Latest Post

     Entah buzzer siapa yang memulainya. Entah pembela pemerintah. Entah pembenci pemerintah. Entah mereka yang marah kepada mahasiswa. Entah mereka yang marah kepada program makan gratis. Entah siapa. Yang jelas, beberapa hari terakhir beredar sebuah logika yang begitu cepat menyebar hingga orang lupa memeriksa kakinya.

foto : cyrustimes.com

     Mahasiswa berdemonstrasi memprotes kenaikan harga Pertamaxmenuntut harganya diturunkan. Mahasiswa juga mengkritik program makan bergizi gratis yang dinilai kacau, bocor, dan digerogoti korupsimenuntut program itu dihentikan. Lalu dari berbagai sudut ruang publik lahirlah kesimpulan yang tampak gagah sekaligus ganjil: mahasiswa sedang membela orang kaya pemilik mobil dan berusaha merampas makanan orang miskin.

     Selesai.

     Tidak perlu berpikir lebih jauh. Tidak perlu bertanya lagi. Vonis dijatuhkan sebelum sidang dimulai.

     Cara berpikir seperti ini sebenarnya sangat efisien. Ia menghemat energi otak. Sama seperti seseorang yang melihat asap di kejauhan lalu langsung menyimpulkan gunung meletus, tanpa peduli apakah yang terbakar sebenarnya hanya tumpukan sampah di belakang rumah tetangga.

     Padahal kenyataan memiliki kebiasaan buruk: ia jarang sesederhana slogan.

     Harga Pertamax memang menyangkut BBM non-subsidi. Namun di negeri yang penyaring subsidinya bocor seperti ember tua, kenaikan harga BBM non-subsidi sering mendorong perpindahan konsumsi ke BBM subsidi. Orang yang semestinya berada di jalur kanan perlahan masuk ke jalur kiri. Mereka yang seharusnya membeli tanpa bantuan negara ikut mengantre bantuan negara. Akibatnya, mereka yang benar-benar membutuhkan subsidi harus berbagi dengan mereka yang sekadar tidak ingin mengurangi kenyamanan.

     Sementara itu, program makan bergizi gratis juga bukan kitab suci yang turun dari langit dalam keadaan sempurna. Tujuannya mungkin mulia. Pelaksanaannya belum tentu. Di negeri yang bahkan kesulitan menjaga uang pembangunan jembatan, sekolah, jalan, stadion, bansos, pupuk, dan proyek-proyek lain dari tangan-tangan kreatif, publik tentu berhak bertanya ketika uang dalam jumlah besar mulai mengalir ke dapur-dapur baru yang tumbuh lebih cepat daripada jamur setelah hujan.

     Namun pertanyaan semacam itu terlalu merepotkan bagi sebagian orang. Jauh lebih mudah menghapus seluruh kerumitan tersebut.

     Mahasiswa protes Pertamax?
     Berarti pembela orang kaya.
 
     Mahasiswa mengkritik MBG?
     Berarti pembenci orang miskin.
 
     Sederhana. Praktis. Tidak perlu membaca. Tidak perlu menghitung. Tidak perlu memahami.

     Kalau logika seperti ini diterapkan secara konsisten, kita mungkin bisa mencapai efisiensi nasional yang luar biasa.

     Dokter yang mengkritik rumah sakit berarti membenci pasien. Guru yang mengkritik sekolah berarti membenci murid. Wartawan yang mengkritik korupsi berarti membenci pembangunan. Orang yang mengkritik kebocoran kapal berarti membenci penumpang.

     Betapa indahnya dunia ketika setiap kritik bisa diubah menjadi kejahatan hanya dengan menghapus beberapa premis yang mengganggu.

     Barangkali inilah warisan pendidikan kita yang paling berhasil. Kita menghasilkan begitu banyak orang yang pandai mengambil kesimpulan dan begitu sedikit orang yang sabar memeriksa dasar kesimpulannya. Kita melatih murid menjawab soal pilihan ganda selama bertahun-tahun, lalu terkejut ketika mereka mulai melihat dunia sebagai pilihan ganda: setuju atau musuh, mendukung atau membenci, pemerintah atau oposisi, rakyat atau oligarki.

