Geologi Lompobattang – Bawakaraeng
Membaca Vulkanisme Purba dan Hidrologi Sungai Jeneberang
Sulawesi berdiri di atas simpang tiga dunia tektonik, tempat kerak bumi saling bertemu tanpa sopan santun dan memaksa pegunungan tumbuh, pulau terpecah, dan magma naik dari perut bumi. Di titik inilah kompleks Gunung Lompobattang–Bawakaraeng terbentuk, sebuah tubuh vulkanik purba di bagian selatan Sulawesi Selatan yang hari ini tidak lagi menyemburkan lava, tetapi menyimpan catatan panjang tentang bagaimana pulau ini dibentuk, dibasuh, dan diukir ulang oleh proses geologi. Dua puncak utama, Lompobattang dan Bawakaraeng, berdiri tidak jauh dari Makassar, seolah menjadi penjaga lembah Jeneberang dan penentu takdir hidrologi kota-kota hilir. Keduanya terlihat tenang, tetapi ketenangan itu bukanlah absennya energi; ia hanya menandakan bahwa fase eksplosifnya telah berakhir berjuta tahun lalu.
Kompleks ini sering disebut gunung api tipe C—kategori yang diberikan PVMBG kepada gunung yang memiliki bukti vulkanik tetapi tidak memiliki catatan letusan dalam sejarah tertulis. Dalam bahasa vulkanologi, mereka adalah veteran yang telah pensiun tetapi meninggalkan medan penuh tanda perang: lava andesit basaltik, breksi piroklastik, tuf, serta lembah-lembah yang bentuknya hanya mungkin lahir dari letusan yang lebih tua dari manusia yang tinggal di sekitarnya. Kompleks ini terbentuk pada kala Plistosen, kira-kira antara 2,58 juta hingga 11.700 tahun yang lalu, saat aktivitas busur vulkanik di bagian selatan Sulawesi mencapai salah satu fase dinamisnya. Sejak itu aktivitasnya meredup, tetapi reliefnya terus dipahat oleh tektonik dan erosi.
Untuk memahami kompleks Lompobattang–Bawakaraeng, ada tiga lapis yang harus dibaca: lapis vulkanik yang membangun tubuh gunung, lapis tektonik yang mengangkat dan memecahkannya, dan lapis hidrologi yang melarutkan, mengangkut, dan mengubahnya menjadi ekosistem yang hidup. Ketiga lapis ini saling terkait dan tidak dapat dijelaskan sendiri-sendiri tanpa membuat penjelasan cacat.
Vulkanisme Plistosen dan Bentuk Stratovolcano Terkikis
Bentuk geologi paling mencolok dari kompleks ini adalah tubuh stratovolcano yang tersingkap dalam keadaan setengah terkikis. Stratovolcano secara umum dibentuk oleh letusan berulang dengan jenis magma menengah hingga mafik, menghasilkan kombinasi antara aliran lava dan piroklastik yang membangun kerucut. Pada Lompobattang–Bawakaraeng, batuan yang tersingkap berupa lava basalt hingga andesit basaltik, breksi vulkanik, dan lapisan tuf yang memberi petunjuk bahwa letusan purba bersifat eksplosif dengan selingan efusif. Karakter batuan ini menunjukkan bahwa magma yang membangunnya kemungkinan berasal dari peleburan mantel bagian atas pada zona subduksi busur Sunda-Banda.
Letusan purba tidak hanya membentuk kerucut tetapi juga kaldera—struktur cekung besar yang terbentuk ketika sebagian tubuh gunung runtuh setelah letusan besar mengosongkan ruang magma di bawahnya. Pada kompleks ini, jejak kaldera tidak lagi berbentuk lingkaran utuh sebagaimana yang sering digambar dalam buku pelajaran vulkanologi. Erosi, tektonik, dan waktu yang panjang telah merobek lengkungnya menjadi lembah-lembah yang kini memiliki nama lokal: Ramma, Lowe, dan Anjayya. Sukamto & Supriatna (1982) mencatat bahwa lembah-lembah ini menunjukkan morfologi cekungan kaldera purba yang telah tersegmen oleh struktur sesar dan lipatan.
