Articles by "Geology"

Tampilkan postingan dengan label Geology. Tampilkan semua postingan

Membaca Vulkanisme Purba dan Hidrologi Sungai Jeneberang

     Sulawesi berdiri di atas simpang tiga dunia tektonik, tempat kerak bumi saling bertemu tanpa sopan santun dan memaksa pegunungan tumbuh, pulau terpecah, dan magma naik dari perut bumi. Di titik inilah kompleks Gunung Lompobattang–Bawakaraeng terbentuk, sebuah tubuh vulkanik purba di bagian selatan Sulawesi Selatan yang hari ini tidak lagi menyemburkan lava, tetapi menyimpan catatan panjang tentang bagaimana pulau ini dibentuk, dibasuh, dan diukir ulang oleh proses geologi. Dua puncak utama, Lompobattang dan Bawakaraeng, berdiri tidak jauh dari Makassar, seolah menjadi penjaga lembah Jeneberang dan penentu takdir hidrologi kota-kota hilir. Keduanya terlihat tenang, tetapi ketenangan itu bukanlah absennya energi; ia hanya menandakan bahwa fase eksplosifnya telah berakhir berjuta tahun lalu.

     Kompleks ini sering disebut gunung api tipe C—kategori yang diberikan PVMBG kepada gunung yang memiliki bukti vulkanik tetapi tidak memiliki catatan letusan dalam sejarah tertulis. Dalam bahasa vulkanologi, mereka adalah veteran yang telah pensiun tetapi meninggalkan medan penuh tanda perang: lava andesit basaltik, breksi piroklastik, tuf, serta lembah-lembah yang bentuknya hanya mungkin lahir dari letusan yang lebih tua dari manusia yang tinggal di sekitarnya. Kompleks ini terbentuk pada kala Plistosen, kira-kira antara 2,58 juta hingga 11.700 tahun yang lalu, saat aktivitas busur vulkanik di bagian selatan Sulawesi mencapai salah satu fase dinamisnya. Sejak itu aktivitasnya meredup, tetapi reliefnya terus dipahat oleh tektonik dan erosi.

     Untuk memahami kompleks Lompobattang–Bawakaraeng, ada tiga lapis yang harus dibaca: lapis vulkanik yang membangun tubuh gunung, lapis tektonik yang mengangkat dan memecahkannya, dan lapis hidrologi yang melarutkan, mengangkut, dan mengubahnya menjadi ekosistem yang hidup. Ketiga lapis ini saling terkait dan tidak dapat dijelaskan sendiri-sendiri tanpa membuat penjelasan cacat.

Vulkanisme Plistosen dan Bentuk Stratovolcano Terkikis

     Bentuk geologi paling mencolok dari kompleks ini adalah tubuh stratovolcano yang tersingkap dalam keadaan setengah terkikis. Stratovolcano secara umum dibentuk oleh letusan berulang dengan jenis magma menengah hingga mafik, menghasilkan kombinasi antara aliran lava dan piroklastik yang membangun kerucut. Pada Lompobattang–Bawakaraeng, batuan yang tersingkap berupa lava basalt hingga andesit basaltik, breksi vulkanik, dan lapisan tuf yang memberi petunjuk bahwa letusan purba bersifat eksplosif dengan selingan efusif. Karakter batuan ini menunjukkan bahwa magma yang membangunnya kemungkinan berasal dari peleburan mantel bagian atas pada zona subduksi busur Sunda-Banda.

     Letusan purba tidak hanya membentuk kerucut tetapi juga kaldera—struktur cekung besar yang terbentuk ketika sebagian tubuh gunung runtuh setelah letusan besar mengosongkan ruang magma di bawahnya. Pada kompleks ini, jejak kaldera tidak lagi berbentuk lingkaran utuh sebagaimana yang sering digambar dalam buku pelajaran vulkanologi. Erosi, tektonik, dan waktu yang panjang telah merobek lengkungnya menjadi lembah-lembah yang kini memiliki nama lokal: Ramma, Lowe, dan Anjayya. Sukamto & Supriatna (1982) mencatat bahwa lembah-lembah ini menunjukkan morfologi cekungan kaldera purba yang telah tersegmen oleh struktur sesar dan lipatan.

     Di antara dua puncak—Bawakaraeng dan Lompobattang—masih terlihat hubungan morfologis yang menyiratkan bahwa keduanya bukan kerucut yang berdiri sendiri, tetapi sisa-sisa struktur kaldera atau dinding kerucut vulkanik yang terangkat. Hubungan ini penting karena memberi konteks pada pembentukan hidrologi lembah dan genesis Sungai Jeneberang yang berasal dari bagian dalam tubuh kaldera purba. 

Ramma dan sekitarnya

 Tektonik Sulawesi Selatan dan Uplift Pasca-Letusan

     Sulawesi memiliki sejarah tektonik yang tidak dapat dikatakan sederhana. Pulau ini berada di pertemuan tiga lempeng besar—Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik—yang saling menekan, menggunting, dan menumpuk fragmen kerak sejak era Neogen. Salah satu struktur yang berpengaruh di bagian selatan adalah Sesar Walanae, sesar mendatar (strike-slip) yang memainkan peran dalam pengangkatan (uplift) blok-blok vulkanik termasuk kompleks Lompobattang.

     Uplift pasca-letusan berperan penting dalam menjelaskan mengapa puncak Bawakaraeng dan Lompobattang kini berada pada ketinggian ±2800 mdpl, meskipun umur vulkaniknya relatif tua. Proses ini menahan tubuh gunung agar tidak seluruhnya terkikis hingga menjadi perbukitan rendah, sebagaimana yang terjadi pada banyak gunung api tua di Jawa bagian selatan. Pengangkatan ini pula yang memberi kemiringan lereng tajam dan menciptakan relief kontras antara lembah-lembah kaldera dan puncak-puncaknya.

     Tektonik tidak hanya mengangkat tetapi juga membelah, menciptakan jalur lemah yang penting bagi aliran air. Zona lemah inilah yang kemudian dipilih oleh hidrologi sebagai “pintu keluar” material dan air dari kaldera purba, menghasilkan pola drainase yang mengarah ke hulu Sungai Jeneberang.

Dari Kaldera ke Sungai: Hidrologi dan Genesis Jeneberang

     Interpretasi bahwa lembah-lembah kaldera purba pernah menjadi danau sementara (paleolake) adalah masuk akal secara geomorfologi dan vulkanologi. Dalam banyak gunung api di dunia—dari Taupō di Selandia Baru hingga Toba di Sumatera—fase danau kaldera merupakan fase transisi setelah letusan besar tetapi sebelum proses erosi merobek dinding kaldera menjadi saluran drainase.

     Pada kompleks Lompobattang–Bawakaraeng, lembah seperti Ramma menunjukkan morfologi cekungan tertutup yang cukup luas untuk mengumpulkan air hujan dalam volume besar. Danau semacam ini tidak perlu ada hingga ribuan tahun; beberapa bisa mengering dalam hitungan abad atau bahkan dekade. Yang penting adalah perannya dalam menentukan jalur hidrologi awal. Air dan sedimen dari cekungan kaldera mencari jalur pada zona lemah—biasanya rekahan tektonik, kontak batuan, atau litologi vulkanik yang lebih rapuh. Proses inilah yang memungkinkan Sungai Jeneberang tumbuh dan menghubungkan kaldera dengan dataran rendah.

     Jeneberang bukan hanya sungai yang mengalirkan air; ia membawa puing masa lalu gunung. Basalt, breksi vulkanik, pasir andesit, dan fragmen piroklastik menjadi muatan yang akhirnya mengendap di delta, kemudian memengaruhi morfologi pesisir Gowa dan Makassar. Bagi pembaca umum di kota, sungai tampak seperti unsur alami yang sederhana, tetapi bagi geologi, ia adalah sistem transportasi yang memindahkan tubuh gunung ke laut dalam bentuk partikel.