     Padahal kehidupan nyata lebih mirip sungai berlumpur daripada lembar ujian. Arusnya bercabang. Dasarnya tidak selalu terlihat. Banyak batu tersembunyi di bawah permukaan.

     Sayangnya, dunia yang rumit tidak pernah cocok dengan kebutuhan propaganda.

     Propaganda membutuhkan cerita yang pendek. Ia membutuhkan pahlawan dan penjahat. Ia membutuhkan kambing hitam. Ia membutuhkan kesimpulan yang bisa ditelan dalam sekali teguk.

     Karena itu, ketika seseorang datang membawa argumen yang rumit, pekerjaan pertama propaganda adalah memotongnya menjadi karikatur. Setelah karikaturnya selesai dibuat, barulah karikatur itu dipukul ramai-ramai.

     Mungkin itulah yang sedang kita saksikan hari ini.

     Bukan pertarungan antara mahasiswa dan pemerintah. Bukan pertarungan antara Pertamax dan makan gratis. Melainkan pertarungan yang jauh lebih tua: antara keinginan untuk berpikir dan godaan untuk menyederhanakan segala sesuatu sampai kehilangan akal sehatnya.

     Dan seperti biasa, yang paling ramai bukan mereka yang sedang berpikir.

     Melainkan mereka yang sudah terlanjur tiba di kesimpulan sebelum perjalanan dimulai.

     Tomohide Akiyama pada awal 1980-an memperkenalkan istilah Shinrin-yoku, sebuah istilah di Jepang yang secara harfiah berarti "mandi hutan" atau "berendam dalam atmosfer hutan". Istilah ini diperkenalkan sebagai bagian dari kampanye kesehatan dan konservasi hutan di Jepang.

     Namun jangan bayangkan seseorang membawa sabun lalu mandi di tengah rimba. Yang dimaksud adalah membiarkan seluruh indra tenggelam dalam lingkungan hutan: mendengar desir daun, mencium aroma tanah basah, merasakan tekstur kulit pohon, memperhatikan cahaya yang menembus kanopi, dan berjalan tanpa tujuan yang terlalu ambisius.

     Shinrin-yoku lahir dari sebuah kesadaran yang sederhana tetapi menarik. Selama ribuan tahun manusia hidup di tengah alam. Kota, beton, kendaraan, notifikasi ponsel, dan lampu LED adalah pendatang baru dalam sejarah evolusi manusia. Tubuh kita mungkin sudah memakai sepatu modern, tetapi sebagian sistem saraf kita masih mengenali bahasa sungai, hutan, angin, dan suara burung.

     Penelitian yang dilakukan oleh Yoshifumi Miyazaki dan para peneliti kesehatan lingkungan Jepang menunjukkan bahwa menghabiskan waktu di hutan dapat menurunkan kadar hormon stres, menurunkan tekanan darah, memperbaiki suasana hati, dan meningkatkan aktivitas sistem imun. Salah satu penjelasan yang sering diajukan adalah keberadaan senyawa organik yang dilepaskan pohon, disebut phytoncides, yang mungkin berperan dalam efek tersebut. Namun banyak peneliti juga menekankan bahwa manfaatnya tidak semata-mata berasal dari zat kimia, melainkan dari kombinasi ketenangan visual, suara alami, kualitas udara, dan ritme gerak yang lebih lambat.

     Menariknya, shinrin-yoku berbeda dari aktivitas petualangan alam yang sering kita kenal. Pendakian gunung, misalnya, sering kali berisi target: mencapai puncak, mengejar waktu, menaklukkan elevasi. Shinrin-yoku justru hampir kebalikannya. Ia tidak meminta pencapaian apa pun.

     Dalam pendakian, seseorang bisa bertanya: "Berapa meter lagi?"

     Dalam shinrin-yoku, pertanyaannya berubah menjadi: "Apa yang baru saja saya dengar?"

     Dalam pendakian, mata mencari puncak. Dalam shinrin-yoku, mata memperhatikan lumut yang tumbuh diam di batu.

