Pertarungan Cerita Melawan Cerita

     Si bisu memberi kabar kepada si tuli, tentang si buta yang melihat si lumpuh berjalan. Kalimat itu seperti potongan teater absurd yang sangat jujur tentang manusia. Di panggung itu tidak ada yang benar-benar melihat, tidak ada yang benar-benar mendengar, namun cerita tetap beredar dengan percaya diri. Itulah manusia: makhluk yang hidup dari cerita, bahkan ketika cerita itu berputar-putar seperti kompas yang jarumnya patah.

     Perang di Timur Tengah selalu melahirkan badai cerita semacam ini. Peluru terbang di udara, tetapi narasi terbang lebih cepat. Kadang terasa seperti pasar malam metafisika: semua orang menjual kebenaran dengan pengeras suara yang rusak.

     Ada yang berkata dengan yakin bahwa Tuhan bersama pihak mereka. Lalu roket jatuh, seorang pemimpin gugur, dan seketika narasi bergeser dengan elegan: Tuhan memang bersama mereka, tetapi kemenangan tidak selalu berarti selamat dari kematian.

     Lima menit sebelumnya, hidup adalah bukti restu ilahi. Lima menit kemudian, mati juga bukti restu ilahi.

     Tuhan tampaknya sangat fleksibel dalam logika manusia.

     Ada pula narasi yang lebih kuno, hampir seperti peninggalan fosil teologi: siapa yang benar-benar Muslim, siapa yang bukan. Seolah perang itu kompetisi kartu identitas metafisik. Seolah bom dan drone berhenti sejenak untuk memeriksa mazhab korban.

     Di satu sisi ada yang berkata: Syiah bukan Islam. Di sisi lain ada yang berkata: Mereka mati sebagai syahid.

     Lucunya, kedua kalimat itu kadang diucapkan oleh orang yang sama—hanya berbeda hari, berbeda audiens, berbeda kebutuhan emosi.

     Politik menambah lapisan absurditas yang lain. Negara berbicara tentang keamanan, tetapi keamanan selalu berarti keamanan mereka sendiri. Rakyat berbicara tentang tanah leluhur, sementara garis peta terus berubah seperti pasir yang tertiup angin. Di ruang diplomasi, kata “perdamaian” sering terdengar seperti iklan sabun: wangi, tetapi licin.

     Sementara itu di internet, manusia menemukan panggung baru untuk homo narrans—manusia yang tidak tahan hidup tanpa cerita. Video sepuluh detik berubah menjadi bukti sejarah. Potongan foto menjadi dakwaan moral. Dan setiap orang tiba-tiba menjadi analis geopolitik, ahli tafsir kitab suci, sekaligus juru bicara Tuhan.

     Di sana muncul narasi-narasi yang hampir seperti lelucon kosmik:

     Ada yang berkata Tuhan melindungi kota suci mereka—lalu kota itu hancur oleh rudal. Maka dijelaskan bahwa kehancuran adalah ujian iman.

     Ada yang berkata musuh mereka pasti dihukum Tuhan—lalu musuh itu justru semakin kuat. Maka dijelaskan bahwa Tuhan memberi waktu sebelum hukuman.

     Jika suatu hari mereka menang, itu mukjizat. Jika kalah, itu rencana misterius.

     Dalam logika seperti itu, realitas menjadi seperti tanah liat: selalu bisa dibentuk ulang agar cocok dengan keyakinan awal.

     Ada juga narasi yang lebih duniawi, tetapi tidak kalah dramatis. Perang disebut sebagai perjuangan suci, padahal di baliknya ada pipa gas, jalur perdagangan, dan keseimbangan kekuatan regional. Kadang terdengar seperti duel para nabi, padahal sebenarnya lebih mirip permainan catur para jenderal.

     Agama memberi bahasa yang agung.
     Politik memberi motif yang sangat manusiawi.

     Keduanya sering bercampur seperti kopi pahit dengan gula yang terlalu banyak.

     Yang paling ganjil justru terjadi jauh dari medan perang. Orang-orang yang tidak pernah mendengar sirene bom berbicara paling keras tentang keberanian dan pengorbanan. Mereka menulis kalimat heroik dari sofa empuk, sambil menyeru orang lain untuk mati demi kehormatan.

     Sejarah manusia penuh adegan seperti ini: para pahlawan dilahirkan oleh pidato orang lain.

     Di tengah semua itu, kadang satu ironi kecil muncul seperti cahaya tipis. Semua pihak yakin Tuhan ada di pihak mereka. Tuhan, jika kita bayangkan sebagai penonton, mungkin sedang menyaksikan manusia bertengkar sambil memegang kitab yang sama-sama mereka klaim sebagai pesan-Nya.

     Dan manusia terus bercerita.

     Mungkin karena tanpa cerita kita akan terlalu cepat melihat kenyataan yang lebih sunyi: bahwa perang sering kali bukan pertarungan kebenaran melawan kesalahan, melainkan pertarungan cerita melawan cerita. Cerita tentang identitas, cerita tentang tanah, cerita tentang sejarah yang disunting ulang berkali-kali.

     Cerita memberi makna pada kematian. Tanpa itu, kematian di medan perang hanya menjadi statistik yang dingin.

     Di titik itulah manusia memilih tetap menjadi homo narrans. Kita menenun kisah bahkan dari serpihan tragedi. Kadang kisah itu membuat kita tertawa pahit. Kadang membuat kita marah. Kadang membuat kita merasa lebih benar daripada orang lain.

     Namun sesekali, jika kita diam cukup lama, kita melihat sesuatu yang lebih sederhana: di bawah semua narasi besar itu, yang mati tetap manusia. Yang kehilangan anak tetap manusia. Yang pulang dengan tubuh hancur tetap manusia.

     Dan cerita—betapapun megahnya—tidak pernah benar-benar bisa menambal lubang yang ditinggalkan peluru.

     Mungkin itu sebabnya kalimat di awal terasa begitu pas. Dunia kadang benar-benar seperti percakapan antara si bisu, si tuli, si buta, dan si lumpuh. Semua berusaha menjelaskan realitas yang tidak sepenuhnya mereka lihat.

     Namun cerita tetap berjalan.

     Karena bagi manusia, berhenti bercerita kadang lebih menakutkan daripada perang itu sendiri.

Manusia adalah makhluk yang hidup dari cerita, bahkan ketika cerita itu berputar-putar seperti kompas yang jarumnya patah.

This is the most recent post.
Posting Lama

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.