Tidak semua penjara dibangun dengan batu. Sebagian justru dibangun dengan jadwal.
Franz Kafka seperti sedang menertawakan sesuatu yang sangat kita anggap normal: rutinitas. Ia tidak berisik, tidak heroik, tidak menuntut keberanian untuk dilawan. Ia hanya mengulang dirinya sendiri, sampai suatu hari kita berhenti bertanya. Dan di saat itulah, pintu-pintu yang tidak pernah kita lihat mulai mengunci dari dalam.
Beberapa abad sebelum algoritma menjadi dewa kecil yang kita sembah diam-diam, Jeremy Bentham sudah membayangkan sebuah bangunan bernama Panopticon—penjara melingkar dengan satu menara di tengah. Dari menara itu, seorang penjaga bisa melihat semua tahanan. Tapi para tahanan tidak pernah tahu apakah mereka sedang diawasi atau tidak. Ketidakpastian itu cukup. Mereka akan mendisiplinkan diri mereka sendiri.
Yang mengerikan dari gagasan ini bukan arsitekturnya, tapi kesimpulannya: manusia tidak perlu diawasi terus-menerus untuk patuh. Cukup dibuat merasa mungkin diawasi.
Lalu datang Michel Foucault, yang membaca Panopticon bukan sebagai bangunan, tapi sebagai metafora dunia modern. Baginya, kekuasaan tidak lagi bekerja dengan cambuk, tapi dengan norma. Ia menyusup ke dalam kebiasaan, ke dalam jam kerja, ke dalam cara kita duduk, berbicara, bahkan berpikir. Kita tidak dipaksa—kita dilatih.
Dan hari ini, menara pengawas itu tidak lagi berdiri di tengah bangunan. Ia berada di saku kita. Ia bernama aplikasi.
Seorang driver ojek online bangun pagi dengan satu harapan sederhana: cukup order untuk hari ini. Ia membuka aplikasi, dan di sana ada angka-angka yang tidak sepenuhnya ia pahami—rating, performa, insentif, bonus harian. Semuanya tampak seperti peluang, tapi bekerja seperti tali.
Algoritma tidak pernah berteriak. Ia hanya memberi dan menahan. Sedikit order ketika performa turun. Bonus kecil yang menggoda ketika target hampir tercapai. Hukuman yang tidak disebut sebagai hukuman—hanya “penurunan prioritas”.
Tidak ada yang memaksa driver itu bekerja 12 jam. Tidak ada yang mengunci pintu rumahnya. Tapi ia tahu, jika ia berhenti, sistem akan “mengingat”. Rating bisa turun. Akun bisa tenggelam. Dan perlahan, ia belajar untuk patuh—bukan karena takut, tapi karena tidak melihat alternatif lain.
Di titik ini, Panopticon Bentham terasa kuno. Ia masih membutuhkan menara. Algoritma tidak. Ia bekerja seperti kabut—tidak terlihat, tapi mengatur arah langkah.
Yang menarik, di sela-sela semua itu, ada rasa nyaman kecil yang tumbuh. Kebebasan semu: bisa memilih kapan online, bisa menolak order. Tapi seperti permainan yang sudah ditentukan sejak awal, setiap pilihan membawa konsekuensi yang diam-diam mengarahkan ke satu hal: tetap bermain.
Dan ketika seseorang berkata, “Saya bebas, saya bisa kerja kapan saja,” sering kali yang ia maksud adalah: “Saya bebas memilih kapan saya harus tetap terikat.”
Penjara tidak lagi terasa seperti penjara. Ia terasa seperti fleksibilitas.
Hal yang sama terjadi di ruang yang lebih sunyi, lebih terhormat.
Seorang pekerja kantoran duduk di depan layar, delapan jam sehari, lima hari seminggu. Tidak ada jeruji, hanya kalender penuh rapat. Ia tidak dipaksa untuk menjawab email di malam hari, tapi notifikasi itu seperti bisikan yang tidak sopan. Ia membuka laptop, hanya sebentar, katanya. Lalu satu jam berlalu.
Tidak ada hukuman jika ia tidak membalas segera. Tapi ada sesuatu yang lebih halus: rasa bersalah. Rasa takut tertinggal. Rasa bahwa ia harus selalu “hadir”, bahkan ketika tubuhnya sudah pulang.
Ia bukan tahanan. Ia profesional.
Di ruang lain, seorang kreator konten menatap layar statistik. Angka views naik turun seperti detak jantung yang tidak stabil. Ia mulai belajar pola: kapan harus posting, bagaimana judul yang “menggigit”, jenis emosi apa yang paling laku.
Pelan-pelan, ia tidak lagi menulis apa yang ingin ia katakan. Ia menulis apa yang akan ditonton. Algoritma menjadi editor tak terlihat. Ia tidak melarang, tapi menyaring. Tidak menghukum, tapi mengabaikan.
Dan diabaikan, di dunia ini, adalah bentuk hukuman paling sunyi.
Yang membuat semua ini terasa normal adalah karena tidak ada satu momen dramatis di mana kita sadar telah dikurung. Tidak ada pintu yang dibanting keras. Hanya serangkaian kompromi kecil yang masuk akal.
Sedikit lembur. Sedikit mengikuti tren. Sedikit menyesuaikan diri.
Sampai akhirnya, “sedikit” itu menjadi struktur.
Foucault mungkin akan tersenyum getir melihat ini. Disiplin telah menjadi otomatis. Kekuasaan tidak lagi datang dari atas, tapi dari dalam diri yang sudah dilatih untuk menyesuaikan diri.
Kafka, di sudut lain, mungkin hanya akan menulis satu kalimat pendek, lalu berhenti.
Bahwa manusia tidak selalu butuh penjaga untuk tetap berada di dalam selnya. Kadang, ia hanya butuh rutinitas yang cukup rapi, cukup masuk akal, dan cukup nyaman—untuk membuatnya lupa bahwa pintu itu sebenarnya tidak pernah terkunci.
Dan mungkin, yang paling menakutkan bukanlah bahwa kita terpenjara.
Tapi bahwa kita bisa hidup cukup lama di dalamnya, tanpa pernah benar-benar merasa ingin keluar.

Posting Komentar
...