Perempuan dan Kebohongan Panjang tentang Kodrat

     Tidak ada yang lebih kuat dalam sejarah manusia selain ide yang diselundupkan sebagai alam. Begitu sebuah keputusan politik diberi pakaian biologi, ia berhenti dipertanyakan. Begitu sebuah sistem sosial diberi stempel “kodrat”, ia turun pangkat dari ciptaan manusia menjadi hukum semesta. Dengan cara demikian perempuan dijadikan sesuatu yang tampak sudah sewajarnya: penjelmaan halus dari rumah, kesabaran, dan pengabdian. Jarang disebut bahwa seluruh atribusi itu adalah hasil rekayasa, bukan dari rahim melainkan dari institusi.

     Penghinaan terhadap perempuan tidak lahir dari alam, tetapi dari konstruksi manusia—terutama dari aturan waris, sistem milik, agama yang diadministrasikan negara, negara yang meminjam legitimasi agama, dan tatanan kelas yang membutuhkan tubuh-tubuh tertentu untuk tunduk dan tubuh lain untuk menopang. Kesesatan ini begitu tua hingga generasi modern mengiranya abadi. Namun sejarah yang lebih tua dari negara, lebih panjang dari hukum, dan lebih jujur daripada kitab resmi menampilkan pola berbeda: dunia purba yang belum mengenal kelas dan kepemilikan pribadi tidak memiliki mekanisme untuk merendahkan perempuan. Tidak ada argumen bahwa rahim adalah kutukan, menstruasi adalah cacat, atau menyusui adalah tanda kelemahan intelektual.

     Ironinya justru telanjang: penghinaan terhadap perempuan muncul bersama munculnya kelas dan negara. Dan ia tidak ditemukan di dunia hewan seperti yang disangka Darwinis vulgar dan teoritisi kolonial. Betina primata tidak pernah dianggap makhluk kelas dua. Mereka cerdas, waspada, strategis. Mereka mengelola keturunan, makanan, dan ritme kelompok kecil. Mereka bukan pelengkap pejantan; pejantan hanyalah faktor reproduksi yang lewat dan sering tak kembali.

     Di titik inilah biologi manusia modern melakukan lompatan ke arah sebaliknya: rahim, menstruasi, kehamilan, dan menyusui dijadikan paket pembenar bahwa perempuan terikat pada tubuh dan karena itu inferior dalam hal intelektual, budaya, dan produksi. Inilah yang kelak disebut teori uterus—gagasan bahwa tubuh perempuan adalah penjara yang menghalangi lahirnya akal dan kebudayaan

     Dokter dan ilmuwan laki-laki Eropa abad ke-19 menulis teori tentang histeria, kelemahan saraf, dan ketidakmampuan perempuan berpikir abstrak, tanpa pernah bertanya mengapa objek penelitian mereka berasal dari kelas borjuis yang justru dilarang menyentuh alat produksi, tidak mengurus anak secara penuh, dan hidup di rumah seperti boneka porselen. Bagaimana mungkin teori ilmiah yang hanya berlaku untuk satu kelas sosial dijadikan representasi kodrat seluruh spesies?

     Jika kita kembali pada savana, maternalitas bukan kelemahan. Ia adalah fakultas kecerdasan. Betina mengingat jalur air, letak buah, waktu berbuah, dan perubahan musim. Mereka memutuskan kapan lari, sembunyi, atau menyerang. Seleksi alam lebih memihak mereka yang mampu menjaga kehidupan daripada yang mampu menumpahkan darah. Keunggulan evolusioner justru condong ke sisi perempuan, bukan ke sisi laki-laki.

     Pejantan memang kuat dan kompetitif, namun kompetisi itu dangkal—berebut akses kawin melalui otot, tanduk, bulu, dan suara. Pertarungan antar pejantan hanya menentukan siapa menyumbang sperma. Tidak ada pejantan yang memimpin ritual keluarga, mengatur logistik, atau mengajarkan moral. Tidak ada kepala keluarga di rimba. Bahkan pada primata yang paling kompleks, betina membesarkan anak dan mengelola hubungan sosial dalam unit kecil. Zoologi yang jujur memperlihatkan bahwa kepemimpinan emosional dan intelektual terhadap keturunan berakar pada feminitas evolusioner, bukan pada maskulinitas predatoris.

     Legenda bahwa pejantan hewan adalah prototipe patriarki manusia adalah fantasi modern yang memproyeksikan figur kepala keluarga ke dunia hewan. Itu bukan temuan ilmiah, tetapi dongeng ideologis yang tidak mengakui dirinya sebagai dongeng.

