Articles by "Intelektual"

Tampilkan postingan dengan label Intelektual. Tampilkan semua postingan

     Barangkali memang sudah saatnya cara menghormati nenek moyang itu diperbarui. Bukan karena masa lalu tidak lagi penting, bukan pula karena tradisi harus disingkirkan, melainkan karena terlalu banyak orang terjebak pada keyakinan bahwa penghormatan hanya dapat diwujudkan dengan mengulang. 

     Seolah-olah kesetiaan tertinggi kepada para pelaut besar adalah menapaki rute yang sama, menghidupkan kembali perahu yang sama, dan mengisahkan lagi cerita yang sama. 

     Padahal, semakin lama dipikirkan, semakin terasa janggal. Sebab para pelaut yang kini dipuja itu dahulu justru tidak hidup dengan cara demikian. Mereka tidak menjadi besar karena mengulang. Mereka menjadi besar karena berani meninggalkan apa yang telah ada.

     Jika benar nenek moyang adalah pelaut, maka warisan terbesarnya tidak terletak pada kayu perahunya, tidak pula pada jalur pelayarannya. Warisan terbesar mereka adalah keberanian untuk berangkat ketika arah belum tersedia, ketika peta belum selesai dibuat, ketika jawaban belum ditemukan. 

     Maka penghormatan yang paling jujur kepada mereka bukanlah dengan menghafal ke mana mereka pernah pergi, melainkan dengan tetap memiliki keberanian untuk pergi ke tempat yang bahkan belum pernah mereka bayangkan.

     Dari situlah sebuah gagasan sederhana muncul. 

     Jika dunia pernah begitu gaduh oleh perdebatan tentang bumi datar dan bumi bulat, mengapa tidak menjawabnya dengan cara yang paling tua sekaligus paling ilmiah: berlayar mengelilingi dunia? 

     Bukan untuk mencari sensasi, bukan pula untuk mengulang kisah kejayaan masa lalu, melainkan untuk mengalami secara langsung bagaimana ilmu pengetahuan bekerja. Mengamati, mengukur, menguji, meragukan, memperbaiki, lalu menguji kembali. 

     Sebab ilmu pengetahuan tidak tumbuh dari kemenangan berdebat. Ia tumbuh dari keberanian menghadapkan keyakinan pada kenyataan.

     Pelayaran itu dapat dimulai dari Makassar, kota yang telah lama hidup berdampingan dengan laut. 

     Sebuah phinisi berangkat mengelilingi dunia, menelusuri tepian benua, melintasi samudra, singgah dari satu negeri ke negeri lain. Namun kali ini, tujuan pelayaran bukan untuk mengulang jalur nenek moyang. Tujuannya adalah menjawab pertanyaan zaman sekarang dengan seluruh kemampuan yang dimiliki manusia hari ini. 

     Phinisi tidak lagi menjadi simbol romantisme masa lalu, melainkan menjadi ruang kerja yang hidup; tempat penelitian dilakukan, tempat gagasan diperdebatkan, tempat mahasiswa dan ilmuwan dari berbagai negara bertemu untuk membangun pengetahuan bersama.

     Mengapa phinisi? Jawabannya justru sangat sederhana: karena ia mampu membawa banyak manusia, banyak ilmu, banyak pertanyaan, dan banyak kemungkinan. Tidak ada alasan untuk membekukannya menjadi benda museum yang hanya dipandang dengan rasa kagum. 

     Ia dibangun untuk berlayar. Ia lahir dari kemampuan beradaptasi. Bahkan bentuknya sendiri merupakan hasil perkembangan panjang, hasil perjumpaan dengan berbagai pengalaman dan kebutuhan zamannya. 

     Maka menggunakan phinisi dengan teknologi termutakhir, laboratorium kecil, sistem komunikasi satelit, perangkat navigasi modern, dan segala instrumen penelitian yang tersedia bukanlah pengkhianatan terhadap tradisi. Itu justru bentuk kesetiaan yang paling jujur kepada semangat yang melahirkannya.

     Kalau nenek moyang hidup hari ini, mungkinkah mereka menolak teknologi? Mungkinkah mereka bersikeras menggunakan cara lama hanya karena takut disebut tidak setia kepada tradisi? Rasanya sulit dipercaya. 

     Para pelaut besar pada masanya adalah para pemanfaat teknologi terbaik yang tersedia. Mereka belajar dari banyak bangsa, memperbaiki apa yang mereka miliki, lalu berlayar lebih jauh. Mereka tidak jatuh cinta pada bentuk. Mereka jatuh cinta pada kemungkinan.

     Maka ekspedisi ini tidak hanya tentang laut. Ia adalah sekolah yang bergerak. 

     Seorang mahasiswa mungkin tidak pernah naik ke atas phinisi, tetapi ia dapat menghabiskan berbulan-bulan menyusun metodologi penelitian, berkorespondensi dengan universitas luar negeri, menghubungkan para peneliti, menyiapkan konferensi, mengelola data, dan menyusun publikasi ilmiah. Mahasiswa lain mungkin mengurus logistik yang rumit, mengatur pergantian peserta dari berbagai negara, atau menjadi penghubung antara kampus dan institusi yang terlibat. Mereka mungkin tidak memegang kemudi, tetapi mereka ikut menggerakkan pelayaran itu.

     Dan bukankah itu juga berarti ikut mengukir laut?

     Ada sesuatu yang sangat berbeda antara membaca bagaimana ilmu pengetahuan bekerja dengan mengalami seluruh keruwetannya secara langsung. Di ruang kuliah, seseorang dapat memahami metodologi penelitian sebagai teori. Namun ketika harus menghubungi ilmuwan dari berbagai negara, menyusun rancangan penelitian lintas disiplin, menghadapi perbedaan pandangan, menyesuaikan metode dengan kondisi lapangan, lalu mempertanggungjawabkan hasilnya di hadapan komunitas ilmiah, ilmu pengetahuan tidak lagi menjadi pelajaran. Ia berubah menjadi pengalaman hidup.

