Articles by "Geology"

Tampilkan postingan dengan label Geology. Tampilkan semua postingan

     Tidak lama setelah longsor besar melanda Gunung Bawakaraeng pada Maret 2004, yang bergerak turun ke lembah bukan hanya batu, tanah, dan pepohonan. Turun pula berbagai tafsir. Hampir semua orang mempunyai penjelasannya sendiri, dan penjelasan-penjelasan itu sering kali lebih cepat menyebar daripada kabar tentang berapa luas lereng yang runtuh atau berapa besar material yang meluncur ke Sungai Jeneberang.

     Entah siapa yang pertama kali mengatakannya. Orang hanya saling mengulang. Memang sudah waktunya.

     Kalimat itu kemudian tumbuh ke mana-mana. Ada yang mengatakan Bawakaraeng sudah terlalu ramai. Gunung yang dahulu sakral, hanya didatangi oleh segelintir orang, berubah menjadi tujuan ribuan pendaki. Jalur yang dulu lebih sering dilewati suara angin kini lebih akrab dengan tawa, teriakan, musik dari pengeras suara kecil, dan antrean manusia menuju puncak.

     Lalu pembicaraan bergeser kepada hal-hal yang justru lebih membekas di ingatan. Bungkus mi instan yang terselip di sela akar. Botol plastik yang tertinggal di dekat mata air. Kaleng minuman yang berkarat di balik semak. Kaus dan jaket yang sengaja ditinggalkan. Bahkan kondom bekas yang beberapa kali ditemukan di sepanjang jalur pendakian. Tidak ada yang menghitung jumlahnya. Orang hanya menunjuknya sebagai tanda bahwa sesuatu telah berubah. Bukan pada gunungnya, melainkan pada manusia yang datang kepadanya.

     Di banyak kampung di sekitar Bawakaraeng, gunung tidak pernah diperlakukan sebagai hamparan batu belaka. Ia dianggap memiliki kehidupannya sendiri. Karena itu, ketika longsor terjadi, tidak sedikit yang menganggap Bawakaraeng sedang menunjukkan bahwa kesabarannya telah habis. Gunung yang selama ini diam akhirnya memilih berbicara dengan caranya sendiri.

     Tidak ada perdebatan tentang benar atau salah. Di sana, mempertanyakan penjelasan seperti itu justru terasa mengada-ada. Orang mendengarkan, mengangguk, lalu melanjutkan percakapan ke hal lain. Cerita itu diterima sebagaimana orang menerima hujan yang datang pada musimnya—sebuah kenyataan yang tidak memerlukan pembuktian laboratorium untuk bisa diyakini.

     Barangkali yang sedang dipelihara bukan sekadar keyakinan tentang gunung yang hidup. Yang dijaga justru cara manusia memperlakukan gunung. Larangan membuang sampah, menjaga ucapan, tidak merusak sumber air, atau menghormati tempat-tempat tertentu memperoleh wibawanya bukan dari papan peringatan, melainkan dari keyakinan bahwa alam bukan sesuatu yang boleh diperlakukan sesuka hati.

     Di lereng yang sama, perubahan telah berlangsung jauh lebih lama daripada umur semua keyakinan itu.

     Bawakaraeng merupakan bagian dari kompleks gunung api purba Bawakaraeng–Lompobattang. Tubuhnya tersusun oleh batuan vulkanik yang selama ratusan ribu tahun terus berhadapan dengan hujan tropis. Air memasuki rekahan-rekahan batuan, melapukkan mineral sedikit demi sedikit, mengubah batuan yang semula keras menjadi semakin rapuh. Di beberapa tempat, batuan itu telah lebih dahulu mengalami alterasi hidrotermal, perubahan mineral akibat fluida panas pada masa ketika aktivitas vulkaniknya masih berlangsung. Perubahan itu tidak tampak dari kejauhan, tetapi cukup untuk mengurangi kekuatan lereng dari dalam.

     Semua berlangsung tanpa suara. Setiap musim hujan menambah air ke dalam tanah. Setiap rekahan memberi jalan bagi air untuk masuk lebih jauh. Sedikit demi sedikit kekuatan batuan berkurang, sementara gravitasi tidak pernah berhenti menarik seluruh massa lereng ke bawah. Tidak ada satu hari tertentu ketika gunung tiba-tiba menjadi rapuh. Yang ada hanyalah perubahan kecil yang terus bertumpuk dalam rentang waktu yang teramat panjang.

     Hujan dengan intensitas tinggi pada Maret 2004 bukanlah awal dari semuanya. Ia lebih menyerupai tetes terakhir pada sebuah rangkaian proses yang telah berlangsung ribuan tahun. Lereng yang perlahan kehilangan kestabilannya akhirnya tidak lagi mampu menahan bebannya sendiri. Dalam hitungan menit, jutaan meter kubik batuan dan tanah bergerak menuruni lembah, membendung alur Sungai Jeneberang, mengubah bentang alam, dan meninggalkan persoalan sedimentasi yang masih harus dihadapi Bendungan Bili-Bili bertahun-tahun sesudahnya.

     Sesudah longsor itu, lereng berubah. Sungai berubah. Peta pun berubah. Tetapi Bawakaraeng tetap menjadi Bawakaraeng. Yang terus berubah justru cara manusia memandangnya. Sebagian melihat gunung yang sedang mengingatkan manusia agar tahu batas. Sebagian lagi melihat sebuah lereng yang akhirnya mencapai batas kestabilannya setelah bekerja sangat lama di bawah hujan, pelapukan, dan gravitasi.

     Barangkali bumi tidak pernah membutuhkan salah satu dari kedua penjelasan itu. Lereng tidak merasa perlu menjelaskan mengapa ia runtuh. Hujan tidak pernah merasa perlu meminta maaf karena turun terlalu lama. Batuan juga tidak pernah berusaha meyakinkan siapa pun tentang bagaimana ia lapuk. Semua penjelasan lahir dari manusia. Sebab sejak dahulu, setiap kali berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya, manusia hampir selalu melakukan hal yang sama: berusaha memahami bumi, dengan bahasa yang dimilikinya.

     Ada satu kalimat yang sering beredar ketika orang membicarakan karst Maros-Pangkep: "Dulu Maros pernah tenggelam di bawah laut." Kalimat ini terdengar dramatis. Ia mudah memancing rasa takjub. Sayangnya, ia juga menyederhanakan proses geologi yang jauh lebih menarik daripada sekadar kisah tentang daratan yang "tenggelam".

     Maros tidak pernah tenggelam, karena sejak awal batu gamping yang menyusun sebagian besar bentang alamnya memang lahir di laut.

     Perbedaannya mungkin terdengar sepele, tetapi secara geologi sangat mendasar.

     Batu gamping bukanlah batuan yang berasal dari gunung berapi atau dari tanah yang kemudian terendam. Sebagian besar batu gamping terbentuk dari akumulasi cangkang, kerangka, dan sisa organisme laut seperti karang, alga berkapur, foraminifera, moluska, serta berbagai mikroorganisme yang hidup di laut dangkal. Setelah organisme-organisme itu mati, cangkangnya mengendap sedikit demi sedikit di dasar laut. Selama jutaan tahun, endapan tersebut mengalami pemadatan dan sementasi hingga berubah menjadi batu gamping.

     Lingkungan tempat proses itu berlangsung pun bukan sembarang laut. Batu gamping umumnya terbentuk di laut yang hangat, jernih, relatif dangkal, kaya cahaya matahari, dan memiliki pH sedikit basa, sekitar 8 hingga 8,3. Kondisi seperti inilah yang memungkinkan organisme pembentuk kalsium karbonat berkembang dengan baik. Laut tropis masa kini di sekitar Kepulauan Bahama, Maladewa, atau sebagian Great Barrier Reef memberikan gambaran yang cukup baik tentang lingkungan tempat batu gamping purba terbentuk.

     Lalu muncul pertanyaan yang sering membingungkan: jika batu gamping terbentuk di laut dangkal, mengapa ketebalannya bisa mencapai ribuan meter? Bukankah laut dangkal hanya memiliki kedalaman puluhan meter?

     Jawabannya terletak pada satu proses yang jarang diceritakan dalam narasi populer: penurunan dasar cekungan atau subsidence.

     Selama jutaan tahun pengendapan berlangsung, dasar laut tempat endapan batu gamping terbentuk perlahan-lahan ikut turun akibat proses tektonik dan penyesuaian kerak bumi terhadap beban sedimen. Ketika dasar laut turun beberapa meter, pertumbuhan organisme karbonat terus "mengejar" permukaan laut. Akibatnya, lingkungan tetap dangkal meskipun dasar cekungannya terus bergerak turun. Proses ini berlangsung berulang kali selama jutaan tahun sehingga menghasilkan tumpukan batu gamping yang sangat tebal.

     Formasi Tonasa di Sulawesi Selatan merupakan contoh yang sangat baik. Batuan ini mulai diendapkan sekitar 50 juta tahun yang lalu, ketika Sulawesi bagian barat masih berupa laut tropis yang hangat dan dangkal. Selama kira-kira 35 juta tahun, hingga pengendapannya berakhir sekitar 15 juta tahun yang lalu, generasi demi generasi organisme laut lahir, hidup, mati, lalu meninggalkan kerangka kapurnya di dasar laut. Dari siklus kehidupan yang nyaris tak terhitung jumlahnya itu, butiran demi butiran karbonat terus bertumpuk, perlahan membangun endapan yang akhirnya mencapai ketebalan sekitar dua kilometer.