     Karena itu banyak orang menyebutnya sebagai bentuk meditasi yang bergerak. Tidak ada teknik rumit. Tidak ada mantra wajib. Tidak ada sertifikat kelulusan. Hanya berjalan perlahan, bernapas, dan hadir.

     Bagi seseorang yang akrab dengan gunung, sungai, dan hutan—seperti banyak pendaki atau pencinta alam—konsep ini sebenarnya tidak sepenuhnya baru. Banyak orang pernah mengalaminya tanpa mengetahui namanya.

     Mungkin saat berhenti di tepi sungai pegunungan, ketika kabut turun perlahan dan tidak ada percakapan yang perlu dilakukan.

     Mungkin ketika duduk di depan mulut gua setelah perjalanan panjang, mendengar tetes air yang jatuh dari langit-langit batu kapur.

     Mungkin ketika berjalan sendiri di jalur hutan pinus dan tiba-tiba sadar bahwa selama satu jam terakhir tidak memikirkan tagihan, politik, pekerjaan, atau pertengkaran media sosial.

     Di situlah letak keunikan shinrin-yoku. Ia bukan mengajarkan manusia untuk menjadi sesuatu yang baru. Ia hanya mengingatkan bahwa jauh sebelum manusia menjadi manajer, dosen, politisi, insinyur, influencer, atau pelanggan aplikasi, manusia terlebih dahulu adalah makhluk yang lahir dari lanskap alam.

     Hutan tidak memberi solusi atas semua persoalan hidup. Tetapi ia sering melakukan sesuatu yang lebih halus: mengembalikan ukuran persoalan itu ke proporsinya. Di hadapan pohon yang telah hidup ratusan tahun, banyak kecemasan yang kemarin terasa sebesar gunung mendadak tampak hanya sebesar ranting yang patah di tanah.

     MBG saat ini mulai terlihat seperti kanker.

     Mungkin awalnya ia hanya sebuah implan kecil yang ditanam dengan niat baik. Tidak ada yang keberatan ketika negara mengatakan akan memberi makan anak-anak. Bahkan orang yang paling sinis sekalipun akan berpikir bahwa memberi makan anak sekolah adalah ide yang lebih masuk akal daripada sebagian besar proyek yang biasa lahir dari rapat-rapat panjang para pejabat.

     Namun ada satu hal yang sering terlupakan. Kanker tidak pernah datang dengan wajah menyeramkan. Ia datang sebagai sesuatu yang tampak normal. Ia tumbuh perlahan, menyelinap ke jaringan yang sehat, lalu suatu hari orang sadar bahwa tubuh yang mereka kenal telah berubah menjadi sesuatu yang lain.

     MBG tampaknya sedang berada di fase itu.
     Ia ada di mana-mana.

     Ia masuk ke organisasi masyarakat, kampus, yayasan, kelompok relawan, partai politik, aparat, pengusaha katering, kontraktor, pemasok bahan makanan, dan entah berapa banyak lagi simpul yang tidak pernah dibayangkan ketika program ini pertama kali diperkenalkan kepada publik. Ia tumbuh begitu cepat sehingga kadang sulit membedakan mana program negara dan mana ekosistem baru yang hidup dari keberadaan program tersebut.

     Presiden tentu bangga. Dalam banyak kesempatan MBG tampil seperti anak kesayangan yang selalu dipamerkan kepada tamu. Lambat laun rakyat mulai menemukan humornya sendiri. Apa pun masalahnya, MBG solusinya. Kalimat itu awalnya terdengar seperti lelucon. Belakangan terdengar seperti deskripsi keadaan yang cukup akurat.

     Ekonomi lesu, MBG.
     Pengangguran, MBG.
     Kemiskinan, MBG.

     Mungkin jika suatu hari hujan terlambat turun, akan ada usulan menambah menu protein untuk memperbaiki cuaca.

     Lalu datanglah korupsi.

     Sebetulnya kata "korupsi" di Indonesia sudah kehilangan daya kejutnya sejak lama. Ia muncul hampir sesering iklan pinjaman online. Tidak ada yang benar-benar terkejut lagi ketika mendengar ada uang negara yang bocor. Yang menarik justru bukan korupsinya, melainkan apa yang terlihat setelah tirai sedikit tersingkap.

