Latest Post

     Dahulu manusia berburu rusa, menangkap ikan, dan menghindari harimau. Kini manusia berburu angka, menangkap gelar, dan menghindari pertanyaan yang terlalu jujur. Kemajuan memang menakjubkan. Kita berhasil mengganti ancaman yang nyata dengan ancaman yang diciptakan sendiri, lalu menghabiskan hidup untuk mengatasinya.

     Salah satu hasil ciptaan yang paling terkenal adalah IQ. Sebuah angka yang begitu dihormati sehingga banyak orang membawanya seperti mahkota, sementara yang tidak memilikinya sering berusaha membuktikan bahwa mahkota itu tidak terlalu penting. Maka lahirlah kalimat yang begitu populer: IQ tinggi tidak menjamin sukses.

     Kalimat itu terdengar bijaksana. Ia diucapkan dengan anggukan kepala, dibagikan di media sosial dengan latar belakang matahari terbit, dan diterima seperti kebenaran yang turun dari langit. Sayangnya, jarang ada yang bertanya lebih dahulu: IQ tinggi itu apa? Dan sukses itu apa?

     Orang-orang tampaknya sepakat bahwa IQ adalah ukuran kecerdasan. Kesepakatan yang menarik, sebab dunia ini penuh dengan manusia cerdas yang tidak pernah diukur. Nelayan tua yang dapat membaca cuaca dari arah angin, petani yang mengenali musim dari bau tanah, ibu yang memahami perubahan suasana hati anaknya hanya dari tatapan mata, tidak pernah diberi angka. Mereka terlalu hidup untuk dimasukkan ke dalam tabel.

     Sebaliknya, seseorang yang mampu menemukan pola geometri dalam serangkaian gambar akan memperoleh angka tinggi, lalu disebut sangat cerdas. Tidak ada yang salah dengan itu. Yang lucu adalah ketika angka tersebut perlahan berubah menjadi identitas. Seolah-olah manusia akhirnya dapat diringkas seperti spesifikasi barang elektronik: tinggi sekian sentimeter, berat sekian kilogram, IQ sekian, selesai.

     Mungkin suatu hari akan lahir iklan yang lebih jujur.

     "Dijual manusia, kondisi mulus, IQ 145, kemampuan sosial terbatas, mudah cemas, sulit tidur, tetapi sangat baik dalam menyelesaikan teka-teki."

     Peradaban tampaknya akan menerimanya dengan gembira.

     Lalu datanglah kata "sukses", yang lebih ajaib lagi. Tidak ada benda yang bentuknya lebih kabur tetapi lebih banyak diperebutkan. Anak-anak diajari mengejarnya sebelum mereka tahu apa yang sedang mereka kejar. Mereka didorong berlari secepat mungkin, lalu setelah dewasa baru sadar bahwa garis finisnya terus dipindahkan.

     Ketika miskin, sukses berarti kaya.
     Ketika kaya, sukses berarti terkenal.
     Ketika terkenal, sukses berarti dihormati.
     Ketika dihormati, sukses berarti hidup tenang.
 

     Dan ketika hidup mulai tenang, sebagian orang justru merindukan masa ketika mereka belum mengejar semua itu.

     Sungguh permainan yang sangat efisien. Kita dibuat berlari mengelilingi lingkaran, lalu diberi medali karena tidak menyadari bahwa kita sedang berputar.

     Anehnya, ketika seseorang memiliki rumah besar, mobil mewah, dan rekening yang tak habis dihitung nolnya, masyarakat dengan cepat menyebutnya sukses. Tidak banyak yang bertanya apakah ia tidur nyenyak. Tidak banyak yang peduli apakah ia masih mampu mencintai tanpa curiga, tertawa tanpa kepentingan, atau menikmati hujan tanpa menghitung peluang bisnis air kemasan.

     Ada sesuatu yang sangat aneh dalam cara kita menilai hidup.

     Seekor burung tidak pernah merasa gagal karena tidak memiliki properti. Pohon tua tidak merasa rendah diri karena tidak terkenal. Sungai tidak pernah mengikuti seminar tentang cara menjadi lebih sukses sebagai sungai.

     Hanya manusia yang menciptakan perlombaan, menentukan peringkat, lalu mengalami depresi karena kalah dalam perlombaan yang ia buat sendiri.

     Dan ketika kelelahan mulai terasa, lahirlah buku-buku motivasi. Sebagian menyuruh kita bekerja lebih keras. Sebagian menyuruh kita berpikir positif. Sebagian menyuruh kita bangun pukul empat pagi.

     Tidak ada yang bertanya mengapa kita harus ikut lomba itu sejak awal.

     Maka kalimat "IQ tinggi tidak menjamin sukses" sebenarnya terasa seperti perdebatan kecil di dalam penjara yang sama. Yang satu berkata, "Kecerdasan bukan segalanya." Yang lain berkata, "Tetapi kecerdasan tetap penting."

