Articles by "Mulai Dari Mana"

Tampilkan postingan dengan label Mulai Dari Mana. Tampilkan semua postingan

     Tomohide Akiyama pada awal 1980-an memperkenalkan istilah Shinrin-yoku, sebuah istilah di Jepang yang secara harfiah berarti "mandi hutan" atau "berendam dalam atmosfer hutan". Istilah ini diperkenalkan sebagai bagian dari kampanye kesehatan dan konservasi hutan di Jepang.

     Namun jangan bayangkan seseorang membawa sabun lalu mandi di tengah rimba. Yang dimaksud adalah membiarkan seluruh indra tenggelam dalam lingkungan hutan: mendengar desir daun, mencium aroma tanah basah, merasakan tekstur kulit pohon, memperhatikan cahaya yang menembus kanopi, dan berjalan tanpa tujuan yang terlalu ambisius.

     Shinrin-yoku lahir dari sebuah kesadaran yang sederhana tetapi menarik. Selama ribuan tahun manusia hidup di tengah alam. Kota, beton, kendaraan, notifikasi ponsel, dan lampu LED adalah pendatang baru dalam sejarah evolusi manusia. Tubuh kita mungkin sudah memakai sepatu modern, tetapi sebagian sistem saraf kita masih mengenali bahasa sungai, hutan, angin, dan suara burung.

     Penelitian yang dilakukan oleh Yoshifumi Miyazaki dan para peneliti kesehatan lingkungan Jepang menunjukkan bahwa menghabiskan waktu di hutan dapat menurunkan kadar hormon stres, menurunkan tekanan darah, memperbaiki suasana hati, dan meningkatkan aktivitas sistem imun. Salah satu penjelasan yang sering diajukan adalah keberadaan senyawa organik yang dilepaskan pohon, disebut phytoncides, yang mungkin berperan dalam efek tersebut. Namun banyak peneliti juga menekankan bahwa manfaatnya tidak semata-mata berasal dari zat kimia, melainkan dari kombinasi ketenangan visual, suara alami, kualitas udara, dan ritme gerak yang lebih lambat.

     Menariknya, shinrin-yoku berbeda dari aktivitas petualangan alam yang sering kita kenal. Pendakian gunung, misalnya, sering kali berisi target: mencapai puncak, mengejar waktu, menaklukkan elevasi. Shinrin-yoku justru hampir kebalikannya. Ia tidak meminta pencapaian apa pun.

     Dalam pendakian, seseorang bisa bertanya: "Berapa meter lagi?"

     Dalam shinrin-yoku, pertanyaannya berubah menjadi: "Apa yang baru saja saya dengar?"

     Dalam pendakian, mata mencari puncak. Dalam shinrin-yoku, mata memperhatikan lumut yang tumbuh diam di batu.

     Karena itu banyak orang menyebutnya sebagai bentuk meditasi yang bergerak. Tidak ada teknik rumit. Tidak ada mantra wajib. Tidak ada sertifikat kelulusan. Hanya berjalan perlahan, bernapas, dan hadir.

     Bagi seseorang yang akrab dengan gunung, sungai, dan hutan—seperti banyak pendaki atau pencinta alam—konsep ini sebenarnya tidak sepenuhnya baru. Banyak orang pernah mengalaminya tanpa mengetahui namanya.

     Mungkin saat berhenti di tepi sungai pegunungan, ketika kabut turun perlahan dan tidak ada percakapan yang perlu dilakukan.

     Mungkin ketika duduk di depan mulut gua setelah perjalanan panjang, mendengar tetes air yang jatuh dari langit-langit batu kapur.

     Mungkin ketika berjalan sendiri di jalur hutan pinus dan tiba-tiba sadar bahwa selama satu jam terakhir tidak memikirkan tagihan, politik, pekerjaan, atau pertengkaran media sosial.

     Di situlah letak keunikan shinrin-yoku. Ia bukan mengajarkan manusia untuk menjadi sesuatu yang baru. Ia hanya mengingatkan bahwa jauh sebelum manusia menjadi manajer, dosen, politisi, insinyur, influencer, atau pelanggan aplikasi, manusia terlebih dahulu adalah makhluk yang lahir dari lanskap alam.

     Hutan tidak memberi solusi atas semua persoalan hidup. Tetapi ia sering melakukan sesuatu yang lebih halus: mengembalikan ukuran persoalan itu ke proporsinya. Di hadapan pohon yang telah hidup ratusan tahun, banyak kecemasan yang kemarin terasa sebesar gunung mendadak tampak hanya sebesar ranting yang patah di tanah.

     MBG saat ini mulai terlihat seperti kanker.

     Mungkin awalnya ia hanya sebuah implan kecil yang ditanam dengan niat baik. Tidak ada yang keberatan ketika negara mengatakan akan memberi makan anak-anak. Bahkan orang yang paling sinis sekalipun akan berpikir bahwa memberi makan anak sekolah adalah ide yang lebih masuk akal daripada sebagian besar proyek yang biasa lahir dari rapat-rapat panjang para pejabat.

     Namun ada satu hal yang sering terlupakan. Kanker tidak pernah datang dengan wajah menyeramkan. Ia datang sebagai sesuatu yang tampak normal. Ia tumbuh perlahan, menyelinap ke jaringan yang sehat, lalu suatu hari orang sadar bahwa tubuh yang mereka kenal telah berubah menjadi sesuatu yang lain.

     MBG tampaknya sedang berada di fase itu.
     Ia ada di mana-mana.

     Ia masuk ke organisasi masyarakat, kampus, yayasan, kelompok relawan, partai politik, aparat, pengusaha katering, kontraktor, pemasok bahan makanan, dan entah berapa banyak lagi simpul yang tidak pernah dibayangkan ketika program ini pertama kali diperkenalkan kepada publik. Ia tumbuh begitu cepat sehingga kadang sulit membedakan mana program negara dan mana ekosistem baru yang hidup dari keberadaan program tersebut.

     Presiden tentu bangga. Dalam banyak kesempatan MBG tampil seperti anak kesayangan yang selalu dipamerkan kepada tamu. Lambat laun rakyat mulai menemukan humornya sendiri. Apa pun masalahnya, MBG solusinya. Kalimat itu awalnya terdengar seperti lelucon. Belakangan terdengar seperti deskripsi keadaan yang cukup akurat.

     Ekonomi lesu, MBG.
     Pengangguran, MBG.
     Kemiskinan, MBG.

     Mungkin jika suatu hari hujan terlambat turun, akan ada usulan menambah menu protein untuk memperbaiki cuaca.

     Lalu datanglah korupsi.

     Sebetulnya kata "korupsi" di Indonesia sudah kehilangan daya kejutnya sejak lama. Ia muncul hampir sesering iklan pinjaman online. Tidak ada yang benar-benar terkejut lagi ketika mendengar ada uang negara yang bocor. Yang menarik justru bukan korupsinya, melainkan apa yang terlihat setelah tirai sedikit tersingkap.

     Tiba-tiba muncul nama-nama.
     Lalu muncul organisasi.
     Lalu muncul yayasan.
     Lalu muncul tokoh-tokoh yang sebelumnya tidak pernah terlihat.
     Lalu muncul pembelaan dari berbagai arah.
     Lalu muncul penjelasan mengapa program ini harus tetap berjalan.

     Lalu muncul penjelasan atas penjelasan.

     Untuk sesaat rasanya seperti menyaksikan seseorang menyalakan lampu di sebuah gedung yang selama ini tampak kosong dari luar. Ternyata di dalamnya banyak sekali penghuni.

     Yang lebih menarik lagi, ketika sejumlah dapur mulai ditutup, saya mengira yang akan paling gaduh adalah anak-anak yang kehilangan makan siang.

     Ternyata bukan.

     Anak-anak tidak punya konferensi pers. Anak-anak tidak punya akun media sosial dengan centang biru. Anak-anak tidak punya jaringan politik. Anak-anak hanya kehilangan makan siang.

     Kegaduhan justru datang dari orang-orang dewasa.

     Mendadak begitu banyak pihak yang berbicara tentang pentingnya keberlanjutan program. Tentang masa depan bangsa. Tentang generasi emas. Tentang kepentingan rakyat. Dan entah mengapa, semuanya terdengar seperti orang yang sedang berusaha meyakinkan diri bahwa aliran uang yang sangat besar tidak boleh berhenti mengalir.

     Di tengah keramaian itu, ada satu pernyataan seorang politisi yang menurut saya jauh lebih jujur daripada seluruh konferensi pers yang pernah digelar.

     MBG tidak bisa dihentikan.

     Saya sempat mengira itu bentuk pembelaan. Belakangan saya sadar, mungkin itu pengakuan.

     Sebab program pemerintah seharusnya selalu bisa dihentikan. Program dibuat manusia. Program dievaluasi manusia. Program diganti manusia. Tidak ada yang sakral.

     Kalau sebuah program sudah dianggap tidak bisa dihentikan, berarti kita sedang berbicara tentang sesuatu yang lain. Kita sedang berbicara tentang organisme yang telah tumbuh terlalu besar.

     Terlalu banyak orang hidup darinya. Terlalu banyak orang menggantungkan keuntungan padanya. Terlalu banyak kepentingan telah menempel di tubuhnya.

     Terlalu banyak yang akan kehilangan sesuatu jika ia berhenti.

     Dan semua itu terjadi pada saat ekonomi sedang megap-megap mencari udara. Warung-warung kecil tutup lebih dulu karena pembeli makin jarang datang. Pedagang kaki lima mulai menghilang dari sudut-sudut jalan yang dulu ramai. Lembaga pendidikan dipaksa berhemat. BPJS terus berbicara tentang defisit. Rupiah melemah dan harga-harga bergerak dengan caranya sendiri yang selalu berhasil membuat rakyat menghela napas panjang di depan etalase.

     Dalam keadaan seperti itu, mungkin kita akhirnya memahami mengapa banyak orang tampak lebih takut kehilangan proyek daripada kehilangan akal sehat.

     Karena kanker memiliki satu sifat yang menarik. Semakin besar ia tumbuh, semakin sulit tubuh membayangkan hidup tanpa dirinya. Ia menyerap nutrisi, mengambil ruang, membangun jaringan, lalu perlahan membuat seluruh tubuh percaya bahwa keberadaannya adalah sesuatu yang mutlak.

     Sampai akhirnya muncul satu pertanyaan sederhana. Apakah tubuh ini masih memelihara kanker, atau kanker yang sedang memelihara tubuh?

     Dan untuk pertama kalinya saya merasa sepenuhnya setuju dengan para penggemar MBG. Mereka benar! Apa pun masalahnya, MBG memang solusinya.

     Karena setelah melihat bagaimana ia tumbuh, menjalar, membangun jaringan, menciptakan ketergantungan, dan membuat begitu banyak orang ketakutan ketika namanya disentuh, saya yakin MBG memang dapat menyelesaikan satu masalah yang sangat besar.

