Psikologi Perbandingan Motif Pendakian

     Ada yang naik gunung untuk membuktikan diri. Ada yang sekadar ingin udara segar. Ada yang membawa nama organisasi. Ada yang mencari Tuhan. Ada yang sedang melarikan diri dari sesuatu yang tak selesai. Motif-motif itu sering dibahas dengan nada moral: mana yang murni, mana yang dangkal. Padahal moral sering terlalu berisik untuk memahami pengalaman di ketinggian. Yang lebih jujur adalah membedahnya secara eksistensial: apa sebenarnya yang dicari manusia melalui motif tersebut, dan rasa keberadaan seperti apa yang lahir darinya.

     Motif bukan sekadar alasan. Ia adalah pintu masuk menuju jenis pengalaman tertentu. Namun pintu yang sama bisa membuka ruang yang berbeda, tergantung seberapa retak batin seseorang ketika berhadapan dengan kenyataan alam yang tidak bisa dinegosiasikan.

1. Motif status

     Motif ini kerap dicurigai sebagai yang paling dangkal, padahal ia lahir dari kebutuhan yang sangat modern: kebutuhan untuk mengukuhkan keberadaan di tengah sistem abstrak. Di kota, status ditentukan oleh gelar, jabatan, aset, angka pengikut, simbol-simbol yang tak bisa disentuh langsung. Di gunung, status diterjemahkan menjadi sesuatu yang lebih konkret: ketinggian, jumlah puncak, panjang rute, cuaca yang ditembus, gaya pendakian yang dipilih.

     Status memberi rasa yang sangat dekat dengan gagasan eksistensial tentang tanggung jawab atas tindakan: aku adalah akibat dari apa yang kulakukan. Setiap langkah, setiap keputusan untuk lanjut atau turun, menjadi bahan baku identitas. Namun di sinilah paradoksnya. Status menjadikan pendaki sebagai aktor, dan aktor selalu membutuhkan penonton. Maka momen eksistensialnya sering tidak terjadi ketika berjalan di jalur terjal, melainkan ketika cerita itu dibagikan, ketika tatapan orang lain mengukuhkan makna capaian.

     Eksistensinya menjadi performatif. Ia bergantung pada pengakuan. Dan pengakuan tidak pernah selesai. Gunung berikutnya dibutuhkan agar narasi tidak membeku. Hidup berubah menjadi proyek pembuktian yang terus diperbarui. Rasa eksistensial yang lahir darinya adalah keharusan untuk membuktikan diri berulang-ulang—sebuah gerak maju yang tak pernah sepenuhnya puas.

2. Motif holiday

     Sekilas motif ini tampak ringan. Orang naik gunung karena jenuh, ingin kabur sebentar dari rutinitas, ingin foto yang bagus, ingin merasakan udara yang tidak berbau knalpot. Motifnya tidak membawa beban filosofis. Namun justru karena ringan, ia sering membuka ruang yang tak terduga.

     Pendaki holiday tidak datang untuk diuji, melainkan untuk menikmati. Karena itu mereka kerap lebih peka pada detail yang luput dari ambisi: dingin yang menggigit hingga tulang, napas yang pendek di tanjakan, teman yang mulai kesal karena lelah, kabut yang tiba-tiba menghapus jalur. Di situ muncul gangguan kecil terhadap ilusi kenyamanan. Tubuh mengingatkan bahwa kenyamanan bukan kondisi default dunia.

     Rasa eksistensial yang lahir di sini tidak keras, melainkan halus: keterlemparan keluar dari zona nyaman. Tanpa sadar, seseorang menyadari bahwa hidup tidak selalu bisa diatur seperti jadwal kerja. Jika motif status menjadikan gunung sebagai arena ego, motif holiday menjadikannya gangguan terhadap ilusi stabilitas. Dari gangguan itu, kadang tumbuh kesadaran yang lebih jujur tentang batas dan ketergantungan.

3. Motif organisasi

     Dalam motif ini, individu naik bukan sebagai “aku”, melainkan sebagai perpanjangan tubuh kolektif. Nama organisasi melekat pada ransel. Eksistensinya tertumpang pada sejarah sosial yang lebih luas dari dirinya.

     Rasa eksistensial di sini lahir dari dua unsur: struktur dan ritus. Struktur memberi pembagian peran—siapa memimpin, siapa membawa logistik, siapa bertanggung jawab pada navigasi, siapa mengambil keputusan ketika cuaca memburuk. Struktur menciptakan rasa kendali atas kekacauan alam. Di tengah ketidakpastian, ada prosedur.

     Ritus memberi urutan. Ada pelatihan, seleksi, briefing, inisiasi, evaluasi, cerita setelah turun. Dalam dunia modern yang miskin ritus peralihan—tak ada lagi upacara jelas untuk menjadi dewasa atau menjadi tua—organisasi pendakian menyediakan bentuk-bentuk transisi buatan. Eksistensi di sini terasa teradministrasi: ada tahapan, ada legitimasi.

     Kelebihannya jelas: ia memberi makna dan rasa memiliki. Kekurangannya juga nyata: individu bisa melebur terlalu jauh. Identitas pulang bukan “aku pernah melakukan ini”, melainkan “kami pernah melakukan ini.” Itu tetap eksistensial, tetapi dalam format komunal. Ego pribadi disubordinasikan pada tubuh sosial.

4. Motif spiritual

     Ini motif yang paling tua. Sejak dahulu, gunung menjadi ruang bagi para pertapa, sufi, dan pencari sunyi untuk bernegosiasi dengan ketakterhinggaan. Pendaki dengan motif ini tidak mengejar puncak sebagai trofi, melainkan sebagai ruang perjumpaan.

