Dahulu manusia berburu rusa, menangkap ikan, dan menghindari harimau. Kini manusia berburu angka, menangkap gelar, dan menghindari pertanyaan yang terlalu jujur. Kemajuan memang menakjubkan. Kita berhasil mengganti ancaman yang nyata dengan ancaman yang diciptakan sendiri, lalu menghabiskan hidup untuk mengatasinya.
Salah satu hasil ciptaan yang paling terkenal adalah IQ. Sebuah angka yang begitu dihormati sehingga banyak orang membawanya seperti mahkota, sementara yang tidak memilikinya sering berusaha membuktikan bahwa mahkota itu tidak terlalu penting. Maka lahirlah kalimat yang begitu populer: IQ tinggi tidak menjamin sukses.
Kalimat itu terdengar bijaksana. Ia diucapkan dengan anggukan kepala, dibagikan di media sosial dengan latar belakang matahari terbit, dan diterima seperti kebenaran yang turun dari langit. Sayangnya, jarang ada yang bertanya lebih dahulu: IQ tinggi itu apa? Dan sukses itu apa?
Orang-orang tampaknya sepakat bahwa IQ adalah ukuran kecerdasan. Kesepakatan yang menarik, sebab dunia ini penuh dengan manusia cerdas yang tidak pernah diukur. Nelayan tua yang dapat membaca cuaca dari arah angin, petani yang mengenali musim dari bau tanah, ibu yang memahami perubahan suasana hati anaknya hanya dari tatapan mata, tidak pernah diberi angka. Mereka terlalu hidup untuk dimasukkan ke dalam tabel.
Sebaliknya, seseorang yang mampu menemukan pola geometri dalam serangkaian gambar akan memperoleh angka tinggi, lalu disebut sangat cerdas. Tidak ada yang salah dengan itu. Yang lucu adalah ketika angka tersebut perlahan berubah menjadi identitas. Seolah-olah manusia akhirnya dapat diringkas seperti spesifikasi barang elektronik: tinggi sekian sentimeter, berat sekian kilogram, IQ sekian, selesai.
Mungkin suatu hari akan lahir iklan yang lebih jujur.
"Dijual manusia, kondisi mulus, IQ 145, kemampuan sosial terbatas, mudah cemas, sulit tidur, tetapi sangat baik dalam menyelesaikan teka-teki."
Peradaban tampaknya akan menerimanya dengan gembira.
Lalu datanglah kata "sukses", yang lebih ajaib lagi. Tidak ada benda yang bentuknya lebih kabur tetapi lebih banyak diperebutkan. Anak-anak diajari mengejarnya sebelum mereka tahu apa yang sedang mereka kejar. Mereka didorong berlari secepat mungkin, lalu setelah dewasa baru sadar bahwa garis finisnya terus dipindahkan.
Dan ketika hidup mulai tenang, sebagian orang justru merindukan masa ketika mereka belum mengejar semua itu.
Sungguh permainan yang sangat efisien. Kita dibuat berlari mengelilingi lingkaran, lalu diberi medali karena tidak menyadari bahwa kita sedang berputar.
Anehnya, ketika seseorang memiliki rumah besar, mobil mewah, dan rekening yang tak habis dihitung nolnya, masyarakat dengan cepat menyebutnya sukses. Tidak banyak yang bertanya apakah ia tidur nyenyak. Tidak banyak yang peduli apakah ia masih mampu mencintai tanpa curiga, tertawa tanpa kepentingan, atau menikmati hujan tanpa menghitung peluang bisnis air kemasan.
Ada sesuatu yang sangat aneh dalam cara kita menilai hidup.
Seekor burung tidak pernah merasa gagal karena tidak memiliki properti. Pohon tua tidak merasa rendah diri karena tidak terkenal. Sungai tidak pernah mengikuti seminar tentang cara menjadi lebih sukses sebagai sungai.
Hanya manusia yang menciptakan perlombaan, menentukan peringkat, lalu mengalami depresi karena kalah dalam perlombaan yang ia buat sendiri.
Dan ketika kelelahan mulai terasa, lahirlah buku-buku motivasi. Sebagian menyuruh kita bekerja lebih keras. Sebagian menyuruh kita berpikir positif. Sebagian menyuruh kita bangun pukul empat pagi.
Tidak ada yang bertanya mengapa kita harus ikut lomba itu sejak awal.
Maka kalimat "IQ tinggi tidak menjamin sukses" sebenarnya terasa seperti perdebatan kecil di dalam penjara yang sama. Yang satu berkata, "Kecerdasan bukan segalanya." Yang lain berkata, "Tetapi kecerdasan tetap penting."
Keduanya masih menerima satu keyakinan yang tidak pernah diperiksa: bahwa manusia harus diukur, dibandingkan, dan diberi peringkat.
Padahal mungkin persoalannya bukan pada alat ukurnya. Mungkin justru obsesi untuk mengukur itulah yang perlu dicurigai.
Sebab semakin modern manusia, semakin banyak pita ukur yang dibawanya. Ia mengukur kecerdasan, mengukur penghasilan, mengukur popularitas, mengukur produktivitas, bahkan mengukur kebahagiaan. Seolah-olah hidup adalah proyek konstruksi raksasa yang tidak boleh menyisakan satu sentimeter pun tanpa angka.
Lalu pada suatu malam yang sunyi, setelah semua ukuran tercapai, sebagian orang diam-diam bertanya pada dirinya sendiri: "Aku sudah mendapatkan semuanya. Mengapa masih ada ruang kosong yang tidak bisa kujelaskan?"
Pertanyaan itu biasanya datang terlambat. Karena selama ini kita terlalu sibuk mengukur hidup, sampai lupa menjalani hidup itu sendiri.
Dan mungkin, hanya mungkin, manusia baru benar-benar merdeka ketika ia berani meletakkan seluruh pita ukur itu di atas meja, lalu berdiri di hadapan dirinya sendiri tanpa angka, tanpa peringkat, tanpa label.
Tentu saja itu bukan perkara mudah. Sebab banyak orang rela kehilangan kebebasan, asalkan tetap bisa mengatakan kepada dunia: "Lihatlah, aku lebih berhasil daripada yang lain."
Kalimat yang, jika dipikir-pikir, terdengar sangat cerdas.


Posting Komentar
...