     Tiba-tiba muncul nama-nama.
     Lalu muncul organisasi.
     Lalu muncul yayasan.
     Lalu muncul tokoh-tokoh yang sebelumnya tidak pernah terlihat.
     Lalu muncul pembelaan dari berbagai arah.
     Lalu muncul penjelasan mengapa program ini harus tetap berjalan.

     Lalu muncul penjelasan atas penjelasan.

     Untuk sesaat rasanya seperti menyaksikan seseorang menyalakan lampu di sebuah gedung yang selama ini tampak kosong dari luar. Ternyata di dalamnya banyak sekali penghuni.

     Yang lebih menarik lagi, ketika sejumlah dapur mulai ditutup, saya mengira yang akan paling gaduh adalah anak-anak yang kehilangan makan siang.

     Ternyata bukan.

     Anak-anak tidak punya konferensi pers. Anak-anak tidak punya akun media sosial dengan centang biru. Anak-anak tidak punya jaringan politik. Anak-anak hanya kehilangan makan siang.

     Kegaduhan justru datang dari orang-orang dewasa.

     Mendadak begitu banyak pihak yang berbicara tentang pentingnya keberlanjutan program. Tentang masa depan bangsa. Tentang generasi emas. Tentang kepentingan rakyat. Dan entah mengapa, semuanya terdengar seperti orang yang sedang berusaha meyakinkan diri bahwa aliran uang yang sangat besar tidak boleh berhenti mengalir.

     Di tengah keramaian itu, ada satu pernyataan seorang politisi yang menurut saya jauh lebih jujur daripada seluruh konferensi pers yang pernah digelar.

     MBG tidak bisa dihentikan.

     Saya sempat mengira itu bentuk pembelaan. Belakangan saya sadar, mungkin itu pengakuan.

     Sebab program pemerintah seharusnya selalu bisa dihentikan. Program dibuat manusia. Program dievaluasi manusia. Program diganti manusia. Tidak ada yang sakral.

     Kalau sebuah program sudah dianggap tidak bisa dihentikan, berarti kita sedang berbicara tentang sesuatu yang lain. Kita sedang berbicara tentang organisme yang telah tumbuh terlalu besar.

     Terlalu banyak orang hidup darinya. Terlalu banyak orang menggantungkan keuntungan padanya. Terlalu banyak kepentingan telah menempel di tubuhnya.

     Terlalu banyak yang akan kehilangan sesuatu jika ia berhenti.

     Dan semua itu terjadi pada saat ekonomi sedang megap-megap mencari udara. Warung-warung kecil tutup lebih dulu karena pembeli makin jarang datang. Pedagang kaki lima mulai menghilang dari sudut-sudut jalan yang dulu ramai. Lembaga pendidikan dipaksa berhemat. BPJS terus berbicara tentang defisit. Rupiah melemah dan harga-harga bergerak dengan caranya sendiri yang selalu berhasil membuat rakyat menghela napas panjang di depan etalase.

     Dalam keadaan seperti itu, mungkin kita akhirnya memahami mengapa banyak orang tampak lebih takut kehilangan proyek daripada kehilangan akal sehat.

     Karena kanker memiliki satu sifat yang menarik. Semakin besar ia tumbuh, semakin sulit tubuh membayangkan hidup tanpa dirinya. Ia menyerap nutrisi, mengambil ruang, membangun jaringan, lalu perlahan membuat seluruh tubuh percaya bahwa keberadaannya adalah sesuatu yang mutlak.

     Sampai akhirnya muncul satu pertanyaan sederhana. Apakah tubuh ini masih memelihara kanker, atau kanker yang sedang memelihara tubuh?

     Dan untuk pertama kalinya saya merasa sepenuhnya setuju dengan para penggemar MBG. Mereka benar! Apa pun masalahnya, MBG memang solusinya.

     Karena setelah melihat bagaimana ia tumbuh, menjalar, membangun jaringan, menciptakan ketergantungan, dan membuat begitu banyak orang ketakutan ketika namanya disentuh, saya yakin MBG memang dapat menyelesaikan satu masalah yang sangat besar.

