, seolah-olah sejarah memberinya waktu yang sangat tepat untuk menghindari keributan besar yang akan datang.

     Namun gagasannya tidak seberuntung itu. Otoritas religius yang berkuasa kemudian memasukkan teori heliosentris ke dalam daftar ajaran berbahaya. Langit, ternyata, juga memiliki birokrasi yang tidak terlalu ramah terhadap orang yang berpikir terlalu jauh.

     Untungnya waktu memiliki sifat yang menenangkan. Beberapa abad kemudian manusia akhirnya menerima gagasan itu dengan tenang. Bahkan sekarang kita mengajarkannya kepada anak-anak sekolah sebagai bukti kemajuan sains.

     Ini adalah salah satu trik favorit sejarah: ia selalu memuliakan para pemikir setelah mereka mati. Sementara ketika mereka masih hidup, keadaannya sering sedikit berbeda.

     Beberapa abad setelah Copernicus, seorang filsuf Jerman bernama Friedrich Nietzsche mengamati masyarakat Eropa dengan rasa geli yang tipis. Ia melihat manusia modern berbicara dengan sangat percaya diri tentang moralitas, kebenaran, dan kebajikan.

     Nietzsche memiliki kebiasaan buruk: ia memeriksa asal-usul hal-hal yang dianggap suci. Dan hasilnya ternyata tidak terlalu menyenangkan.

     Ia menemukan bahwa banyak nilai moral ternyata tumbuh dari ketakutan, kebiasaan kawanan, dan kebutuhan manusia untuk merasa benar bersama-sama. Moralitas yang terlihat luhur sering kali hanyalah cara yang sopan untuk mengatakan: jangan berbeda dari yang lain.

     Gagasan seperti ini tidak selalu diterima dengan hangat. Manusia sangat menghargai kebebasan berpikir, selama kebebasan itu tidak menyentuh hal-hal yang mereka anggap terlalu penting.

      Cerita yang sama bahkan muncul dalam dunia spiritual, yang sering dianggap wilayah paling murni dari kehidupan manusia.

     Seorang perempuan sufi bernama Rabiah al-Adawiyya pernah mengatakan bahwa ia mencintai Tuhan bukan karena takut neraka atau berharap surga.

     Kalimat ini tampak sangat indah. Namun bagi banyak sistem religius, ia memiliki implikasi yang cukup merepotkan. Jika manusia benar-benar mencintai Tuhan tanpa imbalan, maka seluruh mekanisme pahala dan hukuman tiba-tiba kehilangan sebagian besar kekuatannya.

     Cinta yang bebas selalu sedikit berbahaya bagi sistem yang ingin mengatur manusia dengan rapi.

     Beberapa abad kemudian, Jalal ad-Din Rumi menulis puisi-puisi yang bahkan lebih sulit dijaga oleh penjaga ortodoksi. Ia berbicara tentang Tuhan yang terlalu luas untuk dipenjara oleh batas identitas manusia.

     Puisi-puisi itu sekarang dikutip dengan penuh kekaguman di seluruh dunia. Untunglah para penyair biasanya lebih aman setelah mereka menjadi legenda.

     Di dunia politik, keadaan sering sedikit lebih kasar.

     Tan Malaka menghabiskan hidupnya sebagai seseorang yang selalu terlalu sulit dipelihara oleh kekuasaan mana pun. Ia membaca terlalu banyak, berpikir terlalu jauh, dan memiliki kebiasaan buruk: ia tidak sepenuhnya percaya pada narasi resmi.

     Ia menulis dengan semangat yang terlalu sulit ditoleransi oleh berbagai rezim. Buku-bukunya—seperti gagasan-gagasannya—pernah lama dilarang beredar dan dibaca pada masa Orde Baru, seakan-akan sebuah bangsa bisa dilindungi dari pemikiran hanya dengan menutup halaman buku.

     Akibatnya hidupnya lebih sering diisi pengasingan daripada upacara penghormatan.

     Pramoedya Ananta Toer mengalami nasib yang bahkan lebih dramatis. Ia dipenjara tanpa pengadilan. Ia menulis cerita tentang manusia, sejarah, dan kekuasaan. Karya-karyanya juga dilarang beredar oleh rezim Orde Baru, seolah-olah cerita tentang manusia dan sejarah bisa menjadi ancaman bagi stabilitas negara.

     Buku memiliki sifat yang aneh. Ia tidak berteriak, tidak berbaris di jalanan, tidak membawa senjata. Tetapi kadang-kadang ia membuat orang berpikir.

     Dan berpikir selalu memiliki reputasi yang agak mencurigakan.

     Seorang mahasiswa bernama Soe Hok Gie menulis kegelisahannya dengan kejujuran yang hampir naif. Ia hidup di tengah zaman yang penuh slogan revolusi, tetapi terlalu cepat melihat bagaimana idealisme bisa berubah menjadi kemunafikan yang rapi.

     Ia akhirnya memeluk akhir hidupnya di lereng Mahameru—gunung yang sering ia kunjungi untuk mencari udara yang lebih jujur—dengan keyakinan yang pernah ia tulis sendiri: lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.

     Generasi yang sama sering kali juga memiliki hubungan yang agak tegang dengan mahasiswa yang terlalu kritis.