     Angka ini bukan berarti laut tempat pembentukannya sedalam dua kilometer. Sebaliknya, lingkungan pengendapannya tetap berupa laut dangkal yang kaya kehidupan, sementara dasar cekungannya perlahan mengalami penurunan sehingga selalu tersedia ruang bagi endapan baru. Selama 35 juta tahun, laut tropis itu bekerja tanpa suara. Tidak ada ledakan, tidak ada peristiwa dramatis yang bisa disaksikan dalam satu generasi. Hanya jutaan organisme kecil yang menjalani hidupnya, mati, lalu menjadi bagian dari lapisan berikutnya. Apa yang kini tampak sebagai tebing-tebing karst Maros sesungguhnya adalah hasil akumulasi kesabaran bumi dalam rentang waktu yang hampir mustahil dibayangkan oleh umur manusia.

     Bayangkan sebuah eskalator yang bergerak turun sangat perlahan. Di atasnya, para pekerja terus menyusun batu bata sehingga permukaannya tetap berada pada ketinggian yang sama. Setelah waktu yang sangat lama, tumpukan batu bata menjadi sangat tinggi, bukan karena pekerjanya berpindah ke tempat yang lebih dalam, melainkan karena lantai tempat mereka bekerja terus bergerak turun. Demikianlah kira-kira cara alam membangun Formasi Tonasa. Lautnya tetap dangkal, kehidupan terus berlangsung, sementara dasar cekungannya perlahan-lahan turun selama puluhan juta tahun.

     Karena itu, mengatakan bahwa "Maros pernah tenggelam" sebenarnya kurang tepat. Kalimat tersebut seolah menggambarkan bahwa dahulu ada daratan yang kemudian ditelan laut. Padahal, yang terjadi adalah kawasan itu memang merupakan bagian dari lingkungan laut ketika batu gampingnya sedang terbentuk.

     Analogi sederhana mungkin bisa membantu. Mengatakan Maros pernah tenggelam karena batu gampingnya terbentuk di laut sama ganjilnya dengan mengatakan seekor ikan pernah tenggelam. Ikan tidak tenggelam; air memang habitatnya. Demikian pula batu gamping. Ia lahir, tumbuh, dan berkembang di lingkungan laut. Baru jauh kemudian, akibat tumbukan lempeng tektonik dan proses pengangkatan kerak bumi, endapan batu gamping itu terangkat ke daratan. Hujan tropis selama jutaan tahun kemudian mengukirnya menjadi bentang karst yang kita lihat hari ini: bukit-bukit kapur, gua, sungai bawah tanah, dolina, dan menara-menara batu yang menjadi ciri khas Maros-Pangkep.

     Ironisnya, penjelasan yang lebih akurat justru jauh lebih menakjubkan daripada narasi "pernah tenggelam". Yang sedang kita lihat hari ini bukanlah daratan yang kebetulan pernah berada di bawah laut. Kita sedang berdiri di atas sebuah laut purba yang membatu, kemudian diangkat ke permukaan bumi oleh tenaga tektonik, sebelum akhirnya dipahat perlahan oleh air hujan tropis selama puluhan juta tahun.

     Bumi tidak membutuhkan dramatisasi agar tampak menakjubkan. Tiga puluh lima juta tahun diperlukan untuk membangun Formasi Tonasa, lapis demi lapis, cangkang demi cangkang, generasi demi generasi. Dibandingkan kisah itu, narasi bahwa "Maros pernah tenggelam" terasa terlalu kecil untuk menjelaskan keajaiban yang sebenarnya terjadi.

     Sebagian besar warga Makassar mungkin tidak pernah menginjak lereng Gunung Bawakaraeng. Namun setiap kali mereka membuka keran air di rumahnya, sesungguhnya mereka sedang menikmati keputusan yang dibuat oleh bentang alam di pegunungan itu ribuan bahkan jutaan tahun sebelumnya. Air yang mengalir ke dapur, kamar mandi, atau tempat wudu ternyata memulai perjalanannya jauh di hulu Sungai Jeneberang, puluhan kilometer dari kota yang menggunakannya setiap hari.

     Hubungan itu tidak selalu tampak. Yang terlihat hanyalah sungai yang mengalir menuju laut. Padahal jauh sebelum menjadi sungai, setiap tetes hujan terlebih dahulu harus menemukan tempat untuk berkumpul.

     Bayangkan sebuah mangkuk raksasa yang diletakkan di atas bentang alam. Setiap tetes hujan yang jatuh ke dalam mangkuk itu pada akhirnya akan mengalir menuju satu saluran keluar. Dalam hidrologi, "mangkuk" alami itu dikenal sebagai catchment area atau daerah tangkapan air. Ia bukan bendungan, bukan pula waduk buatan manusia, melainkan bentang alam yang selama jutaan tahun membimbing arah perjalanan air.

     Di hulu Jeneberang, "mangkuk" itu bukan sekadar perumpamaan. Ia benar-benar ada. Kaldera purba Bawakaraeng membentuk cekungan alami yang dikelilingi punggungan-punggungan pegunungan. Kaldera adalah jejak dari gunung api purba yang sebagian tubuhnya runtuh setelah letusan besar pada masa lampau. Runtuhan itu meninggalkan bentang alam berupa cekungan luas yang kemudian menjadi tempat berkumpulnya air hujan dari lereng-lereng di sekitarnya. Hampir setiap tetes hujan yang jatuh di kawasan ini pada akhirnya menemukan jalan menuju Sungai Jeneberang.

     Namun hujan yang jatuh belum tentu langsung menjadi berkah.

     Setiap tetes air selalu dihadapkan pada dua kemungkinan. Ia dapat segera berlari mengikuti permukaan tanah, atau ia dapat tinggal lebih lama di dalam tanah. Air yang langsung mengalir di permukaan dikenal sebagai runoff. Semakin besar runoff, semakin cepat air meninggalkan pegunungan. Sungai akan tampak deras sesaat setelah hujan turun, tetapi beberapa hari kemudian debitnya kembali menyusut karena sebagian besar air telah lebih dahulu menuju laut.

      Sebaliknya, ketika air sempat meresap ke dalam tanah, perjalanan itu menjadi jauh lebih panjang. Material vulkanik yang telah lama mengalami pelapukan membentuk tanah yang gembur dan kaya pori. Rekahan-rekahan batuan vulkanik juga menyediakan jalan bagi air untuk bergerak perlahan ke bawah permukaan. Proses ini dikenal sebagai infiltrasi. Air kemudian tersimpan di dalam lapisan batuan sebagai akuifer, cadangan air tanah yang perlahan-lahan melepaskan airnya kembali melalui mata air, rembesan lereng, dan aliran dasar sungai. Karena itulah Sungai Jeneberang tetap mengalir bahkan ketika musim hujan telah lama berlalu.

     Di sinilah hutan memainkan peran yang sering kali tidak terlihat.

     Pohon tidak menciptakan air. Hujan tetap turun dengan atau tanpa hutan. Namun hutan memperlambat kepergian air. Tajuk pepohonan meredam energi tetesan hujan, serasah daun menahan aliran di permukaan, sementara akar-akar memperbaiki struktur tanah sehingga infiltrasi berlangsung lebih efektif. Semakin banyak air yang masuk ke dalam tanah, semakin sedikit yang langsung berubah menjadi runoff. Air tidak tergesa-gesa meninggalkan pegunungan, melainkan disimpan terlebih dahulu di dalam tubuh bumi.

     Banjir dan kekeringan sering dianggap sebagai dua bencana yang berbeda. Padahal keduanya dapat lahir dari penyebab yang sama. Ketika terlalu banyak air berlari di permukaan, sungai akan meluap pada musim hujan. Namun karena sedikit yang tersimpan sebagai air tanah, sungai yang sama akan kehilangan pasokannya ketika kemarau tiba. Air datang berlebihan pada satu musim, lalu menghilang pada musim berikutnya.

     Karena itu, menanam pohon di daerah tangkapan air bukan sekadar menghijaukan lereng pegunungan. Yang sesungguhnya sedang dibangun adalah sistem penyimpanan air alami yang bekerja tanpa pompa, tanpa listrik, dan tanpa suara. Akuifer di hulu terisi sedikit demi sedikit, mata air tetap hidup, debit dasar Sungai Jeneberang terjaga, dan jutaan masyarakat di hilir memperoleh jaminan air yang lebih berkelanjutan.

     Dari Makassar, masyarakat dapat melihat siluet Lompobattang dan Bawakaraeng berdiri tegak di kejauhan. Pegunungan itu menjadi penanda arah yang akrab di cakrawala timur. Namun yang sesungguhnya bekerja menjaga kehidupan kota bukanlah punggungan yang tampak itu, melainkan kaldera tua yang tersembunyi di baliknya. Di sanalah hujan dikumpulkan, diperlambat, lalu disimpan jauh di dalam tanah dan batuan sebelum perlahan dilepaskan kembali ke Sungai Jeneberang. 

     Bentang alam itu mungkin tidak pernah terlihat dari kota, tetapi setiap tetes air yang mengalir ke rumah-rumah warga Makassar membawa jejak perjalanan panjang yang dimulai dari cekungan purba di hulu—sebuah pekerjaan sunyi yang telah dilakukan bumi jauh sebelum manusia membangun kota di hilirnya.