Di antara dua puncak—Bawakaraeng dan Lompobattang—masih terlihat hubungan morfologis yang menyiratkan bahwa keduanya bukan kerucut yang berdiri sendiri, tetapi sisa-sisa struktur kaldera atau dinding kerucut vulkanik yang terangkat. Hubungan ini penting karena memberi konteks pada pembentukan hidrologi lembah dan genesis Sungai Jeneberang yang berasal dari bagian dalam tubuh kaldera purba.
Tektonik Sulawesi Selatan dan Uplift Pasca-Letusan
Sulawesi memiliki sejarah tektonik yang tidak dapat dikatakan sederhana. Pulau ini berada di pertemuan tiga lempeng besar—Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik—yang saling menekan, menggunting, dan menumpuk fragmen kerak sejak era Neogen. Salah satu struktur yang berpengaruh di bagian selatan adalah Sesar Walanae, sesar mendatar (strike-slip) yang memainkan peran dalam pengangkatan (uplift) blok-blok vulkanik termasuk kompleks Lompobattang.
Uplift pasca-letusan berperan penting dalam menjelaskan mengapa puncak Bawakaraeng dan Lompobattang kini berada pada ketinggian ±2800 mdpl, meskipun umur vulkaniknya relatif tua. Proses ini menahan tubuh gunung agar tidak seluruhnya terkikis hingga menjadi perbukitan rendah, sebagaimana yang terjadi pada banyak gunung api tua di Jawa bagian selatan. Pengangkatan ini pula yang memberi kemiringan lereng tajam dan menciptakan relief kontras antara lembah-lembah kaldera dan puncak-puncaknya.
Tektonik tidak hanya mengangkat tetapi juga membelah, menciptakan jalur lemah yang penting bagi aliran air. Zona lemah inilah yang kemudian dipilih oleh hidrologi sebagai “pintu keluar” material dan air dari kaldera purba, menghasilkan pola drainase yang mengarah ke hulu Sungai Jeneberang.
Dari Kaldera ke Sungai: Hidrologi dan Genesis Jeneberang
Interpretasi bahwa lembah-lembah kaldera purba pernah menjadi danau sementara (paleolake) adalah masuk akal secara geomorfologi dan vulkanologi. Dalam banyak gunung api di dunia—dari Taupō di Selandia Baru hingga Toba di Sumatera—fase danau kaldera merupakan fase transisi setelah letusan besar tetapi sebelum proses erosi merobek dinding kaldera menjadi saluran drainase.
Pada kompleks Lompobattang–Bawakaraeng, lembah seperti Ramma menunjukkan morfologi cekungan tertutup yang cukup luas untuk mengumpulkan air hujan dalam volume besar. Danau semacam ini tidak perlu ada hingga ribuan tahun; beberapa bisa mengering dalam hitungan abad atau bahkan dekade. Yang penting adalah perannya dalam menentukan jalur hidrologi awal. Air dan sedimen dari cekungan kaldera mencari jalur pada zona lemah—biasanya rekahan tektonik, kontak batuan, atau litologi vulkanik yang lebih rapuh. Proses inilah yang memungkinkan Sungai Jeneberang tumbuh dan menghubungkan kaldera dengan dataran rendah.
Jeneberang bukan hanya sungai yang mengalirkan air; ia membawa puing masa lalu gunung. Basalt, breksi vulkanik, pasir andesit, dan fragmen piroklastik menjadi muatan yang akhirnya mengendap di delta, kemudian memengaruhi morfologi pesisir Gowa dan Makassar. Bagi pembaca umum di kota, sungai tampak seperti unsur alami yang sederhana, tetapi bagi geologi, ia adalah sistem transportasi yang memindahkan tubuh gunung ke laut dalam bentuk partikel.
Catchment area gunung ini hari ini menyuplai air baku bagi Makassar dan wilayah sekitarnya, menjadikan kompleks vulkanik purba ini relevan bukan hanya dalam studi geologi tetapi juga tata guna air, mitigasi banjir, dan perencanaan infrastruktur.
Magma Menengah yang Membentuk Tubuh Gunung
Kompleks Lompobattang–Bawakaraeng pada dasarnya dibangun oleh magma berkomposisi menengah (intermediate magmatism), terutama basalt hingga andesit basaltik. Ini penting karena jenis magma menentukan cara gunung meletus, bentuk tubuhnya, dan residu geologi yang tersisa.