     Barangkali inilah bentuk akademis yang sering terlupakan. Ia bukan sekadar label yang ditempelkan pada sebuah kegiatan agar terdengar lebih terhormat. Ia adalah keberanian untuk bertanya, bekerja, berkolaborasi, dan menerima kemungkinan bahwa hasil akhirnya mungkin berbeda dari apa yang dibayangkan sejak awal. 

     Akademis bukan panggung yang meminta tepuk tangan. Akademis adalah perjalanan panjang yang sering kali penuh keraguan, tetapi justru karena itu ia terus berkembang.

     Di sinilah dua esai sebelumnya menemukan jawabannya. Jika dahulu manusia begitu bangga mengikuti jejak nenek moyangnya, mungkin sekarang sudah saatnya mereka mewarisi keberanian nenek moyangnya. Jika dahulu akademis sering kali berhenti pada nama dan simbol, mungkin sekarang sudah saatnya ilmu kembali turun ke laut, berhadapan dengan kenyataan, dan mengakui bahwa masih banyak hal yang belum diketahui.

     Warisan terbesar nenek moyang bukanlah perahunya. Melainkan keberanian untuk membangun perahu yang berbeda, berlayar ke laut yang berbeda, dan menjawab pertanyaan yang bahkan belum pernah mereka bayangkan.

     Karena pada akhirnya, kita tidak menghormati pelaut besar dengan menghafal arah yang mereka tempuh. Kita menghormati mereka dengan tetap berani berlayar ketika arah itu belum ada. Sebab warisan terbesar nenek moyang bukanlah perahunya, melainkan keberanian untuk meninggalkan pelabuhan.


     Ada satu hal yang sering membuat manusia merasa lebih mulia daripada yang sebenarnya: sebuah label. Ia dapat mengubah kegiatan biasa menjadi luar biasa, mengubah pengalaman menjadi prestasi, bahkan mengubah kebanggaan pribadi menjadi kehormatan kolektif. Manusia menyukai itu. Sebab tidak semua orang mampu menciptakan sesuatu yang besar, tetapi hampir semua orang ingin terhubung dengan sesuatu yang dianggap besar. Maka lahirlah berbagai cara untuk meminjam kebesaran, dan salah satu yang paling elegan adalah meminjam nama ilmu pengetahuan.

     Sejumlah mahasiswa berlayar mengikuti jejak pelayaran nenek moyangnya. Mereka menggunakan perahu yang dirancang berdasarkan temuan arkeologis, menempuh rute yang diyakini pernah dilalui para pelaut masa lalu, singgah di titik-titik yang telah ditentukan jauh sebelum layar dikembangkan. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Bahkan ada sesuatu yang romantis di sana. Laut selalu menyimpan daya tariknya sendiri, begitu pula sejarah. Anak-anak muda yang belajar hidup bersama di tengah ombak, merasakan kerasnya angin, dan menyentuh kembali kisah masa lalu dengan tubuh mereka sendiri adalah pemandangan yang menyenangkan untuk dibayangkan.

     Namun persoalan mulai muncul ketika seluruh kegiatan itu diberi nama: ekspedisi akademis.

     Kata itu terdengar gagah. Begitu gagahnya hingga hampir tidak ada yang berhenti untuk bertanya, bagian mana yang sebenarnya akademis. Sebab akademis bukanlah kata sifat yang membuat segala sesuatu tiba-tiba menjadi ilmiah. Akademis bukan semacam bumbu penyedap yang dapat ditaburkan di atas petualangan agar rasanya lebih intelektual. Ia memiliki syarat yang jauh lebih keras daripada sekadar niat baik dan semangat yang tinggi.

     Ilmu pengetahuan lahir dari ketidakpuasan terhadap jawaban. Ia hidup dari pertanyaan yang mengganggu kenyamanan. Ia berkembang karena ada kemungkinan salah. Bahkan seorang ilmuwan yang baik lebih takut pada keyakinannya sendiri daripada pada kritik orang lain, sebab ia tahu bahwa sesuatu yang hari ini dianggap benar dapat runtuh oleh satu bukti baru esok hari.

     Lalu apa yang sedang dipertanyakan dalam pelayaran itu?

     Rute sudah diketahui. Jenis perahu telah ditentukan. Tujuan perjalanan telah dipetakan.

     Narasi yang dibawa sejak awal pun tampaknya tidak berubah: nenek moyang adalah pelaut hebat, dan perjalanan ini adalah pembuktian atas kehebatan itu.

     Kalau begitu, apa yang sedang dicari?

     Atau mungkin pertanyaannya harus sedikit lebih jujur: adakah sesuatu yang sungguh-sungguh sedang dicari?

     Jika ekspedisi pertama dilakukan tiga puluh tahun lalu, kemudian diulang lima belas tahun setelahnya, lalu diulang kembali dengan pola yang hampir sama, sementara yang berubah hanya nama peserta dan angka di belakang judul kegiatan, apakah yang sebenarnya sedang diwariskan? Semangat akademis atau tradisi mengulang sesuatu yang pernah mendapat tepuk tangan?

     Pertanyaan ini terasa tidak sopan hanya karena terlalu jarang diajukan. Sebab yang terlihat justru suasana yang hangat dan membanggakan. Mahasiswa merasa menjadi bagian dari sejarah. Kampus merasa sedang menjalankan misi besar. Masyarakat ikut bangga melihat generasi muda menghormati warisan leluhurnya. Semua orang tampak puas. Semua orang bertepuk tangan.