     Narasi klasik yang diajarkan di sekolah—laki-laki pemburu, perempuan pengumpul—diciutkan menjadi semacam pembagian kemuliaan. Pemburu mulia memenangkan daging; perempuan hanya berjalan memungut biji-bijian. Padahal catatan etnografi masyarakat pemburu-pengumpul dari Hadza hingga San menunjukkan bahwa pangan paling stabil berasal dari kerja perempuan. Borjuis akademik yang menulis teori pemburu lupa bahwa berburu kerap gagal, memakan waktu, dan tidak dapat diandalkan sebagai sumber energi harian. Kerja perempuan justru menyediakan protein nabati, karbohidrat, buah, akar, dan obat. Di situ pula lahir pengetahuan tentang racun, fermentasi, penyimpanan, dan pengobatan awal. Apakah itu bukan teknologi?

     Jika sejarah ditulis tanpa bias, kalimatnya akan dibalik: pemburu bukan pusat, tetapi bonus ketika alam sedang dermawan. Perempuan bukan pelengkap pemburu, tetapi penyusun infrastruktur kehidupan.

     Dari ruang yang kini disebut rumah dulu berdiri bengkel, laboratorium, sekolah, klinik, dan balai pendidikan. Anak belajar bahasa, teknik alat, ritus, dan regulasi sosial melalui perempuan. Jika kini “domestik” terdengar remeh, itu karena sejarahnya dipotong oleh tinta para penulis hukum waris. Ketika rumah dipahami sebagai pusat produksi komunal, perempuan mustahil direduksi menjadi ibu rumah tangga dalam definisi kapitalisme: ia adalah produsen pengetahuan dan penjaga ritme ekologis.

     Tetapi bias tidak hanya milik laki-laki patriarkal. Bahkan beberapa pemikir perempuan modern dalam feminisme gelombang awal terjebak dalam kerangka yang hendak mereka robohkan. Mereka mempelajari masyarakat matrilineal, lalu menyimpulkan bahwa perempuan tetap tidak berkuasa karena “avunculate”—peran paman sebagai figur laki-laki dalam klan—dianggap bukti bahwa perempuan berpindah dari kuasa suami ke kuasa saudara. Mereka lupa memperhitungkan bahwa otoritas paman tidak identik dengan otoritas patriarki. Ia merupakan pembagian kerja sosial, bukan bentuk dominasi struktural atas tubuh perempuan. Di sini terlihat bagaimana sejarah dapat dipelintir sehingga penindasan tampak kekal, meski yang kekal sebenarnya adalah ketidakmampuan kita keluar dari kerangka ideologi.

     Contoh paling mengganggu mitos patriarki universal datang dari masyarakat Iroquois di Amerika Utara. Di sana perempuan adalah penjaga tanah, pengelola surplus pangan, dan penentu garis keturunan. Para matrons memilih kepala suku laki-laki—dan dapat mencopot mereka jika tidak becus. Mereka ikut memutuskan perang dan damai. Mereka menandatangani banyak akta jual-beli tanah dalam masa kolonial. Wibawa mereka bukan jargon atau dekorasi budaya; ia adalah praktik politik sehari-hari. Sejarah ini seperti duri dalam tenggorokan teori patriarki universal: ia membuktikan dominasi laki-laki bukan hukum alam, melainkan hasil dari institusi tertentu dalam ruang dan waktu tertentu.

     Kolonialisme bekerja seperti mesin pengklasifikasi. Ia tidak sekadar menaklukkan tanah, tetapi juga membubuhkan label pada tubuh: siapa bekerja di mana, siapa dianggap beradab, siapa dianggap liar, siapa dicatat, siapa tidak. Dalam proyek kolonial Hindia Belanda, perempuan pribumi ditempatkan pada tiga fungsi strategis: sebagai tenaga agraris murah, sebagai alat reproduksi tenaga kerja, dan sebagai simbol moral yang menghaluskan wajah kolonialisme itu sendiri. Jika laki-laki ditarik ke perkebunan dan tambang, perempuan dijaga tetap berada di sektor domestik — bukan karena domestisitas itu kodrat, tetapi karena domestisitas membuat biaya kolonial lebih murah.

     Kolonialisme turut memperkenalkan sekolah bagi perempuan bangsawan — bukan untuk membebaskan mereka, melainkan untuk mencetak kelas perantara yang mampu membaca, menulis, dan memahami administrasi Belanda. Pendidikan bagi perempuan dalam konteks ini lebih mirip pelapisan vernis daripada pembongkaran struktur.

     Lalu agama ikut menempel. Ia tidak selalu menindas; agama sering juga menjadi sumber penghiburan, moral, bahkan pemberontakan. Tetapi dalam isu kontrol tubuh perempuan, agama memiliki rekam jejak panjang dalam mematok peran: kesucian, kesetiaan, reproduksi, dan kepatuhan. Di berbagai tradisi keagamaan — dari syariah Islam, hukum kanonik Kristen, hukum keluarga Hindu, hingga etika Konfusianisme — perempuan menjadi objek yang harus dijaga, sumber kehormatan keluarga, pengatur rumah tangga, penjaga moral komunitas.