     Bagaimana mungkin sebuah kampung berpindah tempat tanpa seorang pun memindahkan rumahnya?

     Pertanyaan itu muncul berulang kali setelah gempa Palu pada 28 September 2018. Foto-foto memperlihatkan rumah-rumah yang masih berdiri, tetapi tidak lagi berada di tempat semula. Hamparan sawah bergeser puluhan hingga ratusan meter. Jalan raya yang sehari sebelumnya lurus, mendadak terputus. Aspal di satu sisi masih ada, tetapi sambungannya lenyap entah ke mana. Di beberapa tempat, tanah berubah menjadi lumpur yang menelan bangunan utuh. Banyak orang menyebutnya kiamat kecil. Sebagian lagi menyebut bumi sedang marah.

     Geologi tidak mengenal kemarahan.

     Yang bergerak bukanlah kemarahan bumi, melainkan Sesar Palu-Koro, salah satu sesar aktif yang membelah Sulawesi. Ia bukan rekahan yang baru muncul pada 2018. Jauh sebelum kota Palu berdiri, jauh sebelum jalan raya dibangun, bahkan jauh sebelum manusia mengenal nama Sulawesi, sesar itu telah menjadi batas tempat dua blok kerak bumi saling bergeser. Perlahan, hampir tak terasa, hanya beberapa sentimeter setiap tahun.

     Beberapa sentimeter terdengar sepele. Kuku manusia tumbuh lebih cepat daripada itu. Namun bumi tidak menghitung waktu dengan kalender manusia.

     Sentimeter demi sentimeter terus terkumpul. Sepuluh tahun menjadi puluhan sentimeter. Seratus tahun menjadi beberapa meter. Selama batuan masih mampu menahan tegangan, semuanya tampak tenang. Kota dibangun. Sawah ditanami. Jalan diaspal. Orang menikah, menua, lalu meninggal tanpa pernah menyadari bahwa di bawah rumahnya, batuan sedang menyimpan utang yang suatu hari harus dibayar.

     Lalu tibalah saat batuan tidak lagi sanggup menahan tekanan.

     Dalam hitungan belasan detik, energi yang dikumpulkan selama ratusan tahun dilepaskan sekaligus. Dua sisi sesar saling bergeser secara mendatar. Itulah sebabnya Sesar Palu-Koro digolongkan sebagai sesar geser (strike-slip fault). Yang bergerak bukan gunung yang runtuh, melainkan dua massa batuan yang saling menggesek ke arah berlawanan.

     Dari permukaan, semuanya tampak mustahil.

sumber: https://link.springer.com/article/10.1186/s40562-020-0150-2/figures/1

ilustrasi generated by Banana

     Rumah-rumah seolah berjalan. Pagar tidak lagi bertemu dengan halaman. Jalan raya kehilangan pasangannya. Sungai menemukan alur yang baru.

     Padahal rumah tidak pernah berjalan. Jalannya pun tidak pernah melompat. Yang berpindah adalah tanah tempat semuanya berdiri.

     Namun Palu menyimpan satu cerita lain yang bahkan lebih ganjil.

     Di Petobo, Balaroa, dan Jono Oge, tanah kehilangan sifatnya sebagai tanah. Getaran gempa membuat lapisan sedimen yang jenuh air berubah perilaku seperti cairan. Dalam beberapa menit, permukaan yang selama ini dianggap kokoh mendadak mengalir. Rumah-rumah terbawa bersama pepohonan, sawah, bahkan tiang listrik. Peristiwa itu dikenal sebagai likuefaksi.

     Ironisnya, likuefaksi bukan terjadi karena tanah menjadi lebih lemah. Ia terjadi karena air yang selama ini mengisi pori-pori sedimen tiba-tiba menerima tekanan sedemikian besar sehingga butiran tanah kehilangan kemampuan saling mengunci. Tanah tidak berubah menjadi air. Ia hanya berhenti bersikap seperti tanah.

     Tidak jauh dari sana, dasar Teluk Palu juga bergerak. Perubahan mendadak pada dasar laut, ditambah longsoran bawah laut yang dipicu gempa, membangkitkan tsunami yang dalam hitungan menit mencapai daratan. Gempa, likuefaksi, dan tsunami datang hampir bersamaan, seolah bumi sedang mempertontonkan seluruh kemampuannya dalam satu panggung.

     Padahal tidak ada pertunjukan.

     Yang terjadi hanyalah hukum-hukum geologi bekerja sebagaimana mestinya.

     Istilah "luka" lahir dari pengalaman manusia, bukan dari cara bumi bekerja. Bagi bumi, sesar bukanlah tanda kegagalan, melainkan jejak dari perubahan yang tidak pernah berhenti. Selama lebih dari empat miliar tahun, kerak bumi terus menerima tekanan, melengkung, bergeser, terangkat, lalu terkikis kembali. Yang disebut sesar hanyalah bagian dari perjalanan panjang itu yang kebetulan cukup jelas untuk dikenali dan diberi nama.

     Kata "patah" membantu manusia memahami perubahan yang melampaui ukuran hidupnya sendiri. Gempa yang berlangsung belasan detik terasa datang tanpa peringatan, padahal energi yang dilepaskannya telah terkumpul selama ratusan hingga ribuan tahun. Dalam umur bumi, peristiwa itu hanyalah satu bab dari kisah yang nyaris tak berujung. Dalam umur manusia, ia cukup untuk membelah kehidupan menjadi dua: sebelum dan sesudah.

     Karena itulah bumi tidak pernah benar-benar patah. Rumah dapat bergeser, jalan dapat kehilangan sambungan, bahkan satu kampung dapat berpindah tempat. Semua itu mengubah hidup manusia, tetapi tidak mengubah cara bumi bekerja. Yang sesungguhnya runtuh sering kali bukan planet ini, melainkan keyakinan manusia bahwa tanah di bawah kakinya akan selalu tetap di tempatnya.

     Geoethics lahir dari satu kesadaran yang sederhana tapi sering terlambat: bumi bukan sekadar objek yang bisa diukur, dipetakan, lalu dieksploitasi tanpa sisa makna. Ia adalah ruang hidup—dan setiap keputusan geologis, sekecil apa pun, selalu membawa konsekuensi yang menjalar jauh melampaui angka dan grafik.

     Dalam ranah geologi, geoethics bisa dipahami sebagai refleksi moral atas bagaimana pengetahuan tentang bumi digunakan. Bukan hanya soal “apa yang benar secara ilmiah”, tetapi “apa yang pantas dilakukan” ketika kebenaran itu berada di tangan manusia dengan kepentingan.

     Istilah ini sendiri berakar dari persinggungan antara etika dan ilmu kebumian. Namun ia tidak berhenti sebagai cabang akademik; ia adalah semacam kompas yang seringkali bergetar di tengah tarik-menarik antara ilmu, industri, dan kekuasaan.

     Bayangkan seorang geolog menemukan cadangan mineral besar di suatu wilayah. Secara teknis, itu keberhasilan. Secara ekonomi, itu peluang. Tapi di bawah tanah yang sama, ada kampung, ada sungai, ada ingatan kolektif masyarakat. Geoethics masuk bukan untuk menghentikan eksploitasi secara mutlak, melainkan untuk mempertanyakan cara, batas, dan tanggung jawabnya.

     Di titik ini, geoethics menjadi semacam perlawanan halus terhadap cara pandang reduktif: bahwa bumi hanyalah “sumber daya”. Ia mengingatkan bahwa istilah seperti “resource” sering kali menyembunyikan relasi kuasa—siapa yang mengambil, siapa yang kehilangan, dan siapa yang bahkan tidak pernah diajak bicara.

     Lebih jauh, geoethics juga berbicara tentang tanggung jawab ilmuwan dalam komunikasi. Ketika risiko gempa, longsor, atau erupsi gunung api diprediksi, informasi itu bukan sekadar data. Ia bisa menjadi penyelamat—atau sebaliknya, jika disampaikan dengan ceroboh, menjadi sumber kepanikan atau bahkan diabaikan. Di sini, kejujuran ilmiah harus berjalan berdampingan dengan kepekaan sosial.

     Ada juga dimensi waktu yang membuat geoethics terasa hampir puitis. Geologi bekerja dalam skala jutaan tahun, sementara manusia hidup dalam hitungan dekade. Keputusan yang diambil hari ini—penambangan, pembangunan, eksploitasi air tanah—sering kali dampaknya baru terasa jauh setelah pengambil keputusan itu sendiri tiada. Geoethics memaksa kita berpikir lintas generasi, seolah-olah kita sedang bernegosiasi dengan masa depan yang belum punya suara.

     Organisasi seperti International Association for Promoting Geoethics mencoba merumuskan prinsip-prinsipnya: integritas ilmiah, transparansi, tanggung jawab terhadap masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan. Tapi di lapangan, prinsip itu sering kali harus berhadapan dengan realitas yang lebih keras—kontrak, tekanan politik, kebutuhan ekonomi, bahkan ambisi pribadi.

     Di situlah geoethics menjadi menarik sekaligus tidak nyaman. Ia tidak memberi jawaban yang rapi. Ia justru memperpanjang pertanyaan.