     Masalah itu bernama MBG sendiri.

     STOP MBG sekarang juga!

     Ada masa ketika menjadi orang berada ditandai dengan rumah besar, mobil mengilap, dan kemampuan berbicara panjang tentang investasi. Namun rupanya ada indikator yang jauh lebih sederhana: seberapa tenang wajah seseorang saat harga bahan bakar naik.

     Ketika harga bahan bakar mulai berayun dan rupiah kehilangan tenaga, banyak topeng kemapanan mendadak retak. Mereka yang selama ini tampak hidup berkecukupan ternyata tidak selalu memiliki pijakan yang kokoh. Cicilan menumpuk, pengeluaran konsumtif membesar, dan dapur perlahan digantikan oleh aplikasi yang mengantar makanan ke depan pintu. Selama keadaan tenang, semuanya terlihat baik-baik saja. Namun begitu biaya hidup bergerak naik, banyak yang sadar bahwa kemapanan yang mereka tampilkan tidak selalu sama dengan kemapanan yang mereka miliki.

     Dari situlah kemarahan mulai mencari sasaran. Sebagian mengeluhkan harga bahan bakar yang naik turun. Sebagian lain ikut berburu bahan bakar subsidi. Akibatnya, mereka yang memang bergantung pada subsidi harus berbagi akses dengan kelompok yang sebelumnya merasa tidak memerlukannya. Ketika pasokan terganggu, yang paling dahulu merasakan dampaknya justru mereka yang paling sedikit memiliki pilihan.

     Di dapur, drama memiliki bentuk yang lebih sederhana tetapi jauh lebih nyata. Para ibu berdiri di depan rak minyak goreng dengan ekspresi yang mungkin sama seriusnya dengan para ekonom yang sedang memantau pergerakan pasar global. Ada satu pertanyaan yang sulit dijawab oleh logika awam: bagaimana mungkin negeri yang dipenuhi pohon sawit masih harus menyaksikan harga minyak goreng menari mengikuti irama dolar?

     Sawit tumbuh di tanah sendiri. Matahari yang menyinarinya tidak diimpor. Hujan yang menyiraminya juga tidak dibeli dari luar negeri. Buruh yang memanen buahnya berbicara dalam bahasa yang sama dengan pembelinya. Tetapi ketika dolar bersin di belahan dunia lain, botol minyak goreng di dapur ikut demam.

     Barangkali masalahnya bukan pada sawit. Pohon itu sejak dahulu hanya sibuk tumbuh. Ia tidak pernah mengikuti seminar ekonomi global. Ia tidak pernah membaca laporan pasar komoditas. Yang menarik justru perjalanan panjang dari kebun menuju dapur. Di sepanjang perjalanan itulah harga tampaknya memperoleh pendidikan internasional yang jauh lebih tinggi daripada yang diterima rakyat yang membelinya. 

     Mungkin itulah sebabnya harga minyak goreng lebih cepat memahami pergerakan pasar dunia daripada kebutuhan dapur yang membelinya.

     Dulu Presiden pernah terdengar berpidato dengan penuh keyakinan, bahwa gejolak dolar tidak akan berpengaruh, sebagian besar rakyat berada di desa, karenanya mereka tidak perlu dolar. Kalimat itu terdengar gagah. Sayangnya, tampaknya minyak sawit tidak sempat menghadiri acara tersebut. Ia tetap saja memperhatikan kurs mata uang asing dengan disiplin yang mengagumkan. Bahkan mungkin lebih disiplin daripada sebagian pegawai kantor.

     Rakyat kemudian dituduh kurang memahami persoalan ekonomi yang rumit. Bisa jadi benar. Mungkin mereka memang kurang gizi intelektual sehingga gagal menangkap keajaiban ilmu ekonomi modern. Mereka hanya melihat satu hal yang sederhana: barang impor mahal karena dolar naik, itu masih masuk akal. Tetapi barang yang tumbuh di kebun sebelah rumah juga ikut mahal karena dolar naik. Di titik itulah akal sehat mulai menggaruk-garuk kepala.