     Dan tepuk tangan memang memiliki kemampuan yang luar biasa. Ia sering kali membuat manusia lupa bertanya.

     Tidak ada yang salah dengan napak tilas sejarah. Tidak ada yang salah dengan pelayaran budaya. Tidak ada yang salah dengan petualangan yang mengubah cara pandang seseorang terhadap hidup. Semua itu baik. Yang terasa mengganggu justru kebutuhan untuk menyebutnya akademis, seolah pengalaman tidak cukup bernilai jika tidak mengenakan jas ilmiah.

     Ini seperti membangun panggung jazz yang megah, lengkap dengan pencahayaan artistik, poster tokoh-tokoh besar, dan suasana yang intelektual. Ketika pertunjukan dimulai, ternyata yang dimainkan adalah dangdut koplo yang riuh dan menghibur. Penonton menari dengan gembira. Tidak ada yang salah dengan musiknya. Bahkan banyak yang pulang dengan perasaan bahagia. Tetapi tetap ada satu keganjilan yang tidak dapat dihapus: mengapa harus disebut jazz?

     Begitulah kira-kira perasaan yang muncul ketika sebuah kegiatan yang kaya pengalaman tetapi miskin pertanyaan tetap bersikeras menyebut dirinya akademis. Seolah kata itu dapat diwariskan seperti nama keluarga. Seolah semangat ilmiah dapat dipindahkan begitu saja hanya karena kegiatan tersebut dilakukan oleh mahasiswa dan mendapat pengakuan dari kampus.

     Padahal ilmu tidak pernah bekerja seperti itu.

     Ia tidak mengenal penghormatan kepada kenyamanan. Ia tidak tumbuh karena rasa bangga. Ia bahkan tidak terlalu peduli pada tradisi jika tradisi itu berhenti bertanya. Ilmu bergerak ke depan dengan cara yang kadang kejam: ia menggugat, mengoreksi, dan jika perlu menghancurkan keyakinan yang telah lama diterima.

     Ironisnya, kegiatan yang mengaku mengikuti nenek moyang pelaut justru tampak mengabaikan sifat paling penting dari para pelaut itu sendiri. Mereka tidak dikenang karena mengikuti jalur yang telah tersedia. Mereka dikenang karena berani memasuki wilayah yang belum diketahui. Mereka berlayar bukan untuk membuktikan bahwa dunia sesuai dengan keyakinannya, tetapi untuk mengetahui apakah keyakinannya memang sesuai dengan dunia.

     Barangkali itulah sebabnya ada gagasan yang terasa jauh lebih hidup: bukan mengulang pelayaran lama, tetapi menciptakan pelayaran baru. Bukan sekadar mengikuti rute yang diwariskan, melainkan berlayar membawa pertanyaan zaman sendiri, mengumpulkan data baru, berkolaborasi dengan dunia, menguji keyakinan, bahkan jika perlu pulang dengan kesimpulan yang menghancurkan asumsi awal. Bukankah itu jauh lebih dekat dengan semangat seorang pelaut? Bukankah itu lebih jujur untuk disebut akademis?

     Sayangnya, manusia memang memiliki hubungan yang rumit dengan ketidakpastian. Mereka mengagumi para penjelajah, tetapi tidak selalu ingin menjadi penjelajah. Mereka memuji keberanian, tetapi lebih nyaman mengulang keberanian orang lain. Mereka bangga menyebut nenek moyangnya seorang pelaut, tetapi lebih memilih berlayar di laut yang sudah dipetakan.

     Dan mungkin, tanpa disadari, itulah ironi terbesar dari semuanya: semangat eksplorasi perlahan berubah menjadi seremoni eksplorasi, sementara kata akademis berdiri di atasnya seperti papan nama yang megah, mengundang kekaguman banyak orang, meskipun isi bangunannya sudah lama berhenti menjadi rumah bagi pertanyaan.


     Ada saat-saat ketika pikiran terasa menua lebih cepat dari tubuh. Ia mulai berhenti berkelana dan memilih duduk, bersandar pada buku-buku lama yang dulu sempat membuatnya bergetar. Di titik itu, intelektualitas berubah dari petualangan menjadi museum. Dan di dalam museum itu, banyak intelektual yang masih hidup, tapi pikirannya sudah jadi artefak. Mereka tidak lagi mencari, hanya menjaga agar debu di rak gagasan tidak terlalu tebal.

     Mungkin memang ada “jiwa tua” di setiap kepala yang dulu pernah berani berpikir. Suara lirih yang membisikkan: “berhentilah bertanya, nikmatilah kepastian.” Ia menenangkan, bahkan memeluk kita seperti doa ibu di masa kecil. Tapi seperti semua kenyamanan, ia berbahaya. Sebab begitu seseorang berhenti mempertanyakan keyakinannya, ia berhenti menjadi intelektual dan berubah menjadi penjaga altar pikirannya sendiri. Ia masih bicara tentang kebenaran, tapi yang dimaksud bukan lagi pencarian—melainkan warisan yang dijaga dengan takut-takut.

     “Jiwa tua” bukan soal umur, tapi soal keberanian yang memudar. Ia bersembunyi di ruang seminar yang sama, menggunakan slide PowerPoint yang sama, dan masih memulai kalimat dengan “menurut Habermas” tanpa pernah menanyakan, apakah Habermas masih relevan untuk era algoritma dan kecerdasan buatan. Ia senang pada kepastian, alergi pada ambiguitas. Ia lebih percaya pada dogma yang dipoles rapi ketimbang kebenaran yang belum selesai. Ia hidup dari nostalgia, dari masa ketika kutipan bisa menggantikan keberanian berpikir. Dalam dirinya, intelektualitas menjadi kebaktian rutin: penuh tata cara, tapi tanpa getaran makna.