     Sejarah memiliki selera humor yang sangat halus. Ia membangun patung bagi para pemikir masa lalu, lalu merasa sedikit tidak nyaman ketika pemikir baru muncul di depan mata.

     Dalam pidato-pidato resmi kita sering mendengar bahwa masyarakat membutuhkan pemikiran kritis. Kalimat ini terdengar sangat mulia. Ia memberi kesan bahwa peradaban berdiri di atas keberanian intelektual.

     Namun dalam praktik sehari-hari, pemikiran kritis sering kali diterjemahkan dengan cara yang lebih sederhana: berpikirlah dengan bebas, selama kesimpulanmu tidak terlalu berbeda dari yang sudah disepakati.

     Ini adalah bentuk kompromi yang sangat manusiawi.

Kita ingin kemajuan, tetapi tanpa gangguan.
Kita ingin kebenaran, tetapi tanpa kegelisahan.
Kita ingin pemikir, tetapi yang cukup sopan untuk tidak terlalu mengganggu ketenangan bersama.

     Masalahnya hanya satu. Pikiran yang benar-benar hidup jarang memiliki sopan santun semacam itu.

     Si bisu memberi kabar kepada si tuli, tentang si buta yang melihat si lumpuh berjalan. Kalimat itu seperti potongan teater absurd yang sangat jujur tentang manusia. Di panggung itu tidak ada yang benar-benar melihat, tidak ada yang benar-benar mendengar, namun cerita tetap beredar dengan percaya diri. Itulah manusia: makhluk yang hidup dari cerita, bahkan ketika cerita itu berputar-putar seperti kompas yang jarumnya patah.

     Perang di Timur Tengah selalu melahirkan badai cerita semacam ini. Peluru terbang di udara, tetapi narasi terbang lebih cepat. Kadang terasa seperti pasar malam metafisika: semua orang menjual kebenaran dengan pengeras suara yang rusak.

     Ada yang berkata dengan yakin bahwa Tuhan bersama pihak mereka. Lalu roket jatuh, seorang pemimpin gugur, dan seketika narasi bergeser dengan elegan: Tuhan memang bersama mereka, tetapi kemenangan tidak selalu berarti selamat dari kematian.

     Lima menit sebelumnya, hidup adalah bukti restu ilahi. Lima menit kemudian, mati juga bukti restu ilahi.

     Tuhan tampaknya sangat fleksibel dalam logika manusia.

     Ada pula narasi yang lebih kuno, hampir seperti peninggalan fosil teologi: siapa yang benar-benar Muslim, siapa yang bukan. Seolah perang itu kompetisi kartu identitas metafisik. Seolah bom dan drone berhenti sejenak untuk memeriksa mazhab korban.

     Di satu sisi ada yang berkata: Syiah bukan Islam. Di sisi lain ada yang berkata: Mereka mati sebagai syahid.

     Lucunya, kedua kalimat itu kadang diucapkan oleh orang yang sama—hanya berbeda hari, berbeda audiens, berbeda kebutuhan emosi.

     Politik menambah lapisan absurditas yang lain. Negara berbicara tentang keamanan, tetapi keamanan selalu berarti keamanan mereka sendiri. Rakyat berbicara tentang tanah leluhur, sementara garis peta terus berubah seperti pasir yang tertiup angin. Di ruang diplomasi, kata “perdamaian” sering terdengar seperti iklan sabun: wangi, tetapi licin.

     Sementara itu di internet, manusia menemukan panggung baru untuk homo narrans—manusia yang tidak tahan hidup tanpa cerita. Video sepuluh detik berubah menjadi bukti sejarah. Potongan foto menjadi dakwaan moral. Dan setiap orang tiba-tiba menjadi analis geopolitik, ahli tafsir kitab suci, sekaligus juru bicara Tuhan.

     Di sana muncul narasi-narasi yang hampir seperti lelucon kosmik:

     Ada yang berkata Tuhan melindungi kota suci mereka—lalu kota itu hancur oleh rudal. Maka dijelaskan bahwa kehancuran adalah ujian iman.

     Ada yang berkata musuh mereka pasti dihukum Tuhan—lalu musuh itu justru semakin kuat. Maka dijelaskan bahwa Tuhan memberi waktu sebelum hukuman.

     Jika suatu hari mereka menang, itu mukjizat. Jika kalah, itu rencana misterius.

     Dalam logika seperti itu, realitas menjadi seperti tanah liat: selalu bisa dibentuk ulang agar cocok dengan keyakinan awal.

     Ada juga narasi yang lebih duniawi, tetapi tidak kalah dramatis. Perang disebut sebagai perjuangan suci, padahal di baliknya ada pipa gas, jalur perdagangan, dan keseimbangan kekuatan regional. Kadang terdengar seperti duel para nabi, padahal sebenarnya lebih mirip permainan catur para jenderal.

     Agama memberi bahasa yang agung.
     Politik memberi motif yang sangat manusiawi.

     Keduanya sering bercampur seperti kopi pahit dengan gula yang terlalu banyak.

     Yang paling ganjil justru terjadi jauh dari medan perang. Orang-orang yang tidak pernah mendengar sirene bom berbicara paling keras tentang keberanian dan pengorbanan. Mereka menulis kalimat heroik dari sofa empuk, sambil menyeru orang lain untuk mati demi kehormatan.