     Masalah itu bernama MBG sendiri.

     STOP MBG sekarang juga!

     Jika perbedaan IQ dapat membuat manusia memandang dunia dengan cara yang berbeda, pertanyaan berikutnya menjadi jauh lebih penting. Apakah jurang itu benar-benar tetap, atau masih mungkin dipersempit?

     Sebagian kemampuan kognitif memang lazim diukur melalui berbagai tes inteligensi yang dikenal sebagai IQ. Angka itu tentu tidak menjelaskan seluruh manusia, tetapi cukup membantu memahami mengapa dua orang yang melihat kenyataan yang sama dapat membangun gambaran dunia yang sangat berbeda. Ibarat sebuah mesin, ada yang sejak awal memiliki kapasitas lebih besar, ada pula yang lebih kecil. Ketika berhadapan dengan satu persoalan, sebagian orang hanya mampu menghubungkan beberapa variabel sekaligus, sementara yang lain sanggup menampung puluhan variabel sebelum menarik sebuah kesimpulan.

     Kenyataan itu tidak perlu disangkal. Namun ia juga tidak perlu diperlakukan seperti vonis yang menutup seluruh kemungkinan.

     Sebuah mesin tidak hanya ditentukan oleh kapasitasnya. Mesin yang sama dapat menghasilkan perjalanan yang sangat berbeda bergantung pada bagaimana ia digunakan, dirawat, dan terus dipaksa menghadapi jalan-jalan yang belum pernah dilaluinya. Demikian pula kemampuan berpikir. IQ mungkin menggambarkan sebagian kapasitas awal, tetapi ia bukan sesuatu yang sepenuhnya beku.⁸ Dunia yang akhirnya sanggup dipahami seseorang dibentuk oleh jauh lebih banyak hal yang saling bekerja bersama.

     Pendidikan¹ membuka cara-cara baru untuk memandang persoalan. Keluarga² memperkenalkan kebiasaan bertanya atau sebaliknya, membiasakan jawaban yang berhenti terlalu cepat. Bacaan³ menambahkan variabel-variabel baru yang sebelumnya tidak pernah hadir di dalam pikiran. Pengalaman⁴ sering kali memaksa keyakinan lama disusun ulang ketika kenyataan menolak mengikuti teori yang telah diyakini. Lingkungan⁵ memperluas atau mempersempit kesempatan seseorang bertemu gagasan yang berbeda. Percakapan⁶ membuat sebuah pikiran diuji oleh pikiran yang lain. Semua itu bekerja perlahan, hampir tidak terdengar, tetapi sedikit demi sedikit memperluas dunia yang sanggup dihuni oleh akal.

     Perubahan itu jarang terjadi melalui lompatan besar. Ia lebih sering menyerupai seseorang yang mula-mula hanya mampu melihat lima titik, lalu sepuluh, lalu dua puluh. Yang berubah bukan sekadar jumlah informasi yang dimiliki, melainkan kemampuan melihat hubungan di antara informasi-informasi itu. Sebab sebuah persoalan tidak menjadi lebih rumit hanya karena variabelnya bertambah. Ia menjadi lebih kaya karena hubungan di antara variabel-variabel itu mulai terlihat.

     Ada satu hal yang membuat seluruh proses itu mungkin. Rasa ingin tahu dan kerendahan hati intelektual⁷. Tanpa keduanya, pengalaman hanya berubah menjadi kenangan, bacaan hanya menjadi hafalan, dan pendidikan hanya berhenti sebagai ijazah. Sebaliknya, ketika seseorang terus bersedia mengakui bahwa masih ada sesuatu yang belum ia pahami, setiap perjumpaan dapat menjadi kesempatan untuk memperluas cara berpikirnya.

     Kosmos memang tidak pernah membagikan segala sesuatu secara merata. Ada yang lebih cepat memahami matematika, ada yang lebih mudah memainkan musik, ada yang lebih kuat secara fisik, ada pula yang sejak awal lebih mudah mengolah kompleksitas. Kenyataan itu sama tuanya dengan manusia sendiri.

     Namun permainan tidak berhenti ketika kartu dibagikan.

     Selama manusia masih bersedia belajar, membaca, bekerja, berdiskusi, mengalami kegagalan, memperbaiki kesalahan, dan membuka diri terhadap pandangan yang belum pernah ia temui, selalu ada kemungkinan untuk memperluas dunia yang dapat ia pahami. Jurang itu mungkin tidak pernah benar-benar hilang. Tetapi ia dapat menjadi cukup sempit sehingga percakapan tidak lagi mustahil, kerja sama menjadi lebih mungkin, dan manusia yang memandang dunia dengan cara berbeda tetap dapat membangun sesuatu bersama.

     Barangkali itulah satu-satunya jembatan yang benar-benar layak dibangun. Bukan jembatan yang menghapus perbedaan, melainkan jembatan yang membuat perbedaan tidak lagi menjadi alasan untuk berhenti saling memahami.


Catatan Kaki

¹ Pendidikan

Pendidikan dalam esai ini tidak dipahami sebatas sekolah atau perguruan tinggi. Yang dimaksud adalah seluruh proses belajar yang melatih manusia mengenali pola, berpikir abstrak, menyusun argumen, dan memecahkan persoalan. Berbagai penelitian dalam psikologi perkembangan dan ilmu kognitif menunjukkan bahwa pendidikan yang baik tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mengubah cara seseorang mengolah informasi. Gagasan ini dapat ditemukan, antara lain, dalam pemikiran Lev Vygotsky tentang perkembangan kognitif melalui interaksi sosial, Jean Piaget mengenai perkembangan struktur berpikir, Richard E. Nisbett dalam Intelligence and How to Get It, serta Stanislas Dehaene dalam How We Learn.

² Keluarga

Keluarga merupakan lingkungan kognitif pertama yang ditemui setiap manusia. Percakapan sehari-hari, kebiasaan bertanya, cara orang tua merespons rasa ingin tahu anak, hingga jumlah kosakata yang diperkenalkan sejak usia dini memberi pengaruh terhadap perkembangan kemampuan berpikir. Salah satu penelitian yang banyak dibahas adalah karya Betty Hart dan Todd R. Risley mengenai perbedaan lingkungan bahasa pada masa kanak-kanak. Meskipun beberapa angka dalam penelitian tersebut kemudian diperdebatkan, gagasan pokoknya tetap memperoleh banyak dukungan: kualitas interaksi di rumah memiliki pengaruh nyata terhadap perkembangan kemampuan kognitif.

³ Bacaan

Membaca bukan sekadar menambah informasi. Setiap bacaan memperkaya jaringan konsep yang dimiliki seseorang sehingga pengetahuan baru lebih mudah dihubungkan dengan pengetahuan yang telah ada. Semakin luas jaringan itu, semakin banyak kemungkinan hubungan yang dapat dibangun ketika menghadapi persoalan baru. Keith E. Stanovich menjelaskan bagaimana kebiasaan membaca menciptakan efek akumulatif yang dikenal sebagai Matthew Effect, sementara Stanislas Dehaene menunjukkan bagaimana aktivitas membaca secara bertahap membentuk dan mengubah jaringan saraf di otak.

⁴ Pengalaman

Tidak semua pengalaman menghasilkan pembelajaran. Pengalaman baru menjadi sumber perkembangan ketika seseorang bersedia merefleksikannya, menghubungkannya dengan pengetahuan yang telah dimiliki, lalu merevisi pemahamannya bila diperlukan. David A. Kolb mengembangkan gagasan ini melalui teori Experiential Learning, yaitu bahwa pembelajaran lahir dari siklus pengalaman, refleksi, konseptualisasi, dan percobaan kembali.

⁵ Lingkungan

Manusia berpikir di dalam sebuah ekosistem. Lingkungan yang kaya akan percakapan, buku, keberagaman gagasan, serta kesempatan untuk mencoba dan gagal memberi lebih banyak bahan bagi pikiran untuk diolah. Sebaliknya, lingkungan yang miskin stimulasi cenderung membatasi variasi pengalaman yang dapat diproses. Urie Bronfenbrenner melalui Ecological Systems Theory menunjukkan bahwa perkembangan manusia merupakan hasil interaksi berlapis antara individu dan lingkungan sosialnya.

⁶ Percakapan

Percakapan bukan sekadar pertukaran informasi. Percakapan yang sehat memaksa seseorang menguji asumsi, menemukan kelemahan argumennya sendiri, dan melihat hubungan yang sebelumnya luput dari perhatian. Philip E. Tetlock menunjukkan bahwa kemampuan mempertimbangkan berbagai sudut pandang berkaitan erat dengan kualitas penalaran dan pengambilan keputusan. Berbagai penelitian mengenai dialog kolaboratif juga menunjukkan bahwa diskusi yang terbuka dapat memperkaya representasi mental terhadap suatu persoalan.

⁷ Rasa ingin tahu dan kerendahan hati intelektual

Rasa ingin tahu membuat seseorang terus mencari informasi baru. Kerendahan hati intelektual membuatnya bersedia mengubah keyakinan ketika berhadapan dengan bukti yang lebih baik. Keduanya merupakan pasangan yang sulit dipisahkan. Tanpa rasa ingin tahu, pengetahuan berhenti bertambah. Tanpa kerendahan hati intelektual, pengetahuan baru hanya dipaksa menyesuaikan keyakinan lama. Dalam dua dekade terakhir, intellectual humility berkembang menjadi salah satu bidang penelitian tersendiri dalam psikologi. Di antaranya melalui karya Tenelle Porter, Elizabeth Krumrei-Mancuso, Mark Leary, dan Keith E. Stanovich yang menunjukkan bahwa kesediaan mengakui keterbatasan pengetahuan justru berkaitan dengan kualitas berpikir yang lebih baik.

⁸ IQ dan plastisitas kemampuan kognitif

Selama bertahun-tahun inteligensi sering dipandang sebagai kemampuan yang relatif tetap. Pandangan tersebut kini menjadi jauh lebih bernuansa. Penelitian mengenai neuroplastisitas menunjukkan bahwa otak terus membentuk dan memperkuat jaringan saraf sebagai respons terhadap pengalaman, pembelajaran, dan latihan. Di sisi lain, fenomena yang dikenal sebagai Flynn Effect memperlihatkan bahwa skor IQ rata-rata di banyak negara meningkat dari generasi ke generasi selama sebagian besar abad ke-20. Temuan ini menunjukkan bahwa lingkungan memiliki pengaruh nyata terhadap performa kognitif manusia.

Para peneliti masih berbeda pendapat mengenai seberapa besar peningkatan kemampuan tersebut dapat dicapai oleh setiap individu dan di mana batas-batas biologisnya. Karena itu, esai ini tidak berangkat dari anggapan bahwa semua orang dapat mencapai tingkat kemampuan yang sama. Gagasan yang digunakan jauh lebih sederhana: kemampuan kognitif bukan sesuatu yang sepenuhnya beku. Pendidikan, pengalaman, literasi, lingkungan, kesehatan, nutrisi, latihan berpikir, dan berbagai bentuk stimulasi intelektual dapat mengubah cara otak memproses informasi, meskipun besarnya perubahan berbeda pada setiap individu. Pembahasan lebih lanjut dapat ditemukan dalam karya James R. Flynn, Richard E. Nisbett (Intelligence and How to Get It), Stanislas Dehaene (How We Learn), serta Richard J. Haier (The Neuroscience of Intelligence).


