Jika antropologi membaca gunung sebagai panggung sosial, psikologi eksistensial menoleh ke arah yang lebih dalam—ke ruang batin seseorang saat ia menapaki lereng, berbagi tenda, menanggung dingin, dan hidup di dalam komunitas pendaki itu. Fokusnya bukan lagi pada struktur, simbol, atau hierarki, melainkan pada apa yang bergerak di dalam diri: bagaimana motif-motif—status, liburan, organisasi, pelarian—perlahan berubah membentuk rasa menjadi. Apa yang terjadi pada manusia ketika ia berada di ketinggian, jauh dari rutinitas kota, tetapi justru lebih dekat dengan dirinya sendiri?
Pendekatan psikologi eksistensial selalu kembali pada empat garis besar yang menghantui manusia: kebebasan, keterbatasan, kesendirian, dan makna. Dalam konteks pendakian, keempatnya muncul tanpa topeng. Gunung seperti ruang ujian yang tidak memerlukan teori; ia langsung berbicara pada saraf.
Pertama, kebebasan. Banyak pendaki mengatakan bahwa gunung memberi rasa bebas. Namun kebebasan di sini bukan kebebasan yang nyaman dan dekoratif, bukan kebebasan memilih menu atau aplikasi. Ia kebebasan yang keras, hampir kasar. Di kota, pilihan sering terasa luas tetapi konsekuensinya jauh dan kabur. Di gunung, pilihan sempit tetapi konsekuensinya dekat dan nyata. Mau lanjut atau turun? Mau mendirikan tenda di sini atau berjalan sedikit lagi? Mau berbagi logistik atau menyimpannya? Mau memaksakan summit push atau menunggu cuaca membaik? Setiap keputusan bersentuhan dengan risiko: sakit atau tidak, selamat atau celaka. Kebebasan eksistensial bukan tentang keinginan, melainkan tentang beban memilih. Banyak pendaki—bahkan yang awalnya hanya mencari liburan—kembali ke kota dengan kesadaran baru bahwa pilihan bukan sekadar preferensi; ia tanggung jawab. Kebebasan terasa berat justru karena ia nyata.
Kedua, keterbatasan. Tubuh dan ego dipaksa berdamai dengan fakta bahwa mereka tidak berkuasa. Udara menipis, cuaca berubah tanpa kompromi, ransel terasa seperti batu, kaki lecet, air menipis, dingin merambat pelan tapi pasti, waktu mengecil. Di titik tertentu, motif apa pun—pamer, dokumentasi, kebanggaan organisasi—dibatalkan oleh tubuh. Tubuh tidak tertarik pada narasi; ia menolak ilusi. Di sana seseorang berhadapan dengan batas: stamina yang habis, mental yang goyah, kecemasan yang tak bisa lagi ditutupi. Banyak psikolog eksistensial menyebut momen ini sebagai kematian kecil ego—bukan kematian literal, melainkan runtuhnya ilusi kendali. Ada yang pulang dengan rendah hati, menerima bahwa ia tidak sekuat yang dibayangkannya. Ada yang pulang dengan rasa kalah. Ada pula yang justru ingin kembali untuk menaklukkan lagi, seakan egonya menolak runtuh begitu saja. Pada dua tipe terakhir, gunung berubah menjadi arena duel dengan bayang diri sendiri, bukan lagi ruang perenungan.
Ketiga, kesendirian. Pendakian sering dilakukan dalam kelompok, tetapi pengalaman yang paling eksistensial kerap terjadi ketika seseorang merasa sendirian di tengah keramaian. Di kota, kesendirian ditutup oleh kebisingan rutinitas. Di gunung, ia hadir tanpa pelapis. Seseorang bisa merasa sendirian karena tertinggal rombongan, karena berjalan terlalu cepat, karena malam terlalu panjang, karena kabut menghapus jarak pandang, atau hanya karena suara napasnya sendiri terdengar lebih keras dari percakapan teman. Kesendirian tidak selalu menyakitkan; ia sering jernih. Dalam keheningan, suara batin berhenti berdebat. Banyak penggiat outdoor veteran mengakui bahwa mereka tidak benar-benar mencari puncak, melainkan momen ketika pikiran berhenti berisik. Ada yang menyebutnya damai. Ada yang menyebutnya nihil. Ada yang menyebutnya sederhana. Awalnya mungkin kebetulan; lama-lama menjadi alasan tersembunyi untuk kembali.
Keempat, makna. Psikologi eksistensial bersikeras bahwa makna tidak selalu hadir sejak awal; ia sering ditemukan setelah motif awal kehabisan tenaga. Seseorang bisa naik gunung demi foto, demi gaya hidup, demi pelarian dari pekerjaan, atau demi reputasi organisasi. Namun gunung memiliki cara halus untuk mengubah motif menjadi makna ketika motif itu tak lagi cukup. Pendaki yang bersemangat berpose akan kehabisan energi ketika hujan turun dan angin menusuk. Di titik kosong itu, ia berhadapan dengan sesuatu yang lebih serius daripada estetika: ketahanan, ketakutan, rasa kecil, rasa bangga, rasa syukur, rasa bodoh, rasa hidup. Makna tidak lahir dari tujuan yang direncanakan, melainkan dari momen ketika tujuan gagal menjelaskan pengalaman yang sedang terjadi.
