Ada masa ketika manusia datang ke lanskap dengan alat berat dan niat yang tidak perlu disembunyikan. Ia menggali, memecah, mengangkut. Tidak ada papan penjelasan, tidak ada narasi, tidak ada rasa bersalah yang terlalu rumit. Hari ini, pemandangannya berubah. Kita datang dengan istilah yang lebih halus, dengan bahasa yang terasa lebih bersih: Geoethics, Geopark, geosains, geotourism. Kata-kata itu berbaris rapi seperti parade yang tahu betul ke mana harus melangkah dan kapan harus tersenyum.
Di permukaan, semuanya tampak seperti kemajuan moral. Kita tidak lagi sekadar mengambil dari bumi, kita “memahami”, “menghargai”, “mengelola”. Ada papan interpretasi yang menjelaskan umur batuan dengan nada penuh hormat, ada jalur wisata yang ditata agar langkah kaki tidak terlalu liar, ada seminar tentang keberlanjutan yang disampaikan dengan slide penuh warna. Seolah-olah, setelah sekian lama menjadi makhluk yang rakus, manusia akhirnya belajar sopan.
Namun jika berdiri sedikit lebih lama, membiarkan mata tidak hanya melihat tetapi juga curiga, terasa ada sesuatu yang terlalu rapi di balik semua ini.
Geoethics hadir sebagai suara hati—atau setidaknya begitu ia ingin dikenali. Ia berbicara tentang tanggung jawab, tentang kejujuran ilmiah, tentang kewajiban menjaga bumi. Tetapi suara hati ini sering muncul justru setelah kerusakan menjadi terlalu nyata untuk diabaikan. Ia seperti seseorang yang menulis kode etik setelah pesta usai, ketika lantai sudah lengket oleh tumpahan yang tak sempat dicegah.
Dan kita, dengan penuh kesungguhan, membaca kode etik itu seolah-olah ia datang lebih dulu daripada tindakan kita.
Sementara itu, Geopark berdiri sebagai panggung yang sangat fotogenik. Ia menjanjikan perlindungan, edukasi, dan tentu saja—pengalaman. Batu tidak lagi sekadar batu; ia menjadi cerita. Tebing bukan lagi sekadar hasil proses geologi; ia menjadi narasi panjang yang bisa dijelaskan dalam lima menit oleh pemandu wisata yang hafal skripnya. Keheningan alam pun pelan-pelan diberi subtitle.
Di sinilah Capitalism bekerja dengan cara yang lebih halus dibanding masa lalu. Ia tidak lagi selalu datang dengan suara mesin yang bising, tetapi dengan konsep, branding, dan proposal. Alam tidak dihancurkan secara brutal; ia dikurasi. Ia dipilih, ditata, diberi label, lalu diperkenalkan kembali kepada manusia—tentu dengan harga tiket yang wajar, demi keberlanjutan, katanya.
Geotourism kemudian menjadi semacam jembatan yang elegan. Ia terdengar seperti kompromi yang matang: ekonomi berjalan, alam tetap terjaga. Dan dalam banyak kasus, itu memang tidak sepenuhnya salah. Ada komunitas lokal yang mendapat penghasilan, ada kawasan yang lebih terlindungi dibanding jika dibiarkan tanpa status. Tetapi di balik itu, ada sesuatu yang bergeser pelan: pengalaman alam menjadi produk, dan produk selalu membutuhkan pasar.
Ketika pengalaman menjadi produk, ia harus dijual.
Ketika ia dijual, ia harus menarik.
Ketika ia harus menarik, ia perlu dibungkus.
Di titik itu, narasi menjadi penting. Dan geoethics, tanpa disadari, sering ikut menjadi bagian dari bungkus itu.
Ia memberi legitimasi. Ia membuat semuanya terdengar telah dipertimbangkan secara moral. Ia menenangkan kegelisahan yang mungkin muncul ketika kita bertanya: apakah ini benar-benar tentang menjaga bumi, atau hanya cara baru untuk memanfaatkannya tanpa terlihat bersalah?
Ironinya hampir lembut. Kita tidak lagi mengatakan “kita akan mengambil dari alam,” tetapi “kita akan mengelola dan mengedukasi.” Kita tidak lagi sekadar hadir sebagai pengunjung, tetapi sebagai “pembelajar”. Dan dalam proses itu, kita merasa telah berubah—dari perusak menjadi penjaga.
Padahal, jika ditarik sedikit lebih dalam, struktur dasarnya belum benar-benar bergeser. Ia masih berakar pada Anthropocentrism. Manusialah yang menentukan apa yang layak dilindungi, manusialah yang menetapkan batas, manusialah yang memutuskan berapa banyak intervensi yang masih bisa ditoleransi. Bahkan ketika kita berbicara tentang “nilai alam”, nilai itu tetap melewati filter kepentingan manusia—entah itu ekonomi, edukasi, atau sekadar estetika.
Upaya untuk mendekat ke Ecocentrism memang terdengar di sana-sini, seperti bisikan yang mencoba mengoreksi nada utama. Tetapi ia sering kali tetap menjadi aksen, bukan melodi. Kita masih berada di tengah panggung, hanya saja kali ini dengan ekspresi yang lebih rendah hati.
Dan mungkin di situlah letak keganjilannya.
Manusia, makhluk yang begitu lama merasa sebagai pusat, kini mulai sadar bahwa posisinya bermasalah. Namun alih-alih turun dari panggung, ia memilih merancang ulang pertunjukan. Lampu dibuat lebih hangat, dialog ditulis lebih bijak, dan kostum diganti dengan sesuatu yang terlihat lebih sederhana. Penonton pun—yang kebetulan juga manusia—merasa bahwa ini adalah kemajuan.
Padahal, panggungnya masih sama.
Geoethics, geopark, geotourism—semuanya bergerak di ruang yang sama: ruang di mana niat baik, kepentingan ekonomi, dan kebutuhan akan legitimasi saling berkelindan. Tidak sepenuhnya palsu, tetapi juga tidak sepenuhnya polos. Ada manfaat nyata, ada juga ilusi yang dirawat dengan cukup serius agar tidak tampak seperti ilusi.
Mungkin yang tersisa bukanlah penolakan total, tetapi kewaspadaan yang tidak mudah ditenangkan. Sebab di dunia yang semakin pandai membungkus dirinya sendiri, yang paling berbahaya bukan lagi eksploitasi yang terang-terangan, melainkan eksploitasi yang datang dengan senyum, dengan narasi, dan dengan keyakinan bahwa kali ini—akhirnya—kita sudah benar.

Posting Komentar
...