     Ironisnya, banyak pikiran muda yang diam-diam bermimpi menjadi tua secepat mungkin. Mereka meniru gestur dan nada intelektual senior — bukan semangatnya. Mereka membangun persona akademik yang serius, menulis dengan kalimat panjang, berlapis jargon yang membingungkan, seolah kompleksitas bahasa adalah bukti kedalaman isi. Mereka lupa bahwa kedalaman sejati justru adalah kemampuan menyederhanakan tanpa kehilangan makna. Begitulah lahir generasi “tua sebelum waktunya”: pintar mengutip, tapi miskin keberanian berpikir dari nol. Mereka seperti tanaman dalam pot: tumbuh, tapi tidak pernah berakar di tanah realitas.

     Sebaliknya, “pikiran muda” adalah kesadaran yang jujur pada ketidaktahuannya. Ia berani menanggung risiko menjadi salah. Ia tahu bahwa pengetahuan bukan menara, melainkan sungai yang terus mengalir. Pikiran muda tidak sibuk menjaga keaslian gagasan, sebab ia sadar bahwa gagasan yang hidup memang harus berubah bentuk. Ia menghormati tradisi, tapi tidak menyembahnya. Ia mendengarkan sejarah, tapi tidak ingin tinggal di sana. Ia memiliki sesuatu yang hilang dari banyak ruang akademik hari ini: rasa ingin tahu yang tidak malu.

     Kita hidup di masa yang lucu: orang-orang berbicara tentang spiritualitas sambil berdagang wacana, sementara para ilmuwan sibuk mencari Tuhan lewat rumus. Banyak yang berdoa di laboratorium dan meneliti di tempat ibadah. Mereka semua tampak sibuk mencari pembenaran, bukan kebenaran. Di sinilah tragedi kesadaran intelektual modern berakar — ketika rasionalitas kehilangan keberanian untuk jujur, dan mistik kehilangan kerendahan hatinya untuk menjadi manusiawi. Akal dan jiwa sama-sama kehilangan keseimbangan, karena keduanya lebih sibuk mengafirmasi diri ketimbang memahami dunia.

     Menjadi intelektual hari ini berarti menerima bahwa berpikir adalah kerja yang melelahkan sekaligus menegangkan. Tidak ada istirahat dalam pencarian. Pikiran yang sehat harus siap disangkal, diuji, dan dipatahkan — sebab justru di sanalah ia tumbuh. Mungkin inilah alasan banyak orang memilih kenyamanan “jiwa tua” ketimbang kedewasaan berpikir yang jernih. Karena berpikir dengan waras berarti berdiri di antara dua tebing: emosi yang ingin berkuasa, dan keyakinan yang ingin memerintah.

     Maka, intelektual sejati bukanlah mereka yang menyimpan jawaban, melainkan yang sanggup terus bertanya bahkan setelah dunia berhenti mendengarkan. Ia menjaga pikirannya tetap muda tanpa kehilangan kematangan jiwanya. Ia tahu bahwa kebenaran selalu sementara, dan karena itu, ia mencintainya tanpa rasa memiliki. Sebab pikiran tidak perlu menua — cukup matang. Dan di tengah dunia yang gemar berpura-pura paham, mungkin satu-satunya sikap intelektual yang tersisa adalah tetap ingin tahu, dengan kepala yang dingin dan hati yang berani.

     “Siapakah sebenarnya yang pantas kita sebut sebagai intelektual di era kebisingan informasi ini?” Pertanyaan itu menghantui ruang publik kita yang hari-hari ini lebih mirip pasar malam ketimbang arena perdebatan gagasan. Semua orang ingin tampil cerdas, sebagian benar-benar berusaha dengan kesungguhan, sebagian lain hanya berdandan dengan kostum kepintaran. Komentar, opini, dan jargon bertebaran di mana-mana, tetapi sedikit yang mampu bertahan sebagai pijakan nalar. Di tengah hiruk pikuk ini, kita perlu menengok ulang apa arti menjadi intelektual hari ini.

     Intelektualitas, sesungguhnya, hanyalah kapasitas—kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan kreatif. Tapi kapasitas tidak serta merta melahirkan intelektual. Ia baru menjadi sesuatu yang berarti ketika berani menjelma peran sosial. Intelektual sejati bukan hanya orang yang berpikir, tetapi yang memperjuangkan agar pikirannya berguna bagi orang lain. Seperti lilin, nilainya bukan pada bentuknya yang indah, melainkan pada kesediaannya habis demi menerangi sekitar.

     Edward Shils pernah menulis bahwa seorang intelektual memiliki obsesi pada nilai-nilai transenden—dorongan untuk mencari makna yang melampaui kepentingan pribadi dan pragmatisme jangka pendek. Ia bisa saja ekonom, petani, jurnalis, atau musisi. Yang membedakan hanyalah orientasi: apakah pikirannya masih berpijak pada nurani publik, atau telah menjadi budak gengsi dan pasar. Dalam dunia yang memuja efisiensi, keberanian untuk tetap mencari makna menjadi tindakan subversif tersendiri. Kadang justru di sanalah kemanusiaan menemukan napasnya: di antara mereka yang tetap berpikir ketika semua sibuk menghitung, dan tetap bertanya ketika dunia memilih diam.

     Sayangnya, di negeri yang demam gelar dan sertifikasi, intelektualitas sering disamakan dengan prestasi administratif. Profesor yang mengoleksi ratusan publikasi jurnal sering dielu-elukan seolah setiap tulisan ilmiah otomatis menambah kecerdasan bangsa. Padahal banyak di antara mereka yang tak pernah turun dari menara gadingnya, membiarkan publik terjebak dalam gelapnya kebodohan struktural. Ilmu, tanpa keberanian untuk dibagikan, hanyalah artefak yang tersimpan di rak perpustakaan, indah tapi tak hidup.

