Para peneliti telah cukup lama menatap dunia para pendaki dan pegiat outdoor bukan sebagai rombongan orang yang sekadar berjalan menanjak, melainkan sebagai laboratorium kecil tempat identitas, simbol, dan hasrat eksistensial saling berkelindan. Yang diamati bukan hanya langkah kaki di jalur berbatu, tetapi cara rasa-ada dibentuk, dipamerkan, dinegosiasikan, bahkan dipertaruhkan. Data datang dari psikologi olahraga-petualangan, antropologi leisure, hingga etnografi komunitas pendaki. Alam, dalam pengamatan ini, bukan sekadar lanskap; ia adalah panggung tempat manusia memerankan dirinya sendiri.
Motif pertama yang paling sering muncul adalah identitas dan pengakuan. Sejumlah studi menunjukkan bahwa bagi sebagian pendaki—terutama mereka yang hidup dalam ekosistem kota yang kompetitif—pendakian berfungsi sebagai bukti diri. Dalam kajian tentang “adventure tourism”, Cloke dan Perkins menggambarkan bagaimana pengalaman petualangan menghasilkan kapital simbolik yang bisa dipertontonkan, seperti paspor yang makin tebal oleh stempel lintas negara. Di konteks domestik, pola ini berpadu dengan dokumentasi visual: foto di puncak dengan tangan terangkat, logbook yang dicatat rapi, daftar gunung yang telah “ditaklukkan”, emblem organisasi yang dijahit di ransel, stiker yang ditempel di helm atau kendaraan. Rasa eksistensi yang dibangun di sini bukan terutama pengalaman sunyi di hadapan kabut, melainkan keberhasilan menempatkan diri dalam narasi tertentu: sudah sampai di sini, bagian dari kelompok itu, mampu melakukan ini. Fenomena ini tidak perlu dihakimi; ia sekadar menunjukkan bahwa bagi sebagian orang, alam menjadi arena untuk menegakkan subjek di mata orang lain. Eksistensi melalui pantulan.
Motif kedua bergerak lebih ringan: hedonic-holiday. Ada yang naik gunung sebagai perpanjangan dari pariwisata. Bukan mengejar puncak sebagai simbol kemenangan, bukan pula membangun citra, melainkan sekadar mengganti pasir pantai dengan tanah berlumut dan kabut danau kawah. Di kategori ini, rasa-ada terasa tipis, nyaris seperti wisata kuliner yang kebetulan membutuhkan oksigen lebih sedikit. Studi wisata petualangan menyebut pengalaman ini sebagai shallow flow—tubuh menikmati sensasi kecil tanpa tuntutan makna yang berat. Ada kebahagiaan, ada tawa di tenda, ada foto bersama, tetapi tidak selalu meninggalkan bekas eksistensial yang dalam. Namun kategori ini sering diremehkan secara gegabah. Justru dari kelompok yang datang tanpa ambisi metafisik, kadang lahir kejutan kecil yang tak terduga: seseorang kehabisan baterai ponsel di pos tiga, kehilangan jaringan, dan untuk pertama kalinya tidak punya layar sebagai cermin. Di situ, ego yang biasa bersandar pada notifikasi mendadak tak punya tempat bersembunyi. Alam menyodorkan sunyi sebagai guru tanpa papan tulis.
Motif ketiga berkait dengan komunitas dan organisasi. Lingkungan ekstrem, menurut literatur organisasi, adalah inkubator simbol yang efektif. Pendakian menjadi alat internal untuk membangun loyalitas, solidaritas, dan disiplin; sekaligus alat eksternal untuk memproduksi reputasi. Yang dibangun bukan lagi “aku sudah sampai puncak”, melainkan “kami adalah organisasi yang mampu.” Eksistensi kolektif tumbuh dari kerja tim, dari pembagian beban, dari keberanian bersama menghadapi cuaca buruk. Di dalamnya ada unsur yang mulia: solidaritas, saling menjaga, rasa percaya yang lahir dari risiko bersama. Tetapi di sisi lain, ada potensi manipulatif: pengalaman eksistensial individu bisa disedot menjadi bahan bakar simbolik institusi. Individu berubah menjadi medium, sebuah nama dalam laporan kegiatan, sebuah wajah dalam dokumentasi resmi. Gunung menjadi panggung legitimasi.