     Sejarah manusia penuh adegan seperti ini: para pahlawan dilahirkan oleh pidato orang lain.

     Di tengah semua itu, kadang satu ironi kecil muncul seperti cahaya tipis. Semua pihak yakin Tuhan ada di pihak mereka. Tuhan, jika kita bayangkan sebagai penonton, mungkin sedang menyaksikan manusia bertengkar sambil memegang kitab yang sama-sama mereka klaim sebagai pesan-Nya.

     Dan manusia terus bercerita.

     Mungkin karena tanpa cerita kita akan terlalu cepat melihat kenyataan yang lebih sunyi: bahwa perang sering kali bukan pertarungan kebenaran melawan kesalahan, melainkan pertarungan cerita melawan cerita. Cerita tentang identitas, cerita tentang tanah, cerita tentang sejarah yang disunting ulang berkali-kali.

     Cerita memberi makna pada kematian. Tanpa itu, kematian di medan perang hanya menjadi statistik yang dingin.

     Di titik itulah manusia memilih tetap menjadi homo narrans. Kita menenun kisah bahkan dari serpihan tragedi. Kadang kisah itu membuat kita tertawa pahit. Kadang membuat kita marah. Kadang membuat kita merasa lebih benar daripada orang lain.

     Namun sesekali, jika kita diam cukup lama, kita melihat sesuatu yang lebih sederhana: di bawah semua narasi besar itu, yang mati tetap manusia. Yang kehilangan anak tetap manusia. Yang pulang dengan tubuh hancur tetap manusia.

     Dan cerita—betapapun megahnya—tidak pernah benar-benar bisa menambal lubang yang ditinggalkan peluru.

     Mungkin itu sebabnya kalimat di awal terasa begitu pas. Dunia kadang benar-benar seperti percakapan antara si bisu, si tuli, si buta, dan si lumpuh. Semua berusaha menjelaskan realitas yang tidak sepenuhnya mereka lihat.

     Namun cerita tetap berjalan.

     Karena bagi manusia, berhenti bercerita kadang lebih menakutkan daripada perang itu sendiri.

     Ramadhan selalu datang membawa janji yang sama: menipiskan jarak antara manusia dengan nuraninya. Puasa dimaksudkan sebagai semacam bengkel batin—tempat manusia dibongkar, diperiksa, lalu dirakit kembali dengan komponen yang lebih jujur. Rasa lapar bukan sekadar jeda dari makan, tetapi latihan untuk mengingat bahwa dunia tidak dibangun oleh kenyang. Di dalam tradisi Islam, lapar adalah guru yang sunyi. Ia mengajarkan empati tanpa ceramah panjang. Ia memperlihatkan betapa rapuhnya tubuh manusia, betapa bergantungnya kita pada sepotong roti, seteguk air, dan kemurahan orang lain.

     Dalam teks-teks luhur, puasa selalu dikaitkan dengan kejujuran batin. Tidak ada kamera yang mengawasi apakah seseorang benar-benar menahan diri ketika sendirian. Tidak ada polisi spiritual yang memeriksa apakah ia diam-diam minum di dapur ketika siang hari. Puasa adalah ibadah yang berdiri di atas kepercayaan—antara manusia dan Tuhannya. Itulah sebabnya ia sering disebut sebagai latihan keikhlasan paling radikal. Orang bisa pura-pura salat di depan publik, bisa bersedekah sambil memastikan ada yang memotret, tetapi menahan diri dari segelas air saat tak ada yang melihat memerlukan sesuatu yang lebih sunyi: integritas.

     Namun seperti banyak hal lain dalam sejarah manusia, ideal sering berbelok ketika bertemu kebiasaan sosial. Di banyak kota, terutama di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim, bulan yang dimaksudkan sebagai sekolah kesederhanaan justru berubah menjadi festival konsumsi. Menjelang magrib, jalan-jalan macet bukan oleh orang yang mencari ketenangan untuk berbuka dengan sederhana, melainkan oleh arus kendaraan menuju pusat-pusat kuliner. Restoran penuh. Kafe dipadati reservasi. Grup percakapan dipenuhi perdebatan ringan namun serius: buka di mana malam ini? Menu apa yang lebih layak dicicipi? Tempat mana yang lebih “menarik” untuk didokumentasikan?

     Pemandangan itu memiliki ironi yang hampir puitis—meski bukan jenis puisi yang membuat orang tersenyum. Puasa dimaksudkan untuk merasakan kehidupan orang miskin, tetapi orang miskin tidak pernah memiliki kemewahan untuk berdiskusi tentang restoran mana yang lebih baik untuk berbuka. Mereka tidak memiliki katalog pilihan menu. Bahkan waktu makan pun sering tidak memiliki kepastian yang romantis seperti adzan magrib. Ada hari-hari ketika mereka makan siang terlambat, lalu malam datang tanpa makan lagi. Ada hari ketika sahur bukan keputusan religius, melainkan sekadar sisa nasi dingin yang kebetulan masih ada.

     Dalam kenyataan semacam itu, lapar bukan ritual spiritual. Ia adalah kondisi hidup.