     Keduanya masih menerima satu keyakinan yang tidak pernah diperiksa: bahwa manusia harus diukur, dibandingkan, dan diberi peringkat.

     Padahal mungkin persoalannya bukan pada alat ukurnya. Mungkin justru obsesi untuk mengukur itulah yang perlu dicurigai.

     Sebab semakin modern manusia, semakin banyak pita ukur yang dibawanya. Ia mengukur kecerdasan, mengukur penghasilan, mengukur popularitas, mengukur produktivitas, bahkan mengukur kebahagiaan. Seolah-olah hidup adalah proyek konstruksi raksasa yang tidak boleh menyisakan satu sentimeter pun tanpa angka.

     Lalu pada suatu malam yang sunyi, setelah semua ukuran tercapai, sebagian orang diam-diam bertanya pada dirinya sendiri: "Aku sudah mendapatkan semuanya. Mengapa masih ada ruang kosong yang tidak bisa kujelaskan?"

     Pertanyaan itu biasanya datang terlambat. Karena selama ini kita terlalu sibuk mengukur hidup, sampai lupa menjalani hidup itu sendiri.

     Dan mungkin, hanya mungkin, manusia baru benar-benar merdeka ketika ia berani meletakkan seluruh pita ukur itu di atas meja, lalu berdiri di hadapan dirinya sendiri tanpa angka, tanpa peringkat, tanpa label.

     Tentu saja itu bukan perkara mudah. Sebab banyak orang rela kehilangan kebebasan, asalkan tetap bisa mengatakan kepada dunia: "Lihatlah, aku lebih berhasil daripada yang lain."

     Kalimat yang, jika dipikir-pikir, terdengar sangat cerdas. 

     Atau mungkin justru sebaliknya. 😂😂

     Entah buzzer siapa yang memulainya. Entah pembela pemerintah. Entah pembenci pemerintah. Entah mereka yang marah kepada mahasiswa. Entah mereka yang marah kepada program makan gratis. Entah siapa. Yang jelas, beberapa hari terakhir beredar sebuah logika yang begitu cepat menyebar hingga orang lupa memeriksa kakinya.

foto : cyrustimes.com

     Mahasiswa berdemonstrasi memprotes kenaikan harga Pertamaxmenuntut harganya diturunkan. Mahasiswa juga mengkritik program makan bergizi gratis yang dinilai kacau, bocor, dan digerogoti korupsimenuntut program itu dihentikan. Lalu dari berbagai sudut ruang publik lahirlah kesimpulan yang tampak gagah sekaligus ganjil: mahasiswa sedang membela orang kaya pemilik mobil dan berusaha merampas makanan orang miskin.

     Selesai.

     Tidak perlu berpikir lebih jauh. Tidak perlu bertanya lagi. Vonis dijatuhkan sebelum sidang dimulai.

     Cara berpikir seperti ini sebenarnya sangat efisien. Ia menghemat energi otak. Sama seperti seseorang yang melihat asap di kejauhan lalu langsung menyimpulkan gunung meletus, tanpa peduli apakah yang terbakar sebenarnya hanya tumpukan sampah di belakang rumah tetangga.

     Padahal kenyataan memiliki kebiasaan buruk: ia jarang sesederhana slogan.

     Harga Pertamax memang menyangkut BBM non-subsidi. Namun di negeri yang penyaring subsidinya bocor seperti ember tua, kenaikan harga BBM non-subsidi sering mendorong perpindahan konsumsi ke BBM subsidi. Orang yang semestinya berada di jalur kanan perlahan masuk ke jalur kiri. Mereka yang seharusnya membeli tanpa bantuan negara ikut mengantre bantuan negara. Akibatnya, mereka yang benar-benar membutuhkan subsidi harus berbagi dengan mereka yang sekadar tidak ingin mengurangi kenyamanan.

     Sementara itu, program makan bergizi gratis juga bukan kitab suci yang turun dari langit dalam keadaan sempurna. Tujuannya mungkin mulia. Pelaksanaannya belum tentu. Di negeri yang bahkan kesulitan menjaga uang pembangunan jembatan, sekolah, jalan, stadion, bansos, pupuk, dan proyek-proyek lain dari tangan-tangan kreatif, publik tentu berhak bertanya ketika uang dalam jumlah besar mulai mengalir ke dapur-dapur baru yang tumbuh lebih cepat daripada jamur setelah hujan.

     Namun pertanyaan semacam itu terlalu merepotkan bagi sebagian orang. Jauh lebih mudah menghapus seluruh kerumitan tersebut.

     Mahasiswa protes Pertamax?
     Berarti pembela orang kaya.
 
     Mahasiswa mengkritik MBG?
     Berarti pembenci orang miskin.
 