     Catchment area gunung ini hari ini menyuplai air baku bagi Makassar dan wilayah sekitarnya, menjadikan kompleks vulkanik purba ini relevan bukan hanya dalam studi geologi tetapi juga tata guna air, mitigasi banjir, dan perencanaan infrastruktur.

Magma Menengah yang Membentuk Tubuh Gunung

     Kompleks Lompobattang–Bawakaraeng pada dasarnya dibangun oleh magma berkomposisi menengah (intermediate magmatism), terutama basalt hingga andesit basaltik. Ini penting karena jenis magma menentukan cara gunung meletus, bentuk tubuhnya, dan residu geologi yang tersisa.

     Magma basaltik cenderung lebih cair dan menghasilkan letusan efusif dengan aliran lava panjang, sementara magma yang lebih silisik dan lebih kental cenderung menghasilkan letusan eksplosif yang membangun stratovolcano. Pada kompleks ini, penyelidikan batuan menunjukkan adanya kombinasi keduanya, sehingga tubuh gunung memuat bukti bahwa letusan sepanjang sejarah Plistosen bersifat campuran: lava mengalir, piroklastik terlempar, dan kaldera runtuh setelah ruang magma di bawahnya kosong secara mendadak.

     Fragmen breksi vulkanik yang tersebar luas menjadi petunjuk yang jarang menipu. Breksi mengindikasikan bahwa batuan tidak terkikis perlahan oleh air, melainkan dihancurkan secara tiba-tiba oleh pelepasan energi besar. Lapisan tuf—yang merupakan residu mikroskopik dari letusan eksplosif—menjadi arsip yang lebih halus dan tertib. Lapisan-lapisan ini dapat dipakai untuk membaca intensitas dan frekuensi letusan seperti membaca riwayat demam di grafik pasien.

     Bila batuan-batuan ini diperiksa lebih jauh, mungkin ditemukan mineral-mineral umum di gunung api busur: piroksen (augit-hypersten), plagioklas (labradorite–andesine), magnetit, dan olivin minor pada komposisi yang lebih mafik. Mineral-mineral ini memperkuat interpretasi bahwa magma yang membangun kompleks ini berasal dari proses peleburan mantel pada zona subduksi, khas busur Sunda–Banda.

     Perlu dicatat bahwa magma busur umumnya memiliki kandungan air yang relatif tinggi, dan inilah salah satu faktor utama yang menjadikan letusan eksplosif, bukan semata kandungan silika. Air dalam magma adalah janji energi laten; ketika tekanan terlepas, air berubah menjadi uap dengan ekspansi ratusan kali lipat, menciptakan gaya yang cukup untuk meruntuhkan dinding-dinding gunung.

Erosi dan Pemahat Waktu

     Gunung api tidak mati begitu magma berhenti. Ia masuk fase kedua sebagai lanskap yang mulai dikerjakan oleh agen-agen erosi. Di kompleks Lompobattang–Bawakaraeng, erosi bekerja dalam kombinasi antara air, gravitasi, dan tektonika. Sungai memotong tubuh vulkanik, membawa fragmen ke dataran rendah. Curamnya lereng dan porositas batuan mempercepat pelapukan, sementara uplift tektonik terus membuat lereng tetap tinggi, sehingga proses aliran gravitasi tidak pernah kehabisan energi.

     Ada dua tipe erosi yang tampak dominan di kompleks ini: erosi linear dan erosi massal. Erosi linear membentuk lembah-lembah dalam dan sempit yang mengalirkan air permukaan. Erosi massal menghasilkan kejadian seperti longsor raksasa, debris flow, dan rock avalanche. Keduanya berperan dalam membuka tubuh kaldera dan memungkinkan Sungai Jeneberang memiliki jalur drainase yang efisien hingga ke laut.

Longsor 2004: Ketika Lereng Purba Memberi Sinyal Bahwa Ia Belum Selesai

     Pada tahun 2004 terjadi longsor besar di Bawakaraeng yang meruntuhkan material dalam volume sangat besar. Peristiwa ini sering disalahpahami sebagai fenomena “lokal” atau sekadar bencana lingkungan biasa, tetapi bagi geologi, ia adalah bagian dari narasi panjang tentang tubuh gunung api purba yang sedang terus diurai oleh gravitasi dan air.

     Longsor tersebut dipicu oleh kombinasi beberapa faktor: batuan vulkanik yang lapuk, kemiringan lereng yang curam, infiltrasi air yang tinggi akibat hujan, dan struktur dinding kaldera purba yang melemah seiring waktu. Lereng-lereng kaldera pada banyak gunung api di dunia rentan terhadap kegagalan massal seperti ini, bahkan setelah gunung api berhenti meletus selama puluhan ribu tahun.

     Yang menarik adalah bagaimana material longsoran ini kemudian bergerak sebagai debris flow menyusuri sistem Jeneberang. Inilah alasan mengapa bencana di gunung api tidak selalu terjadi melalui letusan. Pada tubuh gunung tua, ancaman bergeser dari piroklastik menjadi sedimentasi dan aliran material massal. Di Lompobattang–Bawakaraeng, hal ini berarti bahwa yang perlu dipahami bukan hanya faktor vulkanologi, tetapi juga geomorfologi dan hidrologi.

     Peristiwa longsor 2004 juga memberi pelajaran bagi tata kelola air dan infrastruktur hilir. Sungai Jeneberang adalah sumber air baku bagi Makassar, tetapi juga saluran utama sedimen dari gunung menuju pesisir. Ketika sedimen meningkat drastis akibat longsor, maka waduk dan bendungan menghadapi tekanan ganda: sedimentasi memperpendek umur infrastrukturnya, sementara fluktuasi debit air memaksa operator mengambil keputusan yang tidak selalu memiliki waktu untuk memikirkan konsekuensinya.

     Dengan demikian, gunung api purba ini tetap menjadi aktor geologis dan sipil hingga hari ini. Ia mungkin tidak meletus lagi, tetapi ia masih berbicara melalui tanah yang bergerak.

Dari Vulkanisme menjadi Hidrologi: Daerah Tangkapan Air dan Ekologi

     Salah satu warisan yang paling strategis dari kompleks vulkanik ini adalah daerah tangkapan air (catchment area) yang luas dan terstruktur secara geomorfologis. Porositas batuan vulkanik dan kemiringan lereng memungkinkan air hujan meresap, disimpan, dan dilepaskan secara bertahap ke sungai. Ini menjadikan kompleks ini sistem spons alami sekaligus penstabil debit.

     Jika tubuh gunung ini dibangun oleh magma, bagian hilir dibangun oleh air. Sungai Jeneberang tidak hanya memindahkan sedimen tetapi juga memelihara ekosistem yang tumbuh di sepanjang bantaran dan dataran banjir. Vegetasi di sepanjang aliran sungai menjadi indikator langsung kesehatan hidrologi, dan pada kasus Jeneberang, vegetasi ini memainkan peran dalam menstabilkan lereng-lereng kecil serta memperlambat erosi permukaan.

     Namun ada paradoks. Catchment area yang baik seringkali menjadi incaran kegiatan manusia: pembukaan lahan, perkebunan, dan permukiman. Ketika penutup vegetasi hilang, sistem spons berubah menjadi sistem aliran cepat, memperbesar debit puncak, meningkatkan sedimentasi, dan mempercepat degradasi sungai. Dalam geologi, gunung mungkin mati, tetapi ekosistem sekitarnya bisa dibunuh jauh lebih cepat melalui keputusan ekonomi.

Tubuh Gunung Api yang Menjadi Sistem Air

     Kompleks Lompobattang–Bawakaraeng mengajarkan bahwa vulkanisme tidak berhenti pada letusan. Setelah api padam, tubuh gunung api berubah menjadi lanskap yang menata ulang hidrologi, sedimentasi, dan ekologi bagi wilayah sekitarnya. Sungai Jeneberang adalah salah satu produk paling penting dari proses ini: ia adalah anak dari magma yang lahir melalui air.

