Articles by "kebahagiaan"

Tampilkan postingan dengan label kebahagiaan. Tampilkan semua postingan

     Beberapa waktu terakhir, sebuah kabar beredar luas: katanya hasil survei Harvard menempatkan Indonesia sebagai negara paling bahagia di dunia. Presiden tampak gembira, pejabat bertepuk tangan, linimasa penuh rasa bangga. Sebuah kemenangan simbolik, seolah-olah kita baru saja memenangi lomba yang bahkan belum jelas aturan mainnya. Yang menarik bukan klaim kebahagiaannya, melainkan kecepatan kita merayakannya—bahkan sebelum tahu apa yang sebenarnya diukur, siapa yang diukur, dan bagaimana ukuran itu disusun.

     Dalam dunia akademik, nama besar lembaga bukanlah argumen. Harvard, Gallup, atau siapa pun, tetap tunduk pada satu disiplin yang sama: metodologi. Tanpa paparan metodologi, tanpa transparansi indikator, tanpa penjelasan batasan, sebuah survei hanyalah cerita yang kebetulan memakai jas ilmiah. Kebahagiaan, terlebih lagi, bukan variabel sederhana. Ia rapuh, kontekstual, dan sangat mudah diseret ke mana-mana sesuai kebutuhan narasi.

     Di titik inilah perbandingan dengan indikator lain menjadi relevan. World Happiness Index, Human Development Index, ketimpangan pendapatan, akses pendidikan, kesehatan mental, angka bunuh diri—semua ini memang bukan kitab suci. Namun ia adalah upaya untuk membaca realitas objektif, dunia yang bisa diukur meski tak pernah sepenuhnya jinak. Menyingkirkan indikator-indikator ini sambil berkata “kita punya kebahagiaan versi sendiri” bukanlah keberanian epistemik, melainkan penghindaran.

     Masalahnya kemudian bukan sekadar data, tetapi cara kita mengacaukan lapisan realitas. Banyak pembelaan terhadap klaim “Indonesia paling bahagia” mencampur-adukkan realitas objektif, subjektif, dan intersubjektif seolah-olah semuanya setara dan bisa saling membatalkan.

     Realitas objektif berbicara tentang struktur: kemiskinan, korupsi, ketimpangan, kualitas pendidikan, layanan kesehatan, jaring pengaman sosial. Ini dunia yang keras kepala, tidak peduli seberapa tulus kita bersyukur.

     Realitas subjektif berbicara tentang rasa: cukup, tenang, ikhlas, pasrah, bahagia. Ia sah, nyata, dan penting—tetapi ia hidup di dalam individu.

     Realitas intersubjektif adalah dunia nilai bersama: agama, budaya, narasi kolektif tentang makna hidup, tentang apa yang dianggap “cukup” dan “wajar”.

     Yang terjadi dalam banyak narasi pembenaran adalah: realitas subjektif dan intersubjektif digunakan untuk meniadakan realitas objektif. Seolah-olah kemiskinan tidak lagi relevan karena orang bisa tertawa sambil ngopi. Seolah-olah ketimpangan pendidikan tak perlu dibahas karena anak-anak diajarkan bersyukur.

     Di sinilah logika mulai retak.

     Ambil contoh yang sangat konkret dan sangat dekat. Kasus korupsi minyak yang kembali terbongkar—dengan angka kerugian negara yang membuat kepala pening—bukanlah sekadar soal uang. Ia adalah realitas objektif tentang bagaimana sumber daya publik disedot, bagaimana harga kebutuhan pokok ditekan dari atas, dan bagaimana rakyat diminta beradaptasi dengan alasan “keadaan global”. Apakah orang masih bisa tertawa, bercanda, dan bersyukur di tengah semua itu? Bisa. Apakah itu membuat korupsi menjadi kurang merusak? Tidak sedikit pun.

     Atau lihat kasus anak yang bunuh diri di NTT. Di satu sisi, kita mendengar cerita tentang ketenangan hidup desa, nilai kekeluargaan, dan spiritualitas yang kuat. Di sisi lain, kita menemukan fakta pahit: tekanan ekonomi, akses pendidikan yang terbatas, dan kebijakan yang ironisnya justru mempersempit ruang bernapas. Kontroversi biaya makan bergizi gratis yang menyedot kuota anggaran pendidikan muncul tepat di latar ini. Niatnya mulia, narasinya indah, tetapi implementasinya memeras sektor yang seharusnya menjadi tangga harapan. Ketika anggaran pendidikan tertekan, ketika sekolah kekurangan sumber daya, lalu seorang anak kehilangan alasan untuk melanjutkan hidup—apakah semua itu bisa disapu bersih dengan kalimat “orang Indonesia itu bahagia dan bersyukur”?

     Di sinilah romantisasi menjadi berbahaya.

     Narasi tentang orang Indonesia yang bahagia dengan kolam ikan, nasi liwet, jengkol, kopi, dan udud bukanlah sepenuhnya fiksi. Ia nyata, hidup, dan kultural. Namun pertanyaan yang jarang diajukan adalah: apakah itu pilihan bebas, atau hasil adaptasi panjang terhadap keterbatasan struktural? Dalam psikologi sosial, ada konsep adaptive preference: manusia belajar menyukai apa yang tersedia karena pilihan lain tak terjangkau. Itu mekanisme bertahan hidup, bukan bukti keunggulan sistem.

     Ketika kemudian IQ dijadikan kambing hitam—disebut usang, ketinggalan, dan kalah oleh EI serta SQ—kita menyaksikan satu lagi lompatan logika. Tak ada ilmuwan serius hari ini yang menyembah IQ sebagai satu-satunya ukuran manusia. Namun tak ada pula pemikir jujur yang berkata bahwa rendahnya literasi, numerasi, dan kapasitas analitik adalah sesuatu yang patut dibanggakan. EI dan SQ tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan kapasitas kognitif, melainkan melengkapinya. Menjadikannya alasan untuk menolak kritik struktural hanyalah cara halus untuk berkata: kami baik-baik saja, jangan ganggu.

     Agama, dalam narasi ini, sering kali dijadikan benteng terakhir. Mengingat mati, orientasi akhirat, hidup sederhana—semua ini luhur dan bermakna dalam ruang spiritual. Namun ketika ia ditarik untuk membenarkan statistik kebahagiaan nasional, agama direduksi menjadi alat legitimasi. Ironisnya, narasi yang memuja anti-hedonisme justru sangat bernafsu ingin diakui dunia sebagai “nomor satu”. Ada paradoks kecil di sana, nyaris lucu jika tidak serius dampaknya.

     Lebih jauh, dikotomi “Barat cerdas tapi stres dan bunuh diri, Indonesia rendah IQ tapi bahagia” adalah karikatur. Ia menyederhanakan kompleksitas kedua belah pihak. Bunuh diri, depresi, dan kegersangan makna tidak otomatis lenyap di masyarakat religius. Ia sering kali hanya berganti wajah: disembunyikan, dinormalisasi, atau disakralkan sebagai ujian iman.

     Maka mungkin posisi yang lebih jujur adalah: orang Indonesia bisa merasa bahagia secara subjektif dan kultural, sambil tetap hidup dalam struktur objektif yang timpang dan rapuh. Kedua hal itu tidak saling membatalkan. Kebahagiaan batin tidak otomatis berarti keadilan sosial telah tercapai. Dan penderitaan struktural tidak selalu menghapus kemampuan manusia untuk tertawa.

     Masalah muncul ketika kebahagiaan subjektif dijadikan alibi untuk berhenti bertanya, dan spiritualitas dijadikan perisai dari kritik. Di titik itu, kebahagiaan kehilangan kedalamannya. Ia berubah fungsi—bukan lagi pengalaman batin, melainkan penenang massal yang nyaman bagi kekuasaan.

     Skeptisisme, dalam konteks ini, bukan sikap sinis. Ia adalah etika berpikir. Ia menjaga agar syukur tidak berubah menjadi pembenaran, agar iman tidak direduksi menjadi statistik viral, dan agar kebahagiaan tidak dijadikan alasan untuk menutup mata dari minyak yang dikorupsi, anak yang memilih mati, dan anggaran pendidikan yang diam-diam dikorbankan atas nama program yang terdengar baik.

     Barangkali, justru di situlah bentuk kebahagiaan yang lebih dewasa dimulai: bukan pada peringkat, bukan pada klaim, melainkan pada keberanian untuk melihat diri sendiri apa adanya—tanpa hiasan, tanpa tepuk tangan, dan tanpa perlu merasa paling unggul di dunia.

     Kesuksesan sering kita dengar sebagai mantra modern, sejenis komoditas rohani yang dijual dengan harga mahal dalam seminar motivasi, iklan investasi, atau postingan Instagram yang penuh dengan kata “hustle”. Namun, kalau dipikir dengan kepala dingin dan sedikit sinis, bukankah kesuksesan dalam definisi semacam itu hanyalah permainan ilusi? Orang bekerja mati-matian, lalu membeli jam tangan mahal supaya terlihat sukses, meski yang benar-benar sukses hanyalah perusahaan pembuat jam tangan itu. 

     Kita terjebak dalam lingkaran simbol, bukan makna. Nietzsche sudah mengingatkan bahwa manusia modern suka mengganti Tuhan dengan berhala baru, dan salah satunya adalah berhala kesuksesan dalam bentuk uang, popularitas, dan pengakuan. Kita berdoa pada altar algoritma, mengorbankan waktu, tenaga, bahkan identitas, hanya demi mendapat sedikit validasi dalam bentuk “like”.