     Apakah seorang geolog harus menolak proyek yang merusak lingkungan meski secara hukum sah?
     Apakah diam terhadap manipulasi data adalah bentuk pengkhianatan, atau sekadar strategi bertahan hidup?
     Apakah pembangunan selalu identik dengan kemajuan, atau hanya perubahan bentuk kerusakan?

     Geoethics tidak menyediakan moralitas yang steril. Ia lebih mirip cermin retak: memantulkan kenyataan bahwa ilmu tidak pernah benar-benar netral ketika bersentuhan dengan manusia.

     Dan mungkin di situlah intinya—geoethics bukan tentang menjadi “baik” dalam arti sederhana. Ia tentang tetap sadar, bahwa setiap lapisan tanah yang kita buka, selalu menyimpan lebih dari sekadar batuan: ada kehidupan, ada sejarah, dan ada tanggung jawab yang tidak bisa ditimbun kembali begitu saja.

     Mengapa hari ini kata konglomerat justru lebih akrab di telinga sebagai istilah ekonomi?

     Istilah conglomerate mulai digunakan secara formal pada tahun 1809 oleh The Geological Society of London untuk menggambarkan salah satu jenis batuan sedimen. Nama itu dipilih karena berasal dari bahasa Latin conglomerare, yang berarti "menggumpalkan" atau "mengumpulkan menjadi satu."

     Dalam geologi, batuan konglomerat terbentuk dari kerikil-kerikil besar yang sebelumnya telah mengalami perjalanan panjang. Batuan induk di pegunungan mengalami pelapukan akibat perubahan suhu, air hujan, akar tumbuhan, atau aktivitas tektonik. Pecahan batu kemudian terbawa oleh sungai, banjir, gelombang laut, atau gletser. Selama perjalanan itu, pecahan-pecahan tersebut saling bertumbukan ribuan hingga jutaan kali sehingga sudut-sudutnya menjadi membulat.

     Ketika energi arus mulai melemah—di muara sungai, dasar danau, dataran banjir, atau pantai—kerikil-kerikil tersebut mengendap. Endapan terus bertambah, tertimbun lapisan sedimen baru, mengalami tekanan, lalu direkatkan oleh mineral seperti silika, kalsit, atau oksida besi. Proses panjang ini dikenal sebagai litifikasi. Setelah jutaan tahun, lahirlah batuan konglomerat.

     Menariknya, setiap kerikil dalam batu konglomerat memiliki sejarahnya sendiri. Ada yang berasal dari batuan beku, ada yang berasal dari batuan metamorf, ada pula yang berasal dari batuan sedimen yang lebih tua. Mereka berkumpul bukan karena saling memilih, bukan pula karena ada satu kerikil yang menguasai kerikil lain. Alam hanya mempertemukan mereka melalui hukum gravitasi, aliran air, dan waktu yang hampir tak terbayangkan.

     Geolog bahkan menggunakan konglomerat sebagai arsip masa lalu bumi. Dari ukuran kerikil dapat diperkirakan kekuatan arus purba. Dari komposisi mineral dapat diketahui asal pegunungan yang telah lama hilang. Dari bentuk kebulatannya dapat diperkirakan seberapa jauh perjalanan yang telah ditempuh. Sebuah batu konglomerat sesungguhnya adalah buku sejarah yang ditulis oleh alam.

     Lebih dari satu setengah abad kemudian, kata yang sama mulai memperoleh kehidupan baru. Pada tahun 1963, Federal Trade Commission bersama Departemen Kehakiman Amerika Serikat mulai menggunakan istilah conglomerate dalam konteks bisnis dan kebijakan persaingan usaha. 

     Saat itu Amerika sedang mengalami gelombang besar akuisisi perusahaan. Banyak perusahaan membeli bisnis lain yang sama sekali tidak berkaitan dengan usaha utamanya. Istilah konglomerat dipakai untuk menjelaskan kelompok perusahaan yang mengendalikan berbagai jenis bisnis di bawah satu kepemilikan.

     Sejak saat itu, makna konglomerat perlahan bergeser dari batu menjadi korporasi. Hari ini, ketika seseorang menyebut kata konglomerat, yang terbayang bukan lagi bongkahan batu di tepi sungai atau singkapan batuan di lereng pegunungan, melainkan kelompok usaha raksasa dengan jaringan bisnis yang menjangkau berbagai sektor ekonomi.

     Dalam dunia bisnis, seseorang umumnya disebut konglomerat ketika mengendalikan kelompok usaha yang sangat besar, memiliki aset bernilai miliaran dolar atau triliunan rupiah, menguasai banyak perusahaan, serta mempunyai pengaruh yang melampaui satu sektor ekonomi. Ukurannya bukan sekadar kaya. 

     Banyak orang kaya bukan konglomerat. Yang membedakan adalah luasnya jaringan kepemilikan, kemampuan mengendalikan berbagai perusahaan sekaligus, diversifikasi usaha, serta besarnya pengaruh terhadap pasar, investasi, bahkan kebijakan publik.

     Perusahaan konglomerasi biasanya tumbuh melalui beberapa pola.

     Yang pertama adalah ekspansi vertikal. Dalam pola ini, satu kelompok usaha menguasai seluruh rantai produksi dari hulu hingga hilir. Sebuah perusahaan kelapa sawit, misalnya, tidak hanya memiliki perkebunan. Ia juga memiliki pabrik pengolahan tandan buah segar menjadi minyak sawit mentah, pabrik minyak goreng, perusahaan logistik untuk mengangkut produk, pelabuhan, gudang distribusi, jaringan supermarket, hingga merek minyak goreng yang langsung dijual kepada konsumen. Setiap tahap menghasilkan keuntungan yang kembali ke kelompok usaha yang sama.

     Pola kedua adalah ekspansi horizontal. Di sini perusahaan memperbesar penguasaan pada sektor yang sama. Sebuah perusahaan makanan membeli perusahaan makanan lain, mengakuisisi pesaingnya, atau menguasai berbagai merek berbeda agar pangsa pasarnya semakin besar.

     Pola ketiga adalah diversifikasi konglomerasi. Inilah yang paling identik dengan istilah konglomerat modern. Sebuah kelompok usaha mungkin memiliki bank, perusahaan properti, jaringan hotel, perusahaan media, perusahaan tambang, rumah sakit, perusahaan telekomunikasi, hingga bisnis energi yang sama sekali tidak saling berkaitan. Ketika satu sektor mengalami krisis, sektor lain tetap menghasilkan keuntungan. Risiko tersebar, sementara kekuatan ekonomi semakin terkonsentrasi.

     Di Indonesia, pola-pola seperti ini mudah ditemukan. Ada kelompok usaha yang bermula dari perkebunan sawit lalu merambah industri pengolahan makanan, pelayaran, pelabuhan, pembangkit listrik, hingga pusat perbelanjaan. 

     Ada yang memulai dari rokok kemudian berkembang ke perbankan, elektronik, properti, e-commerce, dan teknologi digital. Ada pula yang membangun kerajaan dari pertambangan lalu masuk ke media, energi, infrastruktur, hingga pendidikan. 

     Semua bergerak menuju tujuan yang sama: menguasai sebanyak mungkin mata rantai ekonomi.

     Di titik tertentu, persoalannya tidak lagi semata-mata tentang keberhasilan membangun bisnis.

     Ia mulai menyentuh pertanyaan yang lebih mendasar: sampai sejauh mana pemusatan kekayaan masih dapat disebut persaingan yang sehat?

     Ekonomi mengenal berbagai istilah untuk menjelaskan keadaan itu. Konsentrasi pasar, integrasi vertikal, dominasi rantai pasok, praktik monopolistik, hingga oligarki ekonomi bukanlah kata-kata yang lahir dari kemarahan. Semuanya adalah istilah analitis untuk menggambarkan ketika kekuatan ekonomi terkumpul pada semakin sedikit tangan. 

     Persaingan tetap ada, tetapi ruang geraknya semakin menyempit. Pasar tetap berjalan, tetapi tidak semua pelaku memiliki kemampuan yang sama untuk memengaruhi arahnya.

     Di sinilah ironi itu muncul.

     Dalam geologi, konglomerat adalah peristiwa yang sepenuhnya alamiah. Tidak ada kerikil yang berambisi menjadi lebih besar daripada kerikil lain. Tidak ada fragmen batu yang berusaha menguasai seluruh sungai. Mereka hanya mengikuti hukum alam, lalu akhirnya terikat menjadi satu batuan.

     Manusia meminjam nama itu untuk sesuatu yang sama sekali berbeda.

     Di dunia bisnis, konglomerat bukan lagi sekadar kumpulan yang terbentuk secara alamiah. Ia adalah hasil keputusan, strategi, akuisisi, ekspansi, dan konsentrasi modal yang dilakukan dengan tujuan yang sangat jelas: memperbesar kendali. 

     Tidak ada yang keliru dengan membangun perusahaan. Tidak ada yang salah dengan bertumbuh. Tetapi ketika pertumbuhan berubah menjadi pemusatan kekuasaan ekonomi yang membuat pasar kehilangan keseimbangannya, persoalannya tidak lagi hanya menyangkut bisnis. Ia telah memasuki wilayah etika, hukum, dan masa depan sebuah masyarakat.

     Alam tidak pernah menyembunyikan maksudnya. Sungai tidak mengalir untuk menguasai sungai lain. Batu tidak membulat agar batu lain kehilangan tempat. Konglomerat dalam geologi lahir tanpa niat, tanpa strategi, dan tanpa kepentingan.