     Memahami gunung api purba bukan hanya tugas kegemaran para ahli geologi, tetapi juga kebutuhan kota yang hidup di hilirnya. Makassar dan Gowa bertumpu pada air yang ditampung oleh tubuh gunung ini, dan pada sedimen yang diangkutnya menuju laut. Oleh karena itu, kompleks Lompobattang–Bawakaraeng perlu dilihat bukan sebagai monumen alam, tetapi sebagai sistem yang masih bekerja: tektonik mengangkatnya, erosi mengikisnya, sungai mengangkutnya. Manusia hanya datang untuk menyaksikan dan terkadang mengacaukannya.

     Sulawesi adalah pulau yang menulis sejarahnya dengan gerakan besar. Gunung-gunung ini mungkin telah berhenti berteriak, tetapi bisikan geologinya masih mempengaruhi kota, kebijakan, air, dan kehidupan.


Referensi: 

  1. Wikipedia: Gunung Bawakaraeng
  2. Sukamto, R. & Supriatna, S. (1982). Geologi Lembar Ujung Pandang, Benteng, dan Sinjai, Sulawesi. Geological Survey of Indonesia.
  3. Ahmad, A., et al. (2019). "Karakteristik Tanah Sawah Dari Batuan Lava-Vulkanik Di Lereng Gunung Lompobattang". Median: Jurnal Ilmu Ilmu Eksakta, 11(3).
  4. Sompotan, A. (2016). Buku Geologi Sulawesi. Academia.edu.
  5. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). (2025). Data MAGMA Indonesia: Tipe Gunung Api di Indonesia.

     Speleologi, ilmu tentang gua dan sistem bawah tanah, lahir dari rasa ingin tahu yang sangat tua, tapi hanya belakangan diakui sebagai disiplin akademik. Akar katanya berasal dari bahasa Yunani, spelaion (gua) dan logos (ilmu), pertama kali dipopulerkan pada akhir abad ke-19 di Eropa. Édouard-Alfred Martel, seorang Prancis, dianggap sebagai bapak speleologi modern karena ekspedisinya di gua-gua Prancis pada 1880-an, yang bukan hanya sekadar penjelajahan romantik, melainkan juga pengukuran ilmiah yang sistematis (Martel, 1894). Dari sinilah speleologi berkembang menjadi ilmu lintas disiplin—meminjam dari geologi, hidrologi, biologi, hingga arkeologi dan antropologi.

     Di banyak negara, speleologi bukan sekadar aktivitas eksotik para penggemar gua, melainkan terintegrasi ke dalam riset dan pendidikan tinggi. Di Slovenia, misalnya, speleologi mendapatkan dukungan negara karena hubungan erat dengan karst Dinaric yang luas. University of Ljubljana sejak lama mengembangkan Karst Research Institute yang menempatkan speleologi sebagai basis riset multidisipliner (Kranjc, 2001). Sementara di Amerika Serikat, National Speleological Society (didirikan 1941) mendorong praktik ilmiah dan konservasi gua secara serius, berjejaring dengan universitas-universitas, serta berperan dalam pengelolaan kawasan lindung bawah tanah (Culver & White, 2005).

     Bandingkan dengan Indonesia: gua dan bentang alam karst kita sangat luas—Gunung Sewu, Maros-Pangkep, Sangkulirang-Mangkalihat, hingga Papua—namun penelitian formal masih sporadis dan sering bergantung pada inisiatif individu atau komunitas penelusur gua. Ekspedisi internasional seperti tim Australia di Maros atau Prancis di Sangkulirang telah lebih dahulu menerbitkan literatur ilmiah (Audy et al., 2013), sementara lembaga nasional masih tertinggal dalam menyusun kerangka akademik. Kekosongan inilah yang membuat speleologi di Indonesia lebih sering dipahami sebagai hobi petualangan, bukan disiplin ilmu.

     Padahal, speleologi bisa berfungsi sebagai simpul pengetahuan. Ia menyatukan keahlian geologi untuk membaca sejarah bumi, hidrologi untuk memetakan aliran air bawah tanah, biologi untuk menyingkap ekosistem gua yang unik, arkeologi untuk menguak jejak manusia purba, hingga ilmu lingkungan untuk menjaga keberlanjutan. Tidak berlebihan bila speleologi dibandingkan dengan ekologi pada awal abad ke-20, ketika ia juga belum memiliki ruang mapan di universitas, tetapi kini berdiri kokoh sebagai salah satu pilar ilmu lingkungan (Odum, 1971).

     Karena itu, gagasan menjadikan speleologi sebagai salah satu fondasi kurikulum di Indonesia tidaklah utopis. Justru, di tengah ancaman eksploitasi karst untuk industri semen dan pariwisata massal, kerangka akademik speleologi bisa menjadi tameng pengetahuan. Universitas yang berani memasukkannya ke dalam kurikulum berarti membuka jalan baru, memperluas horizon mahasiswa lintas jurusan, dan memberi legitimasi akademik pada penelitian gua.

     Institut karst yang kita bayangkan bisa berakar di kawasan seperti Bantimurung-Bulusaraung, Sangkulirang-Mangkalihat, atau bahkan bentang raksasa karst Papua. Ketiganya menyimpan gua-gua yang bukan sekadar ruang geologi, tetapi juga habitat biodiversitas langka dan arsip budaya purba. Dengan menjadikan speleologi sebagai laboratorium hidup, jejaring riset internasional bisa dibangun, pertukaran mahasiswa digerakkan, hingga jurnal akademik berbahasa Indonesia diterbitkan, serupa dengan Acta Carsologica di Slovenia (Kranjc, 2001). Melalui jalan ini, Indonesia tidak lagi sebatas “penyedia gua” bagi penelitian asing, tetapi subjek yang aktif merumuskan epistemologi karst tropisnya sendiri.

     Dengan demikian, speleologi dapat menjadi pintu masuk bagi Indonesia untuk menegakkan kedaulatan ilmu. Dari Martel di Eropa abad ke-19 hingga laboratorium karst di abad ke-21, ada benang merah yang jelas: speleologi bukan ilmu kecil di lorong gelap, melainkan cahaya yang membuka pemahaman manusia atas bumi.


Daftar Rujukan

  1. Audy, M.C., et al. (2013). Karst and Caves of Maros-Pangkep, Sulawesi. Speleological Papers.
  2. Culver, D.C., & White, W.B. (2005). Encyclopedia of Caves. Elsevier Academic Press.
  3. Kranjc, A. (2001). Dinaric Karst and Speleology in Slovenia. Ljubljana: Karst Research Institute.
  4. Martel, É.-A. (1894). Les Abîmes. Paris: Delagrave.
  5. Odum, E.P. (1971). Fundamentals of Ecology. W.B. Saunders.

     Di banyak buku teks geologi klasik, karst sering digambarkan sebagai bentang alam berbukit kerucut di Eropa Tengah, dengan gua-gua batu kapur yang kering dan udara dingin yang membeku. Model itulah yang sejak lama mendominasi imajinasi akademik: karst adalah Eropa, gua adalah lorong batu berlapis stalaktit di pegunungan Alpen. Padahal, karst di daerah tropis menyimpan wajah yang sama sekali berbeda. Curah hujan tinggi, vegetasi rimbun, interaksi manusia yang intens, serta dinamika iklim yang lembap membuat karst tropis berkembang dengan logika yang tidak bisa disamakan dengan karst iklim sedang. Seperti kata Ford dan Williams (2007), “karst tropis memiliki kompleksitas yang jauh melampaui kerangka analisis yang dibangun dari pengalaman Eropa.”

     Gunung Sewu di Jawa atau kawasan Bantimurung-Bulusaraung di Sulawesi adalah contohnya. Bukit-bukit kapur di sana tidak hanya berdiri sebagai kerucut batu yang sunyi, melainkan bagian dari mosaik kehidupan: lembah dolina yang menjadi sawah, gua yang berfungsi sebagai tempat tinggal, hingga mata air yang menghidupi desa. Hujan deras di daerah tropis mempercepat pelarutan batuan, membentuk jaringan sungai bawah tanah yang rumit dengan debit yang sulit diprediksi. Metode hidrogeologi klasik sering kali gagal menangkap kerumitan semacam ini, sehingga peta aliran air tidak jarang keliru, sementara masyarakat tetap bergantung pada naluri dan pengalaman panjang untuk membaca lanskap karst.