     Sederhana. Praktis. Tidak perlu membaca. Tidak perlu menghitung. Tidak perlu memahami.

     Kalau logika seperti ini diterapkan secara konsisten, kita mungkin bisa mencapai efisiensi nasional yang luar biasa.

     Dokter yang mengkritik rumah sakit berarti membenci pasien. Guru yang mengkritik sekolah berarti membenci murid. Wartawan yang mengkritik korupsi berarti membenci pembangunan. Orang yang mengkritik kebocoran kapal berarti membenci penumpang.

     Betapa indahnya dunia ketika setiap kritik bisa diubah menjadi kejahatan hanya dengan menghapus beberapa premis yang mengganggu.

     Barangkali inilah warisan pendidikan kita yang paling berhasil. Kita menghasilkan begitu banyak orang yang pandai mengambil kesimpulan dan begitu sedikit orang yang sabar memeriksa dasar kesimpulannya. Kita melatih murid menjawab soal pilihan ganda selama bertahun-tahun, lalu terkejut ketika mereka mulai melihat dunia sebagai pilihan ganda: setuju atau musuh, mendukung atau membenci, pemerintah atau oposisi, rakyat atau oligarki.

     Padahal kehidupan nyata lebih mirip sungai berlumpur daripada lembar ujian. Arusnya bercabang. Dasarnya tidak selalu terlihat. Banyak batu tersembunyi di bawah permukaan.

     Sayangnya, dunia yang rumit tidak pernah cocok dengan kebutuhan propaganda.

     Propaganda membutuhkan cerita yang pendek. Ia membutuhkan pahlawan dan penjahat. Ia membutuhkan kambing hitam. Ia membutuhkan kesimpulan yang bisa ditelan dalam sekali teguk.

     Karena itu, ketika seseorang datang membawa argumen yang rumit, pekerjaan pertama propaganda adalah memotongnya menjadi karikatur. Setelah karikaturnya selesai dibuat, barulah karikatur itu dipukul ramai-ramai.

     Mungkin itulah yang sedang kita saksikan hari ini.

     Bukan pertarungan antara mahasiswa dan pemerintah. Bukan pertarungan antara Pertamax dan makan gratis. Melainkan pertarungan yang jauh lebih tua: antara keinginan untuk berpikir dan godaan untuk menyederhanakan segala sesuatu sampai kehilangan akal sehatnya.

     Dan seperti biasa, yang paling ramai bukan mereka yang sedang berpikir.

     Melainkan mereka yang sudah terlanjur tiba di kesimpulan sebelum perjalanan dimulai.

     Tomohide Akiyama pada awal 1980-an memperkenalkan istilah Shinrin-yoku, sebuah istilah di Jepang yang secara harfiah berarti "mandi hutan" atau "berendam dalam atmosfer hutan". Istilah ini diperkenalkan sebagai bagian dari kampanye kesehatan dan konservasi hutan di Jepang.

     Namun jangan bayangkan seseorang membawa sabun lalu mandi di tengah rimba. Yang dimaksud adalah membiarkan seluruh indra tenggelam dalam lingkungan hutan: mendengar desir daun, mencium aroma tanah basah, merasakan tekstur kulit pohon, memperhatikan cahaya yang menembus kanopi, dan berjalan tanpa tujuan yang terlalu ambisius.

     Shinrin-yoku lahir dari sebuah kesadaran yang sederhana tetapi menarik. Selama ribuan tahun manusia hidup di tengah alam. Kota, beton, kendaraan, notifikasi ponsel, dan lampu LED adalah pendatang baru dalam sejarah evolusi manusia. Tubuh kita mungkin sudah memakai sepatu modern, tetapi sebagian sistem saraf kita masih mengenali bahasa sungai, hutan, angin, dan suara burung.

     Penelitian yang dilakukan oleh Yoshifumi Miyazaki dan para peneliti kesehatan lingkungan Jepang menunjukkan bahwa menghabiskan waktu di hutan dapat menurunkan kadar hormon stres, menurunkan tekanan darah, memperbaiki suasana hati, dan meningkatkan aktivitas sistem imun. Salah satu penjelasan yang sering diajukan adalah keberadaan senyawa organik yang dilepaskan pohon, disebut phytoncides, yang mungkin berperan dalam efek tersebut. Namun banyak peneliti juga menekankan bahwa manfaatnya tidak semata-mata berasal dari zat kimia, melainkan dari kombinasi ketenangan visual, suara alami, kualitas udara, dan ritme gerak yang lebih lambat.

     Menariknya, shinrin-yoku berbeda dari aktivitas petualangan alam yang sering kita kenal. Pendakian gunung, misalnya, sering kali berisi target: mencapai puncak, mengejar waktu, menaklukkan elevasi. Shinrin-yoku justru hampir kebalikannya. Ia tidak meminta pencapaian apa pun.

