Kalimat itu jatuh seperti tetes terakhir dari malam yang panjang: pada akhirnya, kita semua hanyalah kenangan yang tertinggal di hati orang-orang yang pernah kita cintai. Ada kesunyian yang tak butuh pembelaan dalam pernyataan tersebut. Hidup bukan museum prestasi, bukan pula papan pengumuman jasa; pada ujungnya kita menyusut menjadi sisa-sisa memori yang diarsipkan oleh mereka yang sempat menyentuh kita, dan oleh mereka yang sempat kita sentuh, entah dengan lembut atau dengan cara yang membuat hati mekar terlambat.
Namun selalu ada lapisan kedua dari kebenaran sederhana. Kita bukan hanya kenangan bagi orang lain, kita juga adalah kenangan bagi diri sendiri. Dalam kepala ada lemari tua tempat tawa disimpan bersebelahan dengan rasa malu, tempat keberanian dan kebodohan bertukar tempat tanpa permisi. Di sana tergeletak tatapan yang dulu tidak menemukan kata, doa yang tidak pernah diumumkan, dan semua kegigihan kecil yang tidak layak masuk sejarah, tetapi justru menopang sejarah itu dari belakang panggung.
Banyak orang mengira cinta adalah urusan dua hati yang saling memilih. Namun ia juga urusan memori: siapa yang kita izinkan tetap tinggal, dan siapa yang perlahan kita biarkan terurai menjadi kabut. Kenangan bekerja seperti editor yang tanpa ampun. Ia memilih, menghapus, menggarisbawahi, dan kadang memelintir demi menjaga agar cerita tetap bisa ditanggung.
Mungkin tugas manusia bukan memastikan bahwa kita dikenang, tetapi memastikan bahwa apa yang kita tinggalkan pantas untuk ditinggalkan. Tidak harus heroik. Cukup jujur, cukup hangat, cukup tidak memalukan. Sisanya biar waktu yang mengatur distribusi memori sesuai seleranya yang campur aduk antara kejam dan sentimental.
Dan jika akhirnya kita larut seluruhnya, terserap dalam anonim zaman, itu pun bukan tragedi. Banyak hal paling penting dalam hidup tak pernah berniat menjadi abadi: musim panas, masa muda, persahabatan yang sempat begitu dekat, percakapan yang tak pernah direkam, dan keberanian kecil yang tidak pernah diumumkan. Semuanya tetap nyata ketika terjadi. Realitas tidak memerlukan keabadian untuk menjadi penting.
Jadi, bila nanti kita menjadi kenangan, setidaknya kita pernah berusaha. Berbuat baik semampunya, mencinta tanpa prosedur, tersandung dan bangkit tanpa pidato, dan merawat beberapa orang agar tidak merasa sendirian. Untuk spesies yang dilempar ke dunia tanpa manual penggunaan, itu sudah cukup mulia.

Posting Komentar
...