     Namun, apa yang terjadi jika kesuksesan didefinisikan ulang bukan sebagai “memiliki” melainkan “melepaskan”? Di sini, logika pasar berhenti bekerja, dan kita masuk ke wilayah batin. Sukses bukan soal menumpuk angka di rekening, melainkan saat kita tidak lagi diperbudak oleh keinginan untuk menumpuk. Sukses bukan soal nama kita terpampang di billboard, melainkan saat kita sudah tidak peduli lagi apakah nama itu dikenal atau tidak. Buddha akan tersenyum, karena definisi semacam ini sejalan dengan gagasan Nirvana—sebuah keadaan bebas dari kelekatan, di mana hasrat eksternal tak lagi menggiring kita ke jurang penderitaan.

     Karya yang jujur pun lahir dari tempat ini: ruang batin yang bebas. Begitu kita berkarya demi pujian, demi penjualan, demi viralitas, maka karya itu bukan lagi seni, melainkan strategi pemasaran. Mungkin tetap bisa indah, tapi tidak jujur. Kierkegaard pernah bilang, keputusasaan terbesar manusia adalah hidup dalam kepura-puraan, menjadi sesuatu yang bukan dirinya. 

     Maka, seorang seniman yang memoles karyanya hanya demi “disukai banyak orang” sebenarnya sedang menulis epitaf keputusasannya sendiri. Sebaliknya, ketika seseorang mencipta karena ada sesuatu yang penting dan mendesak di dalam dirinya yang harus dikeluarkan, maka karya itu hidup. Bahkan bila tak ada satu pun orang yang bertepuk tangan, karya itu tetap bernyawa, dan si pencipta tetap merdeka.

     Tetapi bagaimana mungkin kita merdeka bila dunia hari ini penuh dengan budaya performatif? Media sosial membentuk panggung di mana semua orang jadi aktor, dan semua aktor bersaing untuk tampil paling bahagia, paling kaya, paling sukses. Ironisnya, semakin keras orang berusaha tampak sukses, semakin jelas kegelisahan yang mereka sembunyikan. 

     Simone de Beauvoir menyinggung tentang “ambiguitas eksistensi manusia”—kita ingin bebas, tapi sekaligus ingin diakui. Itulah mengapa banyak orang tidak benar-benar bahagia, melainkan hanya sibuk mengedit potret kebahagiaan. Kita butuh jeda, sekadar beberapa tarikan napas, untuk bertanya: apakah tujuan hidup kita benar-benar "hanya untuk dilihat” atau "untuk dihidupi”?

     Kebebasan sejati datang ketika kita berani melawan ilusi ego. Ego adalah penipu ulung, selalu lapar akan uang, pujian, dan publisitas. Ia seperti monster kecil yang setiap kali diberi makan justru makin rakus. Stoikisme menawarkan obatnya: indifferensia, kemampuan untuk bersikap netral terhadap hal-hal di luar kendali kita. Epictetus pernah bilang, bukan dunia yang mengganggu kita, tapi opini kita sendiri tentang dunia. 

     Begitu pula dengan kesuksesan; ia bukan realitas objektif, melainkan opini yang kita pilih untuk percayai. Jika kita berhenti tertarik pada uang atau pengakuan, kita mulai hidup dari pusat kesadaran yang lebih dalam, bukan dari bayangan ekspektasi sosial.

     Pada titik ini, kita bisa berkata dengan tenang: kita bisa berkarya, hidup, bahkan berpikir tanpa harus dikendalikan oleh algoritma, uang, pujian, atau publisitas. Dan justru saat itu kita sudah sampai di tempat yang tak banyak orang ketahui. Ironisnya, banyak yang mencari surga palsu di puncak karier, sementara surga itu sendiri hadir di momen sederhana ketika kita berhenti mencari. Heidegger menyebut pengalaman semacam ini sebagai “authentic being”—keberadaan yang otentik, yang lahir saat kita berdamai dengan kefanaan dan berhenti mengejar topeng-topeng sosial.

     Puncak, pada akhirnya, bukanlah panggung. Banyak orang mengira sukses adalah ketika kita disorot lampu sorotan, dikerumuni massa, atau diabadikan dalam sejarah. Padahal puncak itu justru hadir ketika kita sudah tidak peduli apakah orang tahu atau tidak. Ketika karya selesai, ketika kata-kata tertulis, ketika lagu mengalun, dan kita sendiri bisa tersenyum puas—itulah puncak. 

     Sisanya hanyalah gema di luar diri. Camus barangkali akan setuju: hidup absurd ini hanya bisa dijawab dengan satu sikap, yakni mencintainya apa adanya. Sukses, dalam absurditas Camus, bukan soal mengatasi dunia, melainkan soal menari bersama ketidakpastian tanpa kehilangan irama.

     Dan betapa ironisnya, justru saat kita melepaskan ambisi untuk tampak sukses, kita sering kali dianggap sukses oleh orang lain. Sebuah paradoks yang agak menggelikan. Mereka akan bertanya, bagaimana mungkin engkau tampak tenang tanpa harta melimpah, tanpa pengikut jutaan, tanpa piagam penghargaan? Dan kita bisa menjawab dengan santai: karena kesuksesan yang kau cari hanyalah bayangan, sementara yang aku miliki adalah kebebasan.

     Pada akhirnya, kesuksesan bukanlah garis finish yang ditempuh dengan berlari paling cepat. Ia lebih menyerupai kebiasaan duduk diam dalam diri sendiri, mendengarkan suara yang jujur, dan berani melepaskan apa yang tak lagi perlu digenggam. Dunia boleh berisik dengan pencapaian, tetapi di ruang batin yang sunyi kita menemukan puncak yang sesungguhnya—puncak yang tidak membutuhkan sorotan, tidak membutuhkan pengakuan, dan tidak membutuhkan penonton.

     Angin zaman berhembus kencang membawa debu-debu algoritma yang menyusup ke setiap lipatan kehidupan, perlahan mengubah percakapan menjadi data, keputusan menjadi kalkulasi, dan bahkan kepercayaan menjadi probabilitas statistik. Di tengah pusaran ini, suara-suara yang mengingatkan esensi terdalam manusia terdengar bagai bisikan di tengah badai. Rutger Bregman—seorang pemikir dari negeri kincir angin, dengan ketajaman bocah yang tak henti bertanya dan kebijaksanaan seorang tua yang telah menyaksikan pasang surut peradaban, menantang asumsi paling kelam tentang kodrat manusia. 

     Narasi bahwa manusia pada dasarnya jahat, egois, dan hanya bisa dikendalikan dengan ketakutan, dirobeknya dengan teliti, digantikan dengan bukti-bukti bahwa benih kebaikan tersemai jauh lebih dalam — dalam jiwa kolektif kita. Sepuluh prinsip yang mengalir dari pemahaman ini bukanlah mantra penyelamat dari kiamat yang menganga, melainkan kompas untuk menghindari jebakan menjadi bagian dari mesin penghancur itu sendiri—agar tangan tetap mampu membelai bukan mengepal, pikiran tetap bertanya bukan menelan mentah, dan hati tetap memilih belas kasih ketika godaan kekuasaan berbisik lantang, bahkan di tengah padang gurun sinisme yang kian meluas.

     Keraguan sering menjadi pintu gerbang menuju kubu prasangka, batu pertama yang disusun menjadi tembok pemisah yang kokoh. Dunia modern, bagai penanam yang cekatan, lebih dahulu menebar benih kecurigaan sebelum akar kepercayaan sempat menyentuh tanah. Mungkin fondasi peradaban kita memang retak karena dibangun di atas ketakutan, bukan harapan. Bukan kenaifan yang meruntuhkan jembatan antar manusia, melainkan ketakutan akut akan pengkhianatan yang membekukan gestur memberi. Ketika kabut keraguan menyelimuti, memilih untuk mengasumsikan yang terbaik bukanlah tindakan polos anak kecil, melainkan lompatan iman yang revolusioner. Sebuah pengakuan sunyi bahwa terkadang, satu-satunya air yang menyuburkan benih perubahan dalam diri seseorang hanyalah tetes kepercayaan yang dititipkan tanpa syarat, tanpa diminta, bagai hujan bagi tanah yang retak.

     Pikiran manusia kerap terkungkung dalam narasi purba yang memecah belah: hidup sebagai gelanggang gladiator di mana hanya ada satu pemenang yang berdiri di atas puing-puing yang kalah. Mitos persaingan total ini seperti angin yang mengeringkan tanah-tanah subur potensi kerjasama. Melangkah keluar dari penjara pemikiran ini berarti membayangkan bentuk kemenangan yang berbeda, sebuah kemenangan yang tidak mensyaratkan kehancuran pihak lain. Ini bukan tanda kelemahan atau kekurangan ambisi, tetapi justru manifestasi kekuatan batin yang cukup besar untuk tegak berdiri tanpa perlu menginjak jari yang lain. Konsep ‘menang bersama’ mungkin terdengar asing di telinga yang terbiasa dengan dentuman gong kemenangan individual, namun ia mengalir lebih alami dengan arus dasar kemanusiaan yang saling terhubung.

     Di tengah banjir informasi dan monolog yang bersaing memenuhi ruang digital, seni bertanya yang tulus nyaris punah. Pertanyaan sejati bukan sekadar alat untuk menggali data, melainkan benang halus yang menjahit pemisah antara ‘aku’ dan ‘kamu’, jembatan rapuh yang membentang di atas jurang prasangka menuju daratan pengertian. Dunia tidak kekurangan jawaban; ia justru tenggelam dalam samudera retorika dan klaim kebenaran instan. Yang langka adalah keberanian untuk berhenti sejenak, untuk mengajukan pertanyaan dengan telinga yang benar-benar mendengar, dengan hati yang ingin memahami, bukan sekadar menunggu giliran untuk membantah atau memamerkan pengetahuan. Dalam kesunyian yang dihasilkan oleh pertanyaan tulus itulah ruang dialog yang sesungguhnya tercipta.