     Inilah epistemologi yang terabaikan: cara memahami karst yang tidak berhenti pada batu dan air, tetapi juga merangkul kehidupan manusia. Karst tropis adalah ekosistem sosial sekaligus hidrologis. Ia adalah laboratorium terbuka tempat iklim, geologi, dan budaya saling membentuk. Namun dalam banyak kurikulum geologi dan geografi di Indonesia, kita masih terikat pada narasi Eropa. Nama Slovenia atau Austria lebih akrab di telinga mahasiswa daripada Maros, Pacitan, atau Sangkulirang, padahal di situlah letak pengalaman empiris yang seharusnya menjadi dasar pengetahuan kita.

     Kelemahan epistemologis ini bukan persoalan akademik semata. Dampaknya terasa nyata, terutama dalam pengelolaan air. Di karst tropis, sumber daya air tersimpan di lorong bawah tanah yang tersembunyi. Jika dianalisis dengan kerangka klasik, kapasitas penyimpanan sering salah diperkirakan, ketersediaan air disalahpahami, bahkan strategi konservasi pun salah arah. Akibatnya, desa-desa karst yang sesungguhnya memiliki potensi cadangan air tetap menghadapi krisis setiap musim kemarau, karena teknologi dan kebijakan tidak memahami anatomi karst tropis.

     Eksploitasi batu kapur untuk industri semen pun sering bertumpu pada pandangan bahwa karst hanyalah tumpukan komoditas pasif. Padahal, di daerah tropis, bukit kapur berfungsi ganda: sebagai reservoir air, penopang ekologi, dan ruang budaya. Kesalahan perspektif inilah yang membuat setiap penambangan kerap dipandang hanya dari sisi ekonomi, sementara konsekuensi sosial dan ekologisnya terlupakan.

     Lebih jauh, karst tropis juga menyimpan dimensi kultural. Gua-gua di Indonesia bukan sekadar rongga batu, melainkan arsip kehidupan: lukisan berusia puluhan ribu tahun, fosil fauna purba, hingga jejak awal manusia Nusantara. Namun karena lensa yang digunakan masih Eropa-sentris, penafsiran gua sering berhenti pada catatan geologi, sementara makna budaya hanya disinggung sekilas. Padahal di sanalah kekhasan karst tropis: ia merekam kehidupan alam dan manusia dalam satu ruang.

     Membangun ilmu karst tropis berarti menulis ulang kerangka berpikir. Kita memerlukan metodologi baru: hidrogeologi yang mampu membaca variabilitas tropis, arkeologi yang berpadu dengan geomorfologi, antropologi yang mengindahkan suara masyarakat. Indonesia, dengan kawasan karst lebih dari 15 juta hektar, seharusnya tidak lagi menjadi objek studi belaka, tetapi pusat penghasil pengetahuan. Dari sini, dunia bisa belajar bahwa karst tropis memiliki epistemologi berbeda, sama sahihnya dengan karst Eropa.

     Pada akhirnya, membicarakan karst tropis berarti menegaskan martabat pengetahuan kita. Selama kita masih meminjam lensa Eropa, kita akan terus salah membaca bentang alam sendiri. Tetapi ketika kita berani merumuskan epistemologi karst tropis, Indonesia dapat tampil sebagai pelopor: menulis bab baru geosains dunia dari bukit-bukit yang hijau, basah, dan penuh kehidupan.


Daftar Pustaka

  1. Bogaerts, M., & Waltham, T. (2009). Karst and Caves: A Geological Adventure. London: Springer.
  2. Ford, D. C., & Williams, P. (2007). Karst Hydrogeology and Geomorphology. Wiley.
  3. Day, M. J., & Urich, P. B. (2000). An Assessment of Protected Karst Landscapes in Southeast Asia. Cave and Karst Science, 27(2), 61–70.
  4. Gillieson, D. (1996). Caves: Processes, Development, and Management. Oxford: Blackwell.
  5. Kusumayudha, S. B. (2010). Karst Indonesia: Bentang Alam, Air Tanah, dan Pengelolaannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  6. Palmer, A. N. (2007). Cave Geology. Dayton, OH: Cave Books.
  7. Vermeulen, J. J., & Whitten, A. J. (1999). Biodiversity and Cultural Heritage in Karst. Jakarta: Ford Foundation.
  8. Waltham, T., Bell, F., & Culshaw, M. (2005). Sinkholes and Subsidence: Karst and Cavernous Rocks in Engineering and Construction. Chichester: Springer.

     Kepunahan massal adalah peristiwa dramatis dalam sejarah Bumi yang menyebabkan hilangnya banyak spesies secara bersamaan. Dalam skala waktu geologi yang sangat luas, kita melihat lima peristiwa utama yang menciptakan titik balik dalam evolusi kehidupan. Mari kita telusuri setiap kepunahan, diberi penanda penting dalam istilah geologi.
 

1. Kepunahan Ordovisium-Silur, yang terjadi sekitar 443 juta tahun yang lalu, menandai akhir dari periode Ordovisium dan merupakan salah satu peristiwa kepunahan terbesar dalam sejarah Bumi. Peristiwa ini mengakibatkan hilangnya sekitar 85% spesies laut yang ada pada waktu itu, menjadikannya salah satu kepunahan paling signifikan dalam sejarah kehidupan di planet kita.

     Pada masa ini, kehidupan sebagian besar terkonsentrasi di lautan, dengan banyak spesies invertebrata seperti trilobit, brachiopoda, dan graptolit yang mendominasi ekosistem laut. Namun, menjelang akhir Ordovisium, planet ini mengalami perubahan lingkungan yang dramatis yang menyebabkan kepunahan massal tersebut.

     Salah satu penyebab utama kepunahan Ordovisium-Silur kemungkinan besar adalah penurunan drastis permukaan laut yang diakibatkan oleh pembekuan es besar-besaran. Saat benua-benua masa kini berada di dekat kutub selatan, kondisi iklim menyebabkan pembentukan lapisan es yang luas. Proses ini mengurung sejumlah besar air dalam bentuk es, mengakibatkan penurunan signifikan permukaan laut.

     Penurunan permukaan laut ini memiliki dampak yang dahsyat pada habitat laut, mengakibatkan hilangnya wilayah-wilayah dangkal tempat banyak organisme hidup. Ketika wilayah-wilayah ini mengering, banyak spesies kehilangan habitat mereka dan tidak mampu bertahan dalam kondisi lingkungan yang berubah dengan cepat. Perubahan drastis dalam kimia air laut dan suhu juga menambah tekanan pada organisme-organisme tersebut.

     Dalam istilah geologi, kepunahan Ordovisium-Silur ditandai dengan batas Ordovisium-Silur. Batas ini menunjukkan perubahan besar dalam endapan laut yang dapat diamati di berbagai lokasi di seluruh dunia. Lapisan-lapisan batuan dari periode ini menunjukkan tanda-tanda perubahan lingkungan yang drastis, seperti variasi dalam komposisi fosil dan struktur sedimen. Kehadiran isotop oksigen dalam endapan ini juga memberikan petunjuk tentang perubahan suhu dan iklim yang menyertai peristiwa tersebut.

2. Kepunahan Devon Akhir, yang terjadi sekitar 359 juta tahun yang lalu, mengakibatkan hilangnya sekitar 75% spesies yang ada pada waktu itu, mencakup berbagai organisme laut dan darat. Devon adalah periode yang terkenal dengan "Zaman Ikan", di mana ikan berrahang pertama kali mendominasi lautan, sementara tanaman darat dan serangga juga mulai berkembang pesat.

