Ketidaktahuan Yang Disengaja
Ada jenis ketidaktahuan yang lahir bukan karena seseorang tidak mampu mengetahui, melainkan karena ia memilih untuk tidak segera mengetahui. Ia bukan kekurangan informasi, bukan keterbatasan kemampuan berpikir, bukan pula penolakan terhadap pengetahuan. Ia adalah sebuah keputusan kecil untuk memberi jarak antara pertanyaan dan jawaban.
Di zaman ketika hampir semua hal dapat ditemukan dalam beberapa detik, ketidaktahuan menjadi sesuatu yang terasa aneh. Manusia modern hidup dalam keyakinan bahwa setiap celah harus segera diisi. Pertanyaan harus memiliki jawaban, kebingungan harus segera dibereskan, dan ketidakpastian harus segera dikurangi. Tidak tahu dianggap sebagai keadaan sementara yang harus diperbaiki secepat mungkin.
Padahal ada hal-hal yang justru kehilangan keindahannya ketika terlalu cepat diketahui.
Seseorang yang membaca novel misteri tentu memahami godaan untuk langsung membuka halaman terakhir. Jawaban ada di sana. Pelaku sudah diketahui, teka-teki sudah selesai, rasa penasaran sudah dibereskan. Namun hampir semua orang tahu bahwa melakukan itu berarti kehilangan sesuatu yang lebih penting daripada jawaban: perjalanan menuju jawaban.
Demikian pula dengan banyak hal dalam hidup.
Ada pengalaman yang nilainya bukan terletak pada hasil akhirnya, melainkan pada ruang kosong sebelum hasil itu tiba. Menunggu kabar seseorang. Menjelajahi tempat yang belum dikenal. Mendengar lagu baru tanpa membaca ulasan sebelumnya. Membiarkan sebuah percakapan berkembang tanpa menyiapkan kesimpulan. Ada kenikmatan tertentu dalam tidak mengetahui, karena di sana imajinasi masih memiliki tempat untuk bergerak.
Ketidaktahuan yang disengaja bukanlah kebodohan yang dipelihara. Justru sering kali ia membutuhkan kedewasaan tertentu. Dibutuhkan keberanian untuk mengatakan, “aku belum tahu,” di dunia yang menghargai orang yang selalu tampak yakin. Ada kekuatan dalam menahan diri dari kesimpulan yang terlalu cepat.
Karena mengetahui sesuatu bukan hanya tentang memiliki informasi, tetapi juga tentang memahami kapan informasi itu layak dimiliki.
Ada orang yang membaca semua tentang suatu tempat sebelum mengunjunginya. Ia tahu sejarahnya, peta jalannya, foto-fotonya, komentar orang-orang yang pernah datang. Ketika tiba di sana, mungkin ia tidak akan tersesat, tetapi mungkin juga tidak benar-benar menemukan kejutan. Tempat itu datang bukan sebagai pengalaman, melainkan sebagai konfirmasi dari sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya.
Tentu tidak ada yang salah dengan persiapan. Peta dan pengetahuan menyelamatkan banyak perjalanan. Seorang pendaki yang masuk hutan tanpa pengetahuan bisa membahayakan dirinya sendiri. Seorang ilmuwan yang menolak fakta akan kehilangan pijakan. Ketidaktahuan yang disengaja bukan berarti memusuhi pengetahuan.
Ia hanya mengingatkan bahwa pengetahuan juga memiliki waktu.
Ada saatnya mengetahui adalah bentuk kebijaksanaan. Tetapi ada pula saatnya menunggu adalah bentuk kebijaksanaan yang lain.
Dalam hubungan manusia, misalnya, keinginan untuk mengetahui segala sesuatu kadang justru menjadi bentuk kecemasan. Kita ingin membaca semua tanda, mencari semua jawaban, memahami semua kemungkinan. Kita ingin memastikan tidak ada kejutan yang menyakitkan. Namun manusia bukan teka-teki matematika yang bisa diselesaikan sepenuhnya. Selalu ada ruang yang tidak terlihat, bahkan dalam diri orang yang paling dekat.
Dan mungkin justru ruang itulah yang membuat hubungan tetap hidup.
Ada sesuatu yang menarik dari manusia lain yang tidak sepenuhnya kita pahami. Ada bagian yang tetap menjadi wilayah asing, tempat kita terus belajar. Jika semuanya sudah diketahui, mungkin hubungan berubah menjadi arsip. Tidak ada lagi penemuan, tidak ada lagi rasa ingin tahu.
Ketidaktahuan yang disengaja juga memiliki sisi lain yang lebih sunyi: kemampuan untuk tidak ikut campur. Ada hal-hal yang tidak perlu kita ketahui, tidak perlu kita bongkar, tidak perlu kita miliki. Dalam budaya yang sering menganggap akses sebagai hak, kemampuan untuk berhenti di batas tertentu menjadi semakin langka.
Tidak semua pintu harus dibuka hanya karena kita memiliki kunci.
Tidak semua rahasia harus dipecahkan hanya karena kita mampu.
Mungkin di situlah letak ironi kecilnya. Manusia menghabiskan sejarah untuk mengurangi ketidaktahuan, membangun ilmu pengetahuan, menjelajah angkasa, membaca kode kehidupan. Semua itu adalah pencapaian yang luar biasa. Namun setelah mengetahui begitu banyak hal, manusia perlahan menemukan bahwa kemampuan untuk tidak tahu juga memiliki nilai.
Sebab tidak semua ruang kosong adalah kekurangan.
Sebagian adalah ruang bagi rasa ingin tahu. Sebagian adalah ruang bagi imajinasi. Sebagian lagi adalah ruang bagi kerendahan hati.
Pada akhirnya, ketidaktahuan yang disengaja bukan tentang menutup mata terhadap dunia. Ia adalah cara lain untuk melihat dunia dengan lebih sabar. Membiarkan beberapa pertanyaan tetap terbuka, bukan karena tidak mampu menjawabnya, tetapi karena menyadari bahwa beberapa perjalanan akan kehilangan makna jika tujuannya sudah diketahui sejak awal.
Dan mungkin dalam kehidupan yang penuh dengan jawaban cepat ini, salah satu bentuk kebijaksanaan yang mulai langka adalah kemampuan untuk berdiri di depan sebuah pertanyaan, tersenyum kecil, lalu berkata: belum sekarang.