     Ada bahaya halus dalam samudera perasaan. Empati, jika tak terkendali, bisa menjadi gelombang pasang yang menyeret dan menenggelamkan, membuat seseorang larut dalam samsara emosi orang lain hingga kehilangan pijakan diri sendiri. Welas asih adalah arus yang lebih dalam dan lebih tenang. Ia adalah bentuk cinta yang dewasa, yang memiliki kebijaksanaan untuk mengetahui kapan harus mendekap erat memberikan kehangatan, dan kapan harus mundur selangkah memberi ruang udara bagi yang terluka untuk bernapas dan bangkit dengan kekuatannya sendiri. Tidak setiap luka memerlukan kita untuk merasakan pedihnya secara langsung agar bisa membantu. Seringkali, kehadiran yang tenang dan mantap, pikiran yang jernih mencari solusi, dan hati yang mendengar tanpa menghakimi, lebih berharga dan berdaya penyembuh daripada ikut terhanyut dalam lautan duka yang bukan milik kita.

     Bayangan musuh seringkali hanya siluet yang belum terjamah cahaya pengertian. Di balik benteng opini yang kokoh dan kata-kata tajam yang berseliweran, tersembunyi narasi hidup yang rumit, sejarah pribadi yang penuh lekuk, luka-luka lama yang belum kering, serta harapan-harapan redup yang tak sempat terucap. Memahami bukan berarti menyerahkan bendera prinsip atau menyetujui setiap tindakan. Ia adalah pengakuan jujur bahwa di seberang sana, ada manusia lain dengan cerita hidupnya yang utuh dan kompleks, sama seperti diri sendiri. Barangkali, memahami adalah satu-satunya pisau yang cukup tajam untuk memotong rantai permusuhan abadi, jalan keluar satu-satunya dari labirin di mana manusia saling memaki dalam kabut kebencian yang sama-sama mereka ciptakan dan hirup.

     Dunia ini bukan monumen yang dibangun dari satu kebenaran monolitik, melainkan mosaik rumit yang tersusun dari jutaan keping kebenaran subjektif, saling bersinggungan, bertabrakan, namun juga saling mengisi. Ada cinta membara seorang ibu yang melingkupi anaknya bagai langit, ada kesetiaan sunyi petani yang melebur dengan setiap jengkal tanah yang dirawatnya, ada kerinduan mendalam perantau pada bau bumi dan bunyi lesung di kampung halaman. Jika kedamaian adalah dambaan, maka belajarlah mencintai dengan cara mereka: bukan dengan menafikan cinta orang lain atau menyangkal keberadaan keyakinan mereka, tetapi dengan mengakui, dalam-dalam, bahwa di balik setiap benteng yang dibangun manusia, ada sesuatu yang sangat berharga, sangat pribadi, dan sangat layak untuk dipertahankan dengan segenap jiwa raga. Pengakuan ini adalah fondasi pengertian.

     Hujan deras informasi, terutama yang disebut "berita", seringkali lebih mirip tetesan racun yang meresap perlahan ke dalam sumur kesadaran. Ia membentuk ilusi bahwa dunia hanya dihuni oleh kekejaman dan kebobrokan, bahwa kebaikan telah punah. Padahal, kebaikan jarang menjadi tontonan spektakuler. Ia lebih sering bersembunyi di balik tirai kesederhanaan—terlalu biasa untuk menjadi viral, terlalu sunyi untuk menembus kebisingan algoritma yang haus sensasi. Untuk menemukan kembali kepercayaan pada sesama, kadang yang dibutuhkan bukanlah menelan lebih banyak berita terkini, melainkan melangkah keluar dari layar. Hadir secara fisik di warung kopi tempat tawa dan keluh kesah dibagi tanpa filter, di jalanan yang diramaikan oleh interaksi spontan penanda hidup, di dalam rumah tangga tempat kasih sayang tumbuh subur tanpa panggung atau pujian. Di sanalah denyut kemanusiaan yang sebenarnya berdetak, jauh dari sorotan kamera yang menghakimi.

     Naluri purba kerap berbisik bahwa melawan kebencian memerlukan senjata yang lebih tajam, balas dendam adalah obat mujarab. Namun, logika ini adalah lingkaran setan yang menggerus jiwa. Bagaimana jika dengan membalas, kita hanya menjadi bayangan cermin dari yang kita benci, kehilangan wajah asli kita sendiri? Dunia yang letih ini tidak memerlukan lebih banyak pukulan atau teriakan kebencian. Yang ia rindukan adalah keberanian yang langka—keberanian untuk tidak membalas, untuk tetap mempertahankan keluhuran budi di tengah hujan rintik provokasi. Kemenangan apa pun yang dicapai dengan mengorbankan kemanusiaan diri sendiri, pada akhirnya hanyalah kekalahan yang paling getir, kemenangan yang hampa.

     Ada yang menyembunyikan kebaikan bagai aib, menyumbang diam-diam karena takut dicap sok suci. Ada yang memakai topeng ketidakpedulian karena takut diolok-olok sebagai orang naif yang ketinggalan zaman. Cahaya kebaikan bukanlah noda yang harus ditutupi. Jika dunia menyipitkan mata, mempermalukan niat tulus yang kau bawa, itu bukan karena kesalahan pada cahayamu. Itu karena dunia itu sendiri sedang silau, kebingungan menyambut terang setelah terlalu lama berkubang dalam bayang-bayang sinisme yang dianggap sebagai kecerdasan. Berdiri tegak dengan niat baik adalah pemberontakan paling elegan di zaman yang memuja sinis.

     Realisme sering kali disempitkan menjadi sinisme yang getir atau kepasrahan tumpul pada status quo yang pahit. Menjadi realistis sejati justru berarti memiliki mata yang berani memandang potensi, hati yang percaya pada kemungkinan. Pada inti terdalamnya, manusia adalah makhluk yang mendambakan jalinan, yang ingin mencintai dan dicintai, diakui dan memahami. Ketika kelelahan menyeret karena beratnya dunia, mungkin yang perlu dirombak bukanlah idealisme yang menjadi kompas batin, melainkan kacamata buram yang kita pakai untuk memandang realitas. Sangat mungkin, harapan yang kita pegang erat itu, keyakinan pada kebaikan dasar manusia, jauh lebih masuk akal dan lebih dekat dengan kebenaran kodrati daripada semua pesimisme yang dikemas apik dan dijual sebagai 'kearifan duniawi' atau 'pengalaman hidup yang matang'.

     Zaman ini bergerak dalam ironi yang pedih. Kabar kehancuran, skandal, dan bencana dijajakan laksana permen warna-warni, sementara kisah harapan dan ketekunan tersingkir ke pojok gelap. Niat baik dicurigai bagai musuh terselubung, empati dianggap kelemahan yang memalukan. Algoritma-algoritma cerdas mengklaim mengenali selera, kebiasaan, bahkan keinginan terdalam kita lebih cepat dan lebih akurat daripada sahabat lama. Namun, pengetahuan mereka hanyalah pantulan dangkal dari pola dan angka, potret datar yang tak pernah menyentuh samudera kompleksitas, kerinduan, dan paradoks yang menggelora dalam jiwa manusia. Di tengah kalkulasi untung-rugi yang menjadi altar baru penyembahan, memilih menjadi manusia seutuhnya adalah tindakan paling radikal. Bukan demi kebodohan yang polos, melainkan demi keutuhan yang direnggut. Karena barangkali, satu-satunya jalan keluar dari labirin saling curiga yang kita bangun dengan susah payah adalah dengan kembali merangkul benang merah yang paling mendasar: memilih kemanusiaan, bukan sebagai konsep usang, melainkan sebagai tindakan hidup yang sadar, berani, dan pada akhirnya, membebaskan. Di tengah dentang mesin yang kian keras, suara hati yang manusiawi adalah musik revolusi yang sepi namun tak terbungkam.


dari penggalan buku: HumankindRutger Bregman

Proyek Genting Sebagai Human

     Kita berdiri di sini, di tengah gemuruh zaman, sedang bertahan tanpa kehilangan tujuan, bagai pelaut kuno yang menatap bintang di langit yang gelap gulita, berpegang pada kompas yang kadang bergetar liar. Tujuan itu, bagaimanapun, bukan pelabuhan akhir yang megah, melainkan lebih mirip cahaya samar di kejauhan yang terus bergerak, memanggil kita untuk melangkah, meski kaki lelah dan jalanan licin oleh keraguan. Kita bukan makhluk yang selesai, bukan patung marmer yang kaku dalam museum keabadian. Kita adalah proyek yang selalu genting, bangunan yang belum selesai, yang kerangkanya berderit ditiup angin perubahan, yang fondasinya kadang diuji gempa dahsyat ketidakpastian. 

     Jean-Paul Sartre, dalam bisikan eksistensialisnya yang tajam, menegur kita dengan lembut sekaligus menggigit: janganlah menyandarkan kesalahan pada takdir yang kejam, pada masa lalu yang membelenggu, atau pada dunia yang seolah acuh tak acuh. Makna hidup, katanya, bukanlah warisan yang diantarkan ke depan pintu, melainkan pilihan yang kita rangkai sendiri, butir demi butir, dalam setiap tarikan napas dan keputusan kecil yang seringkali terasa remeh. Pilihan-pilihan itulah batu bata proyek genting kita, yang menentukan apakah kita hanya akan menjadi reruntuhan atau candi yang meski retak, tetap menjulang.

     Ada hari-hari ketika langit terasa terlalu tinggi, dunia terlalu luas dan berisik, sementara kita merasa kecil, sangat kecil, seperti debu yang tersapu angin, suara yang tenggelam dalam paduan suara kosmik yang kacau. Rasanya tak ada yang mengerti, tak ada telinga yang cukup peka untuk mendengar gemuruh sunyi dalam diri. Namun, di tengah rasa terasing yang menusuk itu, ingatan akan Anne Frank menyelinap masuk bagai seberkas cahaya dari celah loteng rahasia. Bayangkan kegelapan yang menyesak, ruang sempit yang menyimpan napas ketakutan, namun di sanalah jiwa seorang gadis muda tumbuh subur, merambat ke atas mencari cahaya, mengalir deras ke dalam halaman-halaman buku hariannya yang polos. 