     Dalam pendakian, seseorang bisa bertanya: "Berapa meter lagi?"

     Dalam shinrin-yoku, pertanyaannya berubah menjadi: "Apa yang baru saja saya dengar?"

     Dalam pendakian, mata mencari puncak. Dalam shinrin-yoku, mata memperhatikan lumut yang tumbuh diam di batu.

     Karena itu banyak orang menyebutnya sebagai bentuk meditasi yang bergerak. Tidak ada teknik rumit. Tidak ada mantra wajib. Tidak ada sertifikat kelulusan. Hanya berjalan perlahan, bernapas, dan hadir.

     Bagi seseorang yang akrab dengan gunung, sungai, dan hutan—seperti banyak pendaki atau pencinta alam—konsep ini sebenarnya tidak sepenuhnya baru. Banyak orang pernah mengalaminya tanpa mengetahui namanya.

     Mungkin saat berhenti di tepi sungai pegunungan, ketika kabut turun perlahan dan tidak ada percakapan yang perlu dilakukan.

     Mungkin ketika duduk di depan mulut gua setelah perjalanan panjang, mendengar tetes air yang jatuh dari langit-langit batu kapur.

     Mungkin ketika berjalan sendiri di jalur hutan pinus dan tiba-tiba sadar bahwa selama satu jam terakhir tidak memikirkan tagihan, politik, pekerjaan, atau pertengkaran media sosial.

     Di situlah letak keunikan shinrin-yoku. Ia bukan mengajarkan manusia untuk menjadi sesuatu yang baru. Ia hanya mengingatkan bahwa jauh sebelum manusia menjadi manajer, dosen, politisi, insinyur, influencer, atau pelanggan aplikasi, manusia terlebih dahulu adalah makhluk yang lahir dari lanskap alam.

     Hutan tidak memberi solusi atas semua persoalan hidup. Tetapi ia sering melakukan sesuatu yang lebih halus: mengembalikan ukuran persoalan itu ke proporsinya. Di hadapan pohon yang telah hidup ratusan tahun, banyak kecemasan yang kemarin terasa sebesar gunung mendadak tampak hanya sebesar ranting yang patah di tanah.

     MBG saat ini mulai terlihat seperti kanker.

     Mungkin awalnya ia hanya sebuah implan kecil yang ditanam dengan niat baik. Tidak ada yang keberatan ketika negara mengatakan akan memberi makan anak-anak. Bahkan orang yang paling sinis sekalipun akan berpikir bahwa memberi makan anak sekolah adalah ide yang lebih masuk akal daripada sebagian besar proyek yang biasa lahir dari rapat-rapat panjang para pejabat.

     Namun ada satu hal yang sering terlupakan. Kanker tidak pernah datang dengan wajah menyeramkan. Ia datang sebagai sesuatu yang tampak normal. Ia tumbuh perlahan, menyelinap ke jaringan yang sehat, lalu suatu hari orang sadar bahwa tubuh yang mereka kenal telah berubah menjadi sesuatu yang lain.

     MBG tampaknya sedang berada di fase itu.
     Ia ada di mana-mana.

     Ia masuk ke organisasi masyarakat, kampus, yayasan, kelompok relawan, partai politik, aparat, pengusaha katering, kontraktor, pemasok bahan makanan, dan entah berapa banyak lagi simpul yang tidak pernah dibayangkan ketika program ini pertama kali diperkenalkan kepada publik. Ia tumbuh begitu cepat sehingga kadang sulit membedakan mana program negara dan mana ekosistem baru yang hidup dari keberadaan program tersebut.

     Presiden tentu bangga. Dalam banyak kesempatan MBG tampil seperti anak kesayangan yang selalu dipamerkan kepada tamu. Lambat laun rakyat mulai menemukan humornya sendiri. Apa pun masalahnya, MBG solusinya. Kalimat itu awalnya terdengar seperti lelucon. Belakangan terdengar seperti deskripsi keadaan yang cukup akurat.

     Ekonomi lesu, MBG.
     Pengangguran, MBG.
     Kemiskinan, MBG.

     Mungkin jika suatu hari hujan terlambat turun, akan ada usulan menambah menu protein untuk memperbaiki cuaca.

     Lalu datanglah korupsi.

     Sebetulnya kata "korupsi" di Indonesia sudah kehilangan daya kejutnya sejak lama. Ia muncul hampir sesering iklan pinjaman online. Tidak ada yang benar-benar terkejut lagi ketika mendengar ada uang negara yang bocor. Yang menarik justru bukan korupsinya, melainkan apa yang terlihat setelah tirai sedikit tersingkap.