     Nabi Muhammad, dalam banyak riwayat, sering menggambarkan kedekatannya dengan kaum miskin dengan bahasa yang sederhana. Dua jarinya diangkat berdampingan, seolah berkata bahwa jarak antara dirinya dan mereka di akhirat kelak setipis itu. Bagi beliau, kemiskinan bukan statistik sosial yang dibahas dalam seminar, tetapi realitas manusia yang harus didekati dengan kasih. Rumahnya sendiri sering kosong dari makanan. Kadang-kadang api tidak menyala di dapur selama berhari-hari. Kisah-kisah itu tidak dimaksudkan sebagai romantisasi penderitaan, melainkan sebagai penanda: bahwa spiritualitas tidak lahir dari kemewahan yang berlimpah, melainkan dari kesadaran akan keterbatasan.

     Tetapi manusia modern memiliki bakat luar biasa untuk mengubah pesan sederhana menjadi festival simbolik. Puasa tetap dijalankan, tentu saja. Jadwal sahur dan berbuka tetap diikuti dengan disiplin. Namun di sela-sela itu muncul kebiasaan lain yang perlahan mengambil panggung utama: dokumentasi sosial.

     Meja makan sebelum disentuh menjadi objek fotografi. Gelas minuman dengan warna cerah disusun dengan estetika tertentu. Ketika adzan magrib berkumandang, beberapa tangan bergerak bukan menuju kurma, tetapi menuju ponsel. Dunia digital harus diberi tahu terlebih dahulu bahwa momen berbuka sedang berlangsung. Seolah-olah keberkahan makanan menunggu validasi dari jaringan internet.

     Pada titik ini, puasa tidak hanya menjadi ritual religius, tetapi juga panggung identitas sosial. Buka puasa bersama berubah menjadi safari komunitas: dari satu kelompok alumni ke kelompok lainnya, dari satu organisasi ke organisasi lain. Acara semakin megah, dekorasi semakin rapi, menu semakin panjang. Foto-foto kemudian beredar di linimasa, membangun semacam album kolektif tentang betapa aktif dan bahagianya komunitas-komunitas itu selama Ramadhan.

     Sementara itu, statistik tentang makanan terbuang sering terdengar seperti catatan kaki yang jarang dibaca. Di beberapa kota, jumlahnya mencapai puluhan ton selama bulan puasa. Bandung pernah mencatat sekitar 242 ribu ton sampah makanan selama setahun 2024—angka yang sulit dibayangkan jika dibentangkan dalam piring-piring yang tak tersentuh. Ironinya semakin tajam jika diingat bahwa ajaran Nabi justru mendorong kesederhanaan bahkan dalam memasak. Ada hadis yang sering dikutip: jika memasak sup, perbanyaklah kuahnya agar bisa dibagikan kepada tetangga.

     Nasihat itu sederhana. Hampir terlalu sederhana untuk dunia yang terbiasa dengan kemewahan simbolik.

     Di tengah semua itu, pertanyaan yang agak tidak nyaman mulai muncul. Apakah puasa benar-benar sedang menempa manusia menjadi lebih peka, atau justru hanya menambahkan lapisan ritual pada gaya hidup lama yang tidak berubah? Apakah lapar selama beberapa jam cukup untuk membangun empati terhadap orang yang hidup dalam kelaparan struktural? Ataukah ia sekadar jeda biologis yang segera dilunasi dengan pesta makan ketika matahari tenggelam?

     Pertanyaan semacam ini bukanlah tuduhan terhadap iman siapa pun. Manusia selalu hidup dalam kontradiksi. Bahkan tradisi religius yang paling luhur pun tidak pernah kebal dari kebiasaan sosial yang kadang melenceng. Tetapi kontradiksi menjadi berbahaya ketika ia tidak lagi disadari. Ketika manusia mulai percaya bahwa semua baik-baik saja hanya karena ritual tetap berjalan.

     Barangkali di situlah makna puasa yang paling jujur sebenarnya tersembunyi. Ia bukan sekadar menahan lapar, melainkan keberanian untuk bercermin. Lapar seharusnya membuka ruang sunyi di dalam diri, ruang di mana seseorang bisa bertanya dengan jujur: apakah aku benar-benar berubah, atau hanya menukar jadwal makan?

     Pertanyaan itu tidak membutuhkan kamera. Tidak membutuhkan unggahan media sosial. Ia hanya membutuhkan satu hal yang paling langka di zaman penuh sorotan ini: keheningan.

     Dan mungkin di dalam keheningan itu, seseorang akan menyadari sesuatu yang sederhana namun agak menyakitkan. Bahwa Nabi yang ia cintai ternyata jauh lebih dekat dengan orang-orang yang lapar di pinggir jalan, daripada dengan meja-meja penuh makanan yang difoto dari berbagai sudut agar tampak lebih indah di layar.

      Ada masa ketika kemarahan terasa jernih. Ketika seorang mahasiswa berdiri di tengah kabut politik dan berkata ingin merdeka, ia tahu betul siapa yang sedang ia lawan. Negara yang menua dalam otoritarianisme. Kekuasaan yang membatu. Aparat yang berseragam, jelas bentuknya. Musuh bisa ditunjuk.