     Itulah keajaiban yang menggetarkan: bahkan dalam sangkar yang paling mencekam, selama masih ada secarik kertas untuk ditulisi, secercah tinta untuk mengabadikan kerinduan dan mimpi, jiwa manusia menemukan jalan untuk bersinar, membuktikan bahwa ruang batin jauh lebih luas dari tembok mana pun. Cahaya itu tak selalu gemerlap; seringkali ia hanya bisikan samar, suara yang tersembunyi dalam keroncongan perut yang lapar atau dalam lipatan surat yang tak kunjung sampai, surat-surat yang berisi curahan hati yang tak terbaca, nasib yang terkatung-katung dalam ketidakpastian pos.

     Kehidupan, sungguh, jarang berteriak-teriak menyatakan dramanya. Ia lebih sering berbisik, menyampaikan kisah pilunya melalui bahasa yang halus namun menusuk: derit lantai kayu di rumah tua, tatapan kosong di keramaian pasar, atau kesenyapan panjang setelah pertanyaan tak terjawab. Dunia Dostoevsky dalam Poor Folk mengajak kita menyelami samudra kesunyian ini, lautan cinta yang diekspresikan bukan dengan kata-kata manis, melainkan dengan pengorbanan diam-diam, penderitaan yang ditanggung dengan penuh kesopanan seolah-olah itu adalah pakaian terbaik yang mereka miliki. 

     Di sana, di antara manusia-manusia kecil yang nyaris tak terlihat, tersimpan api mimpi yang membandel. Mereka, para penghuni ceruk tak bernama itu, tahu dunia jarang berpihak, tahu nasib seringkali kejam bagai musim dingin Rusia, namun hati mereka tetap menghangatkan harapan, meski hanya harapan untuk sepasang sepatu baru atau secangkir teh hangat yang dibagi. Kekuatan mereka terletak pada ketekunan yang sunyi, pada keberanian untuk tetap bermimpi di tengah kenyataan yang pahit – sebuah satir halus terhadap dunia yang mengagungkan gemerlap dan sukses gemuruh, seolah melupakan keindahan yang tumbuh di celah-celah kesederhanaan.

     Kita menyentuh dunia ini, tentu saja, bukan hanya dengan ujung jari yang meraba permukaan benda-benda. Sentuhan yang lebih dalam, yang meninggalkan bekas pada jalinan realitas, terjadi melalui batin, melalui resonansi jiwa yang merasakan getaran di balik wujud. Bi Feiyu, dalam Massage, membawa kita ke dunia gelap yang justru memancarkan penglihatan yang luar biasa. Sunyinya para tuna netra itu bukanlah kekosongan, melainkan ruang resonansi yang peka, di mana mereka melihat bukan dengan mata yang tertutup, melainkan dengan hati yang terbuka lebar. 

     Mereka meraba dunia bukan hanya untuk mengenali bentuk, tetapi dengan keberanian yang mengagumkan untuk memahami esensi, untuk menemukan makna di balik kegelapan yang dipaksakan. Mereka tak diberi kemewahan cahaya matahari, namun tak pernah berhenti mencari sumber cahaya lain – cahaya kasih, cahaya ketekunan, cahaya dari bunyi langkah kaki yang dikenali atau sentuhan hangat tangan yang memahami. Di sinilah ironi besar terungkap: mereka yang dianggap 'kekurangan' justru mengajarkan kita tentang kelimpahan persepsi, tentang cara 'melihat' yang lebih utuh, sebuah satir elegan terhadap kita yang bermata jernih namun seringkali buta batin, tersesat dalam gemerlap ilusi.

     Di tengah kebisingan pendapat yang saling tumpang tindih, hiruk-pikuk teori yang berkoar-koar layaknya pasar malam intelektual, kadang yang kita rindukan bukanlah wacana rumit yang berputar-putar di awang-awang. Yang kita butuhkan adalah suara yang masuk akal, teriakan waras yang mampu menembus kabut kebodohan kolektif. Common Sense Thomas Paine bukan sekadar pamflet politik tua; ia adalah dentuman kesadaran, sebuah seruan untuk berhenti mengikuti arus buta kekuasaan dan dogma. 

     Paine mengingatkan kita, dengan nada yang bisa jadi satir di zamannya (dan masih relevan hingga kini), bahwa akal sehat bukanlah hadiah bawaan lahir yang sempurna. Ia adalah tanaman yang harus disirami, yaitu dengan keberanian untuk berhenti ikut-ikutan, untuk mempertanyakan narasi yang dipaksakan, untuk berdiri tegak di atas kaki pikiran sendiri di tengah kerumunan yang sedang menari mengikuti irama gendang yang tak jelas. Kekuatan sejati, tampaknya, seringkali terletak pada keberanian untuk tidak melakukan sesuatu – untuk tidak terjerat dalam jebakan pikiran yang justru meruntuhkan kita dari dalam.

     Kita pun, dalam proyek genting kita ini, sering terobsesi dengan pertanyaan besar: apa takdir kita? Ke mana arah peta kosmis ini membawa? Namun, kita jarang berhenti sejenak untuk bertanya pada diri sendiri: mengapa kita begitu gigih, begitu haus, untuk menjelaskan takdir itu? Jonathan Black, dalam The Sacred History, membawa kita bukan pada kronologi fakta yang kering, tetapi pada sebuah perjalanan melalui kisah-kisah besar yang bersifat simbolik, mitos-mitos yang mengandung kesunyian kosmik yang merenungkan asal-usul dan tujuan. 

     Kesunyian itulah yang membuat kita merenung dalam-dalam: mungkin hakikat kita bukan sekadar makhluk sosial yang berinteraksi di pasar dan kantor. Kita adalah makhluk simbolik yang tak henti-hentinya mencari arti, merajut narasi, mencoba memahami diri kita dalam cermin besar alam semesta yang seringkali membingungkan. Setiap mitos, setiap ritual, setiap karya seni, adalah usaha kita yang genting dan indah untuk menuliskan puisi panjang tentang keberadaan kita, untuk menemukan pola dalam kekacauan, untuk merasa 'dirumahkan' dalam kehampaan yang luas. Proyek genting kita adalah proyek pemberian makna.

     Bayangkan sejenak: kita seperti alien yang baru turun dari wahana antariksa, berdiri kikuk di permukaan planet biru ini, mata membelalak menyaksikan kekacauan sekaligus keindahan yang disebut 'manusia'. Apa yang pertama akan kita pelajari? Matt Haig, dalam The Humans, membalikkan sudut pandang dengan cerdas dan penuh kehangatan satir. Melalui mata seorang alien yang belum terkontaminasi oleh 'logika sosial' kita yang seringkali absurd, kita disuguhkan panorama kemanusiaan yang menakjubkan sekaligus menggelikan. Kita melihat bagaimana ritual minum teh bisa menjadi upacara perdamaian, bagaimana tangisan bisa menjadi ungkapan sukacita yang terdalam, bagaimana kekonyolan mencintai, berkeluarga, dan mengejar kebahagiaan yang tak jelas bentuknya, ternyata adalah hal yang luar biasa ajaib. 

     Dari ketinggian perspektif alien yang masih murni itu, kita tiba-tiba tersadar: betapa luar biasanya menjadi manusia! Betapa mengagumkan kemampuan kita untuk mencintai, menderita, mencipta, dan tertawa, meskipun dalam keseharian kita sering merasa justru sebaliknya – terjebak dalam rutinitas yang membosankan dan drama kecil yang melelahkan. Ini adalah satir yang membangunkan: keajaiban ada di depan mata, hanya saja kita terlalu terbiasa sehingga menjadi buta.

     Dan di tengah semua pencarian, pertanyaan, dan keajaiban yang terasa genting ini, kita belajar tentang kekuatan. Kekuatan itu seringkali kita bayangkan sebagai benteng baja, sikap tak tergoyahkan, raut wajah yang tak berkerut sedikitpun di bawah tekanan. Amy Morin, dalam 13 Things Mentally Strong People Don't Do, justru menawarkan kearifan yang berbeda, bahkan kontra-intuitif. Ia tidak sekadar memberi daftar cara bertahan seperti tentara di medan perang. Ia mengajak kita untuk berhenti menyiksa diri sendiri atas nama ilusi 'kekuatan' itu. Kekuatan mental yang sejati, menurutnya, seringkali terletak pada pengakuan jujur akan kerapuhan, pada keberanian untuk tidak terus-menerus menuntut diri menjadi superman atau superwoman yang tak boleh menangis, tak boleh lelah, tak boleh menunjukkan celah. 

     Karena, sungguh, luka terdalam seringkali bukan berasal dari panah musuh atau badai dunia luar. Luka yang paling menyakitkan dan menggerogoti justru berasal dari suara dalam diri sendiri – suara kritik yang kejam, tuntutan kesempurnaan yang tak manusiawi, bisikan bahwa menunjukkan kelemahan adalah aib terbesar. Satir halusnya terasa: kita membangun penjara batin dengan kunci bernama 'harus kuat', lalu mengurung diri di dalamnya sambil menyebutnya benteng. Kekuatan sejati adalah membebaskan diri dari penjara itu.