     Sebaliknya, ada petani yang mampu mengartikulasikan penderitaan kaumnya dan mengaitkannya dengan kebijakan agraria. Ia tak punya gelar, tetapi punya kesadaran. Ada buruh yang dengan sederhana menjelaskan bagaimana sistem ekonomi global menciptakan rantai ketergantungan upah murah. Di hadapan mereka, banyak sarjana justru tampak seperti pengunjung seminar yang tersesat dalam power point-nya sendiri. Dan mungkin, di antara suara mereka yang sederhana itulah, kita mendengar sesuatu yang telah lama hilang: kejujuran pikiran, yang tak membutuhkan gelar untuk berani mengatakan yang benar.

     Panggung kita memang penuh dengan bayangan semu yang menampilkan diri sebagai intelektual. Mereka bermunculan dalam rupa-rupa yang ironis sekaligus menggelikan. Ada sang pertapa akademis, yang terkurung dalam menara gading, menulis artikel untuk dibaca oleh segelintir kolega internasional. Ia menatap dunia lewat grafik dan tabel, tapi tak pernah menatap manusia di balik angka-angka itu. Di luar kampus, masyarakat berteriak butuh arah, sementara sang profesor sibuk mengejar indeks sitasi.

     Lalu muncul komentator luwes, si serba-tahu yang hadir di setiap talk show dengan wajah percaya diri dan volume suara tinggi. Ia berbicara tentang apa pun—politik, moral, sampai cuaca—dengan keyakinan seorang nabi dan riset seorang amatir. Kata-katanya deras, tapi esensinya hampa, seperti kicauan burung murai yang indah namun tak pernah selesai menjadi kalimat.

     Dan tentu saja, selalu ada para penyulap jargon. Mereka senang membuat orang bingung agar tampak penting. Setiap kalimatnya terdengar seperti mantra akademik: “melampaui wacana hegemonik dalam ruang intertekstual yang liminal”. Pendengar terdiam, kagum, lalu lupa apa yang sedang dibicarakan. Inilah gaya intelektual yang menjadikan kebingungan sebagai estetika dan kekosongan sebagai gaya hidup.

     Tiga wajah ini menghuni ruang publik kita, dan sering kali mendapat panggung lebih besar daripada mereka yang benar-benar menyalakan obor pengetahuan. Mungkin karena kebodohan yang dikemas dengan percaya diri memang lebih menghibur ketimbang kebenaran yang disampaikan dengan kerendahan hati. Dan ironisnya, justru di tangan mereka, kata “intelektual” kehilangan maknanya—menyusut menjadi aksesoris sosial, tanda pengenal di balik jas, bukan cahaya dalam gelap.

     Namun, intelektual sejati tetap ada, meski suaranya kerap tenggelam dalam kebisingan. Mereka yang dengan sabar menjadi penerjemah pengetahuan, seperti Yuval Noah Harari yang mengubah narasi sejarah menjadi refleksi kolektif umat manusia. Mereka yang disebut Gramsci sebagai intelektual organik, pemimpin serikat buruh yang jeli membaca jerat regulasi ketenagakerjaan atau aktivis lingkungan dari komunitas adat yang menghubungkan perjuangan lokal dengan krisis iklim global. Mereka juga hadir dalam wujud seniman, Pramoedya Ananta Toer yang dengan tetralogi Burunya menyingkap sejarah alternatif bangsa, atau Goenawan Mohamad yang lewat esai-esainya melatih kita untuk curiga pada kebekuan sambil tetap kagum pada keajaiban kecil hidup.

     Benang merahnya jelas: mereka hadir bukan untuk mengejar gelar atau popularitas, tetapi untuk menanggung risiko gagasan. Intelektual sejati adalah warga negara gagasan—mereka yang percaya bahwa pemikiran bisa menjadi bentuk keberanian, bahwa kalimat bisa menjadi tindakan. Mereka menjaga agar ruang publik tetap berdenyut dengan akal sehat, menjadi kompas moral sekaligus penanda arah ketika kabut kebodohan menebal.

     Di tengah banjir informasi, mereka adalah jangkar kewarasan yang menolak hanyut dalam arus opini. Mereka tahu, tugasnya bukan memenangkan perdebatan, melainkan menjaga agar percakapan tetap mungkin. Dan mungkin, itulah bentuk tertinggi dari intelektualitas hari ini: keberanian untuk berpikir jernih ketika semua sibuk berteriak, dan kesetiaan untuk berharap ketika logika publik mulai tenggelam. Karena pada akhirnya, bangsa ini tidak kekurangan orang pandai—hanya kekurangan mereka yang mau menggunakan otaknya dengan jujur.

     Di tengah gemuruh reformasi pendidikan tinggi Indonesia yang sibuk membicarakan angka kredit, akreditasi internasional, dan publikasi Scopus, ada satu pertanyaan mendasar yang justru terpinggirkan: untuk apa sebenarnya intelektual Indonesia berdiri? Apakah mereka hadir sebagai penjaga menara gading yang asyik dengan diskusi-diskusi esoteris, atau sebagai penerang yang turun ke gelanggang membawa obor pencerahan?

     Ali Shariati (1979), pemikir revolusioner Iran, menawarkan konsep yang relevan untuk menjawab kegelisahan ini: raushan fikr atau "intelektual tercerahkan". Bagi Shariati, intelektual sejati bukanlah sekadar pemikir yang cerdas, melainkan mereka yang memadukan kecerdasan akal dengan kesadaran spiritual dan keberpihakan pada kaum tertindas. Yang menarik, Shariati menghubungkan figur ini dengan konsep Qur'ani ulil albab - mereka yang mampu memadukan dzikir dan pikir, yang mengingat Tuhan sambil terus merenungi ciptaan-Nya.