     Penyebab utama kepunahan Devon Akhir kemungkinan besar adalah kombinasi dari beberapa faktor lingkungan yang ekstrem. Salah satunya adalah perubahan iklim yang mendadak, yang bisa disebabkan oleh perubahan besar dalam siklus karbon dioksida. Fluktuasi dalam kadar CO₂ atmosfer bisa memicu perubahan iklim global, yang berdampak pada habitat laut dan darat.

     Selain itu, letusan vulkanik besar-besaran mungkin telah melepaskan sejumlah besar debu dan gas ke atmosfer, menyebabkan penurunan suhu global dan perubahan kimia air laut. Letusan ini juga dapat menyebabkan hujan asam yang merusak lingkungan darat dan laut. Efek gabungan dari pendinginan global dan perubahan kimia air laut kemungkinan besar menekan banyak organisme, menyebabkan stres lingkungan yang parah.

     Penurunan kadar oksigen di laut, atau anoksia laut, juga diyakini berperan penting dalam kepunahan ini. Ketika laut mengalami stagnasi, yaitu ketika sirkulasi air melambat atau terhenti, kadar oksigen di dalam air bisa menurun drastis. Organisme yang hidup di laut dangkal, seperti terumbu karang dan ikan, sangat rentan terhadap kondisi anoksik ini. Penurunan kadar oksigen akan menghambat metabolisme organisme laut dan akhirnya menyebabkan kematian massal.

     Dalam rekaman geologi, kepunahan Devon Akhir ditandai oleh lapisan endapan yang menunjukkan tanda-tanda stagnasi air laut. Lapisan sedimen ini sering menunjukkan perubahan dalam komposisi mineral dan inklusi dari fosil-fosil yang mengalami stres lingkungan. Fosil-fosil ini memberikan bukti bahwa organisme pada masa itu harus bertahan dalam kondisi lingkungan yang keras sebelum akhirnya banyak dari mereka punah.
 

3. Kepunahan Perm-Trias, yang terjadi sekitar 252 juta tahun yang lalu di akhir periode Perm,  sekitar 96% spesies laut dan 70% spesies darat punah, menjadikannya kepunahan yang sangat signifikan dan merusak ekosistem global.

     Faktor penyebab utama kepunahan Perm-Trias mencakup beberapa perubahan lingkungan yang ekstrem dan peristiwa geologis besar. Salah satu penyebab utama yang sering disebut adalah aktivitas vulkanik besar-besaran di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Siberia. Letusan vulkanik ini, yang dikenal sebagai Siberian Traps, melepaskan sejumlah besar lava dan gas ke atmosfer, termasuk karbon dioksida (CO₂) dan belerang dioksida (SO₂). Gas-gas ini menyebabkan pemanasan global yang ekstrem dan hujan asam, yang merusak ekosistem darat dan laut.

     Perubahan iklim ekstrem yang disebabkan oleh aktivitas vulkanik ini juga memainkan peran penting dalam kepunahan. Peningkatan kadar CO₂ di atmosfer menyebabkan efek rumah kaca yang memperburuk suhu global, sementara SO₂ di atmosfer menyebabkan hujan asam yang merusak tumbuhan dan ekosistem. Dampak gabungan dari pemanasan global dan hujan asam ini menciptakan kondisi lingkungan yang sangat keras, yang tidak dapat diadaptasi oleh banyak spesies.

     Selain itu, kondisi anoksia laut (kekurangan oksigen) juga merupakan faktor kunci dalam kepunahan Perm-Trias. Aktivitas vulkanik dan perubahan iklim menyebabkan stagnasi dalam sirkulasi air laut, yang mengurangi oksigen yang larut dalam air. Anoksia laut ini mengakibatkan kematian massal bagi organisme laut yang bergantung pada oksigen untuk bertahan hidup, termasuk terumbu karang, moluska, dan berbagai spesies ikan. Organisme yang tinggal di laut dangkal, yang paling rentan terhadap perubahan kadar oksigen, mengalami dampak yang paling parah.

     Secara geologi, kepunahan Perm-Trias dikenal sebagai batas Perm-Trias. Batas ini dapat diidentifikasi dalam lapisan-lapisan batuan di seluruh dunia dan ditandai oleh perubahan dramatis dalam komposisi fosil dan endapan sedimen. Lapisan-lapisan ini menunjukkan penurunan tiba-tiba dalam keberagaman fosil dan adanya lapisan abu vulkanik yang tebal, yang menjadi saksi bisu dari aktivitas vulkanik besar-besaran pada masa itu.

     Batas Perm-Trias juga menunjukkan perubahan besar dalam kimia batuan, termasuk peningkatan signifikan dalam isotop karbon yang menunjukkan fluktuasi besar dalam siklus karbon global. Data isotop ini memberikan bukti bahwa perubahan iklim dan kondisi lingkungan selama periode ini sangat ekstrem dan berdampak besar pada kehidupan di Bumi.
 

4. Kepunahan Trias-Jura, yang terjadi sekitar 201 juta tahun yang lalu di akhir periode Trias, mengakibatkan hilangnya sekitar 80% spesies yang ada pada waktu itu, termasuk banyak spesies reptil besar dan organisme laut. Kepunahan ini menciptakan landasan bagi dinosaurus untuk mendominasi ekosistem darat selama periode Jura yang mengikuti.

     Faktor penyebab utama kepunahan Trias-Jura kemungkinan besar melibatkan aktivitas vulkanik yang intens dari Pematang Tengah Atlantik. Pematang Tengah Atlantik adalah zona rift di tengah Samudera Atlantik di mana lempeng tektonik saling menjauh, menciptakan letusan vulkanik yang masif. Letusan ini melepaskan sejumlah besar gas ke atmosfer, termasuk karbon dioksida (CO₂) dan metana (CH₄), yang menyebabkan peningkatan signifikan dalam efek rumah kaca dan pemanasan global.

     Perubahan iklim yang diakibatkan oleh aktivitas vulkanik ini berkontribusi pada kepunahan massal dengan menciptakan kondisi lingkungan yang sangat tidak stabil. Suhu global yang meningkat menyebabkan perubahan besar dalam habitat yang ada, merusak ekosistem darat dan laut. Selain itu, pelepasan gas vulkanik juga dapat menyebabkan hujan asam, yang lebih lanjut merusak tumbuhan dan organisme laut.

     Dalam rekaman geologi, kepunahan Trias-Jura ditandai dengan batas Trias-Jura. Batas ini dapat dilihat dalam lapisan-lapisan sedimen yang menunjukkan perubahan besar dalam jenis fosil dan endapan. Lapisan ini menunjukkan hilangnya tiba-tiba banyak spesies dan perubahan dalam komposisi fosil yang menandakan adanya stres lingkungan. Perubahan besar dalam endapan sedimen juga menunjukkan adanya gangguan lingkungan yang signifikan, seperti perubahan dalam kimia air laut dan struktur sedimen.

     Batas Trias-Jura juga menunjukkan adanya peningkatan dalam isotop karbon yang mencerminkan perubahan dalam siklus karbon global. Data isotop ini memberikan bukti bahwa perubahan lingkungan yang terjadi selama periode ini sangat ekstrem dan berdampak besar pada kehidupan di Bumi. Peristiwa ini menunjukkan bagaimana aktivitas geologis yang intens dapat menyebabkan perubahan besar dalam ekosistem global dan memicu kepunahan massal.

5. Kepunahan Kapur-Paleogen, yang terjadi sekitar 66 juta tahun yang lalu, mungkin adalah peristiwa kepunahan massal paling terkenal dalam sejarah Bumi karena mengakhiri era dinosaurus. Peristiwa ini mengakibatkan hilangnya sekitar 75% spesies di Bumi, termasuk banyak spesies yang mendominasi daratan dan lautan. Kepunahan ini menciptakan perubahan besar dalam ekosistem global dan membuka jalan bagi evolusi mamalia dan akhirnya manusia.