     Soe Hok Gie berdiri di zaman itu. Ia menolak menjadi bagian dari massa yang mabuk slogan. Ia menolak diam ketika banyak orang memilih aman. Baginya, merdeka bukan sekadar lepas dari kolonialisme, bukan pula sekadar mengganti rezim. Merdeka adalah keberanian untuk tetap berpikir ketika arus ingin menyeret kita menjadi gema.

     Pertanyaannya sekarang memang terasa getir: apakah teriakan itu masih punya gema di zaman ketika orang tak lagi sibuk membela benar atau salah, melainkan sibuk membela atensi?

     Dulu, ketidakadilan berwajah keras. Hari ini, ia sering berwajah algoritma. Dulu orang takut pada tentara. Sekarang orang takut pada sepi. Pada tidak dilihat. Pada tidak viral. Pada tenggelam di lautan konten yang terus menggulung. Kita hidup di ekosistem di mana perhatian adalah mata uang, dan martabat sering ditukar dengan klik.

     Platform seperti Meta Platforms (induk dari Facebook dan Instagram) tidak pernah secara eksplisit meminta siapa pun menjadi badut digital. Tetapi sistem insentifnya begitu halus dan efektif. Ia memberi gula pada yang paling cepat menarik perhatian, bukan pada yang paling dalam berpikir. Akhirnya lahirlah generasi yang tidak lagi bertanya “apa yang benar?”, melainkan “apa yang laku?”

     Di sini letak pergeseran psikologisnya.

     Psikologi lama—yang melahirkan eksistensialisme—berangkat dari kesadaran akan absurditas, keterasingan, dan tanggung jawab personal. Jean-Paul Sartre berbicara tentang kebebasan sebagai beban. Albert Camus menulis tentang pemberontakan sebagai cara menjaga martabat di dunia yang tak masuk akal. Mereka hidup di tengah perang, ideologi besar, totalitarianisme. Ancaman mereka konkret. Maka eksistensialisme mereka keras, maskulin, kadang getir.

     Tetapi apakah dunia kita hari ini kurang absurd?

     Kita tidak lagi hidup dalam rezim tunggal yang membungkam. Kita hidup dalam kebisingan kolektif yang membuat suara jernih sulit terdengar. Dulu orang bisa dipenjara karena berbicara. Sekarang orang berbicara terus-menerus sampai makna itu sendiri dipenjara oleh kebisingan.

     Post-truth bukan sekadar kebohongan. Ia adalah keadaan di mana kebenaran kehilangan daya tarik emosional dibanding narasi yang lebih memancing amarah atau simpati instan. Dalam kondisi seperti ini, merdeka secara ontologis—merdeka sebagai kesadaran akan diri dan tanggung jawab—menjadi lebih sulit, bukan lebih mudah.

     Karena kini yang menjajah bukan hanya negara, tetapi sistem simbolik. Bukan hanya kekuasaan formal, tetapi logika viralitas.

     Apakah psikologi lama masih relevan?

     Saya kira justru semakin relevan, tetapi harus dibaca ulang. Eksistensialisme tidak lagi cukup berhenti pada “aku memilih”. Hari ini pertanyaannya lebih rumit: apakah aku sungguh memilih, atau aku dipilih oleh algoritma? Apakah kemarahanku murni refleksi etis, atau sekadar hasil kurasi timeline? Apakah apatisme itu sikap filosofis, atau kelelahan dopamin?

     Mengikuti arus hari ini sering tidak terasa seperti menyerah. Ia terasa seperti bertahan hidup. Menjadi konten kreator murahan bukan selalu karena orang tidak punya martabat; sering kali karena ekonomi menekan dan sistem memberi insentif yang sempit. Di sini kita perlu jujur: tidak semua yang hanyut adalah pengkhianat nilai. Banyak yang sekadar lelah.

     Namun tetap saja ada perbedaan antara bertahan hidup dan menjual kesadaran.

     Soe Hok Gie mungkin akan bingung melihat zaman ini. Ia mungkin tidak akan menulis pamflet tentang algoritma. Tetapi saya kira satu hal akan tetap ia pertahankan: kebencian pada kemunafikan kolektif. Ia tidak tahan pada masyarakat yang tahu ada yang salah tetapi memilih diam karena nyaman. Dan di situ, ia masih sangat relevan.

     Karena hari ini, korupsi bukan hanya soal uang negara yang bocor. Ia juga soal kesadaran yang bocor. Politik yang dangkal. Kebijakan yang dipoles citra. Rakyat yang marah seminggu lalu, lalu lupa karena ada tren baru. Atensi bergerak lebih cepat dari akal sehat.

     Merdeka dalam arti ontologis berarti mampu berdiri di tengah arus tanpa otomatis ikut hanyut. Bukan berarti selalu melawan dengan spanduk, tetapi mampu menjaga jarak dari histeria kolektif. Mampu mengatakan, “aku tidak akan menjadikan kebodohan sebagai komoditas.” Itu bentuk pemberontakan yang sunyi, tetapi mungkin lebih radikal dari demo viral.

     Kita memang hidup di zaman cair. Identitas cair. Kebenaran cair. Opini berubah secepat scroll jempol. Tetapi justru dalam dunia cair, orang yang memiliki kedalaman menjadi jangkar. Tidak banyak, mungkin. Tidak populer, sering kali. Tetapi peradaban selalu diselamatkan oleh minoritas yang tidak menyerahkan pikirannya.