     Barangkali justru karena itulah terasa ganjil ketika istilah yang lahir dari proses alam yang begitu jujur kemudian dipinjam untuk menamai dunia yang begitu akrab dengan perebutan kendali. Batuan konglomerat mengajarkan bahwa banyak hal dapat menyatu tanpa ambisi. 

     Manusialah yang kemudian membuat kata yang sama terdengar seperti lambang keberhasilan, padahal di baliknya sering tersembunyi cerita tentang pemusatan kekayaan, dominasi pasar, dan kekuasaan yang terus bertambah besar.

Membaca Vulkanisme Purba dan Hidrologi Sungai Jeneberang

     Sulawesi berdiri di atas simpang tiga dunia tektonik, tempat kerak bumi saling bertemu tanpa sopan santun dan memaksa pegunungan tumbuh, pulau terpecah, dan magma naik dari perut bumi. Di titik inilah kompleks Gunung Lompobattang–Bawakaraeng terbentuk, sebuah tubuh vulkanik purba di bagian selatan Sulawesi Selatan yang hari ini tidak lagi menyemburkan lava, tetapi menyimpan catatan panjang tentang bagaimana pulau ini dibentuk, dibasuh, dan diukir ulang oleh proses geologi. Dua puncak utama, Lompobattang dan Bawakaraeng, berdiri tidak jauh dari Makassar, seolah menjadi penjaga lembah Jeneberang dan penentu takdir hidrologi kota-kota hilir. Keduanya terlihat tenang, tetapi ketenangan itu bukanlah absennya energi; ia hanya menandakan bahwa fase eksplosifnya telah berakhir berjuta tahun lalu.

     Kompleks ini sering disebut gunung api tipe C—kategori yang diberikan PVMBG kepada gunung yang memiliki bukti vulkanik tetapi tidak memiliki catatan letusan dalam sejarah tertulis. Dalam bahasa vulkanologi, mereka adalah veteran yang telah pensiun tetapi meninggalkan medan penuh tanda perang: lava andesit basaltik, breksi piroklastik, tuf, serta lembah-lembah yang bentuknya hanya mungkin lahir dari letusan yang lebih tua dari manusia yang tinggal di sekitarnya. Kompleks ini terbentuk pada kala Plistosen, kira-kira antara 2,58 juta hingga 11.700 tahun yang lalu, saat aktivitas busur vulkanik di bagian selatan Sulawesi mencapai salah satu fase dinamisnya. Sejak itu aktivitasnya meredup, tetapi reliefnya terus dipahat oleh tektonik dan erosi.

     Untuk memahami kompleks Lompobattang–Bawakaraeng, ada tiga lapis yang harus dibaca: lapis vulkanik yang membangun tubuh gunung, lapis tektonik yang mengangkat dan memecahkannya, dan lapis hidrologi yang melarutkan, mengangkut, dan mengubahnya menjadi ekosistem yang hidup. Ketiga lapis ini saling terkait dan tidak dapat dijelaskan sendiri-sendiri tanpa membuat penjelasan cacat.

Vulkanisme Plistosen dan Bentuk Stratovolcano Terkikis

     Bentuk geologi paling mencolok dari kompleks ini adalah tubuh stratovolcano yang tersingkap dalam keadaan setengah terkikis. Stratovolcano secara umum dibentuk oleh letusan berulang dengan jenis magma menengah hingga mafik, menghasilkan kombinasi antara aliran lava dan piroklastik yang membangun kerucut. Pada Lompobattang–Bawakaraeng, batuan yang tersingkap berupa lava basalt hingga andesit basaltik, breksi vulkanik, dan lapisan tuf yang memberi petunjuk bahwa letusan purba bersifat eksplosif dengan selingan efusif. Karakter batuan ini menunjukkan bahwa magma yang membangunnya kemungkinan berasal dari peleburan mantel bagian atas pada zona subduksi busur Sunda-Banda.

     Letusan purba tidak hanya membentuk kerucut tetapi juga kaldera—struktur cekung besar yang terbentuk ketika sebagian tubuh gunung runtuh setelah letusan besar mengosongkan ruang magma di bawahnya. Pada kompleks ini, jejak kaldera tidak lagi berbentuk lingkaran utuh sebagaimana yang sering digambar dalam buku pelajaran vulkanologi. Erosi, tektonik, dan waktu yang panjang telah merobek lengkungnya menjadi lembah-lembah yang kini memiliki nama lokal: Ramma, Lowe, dan Anjayya. Sukamto & Supriatna (1982) mencatat bahwa lembah-lembah ini menunjukkan morfologi cekungan kaldera purba yang telah tersegmen oleh struktur sesar dan lipatan.

     Di antara dua puncak—Bawakaraeng dan Lompobattang—masih terlihat hubungan morfologis yang menyiratkan bahwa keduanya bukan kerucut yang berdiri sendiri, tetapi sisa-sisa struktur kaldera atau dinding kerucut vulkanik yang terangkat. Hubungan ini penting karena memberi konteks pada pembentukan hidrologi lembah dan genesis Sungai Jeneberang yang berasal dari bagian dalam tubuh kaldera purba. 

Ramma dan sekitarnya

 Tektonik Sulawesi Selatan dan Uplift Pasca-Letusan

     Sulawesi memiliki sejarah tektonik yang tidak dapat dikatakan sederhana. Pulau ini berada di pertemuan tiga lempeng besar—Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik—yang saling menekan, menggunting, dan menumpuk fragmen kerak sejak era Neogen. Salah satu struktur yang berpengaruh di bagian selatan adalah Sesar Walanae, sesar mendatar (strike-slip) yang memainkan peran dalam pengangkatan (uplift) blok-blok vulkanik termasuk kompleks Lompobattang.

     Uplift pasca-letusan berperan penting dalam menjelaskan mengapa puncak Bawakaraeng dan Lompobattang kini berada pada ketinggian ±2800 mdpl, meskipun umur vulkaniknya relatif tua. Proses ini menahan tubuh gunung agar tidak seluruhnya terkikis hingga menjadi perbukitan rendah, sebagaimana yang terjadi pada banyak gunung api tua di Jawa bagian selatan. Pengangkatan ini pula yang memberi kemiringan lereng tajam dan menciptakan relief kontras antara lembah-lembah kaldera dan puncak-puncaknya.

     Tektonik tidak hanya mengangkat tetapi juga membelah, menciptakan jalur lemah yang penting bagi aliran air. Zona lemah inilah yang kemudian dipilih oleh hidrologi sebagai “pintu keluar” material dan air dari kaldera purba, menghasilkan pola drainase yang mengarah ke hulu Sungai Jeneberang.

Dari Kaldera ke Sungai: Hidrologi dan Genesis Jeneberang

     Interpretasi bahwa lembah-lembah kaldera purba pernah menjadi danau sementara (paleolake) adalah masuk akal secara geomorfologi dan vulkanologi. Dalam banyak gunung api di dunia—dari Taupō di Selandia Baru hingga Toba di Sumatera—fase danau kaldera merupakan fase transisi setelah letusan besar tetapi sebelum proses erosi merobek dinding kaldera menjadi saluran drainase.

     Pada kompleks Lompobattang–Bawakaraeng, lembah seperti Ramma menunjukkan morfologi cekungan tertutup yang cukup luas untuk mengumpulkan air hujan dalam volume besar. Danau semacam ini tidak perlu ada hingga ribuan tahun; beberapa bisa mengering dalam hitungan abad atau bahkan dekade. Yang penting adalah perannya dalam menentukan jalur hidrologi awal. Air dan sedimen dari cekungan kaldera mencari jalur pada zona lemah—biasanya rekahan tektonik, kontak batuan, atau litologi vulkanik yang lebih rapuh. Proses inilah yang memungkinkan Sungai Jeneberang tumbuh dan menghubungkan kaldera dengan dataran rendah.

     Jeneberang bukan hanya sungai yang mengalirkan air; ia membawa puing masa lalu gunung. Basalt, breksi vulkanik, pasir andesit, dan fragmen piroklastik menjadi muatan yang akhirnya mengendap di delta, kemudian memengaruhi morfologi pesisir Gowa dan Makassar. Bagi pembaca umum di kota, sungai tampak seperti unsur alami yang sederhana, tetapi bagi geologi, ia adalah sistem transportasi yang memindahkan tubuh gunung ke laut dalam bentuk partikel.

     Catchment area gunung ini hari ini menyuplai air baku bagi Makassar dan wilayah sekitarnya, menjadikan kompleks vulkanik purba ini relevan bukan hanya dalam studi geologi tetapi juga tata guna air, mitigasi banjir, dan perencanaan infrastruktur.

Magma Menengah yang Membentuk Tubuh Gunung

     Kompleks Lompobattang–Bawakaraeng pada dasarnya dibangun oleh magma berkomposisi menengah (intermediate magmatism), terutama basalt hingga andesit basaltik. Ini penting karena jenis magma menentukan cara gunung meletus, bentuk tubuhnya, dan residu geologi yang tersisa.