     Sayangnya, wajah pendidikan tinggi Indonesia justru menunjukkan wajah yang bertolak belakang. Kita menyaksikan para akademisi yang terjebak dalam apa yang Bourdieu (1984) sebut sebagai "illusio akademik" - percaya bahwa permainan simbolik dalam dunia kampus adalah segalanya. Mereka sibuk mengejar angka KUM, berebut jabatan struktural, dan berlomba publikasi di jurnal bereputasi, sementara masalah-masalah konkret di luar kampus seperti ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, dan krisis moral dibiarkan tak tersentuh.

     Padahal, jika menengok sejarah intelektual Indonesia, kita memiliki tradisi gemilang para cendekiawan yang menjadi raushan fikr. Seperti dicatat oleh Asvi Warman Adam (2009), para founding fathers kita seperti Soekarno, Hatta, dan Sjahrir adalah intelektual organik yang mampu menjembatani teori Barat dengan realitas Indonesia. Mereka tidak hanya menulis buku-buku tebal, tetapi juga turun ke jalan, mengorganisir rakyat, dan merumuskan visi kebangsaan.

     Yang kita saksikan sekarang justru fenomena yang diistilahkan oleh Nurcholish Madjid (1992) sebagai "intelektual yang teralienasi". Mereka pandai berbicara tentang teori-teori Barat, tetapi gagap membaca denyut nadi masyarakatnya sendiri. Mereka fasih membahas postmodernisme di ruang kuliah, tetapi bungkam melihat praktik korupsi di institusi mereka sendiri. Mereka menjadi yang Gramsci (1971) sebut sebagai "intelektual tradisional" yang melayani kekuasaan, bukan "intelektual organik" yang lahir dari rakyat.

     Paradoks terbesar terjadi di institusi-institusi pendidikan agama. Di satu sisi, mereka memiliki modal spiritual dan tradisi intelektual yang kaya untuk melahirkan ulil albab. Di sisi lain, banyak dari mereka justru terjebak dalam formalisme keagamaan yang kaku. Sebagaimana dikritik oleh Azyumardi Azra (2006), pendidikan agama sering kali berhenti pada pemeliharaan tradisi, bukan pada pencerahan dan pembebasan.

     Lalu bagaimana membangun kembali tradisi raushan fikr ini? Pertama, kita perlu reorientasi tujuan pendidikan tinggi. Sebagaimana diingatkan oleh Darmaningtyas (2014), pendidikan harus kembali ke khittahnya sebagai alat pembebasan, bukan sekadar pencetak tenaga kerja. Kedua, sistem reward akademik perlu rekonfigurasi. Bukan hanya menghargai publikasi internasional, tetapi juga kontribusi nyata pada masyarakat.

     Ketiga, dan yang paling penting, adalah membangun kesadaran kritis di kalangan akademisi muda. Mereka perlu didorong untuk menjadi yang dikatakan Edward Said (1994) sebagai "intelektual yang memihak" - yang berani menyuarakan kebenaran meski tidak populer, yang mampu berdiri di luar kekuasaan untuk mengkritiknya.

     Menjadi ulil albab di zaman modern adalah tentang keberanian untuk keluar dari menara gading. Tentang kesediaan untuk mengotori tangan dengan realitas, sambil tetap menjaga integritas intelektual. Tentang kemampuan untuk memadukan kecerdasan akal dengan kebijaksanaan spiritual, sebagaimana diajarkan oleh tradisi ulil albab.

     Seperti diingatkan oleh Shariati, tugas intelektual adalah menjadi "penerjemah zaman" - mereka yang mampu membaca tanda-tanda zaman dan mentransformasikannya menjadi proyek pencerahan. Inilah tantangan terbesar pendidikan tinggi Indonesia: melahirkan bukan sekadar akademisi pandai, tetapi raushan fikr yang mampu menerangi kegelapan zamannya.


Daftar Pustaka:

1. Adam, A. W. (2009). Menguak Misteri Sejarah. Ombak.
2. Azra, A. (2006). Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan Milenium III. Kencana.
3. Bourdieu, P. (1984). Homo Academicus. Stanford University Press.
4. Darmaningtyas. (2014). Pendidikan yang Memiskinkan. Inti Media.
5. Gramsci, A. (1971). Selections from the Prison Notebooks. International Publishers.
6. Madjid, N. (1992). Islam: Doktrin dan Peradaban. Paramadina.
7. Said, E. (1994). Representations of the Intellectual. Vintage.
8. Shariati, A. (1979). On the Sociology of Islam. Mizan Press.

     Ada sebuah ironi besar yang tersembunyi di balik gelar akademik tertinggi, "profesor". Kata ini, yang berasal dari bahasa Latin 'profiteri', berarti "menyatakan secara terbuka" atau "mengaku". Bayangkan seorang filsuf di zaman Romawi, berbicara di forum publik, menyatakan pemikirannya pada khalayak. Itulah gambaran idealnya: seorang yang bijak berbagi kebijaksanaan. Namun, jika kita jujur mengamati landscape akademik kita hari ini, ada pertanyaan yang menggelitik: Berapa banyak dari para profesor ini yang benar-benar "menyatakan" sesuatu yang berarti kepada publik?

     Justru, di era dimana informasi mengalir deras dan ruang publik membutuhkan lebih dari sekadar opini dangkal, suara para profesor justru seringkali tak terdengar. Mereka seolah lebih memilih untuk berlindung di balik tembok kokoh "menara gading" kampus. Di dalamnya, mereka sibuk dengan ritual-ritual akademik yang kadang terasa sangat jauh dari urusan masyarakat banyak: mengejar publikasi di jurnal khusus yang mungkin hanya dibaca oleh segelintir orang sebidang, terjebak dalam rapat-rapat administratif yang tak berujung, atau terlibat dalam perburuan grant penelitian yang ketat.