     Apatisme dan mengikuti arus bukan fenomena baru. Ia hanya berganti medium. Dahulu orang mengikuti arus ideologi. Hari ini orang mengikuti arus algoritma. Struktur batinnya sama: takut sendirian, takut berbeda, takut kehilangan tempat.

     Maka pertanyaan bukan lagi apakah psikologi lama relevan. Pertanyaannya: apakah kita berani memperbaruinya? Apakah kita berani mendidik kesadaran digital sebagai bagian dari etika? Apakah kita berani mengajarkan anak-anak bahwa merdeka bukan berarti bebas mengunggah apa saja, tetapi bebas dari kebutuhan untuk selalu dilihat?

     Merdeka bukan status politik. Ia adalah kondisi batin yang langka.

     Di zaman ketika atensi lebih mahal dari integritas, orang yang memilih jujur akan terlihat aneh. Di zaman ketika kebisingan lebih menguntungkan dari kedalaman, orang yang berpikir akan terlihat lambat. Tetapi mungkin justru di situlah bentuk kemerdekaan baru: keberanian untuk tidak tergesa-gesa menjadi konten.

     Soe Hok Gie pernah berdiri di tengah zamannya dan menolak larut. Zaman kita berbeda, tetapi tantangannya serupa: apakah kita akan menjadi arus, atau menjadi manusia yang sadar sedang berdiri di dalam arus?

     Itu bukan soal romantisme masa lalu. Itu soal keberanian hari ini.

     Malam ini bulan akan berubah warna. Bukan karena ia sedang malu, bukan karena ia marah, dan tentu bukan karena langit sedang berdarah. Ia hanya sedang lewat di lorong bayangan bumi, dan kita—makhluk yang merasa pusat semesta—menyebutnya dengan nama yang dramatis: blood moon.

     Secara ilmiah, peristiwa ini adalah gerhana bulan total. Matahari, bumi, dan bulan berada dalam satu garis lurus. Bumi berada di tengah, menjadi tirai raksasa yang menghalangi cahaya matahari langsung menuju bulan. Namun bulan tidak sepenuhnya gelap. Ia memerah. Mengapa?

     Karena atmosfer bumi bekerja seperti lensa raksasa yang membiaskan cahaya. Cahaya matahari terdiri dari berbagai panjang gelombang. Warna biru lebih mudah tersebar oleh partikel udara—itulah sebabnya langit siang tampak biru. Ketika cahaya matahari melewati atmosfer bumi di tepi-tepinya, warna biru tersaring dan tersebar ke segala arah. Yang lolos dan terus melengkung menuju permukaan bulan adalah warna merah dan oranye, panjang gelombang yang lebih “tahan banting”. Hasilnya: bulan tampak seperti bara api yang jauh, redup namun menyala.

     Secara kosmis, ini bukan drama. Ini geometri. Ini optik. Ini fisika sederhana yang sudah dipahami sejak lama. Namun bagi nenek moyang kita, ini adalah kejadian yang membuat jantung berdebar dan imajinasi bekerja lembur.

     Dalam banyak kebudayaan, bulan merah dianggap pertanda buruk. Di Tiongkok kuno, naga langit diyakini sedang menelan bulan. Orang-orang memukul drum dan membuat kebisingan untuk “menakuti” sang naga agar memuntahkan kembali bulan yang tertelan. Di sebagian wilayah Eropa abad pertengahan, bulan merah sering dikaitkan dengan wabah atau perang yang akan datang. Di Mesoamerika, beberapa suku percaya gerhana adalah pertempuran kosmik antara dewa-dewa. Bahkan dalam berbagai tafsir religius apokaliptik, bulan yang berubah menjadi darah dianggap sinyal akhir zaman.

     Sejarah sapiens memang penuh keberanian—dan penuh kekonyolan. Kita bisa membangun piramida yang presisi astronomis, tetapi pada saat yang sama gemetar melihat bayangan planet sendiri. Kita mampu menghitung lintasan benda langit ribuan tahun ke depan, tetapi masih sempat mengaitkannya dengan nasib pribadi dan harga cabai esok pagi.

     Ironisnya, justru rasa takut itulah yang mendorong sains lahir. Kegelisahan membuat manusia mengamati. Ketakutan membuat kita mencatat pola. Dari catatan demi catatan, lahirlah astronomi. Dari ritual memukul drum, kita beralih ke tabel ephemeris. Dari teriakan panik, kita menuju observatorium.

     Gerhana bulan total bukan peristiwa langka, tetapi tetap memikat. Di wilayah Indonesia, kita beruntung karena garis lintang tropis sering memberi peluang langit yang relatif bersih—jika awan berbaik hati. Seluruh proses bisa berlangsung beberapa jam: mulai dari bulan memasuki penumbra (bayangan samar), lalu umbra (bayangan inti), hingga mencapai puncak kemerahan. Pada fase totalitas, bulan tidak benar-benar merah terang seperti darah segar, melainkan merah bata, kadang cenderung cokelat gelap—tergantung kondisi atmosfer bumi saat itu. Jika atmosfer penuh debu vulkanik atau polusi tinggi, warna bisa lebih pekat. Bumi, dengan segala aktivitasnya, ikut “melukis” warna di wajah bulan.

