Antropologi Komunitas dan Teater Eksistensi di Alam Terbuka

     Masuklah dari pintu antropologi komunitas, dan dunia pendakian segera berubah wajah. Ia tak lagi sekadar jalur menanjak menuju puncak, melainkan ruang budaya yang rapat oleh makna. Di sana identitas dicetak, hierarki dibangun, legitimasi dipertukarkan, dan para anggotanya—sering tanpa sadar—bernegosiasi tentang apa artinya menjadi manusia yang bermakna dalam skala kecil namun intens. Gunung bukan lagi objek geografis; ia adalah arena sosial. Ia panggung tempat manusia berkumpul, menguji diri, dan membenarkan cerita tentang siapa mereka.

     Antropologi tidak terlalu tertarik pada ketinggian meter di atas permukaan laut, melainkan pada apa yang terjadi di antara manusia yang mendakinya. Komunitas outdoor kerap menyerupai suku kecil: memiliki ritual, bahasa internal, simbol, larangan tak tertulis, mitos pendiri, serta sistem penilaian yang tidak pernah dicetak sebagai undang-undang tetapi ditaati hampir tanpa protes. Ada kosakata teknis yang membuat orang luar kebingungan; ada humor internal yang hanya dimengerti mereka yang pernah berbagi tenda dalam badai. Identitas dibangun bukan hanya dari capaian fisik, tetapi dari partisipasi dalam jaringan makna itu.

     Di dalam struktur tersebut, motif-motif yang tampak sederhana—diakui telah mendaki banyak tempat, sekadar mencari liburan berbeda, atau membuktikan bahwa organisasinya hebat—tidak pernah netral. Ia memiliki fungsi sosial. Status dalam komunitas pendaki bukan sekadar soal ego; ia adalah mekanisme distribusi makna. Siapa yang pernah lebih banyak ekspedisi biasanya lebih didengar ketika menentukan rute. Siapa yang pernah menghadapi situasi ekstrem memiliki otoritas moral saat memutuskan apakah perjalanan dilanjutkan atau dihentikan. Senioritas lahir dari cerita; dan cerita lahir dari pengalaman yang terakumulasi. Pengalaman, dalam kerangka ini, menjadi modal budaya yang bisa ditransaksikan—ditukar dengan kepercayaan, pengaruh, bahkan kekuasaan simbolik.

     Ritual transisi mempertegas struktur itu. Pendakian pertama sering diperlakukan sebagai gerbang masuk. Ada pendakian yang dianggap “serius”, ekspedisi lintas provinsi, hingga ekspedisi lintas negara—setiap tahap menjadi inisiasi yang memisahkan “yang sudah” dari “yang belum”. Garis itu jarang diumumkan secara resmi, tetapi semua orang merasakannya. Di banyak komunitas, terdapat dimensi maskulinitas yang kuat, meski kini mulai lebih cair dan dinegosiasikan ulang. Maskulinitas di sini bukan semata soal jenis kelamin, melainkan performativitas: tahan dingin, tidak mengeluh, kuat memikul beban, sigap menghadapi situasi tak terduga. Perempuan pendaki pun kerap dibingkai melalui parameter yang sama—mereka dipuji karena “kuat seperti laki-laki”, seakan standar keberanian hanya satu. Alam, yang mestinya netral, berubah menjadi alat politik identitas.

     Simbol mengikat semuanya. Bendera yang dibentangkan di puncak, stiker helm, patch di tas, nama organisasi, nama basecamp, hingga daftar gunung yang telah didaki—semuanya bukan dekorasi. Ia adalah teks identitas. Nama sebuah puncak yang masuk ke dalam daftar bukan hanya penanda lokasi, melainkan penanda diri. Setiap nama adalah paragraf kecil dalam autobiografi kolektif. Komunitas mengikat ingatan melalui simbol; dan simbol mengikat anggota melalui rasa memiliki.

     Hubungan dengan institusi modern pun terus dinegosiasikan. Ada organisasi kampus yang memasukkan pendakian dalam narasi pembentukan karakter dan kepemimpinan. Ada klub mandiri yang menjadikannya ruang persahabatan tanpa banyak formalitas. Ada komunitas digital yang memindahkan sebagian pengalaman ke layar, mengubah jalur menjadi konten. Ada federasi olahraga dan lembaga pemerintah yang mengukur performa melalui standar, sertifikasi, dan kompetisi. Setiap bentuk memberi kendali berbeda. Alam tetap menjadi medium, tetapi maknanya ditentukan oleh kerangka sosial yang membungkusnya.

