Permainan Orang Tersesat
Ada keindahan tertentu dalam menjadi tersesat. Itu semacam permainan yang tak memiliki aturan baku selain satu: terus bergerak meskipun arah tak pernah benar-benar diketahui. Mereka yang terlalu membutuhkan kepastian selalu curiga terhadap permainan ini, sebab ia tidak menjamin kemenangan apa pun. Namun bagi sebagian manusia lain, itulah satu-satunya permainan yang patut dijalani: permainan orang tersesat.
Manusia selalu bergerak di antara dua peta, peta yang dibuat dunia dan peta yang dibuat kepala. Keduanya jarang bertepatan. Kadang keduanya malah saling menyalahkan dengan kekerasan logisnya masing-masing. Dunia bersikeras menunjukkan fakta dan koordinat, sementara kepala bersikeras menunjukkan makna dan kecenderungan. Tidak banyak ruang di antara keduanya, namun di celah kecil itulah hidup sebenarnya berlangsung.
Yang lucu—dan agak menenangkan—adalah kenyataan bahwa tidak ada orang yang benar-benar tahu dari mana ia memulai. Logika sejarah memang berusaha menjahit garis sebab-akibat untuk memuaskan rasa ingin tahu, tetapi manusia lahir tanpa buku panduan, tanpa koordinat awal, tanpa rencana strategis. Bahkan mereka yang merasa sudah tahu apa yang harus dilakukan pada umur dua puluh biasanya akan tertawa getir pada umur empat puluh. Yang tertawa pada empat puluh akan bergumam pelan pada umur enam puluh. Dan sisanya akan membiarkan anak cucu menebak-nebak maksud hidup mereka.
Tersesat dalam ruang fisik adalah pengalaman yang paling jujur dari semuanya. Seorang pendaki gunung yang tiba-tiba kehilangan jejak di tengah kabut bukan sedang mengalami metafor, tetapi situasi ontologis sederhana: arah hilang, waktu berjalan, tubuh tidak bisa berhenti. Pada titik itu, kompas bukanlah benda teknis, melainkan penolong eksistensial. Ia mengembalikan hubungan antara tubuh dan utara. Tidak mengajarkan arti hidup, tetapi mengizinkan hidup berlangsung dulu. Para filsuf barangkali iri: betapa nikmatnya mendapatkan alat yang memberi kejelasan tanpa perlu argumentasi panjang.
Namun manusia juga tersesat di medan yang jauh lebih rumit: pilihan, cinta, karier, iman, cita-cita, ambisi, bahasa. Di wilayah ini tidak ada utara, hanya penyesalan dan humor. Atau dalam kasus terbaik: kebijaksanaan yang datang terlambat tetapi tetap disyukuri. Sesuatu yang tampak seperti kebijaksanaan adalah pertemuan aneh antara pengalaman yang sudah selesai dan pengertian yang baru mulai. Itu sebabnya ia selalu agak getir, tetapi mengandung senyum.
Para pemikir besar dalam sejarah tidak pernah benar-benar keluar dari permainan ini. Descartes berusaha mengakhiri kesesatan dengan memastikan fondasi kepastian. Kant mencoba memasang rambu-rambu agar akal tidak menabrak dinding metafisika. Heidegger mengganti peta dengan pertanyaan tentang apa itu berada. Sementara Kierkegaard justru mengajak manusia melompat dari peta menuju iman. Semua itu menunjukkan bahwa yang mereka sebut sistem hanyalah cara terhormat untuk mengelola kesesatan. Akademia kemudian meniru, mengira permainan mereka adalah pertandingan resmi. Padahal inti dari kerja pikir bukan kemenangan, tetapi kelayakan untuk terus tersesat tanpa kehilangan martabat.
Di tingkat yang lebih manusiawi, tersesat adalah cara manusia mempercepat pertumbuhan. Anak kecil tersesat dalam bahasa, lalu pelan-pelan belajar menyusunnya. Remaja tersesat dalam identitas, lalu bernegosiasi antara pemberontakan dan penerimaan. Orang dewasa tersesat dalam tanggung jawab dan keinginan, lalu mencari keseimbangan di antara keduanya. Yang tua tersesat dalam kenangan, lalu mulai berdamai dengan keterbatasan waktu. Semua ini tanpa kurikulum, tanpa rambu, tanpa instruktur.
Ada satu ironi yang patut dicatat: dunia modern menjanjikan navigasi sempurna. Peta digital, algoritma rekomendasi, kalender yang mengatur hari, produktivitas yang mengatur jam, dan psikologi populer yang mengatur perasaan. Tetapi semakin semuanya bisa dipetakan, semakin manusia merasa ada bagian dari dirinya yang hilang. Barangkali karena hidup yang tidak pernah menyimpang tidak pernah terasa hidup. Energi vital lahir dari penyimpangan kecil yang tidak direncanakan, keputusan yang terlalu spontan, keinginan yang terlalu jujur, dan percakapan yang terlalu panjang untuk standar efisiensi industri.
Di sini permainan orang tersesat menunjukkan kebijaksanaan paling halus: manusia tidak lahir untuk selalu tahu. Ia dilahirkan untuk mencoba, keliru, bertanya, mengulang, menyerah sebentar, bangkit lagi, dan akhirnya tertawa terhadap semua kekacauan yang ia buat. Tuhan, kalau boleh sedikit puitis, tampaknya tidak mencintai makhluk yang terlalu lurus.
Maka mungkin tujuan kita bukan menemukan rute yang benar, tetapi menjadi jenis pejalan yang tidak ketakutan ketika peta sobek, ketika kompas rusak, ketika kabut turun, atau ketika arah berubah sementara tenaga tinggal sedikit. Di titik itu, orang yang tersesat bukanlah pecundang. Ia hanya peserta paling serius dalam permainan tertua di dunia.
Dan permainan itu, selama manusia masih bisa bercakap-cakap, tidak akan pernah selesai.