     Tiba-tiba muncul nama-nama.
     Lalu muncul organisasi.
     Lalu muncul yayasan.
     Lalu muncul tokoh-tokoh yang sebelumnya tidak pernah terlihat.
     Lalu muncul pembelaan dari berbagai arah.
     Lalu muncul penjelasan mengapa program ini harus tetap berjalan.

     Lalu muncul penjelasan atas penjelasan.

     Untuk sesaat rasanya seperti menyaksikan seseorang menyalakan lampu di sebuah gedung yang selama ini tampak kosong dari luar. Ternyata di dalamnya banyak sekali penghuni.

     Yang lebih menarik lagi, ketika sejumlah dapur mulai ditutup, saya mengira yang akan paling gaduh adalah anak-anak yang kehilangan makan siang.

     Ternyata bukan.

     Anak-anak tidak punya konferensi pers. Anak-anak tidak punya akun media sosial dengan centang biru. Anak-anak tidak punya jaringan politik. Anak-anak hanya kehilangan makan siang.

     Kegaduhan justru datang dari orang-orang dewasa.

     Mendadak begitu banyak pihak yang berbicara tentang pentingnya keberlanjutan program. Tentang masa depan bangsa. Tentang generasi emas. Tentang kepentingan rakyat. Dan entah mengapa, semuanya terdengar seperti orang yang sedang berusaha meyakinkan diri bahwa aliran uang yang sangat besar tidak boleh berhenti mengalir.

     Di tengah keramaian itu, ada satu pernyataan seorang politisi yang menurut saya jauh lebih jujur daripada seluruh konferensi pers yang pernah digelar.

     MBG tidak bisa dihentikan.

     Saya sempat mengira itu bentuk pembelaan. Belakangan saya sadar, mungkin itu pengakuan.

     Sebab program pemerintah seharusnya selalu bisa dihentikan. Program dibuat manusia. Program dievaluasi manusia. Program diganti manusia. Tidak ada yang sakral.

     Kalau sebuah program sudah dianggap tidak bisa dihentikan, berarti kita sedang berbicara tentang sesuatu yang lain. Kita sedang berbicara tentang organisme yang telah tumbuh terlalu besar.

     Terlalu banyak orang hidup darinya. Terlalu banyak orang menggantungkan keuntungan padanya. Terlalu banyak kepentingan telah menempel di tubuhnya.

     Terlalu banyak yang akan kehilangan sesuatu jika ia berhenti.

     Dan semua itu terjadi pada saat ekonomi sedang megap-megap mencari udara. Warung-warung kecil tutup lebih dulu karena pembeli makin jarang datang. Pedagang kaki lima mulai menghilang dari sudut-sudut jalan yang dulu ramai. Lembaga pendidikan dipaksa berhemat. BPJS terus berbicara tentang defisit. Rupiah melemah dan harga-harga bergerak dengan caranya sendiri yang selalu berhasil membuat rakyat menghela napas panjang di depan etalase.

     Dalam keadaan seperti itu, mungkin kita akhirnya memahami mengapa banyak orang tampak lebih takut kehilangan proyek daripada kehilangan akal sehat.

     Karena kanker memiliki satu sifat yang menarik. Semakin besar ia tumbuh, semakin sulit tubuh membayangkan hidup tanpa dirinya. Ia menyerap nutrisi, mengambil ruang, membangun jaringan, lalu perlahan membuat seluruh tubuh percaya bahwa keberadaannya adalah sesuatu yang mutlak.

     Sampai akhirnya muncul satu pertanyaan sederhana. Apakah tubuh ini masih memelihara kanker, atau kanker yang sedang memelihara tubuh?

     Dan untuk pertama kalinya saya merasa sepenuhnya setuju dengan para penggemar MBG. Mereka benar! Apa pun masalahnya, MBG memang solusinya.

     Karena setelah melihat bagaimana ia tumbuh, menjalar, membangun jaringan, menciptakan ketergantungan, dan membuat begitu banyak orang ketakutan ketika namanya disentuh, saya yakin MBG memang dapat menyelesaikan satu masalah yang sangat besar.

     Masalah itu bernama MBG sendiri.

     STOP MBG sekarang juga!

     Barangkali memang sudah saatnya cara menghormati nenek moyang itu diperbarui. Bukan karena masa lalu tidak lagi penting, bukan pula karena tradisi harus disingkirkan, melainkan karena terlalu banyak orang terjebak pada keyakinan bahwa penghormatan hanya dapat diwujudkan dengan mengulang. Seolah-olah kesetiaan tertinggi kepada para pelaut besar adalah menapaki rute yang sama, menghidupkan kembali perahu yang sama, dan mengisahkan lagi cerita yang sama. Padahal, semakin lama dipikirkan, semakin terasa janggal. Sebab para pelaut yang kini dipuja itu dahulu justru tidak hidup dengan cara demikian. Mereka tidak menjadi besar karena mengulang. Mereka menjadi besar karena berani meninggalkan apa yang telah ada.