Namun ketiga kategori itu, ketika didekati lebih intim, hanyalah permukaan. Yang lebih menarik adalah pola batin yang tersembunyi di baliknya: apa yang sesungguhnya dicari? Banyak laporan kualitatif menyebut satu pengalaman yang berulang, sering kali tidak direncanakan—sense of diminishing self. Tubuh menyusut di hadapan dinding tebing, ego mengerut ketika kabut menutup jarak pandang, dan alam menghadirkan skala yang tak bisa dinegosiasikan. Rasa-ada yang muncul bukan “aku besar dan berhasil”, melainkan “aku kecil tetapi nyata.” Ini berbeda dari pengakuan sosial. Ia lebih dekat pada spiritualitas tanpa kitab, kesadaran bahwa seluruh drama status dan simbol ternyata hanya satu debu dalam bentang granit. Di titik ini, gunung bukan objek yang ditaklukkan, melainkan cermin yang memantulkan keterbatasan manusia.
Ada pula motif transgresif: dorongan untuk keluar dari domestikasi kota. Pendaki merasakan dirinya sebagai manusia yang untuk sementara terbebas dari jam kantor, lampu merah, KPI, dan etika korporasi. Di atas jalur berbatu, tak ada atasan, tak ada rapat daring, tak ada laporan mingguan. Namun ironi sering muncul tanpa perlu dipanggil. Banyak pendaki mengganti birokrasi kantor dengan birokrasi baru: pemetaan rute yang rigid, checklist peralatan yang detail, jadwal logistik yang ketat, dokumentasi yang harus lengkap. Manusia tampaknya sulit hidup tanpa struktur; ketika satu kulit dilepas, kulit lain segera tumbuh. Kebebasan kadang hanya berganti format.
Beberapa pola kuantitatif memberi latar tambahan. Data dari Adventure Travel Trade Association menunjukkan bahwa sekitar 40–60% peserta adventure tourism global mengaku motif utamanya adalah escape, bukan achievement. Yang dicari bukan piala, melainkan jarak dari rutinitas. Pada komunitas pemuda urban Asia Tenggara, motivasi pencarian status sosial meningkat dalam dua dekade terakhir seiring meledaknya media sosial; pendakian menjelma menjadi komoditas estetika. Puncak bukan hanya titik geografis, tetapi latar belakang foto profil. Etnografi di Indonesia memperlihatkan kategori campuran yang khas: escape dari tekanan kota, kebanggaan regional, kebanggaan organisasi, ritual maskulinitas, hingga sekadar pilihan liburan yang relatif murah dibanding wisata lain. Gunung menjadi wadah yang elastis, mampu menampung berbagai motif tanpa kehilangan bentuknya.
Namun statistik, betapapun rapi, bukan inti yang paling menggugah. Yang lebih penting justru testimoni yang lahir tanpa niat teoritis: seseorang turun dari gunung dan mengaku tidak menemukan apa pun yang ia cari, tetapi justru menemukan sesuatu yang tak pernah ia minta. Di situ eksistensi berbisik pelan—manusia tidak mengatur gunung; gununglah yang mengatur struktur batin manusia. Kabut, dingin, dan jarak dari kebisingan kota memaksa jiwa menata ulang prioritasnya, meski hanya sementara.
Apakah seluruh motif itu mulia? Tentu tidak. Ada yang sekadar vanity dengan sepatu trekking mahal. Ada yang menjadikannya proyek branding pribadi atau institusional. Ada yang datang hanya untuk hobi ringan tanpa pretensi makna. Ada pula yang menjadikannya ziarah tak berlabel, sebuah pertemuan sunyi dengan diri sendiri. Tetapi semua itu sah dalam batasnya masing-masing. Setiap manusia berhak memilih cara untuk merasa ada, entah rasa-ada itu ditegaskan oleh likes di layar, oleh badge organisasi yang dijahit rapi, atau oleh secangkir kopi panas di warung terakhir kaki gunung setelah perjalanan panjang.