     "Saya tidak berarti bagi siapa pun, itulah kebebasan terbesar saya." Ungkapan yang cukup provokatif, bahkan menggoda jeda untuk berfikir. Menjadi berarti bagi orang lain sesungguhnya tidak pernah berada dalam wilayah yang dapat kita kuasai. Kita dapat mencintai seseorang sepenuh hati, tetapi tidak dapat memaksanya menganggap kita berarti. Kita dapat menghabiskan seluruh hidup untuk menjadi orang baik, tetapi tidak dapat menentukan bagaimana dunia akan mengingat kita. Bahkan ketika kita yakin telah meninggalkan jejak yang dalam, boleh jadi kita hanya menjadi bayangan yang lewat sebentar di ingatan seseorang.

     Kesadaran itu mula-mula terdengar menyedihkan. Namun setelah direnungkan lebih lama, ia justru terasa membebaskan. Jika makna diri memang selalu lahir di dalam kesadaran orang lain, mengapa kita harus menghabiskan tenaga untuk mengendalikan sesuatu yang sejak awal bukan milik kita?

     Sayangnya, manusia tidak hidup sendirian. Kita hidup di tengah masyarakat yang dibangun di atas tafsir-tafsir yang saling dipertukarkan. Kita saling menyapa, saling tersenyum, saling bertanya kabar, saling mengucapkan selamat dan belasungkawa. Semua itu membuat kehidupan terasa lebih halus. Gesekan-gesekan kecil dapat diredam oleh serangkaian ritual yang kita sebut kesopanan.

     Lama-kelamaan, ritual itu tidak lagi sekadar menjadi pelumas hubungan antarmanusia. Ia berubah menjadi bahasa yang wajib dikuasai. Senyum harus muncul pada waktu yang tepat. Kesedihan harus diperlihatkan dalam kadar yang dapat dipahami. Antusiasme harus memiliki ekspresi yang dikenali. Bahkan diam pun mempunyai tata caranya sendiri.

     Kita mengira sedang belajar memahami manusia. Padahal yang sering dipelajari hanyalah tata bahasa agar mudah dipahami manusia lain.

     Mungkin karena itulah masyarakat begitu cepat memberi label "cerdas secara sosial". Label itu tidak selalu diberikan kepada mereka yang paling mampu memahami penderitaan orang lain. Tidak selalu pula kepada mereka yang paling tulus. Yang lebih sering mendapat penghargaan adalah mereka yang fasih memainkan tata bahasa sosial. Mereka tahu kapan harus tertawa meskipun tidak lucu, kapan harus mengangguk meskipun tidak setuju, kapan harus menyembunyikan pikirannya agar suasana tetap nyaman.

     Sebaliknya, orang yang tidak fasih memainkan permainan itu segera dicurigai. Ia dianggap kaku, dingin, tidak peka, bahkan arogan. Bukan karena ia membenci manusia, melainkan karena ekspresinya tidak sesuai dengan kamus yang telah disepakati bersama.

     Di titik inilah mulai muncul pertanyaan: jangan-jangan yang disebut ketidakcerdasan sosial sering kali hanyalah nama lain bagi kebebasan.

     Bukan kebebasan untuk menyakiti orang lain. Bukan pula kebebasan untuk mengabaikan empati. Melainkan kebebasan untuk tidak terus-menerus mengatur diri demi memenuhi harapan tentang bagaimana seorang manusia seharusnya tampil.

     Ironisnya, kebebasan semacam itu justru membuat seseorang sulit dibaca. Ia tidak memberikan ekspresi yang diharapkan. Ia tidak selalu menunjukkan kesedihan ketika masyarakat menunggu air mata. Ia tidak selalu menunjukkan kegembiraan ketika dunia berharap tepuk tangan. Ia tidak selalu mengucapkan kalimat yang dianggap pantas.

     Dan manusia rupanya lebih mudah memaafkan keburukan daripada kebingungan. Orang yang berbuat salah masih dapat dimasukkan ke dalam kategori yang telah dikenal. Namun orang yang tidak dapat dibaca menciptakan kegelisahan yang lebih dalam. Ia merusak keyakinan bahwa kita memahami sesama.

     Mungkin itulah sebabnya begitu banyak hubungan retak bukan karena perbedaan nilai, melainkan karena perbedaan ekspresi. Kita merasa tidak dicintai hanya karena cinta hadir dalam bahasa yang tidak kita mengerti. Kita merasa diabaikan hanya karena perhatian datang dalam bentuk yang tidak kita harapkan. Kita marah bukan karena seseorang tidak peduli, melainkan karena ia gagal memainkan peran yang telah kita tulis diam-diam di kepala kita.

     Bukankah ini tragis? Kita tidak berhubungan dengan manusia sebagaimana adanya. Kita berhubungan dengan tafsir kita tentang manusia itu. Dan mereka pun melakukan hal yang sama kepada kita.

     Barangkali tidak ada yang benar-benar mengenal siapa pun. Yang hidup berdampingan hanyalah jutaan tafsir yang sesekali saling bersinggungan, sesekali bertabrakan, lalu perlahan menjauh.

     Kalau begitu, kebebasan terbesar bukanlah menjadi berarti bagi semua orang. Kebebasan terbesar mungkin justru menerima bahwa kita tidak akan pernah sepenuhnya dapat dikendalikan oleh tafsir mereka, sebagaimana mereka tidak pernah dapat sepenuhnya dikendalikan oleh tafsir kita.

     Risikonya memang tidak kecil. Masyarakat mungkin akan menyebutnya ketidakcerdasan sosial.

     Padahal bisa jadi, untuk pertama kalinya, seseorang sedang berhenti menjadi aktor dan mulai menjadi manusia.

     Barangkali memang sudah saatnya cara menghormati nenek moyang itu diperbarui. Bukan karena masa lalu tidak lagi penting, bukan pula karena tradisi harus disingkirkan, melainkan karena terlalu banyak orang terjebak pada keyakinan bahwa penghormatan hanya dapat diwujudkan dengan mengulang. Seolah-olah kesetiaan tertinggi kepada para pelaut besar adalah menapaki rute yang sama, menghidupkan kembali perahu yang sama, dan mengisahkan lagi cerita yang sama. Padahal, semakin lama dipikirkan, semakin terasa janggal. Sebab para pelaut yang kini dipuja itu dahulu justru tidak hidup dengan cara demikian. Mereka tidak menjadi besar karena mengulang. Mereka menjadi besar karena berani meninggalkan apa yang telah ada.

     Jika benar nenek moyang adalah pelaut, maka warisan terbesarnya tidak terletak pada kayu perahunya, tidak pula pada jalur pelayarannya. Warisan terbesar mereka adalah keberanian untuk berangkat ketika arah belum tersedia, ketika peta belum selesai dibuat, ketika jawaban belum ditemukan. Maka penghormatan yang paling jujur kepada mereka bukanlah dengan menghafal ke mana mereka pernah pergi, melainkan dengan tetap memiliki keberanian untuk pergi ke tempat yang bahkan belum pernah mereka bayangkan.

     Dari situlah sebuah gagasan sederhana muncul. Jika dunia pernah begitu gaduh oleh perdebatan tentang bumi datar dan bumi bulat, mengapa tidak menjawabnya dengan cara yang paling tua sekaligus paling ilmiah: berlayar mengelilingi dunia? Bukan untuk mencari sensasi, bukan pula untuk mengulang kisah kejayaan masa lalu, melainkan untuk mengalami secara langsung bagaimana ilmu pengetahuan bekerja. Mengamati, mengukur, menguji, meragukan, memperbaiki, lalu menguji kembali. Sebab ilmu pengetahuan tidak tumbuh dari kemenangan berdebat. Ia tumbuh dari keberanian menghadapkan keyakinan pada kenyataan.

     Pelayaran itu dapat dimulai dari Makassar, kota yang telah lama hidup berdampingan dengan laut. Sebuah phinisi berangkat mengelilingi dunia, menelusuri tepian benua, melintasi samudra, singgah dari satu negeri ke negeri lain. Namun kali ini, tujuan pelayaran bukan untuk mengulang jalur nenek moyang. Tujuannya adalah menjawab pertanyaan zaman sekarang dengan seluruh kemampuan yang dimiliki manusia hari ini. Phinisi tidak lagi menjadi simbol romantisme masa lalu, melainkan menjadi ruang kerja yang hidup; tempat penelitian dilakukan, tempat gagasan diperdebatkan, tempat mahasiswa dan ilmuwan dari berbagai negara bertemu untuk membangun pengetahuan bersama.

     Mengapa phinisi? Jawabannya justru sangat sederhana: karena ia mampu membawa banyak manusia, banyak ilmu, banyak pertanyaan, dan banyak kemungkinan. Tidak ada alasan untuk membekukannya menjadi benda museum yang hanya dipandang dengan rasa kagum. Ia dibangun untuk berlayar. Ia lahir dari kemampuan beradaptasi. Bahkan bentuknya sendiri merupakan hasil perkembangan panjang, hasil perjumpaan dengan berbagai pengalaman dan kebutuhan zamannya. Maka menggunakan phinisi dengan teknologi termutakhir, laboratorium kecil, sistem komunikasi satelit, perangkat navigasi modern, dan segala instrumen penelitian yang tersedia bukanlah pengkhianatan terhadap tradisi. Itu justru bentuk kesetiaan yang paling jujur kepada semangat yang melahirkannya.

     Kalau nenek moyang hidup hari ini, mungkinkah mereka menolak teknologi? Mungkinkah mereka bersikeras menggunakan cara lama hanya karena takut disebut tidak setia kepada tradisi? Rasanya sulit dipercaya. Para pelaut besar pada masanya adalah para pemanfaat teknologi terbaik yang tersedia. Mereka belajar dari banyak bangsa, memperbaiki apa yang mereka miliki, lalu berlayar lebih jauh. Mereka tidak jatuh cinta pada bentuk. Mereka jatuh cinta pada kemungkinan.

     Maka ekspedisi ini tidak hanya tentang laut. Ia adalah sekolah yang bergerak. Seorang mahasiswa mungkin tidak pernah naik ke atas phinisi, tetapi ia dapat menghabiskan berbulan-bulan menyusun metodologi penelitian, berkorespondensi dengan universitas luar negeri, menghubungkan para peneliti, menyiapkan konferensi, mengelola data, dan menyusun publikasi ilmiah. Mahasiswa lain mungkin mengurus logistik yang rumit, mengatur pergantian peserta dari berbagai negara, atau menjadi penghubung antara kampus dan institusi yang terlibat. Mereka mungkin tidak memegang kemudi, tetapi mereka ikut menggerakkan pelayaran itu.