     Jika benar nenek moyang adalah pelaut, maka warisan terbesarnya tidak terletak pada kayu perahunya, tidak pula pada jalur pelayarannya. Warisan terbesar mereka adalah keberanian untuk berangkat ketika arah belum tersedia, ketika peta belum selesai dibuat, ketika jawaban belum ditemukan. Maka penghormatan yang paling jujur kepada mereka bukanlah dengan menghafal ke mana mereka pernah pergi, melainkan dengan tetap memiliki keberanian untuk pergi ke tempat yang bahkan belum pernah mereka bayangkan.

     Dari situlah sebuah gagasan sederhana muncul. Jika dunia pernah begitu gaduh oleh perdebatan tentang bumi datar dan bumi bulat, mengapa tidak menjawabnya dengan cara yang paling tua sekaligus paling ilmiah: berlayar mengelilingi dunia? Bukan untuk mencari sensasi, bukan pula untuk mengulang kisah kejayaan masa lalu, melainkan untuk mengalami secara langsung bagaimana ilmu pengetahuan bekerja. Mengamati, mengukur, menguji, meragukan, memperbaiki, lalu menguji kembali. Sebab ilmu pengetahuan tidak tumbuh dari kemenangan berdebat. Ia tumbuh dari keberanian menghadapkan keyakinan pada kenyataan.

     Pelayaran itu dapat dimulai dari Makassar, kota yang telah lama hidup berdampingan dengan laut. Sebuah phinisi berangkat mengelilingi dunia, menelusuri tepian benua, melintasi samudra, singgah dari satu negeri ke negeri lain. Namun kali ini, tujuan pelayaran bukan untuk mengulang jalur nenek moyang. Tujuannya adalah menjawab pertanyaan zaman sekarang dengan seluruh kemampuan yang dimiliki manusia hari ini. Phinisi tidak lagi menjadi simbol romantisme masa lalu, melainkan menjadi ruang kerja yang hidup; tempat penelitian dilakukan, tempat gagasan diperdebatkan, tempat mahasiswa dan ilmuwan dari berbagai negara bertemu untuk membangun pengetahuan bersama.

     Mengapa phinisi? Jawabannya justru sangat sederhana: karena ia mampu membawa banyak manusia, banyak ilmu, banyak pertanyaan, dan banyak kemungkinan. Tidak ada alasan untuk membekukannya menjadi benda museum yang hanya dipandang dengan rasa kagum. Ia dibangun untuk berlayar. Ia lahir dari kemampuan beradaptasi. Bahkan bentuknya sendiri merupakan hasil perkembangan panjang, hasil perjumpaan dengan berbagai pengalaman dan kebutuhan zamannya. Maka menggunakan phinisi dengan teknologi termutakhir, laboratorium kecil, sistem komunikasi satelit, perangkat navigasi modern, dan segala instrumen penelitian yang tersedia bukanlah pengkhianatan terhadap tradisi. Itu justru bentuk kesetiaan yang paling jujur kepada semangat yang melahirkannya.

     Kalau nenek moyang hidup hari ini, mungkinkah mereka menolak teknologi? Mungkinkah mereka bersikeras menggunakan cara lama hanya karena takut disebut tidak setia kepada tradisi? Rasanya sulit dipercaya. Para pelaut besar pada masanya adalah para pemanfaat teknologi terbaik yang tersedia. Mereka belajar dari banyak bangsa, memperbaiki apa yang mereka miliki, lalu berlayar lebih jauh. Mereka tidak jatuh cinta pada bentuk. Mereka jatuh cinta pada kemungkinan.

     Maka ekspedisi ini tidak hanya tentang laut. Ia adalah sekolah yang bergerak. Seorang mahasiswa mungkin tidak pernah naik ke atas phinisi, tetapi ia dapat menghabiskan berbulan-bulan menyusun metodologi penelitian, berkorespondensi dengan universitas luar negeri, menghubungkan para peneliti, menyiapkan konferensi, mengelola data, dan menyusun publikasi ilmiah. Mahasiswa lain mungkin mengurus logistik yang rumit, mengatur pergantian peserta dari berbagai negara, atau menjadi penghubung antara kampus dan institusi yang terlibat. Mereka mungkin tidak memegang kemudi, tetapi mereka ikut menggerakkan pelayaran itu.

     Dan bukankah itu juga berarti ikut mengukir laut?

     Ada sesuatu yang sangat berbeda antara membaca bagaimana ilmu pengetahuan bekerja dengan mengalami seluruh keruwetannya secara langsung. Di ruang kuliah, seseorang dapat memahami metodologi penelitian sebagai teori. Namun ketika harus menghubungi ilmuwan dari berbagai negara, menyusun rancangan penelitian lintas disiplin, menghadapi perbedaan pandangan, menyesuaikan metode dengan kondisi lapangan, lalu mempertanggungjawabkan hasilnya di hadapan komunitas ilmiah, ilmu pengetahuan tidak lagi menjadi pelajaran. Ia berubah menjadi pengalaman hidup.