     Penyebab utama kepunahan Kapur-Paleogen adalah tumbukan asteroid besar yang menciptakan kawah Chicxulub di Yucatán, Meksiko. Tumbukan ini melepaskan energi yang sangat besar, setara dengan miliaran bom atom, yang menyebabkan kebakaran hutan global, gelombang tsunami, dan pelepasan partikel debu dan gas ke atmosfer. Partikel-partikel ini menghalangi sinar matahari, menyebabkan penurunan suhu global yang drastis, dan memicu efek rumah kaca yang signifikan.

     Akibat dari tumbukan ini adalah gangguan besar dalam rantai makanan. Tanaman tidak dapat melakukan fotosintesis karena kurangnya sinar matahari, yang menyebabkan keruntuhan ekosistem darat dan laut. Banyak spesies dinosaurus, baik karnivora maupun herbivora, tidak dapat bertahan hidup dalam kondisi lingkungan yang berubah dengan cepat ini. Selain itu, hewan-hewan kecil yang bergantung pada tumbuhan dan hewan lainnya juga terdampak parah.

     Selain tumbukan asteroid, aktivitas vulkanik di Deccan Traps, India, juga berperan dalam kepunahan ini. Letusan vulkanik ini melepaskan sejumlah besar gas seperti belerang dioksida (SO₂) dan karbon dioksida (CO₂) ke atmosfer. Gas-gas ini berkontribusi pada hujan asam dan pemanasan global, yang lebih lanjut merusak lingkungan darat dan laut. Kombinasi dari tumbukan asteroid dan aktivitas vulkanik menciptakan kondisi lingkungan yang sangat tidak stabil dan tidak bersahabat bagi banyak spesies.

     Dalam rekaman geologi, batas geologi ini dikenal sebagai batas Kapur-Paleogen (K-Pg), yang sebelumnya disebut batas Kapur-Tersier (K-T). Batas ini ditandai dengan lapisan tipis iridium yang sangat tinggi dibandingkan dengan lapisan batuan di sekitarnya. Iridium adalah unsur yang jarang ditemukan di kerak bumi tetapi umum di meteorit, memberikan bukti kuat tentang tumbukan asteroid. Selain itu, perubahan mendadak dalam fosil plankton juga menjadi indikator penting dari kepunahan ini. Di bawah batas K-Pg, fosil plankton menunjukkan keanekaragaman yang tinggi, tetapi di atas batas ini, keanekaragaman fosil plankton menurun tajam.

     Dengan memahami kepunahan massal ini, kita dapat melihat bagaimana perubahan besar dalam lingkungan Bumi dapat memicu transformasi dramatis dalam evolusi kehidupan. Setiap peristiwa kepunahan membuka jalan bagi munculnya spesies baru dan mengatur panggung bagi evolusi berikutnya, menunjukkan ketahanan dan adaptasi kehidupan di planet kita.

 

Rujukan:

George R. McGhee, The Late Devonian mass extinction: the Frasnian/Famennian crisis (1996). Columbia University Press

T.J. Algeo, "Terrestrial-marine teleconnections in the Devonian: links between the evolution of land plants, weathering processes, and marine anoxic events" (1998)

Michael J. Benton, When Life Nearly Died: The Greatest Mass Extinction of All Time (2003). Thames & Hudson.

Douglas H. Erwin, Extinction: How Life on Earth Nearly Ended 250 Million Years Ago (2006). Princeton University Press.

Peter D. Ward dan Joe Kirschvink, A New History of Life: The Radical New Discoveries about the Origins and Evolution of Life on Earth (2015). Bloomsbury Publishing.

Robert M. DeConto dan David Pollard, "The Role of CO2 and Ocean Acidification in the End-Cretaceous Extinction" (2003). Science.

     Terletak di tengah Gurun Mojave di perbatasan antara California dan Nevada, Death Valley atau lembah kematian - seperti namanya, tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Di lembah itu ada dataran Bardwater yang terletak 86 meter di bawah muka laut. Sementara area lainnya bernana Furnace Creek di lembah ini memegang rekor suhu udara terpanas dengan 56,7 derajat Celcius pada 10 Juli 1913.
     Tetapi bukan fenomena kedua tempat itu yang menjadi daya tarik utama Death Valley - terutama untuk para geolog, melainkan suatu tempat di barat laut lembah ini bernana Racetrack Playa. Berbeda dari dataran Bardwater, Racetrack Playa merupakan danau kering yang terletak di ketinggian 1.130 meter di atas permukaan laut. Panjangnya 4,5 km dengan lebar 2 km.
     Para Geolog yang menyambangi Racetrack Playa akan berhadapan denga teka teki yang terpecahkan selama bertahun-tahun. Bagaimana batu dari berbagai ukuran, entah yang beratnya hanya satu dua kilogram atau bahkan dengan berat ratusa kilogram, akan bergerak dengan sendirinya di permukaan danau kering yang sangat datar itu. Lakukan percobaan dengan meletakkan batu dengan ukuran berat berapa saja, lalu kembalilah beberapa tahun kemudian. Batu itu telah bergerak jauh, meninggalkan jejak lintasan dari posisinya yang semula diletakkan. Sepertinya, fenomena tersebut yang juga menjadi dasar memberi nama untuk wilayah ini, 'Racetrack'.
     Pertanyaannya adalah siapa yang menggeser batu-batu tersebut sedemikian jauh, sementara tidak ada jejak air ataupun jejak hembusan angin di sana.? "Semakin lama kalian berada di sana, maka kalian akan merasakan misteri tersebut", kata Alan Van Valkenburg, penjaga di Taman Nasional Death Valley, yang sudah bekerja di tempat itu selama 20 tahun.
     Dua peneliti dari Badan Survei Geologi Amerika Serikat di tahun 1948 menyampaikan hipotesisnya. Mereka menduga tiupan angin dan banjir yang menyebabkan batu-batu itu bergeser. Tetapi tidak ada bukti yang mendukung hipotesis mereka.
     Dua puluh tahun kemudian, Robert Sharp dari California Institute, melacak pergerakan 30 batu di permukaan Racetrack Playa. Setiap tahun dua kali timnya mendatangi tempat itu. Namun mereka selalu gagal mendapatkan jawaban akan fenome batu bergeser itu.
     Pauh Messina, geolog lain dari San Jose State University, memetakan pergerakan batu-batu di danau Death Valley itu menyimpulkan bahwa batu-batu itu tak bergerak paralel, sehingga dugaan bahwa sangat kecil kemungkinannya batu-batu itu bergeser oleh tiupan angin.
     Tahun 2007, Ralph Lorenz, peneliti planet dari John Hopkins University bersama NASA memasang stasiun cuaca di Death Valley. Hipotesis dari tim ini bahwa selama musim dingin, terbentuk lapisan es dan air di sekeliling batuan sehingga batu-batuan tersebut seakan-akan terapung di Recetrack Playa. Batu-batu dalam keadaan terapung itu akan mudah bergeser oleh tiupan angin kencang di Death Valley tersebut. Menurut Lorenz, model hipotesis yang dikemukakannya jauh lebih meyakinkan daripada teori lainnya, karena tidak membutuhkan gaya yang besar untuk menggeser batu di sana yang dalam keadaan terapung.
     "Orang selalu bertanya, apa penyebab batu-batu itu bergeser. Namun masalah sebenarnya adalah, ketika para ahli mencoba membuat penjelasan tentang fenomena tersebut, 'mereka' tidak selalu mendengarkannya," kata Alan.
     Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Alan tentang 'orang yang tidak mendengarkan penjelasan' itu. Namun satu sanggahan sederhana sepertinya masih memerlukan jawaban, bila batu-batu itu bergeser oleh karena mereka terapung di atas lapisan es, bagaimana mereka bisa meninggalkan jejak goresan di permukaan tanah? Sepertinya fenomena ini masih tetap merupakan undangan terbuka untuk para geolog di seluruh dunia.
gambar dan data : epaper harian Detik

     Letusan Gunung Toba pada 74 ribu tahun yang lalu merupakan letusan gunung paling dahsyat dalam 2 juta tahun terakhir. Benarkah letusan itu nyaris memusnahkan manusia?

