Pertanyaan tentang bagaimana menguburkan dua belas watak bangsa yang pernah digambarkan Mochtar Lubis terdengar seperti pertanyaan politik, padahal sebenarnya itu pertanyaan kebudayaan. Bangsa tidak pernah berubah lewat undang-undang, karena undang-undang tidak menyentuh struktur batin. Yang berubah lewat undang-undang hanyalah prosedur. Yang mengubah bangsa adalah pertarungan etika, dan pertarungan itu jarang dimenangkan oleh retorika nasionalisme.
Untuk menguburkan watak yang membentuk republik ini seperti sedimen yang tak kunjung tererosi, diperlukan sesuatu yang lebih keras dari patriotisme dan lebih dingin dari romansa sejarah. Hal pertama adalah rasa malu. Bukan rasa malu yang sentimentil atau normatif, tetapi rasa malu yang sehat. Jepang modern tidak dibangun oleh kebanggaan, tetapi oleh rasa malu kolektif pascaperang. Jerman tidak menjadi negara demokratis karena seminar kebangsaan, tetapi karena kekalahan moral yang tidak bisa dinegosiasikan.
Rasa malu adalah energi moral paling kuat setelah rasa sakit. Kita belum sampai di sana. Yang kita punya baru rasa gengsi, yaitu kebanggaan tanpa prestasi. Gengsi membuat bangsa ingin dilihat hebat tanpa perlu menjadi hebat. Dan bangsa yang hidup dari gengsi tidak akan belajar, karena belajar berarti mengakui kekurangan.
Hal kedua adalah struktur yang memaksa. Karakter tidak berubah melalui ilham, tetapi melalui kebiasaan yang dipaksa berulang sampai menjadi alamiah. Para sastrawan dan pemikir boleh romantis, tetapi birokrasi modern tidak boleh. Weber sudah memahami hal ini jauh sebelum republik kita lahir: modernitas tidak membutuhkan kesalehan, ia membutuhkan disiplin prosedural. Kita terlalu kaya retorika untuk menjadi disiplin. Selama struktur tidak menghukum keterlambatan, ketidakrapian, dan ketidakmampuan, bangsa ini akan terus ramah terhadap ketidakteraturan. Dan selama ketidakteraturan tidak menyakitkan, ia tidak akan pernah hilang.
Hal ketiga adalah elit moral. Semua bangsa yang berhasil modern memiliki kelompok kecil yang menjadi penopang etika publik. Mereka bukan elit gelar, bukan elit birokrasi, bukan elit tamu undangan, tetapi elit etika. Di Prusia, mereka lahir dari etos Lutheran. Di Jepang, dari Bushido. Di Perancis, dari kaum republik sekuler pasca 1789. Di Amerika, dari tradisi civic association yang membuat warga biasa belajar mengatur dirinya sendiri. Elit moral bukan mereka yang mengajarkan kebangsaan dari podium, tetapi yang mempraktikkan standar etika tanpa menunggu tepuk tangan. Kita punya elit, tetapi sebagian besar mencari panggung. Itu membuat elit menulari rakyat, bukan mendidik mereka.
Hal keempat adalah pengalaman kekalahan yang tidak bisa ditertawakan. Ini yang paling sulit, sebab sejarah tidak peduli kenyamanan. Bangsa yang tidak pernah kalah serius tidak punya alasan untuk membenahi dirinya. Kita punya kemampuan luar biasa untuk mengubah tragedi menjadi meme, skandal menjadi talkshow, krisis menjadi roasting, dan kebobrokan menjadi bahan tawa. Humor adalah pelampung yang menyelamatkan dari tenggelam, tetapi pelampung juga membuat orang malas belajar berenang. Pada titik tertentu, bangsa ini membutuhkan kekalahan yang tidak dapat dijadikan lelucon. Kekalahan yang memaksa diam. Kekalahan yang membuat kita berhenti menjadi penonton dan mulai menjadi pelaku.
Jika kekalahan itu datang, dan sejarah hampir selalu memberi satu kesempatan, tugas terbesar bangsa adalah memastikan bahwa ia tidak belajar pelajaran yang salah. Karena sejarah tidak menjamin hikmah, ia hanya menjamin rasa sakit. Hikmah muncul hanya bila rasa sakit tidak disembunyikan dengan kebanggaan palsu, tidak dilarikan ke dalam mitos nasional, dan tidak diredakan dengan humor. Barulah dua belas watak itu dapat dikuburkan. Dan mungkin untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, bangsa ini bisa berhenti mendandani citra dan mulai membentuk karakter. ( part 4 of 5 )

Posting Komentar
...