     Dan bukankah itu juga berarti ikut mengukir laut?

     Ada sesuatu yang sangat berbeda antara membaca bagaimana ilmu pengetahuan bekerja dengan mengalami seluruh keruwetannya secara langsung. Di ruang kuliah, seseorang dapat memahami metodologi penelitian sebagai teori. Namun ketika harus menghubungi ilmuwan dari berbagai negara, menyusun rancangan penelitian lintas disiplin, menghadapi perbedaan pandangan, menyesuaikan metode dengan kondisi lapangan, lalu mempertanggungjawabkan hasilnya di hadapan komunitas ilmiah, ilmu pengetahuan tidak lagi menjadi pelajaran. Ia berubah menjadi pengalaman hidup.

     Barangkali inilah bentuk akademis yang sering terlupakan. Ia bukan sekadar label yang ditempelkan pada sebuah kegiatan agar terdengar lebih terhormat. Ia adalah keberanian untuk bertanya, bekerja, berkolaborasi, dan menerima kemungkinan bahwa hasil akhirnya mungkin berbeda dari apa yang dibayangkan sejak awal. Akademis bukan panggung yang meminta tepuk tangan. Akademis adalah perjalanan panjang yang sering kali penuh keraguan, tetapi justru karena itu ia terus berkembang.

     Di sinilah dua esai sebelumnya menemukan jawabannya. Jika dahulu manusia begitu bangga mengikuti jejak nenek moyangnya, mungkin sekarang sudah saatnya mereka mewarisi keberanian nenek moyangnya. Jika dahulu akademis sering kali berhenti pada nama dan simbol, mungkin sekarang sudah saatnya ilmu kembali turun ke laut, berhadapan dengan kenyataan, dan mengakui bahwa masih banyak hal yang belum diketahui.

     Warisan terbesar nenek moyang bukanlah perahunya. Melainkan keberanian untuk membangun perahu yang berbeda, berlayar ke laut yang berbeda, dan menjawab pertanyaan yang bahkan belum pernah mereka bayangkan.

     Karena pada akhirnya, kita tidak menghormati pelaut besar dengan menghafal arah yang mereka tempuh. Kita menghormati mereka dengan tetap berani berlayar ketika arah itu belum ada. Sebab warisan terbesar nenek moyang bukanlah perahunya, melainkan keberanian untuk meninggalkan pelabuhan.

Prolog: Pasar yang Sudah Ada, Aturannya yang Belum Selesai

     Sulit membayangkan kehidupan perkotaan Indonesia hari ini tanpa kehadiran para driver. Mereka mengantar manusia ke tempat kerja, mengantar makanan ke rumah-rumah, membawa paket melintasi kota, membelikan kebutuhan sehari-hari, bahkan sering menjadi solusi ketika waktu terasa terlalu sempit untuk mengurus berbagai keperluan sendiri. Dalam waktu yang relatif singkat, layanan berbasis aplikasi telah tumbuh dari sesuatu yang dianggap baru menjadi bagian dari rutinitas jutaan orang.

     Pertumbuhan ini bukan lagi cerita tentang masa depan. Ia sudah menjadi kenyataan yang hidup di depan mata. Setiap hari jutaan transaksi terjadi. Jutaan order berpindah tangan. Uang bergerak dari konsumen kepada penyedia jasa melalui berbagai platform digital. Negara memungut pajak dari aktivitas ekonomi yang lahir dari ekosistem tersebut. Dunia usaha memperoleh keuntungan. Konsumen memperoleh kemudahan. Driver memperoleh sumber penghidupan. Sebuah pasar baru telah tumbuh dan berkembang menjadi bagian penting dari denyut ekonomi nasional.

     Di balik angka-angka itu terdapat jutaan manusia yang menjadikan pekerjaan ini sebagai sumber pendapatan utama maupun tambahan. Sebagian datang karena kehilangan pekerjaan lama. Sebagian karena mencari penghasilan yang lebih fleksibel. Sebagian lagi karena memang melihat sektor ini sebagai peluang ekonomi yang paling terbuka bagi mereka. Apa pun alasan awalnya, kenyataannya sama: mereka telah menjadi bagian dari pasar kerja Indonesia.

     Fenomena ini sudah terlalu besar untuk dianggap sebagai gejala sementara. Ia bukan lagi eksperimen bisnis beberapa perusahaan teknologi. Ia bukan lagi tren yang menunggu untuk diuji. Kehadirannya telah mengubah cara masyarakat bergerak, berbelanja, mengirim barang, dan menggunakan jasa. Dalam banyak hal, kehidupan ekonomi sehari-hari telah beradaptasi dengan keberadaannya.

     Namun di tengah pertumbuhan yang begitu cepat, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting. Jika pasarnya sudah terbentuk, jika jutaan orang sudah bergantung padanya, jika negara sudah memperoleh manfaat ekonomi darinya, apakah hubungan antara para pelaku di dalam pasar tersebut telah ditata dengan cukup jelas?

     Pertanyaan itu bukan sekadar persoalan hukum. Ia juga menyangkut cara sebuah negara memandang warganya yang bekerja di dalam sektor baru ini. Menyangkut bagaimana kesempatan berusaha dijaga agar tetap terbuka dan adil. Menyangkut bagaimana konflik diselesaikan. Menyangkut bagaimana hak dan kewajiban para pihak dirumuskan. Menyangkut bagaimana negara menjalankan perannya ketika sebuah bentuk pekerjaan baru tumbuh lebih cepat daripada aturan yang mengiringinya.

     Selama beberapa tahun terakhir, berbagai perdebatan muncul dari persoalan-persoalan tersebut. Ada yang berbicara tentang pendapatan. Ada yang berbicara tentang perlindungan kerja. Ada yang berbicara tentang persaingan usaha. Ada pula yang berbicara tentang hak, kewajiban, dan posisi para pihak di dalam hubungan ekonomi yang relatif baru ini. Sebagian perdebatan menghasilkan kebijakan. Sebagian lainnya masih menggantung tanpa jawaban yang memuaskan.

     Tulisan ini berangkat dari pengamatan sederhana bahwa pasar tersebut sudah ada. Ia nyata, besar, dan terus berkembang. Yang masih menjadi pertanyaan adalah apakah kerangka yang mengatur hubungan di dalamnya telah berkembang dengan kecepatan yang sama. Ketika jutaan orang bekerja di dalam sebuah sistem yang telah menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi nasional, pertanyaan tentang aturan main bukan lagi persoalan teknis. Ia telah menjadi pertanyaan tentang bagaimana negara memahami pasar yang tumbuh di hadapannya, dan bagaimana pasar itu pada akhirnya mempengaruhi kehidupan jutaan warga negara yang berada di dalamnya.

1. Kita Salah Menempatkan Aktor

     Sebelum membahas lebih jauh tentang driver, negara, pasar, atau berbagai persoalan yang mengiringinya, ada satu hal yang perlu dibereskan terlebih dahulu. Hal ini terdengar sederhana, tetapi justru sering menjadi sumber kebingungan terbesar dalam banyak perdebatan mengenai ekonomi platform. Kita sering membicarakan aktor yang sama dengan berbagai istilah yang terdengar berbeda, hingga akhirnya lupa melihat fungsi dasarnya secara jernih.

     Dalam tulisan ini, istilah makelar digunakan untuk menyebut aplikator, yaitu badan usaha yang mempertemukan konsumen dengan driver penyedia jasa. Istilah ini tidak dimaksudkan sebagai penghinaan, bukan pula sindiran. Ia digunakan karena menjelaskan fungsi ekonomi yang paling sederhana dan paling mudah dipahami. Makelar mempertemukan pihak yang membutuhkan jasa dengan pihak yang menyediakan jasa. Itu saja terlebih dahulu.

     Selama beberapa tahun terakhir, istilah-istilah yang mengelilingi perusahaan-perusahaan tersebut berkembang sangat cepat. Kita mendengar berbagai sebutan seperti platform digital, super app, ekosistem teknologi, perusahaan teknologi, inovator digital, bahkan agen disrupsi yang mengubah wajah ekonomi modern. Semua istilah itu mungkin memiliki dasar dan penjelasannya masing-masing. Sebagian bahkan benar. Namun di tengah keramaian istilah tersebut, sering kali kita kehilangan kemampuan untuk melihat fungsi yang paling mendasar.

     Seorang makelar properti mempertemukan penjual rumah dan pembeli rumah. Makelar asuransi mempertemukan perusahaan asuransi dan calon nasabah. Makelar hasil bumi mempertemukan petani dan pembeli. Ketika teknologi digital hadir, fungsi dasar itu tidak hilang. Ia hanya berpindah medium. Telepon digantikan aplikasi. Buku catatan digantikan server. Pertemuan fisik digantikan layar ponsel. Namun fungsi ekonominya tetap sama: mempertemukan pihak yang membutuhkan jasa dengan pihak yang menyediakan jasa.

     Kesulitan mulai muncul ketika fungsi sederhana tersebut dibungkus oleh lapisan istilah yang semakin tebal. Pada titik tertentu, makelar tidak lagi dipersepsikan sebagai perantara, melainkan seolah-olah menjadi pusat dari seluruh aktivitas ekonomi yang berlangsung di dalam sistem. Driver dianggap hadir karena makelar. Konsumen dianggap memperoleh manfaat karena makelar. Bahkan kadang-kadang muncul kesan bahwa pasar itu sendiri ada karena makelar.

     Padahal jauh sebelum aplikasi hadir, kebutuhan untuk berpindah tempat sudah ada. Kebutuhan mengirim barang sudah ada. Kebutuhan membeli makanan tanpa keluar rumah juga sudah ada dalam berbagai bentuk. Yang berubah adalah cara mempertemukan kebutuhan tersebut dengan orang yang mampu memenuhinya. Teknologi membuat proses itu lebih cepat, lebih praktis, dan lebih efisien. Namun teknologi tidak mengubah hakikat dasar hubungan ekonominya.

     Di sinilah letak persoalan yang sering luput dari perhatian. Ketika posisi para aktor tidak ditempatkan secara proporsional, berbagai pembahasan berikutnya menjadi kabur. Driver dipandang sebagai pihak yang bergantung sepenuhnya kepada makelar. Konsumen dipandang sebagai pihak yang hanya berhubungan dengan makelar. Sementara makelar perlahan-lahan diposisikan bukan lagi sebagai perantara, melainkan sebagai pusat gravitasi seluruh hubungan yang terjadi.

     Akibatnya, banyak pertanyaan yang seharusnya diarahkan kepada struktur pasar, kepada negara, atau kepada hubungan antar pelaku ekonomi, akhirnya berputar-putar hanya di sekitar kepentingan makelar. Diskusi menjadi tidak seimbang sejak awal karena posisi para aktornya sudah keliru ditempatkan.