     Sosiolog Edward Shils (1982) pernah menegaskan bahwa tugas intelektual akademik adalah menjadi "penjaga kesadaran masyarakat". Namun, realitanya seringkali tak seindah teori. Sebuah penelitian informal terhadap pola kerja akademisi Indonesia, sebut saja laporan Priyono (2023), mengungkapkan kecenderungan yang memprihatinkan: sebagian besar energi justru dihabiskan untuk memenuhi target administratif dan angka kumulatif untuk kenaikan jabatan. Hasilnya? Lahirlah para ahli yang mahir mensitasi teori-teori kompleks dari pemikir Barat, tetapi gagap menanggapi persoalan konkret yang terjadi tepat di luar pagar kampus mereka. Mereka fasih berbicara tentang post-modernism di ruang seminar, tetapi bungkam melihat sungai di dekat kampus yang tercemar limbah.

     Pierre Bourdieu (1984), dalam bukunya yang terkenal Homo Academicus, telah mengingatkan kita tentang fenomena ini. Dia menyebutnya sebagai 'illusio'—sebuah kondisi dimana para akademisi begitu terperangkap dalam permainan dunianya sendiri sehingga percaya bahwa gelar, jabatan, dan penghargaan semata adalah tujuan akhir. Mereka memperebutkan apa yang Bourdieu sebut 'modal simbolik', sementara 'mikrofon' yang seharusnya digunakan untuk menyuarakan kebenaran dan keadilan, dibiarkan berdebu. Mikrofon itu, simbol dari amanah profiteri, tertukar dengan medali-medali prestise yang hanya bermakna di dalam menara gading itu sendiri.

     Padahal, jika kita menengok sejarah, para akademisi yang paling dikenang justru adalah mereka yang berani turun dan mengotori tangan mereka dengan realitas. Mereka adalah pemberani yang tidak hanya menulis untuk rekan sejawat, tetapi juga untuk publik. Noam Chomsky (1996), seorang profesor linguistik, justru lebih dikenal luas karena kritiknya yang tajam terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Di Indonesia, kita memiliki teladan seperti almarhum Sartono Kartodirdjo. Beliau tidak hanya menulis buku-buku teks sejarah yang tebal, tetapi juga aktif menjadi suara hati nurani bangsa melalui tulisan-tulisan populer yang mengkritik kekuasaan yang otoriter.

     Lalu, apa yang salah? Sistemnya tentu saja memegang andil besar. Sebagaimana diteliti oleh Jalaluddin (2021), sistem penghargaan (reward system) dalam dunia akademik Indonesia masih sangat timpang. Publikasi di jurnal internasional bereputasi diberi porsi nilai yang sangat besar, sementara kontribusi nyata kepada masyarakat—entah melalui tulisan populer di media massa, podcast edukatif, atau keterlibatan langsung dalam advokasi kebijakan publik—nyaris tidak mendapat tempat yang layak.

     Namun, yang lebih mendasar dari sekadar persoalan sistem adalah transformasi identitas mereka. Banyak profesor yang pada dasarnya telah berubah menjadi "buruh intelektual" yang teralienasi. Mereka bukan lagi "guru" dalam arti sebenarnya—pembimbing umat yang penuh integritas—melainkan pekerja yang terikat pada sistem produksi pengetahuan yang keras. Targetnya bukan lagi pencerahan, melainkan output: berapa paper yang terbit di jurnal Q1, berapa dana grant yang berhasil ditarik, berapa kali namanya tersitasi. Mereka diupah bukan dengan kebijaksanaan, melainkan dengan angka kumulatif yang menentukan tunjangan dan pangkat.

     Asal-usul mereka pun sering kali diwarnai oleh pertanyaan etis yang besar. Bukan rahasia lagi bahwa di banyak kampus, jalan menuju guru besar dipenuhi kompromi intelektual. Tesis dan disertasi yang dibimbing dengan cara cut and paste, penelitian yang data nya "disesuaikan" dengan hipotesis, hingga publikasi di jurnal-jurnal predator yang sebenarnya adalah portal berkedok ilmiah. Yang lahir dari rahim seperti ini bukanlah intelektual, melainkan birokrat akademik yang mahir memainkan sistem.

     Mereka yang berhasil mencapai puncak sering kali justru adalah para penjaga status quo, bukan pemikir merdeka. Sebagaimana dikatakan Noam Chomsky, "The smart way to keep people passive and obedient is to strictly limit the spectrum of acceptable opinion, but allow very lively debate within that spectrum." Para profesor ini sibuk berdebat tentang metodologi yang njelimet, sementara mereka menutup mata terhadap ketidakadilan struktural yang terjadi di sekeliling kampus mereka sendiri.

     Yang lebih memilukan adalah bagaimana sistem telah membunuh gairah mengajar yang seharusnya menjadi jiwa seorang profesor. Mereka lebih bangga jika papernya dibaca 10 orang di Harvard daripada jika pemikirannya menginspirasi 1000 mahasiswa di kampusnya sendiri. Kelas-kelas mereka sering kali menjadi tempat penyematan dogma akademik, bukan ruang dialog yang membebaskan.

     Lalu bagaimana solusinya? Tidak cukup dengan reformasi sistem. Yang kita butuhkan adalah revolusi mental di kalangan akademisi sendiri. Sebagaimana diingatkan oleh Ali Shariati, intelektual sejati harus menjadi "raushan fikr"—pemikir yang tercerahkan yang berani keluar dari zona nyaman.

