Jika perbedaan IQ dapat membuat manusia memandang dunia dengan cara yang berbeda, pertanyaan berikutnya menjadi jauh lebih penting. Apakah jurang itu benar-benar tetap, atau masih mungkin dipersempit?
Sebagian kemampuan kognitif memang lazim diukur melalui berbagai tes inteligensi yang dikenal sebagai IQ. Angka itu tentu tidak menjelaskan seluruh manusia, tetapi cukup membantu memahami mengapa dua orang yang melihat kenyataan yang sama dapat membangun gambaran dunia yang sangat berbeda. Ibarat sebuah mesin, ada yang sejak awal memiliki kapasitas lebih besar, ada pula yang lebih kecil. Ketika berhadapan dengan satu persoalan, sebagian orang hanya mampu menghubungkan beberapa variabel sekaligus, sementara yang lain sanggup menampung puluhan variabel sebelum menarik sebuah kesimpulan.
Kenyataan itu tidak perlu disangkal. Namun ia juga tidak perlu diperlakukan seperti vonis yang menutup seluruh kemungkinan.
Sebuah mesin tidak hanya ditentukan oleh kapasitasnya. Mesin yang sama dapat menghasilkan perjalanan yang sangat berbeda bergantung pada bagaimana ia digunakan, dirawat, dan terus dipaksa menghadapi jalan-jalan yang belum pernah dilaluinya. Demikian pula kemampuan berpikir. IQ mungkin menggambarkan sebagian kapasitas awal, tetapi ia bukan sesuatu yang sepenuhnya beku.⁸ Dunia yang akhirnya sanggup dipahami seseorang dibentuk oleh jauh lebih banyak hal yang saling bekerja bersama.
Pendidikan¹ membuka cara-cara baru untuk memandang persoalan. Keluarga² memperkenalkan kebiasaan bertanya atau sebaliknya, membiasakan jawaban yang berhenti terlalu cepat. Bacaan³ menambahkan variabel-variabel baru yang sebelumnya tidak pernah hadir di dalam pikiran. Pengalaman⁴ sering kali memaksa keyakinan lama disusun ulang ketika kenyataan menolak mengikuti teori yang telah diyakini. Lingkungan⁵ memperluas atau mempersempit kesempatan seseorang bertemu gagasan yang berbeda. Percakapan⁶ membuat sebuah pikiran diuji oleh pikiran yang lain. Semua itu bekerja perlahan, hampir tidak terdengar, tetapi sedikit demi sedikit memperluas dunia yang sanggup dihuni oleh akal.
Perubahan itu jarang terjadi melalui lompatan besar. Ia lebih sering menyerupai seseorang yang mula-mula hanya mampu melihat lima titik, lalu sepuluh, lalu dua puluh. Yang berubah bukan sekadar jumlah informasi yang dimiliki, melainkan kemampuan melihat hubungan di antara informasi-informasi itu. Sebab sebuah persoalan tidak menjadi lebih rumit hanya karena variabelnya bertambah. Ia menjadi lebih kaya karena hubungan di antara variabel-variabel itu mulai terlihat.
Ada satu hal yang membuat seluruh proses itu mungkin. Rasa ingin tahu dan kerendahan hati intelektual⁷. Tanpa keduanya, pengalaman hanya berubah menjadi kenangan, bacaan hanya menjadi hafalan, dan pendidikan hanya berhenti sebagai ijazah. Sebaliknya, ketika seseorang terus bersedia mengakui bahwa masih ada sesuatu yang belum ia pahami, setiap perjumpaan dapat menjadi kesempatan untuk memperluas cara berpikirnya.
Kosmos memang tidak pernah membagikan segala sesuatu secara merata. Ada yang lebih cepat memahami matematika, ada yang lebih mudah memainkan musik, ada yang lebih kuat secara fisik, ada pula yang sejak awal lebih mudah mengolah kompleksitas. Kenyataan itu sama tuanya dengan manusia sendiri.
Namun permainan tidak berhenti ketika kartu dibagikan.
Selama manusia masih bersedia belajar, membaca, bekerja, berdiskusi, mengalami kegagalan, memperbaiki kesalahan, dan membuka diri terhadap pandangan yang belum pernah ia temui, selalu ada kemungkinan untuk memperluas dunia yang dapat ia pahami. Jurang itu mungkin tidak pernah benar-benar hilang. Tetapi ia dapat menjadi cukup sempit sehingga percakapan tidak lagi mustahil, kerja sama menjadi lebih mungkin, dan manusia yang memandang dunia dengan cara berbeda tetap dapat membangun sesuatu bersama.
Barangkali itulah satu-satunya jembatan yang benar-benar layak dibangun. Bukan jembatan yang menghapus perbedaan, melainkan jembatan yang membuat perbedaan tidak lagi menjadi alasan untuk berhenti saling memahami.
Catatan Kaki
¹ Pendidikan
Pendidikan dalam esai ini tidak dipahami sebatas sekolah atau perguruan tinggi. Yang dimaksud adalah seluruh proses belajar yang melatih manusia mengenali pola, berpikir abstrak, menyusun argumen, dan memecahkan persoalan. Berbagai penelitian dalam psikologi perkembangan dan ilmu kognitif menunjukkan bahwa pendidikan yang baik tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mengubah cara seseorang mengolah informasi. Gagasan ini dapat ditemukan, antara lain, dalam pemikiran Lev Vygotsky tentang perkembangan kognitif melalui interaksi sosial, Jean Piaget mengenai perkembangan struktur berpikir, Richard E. Nisbett dalam Intelligence and How to Get It, serta Stanislas Dehaene dalam How We Learn.
² Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan kognitif pertama yang ditemui setiap manusia. Percakapan sehari-hari, kebiasaan bertanya, cara orang tua merespons rasa ingin tahu anak, hingga jumlah kosakata yang diperkenalkan sejak usia dini memberi pengaruh terhadap perkembangan kemampuan berpikir. Salah satu penelitian yang banyak dibahas adalah karya Betty Hart dan Todd R. Risley mengenai perbedaan lingkungan bahasa pada masa kanak-kanak. Meskipun beberapa angka dalam penelitian tersebut kemudian diperdebatkan, gagasan pokoknya tetap memperoleh banyak dukungan: kualitas interaksi di rumah memiliki pengaruh nyata terhadap perkembangan kemampuan kognitif.
³ Bacaan
Membaca bukan sekadar menambah informasi. Setiap bacaan memperkaya jaringan konsep yang dimiliki seseorang sehingga pengetahuan baru lebih mudah dihubungkan dengan pengetahuan yang telah ada. Semakin luas jaringan itu, semakin banyak kemungkinan hubungan yang dapat dibangun ketika menghadapi persoalan baru. Keith E. Stanovich menjelaskan bagaimana kebiasaan membaca menciptakan efek akumulatif yang dikenal sebagai Matthew Effect, sementara Stanislas Dehaene menunjukkan bagaimana aktivitas membaca secara bertahap membentuk dan mengubah jaringan saraf di otak.
⁴ Pengalaman
Tidak semua pengalaman menghasilkan pembelajaran. Pengalaman baru menjadi sumber perkembangan ketika seseorang bersedia merefleksikannya, menghubungkannya dengan pengetahuan yang telah dimiliki, lalu merevisi pemahamannya bila diperlukan. David A. Kolb mengembangkan gagasan ini melalui teori Experiential Learning, yaitu bahwa pembelajaran lahir dari siklus pengalaman, refleksi, konseptualisasi, dan percobaan kembali.
⁵ Lingkungan
Manusia berpikir di dalam sebuah ekosistem. Lingkungan yang kaya akan percakapan, buku, keberagaman gagasan, serta kesempatan untuk mencoba dan gagal memberi lebih banyak bahan bagi pikiran untuk diolah. Sebaliknya, lingkungan yang miskin stimulasi cenderung membatasi variasi pengalaman yang dapat diproses. Urie Bronfenbrenner melalui Ecological Systems Theory menunjukkan bahwa perkembangan manusia merupakan hasil interaksi berlapis antara individu dan lingkungan sosialnya.
⁶ Percakapan
Percakapan bukan sekadar pertukaran informasi. Percakapan yang sehat memaksa seseorang menguji asumsi, menemukan kelemahan argumennya sendiri, dan melihat hubungan yang sebelumnya luput dari perhatian. Philip E. Tetlock menunjukkan bahwa kemampuan mempertimbangkan berbagai sudut pandang berkaitan erat dengan kualitas penalaran dan pengambilan keputusan. Berbagai penelitian mengenai dialog kolaboratif juga menunjukkan bahwa diskusi yang terbuka dapat memperkaya representasi mental terhadap suatu persoalan.
⁷ Rasa ingin tahu dan kerendahan hati intelektual
Rasa ingin tahu membuat seseorang terus mencari informasi baru. Kerendahan hati intelektual membuatnya bersedia mengubah keyakinan ketika berhadapan dengan bukti yang lebih baik. Keduanya merupakan pasangan yang sulit dipisahkan. Tanpa rasa ingin tahu, pengetahuan berhenti bertambah. Tanpa kerendahan hati intelektual, pengetahuan baru hanya dipaksa menyesuaikan keyakinan lama. Dalam dua dekade terakhir, intellectual humility berkembang menjadi salah satu bidang penelitian tersendiri dalam psikologi. Di antaranya melalui karya Tenelle Porter, Elizabeth Krumrei-Mancuso, Mark Leary, dan Keith E. Stanovich yang menunjukkan bahwa kesediaan mengakui keterbatasan pengetahuan justru berkaitan dengan kualitas berpikir yang lebih baik.
⁸ IQ dan plastisitas kemampuan kognitif
Selama bertahun-tahun inteligensi sering dipandang sebagai kemampuan yang relatif tetap. Pandangan tersebut kini menjadi jauh lebih bernuansa. Penelitian mengenai neuroplastisitas menunjukkan bahwa otak terus membentuk dan memperkuat jaringan saraf sebagai respons terhadap pengalaman, pembelajaran, dan latihan. Di sisi lain, fenomena yang dikenal sebagai Flynn Effect memperlihatkan bahwa skor IQ rata-rata di banyak negara meningkat dari generasi ke generasi selama sebagian besar abad ke-20. Temuan ini menunjukkan bahwa lingkungan memiliki pengaruh nyata terhadap performa kognitif manusia.
Para peneliti masih berbeda pendapat mengenai seberapa besar peningkatan kemampuan tersebut dapat dicapai oleh setiap individu dan di mana batas-batas biologisnya. Karena itu, esai ini tidak berangkat dari anggapan bahwa semua orang dapat mencapai tingkat kemampuan yang sama. Gagasan yang digunakan jauh lebih sederhana: kemampuan kognitif bukan sesuatu yang sepenuhnya beku. Pendidikan, pengalaman, literasi, lingkungan, kesehatan, nutrisi, latihan berpikir, dan berbagai bentuk stimulasi intelektual dapat mengubah cara otak memproses informasi, meskipun besarnya perubahan berbeda pada setiap individu. Pembahasan lebih lanjut dapat ditemukan dalam karya James R. Flynn, Richard E. Nisbett (Intelligence and How to Get It), Stanislas Dehaene (How We Learn), serta Richard J. Haier (The Neuroscience of Intelligence).

Posting Komentar
...