     Makelar bukan masalah. Kehadiran mereka justru membantu mempertemukan kebutuhan yang sebelumnya tersebar dan sulit saling menemukan. Masalahnya muncul ketika kita tidak lagi melihat makelar sebagai makelar. Ketika fungsi perantara berubah menjadi posisi yang dianggap lebih tinggi daripada seluruh pihak yang sebenarnya sedang dipertemukan.

     Karena itu, sebelum berbicara tentang hak, kewajiban, perlindungan, persaingan usaha, ataupun peran negara, kita perlu mengembalikan setiap aktor ke tempatnya masing-masing. Bukan untuk merendahkan siapa pun, melainkan agar kita dapat melihat hubungan yang sebenarnya sedang terjadi. Sebab selama posisi para pelaku masih kabur, pembahasan tentang aturan main akan selalu berangkat dari titik yang keliru.

2. Ketika Makelar Menulis Aturannya Sendiri

     Jika pada bagian sebelumnya kita mengembalikan makelar ke fungsi dasarnya sebagai perantara, maka muncul pertanyaan yang sulit dihindari: mengapa posisi perantara tersebut dalam praktik tampak begitu kuat?

     Pertanyaan ini penting karena banyak perdebatan mengenai driver sering langsung diarahkan kepada pendapatan. Ada yang menganggap masalah utamanya adalah tarif yang terlalu rendah. Ada yang menyoroti bonus yang berkurang. Ada pula yang membandingkan penghasilan driver hari ini dengan beberapa tahun lalu. Semua itu penting, tetapi belum menyentuh inti persoalan yang lebih mendasar.

     Persoalan yang lebih mendasar adalah kekuasaan.

     Dalam hubungan antara driver dan makelar, yang paling menentukan bukan semata-mata berapa besar penghasilan yang diterima driver pada hari tertentu. Yang lebih menentukan adalah siapa yang memiliki kewenangan untuk membuat aturan, mengubah aturan, menafsirkan aturan, sekaligus menjalankan aturan tersebut.

     Hari ini makelar menentukan tarif yang berlaku untuk berbagai jenis layanan. Makelar menentukan program bonus yang dapat muncul dan hilang sewaktu-waktu. Makelar menentukan sistem peringkat yang mempengaruhi posisi driver di dalam ekosistemnya. Makelar menentukan cara distribusi order. Makelar menentukan syarat-syarat yang harus dipenuhi agar seseorang dapat tetap bekerja melalui platform yang mereka kelola.

     Semua itu sebenarnya masih dapat dipahami sebagai bagian dari pengelolaan sebuah usaha. Setiap perusahaan tentu membutuhkan aturan agar kegiatan bisnisnya dapat berjalan. Persoalan mulai muncul ketika pihak yang membuat aturan juga menjadi pihak yang menegakkan aturan tersebut tanpa adanya pemisahan yang jelas.

     Dalam praktik sehari-hari, seorang driver dapat menerima peringatan, pembatasan akun, bahkan kehilangan akses kerjanya berdasarkan mekanisme yang ditentukan oleh makelar. Keputusan itu dapat lahir dari berbagai sebab, mulai dari pelanggaran yang memang nyata hingga persoalan yang masih diperdebatkan. Namun dalam banyak kasus, ruang untuk mempertanyakan keputusan tersebut jauh lebih sempit dibanding ruang yang dimiliki oleh pihak yang menjatuhkan keputusan.

     Di sinilah ketimpangan kekuasaan mulai terlihat dengan jelas.

     Makelar tidak hanya menjadi penyelenggara pasar. Ia juga menentukan syarat masuk ke pasar tersebut. Ia menentukan bagaimana aktivitas di dalam pasar berlangsung. Ia menentukan konsekuensi jika aturan tertentu dianggap dilanggar. Dalam banyak situasi, ia bahkan menjadi pihak pertama yang menilai apakah sebuah tindakan benar atau salah menurut standar yang ia buat sendiri.

     Bayangkan sebuah pertandingan di mana satu tim berhak menentukan ukuran lapangan, mengubah aturan permainan, menunjuk wasit, sekaligus memutuskan hasil keberatan yang diajukan lawannya. Bahkan jika tim tersebut bertindak dengan niat baik, pertanyaan mengenai keseimbangan kekuasaan tetap akan muncul. Persoalannya bukan semata-mata soal niat. Persoalannya adalah struktur.

     Karena itu, ketika membahas hubungan antara driver dan makelar, pembicaraan tentang kekuasaan sering kali lebih penting daripada pembicaraan tentang angka pendapatan. Pendapatan dapat naik atau turun. Bonus dapat bertambah atau berkurang. Tarif dapat berubah dari waktu ke waktu. Namun selama pusat pengambilan keputusan tetap berada pada satu pihak yang sekaligus menjalankan dan menegakkan aturannya sendiri, ketimpangan yang sama akan terus muncul dalam bentuk yang berbeda-beda.

     Hal ini juga menjelaskan mengapa banyak konflik di sektor ini tidak pernah benar-benar berhenti. Ketika satu persoalan selesai, persoalan lain muncul. Ketika satu kebijakan diperbaiki, perdebatan berpindah ke kebijakan berikutnya. Di permukaan, kasus-kasus tersebut terlihat berbeda. Namun jika diperhatikan lebih dekat, akar persoalannya sering kali sama: siapa yang memiliki kekuasaan untuk menentukan aturan, dan siapa yang harus hidup di bawah aturan tersebut.

     Pertanyaan itulah yang kemudian membawa kita kepada persoalan berikutnya. Jika sebuah pasar yang melibatkan jutaan orang memiliki hubungan kekuasaan yang demikian besar di tangan satu pihak, di manakah posisi negara? Apakah negara memiliki kemampuan untuk melihat dan memahami pasar tersebut secara utuh, atau justru sedang berusaha mengatur sesuatu yang sebagian besar tidak tampak di hadapannya?

3. Negara Tidak Melihat Pasarnya Sendiri

     Setelah melihat bagaimana kekuasaan yang besar terkonsentrasi pada makelar, pertanyaan berikutnya hampir muncul dengan sendirinya: di mana posisi negara dalam hubungan ini?

     Pertanyaan tersebut sering dijawab dengan cara yang terlalu sederhana. Sebagian orang menganggap negara tidak peduli. Sebagian lainnya menuduh negara terlambat bertindak. Ada pula yang melihat seluruh persoalan ini sebagai bukti bahwa negara sengaja membiarkan keadaan berlangsung apa adanya. Penjelasan semacam itu mungkin terdengar memuaskan, tetapi sering kali tidak membantu memahami persoalan yang sebenarnya.

     Sebelum membicarakan keberanian negara untuk bertindak, ada pertanyaan yang lebih mendasar. Seberapa jelas sebenarnya negara melihat pasar yang sedang dihadapinya?

     Dalam pasar kerja konvensional, negara memiliki berbagai instrumen untuk memahami kondisi yang sedang berlangsung. Negara dapat memperkirakan jumlah tenaga kerja, tingkat pengangguran, distribusi sektor usaha, hingga berbagai indikator lain yang membantu penyusunan kebijakan. Data tersebut tentu tidak selalu sempurna, tetapi setidaknya tersedia sebagai pijakan untuk mengambil keputusan.

     Pasar driver berbasis aplikasi menghadirkan tantangan yang berbeda. Ia tumbuh sangat cepat, melibatkan jutaan orang, tersebar di ribuan wilayah, dan bergerak hampir sepanjang waktu. Namun pada saat yang sama, negara tidak selalu memiliki gambaran yang utuh mengenai apa yang sedang terjadi di dalamnya.

     Berapa sebenarnya jumlah driver aktif yang bekerja hari ini? Berapa yang hanya memiliki akun tetapi sudah tidak lagi mencari order? Berapa jumlah order yang tersedia dalam satu kota dibanding jumlah driver yang berebut mendapatkannya? Seberapa jenuh sebuah wilayah tertentu? Apakah sebuah daerah membutuhkan tambahan driver atau justru sudah kelebihan pasokan tenaga kerja? Pertanyaan-pertanyaan tersebut terdengar sederhana, tetapi jawabannya tidak selalu tersedia secara jelas.

     Akibatnya, negara sering berada pada posisi yang sulit. Ketika muncul tuntutan mengenai kesejahteraan driver, negara membutuhkan dasar yang kuat untuk memahami kondisi riil di lapangan. Ketika muncul usulan pembatasan rekrutmen, negara perlu mengetahui apakah pasar memang sudah jenuh atau justru masih membutuhkan tenaga kerja tambahan. Ketika muncul perdebatan mengenai pendapatan yang layak, negara harus memahami hubungan antara jumlah order, jumlah driver, dan karakteristik setiap wilayah yang berbeda satu sama lain.

     Tanpa gambaran yang cukup utuh, kebijakan mudah berubah menjadi tebakan. Sebuah keputusan mungkin terlihat baik di atas kertas, tetapi menghasilkan dampak yang berbeda ketika diterapkan di lapangan. Sebaliknya, persoalan yang sebenarnya mendesak bisa luput dari perhatian karena tidak terlihat secara jelas dalam instrumen yang dimiliki negara.

     Hal ini tidak berarti negara sama sekali tidak memiliki informasi. Berbagai data tentu tersedia dari banyak sumber. Namun persoalannya bukan sekadar memiliki data, melainkan memiliki kemampuan untuk melihat pasar sebagai satu kesatuan yang dapat dipahami secara memadai. Pasar yang melibatkan jutaan orang tidak cukup diatur hanya berdasarkan kesan umum, laporan sporadis, atau perdebatan yang muncul sesekali di ruang publik.

     Di sinilah letak salah satu kesulitan terbesar dalam mengelola sektor ini. Negara diminta mengatur sebuah pasar yang sudah sangat besar, sementara kemampuan untuk melihat kondisi pasar tersebut secara menyeluruh belum berkembang secepat pertumbuhan pasar itu sendiri. Akibatnya, berbagai persoalan yang muncul sering ditangani secara parsial, sementara gambaran besarnya tetap sulit ditangkap.

     Sulit mengatur sesuatu yang bahkan tidak dapat dilihat dengan jelas.

     Kalimat itu bukan pembelaan bagi negara. Ia juga bukan alasan untuk membiarkan keadaan terus berlangsung. Kalimat itu hanya menjelaskan sebuah kenyataan sederhana: kemampuan mengatur selalu bergantung pada kemampuan memahami apa yang sedang diatur. Ketika pasar tumbuh lebih cepat daripada instrumen yang digunakan untuk memahaminya, jarak antara masalah dan kebijakan akan semakin lebar.

     Di dalam jarak itulah berbagai ketegangan terus bermunculan. Driver merasa tidak terlindungi. Masyarakat melihat berbagai konflik yang berulang. Makelar menjalankan pasar dengan logikanya sendiri. Sementara negara terus berada di bawah tekanan untuk menghasilkan aturan yang tepat bagi sebuah sektor yang belum sepenuhnya terlihat di hadapannya.