     Relasinya bisa dengan diri sendiri, dengan alam, atau dengan yang melampaui keduanya. Ketika dingin memaksa tubuh untuk jujur dan rasa takut merapikan pikiran yang riuh, ego sering melunak. Narasi batin yang biasanya gaduh menjadi lebih sunyi.

     Rasa eksistensial yang lahir adalah pengosongan. Aku ada, tetapi bukan sebagai pusat semesta. Justru karena kecil, aku terasa nyata. Ada pengalaman pulang pada sesuatu yang lebih tua daripada identitas sosial—sebuah kesadaran bahwa diri hanyalah fragmen dalam lanskap yang tak membutuhkan pengakuan.

     Mereka yang sungguh menyentuh wilayah ini biasanya tidak lagi terlalu tertarik pada perdebatan soal merek sepatu atau jenis tenda. Bukan karena itu tak penting, melainkan karena pusat gravitasi batinnya telah bergeser.

5. Motif pelarian

     Ini motif yang paling jujur dan paling rawan. Pelarian lahir dari tekanan, patah hati, kejenuhan, kekecewaan pada rutinitas, atau rasa kalah yang tak terucap. Gunung menawarkan perubahan konteks total. Di sana tidak ada notifikasi, tidak ada atasan, tidak ada angka evaluasi. Eksistensi menjadi sederhana: berjalan, makan, bertahan.

     Rasa eksistensial yang muncul sering berupa kebebasan sementara. Namun kebebasan itu rapuh. Begitu turun, kota kembali bersama seluruh bebannya. Pada sebagian orang, pelarian berubah menjadi lingkaran kompulsif: gunung menjadi substitusi terapi yang tak pernah menyentuh akar persoalan.

     Namun pelarian juga bisa menjadi titik balik. Ketika seseorang menyadari bahwa beban bukan semata pada kota, melainkan pada diri yang belum selesai berdamai, gunung berubah fungsi. Ia bukan lagi ruang lari, melainkan ruang persiapan untuk menghadapi kenyataan. Di situ lahir kesadaran tentang keterlemparan—bahwa hidup tidak kita pilih sepenuhnya, tetapi kita tetap harus menjalaninya.

     Setelah menelusuri kelima motif ini, ada satu kesimpulan yang mungkin terdengar kurang sopan: motif tidak pernah menjamin kedalaman. Yang menentukan bukan alasan awal, melainkan apakah batin seseorang retak saat bersentuhan dengan kenyataan gunung.

     Status bisa menjadi spiritual ketika ego runtuh. Holiday bisa menjadi eksistensial ketika tubuh menolak kompromi. Organisasi bisa menjadi pelarian ketika rumah terasa sempit. Pelarian bisa menjadi pencerahan ketika rasa kalah diterima. Dan spiritual pun bisa tergelincir menjadi status ketika pengalaman diubah menjadi pajangan.

     Eksistensi tidak tunduk pada motif. Ia tunduk pada retakan. Di sanalah manusia benar-benar bertemu dirinya—bukan di puncak, melainkan di celah yang terbuka ketika segala alasan mulai kehilangan pegangan.


Referensi:

Frankl, V. E. (2006). Man’s Search for Meaning. Boston: Beacon Press.
(Edisi asli 1946, Jerman: …trotzdem Ja zum Leben sagen). Fondasi logoterapi dan gagasan bahwa makna sering lahir justru dari penderitaan dan batas.

Yalom, I. D. (1980). Existential Psychotherapy. New York: Basic Books.
Empat “ultimate concerns”: kematian, kebebasan, isolasi, dan makna—kerangka utama analisis eksistensial.

May, R. (1958). Existence: A New Dimension in Psychiatry and Psychology. New York: Basic Books.
Pengantar klasik psikologi eksistensial dalam praktik klinis.

May, R. (1983). The Discovery of Being. New York: W.W. Norton.
Refleksi tentang keberanian menjadi diri dan kecemasan eksistensial.

Sartre, J.-P. (2007). Existentialism Is a Humanism. New Haven: Yale University Press.
(Kuliah asli 1946). Konsep kebebasan sebagai beban memilih dan eksistensi mendahului esensi.

Heidegger, M. (1962). Being and Time. New York: Harper & Row.
(Karya asli 1927: Sein und Zeit). Konsep keterlemparan (Geworfenheit), keberadaan-untuk-mati, dan otentisitas.

Camus, A. (1991). The Myth of Sisyphus. New York: Vintage.
(Edisi asli 1942). Absurd dan pemberontakan sebagai sikap terhadap hidup.

Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). “The ‘What’ and ‘Why’ of Goal Pursuits: Human Needs and the Self-Determination of Behavior.” Psychological Inquiry, 11(4), 227–268.
Self-Determination Theory: kebutuhan otonomi, kompetensi, dan keterhubungan—relevan untuk motif status, organisasi, dan spiritual.

Baumeister, R. F. (1991). Meanings of Life. New York: Guilford Press.
Analisis psikologis tentang bagaimana manusia membangun makna melalui tujuan, nilai, kontrol, dan harga diri.

Csikszentmihalyi, M. (1990). Flow: The Psychology of Optimal Experience. New York: Harper & Row.
Pengalaman keterlibatan total dalam aktivitas menantang—sering terjadi dalam pendakian.

Krakauer, J. (1997). Into Thin Air. New York: Villard.
Narasi risiko ekstrem dan bagaimana pengalaman batas membentuk identitas.

Lopez, B. (1986). Arctic Dreams. New York: Scribner.
Refleksi mendalam tentang relasi manusia dan lanskap sebagai ruang pembentukan makna.

Eksistensi tidak tunduk pada motif. Ia tunduk pada retakan. Di sanalah manusia benar-benar bertemu dirinya—bukan di puncak, melainkan di celah yang te

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.