     Magma basaltik cenderung lebih cair dan menghasilkan letusan efusif dengan aliran lava panjang, sementara magma yang lebih silisik dan lebih kental cenderung menghasilkan letusan eksplosif yang membangun stratovolcano. Pada kompleks ini, penyelidikan batuan menunjukkan adanya kombinasi keduanya, sehingga tubuh gunung memuat bukti bahwa letusan sepanjang sejarah Plistosen bersifat campuran: lava mengalir, piroklastik terlempar, dan kaldera runtuh setelah ruang magma di bawahnya kosong secara mendadak.

     Fragmen breksi vulkanik yang tersebar luas menjadi petunjuk yang jarang menipu. Breksi mengindikasikan bahwa batuan tidak terkikis perlahan oleh air, melainkan dihancurkan secara tiba-tiba oleh pelepasan energi besar. Lapisan tuf—yang merupakan residu mikroskopik dari letusan eksplosif—menjadi arsip yang lebih halus dan tertib. Lapisan-lapisan ini dapat dipakai untuk membaca intensitas dan frekuensi letusan seperti membaca riwayat demam di grafik pasien.

     Bila batuan-batuan ini diperiksa lebih jauh, mungkin ditemukan mineral-mineral umum di gunung api busur: piroksen (augit-hypersten), plagioklas (labradorite–andesine), magnetit, dan olivin minor pada komposisi yang lebih mafik. Mineral-mineral ini memperkuat interpretasi bahwa magma yang membangun kompleks ini berasal dari proses peleburan mantel pada zona subduksi, khas busur Sunda–Banda.

     Perlu dicatat bahwa magma busur umumnya memiliki kandungan air yang relatif tinggi, dan inilah salah satu faktor utama yang menjadikan letusan eksplosif, bukan semata kandungan silika. Air dalam magma adalah janji energi laten; ketika tekanan terlepas, air berubah menjadi uap dengan ekspansi ratusan kali lipat, menciptakan gaya yang cukup untuk meruntuhkan dinding-dinding gunung.

Erosi dan Pemahat Waktu

     Gunung api tidak mati begitu magma berhenti. Ia masuk fase kedua sebagai lanskap yang mulai dikerjakan oleh agen-agen erosi. Di kompleks Lompobattang–Bawakaraeng, erosi bekerja dalam kombinasi antara air, gravitasi, dan tektonika. Sungai memotong tubuh vulkanik, membawa fragmen ke dataran rendah. Curamnya lereng dan porositas batuan mempercepat pelapukan, sementara uplift tektonik terus membuat lereng tetap tinggi, sehingga proses aliran gravitasi tidak pernah kehabisan energi.

     Ada dua tipe erosi yang tampak dominan di kompleks ini: erosi linear dan erosi massal. Erosi linear membentuk lembah-lembah dalam dan sempit yang mengalirkan air permukaan. Erosi massal menghasilkan kejadian seperti longsor raksasa, debris flow, dan rock avalanche. Keduanya berperan dalam membuka tubuh kaldera dan memungkinkan Sungai Jeneberang memiliki jalur drainase yang efisien hingga ke laut.

Longsor 2004: Ketika Lereng Purba Memberi Sinyal Bahwa Ia Belum Selesai

     Pada tahun 2004 terjadi longsor besar di Bawakaraeng yang meruntuhkan material dalam volume sangat besar. Peristiwa ini sering disalahpahami sebagai fenomena “lokal” atau sekadar bencana lingkungan biasa, tetapi bagi geologi, ia adalah bagian dari narasi panjang tentang tubuh gunung api purba yang sedang terus diurai oleh gravitasi dan air.

     Longsor tersebut dipicu oleh kombinasi beberapa faktor: batuan vulkanik yang lapuk, kemiringan lereng yang curam, infiltrasi air yang tinggi akibat hujan, dan struktur dinding kaldera purba yang melemah seiring waktu. Lereng-lereng kaldera pada banyak gunung api di dunia rentan terhadap kegagalan massal seperti ini, bahkan setelah gunung api berhenti meletus selama puluhan ribu tahun.

     Yang menarik adalah bagaimana material longsoran ini kemudian bergerak sebagai debris flow menyusuri sistem Jeneberang. Inilah alasan mengapa bencana di gunung api tidak selalu terjadi melalui letusan. Pada tubuh gunung tua, ancaman bergeser dari piroklastik menjadi sedimentasi dan aliran material massal. Di Lompobattang–Bawakaraeng, hal ini berarti bahwa yang perlu dipahami bukan hanya faktor vulkanologi, tetapi juga geomorfologi dan hidrologi.

     Peristiwa longsor 2004 juga memberi pelajaran bagi tata kelola air dan infrastruktur hilir. Sungai Jeneberang adalah sumber air baku bagi Makassar, tetapi juga saluran utama sedimen dari gunung menuju pesisir. Ketika sedimen meningkat drastis akibat longsor, maka waduk dan bendungan menghadapi tekanan ganda: sedimentasi memperpendek umur infrastrukturnya, sementara fluktuasi debit air memaksa operator mengambil keputusan yang tidak selalu memiliki waktu untuk memikirkan konsekuensinya.

     Dengan demikian, gunung api purba ini tetap menjadi aktor geologis dan sipil hingga hari ini. Ia mungkin tidak meletus lagi, tetapi ia masih berbicara melalui tanah yang bergerak.

Dari Vulkanisme menjadi Hidrologi: Daerah Tangkapan Air dan Ekologi

     Salah satu warisan yang paling strategis dari kompleks vulkanik ini adalah daerah tangkapan air (catchment area) yang luas dan terstruktur secara geomorfologis. Porositas batuan vulkanik dan kemiringan lereng memungkinkan air hujan meresap, disimpan, dan dilepaskan secara bertahap ke sungai. Ini menjadikan kompleks ini sistem spons alami sekaligus penstabil debit.

     Jika tubuh gunung ini dibangun oleh magma, bagian hilir dibangun oleh air. Sungai Jeneberang tidak hanya memindahkan sedimen tetapi juga memelihara ekosistem yang tumbuh di sepanjang bantaran dan dataran banjir. Vegetasi di sepanjang aliran sungai menjadi indikator langsung kesehatan hidrologi, dan pada kasus Jeneberang, vegetasi ini memainkan peran dalam menstabilkan lereng-lereng kecil serta memperlambat erosi permukaan.

     Namun ada paradoks. Catchment area yang baik seringkali menjadi incaran kegiatan manusia: pembukaan lahan, perkebunan, dan permukiman. Ketika penutup vegetasi hilang, sistem spons berubah menjadi sistem aliran cepat, memperbesar debit puncak, meningkatkan sedimentasi, dan mempercepat degradasi sungai. Dalam geologi, gunung mungkin mati, tetapi ekosistem sekitarnya bisa dibunuh jauh lebih cepat melalui keputusan ekonomi.

Tubuh Gunung Api yang Menjadi Sistem Air

     Kompleks Lompobattang–Bawakaraeng mengajarkan bahwa vulkanisme tidak berhenti pada letusan. Setelah api padam, tubuh gunung api berubah menjadi lanskap yang menata ulang hidrologi, sedimentasi, dan ekologi bagi wilayah sekitarnya. Sungai Jeneberang adalah salah satu produk paling penting dari proses ini: ia adalah anak dari magma yang lahir melalui air.

     Memahami gunung api purba bukan hanya tugas kegemaran para ahli geologi, tetapi juga kebutuhan kota yang hidup di hilirnya. Makassar dan Gowa bertumpu pada air yang ditampung oleh tubuh gunung ini, dan pada sedimen yang diangkutnya menuju laut. Oleh karena itu, kompleks Lompobattang–Bawakaraeng perlu dilihat bukan sebagai monumen alam, tetapi sebagai sistem yang masih bekerja: tektonik mengangkatnya, erosi mengikisnya, sungai mengangkutnya. Manusia hanya datang untuk menyaksikan dan terkadang mengacaukannya.

     Sulawesi adalah pulau yang menulis sejarahnya dengan gerakan besar. Gunung-gunung ini mungkin telah berhenti berteriak, tetapi bisikan geologinya masih mempengaruhi kota, kebijakan, air, dan kehidupan.


Referensi: 

  1. Wikipedia: Gunung Bawakaraeng
  2. Sukamto, R. & Supriatna, S. (1982). Geologi Lembar Ujung Pandang, Benteng, dan Sinjai, Sulawesi. Geological Survey of Indonesia.
  3. Ahmad, A., et al. (2019). "Karakteristik Tanah Sawah Dari Batuan Lava-Vulkanik Di Lereng Gunung Lompobattang". Median: Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta, 11(3).
  4. Sompotan, A. (2016). Buku Geologi Sulawesi. Academia.edu.
  5. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). (2025). Data MAGMA Indonesia: Tipe Gunung Api di Indonesia.

     Speleologi, ilmu tentang gua dan sistem bawah tanah, lahir dari rasa ingin tahu yang sangat tua, tapi hanya belakangan diakui sebagai disiplin akademik. Akar katanya berasal dari bahasa Yunani, spelaion (gua) dan logos (ilmu), pertama kali dipopulerkan pada akhir abad ke-19 di Eropa. Édouard-Alfred Martel, seorang Prancis, dianggap sebagai bapak speleologi modern karena ekspedisinya di gua-gua Prancis pada 1880-an, yang bukan hanya sekadar penjelajahan romantik, melainkan juga pengukuran ilmiah yang sistematis (Martel, 1894). Dari sinilah speleologi berkembang menjadi ilmu lintas disiplin—meminjam dari geologi, hidrologi, biologi, hingga arkeologi dan antropologi.