4. Mengapa Konflik Hampir Selalu Berakhir pada Driver?

     Ketimpangan kekuasaan jarang terlihat ketika keadaan berjalan normal. Ia baru tampak jelas ketika terjadi konflik.

     Selama order datang, akun berjalan, dan tidak ada masalah di lapangan, hubungan antara driver, pelanggan, dan makelar terlihat baik-baik saja. Namun ketika muncul perselisihan, ketika terjadi kesalahpahaman, ketika ada laporan, atau ketika salah satu pihak merasa dirugikan, barulah terlihat siapa yang memiliki ruang untuk membela diri dan siapa yang tidak.

     Dalam banyak kasus, titik paling rentan dalam hubungan ini berada pada driver.

     Seorang pelanggan dapat mengajukan keluhan. Ia dapat memberikan penilaian buruk. Ia dapat melaporkan perilaku yang dianggap tidak pantas. Sebagian laporan tentu lahir dari persoalan yang nyata. Tidak sedikit pula yang muncul karena kesalahpahaman, emosi sesaat, atau perbedaan persepsi terhadap suatu kejadian. Itu adalah sesuatu yang wajar dalam hubungan antar manusia. Tidak ada kelompok yang sepenuhnya benar, sebagaimana tidak ada kelompok yang sepenuhnya salah.

     Masalahnya bukan pada keberadaan laporan.

     Masalahnya adalah apa yang terjadi setelah laporan itu masuk.

     Dalam praktik yang berkembang selama ini, laporan pelanggan sering memiliki bobot yang jauh lebih besar dibandingkan penjelasan driver. Sebuah laporan dapat berujung pada peringatan, pembatasan akun, suspend, bahkan deaktivasi permanen. Pada banyak kasus, keputusan tersebut terjadi jauh lebih cepat daripada proses klarifikasi yang memadai.

     Akibatnya muncul kesan yang sulit diabaikan: pelanggan selalu benar, driver selalu salah.

     Tentu kenyataan tidak sesederhana itu. Pelanggan dan driver berasal dari masyarakat yang sama. Ada pelanggan yang baik, jujur, dan masuk akal. Ada pula pelanggan yang emosional, tidak jujur, atau memanfaatkan posisinya. Demikian pula pada sisi driver. Ada driver yang profesional dan bertanggung jawab. Ada pula driver yang melakukan pelanggaran atau memperlakukan pelanggan dengan buruk.

     Kehidupan sosial selalu lebih rumit daripada pembagian hitam dan putih. Namun dalam banyak konflik yang terjadi di lapangan, kerumitan tersebut sering tidak memperoleh ruang yang cukup untuk diperiksa secara adil.

     Di sinilah akibat nyata dari ketimpangan kekuasaan mulai terlihat. Ketika terjadi sengketa, pihak yang paling bergantung pada akses kerja justru sering menjadi pihak yang paling lemah posisinya. Kehilangan akun bukan sekadar kehilangan sebuah aplikasi di layar ponsel. Bagi banyak orang, itu berarti kehilangan sumber pendapatan yang digunakan untuk membayar kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah anak, cicilan kendaraan, atau berbagai kewajiban hidup lainnya.

     Ironisnya, keputusan yang dampaknya begitu besar sering kali tidak diiringi oleh mekanisme pembelaan yang sebanding. Driver dapat mengajukan keberatan, tetapi prosesnya umumnya tetap berada dalam lingkungan yang dikendalikan oleh pihak yang sama yang menjatuhkan keputusan. Ruang sengketa yang benar-benar independen hampir tidak tersedia. Tidak ada pihak netral yang secara khusus memeriksa kedua versi cerita dengan posisi yang relatif setara.

     Bayangkan situasi yang sama dalam konteks lain. Ketika seseorang dituduh melakukan tindak pidana, negara menyediakan proses hukum yang panjang dan berlapis. Ada penyelidikan, pembuktian, pembelaan, saksi, hingga putusan pengadilan. Bahkan terhadap pelaku kejahatan berat sekalipun, hak untuk membela diri tetap diakui sebagai bagian dari prinsip keadilan.

     Dalam negara hukum, bahkan seorang pembunuh berhak membela diri. Tetapi dalam ekonomi platform, seorang driver sering kehilangan akses kerjanya hanya karena sebuah laporan.

     Kalimat itu mungkin terdengar berlebihan bagi sebagian orang. Namun ia menunjukkan sebuah kontras yang sulit diabaikan. Semakin besar dampak sebuah keputusan terhadap kehidupan seseorang, semakin besar pula kebutuhan akan mekanisme yang adil untuk memeriksa keputusan tersebut. Ketika prinsip itu tidak hadir, ketimpangan kekuasaan yang sebelumnya tampak abstrak berubah menjadi kenyataan yang sangat konkret.

     Persoalan ini juga menjelaskan mengapa banyak driver memandang suspend atau deaktivasi akun bukan sekadar kebijakan operasional. Bagi mereka, itu adalah pengalaman berhadapan dengan sebuah sistem yang dapat mengambil keputusan besar tanpa adanya ruang yang setara untuk menjelaskan diri. Benar atau salah dalam kasus tertentu adalah persoalan tersendiri. Yang menjadi pertanyaan lebih mendasar adalah apakah setiap orang memiliki kesempatan yang cukup untuk didengar sebelum keputusan tersebut dijatuhkan.

     Pertanyaan itulah yang perlahan membawa pembahasan keluar dari persoalan individu menuju persoalan yang lebih besar. Jika konflik terus berulang, jika ketimpangan terus muncul, dan jika negara kesulitan melihat pasar secara utuh, maka pertanyaan berikutnya bukan lagi tentang satu laporan atau satu akun yang dinonaktifkan. Pertanyaannya adalah apakah pasar yang ada saat ini benar-benar memberi kesempatan yang setara bagi semua pihak yang terlibat di dalamnya.

5. Pasar Bebas yang Tidak Benar-Benar Bebas

     Sampai pada titik ini, persoalan yang terlihat seolah-olah hanya menyangkut hubungan antara driver dan makelar. Ada ketimpangan kekuasaan. Ada persoalan suspend. Ada konflik yang sering berakhir tanpa ruang pembelaan yang memadai. Namun jika diperhatikan lebih dekat, akar persoalannya ternyata tidak berhenti pada hubungan kerja semata.

     Di balik semua itu terdapat pertanyaan lain yang tidak kalah penting: seperti apa sebenarnya bentuk pasar yang sedang kita bicarakan?

     Banyak orang menyebut sektor ini sebagai pasar bebas. Sebutan itu tidak sepenuhnya salah. Berbagai makelar memang bersaing mendapatkan pelanggan. Mereka bersaing menawarkan layanan yang lebih cepat, lebih murah, atau lebih nyaman. Dari sudut pandang konsumen, pilihan yang tersedia terlihat cukup beragam. Namun dari sudut pandang driver, kebebasan yang sama tidak selalu hadir dalam bentuk yang setara.

     Salah satu contohnya dapat dilihat pada perbedaan tarif untuk pekerjaan yang pada dasarnya sama. Dalam praktik sehari-hari, terdapat program-program tertentu yang membuat sebagian driver menerima bayaran berbeda untuk jenis pekerjaan yang identik. Fenomena yang oleh banyak driver dikenal sebagai "driver goceng" adalah salah satu contoh yang sering dibicarakan. Pada saat yang sama, terdapat driver lain yang menjalankan pekerjaan serupa dengan tarif yang berbeda.

     Persoalannya bukan sekadar lima ribu rupiah, tujuh ribu rupiah, atau angka tertentu yang muncul pada layar aplikasi. Persoalannya adalah bagaimana kesempatan memperoleh pekerjaan itu didistribusikan.

     Dalam banyak kasus, driver yang berada dalam program tertentu memperoleh aliran order yang jauh lebih besar dibandingkan driver lain. Akibatnya muncul situasi yang terasa janggal. Dua orang melakukan pekerjaan yang sama, berada di wilayah yang sama, dan melayani jenis konsumen yang sama, tetapi berada dalam kondisi persaingan yang berbeda. Yang satu terus bergerak karena dibanjiri order. Yang lain lebih banyak menunggu.

     Fenomena semacam ini memperlihatkan bahwa persoalan utama tidak selalu terletak pada tarif semata. Kadang-kadang yang lebih menentukan adalah akses terhadap pekerjaan itu sendiri.

     Di sinilah pembahasan mulai bersentuhan dengan struktur pasar. Dalam teori pasar yang sehat, pelaku usaha boleh bersaing. Bahkan persaingan sering dianggap sebagai cara terbaik untuk mendorong inovasi, efisiensi, dan kualitas layanan. Namun persaingan yang sehat tidak berarti ketiadaan aturan. Justru persaingan memerlukan aturan dasar yang jelas agar tidak berubah menjadi dominasi sepihak oleh pihak yang memiliki posisi paling kuat.

     Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah kesempatan berusaha di dalam pasar ini benar-benar tersedia secara relatif setara bagi semua pihak yang terlibat.

     Bagi seorang pelanggan, berpindah dari satu makelar ke makelar lain umumnya tidak terlalu sulit. Sebuah aplikasi dapat dihapus dan diganti dalam hitungan menit. Namun bagi driver, situasinya sering lebih rumit. Perpindahan tidak selalu mudah dilakukan. Setiap makelar memiliki sistem, persyaratan, dan kebijakannya masing-masing. Pada saat yang sama, jumlah makelar yang menguasai sebagian besar pasar juga relatif terbatas.

     Akibatnya, hubungan antara driver dan makelar tidak selalu dapat dijelaskan dengan logika pasar bebas yang sederhana. Secara teori, driver memang bebas memilih. Namun dalam praktik, ruang pilihan tersebut sering lebih sempit daripada yang terlihat di permukaan.

     Hal ini menjadi semakin penting ketika kita mengingat bahwa yang dipertaruhkan bukan sekadar preferensi konsumen, melainkan sumber penghidupan jutaan orang. Ketika distribusi order, penetapan tarif, dan akses terhadap pekerjaan terkonsentrasi pada sejumlah kecil pelaku usaha, persoalan yang muncul tidak lagi hanya berkaitan dengan hubungan kerja. Ia mulai menyentuh wilayah persaingan usaha dan struktur pasar itu sendiri.

     Karena itu, pembahasan mengenai driver tidak cukup hanya berhenti pada pertanyaan apakah seseorang memperoleh penghasilan yang layak. Pertanyaan yang tidak kalah penting adalah apakah setiap orang memiliki kesempatan yang relatif setara untuk memperoleh pekerjaan tersebut. Sebab kesejahteraan bukan hanya ditentukan oleh hasil akhir yang diterima seseorang, tetapi juga oleh bagaimana akses menuju hasil tersebut dibuka atau ditutup.