Pada akhirnya, gunung tidak pernah benar-benar membutuhkan manusia. Ia tetap berdiri tanpa daftar summit, tanpa unggahan, tanpa laporan kegiatan. Justru manusia yang membutuhkan gunung—sebagai cermin, sebagai panggung, sebagai pelarian, sebagai guru diam. Di antara batu dan angin, manusia belajar bahwa eksistensi tidak selalu berarti menjadi besar; kadang ia berarti berani mengakui betapa kecilnya diri di hadapan lanskap yang tak peduli pada nama kita. Dan dari kesadaran kecil itulah, anehnya, rasa-ada justru tumbuh paling jujur.
Referensi:
Cloke, P., & Perkins, H. C. (1998). “Cracking the canyon with the awesome foursome”: Representations of adventure tourism in New Zealand. Environment and Planning D: Society and Space, 16(2), 185–218. SAGE Publications.
Tulisan ini penting karena menunjukkan bagaimana petualangan diproduksi sebagai simbol—bukan hanya pengalaman, tetapi komoditas identitas yang bisa dipertontonkan.
Beedie, P., & Hudson, S. (2003). Emergence of mountain-based adventure tourism. Annals of Tourism Research, 30(3), 625–643. Elsevier.
Di sini gunung dipahami sebagai ruang pembentuk makna—tempat pariwisata, identitas, dan pengalaman ekstrem bertemu.
Buckley, R. (2012). Rush as a key motivation in skilled adventure tourism: Resolving the risk recreation paradox. Tourism Management, 33(4), 961–970. Elsevier.
Buckley mengurai paradoks risiko: mengapa manusia justru mencari situasi yang membuat jantung berdebar, dan bagaimana “rush” menjadi bahan bakar eksistensial.
Ewert, A., & Hollenhorst, S. (1989). Testing the adventure model: Empirical support for a model of risk recreation participation. Journal of Leisure Research, 21(2), 124–139. National Recreation and Park Association.
Salah satu fondasi klasik dalam psikologi rekreasi berisiko—membaca motivasi, persepsi bahaya, dan kebutuhan pembuktian diri.
Lyng, S. (1990). Edgework: A social psychological analysis of voluntary risk taking. American Journal of Sociology, 95(4), 851–886. University of Chicago Press.
Konsep “edgework” dari Lyng menjelaskan pengalaman mendekati batas—di antara kontrol dan kehilangan kontrol—sebagai ruang pembentukan identitas modern.
Turner, V. (1969). The Ritual Process: Structure and Anti-Structure. Chicago: Aldine Publishing Company.
Walau bukan tentang pendakian secara spesifik, konsep liminalitas dan communitas Turner sering dipakai untuk membaca pengalaman kolektif di ruang ekstrem—fase peralihan di mana struktur sosial melonggar.
Arnould, E. J., & Price, L. L. (1993). River magic: Extraordinary experience and the extended service encounter. Journal of Consumer Research, 20(1), 24–45. University of Chicago Press.
Studi tentang pengalaman “luar biasa” dalam konteks arung jeram—relevan untuk memahami transformasi subjektif dalam interaksi dengan alam.
Fredrickson, B. L. (2001). The role of positive emotions in positive psychology: The broaden-and-build theory of positive emotions. American Psychologist, 56(3), 218–226. American Psychological Association.
Kerangka teoretis untuk membaca pengalaman afektif—termasuk kebahagiaan ringan yang tidak selalu revolusioner, tetapi tetap memperluas cakrawala batin.
Adventure Travel Trade Association (ATTA). (2018). Adventure Travel Industry Snapshot 2018. Seattle, WA: ATTA.
Adventure Travel Trade Association (ATTA). (2020). Adventure Travel Development Index Report 2020. Seattle, WA: ATTA.
Laporan industri ini memotret motivasi global—escape sering lebih dominan daripada achievement—serta pertumbuhan pasar petualangan di era media sosial.
United Nations World Tourism Organization (UNWTO) & Adventure Travel Trade Association. (2014). Global Report on Adventure Tourism. Madrid: UNWTO.
Laporan global yang menegaskan bahwa adventure tourism berkembang bukan hanya sebagai segmen ekonomi, tetapi sebagai respons atas kebutuhan psikologis akan pelarian dan makna.

Posting Komentar
...