     Narasi risiko adalah bagian yang paling dramatis. Dalam dunia pendakian, risiko bukan hanya fakta fisik, melainkan komoditas simbolik. Cerita tentang “terjebak badai”, “hampir jatuh”, “nyasar dua hari”, atau “hipotermia yang nyaris merenggut nyawa” memberikan surplus naratif. Risiko menebalkan cerita; cerita menebalkan status. Semakin dekat seseorang pada batas, semakin tebal aura eksistensial yang menyertainya. Di sini kita melihat gema masyarakat pemburu masa lampau: menghadapi bahaya memberi legitimasi sosial. Bahaya menjadi mata uang yang tidak pernah kehilangan nilai.

     Organisasi yang ingin dianggap luar biasa memahami logika ini dengan baik. Mereka berfungsi sebagai mesin makna: menyediakan struktur, tujuan, standar, dan narasi kebesaran yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam bahasa antropologi, organisasi memproduksi mitos internal agar tetap hidup. Ekspedisi sulit menjadi bagian dari mitologi itu. Ketika sebuah tim berhasil menaklukkan rute yang jarang dilalui, yang dibangun bukan hanya dokumentasi, melainkan kapital simbolik yang akan menopang identitas organisasi selama bertahun-tahun. Cerita itu akan diceritakan ulang kepada anggota baru, menjadi fondasi kebanggaan kolektif.

     Namun di balik solidaritas dan kebersamaan yang sering dielu-elukan, ada sisi gelap yang tak bisa diabaikan: eksklusi. Komunitas outdoor kerap menjadi ruang eksklusif, walau bahasa resminya penuh tentang inklusivitas. Eksklusi bisa muncul melalui pengetahuan teknis—siapa yang menguasai navigasi atau teknik survival. Bisa melalui fisikalitas—siapa yang paling kuat atau paling tahan. Bisa melalui pengalaman—siapa yang sudah mencapai puncak tertentu. Bisa pula melalui penguasaan narasi—siapa yang paling piawai menceritakan petualangannya. Mereka yang datang hanya untuk berlibur sering dianggap kurang “murni”, kurang bernilai secara budaya, meski justru kelompok inilah yang menopang industri pendakian modern. Solidaritas, ternyata, memiliki pagar tak kasatmata.

     Paradoks pun muncul. Banyak pendaki merasa sedang keluar dari masyarakat modern untuk kembali ke alam yang lebih “asli”. Tetapi komunitas pendakian sering kali menduplikasi struktur masyarakat modern dalam skala kecil. Ada kelas dan status, ada institusi dan regulasi, ada performa dan branding, ada konsumsi peralatan dan simbol, ada kompetisi halus tentang siapa yang paling berpengalaman. Gunung menjadi miniatur masyarakat: lebih kecil, lebih intens, tetapi tidak bebas dari logika kekuasaan.

     Lalu apa yang tersisa dari gunung itu sendiri? Antropologi menyebutnya residual transcendence—sisa transendensi yang tidak bisa dikuasai simbol. Alam menyediakan sesuatu yang tak dapat dimiliki komunitas, tak bisa diatur oleh struktur, tak tunduk pada narasi. Ketidakpedulian. Gunung tidak peduli pada badge, status, organisasi, foto, likes, atau reputasi. Ia tidak membaca daftar pendakian. Ketidakpedulian ini justru menajamkan rasa eksistensial para anggota komunitas. Mereka bisa memainkan teater sosial di pos tiga, lengkap dengan peran dan hierarki. Tetapi ketika badai datang dan suhu turun drastis, seluruh peran runtuh. Yang tersisa hanya tubuh yang menggigil dan naluri bertahan yang paling purba.

     Di titik itu, semua teknologi simbol manusia mundur beberapa langkah. Gunung memanggil yang paling tua dari dalam diri—insting hidup. Hierarki memudar, status tak relevan, dan mitos internal tak mampu menghangatkan tubuh. Di hadapan ketidakpedulian alam, manusia kembali menjadi makhluk yang rapuh sekaligus nyata. Dan mungkin justru di sanalah, di sela-sela runtuhnya struktur sosial yang ia bangun sendiri, ia merasakan bentuk eksistensi yang paling jujur.


Referensi: 

Turner, V. (1969). The Ritual Process: Structure and Anti-Structure. Chicago: Aldine Publishing Company.
Fondasi konsep liminalitas dan communitas—sangat relevan untuk membaca pendakian sebagai ritus transisi dan ruang anti-struktur sementara.

Bourdieu, P. (1986). The forms of capital. Dalam J. G. Richardson (Ed.), Handbook of Theory and Research for the Sociology of Education (hlm. 241–258). New York: Greenwood Press.
Kerangka kapital budaya dan simbolik yang menjelaskan bagaimana pengalaman pendakian menjadi modal status dalam komunitas.

Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books.
Pendekatan simbolik untuk membaca praktik sosial sebagai “teks” budaya—relevan untuk memahami daftar gunung, simbol, dan narasi risiko.

Lyng, S. (1990). Edgework: A social psychological analysis of voluntary risk taking. American Journal of Sociology, 95(4), 851–886. Chicago: University of Chicago Press.
Konsep edgework untuk memahami risiko sebagai produksi makna dan legitimasi sosial.

Connell, R. W. (1995). Masculinities. Berkeley: University of California Press.
Kerangka maskulinitas hegemonik yang membantu membaca performativitas kekuatan dan ketahanan dalam komunitas outdoor.

Bell, C. (1992). Ritual Theory, Ritual Practice. New York: Oxford University Press.
Analisis tentang ritual sebagai praktik yang memproduksi dan mereproduksi struktur sosial.

Douglas, M. (1966). Purity and Danger: An Analysis of Concepts of Pollution and Taboo. London: Routledge.
Relevan untuk membaca mekanisme eksklusi, batas simbolik, dan kategori “murni/tidak murni” dalam komunitas.

Anderson, B. (1983). Imagined Communities. London: Verso.
Membantu memahami organisasi sebagai komunitas terbayang yang dipersatukan oleh narasi dan mitos internal.

Goffman, E. (1959). The Presentation of Self in Everyday Life. New York: Anchor Books.
Kerangka dramaturgi sosial—komunitas pendakian sebagai panggung tempat identitas dipentaskan.

MacAloon, J. J. (1984). Olympic Games and the theory of spectacle in modern societies. Dalam J. J. MacAloon (Ed.), Rite, Drama, Festival, Spectacle (hlm. 241–280). Philadelphia: Institute for the Study of Human Issues.
Membantu membaca ekspedisi sebagai spektakel simbolik yang membangun legitimasi kolektif.

Arnould, E. J., & Price, L. L. (1993). River magic: Extraordinary experience and the extended service encounter. Journal of Consumer Research, 20(1), 24–45.
Pengalaman luar biasa di alam sebagai transformasi identitas kolektif dan personal.

Beedie, P., & Hudson, S. (2003). Emergence of mountain-based adventure tourism. Annals of Tourism Research, 30(3), 625–643.
Gunung sebagai arena pembentukan identitas dalam wisata petualangan modern.

Andini, A. S. G. (2021). Pola Interaksi Komunitas Pendaki Gunung Bandung dalam Meningkatkan Perilaku Solidaritas. Socio Politica: Jurnal Ilmiah Jurusan Sosiologi, 12(2). Penelitian kualitatif ini mengungkap pola interaksi dan solidaritas di antara pendaki gunung dalam komunitas lokal di Bandung.

Utami, H. P. (2018). Pencarian Sensasi pada Pengalaman Perempuan Pendaki Gunung [Studi kasus pada komunitas wanita dan gunung]. Narasi: Jurnal Literasi, Media, & Budaya, ITB. Fokus penelitian ini pada pengalaman perempuan pendaki dan konstruksi pengalaman risiko serta sensasi dalam konteks budaya Indonesia.  

Suryanto, B. T., & Sari, A. K. (2018). Representation of Women Climber in Student Association for Environmental and Adventure Activity (MAPALA Marabunta). Gender Equality: International Journal of Child and Gender Studies, 6(1). Artikel ini menelaah representasi perempuan dalam komunitas mahasiswa pecinta alam dan menantang stereotip gender dalam praktik pendakian. 

Prastowo, F. R., & Al Rasyid, A. H. (2023). Nasionalisme di Puncak Gunung: Etnografi Komunitas Pemuda Pecinta Alam dalam Wacana Ecosophy dan Gerakan Lingkungan di Malang. Jurnal Studi Pemuda. Studi fenomenologi etnografis ini mengeksplorasi bagaimana pendakian dipadukan dengan diskursus nasionalisme dan ekosofi di komunitas pendaki di Jawa Timur.

Hidayat, M. R., & Masykur, A. M. (2018). Experiences to Go on International Expeditions: Study of Phenomenology in Students Outdoor Club. Jurnal Empati, Universitas Diponegoro. Pendekatan fenomenologis tentang pengalaman ekspedisi internasional anggota Mapala Indonesia.

Gunung bukan lagi objek geografis; ia adalah arena sosial. Ia panggung tempat manusia berkumpul, menguji diri, dan membenarkan cerita tentang siapa me

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.