     Seorang petani mungkin akan bertanya dengan polos. Jika kambing saya melahirkan di kandang sendiri, makan rumput dari ladang sendiri, lalu suatu hari harga anak kambingnya naik karena kurs dolar di New York bergerak, apakah saya sedang berternak atau sedang mengikuti pasar valuta asing?

     Mungkin memang kita hidup di zaman yang luar biasa. Dahulu para ilmuwan mengagumi relativitas ruang dan waktu. Kini masyarakat diperkenalkan pada relativitas yang lebih praktis. Barang impor dipengaruhi dolar. Barang yang tidak impor juga dipengaruhi dolar. Yang memiliki dolar dipengaruhi dolar. Yang tidak memiliki dolar juga dipengaruhi dolar.

     Barangkali suatu hari nanti para fisikawan akan mengakui bahwa mereka selama ini kurang ambisius. Einstein hanya berhasil menunjukkan bahwa waktu dapat melambat dan ruang dapat melengkung. Sementara kita berhasil menemukan sesuatu yang lebih menakjubkan: harga dapat naik tanpa perlu bepergian ke mana-mana.

     Dan seperti semua keajaiban besar, rakyat diminta untuk mengaguminya sambil membayar di kasir.

     Ada hal-hal dalam hidup yang tidak pernah benar-benar jauh. Ia berada di sekitar kita, mengikuti langkah, muncul dalam percakapan, kadang bahkan tinggal di dalam kepala sepanjang hari. Namun anehnya, semakin dekat sesuatu itu, semakin sulit ia disentuh dengan utuh. Seperti mencoba melihat mata sendiri tanpa bantuan cermin—terlalu dekat untuk bisa dipandang langsung.

     Manusia sering membayangkan jarak sebagai persoalan ruang. Padahal ada kedekatan yang justru menciptakan kabut. Kita bisa hidup bertahun-tahun bersama seseorang tanpa benar-benar memahami siapa dia ketika sedang sendirian. Kita bisa begitu akrab dengan suatu kota sampai berhenti melihat bentuknya. Kita bahkan bisa menghabiskan sebagian besar hidup bersama diri sendiri tanpa pernah sepenuhnya mengerti mengapa hati bergerak ke arah tertentu.

     Mungkin karena sesuatu yang terlalu dekat berhenti terlihat sebagai objek. Ia berubah menjadi latar, menjadi udara, menjadi bagian dari cara kita memandang dunia. Dan seperti udara, ia baru terasa ketika berubah, ketika hilang, atau ketika tiba-tiba mengganggu napas.

     Ada orang yang sepanjang hidup mengejar makna besar, padahal yang paling menentukan dirinya justru hal-hal kecil yang begitu dekat sampai tidak dianggap. Cara ayahnya diam ketika marah. Aroma rumah setelah hujan. Kebiasaan seseorang menyebut namanya dengan nada tertentu. Semua itu tampak remeh, namun diam-diam membentuk cara seseorang mencintai, takut, memilih, bahkan cara ia merasa kesepian.

     Kedekatan memiliki ironi yang halus. Semakin sering sesuatu hadir, semakin besar kemungkinan ia tidak diperhatikan. Kita terbiasa mengira bahwa perhatian lahir dari intensitas, padahal sering kali perhatian justru mati karena keberulangan. Mata manusia mudah terpukau oleh yang jauh dan asing, tetapi cepat buta terhadap yang setia berada di dekatnya.

     Hal yang sama terjadi pada kebahagiaan. Banyak orang mencarinya seperti mencari tempat yang belum pernah dikunjungi, padahal ia mungkin sudah duduk diam di sudut kehidupan sehari-hari. Dalam secangkir kopi yang diminum perlahan. Dalam percakapan yang tidak penting tetapi terasa hangat. Dalam kemampuan pulang tanpa perlu menjelaskan diri terlalu banyak. Namun karena semua itu terlalu dekat dengan rutinitas, manusia sering menganggapnya tidak cukup besar untuk disebut berarti.