     Barangkali inilah bentuk akademis yang sering terlupakan. Ia bukan sekadar label yang ditempelkan pada sebuah kegiatan agar terdengar lebih terhormat. Ia adalah keberanian untuk bertanya, bekerja, berkolaborasi, dan menerima kemungkinan bahwa hasil akhirnya mungkin berbeda dari apa yang dibayangkan sejak awal. Akademis bukan panggung yang meminta tepuk tangan. Akademis adalah perjalanan panjang yang sering kali penuh keraguan, tetapi justru karena itu ia terus berkembang.

     Di sinilah dua esai sebelumnya menemukan jawabannya. Jika dahulu manusia begitu bangga mengikuti jejak nenek moyangnya, mungkin sekarang sudah saatnya mereka mewarisi keberanian nenek moyangnya. Jika dahulu akademis sering kali berhenti pada nama dan simbol, mungkin sekarang sudah saatnya ilmu kembali turun ke laut, berhadapan dengan kenyataan, dan mengakui bahwa masih banyak hal yang belum diketahui.

     Warisan terbesar nenek moyang bukanlah perahunya. Melainkan keberanian untuk membangun perahu yang berbeda, berlayar ke laut yang berbeda, dan menjawab pertanyaan yang bahkan belum pernah mereka bayangkan.

     Karena pada akhirnya, kita tidak menghormati pelaut besar dengan menghafal arah yang mereka tempuh. Kita menghormati mereka dengan tetap berani berlayar ketika arah itu belum ada. Sebab warisan terbesar nenek moyang bukanlah perahunya, melainkan keberanian untuk meninggalkan pelabuhan.

     Ada satu hal yang sering membuat manusia merasa lebih mulia daripada yang sebenarnya: sebuah label. Ia dapat mengubah kegiatan biasa menjadi luar biasa, mengubah pengalaman menjadi prestasi, bahkan mengubah kebanggaan pribadi menjadi kehormatan kolektif. Manusia menyukai itu. Sebab tidak semua orang mampu menciptakan sesuatu yang besar, tetapi hampir semua orang ingin terhubung dengan sesuatu yang dianggap besar. Maka lahirlah berbagai cara untuk meminjam kebesaran, dan salah satu yang paling elegan adalah meminjam nama ilmu pengetahuan.

     Sejumlah mahasiswa berlayar mengikuti jejak pelayaran nenek moyangnya. Mereka menggunakan perahu yang dirancang berdasarkan temuan arkeologis, menempuh rute yang diyakini pernah dilalui para pelaut masa lalu, singgah di titik-titik yang telah ditentukan jauh sebelum layar dikembangkan. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Bahkan ada sesuatu yang romantis di sana. Laut selalu menyimpan daya tariknya sendiri, begitu pula sejarah. Anak-anak muda yang belajar hidup bersama di tengah ombak, merasakan kerasnya angin, dan menyentuh kembali kisah masa lalu dengan tubuh mereka sendiri adalah pemandangan yang menyenangkan untuk dibayangkan.

     Namun persoalan mulai muncul ketika seluruh kegiatan itu diberi nama: ekspedisi akademis.

     Kata itu terdengar gagah. Begitu gagahnya hingga hampir tidak ada yang berhenti untuk bertanya, bagian mana yang sebenarnya akademis. Sebab akademis bukanlah kata sifat yang membuat segala sesuatu tiba-tiba menjadi ilmiah. Akademis bukan semacam bumbu penyedap yang dapat ditaburkan di atas petualangan agar rasanya lebih intelektual. Ia memiliki syarat yang jauh lebih keras daripada sekadar niat baik dan semangat yang tinggi.

     Ilmu pengetahuan lahir dari ketidakpuasan terhadap jawaban. Ia hidup dari pertanyaan yang mengganggu kenyamanan. Ia berkembang karena ada kemungkinan salah. Bahkan seorang ilmuwan yang baik lebih takut pada keyakinannya sendiri daripada pada kritik orang lain, sebab ia tahu bahwa sesuatu yang hari ini dianggap benar dapat runtuh oleh satu bukti baru esok hari.

     Lalu apa yang sedang dipertanyakan dalam pelayaran itu?

     Rute sudah diketahui. Jenis perahu telah ditentukan. Tujuan perjalanan telah dipetakan.

     Narasi yang dibawa sejak awal pun tampaknya tidak berubah: nenek moyang adalah pelaut hebat, dan perjalanan ini adalah pembuktian atas kehebatan itu.

     Kalau begitu, apa yang sedang dicari?