     Maka, proyek genting kita – manusia yang belum selesai, yang berdiri di antara cahaya dan bayangan, antara pemahaman dan kebingungan – terus berlangsung. Kita bertahan, bukan dengan mengeras menjadi batu, tetapi dengan kelenturan jiwa yang belajar dari Anne Frank, dari ketekunan diam manusia kecil Dostoevsky, dari 'penglihatan' batin para tuna netra Bi Feiyu. Kita menemukan makna bukan dengan menunggu takdir yang jelas, tetapi dengan berani memilih seperti pesan Sartre, didasari akal sehat waras Paine, dan diilhami oleh pencarian simbolik akan Yang Suci. Kita menemukan keajaiban menjadi manusia dengan sesekali melihat diri seperti alien penuh rasa ingin tahu ala Haig, dan menemukan kekuatan sejati bukan pada ketangguhan semu yang merobek diri, tetapi pada kelembutan untuk menerima diri secara utuh seperti ajaran Morin. 

     Proyek genting ini adalah tarian di tepi jurang makna, sebuah narasi yang terus ditulis dengan tinta rintihan dan air mata, tawa dan renungan, di halaman-halaman buku kehidupan yang tak pernah benar-benar selesai, namun selalu berusaha menangkap cahaya, meski hanya secercah. Kita terus menulis, terus memilih, terus meraba dalam gelap dan terkagum pada cahaya, terus bertahan tanpa kehilangan tujuan, karena dalam kegentingan itulah justru letak keindahan dan keunikan proyek bernama manusia.

     Di suatu pagi di negeri yang langitnya seringkali berwarna kelabu, kabut tipis menyapu jalan-jalan batu yang licin oleh hujan semalam. Sepeda-sepeda kecil bersandar di pagar kayu, rantainya berderik pelan ditiup angin. Anak-anak melangkah keluar rumah dengan sepatu bot karet yang menggemeresik di atas genangan, jaket kuning mereka seperti kunang-kunang yang bergerak pelan di antara rumah-rumah bergaya Tudor. Tak ada teriakan "Cepat, nanti terlambat!", tak ada tangan dewasa yang menarik lengan mereka untuk mempercepat langkah. Mereka berjalan dalam tempo kanak-kanak: terkadang berhenti untuk mengamati cacing yang merayap di trotoar, terkadang tertawa melihat bayangan sendiri yang terpantul di lopak air. Di sekolah, guru-guru tidak mengejar target kurikulum, tetapi menunggu. Menunggu sampai setiap anak selesai mengikat tali sepatu sendiri, sampai mereka siap membuka buku—bukan karena terpaksa, tapi karena ingin tahu.

     Di tempat lain, di kota yang mataharinya terik dan jalanannya dipadati motor yang mengklakson tak sabar, seorang ibu muda berdiri di depan lemari penuh seragam sekolah. Tangannya memegang jadwal les anaknya: Senin matematika, Selasa coding, Rabu renang, Kamis bahasa asing. Di laci bawah, tersembunyi lukisan anaknya yang belum selesai—gambar rumah dengan asap meliuk dari cerobong, dikerjakan tiga bulan lalu lalu terlupakan. "Ini demi masa depanmu," bisiknya setiap kali melihat si kecil mengantuk di kursi mobil sepulang les malam. Tapi di sudut hatinya, ada suara yang lebih halus: "Apa yang sebenarnya kita kejar?"

     The Happiest Kids in the World—buku yang ditulis oleh dua ibu yang membesarkan anak di Belanda—seperti cermin yang memantulkan paradoks modern: semakin keras kita berusaha membuat anak "bahagia", semakin sering kita menggantikan kebahagiaan itu dengan daftar pencapaian. Di negeri kincir angin itu, anak-anak tidak diukur dari seberapa cepat mereka membaca, tapi dari seberapa leluasa mereka mengeksplorasi rasa ingin tahu. Di sekolah dasar, meja-meja kayu seringkali dipindahkan ke sudut ruangan untuk memberi tempat pada permainan peran tentang kehidupan nelayan atau dokter. Saat hujan, anak-anak justru diajak keluar: menghitung tetesan air yang jatuh di daun, atau mengejar bayangan mereka sendiri di antara rintik. Bagi mereka, belajar bukanlah lomba lari estafet, melainkan proses menyemai benih—diam-diam, tanpa perlu terburu memetik.

     Di sebuah gang sempit di ibu kota, seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun duduk di lantai kamar mandi, menatap air yang menggenang di ember. "Ayo, cepat mandi! Nanti les piano mulai!" teriak ibunya dari luar. Tapi ia masih asyik menjatuhkan mainan kapalnya ke genangan, memperhatikan bagaimana gelombang kecil itu menyentuh tepi ember. Di Belanda, seorang anak seusianya mungkin sedang berlari di tepi kanal, melemparkan batu ke air sambil menghitung berapa loncatan yang dibuat riaknya. Orang tuanya tidak khawatir ia akan jatuh—yang mereka lihat adalah bagaimana ia belajar memahami gravitasi, kecepatan, dan kesabaran, melalui percobaan yang tak tertulis di buku teks.

     Malam hari, di rumah-rumah yang jendelanya masih terang oleh lampu belajar, orang tua di sini memeriksa pekerjaan rumah anak-anak sambil menyiapkan presentasi kantor untuk esok hari. Di Belanda, jam delapan malam adalah waktu ketika rumah-rumah mulai meredupkan lampu. Anak-anak tidur nyenyak tanpa mimpi tentang ujian, sementara orang tuanya duduk di ruang tamu membaca novel atau mengobrol tentang hari mereka. Bukan karena tidak peduli pada pendidikan, tapi karena mereka percaya: otak yang lelah tidak akan menyerap pengetahuan. Seorang guru di Rotterdam pernah berkata, "Kami tidak membangun istana dari kertas ujian, tapi mengajak anak-anak menyentuh tanah tempat istana itu berdiri."

     Di sudut lain dunia, seorang remaja perempuan menatap layar ponselnya hingga larut. Jarinya menggulir foto-foto teman sekelas yang pesta ulang tahunnya meriah, sementara ia sendiri belum menyelesaikan laporan biologi. Ibunya mengetuk pintu: "Sudah belajar untuk tes besok?" Tapi pertanyaan yang sebenarnya ingin diajukan sang ibu—"Apa yang membuatmu bahagia hari ini?"—terkubur di balik daftar tugas yang menumpuk. Di Belanda, percakapan meja makan seringkali dimulai dengan pertanyaan sederhana: "Apa hal paling menarik yang kamu alami hari ini?" Seorang remaja mungkin bercerita tentang temannya yang curhat soal pacar, atau rencananya membuat podcast tentang hobi membuat komik. Orang tua mendengar, tertawa, dan sesekali berbagi cerita masa muda mereka—tanpa pretensi menjadi sumber kebijakan.

     Ada sebuah kisah tentang pohon apel di halaman sekolah desa di provinsi Utrecht. Setiap musim gugur, anak-anak berkumpul memetik buah yang jatuh, lalu bersama-sama membuat pai di dapur sekolah. Guru tidak memberi nilai pada pai itu—tidak ada yang "A" atau "C". Yang ada adalah percakapan tentang mengapa apel yang terlalu tinggi di pohon sulit dipetik, atau bagaimana gula mengubah rasa buah asam. Sementara di sini, di laboratorium sekolah berstandar internasional, seorang siswa SMA mendapat teguran karena eksperimen kimianya "melenceng dari panduan". Padahal, di tabung reaksinya, ada reaksi tak terduga yang bisa jadi pintu penemuan baru.

     Tapi buku ini tidak sedang menggambarkan surga. Di Belanda juga ada anak-anak yang menangis karena diremehkan teman, orang tua yang khawatir tentang biaya hidup, atau remaja yang frustrasi dengan aturan keluarga. Perbedaannya adalah: kecemasan itu tidak dijadikan bahan bakar untuk mendorong anak lebih keras. Seorang ibu di Amsterdam bercerita, "Kami tidak takut jika anak kami memilih sekolah kejuruan alih-alih universitas. Yang penting ia tahu apa yang membuatnya bangun pagi dengan semangat." Sementara di sini, di ruang konseling sekolah elit, seorang siswa kelas 9 berkata, "Aku tidak tahu mengapa aku harus jadi dokter. Tapi semua orang di keluarga sudah bilang itu jalan terbaik."

     Mungkin kuncinya ada pada kata yang sering dilupakan: percaya. Di tepi sebuah danau di Frisia, seorang ayah mengajari anaknya berenang dengan cara melepas pelan-pelan genggamannya pada pelampung. "Ayah di sini," katanya, tetap berdiri di air yang setinggi dada, membiarkan anaknya mengayuh kaki sendiri. Di sini, di kolam renang berpemanas yang penuh dengan pelampung berbentuk unicorn dan dinosaurus, seorang pelatih berteriak: "Gerakkan tangan lebih cepat! Kamu ketinggalan dari yang lain!"

     Pada akhirnya, The Happiest Kids in the World mengajak kita merenungkan arti "cukup". Di negeri tempat buku ini ditulis, "cukup" berarti memberhentikan diri dari obsesi mengisi setiap detik anak dengan aktivitas. Di teras rumah seorang nenek di Groningen, ada bangku kayu yang catnya sudah mengelupas. Setiap sore, cucunya duduk di sana, kadang mengobrol tentang mengapa bunga matahari selalu menghadap matahari, kadang diam saja sambil memandang sapi-sapi di padang sebelah. Tidak ada yang dianggap membuang waktu—karena diam pun adalah cara belajar.

     Di sini, di antara gedung-gedung pencakar langit yang memantulkan cahaya lampu neon, seorang anak kecil menunjuk ke langit dan bertanya, "Ibu, bulan kenapa terlihat dekat sekali?" Sang ibu, sambil tetap mengetik di ponsel, menjawab singkat: "Nanti kita cari di YouTube, ya." Ia tidak sadar bahwa momen itu bisa jadi percakapan tentang ilusi optik, mitologi, atau puisi—sebuah kesempatan yang hanyut dalam kesibukan.

