Ada keputusan-keputusan dalam hidup yang tidak pernah diumumkan secara resmi, tetapi tetap menentukan arah hidup seseorang. Tidak ada sidang, tidak ada rapat keluarga, tidak ada deklarasi di depan cermin. Keputusan itu lahir dalam bisikan yang nyaris malu-malu: untuk tetap tinggal, untuk tetap mencintai, untuk tidak menyerah, atau justru untuk menyerah diam-diam. Dan anehnya, keputusan seperti itu justru yang paling berpengaruh. Ia tidak punya catatan administratif tetapi ia punya konsekuensi ontologis.
Manusia sering menganggap keputusan sebagai sesuatu yang selesai pada satu momen: klik Tinder, tanda tangan kontrak, mengucapkan ya di altar, atau memutuskan berhenti minum kopi setelah maghrib. Namun yang lebih sering terjadi adalah keputusan berlangsung seperti endapan sedimen—mengendap perlahan, terbungkus waktu, tersusun dari lapisan-lapisan yang tidak pernah kita sadari saat ia sedang bekerja. Kita bangun suatu pagi dan menyadari bahwa kita sudah menua dalam keputusan tertentu, seolah-olah seseorang mengambil alih remote dan mempercepat timeline tanpa izin.
Sebagian orang berkata bahwa keputusan paling sulit adalah memilih jalan hidup. Itu hanya benar bagi mereka yang tidak sedang hidup. Bagi yang benar-benar hidup, semua permukaan dunia adalah jalan, dan kesulitan sesungguhnya terletak pada bagaimana menjalani satu jalan tanpa terus menerus mencurigai semua jalan lain. Kecurigaan seperti itu membuat manusia sibuk memandang ke kiri dan kanan sampai lupa bahwa satu-satunya yang benar-benar bisa dilakukan hanyalah melangkah ke depan. Namun di situlah lucunya: langkah ke depan pun tidak menjamin bahwa seseorang tahu ke mana ia menuju.
Ada keputusan yang memang harus diambil: menikah atau tidak, pindah kota atau bertahan, menyapa seseorang atau membiarkan momen itu hilang selamanya. Tetapi ada juga keputusan yang tidak pernah memaksa untuk diputuskan, dan justru karena itulah mereka paling menentukan. Tidak memaafkan seseorang juga sebuah keputusan. Tidak mengucapkan sesuatu yang seharusnya diucapkan juga sebuah keputusan. Tidak pulang juga sebuah keputusan. Dalam hal ini dunia memberi dua opsi: mengambil keputusan atau ditentukan olehnya.
Sains menyukai keputusan yang memiliki data. Agama menyukai keputusan yang memiliki moral. Ekonomi menyukai keputusan yang memiliki keuntungan. Filsafat menyukai keputusan yang memiliki alasan. Tetapi kehidupan sering mengharuskan keputusan yang tidak memiliki apa-apa selain intuitif lemah lembut yang hanya terdengar oleh pemiliknya. Kadang suara itu sangat pelan, seperti suara dedaunan yang membisikkan arah angin kepada seseorang yang sedang tersesat di lereng. Jika seseorang terlalu percaya pada peta, ia bisa gagal mendengar bisikan itu.
Keputusan-keputusan besar jarang diumumkan tepat saat mereka diambil. Mereka baru diketahui setelah hasilnya terlihat, seperti batuan metamorf yang menunggu beberapa juta tahun sebelum siap dipamerkan sebagai bukti bahwa tekanan dan panas tidak pernah bekerja sia-sia. Tanpa tektonik dalam bumi, tidak ada pegunungan. Tanpa tektonik dalam batin, tidak ada kedewasaan. Jika tekanan geologi menciptakan lipatan, tekanan eksistensial menciptakan kemurahan hati, ketabahan, atau kadang hanya kebiasaan untuk tidak menyerah.
Yang lucu adalah manusia sering menyalahkan keputusan yang sudah diambil sebagai penyebab hidupnya seperti ini. Padahal, seringkali justru keputusan-keputusan yang tidak pernah diambil yang diam-diam mendikte seluruh konfigurasi hidup. Orang jarang menyesali apa yang pernah ia lakukan; yang lebih sering menghantui adalah apa yang tidak pernah dilakukan padahal bisa. Dalam penaklukan gunung hal ini jelas: puncak yang gagal dicapai bisa diterima; jalur yang tidak pernah dicoba menimbulkan rasa gatal yang lebih panjang.
Pada akhirnya, semua keputusan adalah percobaan. Tidak ada yang menjamin bahwa sebuah keputusan akan memperbaiki hidup seseorang. Satu-satunya yang pasti adalah bahwa tidak mengambil keputusan sama sekali membuat hidup berhenti bergerak, dan stagnasi adalah bentuk kematian yang paling sopan. Dunia tidak memaksa orang untuk hidup penuh, tetapi ia tetap mengundang dengan cara yang tidak terlalu halus.
Dan karena itu manusia terus hidup dengan keputusan-keputusannya, yang baik maupun yang buruk, yang lahir dari keberanian maupun keterlambatan. Yang menghibur adalah bahwa kehidupan tidak pernah meminta laporan akhir. Ia hanya meminta seseorang untuk terus maju, meski tidak terlalu yakin ke mana.


Posting Komentar
...