     Menariknya, sesuatu yang dekat tapi sulit disentuh juga sering muncul dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Ada perasaan-perasaan yang selalu hadir namun tidak pernah sepenuhnya bisa dijelaskan. Seseorang tahu bahwa ada kekosongan di dalam dirinya, tetapi tidak tahu persis bentuknya. Ada kerinduan yang terus bergerak tanpa objek yang jelas. Ada rasa ingin pulang, padahal tidak yakin ke mana sebenarnya yang disebut rumah.

     Di titik ini, bahasa mulai terasa tidak cukup. Kita mencoba menjelaskan sesuatu yang lebih mirip suasana daripada benda. Dan suasana tidak bisa digenggam. Ia hanya bisa dialami, kadang hanya bisa dikenali sesaat sebelum menghilang lagi.

     Mungkin itu sebabnya manusia terus membuat musik, puisi, cerita, dan percakapan panjang sampai larut malam. Bukan untuk menyelesaikan misteri itu, tetapi untuk mendekatinya sedikit lebih dekat. Ada upaya terus-menerus untuk menyentuh sesuatu yang terasa akrab namun tetap lolos dari pegangan. Dan anehnya, justru di situlah banyak keindahan lahir.

     Karena tidak semua hal perlu sepenuhnya dimiliki untuk terasa nyata. Ada pengalaman yang justru indah karena tidak pernah benar-benar selesai disentuh. Seperti lagu yang selalu meninggalkan rasa berbeda setiap kali didengar. Seperti seseorang yang sudah lama dikenal namun tetap menyimpan bagian yang tidak bisa dijangkau. Seperti hidup itu sendiri—sangat dekat, sangat melekat, tetapi tidak pernah sepenuhnya bisa dipahami.

     Pada akhirnya, mungkin manusia memang hidup berdampingan dengan banyak hal yang terlalu dekat untuk disentuh secara utuh. Bukan karena ia jauh, melainkan karena ia sudah menjadi bagian dari cara kita merasa dan melihat dunia.

     Dan mungkin yang bisa dilakukan bukan memaksa menggenggam semuanya, tetapi belajar tinggal di dekatnya—cukup tenang untuk merasakan kehadirannya, tanpa harus selalu berhasil memilikinya.

     Banyak orang ingin setajam pisau. Mereka mengagumi ketegasan, kecerdasan, dan ketangkasan berpikir. Mereka memuji orang-orang yang mampu membelah persoalan rumit seperti mata pisau membelah serat bambu. Namun anehnya, ketika tiba waktunya diasah oleh kritik, dipertentangkan oleh argumen, atau digesek oleh kenyataan yang tidak ramah, mereka segera menyimpan diri ke dalam sarung. Pisau yang terlalu lama disimpan memang tidak akan berkarat oleh gesekan. Ia hanya akan berkarat oleh waktu.

     Banyak pula yang ingin seharum cendana. Mereka ingin dihormati, dikenang, dan menjadi sumber keteduhan bagi orang lain. Nama mereka ingin disebut dengan senyum, bahkan ketika mereka sudah lama pergi. Sayangnya, cendana memiliki kebiasaan buruk yang sulit ditoleransi zaman modern: ia baru mengeluarkan harum terbaiknya ketika dibakar. Sementara kita hidup dalam masa ketika orang ingin aroma tanpa api, hasil tanpa risiko, dan penghormatan tanpa pengorbanan. Kita menginginkan wangi yang bisa dicicil tiga bulan tanpa bunga.

     Maka lahirlah generasi yang rajin mengikuti seminar tentang kesuksesan, tetapi alergi terhadap kesulitan. Mereka berkelana dari satu motivator ke motivator lain seperti wisatawan yang berpindah-pindah gunung demi berfoto di puncak, sambil berharap tidak perlu mendaki. Kalau memungkinkan, gununglah yang turun menghampiri mereka.

     Padahal gunung tidak pernah punya sopan santun semacam itu.