     Makelar tentu berhak bersaing. Mereka berhak menawarkan layanan yang lebih baik, teknologi yang lebih efisien, atau pengalaman pengguna yang lebih nyaman. Namun sebagaimana setiap pasar lainnya, persaingan memerlukan batas-batas dasar yang jelas. Tanpa batas tersebut, persaingan mudah berubah menjadi permainan yang aturannya ditentukan oleh pihak yang sekaligus menjadi peserta paling kuat di dalamnya.

     Pada titik inilah seluruh persoalan yang telah dibahas sebelumnya mulai saling bertemu. Ketimpangan kekuasaan, sulitnya negara memahami pasar, konflik yang berulang, dan ketidaksetaraan kesempatan berusaha ternyata bukan persoalan yang berdiri sendiri. Mereka saling terhubung dalam satu struktur yang sama.

     Pertanyaannya kemudian menjadi lebih sederhana sekaligus lebih besar: jika pasar ini sudah menjadi bagian penting dari kehidupan jutaan orang, apakah ada cara untuk menata ulang hubungan antara negara, makelar, dan driver sehingga masing-masing kembali berada pada posisi yang lebih seimbang?

6. Sebuah Pertanyaan Bernama Driver Indonesia

     Setelah melihat berbagai persoalan yang muncul dalam hubungan antara negara, makelar, dan driver, pertanyaan berikutnya menjadi cukup wajar: adakah cara lain untuk menyusun hubungan tersebut?

     Pertanyaan ini penting karena tidak semua masalah harus dijawab dengan menambah aturan baru. Tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan menambah larangan, sanksi, atau kewajiban administratif. Kadang-kadang persoalannya terletak pada bentuk dasar hubungan yang digunakan sejak awal. Jika bentuk dasarnya berubah, sebagian persoalan lain mungkin menjadi lebih mudah untuk dipahami dan dikelola.

     Dari titik itulah muncul sebuah gagasan yang dalam tulisan ini disebut sebagai Driver Indonesia.

     Nama tersebut mungkin terdengar besar, padahal ide dasarnya sebenarnya cukup sederhana. Hari ini seorang driver umumnya dikenal berdasarkan makelar tempat ia terdaftar. Ada driver A, driver B, driver C, dan seterusnya. Identitas kerjanya melekat pada masing-masing makelar. Ketika seseorang berbicara tentang seorang driver, yang sering muncul terlebih dahulu bukan profesinya, melainkan makelar yang digunakannya.

     Gagasan Driver Indonesia mencoba membalik cara pandang tersebut.

     Dalam model ini, yang menjadi titik awal bukan lagi driver milik makelar tertentu, melainkan driver Indonesia yang kemudian dapat menggunakan jasa makelar yang tersedia di pasar. Driver tetap bekerja. Makelar tetap beroperasi. Pelanggan tetap memperoleh layanan. Yang berubah adalah titik berangkat hubungan di antara mereka.

     Secara sederhana, seorang driver memiliki satu identitas kerja yang diakui dalam sistem. Melalui sebuah hub atau landing page, ia dapat mengakses berbagai makelar yang tersedia dan memilih makelar mana yang ingin digunakannya untuk bekerja pada saat tertentu. Dalam satu waktu ia menggunakan satu makelar, sebagaimana hari ini seorang konsumen memilih akan berbelanja di toko yang mana. Besok ia dapat menggunakan makelar yang berbeda apabila dianggap lebih sesuai dengan kebutuhannya.

     Dalam situasi seperti itu, makelar tetap bersaing mendapatkan pelanggan. Tidak ada yang berubah pada sisi tersebut. Mereka tetap berlomba menghadirkan layanan yang lebih cepat, lebih nyaman, lebih efisien, dan lebih menarik bagi konsumen.

     Namun pada saat yang sama, makelar juga harus bersaing mendapatkan driver.

     Jika selama ini driver sering berada pada posisi yang harus menyesuaikan diri terhadap berbagai kebijakan makelar, dalam model ini hubungan tersebut menjadi lebih seimbang. Makelar tidak hanya berpikir bagaimana menarik pelanggan, tetapi juga bagaimana membuat driver bersedia menggunakan jasanya. Kualitas layanan kepada pelanggan tetap penting, tetapi kualitas hubungan dengan driver juga menjadi bagian dari persaingan.

     Pada titik ini, banyak orang mungkin mengira bahwa inti gagasan tersebut terletak pada proses login atau pada identitas kerja yang digunakan. Padahal bukan itu bagian yang paling penting.

     Yang lebih penting adalah fungsi lain yang lahir dari keberadaan hub atau landing page tersebut.

     Selama ini negara berusaha memahami kondisi pasar melalui berbagai sumber yang tersebar. Namun gambaran mengenai jumlah driver aktif, jumlah order yang tersedia, tingkat kejenuhan pasar, atau distribusi aktivitas antarwilayah sering tidak terlihat secara utuh. Akibatnya negara kesulitan mengetahui apakah sebuah wilayah kekurangan driver, kelebihan driver, atau berada dalam kondisi yang relatif seimbang.

     Melalui hub tersebut, negara dapat melihat kondisi pasar secara langsung.

     Bukan untuk menentukan siapa yang harus memperoleh order. Bukan untuk mengelola operasional harian makelar. Bukan pula untuk mengambil alih fungsi bisnis yang memang menjadi wilayah perusahaan. Fungsi utamanya adalah sebagai alat ukur pasar.

     Negara dapat mengetahui berapa banyak driver yang benar-benar aktif bekerja. Negara dapat melihat perbandingan antara jumlah order dan jumlah driver di suatu wilayah. Negara dapat mengamati tingkat kejenuhan pasar serta perubahan-perubahannya dari waktu ke waktu. Dengan kata lain, negara tidak lagi harus menebak-nebak keadaan pasar yang sedang diaturnya.

     Selama ini negara bertanya kepada makelar tentang keadaan pasar. Dalam model ini, negara dapat melihat pasar secara langsung.

     Fungsi lain yang tidak kalah penting adalah tersedianya ruang penyelesaian sengketa awal. Jika terjadi suspend, deaktivasi akun, atau perselisihan antara driver dan makelar, keberatan dapat diajukan melalui ruang yang berada di luar struktur internal makelar. Tempat tersebut bukan pengadilan dan tidak dimaksudkan menggantikan pengadilan. Namun ia dapat menjadi ruang mediasi, klarifikasi, dan penyelesaian awal yang lebih cepat, lebih murah, dan lebih seimbang dibandingkan kondisi yang ada saat ini.

     Dengan adanya ruang semacam itu, konflik tidak selalu harus berakhir pada keputusan sepihak atau langsung melompat ke proses hukum formal yang panjang dan mahal. Driver memiliki tempat untuk menyampaikan keberatan. Makelar memiliki tempat untuk menjelaskan keputusannya. Negara memiliki kesempatan untuk memastikan bahwa aturan yang berlaku dijalankan secara konsisten.

     Tentu saja gagasan ini bukan jawaban atas seluruh persoalan yang telah dibahas sebelumnya. Driver Indonesia bukan pengganti regulasi. Driver Indonesia bukan pengganti kewajiban negara untuk membuat aturan yang melindungi warga negaranya. Ia juga bukan pengganti kebutuhan akan hukum persaingan usaha, perlindungan pekerja, atau mekanisme penyelesaian sengketa yang lebih baik.

     Driver Indonesia hanyalah salah satu kemungkinan struktur yang dapat mempermudah pengelolaan pasar.

     Karena itu, yang terpenting dari gagasan ini bukanlah nama yang digunakan, bukan pula bentuk teknis yang mungkin berubah dari waktu ke waktu. Yang lebih penting adalah pertanyaan yang ingin diajukannya: apakah pasar yang sudah begitu besar ini dapat ditata dengan cara yang membuat negara melihatnya lebih jelas, membuat persaingan lebih sehat, dan membuat hubungan antara driver, makelar, serta masyarakat menjadi lebih seimbang daripada yang kita lihat hari ini?

     Pada akhirnya, Driver Indonesia hanyalah sebuah sebutan. Sebuah cara untuk mengatakan bahwa driver adalah warga negara yang bekerja di dalam pasar Indonesia, bukan sekadar pelengkap yang melekat pada satu makelar tertentu. Dan jika titik berangkat itu diterima, maka mungkin kita dapat mulai membicarakan kembali peran negara dalam menata pasar tersebut dengan pijakan yang lebih kokoh.

7. Negara, Pasar, dan Keadilan Sosial

     Pada akhirnya, seluruh pembahasan dalam tulisan ini kembali pada satu pertanyaan yang jauh lebih tua daripada aplikasi, algoritma, telepon pintar, atau ekonomi platform. Pertanyaan itu adalah bagaimana sebuah negara menempatkan dirinya di tengah hubungan antara pasar dan warga negaranya.

     Pertanyaan ini penting karena persoalan yang dibahas sejak awal bukan semata-mata tentang driver. Ia juga bukan semata-mata tentang makelar. Bahkan bukan pula semata-mata tentang teknologi. Semua itu hanyalah bentuk-bentuk baru dari persoalan lama yang terus muncul dalam berbagai zaman: bagaimana kebebasan ekonomi dijalankan tanpa mengorbankan keadilan, dan bagaimana keadilan diperjuangkan tanpa mematikan kebebasan ekonomi.

     Indonesia sebenarnya telah meletakkan arah dasarnya sejak lama. Tidak tersembunyi di dalam tafsir yang rumit. Tidak pula membutuhkan penjelasan filosofis yang berlapis-lapis. Sila kelima Pancasila berbicara secara cukup jelas tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

     Kalimat itu sering diucapkan dalam berbagai pidato dan upacara. Namun ketika diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari, maknanya menjadi sangat konkret. Keadilan sosial bukan berarti semua orang memperoleh hasil yang sama. Keadilan sosial juga bukan berarti negara mengambil alih seluruh kegiatan ekonomi. Yang lebih mendasar adalah memastikan bahwa setiap warga negara memiliki kesempatan yang layak untuk berusaha, memperoleh perlindungan yang memadai, dan tidak dibiarkan berhadapan sendirian dengan kekuatan ekonomi yang jauh lebih besar daripada dirinya.

     Dalam kerangka itulah peran negara menjadi penting.

     Negara bukan makelar. Negara bukan pelanggan. Negara bukan driver. Karena itu negara tidak seharusnya menjadi pemain dalam pasar tersebut. Posisi yang lebih tepat adalah sebagai wasit yang menjaga agar permainan berlangsung dengan aturan yang jelas dan berlaku bagi semua pihak.

     Wasit tidak menentukan siapa yang harus menang. Wasit tidak menentukan siapa yang harus memperoleh pelanggan. Wasit tidak menentukan perusahaan mana yang harus menjadi yang terbesar. Namun wasit memastikan bahwa permainan tidak berubah menjadi pertarungan tanpa aturan di mana pihak yang paling kuat dapat menentukan segalanya sendiri.