Magma basaltik cenderung lebih cair dan menghasilkan letusan efusif dengan aliran lava panjang, sementara magma yang lebih silisik dan lebih kental cenderung menghasilkan letusan eksplosif yang membangun stratovolcano. Pada kompleks ini, penyelidikan batuan menunjukkan adanya kombinasi keduanya, sehingga tubuh gunung memuat bukti bahwa letusan sepanjang sejarah Plistosen bersifat campuran: lava mengalir, piroklastik terlempar, dan kaldera runtuh setelah ruang magma di bawahnya kosong secara mendadak.
Fragmen breksi vulkanik yang tersebar luas menjadi petunjuk yang jarang menipu. Breksi mengindikasikan bahwa batuan tidak terkikis perlahan oleh air, melainkan dihancurkan secara tiba-tiba oleh pelepasan energi besar. Lapisan tuf—yang merupakan residu mikroskopik dari letusan eksplosif—menjadi arsip yang lebih halus dan tertib. Lapisan-lapisan ini dapat dipakai untuk membaca intensitas dan frekuensi letusan seperti membaca riwayat demam di grafik pasien.
Bila batuan-batuan ini diperiksa lebih jauh, mungkin ditemukan mineral-mineral umum di gunung api busur: piroksen (augit-hypersten), plagioklas (labradorite–andesine), magnetit, dan olivin minor pada komposisi yang lebih mafik. Mineral-mineral ini memperkuat interpretasi bahwa magma yang membangun kompleks ini berasal dari proses peleburan mantel pada zona subduksi, khas busur Sunda–Banda.
Perlu dicatat bahwa magma busur umumnya memiliki kandungan air yang relatif tinggi, dan inilah salah satu faktor utama yang menjadikan letusan eksplosif, bukan semata kandungan silika. Air dalam magma adalah janji energi laten; ketika tekanan terlepas, air berubah menjadi uap dengan ekspansi ratusan kali lipat, menciptakan gaya yang cukup untuk meruntuhkan dinding-dinding gunung.
Erosi dan Pemahat Waktu
Gunung api tidak mati begitu magma berhenti. Ia masuk fase kedua sebagai lanskap yang mulai dikerjakan oleh agen-agen erosi. Di kompleks Lompobattang–Bawakaraeng, erosi bekerja dalam kombinasi antara air, gravitasi, dan tektonika. Sungai memotong tubuh vulkanik, membawa fragmen ke dataran rendah. Curamnya lereng dan porositas batuan mempercepat pelapukan, sementara uplift tektonik terus membuat lereng tetap tinggi, sehingga proses aliran gravitasi tidak pernah kehabisan energi.
Ada dua tipe erosi yang tampak dominan di kompleks ini: erosi linear dan erosi massal. Erosi linear membentuk lembah-lembah dalam dan sempit yang mengalirkan air permukaan. Erosi massal menghasilkan kejadian seperti longsor raksasa, debris flow, dan rock avalanche. Keduanya berperan dalam membuka tubuh kaldera dan memungkinkan Sungai Jeneberang memiliki jalur drainase yang efisien hingga ke laut.
Longsor 2004: Ketika Lereng Purba Memberi Sinyal Bahwa Ia Belum Selesai
Pada tahun 2004 terjadi longsor besar di Bawakaraeng yang meruntuhkan material dalam volume sangat besar. Peristiwa ini sering disalahpahami sebagai fenomena “lokal” atau sekadar bencana lingkungan biasa, tetapi bagi geologi, ia adalah bagian dari narasi panjang tentang tubuh gunung api purba yang sedang terus diurai oleh gravitasi dan air.
Longsor tersebut dipicu oleh kombinasi beberapa faktor: batuan vulkanik yang lapuk, kemiringan lereng yang curam, infiltrasi air yang tinggi akibat hujan, dan struktur dinding kaldera purba yang melemah seiring waktu. Lereng-lereng kaldera pada banyak gunung api di dunia rentan terhadap kegagalan massal seperti ini, bahkan setelah gunung api berhenti meletus selama puluhan ribu tahun.
Yang menarik adalah bagaimana material longsoran ini kemudian bergerak sebagai debris flow menyusuri sistem Jeneberang. Inilah alasan mengapa bencana di gunung api tidak selalu terjadi melalui letusan. Pada tubuh gunung tua, ancaman bergeser dari piroklastik menjadi sedimentasi dan aliran material massal. Di Lompobattang–Bawakaraeng, hal ini berarti bahwa yang perlu dipahami bukan hanya faktor vulkanologi, tetapi juga geomorfologi dan hidrologi.