     Kita perlu profesor yang lebih takut pada pandangan mata mahasiswa yang kecewa daripada pada penolakan paper di jurnal internasional. Yang lebih bangga ketika penelitiannya menyelesaikan masalah masyarakat sekitar daripada ketika dipublikasikan di journal bereputasi.

     Gelar profesor bukanlah tujuan akhir. Itu adalah amanah publik—mikrofon yang diberikan masyarakat untuk memperdengarkan kebenaran. Ketika mikrofon itu justru digunakan untuk menyanyikan lagu pujian bagi sistem yang korup, atau lebih parah lagi—dibiarkan bisu karena takut kehilangan privilege—maka itulah pengkhianatan intelektual yang paling menyedihkan.

     Mungkin sudah waktunya kita mempertanyakan ulang: Apakah gelar profesor masih pantas dihormati ketika yang menyandangnya adalah para pengelola menara gading yang sibuk mengagungkan diri sendiri, sementara di luar tembok kampus, masyarakat menjerit meminta pertolongan intelektual yang tak kunjung datang?


Daftar Pustaka:

1. Bourdieu, P. (1984). Homo Academicus. Stanford University Press.
2. Chomsky, N. (1996). Powers and Prospects. South End Press.
3. Jalaluddin, A. (2021). Academic Capitalism in Indonesian Higher Education. Journal of Education Policy.
4. Priyono, B. (2023). The Retreat of Public Intellectuals. Unpublished research report.
5. Shariati, A. (1979). On the Sociology of Islam. Mizan Press.
6. Shils, E. (1982). The Calling of Education. University of Chicago Press.

     Di era di mana setiap orang bisa memiliki podcast dan gelar "pakar" bisa dibeli dalam seminar online, kita sedang mengalami inflasi intelektual yang parah. Istilah "intelektual" menjadi begitu murah dan basi, dilekatkan pada siapa saja yang bersuara lantang atau pandai merangkai kata-kata jargonistik. Padahal, menjadi intelektual bukanlah tentang memiliki audiens yang banyak, melainkan tentang memiliki keberanian untuk menyuarakan kebenaran yang tidak populer, bahkan ketika suara itu berdiri sendiri.

     Sosiolog Edward Shils (1972) mendefinisikan intelektual sebagai seseorang yang terobsesi dengan nilai-nilai transenden dan berusaha menerapkannya dalam masyarakat. Bagi Shils, intelektual adalah penerjang batas-batas kemapanan, bukan penjaga status quo. Sementara Antonio Gramsci (1971) memilahnya menjadi dua: intelektual tradisional yang melayani kekuasaan, dan intelektual organik yang lahir dari rakyat dan berbicara untuk kepentingan rakyat.

     Namun dalam praktiknya, kita justru lebih sering menjumpai para pseudo-intelektual yang menjual ilusi kedalaman. Mereka adalah akademisi yang hanya pandai memproduksi artikel jurnal berbasis jargon untuk konsumsi sesama akademisi, selebritis pemikir yang mengulang-ulang teori Barat tanpa konteks lokal, atau influencer yang membungkus promosi diri dengan kemasan filsafat sederhana. Mereka pandai berbicara tentang "dekonstruksi" dan "hegemoni", tetapi tidak mampu melihat ketimpangan di depan mata mereka sendiri.

     Yang lebih membahayakan adalah ketika pseudo-intelektualisme ini bersembunyi di balik jubah agama atau ideologi. Di sinilah pemikiran Ali Shariati (1982) tentang Raushan Fikr (intelektual tercerahkan) menjadi relevan. Shariati mengingatkan bahwa intelektual sejati haruslah seperti Ulil Albab dalam tradisi Islam - mereka yang memadukan kecerdasan intelektual dengan kesadaran spiritual, dan menggunakan pencerahannya untuk membebaskan masyarakat dari belenggu kebodohan dan penindasan.

     Sayangnya, yang sering kita saksikan justru intelektual-intelektual "pembangunan" yang menjadi corong penguasa, atau intelektual "agama" yang sibuk memperdebatkan hukum suatu ritual sambil menutup mata pada korupsi dan ketidakadilan sosial. Mereka lupa bahwa sebagaimana dikatakan Shariati, tugas intelektual adalah melakukan revolusi kesadaran, bukan menjadi penjaga tembok tradisi yang membusuk.

     Di Indonesia, kita sebenarnya memiliki tradisi intelektual yang kaya. Goenawan Mohamad dengan esai-esainya yang memadukan kecerdasan analitis dengan kepekaan sastra, atau Wardah Hafidz yang memperjuangkan hak-hak kaum miskin kota dengan analisis sosial yang tajam, adalah contoh bagaimana intelektualisme yang otentik bisa lahir tanpa perlu menjadi copycat teori-teori Barat.

      Menjadi intelektual di zaman ini adalah pilihan berisiko. Ia harus berani menghadapi dua bahaya: dijauhi oleh kekuasaan karena kritik-kritiknya, dan dicemooh oleh massa karena dianggap elitis. Tetapi justru dalam keberanian menghadapi dua risiko inilah nilai seorang intelektual diuji.

     Akhirnya, kita perlu mengingat kembali nasihat klasik: intelektual sejati bukanlah mereka yang memiliki banyak jawaban, melainkan mereka yang berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu. Di tengah banjir pseudo-intelektual yang menawarkan kepastian dan dogma, justru keraguan dan pertanyaan kritis merekalah yang kita butuhkan untuk tetap menjadi manusia yang merdeka.


Daftar Pustaka:

1. Gramsci, A. (1971). Selections from the Prison Notebooks. International Publishers.
2. Shils, E. (1972). The Intellectuals and the Powers and Other Essays. University of Chicago Press.
3. Shariati, A. (1982). The Islamic Revolution. Hamdami Foundation.

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.