               The bright sun was extinguish'd, and the stars
               Did wander darkling in the eternal space,
               Rayless, and pathless, and the icy earth
               Swung blind and blackening in the moonless air;
               Morn came and went—and came, and brought no day

     Darkness, puisi itu dibuat Lord Gordon Byron, pada Juli 1816, di Jenewa, Swiss. Setahun setelah Gunung Tambora meletus, menyemburkan 50 kilometer kubik abu ke atmosfer, Jenewa, menurut Lord Byron, masih diselimuti gelap sepanjang hari. “Lilin dinyalakan seakan-akan tengah malam,” Lord Byron menuturkan.
     Pada 5 April 1815, Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, mulai menyemburkan lava panas. Tak berapa lama, dentuman kencang bertubi-tubi terdengar hingga jauh. Konon, suara dentuman itu terdengar hingga ke Makassar dan Batavia yang berjarak ratusan kilometer. Ditaksir, letusan Gunung Tambora dua abad silam itu mencapai skala 7 indeks ekplosivitas vulkanik (VEI) dan energinya empat kali lipat dari letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda pada 1883.
     Efeknya sungguh dahsyat. “Di sepanjang jalan masih ada beberapa jenazah... Desa-desa rata dengan tanah, dan penduduk yang tersisa bertebaran mencari makan,” Letnan Phillips, melaporkan. Dia ditugaskan oleh Sir Thomas Stamford Raffles, penguasa di Batavia, untuk memeriksa letusan Gunung Tambora.
     Debu tebal yang menutup atmosfer membuat selama setahun nyaris tak ada musim panas di Eropa dan belahan bumi utara. Suhu bumi tahun itu rata-rata turun 0,4-0,7 derajat Celsius. Di mana-mana makanan langka karena tanaman rusak tertimbun debu. Tahun itu adalah sebuah kiamat kecil.
     Beribu-ribu tahun lalu, jauh sebelum Tambora mengamuk, letusan satu gunung di Sumatera Utara membuat bumi seperti “kiamat” selama bertahun-tahun. Konon, gara-gara letusan itu, selama sepuluh tahun bumi mengalami musim dingin, dan selama beberapa abad, temperatur atmosfer bumi mendingin. Itulah letusan gunung paling dahsyat dalam dua juta tahun terakhir. Akibatnya, menurut hipotesis Stanley H. Ambrose, profesor antropologi di Universitas Illinois, Urbana-Champaign, pertumbuhan populasi manusia melambat (population bottleneck). Bahkan ada kemungkinan populasi manusia kala itu berkurang signifikan.
✩✩✩
     Craig A. Chesner, profesor geologi di Universitas Eastern Illinois, menghitung saat Gunung Toba meletus pada sekitar 74.000 tahun silam, menyemburkan material dengan volume 2.800 kilometer kubik. Jumlah material yang disemburkan Gunung Toba hampir dua puluh kali lipat kala Gunung Tambora mengamuk dua abad silam dan hampir 250 kali dari yang dimuntahkan Gunung Krakatau di akhir abad ke-19.
     Ditaksir, letusan Gunung Toba 740 abad silam itu mencapai skala 8 indeks ekplosivitas vulkanik (VEI) dengan kekuatan lebih dari 8 skala magnitude, merusak wilayah seluas 20.000 kilometer persegi. Gas sulfur dan debu yang disemburkan ke lapisan stratosfer, menghalangi matahari, dan membuat suhu permukaan bumi anjlok ratarata 3-5 derajat Celsius. Debu itu terbang hingga ke Afrika, Semenanjung Arab hingga ke utara Laut Cina Selatan. Letusan inilah yang melahirkan danau vulkanik terbesar di dunia, yakni Danau Toba.
     Menurut Stanley Ambrose, selama enam tahun berturut-turut, tak ada musim panas di sebagian besar wilayah dunia. Disusul kemudian, terjadi proses glasialisasi yang melahirkan zaman es selama 1.000 tahun. Sejumlah penelitian penelusuran perkembangan DNA manusia juga membuktikan terjadi genetic bottleneck sekitar tahun meletusnya Gunung Toba.
     “Genetic bottleneck yang bertahan hanya satu generasi tak akan meninggalkan jejak signifikan,” kata Ambrose, beberapa tahun lalu, mengutip penelitian lain. “Karena itu, enam tahun musim dingin mungkin telah menyebabkan anjloknya populasi manusia.”

     Penyokong teori bottleneck ini tak sedikit, tapi tak sedikit pula yang meragukannya. Di antara yang menyangsikan hipotesis Ambrose adalah F.J. Gathorne-Hardy, peneliti di Museum Natural History, London, dan W.E.H. Harcourt Smith, paleontolog dari Museum American Museum of Natural History, New York.
     Dengan meminjam data kerusakan akibat letusan Gunung Krakatau pada 1883, Hardy dan Smith memperkirakan radius kerusakan langsung dari letusan Gunung Toba tak akan lebih dari 350 kilometer. Dia meragukan kesimpulan Ambrose yang menyatakan letusan Gunung Toba bisa jadimembunuh banyak orang di Asia Selatan. Sebab, di Pulau Mentawai saja, yang hanya berjarak sekitar 350 kilometer dari Gunung Toba, populasi beberapa primata endemik di pulau itu relatif tak terganggu. “Jadi kecil kemungkinan, efek kerusakannya mencapai India atau Indochina di utara atau Pulau Jawa di selatan,” Hardy menulis dalam artikelnya.
     Penelitian terbaru oleh tim dari Universitas Oxford, Inggris, membuktikan bahwa debu dari Gunung Toba terbang lebih dari 7.000 kilometer hingga ke Afrika Timur. Christine Lane dan timnya menemukan lapisan tipis abu Gunung Toba ini terkubur puluhan meter di bawah endapan di Danau Malawi.
     Dari penelitian endapan di Danau Malawi, mereka juga membuktikan bahwa tak terjadi penurunan temperatur udara secara dramatis dalam waktu sangat panjang seperti yang diduga Ambrose. “Bisa jadi, lingkungan di sana pulih sangat cepat setelah perubahan atmosfer akibat letusan Gunung Toba,” kata Christine Lane.
✩✩✩
     Selama 1 juta tahun terakhir, paling tidak tiga kali letusan besar terjadi di Gunung Toba. Letusan pertama terjadi sekitar 800 ribu tahun lalu, disusul letusan kedua sekitar 300 ribu tahun kemudian. Yang terakhir dan paling dahsyat terjadi sekitar 74 ribu tahun lampau.
     Menurut hipotesis geolog dari Belanda, Reinout Willem van Bemmelen, yang sangat intensif meneliti gununggunung di Indonesia antara 1930-1940-an, letusan itu membuat sebagian besar magma di perut Gunung Toba terkuras. Karena “perutnya” kosong, maka runtuhlah puncak Gunung Toba, dan menghasilkan kaldera sangat besar. Itulah “bayi” Danau Toba.
     Walaupun sebagian besar material Gunung Toba telah disemburkan, namun menurut Danny Hilman Natawidjaja, geolog dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, masih ada dapur magma di perut Danau Toba sekarang. Volumenya sekitar 30 ribu kubik di kedalaman 10.000 meter. “Tapi kami belum yakin apakah dapur magma itu terisi lava cair atau tidak, atau hanya hidrotermal saja,” kata Danny, pekan lalu.
     Surono, mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana, mengatakan penelitian lokal mengenai Gunung Toba memang sangat minim. “Bagi para peneliti, memang sangat mengasyikkan, tapi bagi sistem mitigasi bencana tidak ada perlunya karena, toh Danau Toba bukan merupakan gunung api aktif yang berpotensi menimbulkan bencana,” kata Surono.
source : Popular Reportase
Majalah Detik no. 96 

