Gunung Setelah Turun: Bagaimana Pengalaman Menjadi Identitas
Ada bagian yang paling menentukan, tetapi jarang dibicarakan dengan jujur: gunung itu hanya separuh cerita. Separuh lainnya justru dimulai ketika sepatu sudah dilepas, lumpur sudah luruh oleh air hangat, dan sinyal telepon kembali penuh. Di situlah pendakian berhenti menjadi peristiwa fisik dan berubah menjadi bahan baku identitas. Yang benar-benar berubah bukan otot, bukan paru-paru, melainkan narasi tentang diri.
Tubuh memang lelah, mungkin sedikit lebih kuat. Tetapi yang lebih dalam dari itu adalah cerita yang disusun setelahnya. Pengalaman baru benar-benar menjadi milik seseorang ketika ia mampu menceritakannya. Tanpa narasi, ia hanya sensasi: dingin, lapar, sesak, takut, lega. Narasi yang membuatnya menjadi bagian dari “aku”.
Bentuk pengolahan naratif ini bermacam-macam.
Yang pertama adalah narasi prestasi. Inilah bentuk yang paling mudah dikenali. Gunung diolah menjadi daftar capaian, menjadi indeks kemampuan, menjadi bukti daya tahan. Bahasa yang dipakai terasa seperti laporan kinerja: sudah, belum, berhasil, gagal, tembus, tidak tembus. Puncak disusun seperti portofolio alternatif. Identitas dibangun sebagai subjek yang mampu menaklukkan rintangan. Kota menyambutnya dengan ukuran-ukuran yang sudah familier: berapa meter, berapa jam, berapa negara, berapa musim. Gunung diterjemahkan ke dalam logika yang sama dengan karier. Ia menjadi kapital simbolik. Bahkan kadang menjadi mata uang sosial. Tidak ada yang salah di sini—ini jujur saja adalah bahasa dunia modern. Hanya saja, gunung yang tak peduli pada CV, tiba-tiba dipaksa masuk ke dalamnya.
Bentuk kedua adalah narasi romantik. Di sini gunung tidak diceritakan sebagai lawan, melainkan sebagai ruang keheningan. Ia menjadi tempat pelarian, tempat bernafas, tempat merasakan sesuatu yang lebih luas dari diri sendiri. Ceritanya lebih lembut, atmosferik, kadang nyaris sentimental. Identitas yang lahir bukan “aku mampu”, melainkan “aku pernah disentuh oleh sesuatu yang lebih besar.” Di kota, narasi ini berubah menjadi aura. Pendaki menjadi sosok yang tampak hening, puitis, sedikit melankolis, seakan membawa kabut tipis di matanya. Namun bentuk ini mudah tergelincir menjadi gaya hidup. Romantisisme alam bisa berubah menjadi dekorasi emosional—jaket bulu angsa, cangkir enamel, foto berkabut yang disusun rapi dalam kisi-kisi digital. Meski kadang terasa seperti ornamen, di dalamnya tetap ada inti yang serius: kebutuhan manusia untuk mengatakan bahwa dunia tidak hanya terdiri dari gedung, rapat, dan indikator performa.
Yang ketiga adalah narasi “hampir”. Hampir jatuh, hampir hipotermia, hampir tersesat. Pengalaman ekstrem yang tidak sepenuhnya terjadi, tetapi cukup dekat untuk terasa nyata. Narasi ini melahirkan identitas sebagai penyintas. Di dalam komunitas, cerita badai sering lebih dihargai daripada foto matahari terbit. Ada bobot simbolik pada ancaman yang dilewati. Trauma kecil menjadi perekat sosial yang kuat. Ancaman kolektif menciptakan solidaritas. Dalam banyak kebudayaan, ingatan terhadap bahaya jauh lebih tahan lama daripada ingatan terhadap kenyamanan. Di lingkaran pendaki, cerita buruk justru memiliki nilai informasi yang tinggi. Kota mungkin melihatnya sebagai dramatisasi, tetapi komunitas mendengarnya sebagai pengetahuan bertahan hidup.