Peristiwa longsor 2004 juga memberi pelajaran bagi tata kelola air dan infrastruktur hilir. Sungai Jeneberang adalah sumber air baku bagi Makassar, tetapi juga saluran utama sedimen dari gunung menuju pesisir. Ketika sedimen meningkat drastis akibat longsor, maka waduk dan bendungan menghadapi tekanan ganda: sedimentasi memperpendek umur infrastrukturnya, sementara fluktuasi debit air memaksa operator mengambil keputusan yang tidak selalu memiliki waktu untuk memikirkan konsekuensinya.
Dengan demikian, gunung api purba ini tetap menjadi aktor geologis dan sipil hingga hari ini. Ia mungkin tidak meletus lagi, tetapi ia masih berbicara melalui tanah yang bergerak.
Dari Vulkanisme menjadi Hidrologi: Daerah Tangkapan Air dan Ekologi
Salah satu warisan yang paling strategis dari kompleks vulkanik ini adalah daerah tangkapan air (catchment area) yang luas dan terstruktur secara geomorfologis. Porositas batuan vulkanik dan kemiringan lereng memungkinkan air hujan meresap, disimpan, dan dilepaskan secara bertahap ke sungai. Ini menjadikan kompleks ini sistem spons alami sekaligus penstabil debit.
Jika tubuh gunung ini dibangun oleh magma, bagian hilir dibangun oleh air. Sungai Jeneberang tidak hanya memindahkan sedimen tetapi juga memelihara ekosistem yang tumbuh di sepanjang bantaran dan dataran banjir. Vegetasi di sepanjang aliran sungai menjadi indikator langsung kesehatan hidrologi, dan pada kasus Jeneberang, vegetasi ini memainkan peran dalam menstabilkan lereng-lereng kecil serta memperlambat erosi permukaan.
Namun ada paradoks. Catchment area yang baik seringkali menjadi incaran kegiatan manusia: pembukaan lahan, perkebunan, dan permukiman. Ketika penutup vegetasi hilang, sistem spons berubah menjadi sistem aliran cepat, memperbesar debit puncak, meningkatkan sedimentasi, dan mempercepat degradasi sungai. Dalam geologi, gunung mungkin mati, tetapi ekosistem sekitarnya bisa dibunuh jauh lebih cepat melalui keputusan ekonomi.
Tubuh Gunung Api yang Menjadi Sistem Air
Kompleks Lompobattang–Bawakaraeng mengajarkan bahwa vulkanisme tidak berhenti pada letusan. Setelah api padam, tubuh gunung api berubah menjadi lanskap yang menata ulang hidrologi, sedimentasi, dan ekologi bagi wilayah sekitarnya. Sungai Jeneberang adalah salah satu produk paling penting dari proses ini: ia adalah anak dari magma yang lahir melalui air.
Memahami gunung api purba bukan hanya tugas kegemaran para ahli geologi, tetapi juga kebutuhan kota yang hidup di hilirnya. Makassar dan Gowa bertumpu pada air yang ditampung oleh tubuh gunung ini, dan pada sedimen yang diangkutnya menuju laut. Oleh karena itu, kompleks Lompobattang–Bawakaraeng perlu dilihat bukan sebagai monumen alam, tetapi sebagai sistem yang masih bekerja: tektonik mengangkatnya, erosi mengikisnya, sungai mengangkutnya. Manusia hanya datang untuk menyaksikan dan terkadang mengacaukannya.
Sulawesi adalah pulau yang menulis sejarahnya dengan gerakan besar. Gunung-gunung ini mungkin telah berhenti berteriak, tetapi bisikan geologinya masih mempengaruhi kota, kebijakan, air, dan kehidupan. 
Referensi:
- Wikipedia: Gunung Bawakaraeng
- Sukamto, R. & Supriatna, S. (1982). Geologi Lembar Ujung Pandang, Benteng, dan Sinjai, Sulawesi. Geological Survey of Indonesia.
- Ahmad, A., et al. (2019). "Karakteristik Tanah Sawah Dari Batuan Lava-Vulkanik Di Lereng Gunung Lompobattang". Median: Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta, 11(3).
- Sompotan, A. (2016). Buku Geologi Sulawesi. Academia.edu.
- Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). (2025). Data MAGMA Indonesia: Tipe Gunung Api di Indonesia.