     Penghujung kemarau tahun 1982, acara penyambutan mahasiswa geology Unhas itu dilakukan. Belum ada format baku tentang apa saja yang akan dilakukan oleh para senior kepada wajah-wajah culun itu. Semua berlangsung spontan, sederhana dengan semangat yang begitu murni, untuk memberi pengenalan lapangan dan gambaran umum mengenai dunia geolgy nantinya.
     Karenanya, tidak ada wajah-wajah tegang. Sama sekali tidak ada kekuatiran anarkisme dalam bayang-bayang kegiatan perpeloncoan. Di beberapa tenda sederhana, senior dan junior berbaur tanpa batasan. Nyanyi bareng, masak-masak bareng dan tentu saja makan bareng dalam tradisi geology. Sungguh, lebih terasa sebagai kegiatan piknik.
Pak Budi menjelaskan panjang lebar segala sesuatu gambaran umum geology, sambil duduk santai di bendung Pa'bunoang juku' yang kering.
     Karenanya, keberadaan dosen di dalam rombongan, bukan menjadi sesuatu yang menimbulkan gatal-gatal alergi di dalam aktifitas kepanitiaan. Justru, kehadiran dosen dimanfaatkan untuk memberi penjelasan sepanjang perjalanan tentang geology secara umum.
     berdiri dari kiri: Amri, Kadoarjuna, Sulaeman, Nurman, Yustin, Amir Jaya dan Samsul Bahri.
duduk dari kiri: lupa, Nunuk, Hero, Muniati, Imran Umar, Selle, Pak Budi, Jalaluddin, Hance, Rafiudin, Stepanus dan Abd. Muis.
 di atas ada Hero, Muniati dan Junahan Satria.
bawah ada Ramlan Nawawi, Muniati, Nunuk dan yang kacamata tanpa topi itu, lupa namanya.
 sekitar puncak Bulu' Paria. Sama sekali tidak ada wajah tegang di dalam acara kemahasiswaan ini.
 setelah bagi-bagi syal geology, santai sambil foto-foto
     Tentu banyak cerita, banyak kenangan yang menyertai langkah para calon geologist itu. Karenanya, dengan segala kerendahan hati, saya menunggu tambahan komentar di bagian bawah, melengkapi serpihan memori yang melekat di kenangan kita masing-masing. Getar rasa kita di kebersamaan waktu itu, dengan mozaik joke-joke konyol sepanjang jalan pasti akan semakin menyegarkan indahnya kenangan yang telah kita ukir bersama.
Jadi jangan ki' ragu-ragu atau keberatan memanjang lebarkan rangkaian mozaik itu. Komentar ta' sangat di tunggu.

     Waktu itu belum ada kampus lapangan yang permanen seperti sekarang ini. Lokasi base camp kulap masih ditentukan sesuai selera kordinator kulap yang bersangkutan. Maka, kulap-dua ku yang berlangsung juli-agustus 1987 itu memilih lokasi base camp di Ralla, Barru. Dan seperti biasa, rumah kepala desa menjadi sasaran untuk itu, ditambah beberapa rumah tetangga, sebagai tempat kost sementara kuliah lapangan berlangsung. Tidak ketinggalan pastinya gedung sekolah dasar yang ada, dimanfaatkan untuk perkuliahan dalam kelas, sekaligus sebagai tempat menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan laporan dan gambar-gambar peta.
      Dokumentasi foto-foto kegiatan kulap-2 ini tidak terlalu lengkap, beberapa arsip yang saya miliki sudah rusak bersama negatifnya. Jadilah, sisa-sisa gambar yang masih selamat saja yang sebisa mungkin saya repro kembali sehingga bisa tampil seperti sekarang ini.
     Hari pertama pastinya dimulai dengan orientasi medan. Semua komponen yang terlibat, beramai-ramai keliling area kulap. Langkah kaki di hari pertama itu terasa masih begitu jauh, untuk membayangkan langkah terakhir di kegiatan ini, 32 hari kemudian. Berangkat dengan prasangka baik untuk setiap langkah yang terayun, hari demi hari dilalui dengan suka cita, tentu saja dengan segala jurus kalasi yang berhasil dan mampu diterapkan. Pokoknya, dibawa happy saja.
     Mengambil pengalaman dari hasil nilai kulap satuku yang jebok, satu strip lagi tidak lulus, maka untuk kulap dua ini saya lebih fokus. Pasang kaca mata kuda, jangan tengok kiri kanan, apalagi sampai odo'-odo' tetangga ataupun kerabat pak desa atau ibu kost. Bukan apa-apa, sebagai praktikan pastinya kita tidak akan sanggup untuk bersaing dengan para asisten dosen ataupun denagn dosennya seklian, dalam urusan odo'-odo' itu. Pengalaman dari kulap satu telah mengajarkan hal itu. hehehe...
     Pak Budi Rohmanto, Ibu. alm Bunga, Pak Kaharuddin MS, mengantar peserta kulap untuk oritntasi medan. Setelah di padang lampe' kita sempatkan untuk foto-foto sambil baku calla-calla karena banyak sudah ketularan penyakit 'okkotz' selama di lapangan.
Persiapan memulai kulap, baris-baris sambil dengar petuah-petuah, lalu berdoa sebelum meninggalkan kampus menuju Barru.
Ada Hermiati Eppang, Selle Hafid, Wawan Purnawarman, Clara Cussoy, Khaerul, Aspa, Idris dan lain-lain..
pasir kuarsa dan batu bara. Selalu ada keriangan di setiap stasiun yang disinggahi. Bukan karena singkapan yang ditemukan, tetapi kesempatan untuk melepas lelah, meneguk air dari botol bekal sambil mencari kesempatan untuk sekadar meluruskan punggung di keteduhan yang tidak termonitor oleh asisten.
     Kebetulan, pelaksanaan kulap dua waktu itu, mengambil jadwal yang juga perayaan Idul Adha. Luar biasa, karena kulap baru selesai seminggu setelah hari raya itu. Saya ingat sekali. Laode Ilva Ania sempat meneteskan air mata, ketika sore menjelang sebaran keesokan harinya, kami jalan pulang menuju base camp, sepanjang jalan tercium bau aroma ketupat yang sementara direbus. Saat-saat berkumpul dengan keluarga di hari raya itu, harus dilewatkan ditempat kulap sambil digoda oleh suasana dan aroma yang membuat kerinduan itu semakin memeras keharuan.
malam terakhir di lokasi, ada panggung nyanyi-nyanyi, juga acara penyerahan hasil kulap ke setiap peserta. Beruntung sempat diabadikan, waktu Ibu Ratna menyerahkan dokumen jatah saya.
     Setelah pelaksanaan kulap, ternyata panitia masih menyimpan banyak sisa anggaran yang berhasil dihemat selama pelaksanaan kemarin. Karenanya, kemudian disepakati diadakan pembubaran panitia di Pulau Samalona. Luar biasa rasanya, kesempatan berkumpul lagi dalam suasana lebih santai, bukan dalam kondisi 'under pressure' seperti waktu masih kulap.
     Tentu saja, makan-makannya juga penting. Menu yang ada lumayan bagus, bahkan sangat layak untuk konsumsi yang menopang peradaban manusia. Hehehe..sudah tidak ada menu paku jembatan, ayam turki ataupun telur dadar setipis kertas dengan campuran tepung (lebih terasa sebagai tepung goreng dibanding telur dadar).
hampir semua hadir, termasuk para dosen dan karyawan jurusan geology.
Ada Nandang, Sulaeman, Nasrullah, Hendro, Alam, dan lain-lain.
terus lagi, ada pak Inji, pak Agustinus ET, pak Bustan, pak Jamal dan ibu.
Selle in action ditimpali oleh Stepanus dengan gitarnya yang tidak jelas menyanyikan lagu apa, Ada Andi Temmu, Hermiati, Pak Inji, Jalaluddin, Asri, Idris dll.
kemesraan ini janganlah cepat berlalu.. syair lagu Iwan Fals yang selalu menemani setiap acara lapangan.. kenangan yang selalu hangat...

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.