     Semua ini terdengar mulia sampai kita menyadari bahwa peran-peran ini meniadakan otonomi. Bahkan dalam masyarakat yang konon paling modern, agama masih memegang kartu veto terhadap hak reproduksi, perceraian, dan orientasi seksual perempuan.

     Negara modern melanjutkan pekerjaan agama dengan cara berbeda. Ia adalah pendisiplin yang tak kalah efektif. Negara modern menyempurnakan kontrol terhadap tubuh perempuan melalui serangkaian perangkat: akta nikah, aturan waris, status keluarga dalam KTP, UU kesusilaan, UU pornografi, bahkan program KB. Semua dikemas dengan bahasa pembangunan: “demi kesejahteraan”, “demi ketertiban”, “demi moral publik”. Di sinilah negara menggantikan peran agama bukan untuk membebaskan, tetapi untuk merasionalisasi patriarki dalam bentuk birokrasi.

     Begitu negara selesai, giliran kapitalisme masuk mengambil alih panggung. Sistem ini melakukan sesuatu yang lebih halus tetapi jauh lebih radikal: ia menilai tubuh berdasarkan produktivitas dan konsumsi. Perempuan tidak lagi sekadar istri atau ibu, tetapi target pasar. Kosmetik, fesyen, perawatan tubuh, fitness, diet — semuanya menjadi industri multi-miliar dolar. Kapitalisme memiliki kecenderungan aneh: ia merayakan emansipasi sepanjang emansipasi itu meningkatkan konsumsi. “Girl power” baik selama “girl power” membeli barang.

     Pada saat yang sama, kapitalisme mempertahankan division of labor yang tidak simetris. Kerja reproduktif (mengurus anak, memasak, merawat orang tua) tetap tidak dihitung dalam PDB, sekalipun tanpa kerja ini peradaban modern runtuh dalam dua minggu. Jadi, perempuan yang bekerja sebagai profesional sering menanggung dua beban: kerja produksi + kerja reproduksi. Emansipasi kapitalistik adalah emansipasi yang menghitung gaji, tetapi tidak menghitung beban.

     Dan akhirnya datang sains. Banyak orang menganggap sains sebagai penyelamat netral, padahal sepanjang abad ke-19 hingga awal abad ke-20, sains justru menjadi penyedia justifikasi patriarki melalui biologi evolusioner yang disalahpahami, kraniometri, dan psikologi diferensial. Pakar-pakar zaman itu dengan percaya diri mengukur tengkorak dan menyimpulkan bahwa perempuan kurang rasional karena otaknya lebih kecil — padahal mereka lupa bahwa ukuran tubuh keseluruhan lebih kecil. Sains dipakai untuk menegaskan bias yang lahir lebih dulu. Sains datang terakhir bukan untuk menyelamatkan, tetapi untuk mengafirmasi aturan main yang sudah ada.

     Namun sejarah memiliki ironi: sains juga akhirnya menyediakan amunisi untuk membongkar patriarki. Antropologi, arkeologi, primatologi, dan biologi evolusioner kontemporer mulai meruntuhkan mitos bahwa patriarki adalah “alamiah”. Banyak spesies primata justru memiliki struktur sosial yang kooperatif dan matrifokal. Dalam komunitas pemburu-peramu, perempuan memiliki peran ekonomi signifikan — jauh sebelum agrikultur memenjarakan mereka dalam dapur.

     Di sinilah masuk figur Evelyn Reed, seorang Marxist-feminist yang membuat gugatan struktural terhadap narasi sejarah laki-laki. Reed menunjukkan bahwa keluarga patriarkal bukanlah struktur primordial umat manusia, melainkan produk historis dari perkembangan kepemilikan pribadi, surplus agrikultur, dan pewarisan. Dengan kata lain: patriarki bukan kodrat, tetapi inovasi sistem produksi.

     Gugatannya penting karena ia memindahkan pertanyaan dari “siapa menindas siapa” ke “apa kondisi material yang memungkinkan penindasan”. Perspektif Reed membuka ruang bagi emansipasi evolusioner di mana pembebasan perempuan tidak dilihat sebagai wacana moral, tetapi transformasi sistem ekonomi, pengetahuan, dan hubungan sosial.

     Maka pertanyaannya berubah: jika patriarki adalah kreasi historis, dan evolusi sosial manusia selalu bergerak melalui inovasi—rumus pembebasan macam apa yang diperlukan di era post-agrikultur, post-kolonial, dan segera post-biologis?

Jika patriarki adalah kreasi historis, dan evolusi sosial manusia selalu bergerak melalui inovasi—rumus pembebasan macam apa yang diperlukan di era po

This is the most recent post.
Posting Lama

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.