     Di banyak negara, speleologi bukan sekadar aktivitas eksotik para penggemar gua, melainkan terintegrasi ke dalam riset dan pendidikan tinggi. Di Slovenia, misalnya, speleologi mendapatkan dukungan negara karena hubungan erat dengan karst Dinaric yang luas. University of Ljubljana sejak lama mengembangkan Karst Research Institute yang menempatkan speleologi sebagai basis riset multidisipliner (Kranjc, 2001). Sementara di Amerika Serikat, National Speleological Society (didirikan 1941) mendorong praktik ilmiah dan konservasi gua secara serius, berjejaring dengan universitas-universitas, serta berperan dalam pengelolaan kawasan lindung bawah tanah (Culver & White, 2005).

     Bandingkan dengan Indonesia: gua dan bentang alam karst kita sangat luas—Gunung Sewu, Maros-Pangkep, Sangkulirang-Mangkalihat, hingga Papua—namun penelitian formal masih sporadis dan sering bergantung pada inisiatif individu atau komunitas penelusur gua. Ekspedisi internasional seperti tim Australia di Maros atau Prancis di Sangkulirang telah lebih dahulu menerbitkan literatur ilmiah (Audy et al., 2013), sementara lembaga nasional masih tertinggal dalam menyusun kerangka akademik. Kekosongan inilah yang membuat speleologi di Indonesia lebih sering dipahami sebagai hobi petualangan, bukan disiplin ilmu.

     Padahal, speleologi bisa berfungsi sebagai simpul pengetahuan. Ia menyatukan keahlian geologi untuk membaca sejarah bumi, hidrologi untuk memetakan aliran air bawah tanah, biologi untuk menyingkap ekosistem gua yang unik, arkeologi untuk menguak jejak manusia purba, hingga ilmu lingkungan untuk menjaga keberlanjutan. Tidak berlebihan bila speleologi dibandingkan dengan ekologi pada awal abad ke-20, ketika ia juga belum memiliki ruang mapan di universitas, tetapi kini berdiri kokoh sebagai salah satu pilar ilmu lingkungan (Odum, 1971).

     Karena itu, gagasan menjadikan speleologi sebagai salah satu fondasi kurikulum di Indonesia tidaklah utopis. Justru, di tengah ancaman eksploitasi karst untuk industri semen dan pariwisata massal, kerangka akademik speleologi bisa menjadi tameng pengetahuan. Universitas yang berani memasukkannya ke dalam kurikulum berarti membuka jalan baru, memperluas horizon mahasiswa lintas jurusan, dan memberi legitimasi akademik pada penelitian gua.

     Institut karst yang kita bayangkan bisa berakar di kawasan seperti Bantimurung-Bulusaraung, Sangkulirang-Mangkalihat, atau bahkan bentang raksasa karst Papua. Ketiganya menyimpan gua-gua yang bukan sekadar ruang geologi, tetapi juga habitat biodiversitas langka dan arsip budaya purba. Dengan menjadikan speleologi sebagai laboratorium hidup, jejaring riset internasional bisa dibangun, pertukaran mahasiswa digerakkan, hingga jurnal akademik berbahasa Indonesia diterbitkan, serupa dengan Acta Carsologica di Slovenia (Kranjc, 2001). Melalui jalan ini, Indonesia tidak lagi sebatas “penyedia gua” bagi penelitian asing, tetapi subjek yang aktif merumuskan epistemologi karst tropisnya sendiri.

     Dengan demikian, speleologi dapat menjadi pintu masuk bagi Indonesia untuk menegakkan kedaulatan ilmu. Dari Martel di Eropa abad ke-19 hingga laboratorium karst di abad ke-21, ada benang merah yang jelas: speleologi bukan ilmu kecil di lorong gelap, melainkan cahaya yang membuka pemahaman manusia atas bumi.


Daftar Rujukan

  1. Audy, M.C., et al. (2013). Karst and Caves of Maros-Pangkep, Sulawesi. Speleological Papers.
  2. Culver, D.C., & White, W.B. (2005). Encyclopedia of Caves. Elsevier Academic Press.
  3. Kranjc, A. (2001). Dinaric Karst and Speleology in Slovenia. Ljubljana: Karst Research Institute.
  4. Martel, É.-A. (1894). Les Abîmes. Paris: Delagrave.
  5. Odum, E.P. (1971). Fundamentals of Ecology. W.B. Saunders.

     Di banyak buku teks geologi klasik, karst sering digambarkan sebagai bentang alam berbukit kerucut di Eropa Tengah, dengan gua-gua batu kapur yang kering dan udara dingin yang membeku. Model itulah yang sejak lama mendominasi imajinasi akademik: karst adalah Eropa, gua adalah lorong batu berlapis stalaktit di pegunungan Alpen. Padahal, karst di daerah tropis menyimpan wajah yang sama sekali berbeda. Curah hujan tinggi, vegetasi rimbun, interaksi manusia yang intens, serta dinamika iklim yang lembap membuat karst tropis berkembang dengan logika yang tidak bisa disamakan dengan karst iklim sedang. Seperti kata Ford dan Williams (2007), “karst tropis memiliki kompleksitas yang jauh melampaui kerangka analisis yang dibangun dari pengalaman Eropa.”

     Gunung Sewu di Jawa atau kawasan Bantimurung-Bulusaraung di Sulawesi adalah contohnya. Bukit-bukit kapur di sana tidak hanya berdiri sebagai kerucut batu yang sunyi, melainkan bagian dari mosaik kehidupan: lembah dolina yang menjadi sawah, gua yang berfungsi sebagai tempat tinggal, hingga mata air yang menghidupi desa. Hujan deras di daerah tropis mempercepat pelarutan batuan, membentuk jaringan sungai bawah tanah yang rumit dengan debit yang sulit diprediksi. Metode hidrogeologi klasik sering kali gagal menangkap kerumitan semacam ini, sehingga peta aliran air tidak jarang keliru, sementara masyarakat tetap bergantung pada naluri dan pengalaman panjang untuk membaca lanskap karst.

     Inilah epistemologi yang terabaikan: cara memahami karst yang tidak berhenti pada batu dan air, tetapi juga merangkul kehidupan manusia. Karst tropis adalah ekosistem sosial sekaligus hidrologis. Ia adalah laboratorium terbuka tempat iklim, geologi, dan budaya saling membentuk. Namun dalam banyak kurikulum geologi dan geografi di Indonesia, kita masih terikat pada narasi Eropa. Nama Slovenia atau Austria lebih akrab di telinga mahasiswa daripada Maros, Pacitan, atau Sangkulirang, padahal di situlah letak pengalaman empiris yang seharusnya menjadi dasar pengetahuan kita.

     Kelemahan epistemologis ini bukan persoalan akademik semata. Dampaknya terasa nyata, terutama dalam pengelolaan air. Di karst tropis, sumber daya air tersimpan di lorong bawah tanah yang tersembunyi. Jika dianalisis dengan kerangka klasik, kapasitas penyimpanan sering salah diperkirakan, ketersediaan air disalahpahami, bahkan strategi konservasi pun salah arah. Akibatnya, desa-desa karst yang sesungguhnya memiliki potensi cadangan air tetap menghadapi krisis setiap musim kemarau, karena teknologi dan kebijakan tidak memahami anatomi karst tropis.

     Eksploitasi batu kapur untuk industri semen pun sering bertumpu pada pandangan bahwa karst hanyalah tumpukan komoditas pasif. Padahal, di daerah tropis, bukit kapur berfungsi ganda: sebagai reservoir air, penopang ekologi, dan ruang budaya. Kesalahan perspektif inilah yang membuat setiap penambangan kerap dipandang hanya dari sisi ekonomi, sementara konsekuensi sosial dan ekologisnya terlupakan.

     Lebih jauh, karst tropis juga menyimpan dimensi kultural. Gua-gua di Indonesia bukan sekadar rongga batu, melainkan arsip kehidupan: lukisan berusia puluhan ribu tahun, fosil fauna purba, hingga jejak awal manusia Nusantara. Namun karena lensa yang digunakan masih Eropa-sentris, penafsiran gua sering berhenti pada catatan geologi, sementara makna budaya hanya disinggung sekilas. Padahal di sanalah kekhasan karst tropis: ia merekam kehidupan alam dan manusia dalam satu ruang.

     Membangun ilmu karst tropis berarti menulis ulang kerangka berpikir. Kita memerlukan metodologi baru: hidrogeologi yang mampu membaca variabilitas tropis, arkeologi yang berpadu dengan geomorfologi, antropologi yang mengindahkan suara masyarakat. Indonesia, dengan kawasan karst lebih dari 15 juta hektar, seharusnya tidak lagi menjadi objek studi belaka, tetapi pusat penghasil pengetahuan. Dari sini, dunia bisa belajar bahwa karst tropis memiliki epistemologi berbeda, sama sahihnya dengan karst Eropa.

     Pada akhirnya, membicarakan karst tropis berarti menegaskan martabat pengetahuan kita. Selama kita masih meminjam lensa Eropa, kita akan terus salah membaca bentang alam sendiri. Tetapi ketika kita berani merumuskan epistemologi karst tropis, Indonesia dapat tampil sebagai pelopor: menulis bab baru geosains dunia dari bukit-bukit yang hijau, basah, dan penuh kehidupan.