     Buku ini mungkin adalah pengingat bahwa kebahagiaan anak-anak tidak memerlukan teori parenting mutakhir, melainkan keberanian untuk melambat. Seperti petani yang tahu persis kapan harus menanam dan kapan harus membiarkan tanah beristirahat. Di suatu senja di desa tepi hutan, seorang anak perempuan berdiri di atas jembatan kayu, melemparkan dedaunan kering ke sungai. Ia menatap daun-daun itu hanyut, lalu berlari ke ibunya yang sedang duduk di bangku: "Ma, lihat! Daun itu kayak perahu!" Sang ibu tidak buru-buru mengoreksi: "Bukan, daun kan bukan perahu." Ia malah tersenyum: "Coba ceritakan, seperti apa perahunya?"

     Di situlah letak sihirnya: ruang untuk imajinasi yang tidak dipotong oleh koreksi, waktu yang tidak dipenggal oleh jadwal, dan kepercayaan bahwa kebahagiaan bukan tujuan yang harus dicapai dengan lari sprint—melainkan sesuatu yang mengendap pelan, seperti teh yang diseduh dengan air hangat, bukan air mendidih.

     Mungkin kita perlu bertanya: Apakah kita sedang membangun anak-anak, atau sedang membangun menara pencapaian yang kita sendiri tidak yakin ujungnya? Di bawah langit yang sama, di suatu tempat, ada anak yang tertidur pulas dengan baju berlumpur, sementara di tempat lain, ada anak yang terjaga karena cemas akan nilai ujian. Keduanya bernapas, tapi hanya satu yang merasa waktu adalah sekutu, bukan musuh yang mengejar.

     The Happiest Kids in the World tidak datang dengan jawaban, tapi dengan wewangian yang mungkin sudah asing bagi kita: aroma kesabaran. Seperti aroma tanah setelah hujan pertama musim semi—menjanjikan pertumbuhan, asal kita mau menunggu.


UNICEF menilai bahwa anak-anak Belanda adalah yang paling bahagia di dunia. Sebuah pernyataan yang tak hanya menggugah rasa ingin tahu, tapi juga membangkitkan perenungan yang mendalam tentang cara kita memaknai kebahagiaan masa kecil. Rina Mae Acosta dan Michelle Hutchison, dua perempuan yang membesarkan anak di Belanda, menuliskannya dalam buku The Happiest Kids in the World.

     Dalam perjalanan yang makin senyap seiring usia bertambah, kita mulai paham bahwa kedewasaan bukan pesta kembang api yang meledak di langit diri. Ia lebih mirip naskah tua yang harus dibaca perlahan, dengan jari menyusuri setiap kalimatnya, kadang berhenti bukan karena tak mengerti, tetapi karena tersentuh. Wajah bisa bercahaya oleh perawatan terbaik, namun cahaya yang bertahan lama lahir dari batin yang tak lagi mudah terbakar. Di wilayah batin itulah Daniel Goleman pernah menyalakan lentera: kecerdasan emosional bukan soal menjadi dingin, melainkan mampu memeluk badai tanpa hancur olehnya. Dari situ kita belajar, damai bukan keadaan tanpa gelombang, tetapi kemampuan berenang tanpa panik.

     Ketika hati mulai tenang, relasi pun berubah wajah. Persahabatan tak lagi kita tuntut sebagai keseragaman, melainkan kita syukuri sebagai perbedaan yang saling setia. Ada semacam kebijaksanaan kuno dalam gagasan Aristotle tentang philia—ikatan yang tumbuh dari kebajikan, bukan sekadar kesenangan. Dan dalam kisah Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe, kita melihat bagaimana keheningan dua jiwa kadang lebih fasih daripada pidato panjang. Sahabat sejati tak memantulkan bayangan kita; ia menjaga nyala ketika kita sendiri hampir padam. Seperti akar-akar yang tak terlihat, ia bekerja dalam diam, menopang tanpa meminta sorot lampu.

     Dari persahabatan, kita bergerak ke wilayah yang lebih rapuh: cinta. Erich Fromm menyebutnya sebagai seni—dan seperti seni apa pun, ia menuntut latihan, disiplin, dan keberanian untuk gagal. Cinta bukan soal memiliki, melainkan menumbuhkan. Kadang kejujuran terasa seperti membuka jahitan lama yang belum benar-benar sembuh, namun tanpa itu, relasi hanya menjadi dekorasi. Novel Normal People memperlihatkan betapa jarak dan diam bisa lebih menyayat daripada perpisahan terang-terangan. Maka kita pelan-pelan mengerti: cinta dewasa bukan panggung yang mencari tepuk tangan, tetapi ruang kerja sunyi di mana dua orang bersedia belajar ulang tentang diri mereka sendiri.

     Dan ketika relasi-relasi itu kita jalani, makna rumah pun berubah. Ia tak lagi sekadar bangunan dengan alamat tetap. Rumah adalah rasa aman yang membuat kita berani menanggalkan topeng. Dalam The Secret Garden, taman yang terlupakan menjadi lambang ruang batin yang bisa dipulihkan. Begitu pula diri kita: di antara reruntuhan luka, selalu ada kemungkinan menanam kembali. Kadang rumah itu hadir dalam pelukan, kadang dalam tatapan yang tak menuntut penjelasan. Ia bukan titik di peta, melainkan keadaan di mana kita diterima tanpa perlu mengedit diri.

     Namun dunia di luar rumah sering tak seramah itu. Dunia kerja modern bergerak cepat, berkilau, dan sering kali kosong di dalam. David Graeber membongkar absurditas pekerjaan-pekerjaan yang kehilangan makna, sementara Viktor Frankl mengingatkan dari kedalaman penderitaan bahwa manusia bisa bertahan bukan karena kenyamanan, melainkan karena arti. Kita mungkin tak berada di kamp konsentrasi, tetapi kelelahan eksistensial juga nyata. Ada hari-hari ketika keberanian terbesar hanyalah bangun, mandi, dan tetap melangkah. Di situ kedewasaan diuji: apakah kita bekerja untuk hidup, atau hidup untuk terus bekerja tanpa tahu mengapa.

     Tubuh lalu ikut bersuara. Ia tak bisa terus-menerus dipaksa mengikuti ambisi. Dalam kritiknya terhadap distraksi digital, Cal Newport mengajak kembali pada fokus dan ritme yang lebih manusiawi. Kita mulai sadar, napas dalam yang sederhana kadang lebih revolusioner daripada target yang tercapai. Tidur siang yang dulu dianggap kemalasan berubah menjadi bentuk kasih pada diri sendiri. Tubuh bukan mesin; ia mitra perjalanan yang setia, dan kedewasaan berarti mendengarkannya sebelum ia berteriak.

     Kesadaran itu membawa kita pada satu sikap yang makin langka: memilih diam. Di zaman ketika segala hal dipertontonkan, menahan diri adalah bentuk kekuatan. George Orwell telah lama mengingatkan tentang bahaya dunia yang terlalu lapar mengawasi, sementara Epictetus mengajarkan bahwa yang bisa kita kendalikan hanyalah respons kita sendiri. Tidak semua debat perlu dimenangkan. Tidak semua komentar perlu dibalas. Ada kemenangan yang tak terdengar tepuk tangannya—kemenangan atas ego sendiri.

     Di tengah hiruk pikuk itu, sentuhan tulus menjadi semakin berharga. Bell Hooks menulis tentang cinta sebagai tindakan, bukan sekadar perasaan. Dunia boleh mengukur nilai dengan angka, tetapi pelukan tak bisa diubah menjadi statistik. Novel Life for Sale menyindir ilusi bahwa segalanya dapat diperjualbelikan. Kita pun makin sadar: ada hal-hal yang tak tunduk pada logika pasar—makna, kehadiran, dan rasa cukup.

     Akhirnya, kedewasaan adalah keberanian menjadi diri sendiri, bahkan ketika arus mengarah sebaliknya. Jean-Paul Sartre pernah menegaskan bahwa manusia dibentuk oleh pilihannya. Dalam The Old Man and the Sea, nelayan tua itu tak diukur dari hasil tangkapannya, melainkan dari kegigihan dan martabatnya menghadapi laut. Barangkali demikian pula hidup: bukan soal seberapa besar hasil yang kita bawa pulang, tetapi bagaimana kita berdiri saat ombak mencoba merobohkan.

     Pada ujungnya, kedewasaan bukan tujuan yang dicapai lalu selesai. Ia proses yang terus bergerak, kadang maju, kadang tersandung. Setiap luka yang disembuhkan, setiap relasi yang dirawat, setiap diam yang dipilih dengan sadar, adalah kelopak yang membentuk kebijaksanaan. Bukan kebijaksanaan yang sempurna dan tak bercela, melainkan yang retak namun jujur. Dan mungkin di sanalah kita menemukan ketenangan: bukan karena hidup menjadi mudah, tetapi karena kita akhirnya cukup lapang untuk menerimanya apa adanya.

     Fajar menyelinap perlahan di punggung gunung, membasuh lanskap dengan kilauan keemasan. Di saat itu, kamera DSLR menjadi lebih dari sekadar alat, ia menjelma menjadi medium yang membekukan keabadian dalam sekejap. Setiap klik adalah dialog sunyi dengan alam, upaya merekam bukan hanya apa yang terlihat, tetapi juga apa yang dirasakan. Dalam keheningan puncak, di mana angin membawa bisikan pohon-pohon, fotografi menjadi perpanjangan dari kesadaran. Ini adalah cara untuk mendengarkan cerita yang tidak diucapkan, baik oleh pegunungan yang gagah maupun oleh wajah-wajah yang lelah namun penuh harapan.