     Gunung tetap berdiri dengan lereng yang curam. Sungai tetap mengikis batu sedikit demi sedikit selama ratusan tahun. Gua tetap gelap bagi siapa pun yang ingin melihat kedalamannya. Alam tidak pernah mengenal fasilitas "skip process". Tidak ada air terjun yang lahir langsung di hilir. Tidak ada stalaktit yang tumbuh dalam semalam. Bahkan batu yang tampak diam pun sesungguhnya sedang menjalani perjalanan panjang yang tidak pernah diumumkan melalui media sosial.

     Di situlah masalah manusia menjadi lebih menarik.

     Banyak orang mengira hidup mereka tidak berkembang karena kurang kesempatan. Sebagian menyalahkan nasib. Sebagian lagi menyalahkan pemerintah, ekonomi global, algoritma, zodiak, cuaca, bahkan posisi planet yang entah sedang rapat koordinasi dengan siapa. Namun ketika lapisan demi lapisan alasan itu dikupas, sering kali ditemukan sesuatu yang jauh lebih sederhana dan jauh lebih tidak nyaman: mereka sebenarnya tidak pernah memilih.

     Mereka hanya mengikuti arus.

     Mereka sekolah karena semua orang sekolah. Mereka bekerja karena semua orang bekerja. Mereka marah karena semua orang marah. Mereka mendukung sesuatu karena lingkungan mereka mendukungnya. Bahkan pendapat yang mereka anggap paling pribadi sering kali hanyalah gema yang dipantulkan berkali-kali oleh ruangan yang sama.

     Seekor ikan di sungai setidaknya tahu bahwa ia sedang terbawa arus. Manusia lebih istimewa. Ia bisa hanyut selama puluhan tahun sambil menyebutnya kebebasan.

     Di sinilah kalimat tentang hidup yang tidak dipilih menjadi jauh lebih mengganggu daripada kisah pisau atau cendana. Pada pisau, kita tahu letak keengganannya. Ia tidak mau diasah. Pada cendana, kita tahu letak ketakutannya. Ia tidak mau dibakar.

     Tetapi pada hidup yang tidak dipilih, keengganannya bersembunyi dengan sangat rapi.

     Ia menyamar menjadi rutinitas.
     Ia menyamar menjadi kenyamanan.
     Ia menyamar menjadi kalimat-kalimat bijak tentang menerima keadaan.
     Ia bahkan menyamar menjadi kebijaksanaan.

     Orang bangun pagi, berangkat kerja, pulang sore, mengeluh sebentar, tidur, lalu mengulanginya lagi selama puluhan tahun. Sesekali ia menatap foto pegunungan yang dipasang sebagai wallpaper ponsel dan berkata bahwa dirinya mencintai petualangan. Sesekali ia membaca kisah para penjelajah gua dan merasa jiwanya bebas. Sesekali ia memandangi sungai dan berbicara tentang keberanian mengikuti panggilan hidup.

     Lalu alarm berbunyi esok pagi, dan semua pemikiran itu dikembalikan ke laci yang sama tempat mimpi-mimpi lama disimpan.

     Tidak semua orang harus mendaki gunung. Tidak semua orang harus mengarungi sungai liar atau masuk ke gua yang gelap. Yang menjadi persoalan bukanlah pilihan jalannya, melainkan kenyataan bahwa banyak orang tidak pernah benar-benar memilih jalan apa pun. Mereka sekadar berjalan di jalur yang kebetulan sudah dipadatkan oleh jutaan kaki sebelum mereka.

     Mungkin itulah ironi terbesar manusia modern. Kita hidup di zaman yang terus meneriakkan kebebasan, tetapi begitu banyak orang takut menggunakan kebebasan itu untuk menentukan arah hidupnya sendiri. Kita ingin menjadi pisau tanpa diasah, ingin menjadi cendana tanpa dibakar, ingin mencapai puncak tanpa mendaki, dan ingin menemukan diri sendiri tanpa pernah berani tersesat.

     Kemudian ketika usia mulai senja dan jalan di belakang terlihat lebih panjang daripada jalan di depan, muncul pertanyaan yang datang terlambat seperti gema dari dasar sebuah gua:

Apakah aku gagal mencapai hidup yang kuinginkan, atau sebenarnya aku tidak pernah sungguh-sungguh memilihnya?

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.