Aku Ingin Menemuimu Sebelum Terlambat

Sahabatku,

     Lebaran selalu datang seperti tamu lama yang tahu jalan pulang, namun setiap kali ia mengetuk, ada ruang-ruang dalam diri yang kembali terbuka—yang dulu kita isi bersama, lalu perlahan kita tinggalkan tanpa benar-benar sadar kapan terakhir kali menutupnya.

     Di sela gema takbir dan kesibukan yang berulang tiap tahun, ada satu hal yang diam-diam ingin kutunaikan: menemuimu.

     Bukan sekadar kalimat ringan yang kita ucapkan agar percakapan terasa hangat. Bukan basa-basi yang menguap sebelum sempat menjadi nyata. Aku ingin benar-benar datang. Pelan saja. Tanpa perlu dirancang berlebihan. Duduk bersama, mungkin dengan kopi yang biasa saja, tapi cukup untuk menemani percakapan yang sudah terlalu lama kita tunda—atau bahkan tak pernah sempat kita mulai lagi.

     Aneh memang, bagaimana hidup membuat jarak terasa wajar. Dulu, kita tidak pernah memikirkan itu.

     Kita berboncengan sepeda sepulang sekolah, menembus jalanan dengan napas yang terengah, tapi hati entah kenapa selalu ringan. Waktu seperti tidak pernah menagih apa pun dari kita. Kita juga pernah memilih bolos, bukan untuk alasan besar, hanya untuk memanjat diam-diam pohon mangga di sebelah sekolah—dengan rasa puas yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh manisnya buah itu sendiri.

     Lalu ada hari ketika kita berjalan sepanjang Pantai Losari—yang dulu kita sebut, setengah bercanda, sebagai restoran terpanjang. Makanan berjajar di sepanjang pantai, orang-orang duduk menikmati, sementara kita hanya berjalan, karena tidak membawa uang sama sekali. Tapi anehnya, kita tidak merasa kekurangan. Kita tetap tertawa, seolah kebersamaan itu sendiri sudah cukup mengenyangkan.

     Dan malam itu—di gunung—yang mungkin tak pernah benar-benar pergi dari ingatan. Hujan badai memaksa kita bersembunyi di celah batu yang sempit, menunggu sampai pagi. Dingin, basah, dan hanya dua sachet kopi yang kita bagi seolah itu adalah kemewahan terakhir yang kita miliki. Kita bertahan bukan karena kita hebat, tapi karena kita tidak sendirian.

     Semua itu kini seperti hidup di jarak yang lain. Tidak hilang, tapi juga tidak lagi bisa disentuh begitu saja.

     Mungkin karena itu aku ingin menemuimu sekarang.

     Aku tidak ingin menunda seperti yang sering kita lakukan pada banyak hal yang kita kira masih punya waktu. Aku tidak ingin suatu hari nanti berdiri di antara keramaian, datang tergopoh-gopoh, hanya karena waktu sudah menutup semua kemungkinan untuk bertemu dengan cara yang utuh. Aku tidak ingin langkahku dipercepat oleh kehilangan.

     Aku juga tidak akan mengajakmu ke rumahku. Kau tahu aku bukan orang yang pandai menjadikan hidup sebagai sesuatu yang perlu diperlihatkan. Dan memang, tidak ada yang layak dipamerkan. Yang ingin kutemui bukanlah ruang, tapi dirimu—sebagaimana dulu kita saling menemukan tanpa perlu panggung apa pun.

     Jika aku datang, itu bukan karena kewajiban Lebaran, bukan karena adat yang menuntut, tapi karena aku masih punya waktu—dan aku memilih untuk tidak menyia-nyiakannya.

     Kalau kau berkenan, beri tahu kapan aku bisa menemuimu. Tidak perlu repot. Aku yang akan menyesuaikan langkah.

     Selamat Lebaran.
Semoga yang sederhana tetap terasa cukup, dan yang jauh tidak benar-benar menjadi asing.

     Aku akan mencarimu—sebelum waktu mengajarkan kita arti kehilangan dengan cara yang terlalu sunyi.

—Aku

Selamat Lebaran. Semoga yang sederhana tetap terasa cukup, dan yang jauh tidak benar-benar menjadi asing.

This is the most recent post.
Posting Lama

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.