Ada alat dalam hidup yang sering disalahpahami sebagai penunjuk kebenaran, padahal ia hanya menolak kita dari kebinasaan. Kompas, misalnya, tidak pernah peduli ke mana seseorang ingin pergi. Ia hanya memberitahu utara. Lalu manusia yang gelisah mengubah utara menjadi tujuan, seolah-olah arah dan makna berasal dari sumber yang sama. Ini kesalahpahaman kecil yang lucu, tetapi dari sini muncul sebagian besar tragedi perjalanan hidup manusia: kita mengira orientasi adalah visi.
Yang menarik adalah fakta bahwa sebagian besar perjalanan yang penting tidak memiliki tujuan eksplisit. Seorang penjelajah yang terlalu sibuk menentukan tujuan sering kehilangan kenikmatan dari langkah-langkah yang belum siap diberi nama. Sama halnya dengan para pemikir yang ingin memastikan kesimpulan sebelum berpikir, atau para pecinta yang ingin mendefinisikan hubungan sebelum jatuh cinta. Dalam banyak hal, definisi yang terlalu cepat adalah bentuk kepanikan terhadap ketidakpastian. Sedangkan hidup selalu datang dalam bentuk yang lebih liar: ambigu, tidak selesai, kadang-kadang menyebalkan.
Kompas mengajarkan kita untuk membedakan antara arah dan niat. Seseorang bisa bergerak ke utara karena ingin mencapai puncak, atau karena ingin menghindari jurang, atau hanya karena tertarik pada padang yang terbentang. Ketiga alasan itu menghasilkan langkah yang sama tetapi dunia batin yang berbeda. Banyak orang keliru mengukur kehidupan dari kecepatannya—seberapa cepat ia bergerak dari titik A ke titik B—lalu melupakan bahwa arah yang benar tidak menyederhanakan masalah. Dalam banyak kasus justru memperumit, karena arah yang benar sering kali mengungkapkan betapa jauhnya kita dari diri kita sendiri.
Kebijaksanaan kompas juga terlihat dalam kesederhanaannya. Ia tidak menasihati, tidak memerintah, tidak menilai. Ia hanya setia pada jarum kecilnya, yang terus-menerus mencoba menyeimbangkan diri dari gerak dunia. Dalam kegelapan, di tengah kabut, di antara pepohonan, kompas adalah satu-satunya benda yang tidak gugup. Manusia, sebaliknya, penuh gugup. Ketika jarum sedikit goyah, kita bertanya-tanya apakah alatnya rusak. Ketika hidup sedikit goyah, kita bertanya apakah seluruh jalan salah.
Sungguh menarik bahwa semakin bertambah usia seseorang, semakin ia menyadari bahwa poin dari bergerak bukanlah sampai, melainkan menemukan ritme langkah yang dapat ia pertanggungjawabkan. Tujuan terlalu sering berubah menjadi mitos yang dipuja dari jauh, dan ketika dicapai sering terasa datar. Yang mengubah seseorang bukanlah pencapaian puncaknya, tetapi proses panjang menuju puncak yang tidak pernah dijanjikan berhasil. Itulah sebabnya para pendaki lebih banyak bercerita tentang jalan menuju puncak daripada puncaknya sendiri. Dan mungkin itulah sebabnya para filsuf lebih suka menulis pertanyaan daripada kesimpulan.
Ironinya, jarum kompas tidak pernah menunjuk puncak, tetapi tanpa kompas banyak orang tidak pernah sampai. Hidup juga begitu. Tidak ada alat yang menunjuk “makna”, tetapi tanpa usaha mencari makna, hidup terasa seperti berjalan di malam hari tanpa lampu. Kita tidak butuh kepastian bahwa jalan kita benar; kita hanya butuh alasan untuk tidak berhenti melangkah.
Pada akhirnya, tidak semua orang butuh kompas. Beberapa orang hidup dengan kemampuan membaca tanda-tanda alam: arahnya angin dari kesunyian sore, rasa tanah di bawah kaki, intuisi yang tak dapat diuji dengan instrumen. Tetapi bagi kebanyakan manusia, kompas tetap dibutuhkan sebagai simbol yang merendahkan hati: alat kecil yang mengingatkan bahwa orientasi adalah keberanian untuk tetap bergerak, bukan jaminan sampai.
Dan seperti itu pula kebijaksanaan. Ia tidak pernah menjawab pertanyaan “ke mana sebaiknya aku pergi?”, tetapi hanya menjernihkan pertanyaan yang lebih awal: “ke arah mana aku sedang terseret?” Setelah itu, urusan sampai atau tidak hanyalah efek samping yang tidak perlu dibesar-besarkan.

Posting Komentar
...