     Ada sesuatu yang sunyi dalam gerhana bulan. Tidak seperti gerhana matahari yang dramatis dan memaksa siang menjadi malam, gerhana bulan berlangsung pelan. Ia tidak membutakan mata. Ia mengundang kita menatapnya tanpa alat khusus. Ia seperti peristiwa kosmik yang sengaja diperlambat agar kita punya waktu berpikir.

     Dan mungkin di situlah pelajarannya.

     Bulan merah bukan pesan rahasia. Ia tidak membawa kutukan, tidak juga membawa keberuntungan. Ia hanyalah konsekuensi dari posisi tiga benda langit dalam tarian gravitasi yang telah berlangsung miliaran tahun. Namun cara kita meresponsnya mencerminkan siapa kita. Apakah kita memilih kepanikan? Apakah kita memilih takhayul? Atau kita memilih rasa ingin tahu?

     Sapiens selalu berada di antara dua kecenderungan itu: takut dan ingin tahu. Kita adalah spesies yang bisa menulis teori relativitas, tetapi juga menyebarkan rumor kiamat lewat grup pesan instan setiap kali langit berubah warna. Kita makhluk yang mampu menghitung eksentrisitas orbit bulan hingga desimal yang memalukan bagi astrolog, tetapi tetap tergoda membaca ramalan zodiak sebelum tidur.

     Barangkali yang paling indah dari blood moon bukanlah warnanya, melainkan kesadaran bahwa kita hidup di planet yang mampu menciptakan bayangan sebesar itu. Bayangan bumi sendiri cukup untuk menelan bulan. Betapa besar rumah yang kita pijak ini, betapa tipis atmosfer yang membuatnya bisa bernapas, dan betapa rapuh semuanya jika dibandingkan dengan ruang hampa di sekitarnya.

     Malam ini, jika langit cerah, cobalah berdiri sebentar di luar. Lihat bulan yang memerah itu tanpa rasa panik, tanpa narasi kiamat. Lihat ia sebagai hasil persilangan cahaya dan udara, sebagai bukti bahwa hukum fisika bekerja dengan setia bahkan ketika manusia sibuk berdebat tentang hal-hal yang lebih kecil dari debu kosmik.

     Bulan akan kembali pucat seperti biasa. Grup-grup obrolan akan kembali tenang. Dunia tidak akan runtuh hanya karena warna berubah. Tetapi mungkin—jika kita sedikit jujur—yang berubah adalah cara kita memandangnya. Dan itu sudah cukup kosmis untuk satu malam.

     Beberapa hari terakhir, dua nama kembali menari di layar-layar kecil yang kita genggam dengan khusyuk hampir religius: Iran dan Israel. Keduanya bukan nama baru dalam sejarah luka global. Tetapi setiap kali mereka disebut bersamaan dalam satu kalimat dengan kata “perang”, ada getar yang berbeda. Getar itu bukan hanya militer. Ia psikologis. Ia spiritual. Ia ekonomis. Ia seperti bunyi retakan halus pada kaca jendela rumah yang sebenarnya jauh dari ledakan, tetapi tetap membuat kita menoleh.

     Saya membayangkan seseorang berdiri di depan rak bukunya. Tangannya menyentuh punggung buku Holy War karya Karen Armstrong. Ia tidak sedang membaca, hanya mengingat. Armstrong berkali-kali menunjukkan bahwa perang jarang sesederhana “demi Tuhan”. Tetapi publik, seperti biasa, lebih menyukai kalimat pendek yang bisa ditempel di status: “Ini bukan perang agama.” Atau kebalikannya: “Ini perang suci.” Dunia modern memang canggih; kita bisa mengirim roket lintas benua dan sekaligus menyederhanakan sejarah ribuan tahun menjadi satu kalimat penuh emosi.

     Ada kegelisahan identitas yang berdenyut keras di bawah semua itu. Sebagian orang merasa perlu menegaskan jarak: ini bukan urusan iman, ini murni politik. Mereka seperti ingin menyelamatkan agama dari noda mesiu. Yang lain justru merasa terwakili—seolah-olah dentuman di Timur Tengah adalah gema dari luka yang mereka simpan diam-diam di dada. Di lini masa, orang-orang mendadak menjadi analis geopolitik paruh waktu dan teolog penuh waktu. Kalimat-kalimat besar beterbangan: perlawanan, zionisme, hegemoni, akhir zaman. Kata-kata berat itu dipakai dengan ringan, seperti memesan kopi.

     Lalu muncul suara lama yang tak pernah benar-benar pensiun: “Iran itu Syiah, bukan Islam.” Sebuah kalimat yang terdengar teologis, tetapi beraroma politik dan sejarah panjang pertikaian. Dalam satu tarikan napas, iman yang mestinya menjadi ruang kontemplasi berubah menjadi pagar pembatas. Ironisnya, mereka yang mengucapkan kalimat itu sering melakukannya sambil duduk nyaman jauh dari garis depan, dengan koneksi internet stabil dan camilan di sampingnya. Dunia memang penuh keberanian jarak jauh.