Daftar Pustaka

  1. Bogaerts, M., & Waltham, T. (2009). Karst and Caves: A Geological Adventure. London: Springer.
  2. Ford, D. C., & Williams, P. (2007). Karst Hydrogeology and Geomorphology. Wiley.
  3. Day, M. J., & Urich, P. B. (2000). An Assessment of Protected Karst Landscapes in Southeast Asia. Cave and Karst Science, 27(2), 61–70.
  4. Gillieson, D. (1996). Caves: Processes, Development, and Management. Oxford: Blackwell.
  5. Kusumayudha, S. B. (2010). Karst Indonesia: Bentang Alam, Air Tanah, dan Pengelolaannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  6. Palmer, A. N. (2007). Cave Geology. Dayton, OH: Cave Books.
  7. Vermeulen, J. J., & Whitten, A. J. (1999). Biodiversity and Cultural Heritage in Karst. Jakarta: Ford Foundation.
  8. Waltham, T., Bell, F., & Culshaw, M. (2005). Sinkholes and Subsidence: Karst and Cavernous Rocks in Engineering and Construction. Chichester: Springer.

     Formasi Tonasa adalah salah satu tubuh geologi paling dominan di barat Sulawesi Selatan—sebuah bentang karbonat raksasa yang tak hanya menyusun lanskap, tetapi juga menyimpan riwayat laut purba yang panjang dan kompleks. Ia membentang luas dari Barru hingga Jeneponto, dari Pangkep hingga daerah-daerah yang kini tampak tenang oleh sawah, perbukitan kapur, dan alur sungai musiman. Nama “Tonasa” sendiri diambil dari wilayah Tonasa di Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep—sebuah penamaan yang diusulkan oleh geolog Rab Sukamto, dan sejak itu menjadi istilah baku dalam stratigrafi regional Sulawesi Selatan.

     Secara spasial, formasi ini mendominasi stratigrafi bagian barat Sulawesi Selatan dengan penyebaran mencapai ribuan kilometer persegi. Di Barru, khususnya sepanjang Sungai Palakka, lapisan-lapisannya tersingkap sebagai perselingan batugamping dan napal dengan ketebalan yang dapat mencapai sekitar 3000 meter—suatu akumulasi yang tidak mungkin terjadi tanpa kestabilan lingkungan pengendapan dalam rentang waktu geologi yang panjang. Singkapan penting lainnya ditemukan di Sungai Karama (Jeneponto), Ralla, Binuang (Balusu), Tabo-Tabo (Bungoro), hingga Mallasoro (Bangkala). Namun menariknya, penyebaran ini terhenti di sebelah timur Sesar Walanae; di sana, Formasi Malawa lebih dominan, seolah batas struktural menjadi garis pemisah dua kisah geologi yang berbeda.

     Kerangka tektonik yang melingkupi pembentukan Formasi Tonasa berkaitan dengan dinamika konvergensi lempeng litosfer di kawasan Sulawesi—wilayah yang memang dikenal sebagai mosaik tektonik yang rumit. Sistem sesar besar seperti Palu-Koro dan Walanae memainkan peran penting dalam mengontrol deformasi regional. Mekanisme simple shear yang berkembang menghasilkan lipatan, sesar naik, sesar normal, hingga sesar geser mendatar yang kemudian memengaruhi distribusi, kemiringan, dan ketebalan satuan batuan karbonat ini. Struktur bukan sekadar gangguan; ia adalah arsitek yang membengkokkan dan memahat tubuh karbonat yang sebelumnya terendapkan relatif tenang di laut dangkal.

     Dari sisi umur, Formasi Tonasa mencatat rentang waktu yang luas—mulai dari Eosen (sekitar 56–33,9 juta tahun lalu) hingga Miosen Awal (sekitar 23–16 juta tahun lalu). Penentuan umur ini didasarkan pada analisis biostratigrafi foraminifera planktonik. Di lintasan Sungai Palakka, misalnya, interval umur mencakup zona P.9 hingga P.16 yang merepresentasikan Eosen Awal hingga Eosen Akhir. Sementara itu, di lintasan Karama B, ditemukan zona N.1 hingga N.7 yang menunjukkan umur Oligosen Tengah hingga Miosen Awal. Rentang ini memperlihatkan bahwa Formasi Tonasa tidak terbentuk dalam satu episode singkat, melainkan dalam rangkaian fase sedimentasi yang berkelanjutan dan dipengaruhi perubahan global.

     Secara stratigrafi, formasi ini selaras di atas Formasi Malawa, meskipun pada beberapa lokasi terdapat basal konglomerat—misalnya di Lapali Haling—yang menandakan fase transisi atau perubahan energi lingkungan pengendapan. Di bagian atas, Formasi Tonasa tidak selaras dengan Formasi Camba, mencerminkan jeda atau perubahan rezim sedimentasi yang signifikan. Secara internal, satuan ini lazim dibagi menjadi tiga bagian. Bagian bawah didominasi batugamping massif dengan fosil foraminifera besar, berlapis, disertai sisipan breksi dan batugamping pasiran. Bagian tengah memperlihatkan sisipan batulempung dan batupasir dengan kehadiran fosil moluska seperti Gastropoda. Bagian atas kembali didominasi batugamping massif dengan sisipan napal. Urutan ini menggambarkan fluktuasi energi dan kedalaman laut selama jutaan tahun.

     Secara litologi, Formasi Tonasa didominasi oleh batugamping berwarna abu-abu hingga putih, dengan tekstur mikritik maupun klastik. Napal hadir sebagai sisipan halus yang menunjukkan fase sedimentasi lebih tenang. Pada beberapa lokasi dijumpai pula batupasir, breksi vulkanik, tufa, bahkan sekis, yang mengindikasikan pengaruh aktivitas vulkanik atau suplai material dari daratan terdekat. Fasies batuan umumnya berupa packstone, dengan porositas yang menjadi perhatian penting dalam studi potensi hidrokarbon. Proses diagenesis yang dialami batuan ini meliputi mikritisasi, sementasi, pelarutan, neomorfisme, dan kompaksi. Tahapan tersebut berlangsung dalam berbagai lingkungan—dari shallow marine, marine phreatic, hingga meteoric phreatic dan vadose—serta melalui fase eogenesis, mesogenesis, hingga telogenesis. Dengan kata lain, batuan ini tidak hanya terbentuk di laut, tetapi juga “dimasak ulang” oleh air, tekanan, dan waktu.

     Kekayaan paleontologi Formasi Tonasa menjadi salah satu kunci penting dalam rekonstruksi paleo-oseanografi kawasan ini. Foraminifera planktonik dan bentonik melimpah, termasuk spesies seperti Globigerina senni, Globigerina ampliapertura, Globorotalia centralis, Hantkenina dumblei di lintasan Palakka, serta Globorotalia kugleri dan Catapsydrax dissimilis di Karama B. Selain itu, ditemukan pula alga, moluska (Gastropoda), dan nannofosil. Analisis komposisi dan kelimpahan foraminifera menunjukkan adanya penurunan variasi genus dan spesies pada transisi Eosen–Oligosen, yang berkorelasi dengan perubahan iklim global dari kondisi hangat menuju fase pendinginan. Dengan demikian, Formasi Tonasa bukan sekadar arsip lokal; ia merekam denyut perubahan iklim global yang tercetak dalam cangkang-cangkang mikroskopik.

     Lingkungan pengendapannya ditafsirkan sebagai platform karbonat, terutama pada zona neritik luar hingga back reef lagoon dalam kondisi laut dangkal. Iklim tropis hingga subtropis mendominasi selama Eosen, dengan indikasi perairan hangat yang mendukung pertumbuhan organisme karbonat. Memasuki Oligosen hingga Miosen Awal, bukti paleontologi menunjukkan kecenderungan pendinginan. Secara struktural, kehadiran lipatan, sesar normal seperti Sesar Binuang, sesar geser dekstral Sungai Matampapone, serta sesar naik Batupute, bersama sistem kekar yang berkembang, mengontrol distribusi dan kemunculan singkapan di permukaan.

     Signifikansi Formasi Tonasa tidak berhenti pada kepentingan akademik. Batugampingnya menjadi bahan baku utama industri semen; tufa, sekis, pasir, dan batuannya dimanfaatkan sebagai material konstruksi. Potensi rembesan hidrokarbon juga tercatat, terutama yang dikontrol oleh pola kelurusan berarah baratlaut–tenggara (NW–SE). Selain itu, intrusi granodiorit berumur Miosen Awal membuka peluang studi dan eksplorasi panas bumi. Dalam konteks regional yang lebih luas, Formasi Tonasa membantu menjelaskan evolusi tektonik Sulawesi—termasuk hubungannya dengan sistem subduksi di sekitar Palung Sulawesi Utara dan Tunjaman Tolo.

     Pada akhirnya, Formasi Tonasa adalah kesaksian panjang tentang laut yang pernah dangkal, hangat, lalu berubah; tentang organisme mikroskopik yang membangun pegunungan; tentang gaya tektonik yang melipat dan mengangkat dasar samudra menjadi daratan. Ia adalah arsip batu yang tebalnya ribuan meter, tetapi maknanya jauh lebih dalam dari itu—rekaman waktu yang diam, namun fasih bagi siapa pun yang mau membacanya.

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.