Di negeri ini, kabur adalah seni bertahan hidup. Sebuah seni yang
dipelajari rakyat ketika mereka menyadari bahwa tanah airnya lebih mirip
pasar loak—penuh barang usang berl...
Di negeri Konoha yang dulu disebut zamrud khatulistiwa, hiduplah seekor Macan Asia
yang gagah. Ia dijanjikan akan menggetarkan dunia dengan aumannya,
membawa negeri ini menj...
Demokrasi adalah sistem yang buruk tetapi masih lebih baik dibandingkan yang lain. Begitulah yang dikatakan Churchill. Pernyataan itu bukan pujian, melainkan keluhan yang meng...
Kita hidup di zaman yang luar biasa. Bahkan, sejujurnya, kita mungkin hanya tidak menyadarinya. Meskipun sebagian besar umat manusia terjebak dalam rutinitas sehari-hari, meng...
Di sebuah kedai kopi yang remang, dua sosok bersua dalam obrolan yang seolah melompati ruang dan waktu. Friedrich Nietzsche, dengan tatapan tajam dan kumis melintang, menyerup...
Nos yang budiman, Aku menulis surat ini dari sebuah warung kopi
di ujung jalan yang belum tercatat di Google Maps. Di sini, kopi langit
masih bisa dibeli secangkir dengan harg...
Di sudut Neura Café—tempat para tech-bro berkacamata tebal dan
seniman digitalis saling berdesakan—sepasang kekasih sedang berkencan.
Pria itu asyik berbicara pada smartwatc...
Di sudut ruang kerjanya yang dipenuhi buku, seorang penulis muda
menatap layar kosong. Jarinya menggantung di atas keyboard, ragu antara
menulis kisah hidupnya yang jujur at...
Di sudut pelosok Nusa Tenggara Timur, seorang ibu paruh baya dengan
tekun menganyam daun lontar menjadi atap rumah. Tangannya lincah
bergerak, tapi matanya kosong menatap de...
Di sebuah laboratorium rahasia di Silicon Valley, seorang insinyur
menatap layar yang dipenuhi kode genetik. Jarinya menari di atas
keyboard, menyambung potongan DNA sinteti...
Dalam film The Matrix, Morpheus menyodorkan pilihan sederhana kepada Neo: pil
merah untuk kebenaran yang menghancurkan, atau pil biru untuk ilusi yang
menenangkan. Dua dekad...