Ada satu dimensi tambahan yang tak bisa dihindari: kesadaran akan kematian. Dunia outdoor sering bersinggungan dengan insiden—kadang ringan, kadang tragis. Bahkan tanpa tragedi, cukup satu kejadian hipotermia, satu kaki yang terkilir di tepi jurang, satu pendaki yang tersesat, untuk memunculkan kesadaran bahwa hidup tidak berjalan linear dan tidak selalu bisa dikendalikan. Ketika seseorang menyaksikan orang lain tersungkur karena dehidrasi atau hampir tergelincir, ia tidak hanya melihat bahaya; ia melihat dirinya sendiri. Pendakian menjadi pengingat sunyi bahwa hidup sementara. Sebuah memento mori kecil yang tidak ditulis di batu, tetapi tertanam di ingatan.
Lalu apakah mereka yang naik dengan motif status atau organisasi dapat menyentuh semua dimensi ini? Bisa, selama motif itu retak di tengah jalan. Seseorang yang naik untuk membuktikan kehebatannya kadang justru bertemu rapuhnya dirinya, dan kerapuhan adalah pintu paling jujur menuju kesadaran eksistensial. Mereka yang naik demi organisasi mungkin menemukan bahwa organisasi hanyalah struktur simbol, sementara tubuh yang menggigil adalah miliknya sendiri. Pada batas tertentu, tidak ada institusi yang bisa merasakan dingin untukmu.
Namun tidak semua orang harus mengalami pendakian sebagai perjalanan eksistensial. Ada yang naik dan turun seperti wisata: menyenangkan, menyegarkan, lalu selesai. Itu sah. Tidak semua pertemuan dengan alam harus berujung pada pergolakan batin. Manusia punya hak untuk menyentuh gunung secara ringan.
Pertanyaan yang tersisa adalah apa yang berubah setelah semua itu. Jawabannya sering tidak dramatis. Mereka yang benar-benar disentuh oleh dimensi eksistensial pendakian biasanya kembali dengan perubahan halus: egonya lebih realistis, pilihannya lebih bertanggung jawab, maknanya lebih berpijak pada sesuatu yang tak mudah dipamerkan. Ia mungkin tetap bekerja, tetap bercanda, tetap hidup seperti biasa. Tetapi di dalamnya ada ruang sunyi yang pernah disentuh oleh ketinggian—dan ruang itu tidak sepenuhnya bisa ditutup lagi.
Referensi:
Frankl, V. E. (2006). Man’s Search for Meaning. Boston, MA: Beacon Press.
(Karya klasik yang pertama kali terbit 1946 dalam bahasa Jerman sebagai …trotzdem Ja zum Leben sagen; edisi Beacon menjadi rujukan global modern tentang logoterapi.)
Frankl, V. E. (1967). Psychotherapy and Existentialism: Selected Papers on Logotherapy. New York, NY: Washington Square Press.
May, R. (1950). The Meaning of Anxiety. New York, NY: Ronald Press.
(Salah satu teks awal yang mempertemukan eksistensialisme Eropa dengan psikologi Amerika.)
May, R. (1983). The Discovery of Being: Writings in Existential Psychology. New York, NY: W. W. Norton.
Yalom, I. D. (1980). Existential Psychotherapy. New York, NY: Basic Books.
(Arguably pilar sistematis psikoterapi eksistensial modern—kematian, kebebasan, isolasi, dan makna dirumuskan secara klinis.)
Yalom, I. D. (2008). Staring at the Sun: Overcoming the Terror of Death. San Francisco, CA: Jossey-Bass.
Bugental, J. F. T. (1987). The Art of the Psychotherapist. New York, NY: W. W. Norton.
(Representasi kuat arus humanistik-eksistensial dalam praktik terapi.)
Schneider, K. J., Galvin, J., & Serlin, I. (Eds.). (2009). Existential-Integrative Psychotherapy: Guideposts to the Core of Practice. New York, NY: Routledge.
Spinelli, E. (2005). The Interpreted World: An Introduction to Phenomenological Psychology (2nd ed.). London: Sage Publications.
(Penghubung penting antara fenomenologi dan terapi eksistensial kontemporer.)
Heidegger, M. (1962). Being and Time (J. Macquarrie & E. Robinson, Trans.). New York, NY: Harper & Row.
(Karya asli 1927; fondasi ontologis bagi pemahaman tentang keberadaan, kecemasan, dan otentisitas.)
Sartre, J.-P. (2007). Existentialism Is a Humanism (C. Macomber, Trans.). New Haven, CT: Yale University Press.
(Teks kuliah 1946 yang menjernihkan eksistensialisme sebagai filsafat tanggung jawab.)
Kierkegaard, S. (1980). The Concept of Anxiety (R. Thomte, Trans.). Princeton, NJ: Princeton University Press.
(Asli 1844; akar refleksi tentang kecemasan sebagai kemungkinan kebebasan.)
Tillich, P. (1952). The Courage to Be. New Haven, CT: Yale University Press.
(Perjumpaan teologi dan eksistensialisme dalam pembacaan tentang keberanian menghadapi non-being.)
Becker, E. (1973). The Denial of Death. New York, NY: Free Press.
(Menyentuh sisi antropologis-psikologis dari ketakutan akan kematian; sangat berpengaruh dalam teori manajemen teror.)

Posting Komentar
...