     Atau mungkin pertanyaannya harus sedikit lebih jujur: adakah sesuatu yang sungguh-sungguh sedang dicari?

     Jika ekspedisi pertama dilakukan tiga puluh tahun lalu, kemudian diulang lima belas tahun setelahnya, lalu diulang kembali dengan pola yang hampir sama, sementara yang berubah hanya nama peserta dan angka di belakang judul kegiatan, apakah yang sebenarnya sedang diwariskan? Semangat akademis atau tradisi mengulang sesuatu yang pernah mendapat tepuk tangan?

     Pertanyaan ini terasa tidak sopan hanya karena terlalu jarang diajukan. Sebab yang terlihat justru suasana yang hangat dan membanggakan. Mahasiswa merasa menjadi bagian dari sejarah. Kampus merasa sedang menjalankan misi besar. Masyarakat ikut bangga melihat generasi muda menghormati warisan leluhurnya. Semua orang tampak puas. Semua orang bertepuk tangan.

     Dan tepuk tangan memang memiliki kemampuan yang luar biasa. Ia sering kali membuat manusia lupa bertanya.

     Tidak ada yang salah dengan napak tilas sejarah. Tidak ada yang salah dengan pelayaran budaya. Tidak ada yang salah dengan petualangan yang mengubah cara pandang seseorang terhadap hidup. Semua itu baik. Yang terasa mengganggu justru kebutuhan untuk menyebutnya akademis, seolah pengalaman tidak cukup bernilai jika tidak mengenakan jas ilmiah.

     Ini seperti membangun panggung jazz yang megah, lengkap dengan pencahayaan artistik, poster tokoh-tokoh besar, dan suasana yang intelektual. Ketika pertunjukan dimulai, ternyata yang dimainkan adalah dangdut koplo yang riuh dan menghibur. Penonton menari dengan gembira. Tidak ada yang salah dengan musiknya. Bahkan banyak yang pulang dengan perasaan bahagia. Tetapi tetap ada satu keganjilan yang tidak dapat dihapus: mengapa harus disebut jazz?

     Begitulah kira-kira perasaan yang muncul ketika sebuah kegiatan yang kaya pengalaman tetapi miskin pertanyaan tetap bersikeras menyebut dirinya akademis. Seolah kata itu dapat diwariskan seperti nama keluarga. Seolah semangat ilmiah dapat dipindahkan begitu saja hanya karena kegiatan tersebut dilakukan oleh mahasiswa dan mendapat pengakuan dari kampus.

     Padahal ilmu tidak pernah bekerja seperti itu.

     Ia tidak mengenal penghormatan kepada kenyamanan. Ia tidak tumbuh karena rasa bangga. Ia bahkan tidak terlalu peduli pada tradisi jika tradisi itu berhenti bertanya. Ilmu bergerak ke depan dengan cara yang kadang kejam: ia menggugat, mengoreksi, dan jika perlu menghancurkan keyakinan yang telah lama diterima.

     Ironisnya, kegiatan yang mengaku mengikuti nenek moyang pelaut justru tampak mengabaikan sifat paling penting dari para pelaut itu sendiri. Mereka tidak dikenang karena mengikuti jalur yang telah tersedia. Mereka dikenang karena berani memasuki wilayah yang belum diketahui. Mereka berlayar bukan untuk membuktikan bahwa dunia sesuai dengan keyakinannya, tetapi untuk mengetahui apakah keyakinannya memang sesuai dengan dunia.

     Barangkali itulah sebabnya ada gagasan yang terasa jauh lebih hidup: bukan mengulang pelayaran lama, tetapi menciptakan pelayaran baru. Bukan sekadar mengikuti rute yang diwariskan, melainkan berlayar membawa pertanyaan zaman sendiri, mengumpulkan data baru, berkolaborasi dengan dunia, menguji keyakinan, bahkan jika perlu pulang dengan kesimpulan yang menghancurkan asumsi awal. Bukankah itu jauh lebih dekat dengan semangat seorang pelaut? Bukankah itu lebih jujur untuk disebut akademis?

     Sayangnya, manusia memang memiliki hubungan yang rumit dengan ketidakpastian. Mereka mengagumi para penjelajah, tetapi tidak selalu ingin menjadi penjelajah. Mereka memuji keberanian, tetapi lebih nyaman mengulang keberanian orang lain. Mereka bangga menyebut nenek moyangnya seorang pelaut, tetapi lebih memilih berlayar di laut yang sudah dipetakan.

     Dan mungkin, tanpa disadari, itulah ironi terbesar dari semuanya: semangat eksplorasi perlahan berubah menjadi seremoni eksplorasi, sementara kata akademis berdiri di atasnya seperti papan nama yang megah, mengundang kekaguman banyak orang, meskipun isi bangunannya sudah lama berhenti menjadi rumah bagi pertanyaan.

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.