     Dalam konteks itulah kebutuhan akan berbagai perangkat hukum menjadi sangat penting. Indonesia memerlukan aturan yang lebih jelas mengenai hubungan antara driver dan makelar. Indonesia memerlukan standar yang lebih tegas mengenai suspend, deaktivasi akun, hak pembelaan, dan mekanisme sengketa. Indonesia memerlukan kepastian mengenai perlindungan dasar yang layak diterima oleh para pekerja di sektor ini. Indonesia juga memerlukan aturan persaingan usaha yang mampu memastikan bahwa kompetisi berlangsung secara sehat dan tidak berubah menjadi dominasi yang merugikan pihak lain.

     Hal yang sama berlaku pada persoalan tarif dan kesempatan berusaha. Negara tidak harus menentukan setiap angka yang muncul di pasar. Namun negara memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa pasar tidak berkembang ke arah yang membuat sebagian pihak kehilangan kesempatan yang adil untuk mencari nafkah. Sebagaimana negara menetapkan berbagai standar minimum di banyak sektor lainnya, negara juga memiliki alasan yang sah untuk menetapkan pagar-pagar dasar yang melindungi warga negaranya dari bentuk-bentuk ketimpangan yang berlebihan.

     Karena itu pembahasan mengenai Driver Indonesia tidak boleh dipahami sebagai pengganti seluruh kebutuhan tersebut.

     Jika suatu hari gagasan Driver Indonesia diwujudkan, kebutuhan akan regulasi tetap ada.

     Jika suatu hari gagasan Driver Indonesia ditolak, kebutuhan akan regulasi juga tetap ada.

     Jika landing page tidak pernah dibangun, negara tetap memiliki kewajiban melindungi warga negaranya.

     Jika landing page dibangun sekalipun, negara tetap memiliki kewajiban yang sama.

     Dengan kata lain, kebutuhan akan aturan bukan bergantung pada diterima atau tidak diterimanya sebuah gagasan. Kebutuhan itu lahir dari keberadaan jutaan warga negara yang sudah bekerja, mencari nafkah, dan menggantungkan sebagian hidupnya pada pasar yang telah tumbuh di hadapan kita.

     Karena itu, pembahasan mengenai omnibus law, aturan hubungan antara driver dan makelar, standar suspend, standar perlindungan, standar tarif, maupun standar persaingan usaha tidak boleh diperlakukan sebagai tambahan yang bisa diberikan bila keadaan memungkinkan. Semua itu merupakan bagian dari tanggung jawab yang melekat pada keberadaan negara itu sendiri.

     Bukan bonus.

     Bukan hadiah.

     Bukan bentuk kemurahan hati yang sewaktu-waktu dapat diberikan atau ditarik kembali.

     Ia adalah konsekuensi dari kontrak yang lebih mendasar antara negara dan warga negaranya.

     Ketika jutaan orang bekerja di sebuah pasar yang nyata, ketika negara memungut pajak dari aktivitas yang berlangsung di dalamnya, ketika masyarakat menggantungkan sebagian kebutuhan hidupnya pada layanan yang lahir dari pasar tersebut, maka negara memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa aturan dasarnya berkembang seiring dengan perkembangan pasarnya.

     Pada titik itulah seluruh pembahasan dalam tulisan ini bertemu. Persoalannya bukan apakah pasar digital perlu ada atau tidak. Pasar itu sudah ada. Persoalannya bukan apakah makelar boleh memperoleh keuntungan atau tidak. Mereka memang bagian dari aktivitas ekonomi yang sah. Persoalannya juga bukan apakah driver harus memperoleh perlakuan istimewa.

     Persoalan yang lebih sederhana adalah apakah negara bersedia menjalankan perannya sebagai wasit, sehingga kebebasan berusaha, persaingan usaha, dan martabat warga negara dapat tumbuh bersama di dalam lapangan yang sama.

     Karena pada akhirnya, keadilan sosial tidak lahir dari slogan. Ia lahir dari aturan yang bekerja, institusi yang berfungsi, dan keberanian untuk memastikan bahwa tidak ada satu pihak pun yang berdiri terlalu jauh di atas pihak lainnya hanya karena ia memiliki kekuatan yang lebih besar.

Epilog: Pasar untuk Manusia

     Di sepanjang tulisan ini, kita membicarakan banyak hal. Kita membicarakan makelar, negara, pasar, persaingan usaha, aturan, suspend, sengketa, hingga sebuah gagasan yang disebut Driver Indonesia. Namun pada akhirnya, semua pembahasan itu kembali kepada sesuatu yang jauh lebih sederhana.

     Manusia.

     Di balik setiap order yang muncul di layar ponsel, selalu ada manusia. Di balik setiap akun yang disuspend, ada manusia. Di balik setiap keputusan bisnis, setiap regulasi, setiap kebijakan, dan setiap angka statistik yang diperdebatkan, selalu ada manusia yang menjalani akibatnya dalam kehidupan nyata.

     Karena itu, pembahasan tentang driver tidak pernah sepenuhnya menjadi pembahasan tentang teknologi. Ia juga tidak pernah sepenuhnya menjadi pembahasan tentang ekonomi. Pada titik tertentu, ia berubah menjadi pembahasan tentang bagaimana sebuah masyarakat memandang sesama anggotanya.

     Salah satu contoh yang menarik adalah slogan yang begitu sering diulang dalam dunia layanan: pelanggan adalah raja.

     Sebagai ungkapan untuk mengingatkan pentingnya melayani dengan baik, kalimat itu mungkin tidak bermasalah. Tidak ada yang salah dengan menghormati pelanggan. Tidak ada yang salah dengan berusaha memberikan layanan terbaik. Setiap usaha yang hidup dari kepercayaan masyarakat memang harus berusaha melayani sebaik mungkin.

     Namun persoalan muncul ketika slogan itu berhenti menjadi pengingat etika pelayanan dan berubah menjadi cara memandang hubungan antar manusia.

     Jika pelanggan adalah raja, lalu driver apa?

     Jika pelanggan selalu benar, lalu bagaimana ketika pelanggan berbohong?

     Jika pelanggan tidak pernah boleh dipertanyakan, lalu siapa yang bertanggung jawab mendidik masyarakat menjadi lebih dewasa?

     Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terdengar tidak nyaman. Namun ia muncul dari kenyataan yang sederhana: pelanggan dan driver berasal dari masyarakat yang sama. Mereka tumbuh di jalan yang sama, bersekolah di sekolah yang sama, hidup di bawah hukum yang sama, dan menjadi warga negara yang sama.

     Ada pelanggan yang baik, sabar, dan menghargai orang lain.

     Ada pula pelanggan yang kasar, tidak jujur, dan memanfaatkan posisinya.

     Ada driver yang profesional, bertanggung jawab, dan bekerja dengan penuh hormat.

     Ada pula driver yang melakukan kesalahan dan melanggar kepercayaan yang diberikan kepadanya.

     Kenyataan itu tidak akan berubah hanya karena salah satu pihak memegang telepon untuk memesan layanan dan pihak lainnya mengendarai motor untuk memenuhi pesanan tersebut.

     Masyarakat yang sehat tidak dibangun dengan membagi manusia menjadi kelompok yang selalu benar dan kelompok yang selalu salah. Masyarakat yang sehat dibangun dengan menciptakan aturan yang memungkinkan setiap orang dihormati sebagai manusia, sekaligus bertanggung jawab atas tindakannya sendiri.

     Dalam konteks itulah peran negara menjadi penting. Negara tidak hanya bertugas mengatur lalu lintas ekonomi. Negara juga berperan menjaga agar hubungan-hubungan yang tumbuh di dalam masyarakat tidak berkembang menjadi bentuk-bentuk feodalisme baru yang dibungkus dengan teknologi modern.

     Feodalisme tidak selalu hadir dalam bentuk istana, gelar bangsawan, atau singgasana. Kadang-kadang ia hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana. Sebuah sistem yang membuat satu pihak selalu didengar dan pihak lain selalu dicurigai. Sebuah kebiasaan yang membuat satu kelompok dianggap lebih penting daripada kelompok lainnya. Sebuah budaya yang secara perlahan mengajarkan bahwa sebagian orang layak dihormati, sementara sebagian lainnya hanya layak diperintah.

     Padahal pasar seharusnya tidak bekerja seperti itu.

     Makelar membutuhkan pelanggan.

     Makelar juga membutuhkan driver.

     Pelanggan membutuhkan layanan.

     Driver membutuhkan pekerjaan.

     Negara membutuhkan pasar yang sehat.

     Dan pasar yang sehat pada akhirnya membutuhkan masyarakat yang saling menghormati.

     Karena itu, pertanyaan yang diajukan dalam tulisan ini sebenarnya tidak terlalu rumit. Ia tidak dimulai dari teknologi, dan tidak berakhir pada teknologi. Ia hanya berangkat dari keinginan untuk melihat apakah hubungan antara negara, makelar, pelanggan, dan driver dapat disusun dengan cara yang lebih adil, lebih seimbang, dan lebih manusiawi daripada yang kita miliki hari ini.

     Gagasan Driver Indonesia lahir dari pertanyaan tersebut.

     Ia bukan kebenaran mutlak.

     Ia bukan jawaban yang sudah selesai.

     Ia bukan pula solusi sempurna yang akan menghapus seluruh persoalan yang telah dibahas sejak awal.

     Mungkin gagasan itu keliru. Mungkin perlu diperbaiki. Mungkin perlu ditambah, dikurangi, atau bahkan diganti oleh gagasan yang lebih baik di masa depan.

     Namun jika ada satu hal yang layak dipertahankan dari seluruh pembahasan ini, mungkin itu adalah keyakinan sederhana bahwa pasar ada untuk manusia, bukan manusia untuk pasar.

     Karena ketika pasar tumbuh semakin besar, teknologi menjadi semakin canggih, dan transaksi berlangsung semakin cepat, pertanyaan yang paling penting tetap sama seperti dulu: apakah manusia yang berada di dalamnya hidup dengan martabat yang layak sebagai warga negara, atau justru perlahan-lahan berubah menjadi angka yang hanya dihitung ketika menguntungkan dan dilupakan ketika tidak lagi diperlukan.

     Pertanyaan itu mungkin tidak selesai dijawab hari ini.

     Tetapi barangkali memang dari pertanyaan semacam itulah setiap perubahan yang layak dimulai.

 

=================

baca juga :
Empat Esai tentang Manusia, Pasar, dan Kekuasaan
 

1. 8:92 Tidak Cukup: Negara Harus Mengatur Algoritma

2. 8:92 dan Kesalahan Membaca Realitas Pekerja Gig 

3. Negara, Platform, dan Martabat Kerja: Pelajaran dari Dunia untuk Indonesia

4. DRIVER INDONESIA: Sebuah Gagasan tentang Negara, Makelar, dan Keadilan Sosial di Era Platform Digital 

============
Keempat esai diatas, sudah saya satukan menjadi ebook dengan judul:
APA YANG DIANGGAP NORMAL

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.