Keempat adalah narasi organisasi. Bila pendakian dilakukan melalui klub, kampus, atau institusi, pengalaman itu tidak lagi milik individu sepenuhnya. Ia menjadi mitos internal. Nama gunung diulang dalam rapat, kisahnya diwariskan dari senior ke junior, fotonya dipasang di dinding sekretariat. Identitas yang lahir bukan “aku pernah mendaki”, tetapi “kami adalah yang pernah melakukan itu.” Ini identitas kolektif. Ia bisa memperkuat solidaritas, bisa juga menghapus individualitas. Dalam bentuk yang ekstrem, organisasi memonopoli cerita. Individu menjadi alat untuk memperpanjang legenda. Gunung berubah menjadi fondasi mitologis bagi tubuh sosial.
Kelima adalah narasi estetika. Di era digital, pengalaman pendakian sering dipadatkan menjadi citra. Bukan tulisan panjang, bukan kisah lisan berjam-jam, melainkan rangkaian visual yang bergerak cepat di layar. Identitas terbentuk sebagai manusia yang “memiliki hubungan dengan lanskap”, tetapi hubungan itu dimediasi oleh kamera. Foto menggantikan cerita. Identitas visual ini rapuh namun menular. Ia menyebar cepat, menginspirasi, memancing hasrat, kadang memprovokasi. Gunung menjadi panggung eksistensi estetis. Ada yang menyebutnya dangkal. Namun manusia memang selalu mencari medium baru untuk mengabadikan diri. Dulu batu, lalu kertas, kini piksel.
Menariknya, narasi tidak pernah netral. Ada proses pemurnian yang nyaris otomatis. Detail yang tidak dramatis sering dihapus. Detail yang memberi bobot dibesarkan. Humor ditambahkan untuk menutupi ketakutan yang terlalu telanjang. Narasi menjadi operasi estetika atas rasa malu. Ketakutan akan jurang, ketika diceritakan ulang, bisa berubah menjadi komedi. Di sana identitas terbentuk bukan melalui keberanian murni, melainkan melalui kemampuan mengolah rasa takut menjadi kisah yang dapat ditanggung bersama.
Ada pula mereka yang memilih diam. Ini minoritas yang jarang disorot. Pendakian bagi mereka terlalu privat untuk dijadikan performa sosial. Di kota, mereka tampak biasa saja. Tidak ada foto mencolok, tidak ada cerita dramatis. Namun di dalam batin mereka, gunung menggantung seperti jam matahari yang tak terlihat orang lain. Mereka biasanya bukan pendaki pemula yang masih perlu pembuktian, melainkan mereka yang telah selesai membuktikan sesuatu. Identitas tidak lagi dipamerkan; ia menjadi cara memandang dunia dengan tenang. Gunung tidak mereka ceritakan—ia meresap dalam cara mereka menilai risiko, cara mereka memaknai kesunyian, cara mereka menimbang keputusan.
Pada akhirnya, pertanyaan paling tajam muncul: apakah gunung yang mengubah identitas, ataukah gunung hanya menyediakan bahan bagi identitas yang sudah ingin berubah? Banyak pengalaman menunjukkan yang kedua lebih mendekati kenyataan. Gunung bukan guru moral. Ia tidak mendidik siapa pun secara aktif. Ia hanya cermin raksasa. Yang sudah gelisah terhadap hidupnya akan melihat kegelisahannya dengan lebih terang. Yang sedang mencari alasan untuk bertransformasi akan menemukan panggungnya. Yang hanya ingin foto akan pulang dengan foto.
Barangkali seluruh proses ini adalah cara manusia modern mengatasi kekosongan yang tidak pernah diakui secara terbuka. Di tengah dunia yang kehilangan banyak ritus peralihan, gunung menyediakan teater makna. Di sana ada risiko, ada batas, ada kemungkinan gagal, ada potensi kembali dengan cerita. Tanpa sadar, pendakian menjadi substitusi bagi upacara inisiasi yang dulu dimiliki banyak kebudayaan.
Dan ketika seseorang sudah berhenti membutuhkan panggung itu, gunung perlahan berhenti menjadi altar. Ia kembali menjadi bentang alam biasa. Di titik itu, identitas tidak lagi dibentuk oleh ketinggian yang dicapai, tetapi oleh cara seseorang berdiri di tanah datar.
Gunung memang hanya separuh cerita. Separuh lainnya selalu terjadi setelah turun.