     Di sisi lain, ada kekecewaan yang lebih dalam dan lebih jujur. Sebagian merasa negara-negara Muslim lain terlalu akrab dengan Amerika Serikat dan kekuatan global yang dianggap lawan. Dari sana lahir rasa keterwakilan pada Iran—bukan semata karena mazhab, melainkan karena simbol perlawanan. Dalam psikologi kolektif, simbol jauh lebih kuat daripada data. Ketika seseorang merasa kecil di hadapan peta dunia, ia mencari figur yang tampak berdiri tegak melawan arus. Dan simbol itu, betapapun kompleks dan politisnya, diberi aura moral. Seolah-olah negara adalah malaikat berseragam.

     Namun negara, seperti yang kita tahu, bukan malaikat. Ia kalkulasi. Ia strategi. Ia kepentingan. Dan romantisasi terhadapnya sering kali lebih berbahaya daripada musuh yang nyata. Kita mencintai ide perlawanan, tetapi lupa bahwa setiap peluru selalu menemukan tubuh manusia yang nyata, bukan metafora.

     Sementara itu, di dapur-dapur rumah yang jauh dari Tel Aviv atau Teheran, kegelisahan mengambil bentuk yang lebih sederhana: harga BBM. Nama Selat Hormuz mendadak akrab. Orang-orang yang sebelumnya tidak terlalu peduli pada jalur distribusi minyak kini berbicara tentangnya dengan wajah serius. Jika jalur itu terganggu, harga naik. Jika harga naik, ongkos angkut naik. Jika ongkos naik, dapur terasa sempit. Perang berubah dari isu geopolitik menjadi pertanyaan: berapa harga bensin minggu depan?

     Di sinilah absurditas dunia modern terasa paling telanjang. Rudal ditembakkan dengan dalih keamanan nasional; yang gelisah justru pengemudi ojek daring yang harus menghitung ulang pendapatan hariannya. Para analis pasar berbicara tentang volatilitas. Ibu-ibu berbicara tentang belanja bulanan. Dua bahasa berbeda, satu kecemasan yang sama.

     Ada pula kegelisahan spiritual yang lebih lembut namun tak kalah nyata: bagaimana dengan umrah? bagaimana dengan haji? Tanah Suci selalu dibayangkan sebagai ruang yang steril dari konflik, meskipun sejarah berkata sebaliknya. Ketika kawasan memanas, imajinasi pun ikut panas. Apakah penerbangan aman? Apakah visa akan ditunda? Bagi sebagian orang, perjalanan itu bukan sekadar tiket dan hotel; ia adalah nazar, doa yang ditabung bertahun-tahun. Ketika geopolitik menyentuh rencana ibadah, rasa cemas menjadi sangat personal.

     Dan tentu saja, ada narasi global yang tak pernah absen: apakah ini akan meluas? Apakah kekuatan besar seperti China dan Rusia akan masuk lebih dalam? Dunia hari ini terlalu terhubung untuk percaya bahwa konflik bisa berdiri sendirian. Setiap percikan api selalu punya potensi menjadi kebakaran hutan. Ketakutan akan perang regional yang menjelma global bukan paranoia semata; ia bagian dari ingatan kolektif abad ke-20 yang belum sepenuhnya sembuh.

     Namun ada satu aktor yang sering luput dari tuduhan: algoritma. Media sosial tidak menciptakan perang, tetapi ia mempercepat denyut emosinya. Ketakutan lebih laku daripada ketenangan. Kemarahan lebih cepat viral daripada kehati-hatian. Dalam beberapa jam, seseorang bisa merasa dunia hampir kiamat hanya karena terus-menerus melihat potongan video, analisis sepihak, dan komentar yang menyala-nyala. Kita tidak hanya menyaksikan perang; kita mengonsumsinya.

     Di balik semua itu, sebenarnya yang bekerja adalah kebutuhan dasar manusia: ingin aman, ingin diakui, ingin merasa berada di sisi yang benar. Ketika dua negara bertempur, sebagian orang merasa identitasnya ikut dipertaruhkan. Seolah-olah jika pihak yang ia dukung kalah, harga dirinya ikut runtuh. Di situlah kegelisahan terdalam bersembunyi. Bukan pada misil, bukan pada tank, melainkan pada rapuhnya rasa “siapa kita”.

     Barangkali yang paling dramatis bukanlah perang itu sendiri, melainkan cara kita meresponsnya. Kita mengemasnya menjadi pertempuran iman, perlawanan moral, ancaman ekonomi, atau tanda akhir zaman—sesuai kebutuhan batin masing-masing. Dunia luar menjadi layar proyeksi bagi ketakutan dan harapan kita sendiri.

     Dan di antara semua narasi yang saling bertabrakan itu, ada harapan kecil yang jarang viral: semoga akal sehat tetap menjadi mayoritas diam. Bahwa kita bisa berempati tanpa membakar diri dalam fanatisme. Bahwa kita bisa peduli tanpa kehilangan nalar. Karena sebelum perang menjadi global, ia biasanya lebih dulu menjadi perang dalam kepala—perang tafsir, perang identitas, perang imajinasi.

     Jika kita gagal meredakan yang di dalam, jangan heran bila yang di luar terasa semakin tak terkendali. Dunia memang penuh drama. Tetapi barangkali yang paling menentukan bukan siapa menembak siapa, melainkan bagaimana kita menjaga diri agar tidak ikut meledak.

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.