Korupsi Kecil, Nurani yang Diam

     Ada satu momen kecil di sebuah restoran yang, jika dilihat sepintas, tampak remeh. Meja dipenuhi hidangan, obrolan lama mengalir, tawa sesekali pecah. Namun di antara piring dan gelas itu, terselip satu kalimat yang terdengar pelan tapi berat: jangan sampai kelihatan pengunjung lain. Bukan karena malu, bukan karena salah—melainkan karena aturan memang ada, tapi bisa dilompati. Asal punya relasi. Asal ada hutang budi. Asal tahu celah.

     Di situ, sesuatu yang lebih dari sekadar etika makan sedang berlangsung. Aturan restoran yang melarang membawa makanan dari luar tidak ditolak, tidak diprotes, tidak pula dianggap tidak adil. Ia diakui sah, lalu disisihkan dengan sopan. Hidangan dari luar ikut digelar, tetapi dengan syarat: sembunyi. Moralitas pun bergeser dari soal benar atau salah menjadi soal terlihat atau tidak terlihat. Bukan takut melanggar, melainkan takut ketahuan. Pelanggaran menjadi urusan estetika, bukan etika.

     Alasan yang menyertainya terdengar sangat akrab di telinga Indonesia: kenal pemiliknya, punya jasa, banyak hutang budi. Bahkan ada bonus tambahan: pajak yang seharusnya dibayar ke kasir bisa “direduksi menjadi nol”. Kalimat itu diucapkan tanpa rasa bersalah, nyaris seperti prestasi. Seolah kecerdikan adalah nilai moral tersendiri. Seolah kemampuan menerobos aturan adalah bukti keluwesan hidup.

     Di sinilah ironi bekerja dengan sangat halus. Kita hidup di masyarakat yang gemar mengeluh tentang penguasa yang tidak adil, pejabat yang korup, hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Kita marah, kita rewel, kita mengutip berita dan membagikannya dengan nada geram. Namun pada saat yang sama, ketika kesempatan kecil datang—bukan miliaran rupiah, hanya sepiring makanan dan selembar pajak—mekanisme yang sama kita rawat dengan tangan kita sendiri.

     Mochtar Lubis pernah menuliskan manusia Indonesia dengan nada getir: munafik, feodal, enggan bertanggung jawab, dan pandai berkelit. Adegan di meja makan itu seperti catatan kaki yang hidup dari esainya. Tidak ada teriakan, tidak ada kekerasan, tidak ada kejahatan besar. Yang ada hanyalah kebiasaan kecil yang diterima sebagai kewajaran. Dan justru di sanalah daya tahannya: ketidakadilan yang terasa akrab, hangat, bahkan bersahabat.

     Jika seorang filsuf eksistensialis duduk di sana, barangkali ia tidak akan langsung berbicara. Sartre mungkin akan mengenali bad faith yang bekerja lembut: kebebasan dipakai sepenuhnya, tetapi tanggung jawab dialihkan. Bukan saya yang salah, aturannya memang bisa dibengkokkan. Bukan saya yang curang, sistemnya memang begini. Individu tetap merasa dirinya baik, karena kesalahan sudah dilarutkan ke dalam budaya, relasi, dan “kebiasaan”.

     Camus, dengan kepekaan pada absurditas, mungkin akan melihat Sisyphus versi baru. Batu itu bukan lagi didorong ke puncak gunung, melainkan diselipkan pelan-pelan ke bawah meja. Hidup terasa absurd bukan karena dunia tak adil, melainkan karena manusia menuntut keadilan sambil terus memelihara ketidakadilan kecil yang menguntungkan dirinya. Pemberontakan moral yang sering dibanggakan ternyata berhenti tepat di batas kenyamanan pribadi.

     Yang paling sunyi dari semua ini bukanlah pelanggaran aturan, melainkan runtuhnya konsistensi batin. Ketika relasi dibanggakan untuk menembus hukum, ada pesan yang disampaikan tanpa disadari: aturan hanya berlaku bagi mereka yang tidak punya akses. Hukum bukan prinsip bersama, melainkan rintangan teknis bagi yang kurang beruntung. Dan anehnya, pesan ini sering diucapkan oleh orang-orang yang paling lantang mengeluh tentang ketimpangan.

     Adegan itu, pada akhirnya, bukan tentang restoran, pajak, atau makanan dari luar. Ia adalah potret kecil tentang bagaimana ketidakadilan jarang datang dengan wajah bengis. Ia sering datang sambil tersenyum, duduk satu meja, dan berkata dengan nada bersahabat, “tenang saja, saya kenal orang dalam.”

     Pertanyaan yang tersisa bukanlah soal aturan mana yang dilanggar, atau siapa yang dirugikan secara langsung. Pertanyaannya jauh lebih sederhana dan sekaligus lebih berat: ketika kita menuntut dunia yang lebih adil, apakah kita sungguh siap hidup adil—bahkan saat tak ada satu pun mata yang melihat?

Ketika kita menuntut dunia yang lebih adil, apakah kita sungguh siap hidup adil—bahkan saat tak ada satu pun mata yang melihat?

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.