     Sebagai seorang pendaki gunung, perjalanan ke puncak bukanlah sekadar pencapaian fisik. Setiap langkah adalah penziarahan, setiap nafas adalah pengingat akan keterbatasan dan ketangguhan manusia. Dalam perjalanan ini, kamera menjadi saksi bisu dari keterhubungan antara manusia dan alam. Lanskap gunung yang megah, dihiasi kabut yang melayang, berbicara tentang kekekalan, sementara ekspresi teman-teman pendakian menceritakan kisah keberanian, keraguan, dan sukacita yang universal. Memotret mereka adalah menangkap momen-momen di mana kejujuran manusia berpadu dengan keagungan alam.

     Keputusan untuk tetap setia pada kamera DSLR di era ponsel cerdas yang serba canggih adalah lebih dari sekadar pilihan teknis. Itu adalah pernyataan filosofi. DSLR menawarkan kendali penuh atas cahaya, ruang, dan waktu, memungkinkan eksplorasi mendalam terhadap apa yang tidak kasat mata. Dengan kamera ini, lanskap dan wajah menjadi lebih dari sekadar objek; mereka adalah subjek yang memiliki jiwa. Di sinilah perbedaan antara foto dan sekadar gambar. Sebuah foto adalah cerminan dari apa yang ada di balik lensa, apa yang ada di dalam hati fotografer.

     Lanskap gunung memiliki ritmenya sendiri. Waktu bermain dengan warna dan bayangan, menciptakan momen-momen singkat yang begitu cepat berlalu. Golden hour dan blue hour, saat-saat di mana cahaya mengungkapkan keajaiban tersembunyi, adalah hadiah bagi mereka yang bersedia menunggu. Namun, menangkap wajah manusia membutuhkan jenis kesabaran yang berbeda, jenis kepekaan yang hanya dapat diasah melalui pengalaman. Candid adalah seni memahami tanpa mengganggu, seni menangkap kejujuran yang sering kali bersembunyi di balik kesadaran. Kamera DSLR, dengan kecepatannya yang andal dan kemampuannya menangkap detail, menjadi sekutu terbaik dalam mengejar momen-momen ini.

     Namun, fotografi di gunung bukanlah sekadar soal teknik atau alat. Ini adalah bentuk meditasi, cara untuk terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Ketika sebuah foto berhasil menangkap kilauan embun di dedaunan, pancaran matahari di puncak, atau senyuman seorang teman yang tidak disengaja, itu lebih dari sekadar gambar. Itu adalah bukti dari keberadaan, momen di mana manusia, alam, dan waktu menyatu dalam harmoni.

     Dan di sinilah keajaiban sejati terletak. Foto-foto ini, meski diam dan tidak bergerak, berbicara dalam bahasa yang melampaui kata-kata. Lanskap gunung yang megah berbicara tentang kebesaran alam semesta, sementara wajah-wajah teman pendakian mengingatkan bahwa di tengah kebesaran itu, ada kehangatan, persahabatan, dan kemanusiaan. Mereka adalah pengingat bahwa hidup adalah campuran antara yang monumental dan yang intim, antara yang kekal dan yang sementara.

     Setiap perjalanan mendaki gunung adalah kesempatan untuk belajar, untuk mendengarkan, untuk melihat. Kamera, dalam konteks ini, menjadi jendela sekaligus cermin. Melalui lensa, dunia dilihat dengan mata yang lebih tajam, dan diri dipahami dengan cara yang lebih mendalam. Fotografi tidak hanya merekam perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin, jejak yang tidak hanya tertinggal di gunung, tetapi juga di dalam hati.

     Dalam lanskap gunung dan wajah-wajah yang bicara, ada kisah yang tidak akan pernah selesai diceritakan. Setiap klik adalah upaya untuk menangkap serpihan dari kisah itu, untuk menyimpan secuil keajaiban yang, meski sementara, memiliki daya tahan yang abadi. Dan di sanalah letak makna sejati fotografi bagi seorang pendaki gunung: bukan sekadar membekukan waktu, tetapi memberi hidup pada momen-momen yang telah berlalu.





     Menikmati secangkir kopi di puncak gunung, di tengah hutan tropis yang berkabut, sepertinya lebih dari sekadar ritual. Itu adalah meditasi, sebuah perayaan kecil untuk hidup yang sederhana tetapi penuh makna. Dalam setiap seduhan kopi tubruk, ada cerita yang melekat pada butiran bubuknya, pada air panas yang membawanya hidup, dan pada aroma yang menyebar seperti mantra, membawa kehangatan ke dalam jiwa yang mungkin sudah lelah oleh dingin dan lelah perjalanan. Kopi tubruk bukan hanya minuman; ia adalah esensi dari pengalaman mendaki. Sebuah pengingat bahwa hal-hal sederhana, ketika diberi ruang dan waktu, bisa menjadi bagian paling berharga dari sebuah perjalanan.

     Memilih kopi tubruk daripada kopi instan bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang prinsip. Setiap bubuk kopi yang larut perlahan dalam air panas mencerminkan perjalanan yang dilalui untuk mencapainya: biji kopi yang dipanen, dipanggang, dan digiling. Setiap langkah dalam proses itu seolah menyampaikan pesan tentang penghargaan kepada alam, kepada waktu, kepada usaha manusia. Ketika dicampur dengan jahe dan sejumput merica, rasa kopi tidak hanya menjadi lebih kompleks, tetapi juga lebih intim. Kehangatannya menyatu dengan tubuh, melawan dinginnya udara pegunungan yang sering kali menyelinap hingga ke tulang. Ini bukan sekadar upaya menyesuaikan diri dengan cuaca; ini adalah cara menyatu dengan elemen, memahami bagaimana alam dan tubuh saling berbicara melalui rasa.

     Dan ada gula aren. Ah, gula aren! Manisnya berbeda. Bukan sekadar rasa manis yang mendominasi, tetapi sebuah manis yang lembut, menyentuh, mengingatkan pada akar tradisi, pada tangan-tangan yang memprosesnya tanpa mesin, tanpa formula kimia. Mungkin itulah mengapa rasa manisnya terasa lebih jujur. Di gunung, di mana segala sesuatu menjadi lebih mentah dan nyata, gula aren membawa sedikit sentuhan rumah, sedikit pengingat bahwa bahkan di tempat yang jauh dari peradaban, ada benang yang menghubungkan.

     Namun, ritual ini juga lebih dalam dari sekadar rasa atau teknik. Tidak membawa alkohol ke dalam pendakian adalah sebuah sikap yang jelas, sebuah prinsip yang menandai penghormatan kepada aktivitas mendaki itu sendiri. Gunung bukanlah tempat untuk kehilangan kesadaran, tetapi tempat untuk menemukannya. Ini adalah ruang di mana batas antara manusia dan alam menjadi kabur, di mana setiap langkah dan setiap tarikan napas mempertegas kesadaran akan kehidupan. Kopi, dalam kerangka itu, adalah teman yang sempurna—hadir tanpa membuat mabuk, memberi energi tanpa mengambil kendali. Ia tidak mengganggu keseimbangan, tetapi mempertegasnya.

     Ada sesuatu yang magis ketika meminum kopi di gunung. Aroma kopi bercampur dengan udara segar, kabut tipis, dan suara alam menciptakan harmoni yang sulit ditemukan di tempat lain. Setiap tegukan bukan hanya menghangatkan tubuh, tetapi juga menenangkan pikiran. Dan dalam momen itu, seseorang mungkin merasa lebih dekat dengan dirinya sendiri, lebih hadir dalam hidupnya. Kopi di gunung menjadi lebih dari sekadar minuman; ia adalah penghubung antara manusia, alam, dan tradisi.

     Renungan René Descartes, sang filsuf yang meletakkan landasan eksistensi modern melalui deklarasi abadi, "Cogito ergo sum", telah lama menjadi bintang penunjuk arah bagi manusia. Jika aku berpikir, aku ada. Begitu sederhana, begitu kuat. Namun, entah bagaimana, di era media sosial ini, adagium tersebut tampak kuno, bahkan ketinggalan zaman. Sebuah deklarasi baru telah menggantikan filsafat yang tenang dan mendalam itu, lebih ribut, lebih riuh, lebih penuh lampu kilat kamera: "I post, therefore I exist."

     Kini, berpikir saja tak cukup. Keberadaan seseorang harus dibuktikan melalui unggahan foto, video, atau ocehan digital yang berselimutkan ilusi kreativitas. Hidup telah menjadi panggung sandiwara yang tak pernah redup lampunya, di mana setiap individu menjadi aktor dan sutradara, menayangkan eksistensinya untuk ribuan, bahkan jutaan pasang mata virtual. Yang muda, yang tua, bahkan yang telah memasuki masa pensiun dengan seharusnya menikmati keheningan, semua berlomba-lomba dalam parade narsisisme yang disponsori algoritma.

     Ironi besar dari fenomena ini adalah bahwa generasi yang lebih tua, yang dulu memandang media sosial sebagai mainan anak muda yang dangkal, kini menjadi bagian tak terpisahkan dari keributan digital tersebut. Mereka yang pernah bersandar pada prinsip-prinsip kehormatan, kedalaman, dan kebijaksanaan, kini dengan antusias memamerkan hasil panen sayuran di kebun belakang, perjalanan wisata ke tempat yang "instagenik," atau sekadar foto hidangan makan siang yang diambil dari sudut terbaik. Semua dilakukan dengan satu tujuan: mendapat tanda jempol dan komentar sederhana seperti "Mantap!" atau "Keren, Bu!"

     Tentu, kita bisa memaafkan perilaku ini jika motivasinya adalah rasa kesepian. Generasi yang lebih tua, sering kali terisolasi dalam dunia yang semakin individualistis, menemukan hiburan dan koneksi dalam hiruk-pikuk dunia maya. Namun, mari kita jujur: ini bukan hanya soal keterhubungan. Ini tentang validasi, tentang membuktikan bahwa mereka masih ada, bahwa mereka masih berarti. Dan di sinilah iming-iming dari beberapa platform media sosial memainkan peran utamanya.

