Dapur MBG dan Kematian Sunyi Universitas

     Ada ironi yang lucu sekaligus melelahkan ketika kampus-kampus mulai ikut mengelola dapur MBG. Orang-orang tiba-tiba terkejut seolah universitas baru saja turun dari langit ilmu pengetahuan lalu tercebur ke kuah sayur dan logistik nasi kotak. Kritik bermunculan dengan nada muram: kampus kehilangan marwah, pendidikan tinggi berubah fungsi, universitas bukan katering, bukan vendor negara, bukan pabrik distribusi makan siang.

     Padahal mesin perubahan itu sudah lama menyala. Dapur hanya asap yang akhirnya terlihat.

     Bertahun-tahun sebelumnya, kampus perlahan memang telah dipindahkan dari ruang pencarian pengetahuan menuju ruang kalkulasi efisiensi. Bahasa-bahasanya berubah diam-diam. Mahasiswa disebut “output”. Dosen dikejar “target kinerja”. Fakultas bicara “daya saing pasar”. Rektor belajar seperti CEO. Gedung-gedung baru dibangun dengan estetika korporasi: kaca, slogan inovasi, pusat bisnis, coworking space, inkubator startup, dan banner motivasi tentang entrepreneur muda yang bahkan belum sempat gagal dengan tenang.

     Tidak banyak yang benar-benar ribut ketika pendidikan tinggi mulai diukur dengan logika perusahaan. Orang menerima dengan cukup patuh ketika mahasiswa didorong lulus cepat demi rasio efisiensi. Kampus bangga mempersingkat masa studi seperti pabrik yang berhasil mempercepat jalur produksi. “Tepat waktu” menjadi moral baru. Berpikir terlalu lama mulai tampak mencurigakan. Mahasiswa yang terlalu banyak membaca filsafat sering dipandang seperti orang yang terlambat memahami pasar kerja.

     Di titik itu sebenarnya universitas sudah mengalami mutasi besar: dari ruang pembentukan manusia menjadi ruang produksi tenaga kerja yang rapi, adaptif, dan tidak terlalu berisik.

     Jadi ketika hari ini kampus ikut mengelola MBG karena ada sumber pendapatan baru—terutama bagi PTNBH yang memang didorong mencari nafkah sendiri—itu bukan penyimpangan mendadak. Itu justru kelanjutan logis dari arah yang sudah lama ditempuh. Universitas hanya sedang konsisten terhadap logika yang selama ini mereka peluk: pragmatisme administratif yang dibungkus jargon kemajuan.

     Yang menarik justru kepanikan moralnya datang terlambat.

     Karena kalau mau jujur, dapur MBG mungkin malah lebih realistis dibanding beberapa jargon akademik yang selama ini diproduksi kampus. Setidaknya nasi benar-benar mengenyangkan. Sementara sebagian seminar kampus hanya menghasilkan sertifikat, foto bersama, dan PDF yang tak pernah dibaca lagi setelah upload repository.

     Di sini kelihatan bagaimana masyarakat sering gagal melihat perubahan dalam bentuk proses. Orang baru panik ketika simbol berubah kasar dan terlihat vulgar. Ketika universitas membuka dapur makan gratis, perubahan itu tampak telanjang sehingga semua orang tersentak. Tetapi ketika kampus perlahan diubah menjadi mesin kompetisi, birokrasi angka, dan pasar tenaga kerja murah, banyak yang justru menyebutnya modernisasi.

     Padahal garis lurusnya jelas.

     Kampus yang dipaksa mandiri secara finansial lambat laun akan mencari sumber pendapatan di mana saja. Hari ini dapur MBG. Besok mungkin pusat pelatihan korporasi, konsultan politik, vendor data, atau entah apa lagi. Dalam ekosistem seperti itu, ilmu pengetahuan tetap dipertahankan, tetapi sering bukan sebagai tujuan—melainkan aset.

     Mungkin ini yang paling sunyi dari semuanya: universitas modern perlahan tidak lagi takut kehilangan kedalaman berpikir. Ia lebih takut kehilangan cash flow.

     Dan masyarakat, dengan cara yang aneh, ikut mendidik kampus menjadi seperti itu. Orang tua bertanya jurusan “yang cepat kerja”. Pemerintah bicara “link and match”. Industri meminta lulusan siap pakai. Ranking global dijadikan kiblat. Semua orang ingin universitas efisien, adaptif, produktif, kompetitif. Lalu ketika kampus benar-benar bertindak seperti institusi yang efisien dan oportunistik, publik mendadak kecewa melihat bayangannya sendiri.

     Seolah-olah kita ingin universitas menjadi pabrik modern, tetapi tetap berharap aroma perpustakaan abad ke-19 masih keluar dari cerobongnya.

Universitas modern perlahan tidak lagi takut kehilangan kedalaman berpikir. Ia lebih takut kehilangan cash flow.

This is the most recent post.
Posting Lama

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.