Ketika Kesejahteraan Tidak Dipaksa Menjadi Satu Angka
OECD Better Life Index lahir dari satu keberanian metodologis yang jarang diambil: menolak mereduksi kualitas hidup manusia ke dalam satu skor tunggal. Di saat banyak indeks berlomba-lomba menyederhanakan realitas agar mudah diperingkatkan, BLI justru memilih jalan yang lebih rumit, lebih jujur, dan karenanya lebih tidak nyaman: kesejahteraan manusia bersifat multidimensional, dan tidak semua dimensinya pantas dipaksa tunduk pada satu hierarki.
Indeks ini dikembangkan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) sebagai respons terhadap keterbatasan indikator ekonomi klasik. Namun berbeda dari HDI yang tetap berujung pada satu nilai komposit, BLI sejak awal mengakui bahwa hidup yang baik tidak memiliki satu bentuk universal. Karena itu, BLI tidak bertanya “negara mana paling sejahtera”, melainkan “dalam aspek apa kehidupan manusia berjalan baik, dan di mana ia rapuh”.
OECD Better Life Index mengelompokkan kesejahteraan ke dalam dua ranah besar: kondisi material dan kualitas hidup. Keduanya diperlakukan setara, tanpa asumsi bahwa yang satu lebih penting dari yang lain.
Kondisi material mencakup fondasi hidup yang memungkinkan manusia bertahan dan merencanakan masa depan. Di dalamnya terdapat pendapatan dan kekayaan, yang tidak hanya melihat arus uang, tetapi juga kemampuan menabung dan ketahanan terhadap guncangan ekonomi. Lalu ada pekerjaan dan kualitas kerja, yang tidak semata-mata menghitung tingkat partisipasi kerja, tetapi juga keamanan kerja, upah layak, dan stabilitas. Perumahan juga menjadi indikator penting, karena tempat tinggal bukan hanya atap, melainkan ruang aman tempat hidup berlangsung.
Namun BLI tidak berhenti di sana. Justru bagian paling khas dari indeks ini terletak pada pengukuran kualitas hidup, wilayah yang sering dianggap terlalu subjektif untuk disentuh kebijakan publik.
Di sini, kesehatan dipahami secara luas, mencakup harapan hidup dan kondisi kesehatan yang memungkinkan partisipasi sosial. Pendidikan dan keterampilan dilihat bukan hanya dari lama sekolah, tetapi dari kemampuan manusia untuk beradaptasi dan berkembang di dunia yang berubah. Keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi menjadi indikator tersendiri, sebuah pengakuan diam-diam bahwa hidup yang sepenuhnya diserahkan pada produktivitas ekonomi adalah hidup yang timpang.
BLI juga memberi ruang besar pada hubungan sosial—apakah manusia hidup dalam jaringan kepercayaan, atau terisolasi dalam keramaian. Keterlibatan sipil dan tata kelola diukur untuk membaca apakah warga merasa suaranya berarti dan institusi bekerja secara responsif. Keamanan tidak dipersempit menjadi angka kriminalitas, tetapi rasa aman dalam menjalani hidup sehari-hari. Bahkan kualitas lingkungan diperlakukan sebagai bagian integral dari kesejahteraan, bukan sekadar isu tambahan.
Yang menarik, BLI juga memasukkan kepuasan hidup sebagai satu indikator eksplisit. Namun berbeda dari indeks kebahagiaan yang menjadikannya pusat, di sini kepuasan hidup berdiri sebagai satu dimensi di antara yang lain—bukan hakim tertinggi atas semuanya. Ia diakui penting, tetapi tidak diberi hak veto.
Keunikan terbesar OECD Better Life Index terletak pada satu keputusan radikal: pengguna diberi kebebasan untuk memberi bobot sendiri pada setiap dimensi. Tidak ada hierarki resmi tentang apa yang paling penting. Bagi sebagian orang, pekerjaan dan pendapatan mungkin utama. Bagi yang lain, lingkungan, kesehatan, atau keseimbangan hidup jauh lebih menentukan. Dengan demikian, BLI tidak memaksakan definisi hidup baik, melainkan menyediakan ruang dialog antara data dan nilai.
Pilihan ini memiliki implikasi filosofis yang dalam. BLI mengakui bahwa kesejahteraan tidak pernah netral nilai. Setiap pengukuran selalu membawa asumsi tentang apa yang dianggap penting. Daripada menyembunyikan asumsi itu di balik rumus teknokratik, BLI justru menampilkannya ke permukaan dan berkata: silakan tentukan sendiri.
Tentu saja, pendekatan ini memiliki konsekuensi. BLI tidak cocok untuk perayaan peringkat tunggal. Ia tidak ramah terhadap headline yang mencari “nomor satu”. Ia lebih sering digunakan sebagai alat diagnostik, bukan alat legitimasi. Ia membantu pembuat kebijakan, peneliti, dan warga melihat di mana kehidupan berjalan baik dan di mana ia bocor pelan-pelan.
BLI juga tidak mengklaim mampu menangkap seluruh makna hidup. Ia tidak menyentuh dimensi iman, tujuan metafisis, atau pengalaman eksistensial terdalam. Namun ia dengan jujur menyatakan batasnya, dan justru karena itu ia kuat: ia tidak berpura-pura menjadi jawaban akhir.
OECD Better Life Index, pada akhirnya, mengajukan satu pelajaran penting yang sering dihindari oleh politik dan kebijakan publik: hidup yang baik tidak bisa disederhanakan tanpa kehilangan sesuatu yang esensial. Ketika kesejahteraan dipaksa menjadi satu angka, selalu ada aspek manusia yang tercecer.
Dalam diamnya, BLI mengingatkan bahwa tugas pengukuran bukan untuk menutup perdebatan, melainkan untuk membukanya dengan lebih bertanggung jawab. Dan mungkin di situlah letak nilai terbesarnya: bukan pada siapa yang unggul, tetapi pada keberanian untuk mengakui bahwa hidup manusia terlalu kompleks untuk dirayakan dengan satu skor saja.

Posting Komentar
...