     Ketika media sosial mulai menawarkan insentif berupa uang receh untuk setiap like dan komentar, permainan ini menjadi semakin rumit. Validasi bukan lagi hanya kebutuhan emosional, tetapi juga peluang finansial. Mendadak, setiap unggahan memiliki potensi menjadi aset. Dan di tengah godaan ini, muncul banjir konten yang, jika boleh dikatakan secara sopan, tidak selalu memiliki nilai estetis atau intelektual.

     Konten dungu menjadi raja. Video tantangan menari yang tak masuk akal, pendapat kontroversial yang sengaja dibuat untuk memancing emosi, hingga hal-hal sepele seperti bagaimana cara makan pisang dengan "unik," semuanya menemukan tempatnya di dunia ini. Dan publik, yang juga lapar akan hiburan instan, dengan senang hati mengonsumsi sampah digital ini. Sebuah siklus tercipta: semakin receh konten, semakin besar peluangnya untuk menjadi viral, dan semakin besar dorongan untuk menciptakan lebih banyak konten receh.

     Namun, apakah ini benar-benar masalah generasi? Apakah obsesi terhadap validasi digital ini hanya milik kaum muda dengan YOLO (You Only Lives Once)-nya atau generasi tua yang terlambat belajar menggunakan Instagram? Tidak. Ini adalah masalah manusia modern secara keseluruhan. Kita semua, tanpa terkecuali, adalah produk dari sistem yang mendefinisikan keberadaan berdasarkan perhatian yang kita terima. Descartes mungkin berkata, "Aku berpikir, maka aku ada," tetapi generasi sekarang tampaknya berkata, "Aku terlihat, maka aku ada."

     Dan di sinilah tragedi modernitas benar-benar terungkap. Eksistensi, yang seharusnya menjadi sesuatu yang intrinsik, kini direduksi menjadi sesuatu yang hanya berarti jika diakui oleh orang lain. Lebih parah lagi, pengakuan ini tidak lagi didasarkan pada kualitas pikiran, karya, atau kontribusi kita, tetapi pada seberapa menariknya kita dalam format yang bisa dilihat di layar kecil.

     Tentu saja, ada perlawanan terhadap tren ini. Minimalisme, introspeksi, dan gerakan YONO (You Only Need One) mencoba menawarkan alternatif. Namun, seperti yang kita lihat sebelumnya, bahkan YONO pun tidak kebal terhadap komodifikasi. Filosofi sederhana untuk hidup esensial berubah menjadi strategi pemasaran untuk menjual buku, seminar, dan barang-barang "esensial" dengan harga premium. Jika YOLO adalah konsumerisme yang hedonistik, YONO adalah konsumerisme yang berkedok spiritualitas.

     Lalu, apa yang tersisa? Bagaimana kita bisa keluar dari lingkaran ini? Jawabannya mungkin terletak pada pemahaman bahwa eksistensi sejati tidak memerlukan penonton. Descartes benar dalam satu hal: keberadaan kita harus dimulai dari dalam, dari kemampuan untuk berpikir, merasakan, dan bermakna tanpa perlu persetujuan eksternal. Tetapi untuk mencapainya, kita harus melawan godaan dari dunia digital yang terus-menerus berteriak, "Lihat aku!"

     Mari menjeda nafas sejenak, bahwa baris-baris kalimat di atas bukan tentang menghakimi siapa pun, tetapi tentang mengingatkan kita semua akan sesuatu yang telah hilang di tengah kilauan layar dan riuhnya suara notifikasi. Eksistensi sejati bukanlah tentang berapa banyak jempol yang kita kumpulkan, tetapi tentang seberapa dalam kita mengenal diri sendiri. Dan untuk itu, mungkin kita perlu menghidupkan kembali prinsip lama, yang sederhana namun penuh makna: berpikir, merasa, dan hidup—untuk diri kita sendiri, bukan untuk algoritma.

     Manusia modern adalah spesies yang tak pernah puas. Di satu sisi, kita dikejar oleh ilusi bahwa hidup ini singkat dan harus dijalani dengan semaksimal mungkin. Di sisi lain, kita dicekoki pesan bahwa kebahagiaan hanya bisa dicapai melalui penyederhanaan radikal. Konsep YOLO (you only live once) dan YONO (you only need one) adalah anak-anak kembar dari ketegangan ini, hasil evolusi budaya yang terus mencari jalan keluar dari rasa kosong yang tak pernah terisi. Namun, apakah keduanya benar-benar solusi, atau hanya jebakan lain dalam rantai paradoks kehidupan modern?

     YOLO, sebagai slogan hidup generasi milenial dan Gen Z, muncul dari semangat pemberontakan terhadap rutinitas membosankan. Dengan lantangnya, YOLO menyerukan, “Berani! Ambil risiko! Hidup hanya sekali!” Dalam kebisingan kota besar dan kilauan layar ponsel, YOLO menggemakan frasa carpe diem dari pujangga Romawi, Horatius, yang dulu mengajak manusia meraih hari dengan semangat penuh. Tapi, dalam praktiknya, apa yang diraih? Sebagian besar adalah pengalaman yang ditargetkan untuk satu tujuan saja: diunggah ke Instagram. Perjalanan jauh, makanan mahal, pesta meriah—semuanya diringkas dalam tagar #YOLO, seakan-akan hidup hanya akan berarti jika disaksikan oleh dunia.

     Tentu, tidak ada yang salah dengan sedikit hedonisme. Kita semua butuh waktu untuk bersenang-senang. Tetapi, di balik tampilan glamor YOLO, ada ironi yang merayap. Keberanian yang diklaim oleh YOLO sering kali tidak lebih dari keberanian yang dibeli dengan kartu kredit. Sebuah skydive di Bali? Mengagumkan! Namun, apakah itu benar-benar keberanian atau hanya penundaan dari kenyataan bahwa cicilan bulanan menanti? YOLO, yang pada awalnya bertujuan membebaskan, malah membelenggu manusia pada kebutuhan akan validasi sosial.

     Di sinilah YONO masuk dengan suara yang lebih tenang, namun tak kalah liciknya. YONO menasihati kita untuk berhenti mengejar segalanya. "Kamu hanya butuh satu," katanya, memberikan penghiburan bagi jiwa yang lelah dikejar-kejar oleh tuntutan YOLO. Pilih satu tujuan hidup, satu hubungan bermakna, atau satu barang berkualitas, dan kamu akan menemukan kebahagiaan. Pesan ini terdengar seperti balsam penyembuh bagi luka yang ditorehkan oleh budaya konsumerisme. Tapi tunggu dulu, apakah YONO benar-benar jawaban, atau hanya penawaran baru dalam kemasan minimalis?

     Lihatlah bagaimana minimalisme dijadikan komoditas. Buku-buku panduan tentang menyederhanakan hidup menjamur, dengan harga yang ironisnya tidak sederhana. Seminar dan lokakarya untuk menemukan “satu hal yang kamu butuhkan” sering kali dikemas dengan harga eksklusif yang seolah-olah ingin berkata, “Kamu hanya butuh satu hal—tapi kamu harus membelinya dariku.” YONO, seperti saudara kembarnya YOLO, akhirnya terjebak dalam jerat pasar. Keduanya tidak lebih dari dua sisi koin yang sama: janji kebahagiaan yang selalu bergantung pada sesuatu di luar diri kita.

     Namun, menarik untuk melihat bagaimana kedua konsep ini memiliki akar yang lebih dalam. YOLO, dengan dorongannya untuk mengejar pengalaman maksimal, mengingatkan kita pada ajaran eksistensialisme yang menekankan kebebasan individu untuk menciptakan makna hidup. Di sisi lain, YONO, dengan ajakannya untuk fokus pada yang esensial, sejalan dengan prinsip wu wei dalam Taoisme dan pengendalian diri dalam stoisisme. Keduanya bukanlah gagasan baru, melainkan transformasi modern dari pencarian makna yang telah berlangsung selama ribuan tahun.

     Pertanyaannya adalah, mengapa kedua konsep ini, meskipun didasarkan pada kebijaksanaan lama, tampaknya gagal memberikan kepuasan yang dijanjikan? Mungkin jawabannya terletak pada cara kita mengonsumsinya. Baik YOLO maupun YONO, ketika dipisahkan dari konteks filosofisnya dan dijadikan sekadar slogan budaya pop, kehilangan kedalamannya. Mereka tidak lagi menjadi jalan menuju kebijaksanaan, tetapi alat untuk menjual gaya hidup. YOLO mendorong kita untuk membeli lebih banyak pengalaman, sementara YONO mendorong kita untuk membeli versi "sederhana" dari pengalaman yang sama.

     Saya sama sekali tidak bertujuan untuk menjelekkan YOLO atau YONO, tetapi untuk mengingatkan kita bahwa di balik setiap slogan ada paradoks. Hidup memang hanya sekali, tetapi tidak berarti kita harus mengejar segalanya dalam satu tarikan napas. Kita mungkin hanya membutuhkan satu hal, tetapi menentukan apa 'satu hal' itu memerlukan introspeksi yang lebih mendalam daripada sekadar mengikuti tren minimalisme.

     Pada akhirnya, baik YOLO maupun YONO hanyalah cermin dari dilema manusia modern: ketegangan antara keinginan untuk memiliki semuanya dan kebutuhan untuk menemukan makna dalam kesederhanaan. Solusinya mungkin bukan memilih salah satu, tetapi menemukan cara untuk hidup di antara keduanya. Berani mengambil risiko sekaligus tahu kapan harus berhenti. Mengejar pengalaman tanpa melupakan kedalaman. Dan yang terpenting, mengingat bahwa kebahagiaan tidak terletak pada slogan, tetapi pada bagaimana kita menjalani hidup kita sendiri, dengan atau tanpa tagar.

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.