Ada tempat-tempat yang sebenarnya sudah lama ditinggalkan, tetapi anehnya tidak pernah benar-benar pergi.
Jalurnya mungkin telah berubah. Pohonnya tumbuh makin besar, dan batu yang dahulu menjadi penanda barangkali telah tertutup lumut tebal. Sebuah bivak mungkin sudah lama lenyap, bahkan orang-orang yang pernah berada di sana telah berjalan jauh ke arah kehidupan masing-masing. Namun pada suatu waktu, ketika hujan turun membawa bau yang sama, atau ketika angin menyapu aroma tanah basah, sesuatu di dalam diri tiba-tiba bergerak. Tidak ada yang memanggil nama tempat itu, tetapi ingatan mengenalinya jauh lebih cepat daripada pikiran.
Mungkin begitulah sebagian tempat tinggal terbentuk di dalam diri manusia.
Rumah, dalam pengertian yang paling sederhana, adalah tempat seseorang kembali. Ada dinding, atap, pintu, ruang untuk meletakkan barang, tempat untuk memejamkan mata, dan alamat yang dapat ditunjukkan kepada orang lain. Tetapi manusia ternyata mempunyai kebutuhan akan rumah yang tidak seluruhnya dapat dipenuhi oleh bangunan fisik.
Ada ruang lain yang terbentuk perlahan di dalam dirinya—dari pengalaman yang berulang, dari orang-orang yang pernah berarti, dari ketakutan yang berhasil dilewati, dari kegagalan yang akhirnya dapat diterima, hingga dari nilai-nilai yang mula-mula hanya didengar lalu perlahan menjadi cara melihat dunia.
Ruang itu tidak memiliki alamat. Ia tidak dapat dibeli dan tidak tercantum dalam kartu identitas, tetapi seseorang dapat tinggal di dalamnya selama puluhan tahun.
Rumah semacam itu sering kali terbentuk pada masa yang bahkan tidak dianggap penting ketika sedang dijalani. Seorang anak muda berjalan berhari-hari di sebuah pegunungan bersama beberapa orang yang baru dikenalnya. Mereka membawa beban yang terlalu berat di punggung, tidur seadanya, memasak ketika hari mulai gelap, dan belajar bahwa sepotong pakaian kering pada malam yang dingin dapat terasa seperti sebuah kemewahan. Saat itu mungkin yang dipikirkan hanya satu hal: kapan perjalanan ini selesai.
Bertahun-tahun kemudian, justru masa itulah yang paling sering muncul ketika hidup terasa terlalu ramai.
Bukan karena gunung selalu lebih indah daripada kehidupan yang dijalani setelahnya, dan bukan pula karena masa muda selalu lebih baik. Bisa jadi masa itu penuh pertengkaran, kelelahan, keputusan buruk, bahkan ketakutan yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun. Tetapi di sana ada sesuatu yang kemudian sulit ditemukan di tempat lain: kehidupan terasa begitu jelas.
Ketika hujan turun, yang harus dilakukan adalah mencari tempat berlindung. Ketika air habis, yang harus dilakukan adalah mencari mata air. Ketika seseorang terluka, orang lain harus menolong. Ketika malam datang, api harus dijaga agar tetap menyala. Dunia memang keras, tetapi tuntutannya jujur dan tidak terlalu banyak berpura-pura.
Mungkin manusia sesekali merindukan dunia yang seperti itu. Bukan penderitaannya, melainkan kejernihannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, masalah jarang datang dengan bentuk yang begitu sederhana. Seseorang dapat duduk di ruangan yang nyaman dan tetap tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan hidupnya. Ia dapat memperoleh apa yang selama bertahun-tahun diinginkannya, namun justru merasa kosong ketika semuanya telah tersedia. Ia dapat dikelilingi banyak orang dan tetap merasa seperti sedang berada di tempat yang asing.
Di sinilah rumah psikologis mulai dapat dibedakan dari sekadar kenyamanan.
Kenyamanan adalah keadaan yang menyenangkan untuk ditempati, sementara rumah psikologis bekerja lebih dalam dari itu. Ia adalah tempat batin di mana seseorang mempunyai semacam rasa keteraturan: dunia mungkin tidak selalu baik, tetapi dunia masih dapat dipahami; hidup mungkin tidak mudah, tetapi dirinya tahu bagaimana harus berdiri di dalamnya.
Karena itu, rumah psikologis tidak selalu nyaman. Kadang ia justru terbentuk melalui kesulitan.
Seseorang dapat merasa paling dekat dengan dirinya sendiri ketika sedang mendaki dalam hujan, ketika harus menentukan arah dengan peta dan kompas, atau ketika sebuah keputusan harus diambil sebelum malam benar-benar turun. Di sana tidak ada banyak ruang untuk membangun citra. Tubuh yang lelah tidak terlalu pandai berbohong, rasa takut muncul tanpa perlu diberi nama, dan kemampuan seseorang terlihat secara telanjang dari apa yang dilakukannya ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana.
Pengalaman semacam itu meninggalkan sesuatu yang tinggal lebih lama daripada perjalanan itu sendiri. Bukan sekadar kenangan—sebab kenangan adalah sesuatu yang kita simpan, sedangkan rumah psikologis lebih mirip sesuatu yang kemudian ikut menyimpan manusia.
Ada pengalaman yang setelah bertahun-tahun menjadi semacam ukuran diam-diam. Ketika menghadapi persoalan baru, seseorang mungkin tidak sadar sedang membandingkannya dengan sesuatu yang pernah terjadi jauh sebelumnya. Ia pernah berada dalam keadaan yang lebih sulit dan ternyata mampu melewatinya. Ia pernah takut tetapi tetap melanjutkan langkah. Ia pernah kehilangan arah dan akhirnya menemukan jalan kembali. Ia pernah bergantung kepada orang lain, dan pernah pula menjadi orang yang diandalkan.
Pengalaman itu kemudian tidak lagi tinggal sebagai cerita tentang masa lalu. Ia menyerap menjadi cara seseorang menghadapi masa kini.
Rumah telah berpindah ke dalam tubuh.
Sebab itulah tidak semua orang mempunyai rumah psikologis yang sama. Dua orang dapat tumbuh dalam keluarga yang sama, belajar di tempat yang sama, bahkan mengalami peristiwa yang sama, tetapi membawa pulang sesuatu yang berbeda. Sebuah perjalanan yang bagi seseorang menjadi pengalaman tentang kebebasan, bagi orang lain dapat menjadi pengalaman tentang ketakutan. Sebuah persahabatan dapat menjadi tempat tumbuh bagi satu orang, sekaligus menjadi sumber luka bagi yang lain.
Tempat tidak dengan sendirinya menjadi rumah. Manusialah yang perlahan memberinya arti, dan arti itu kemudian balik membentuk manusia.
Itulah sebabnya rumah psikologis tidak dapat dicari hanya dengan melihat ke belakang. Ia bukan sekadar nostalgia terhadap masa yang telah lewat. Nostalgia sering kali menghaluskan masa lalu, membuang sebagian duri dan menyisakan cahaya yang enak dikenang. Rumah psikologis tidak selalu bekerja seperti itu. Ia dapat membawa bagian-bagian masa lalu yang tidak menyenangkan sekalipun.
Seseorang dapat merasa bahwa sebuah tempat adalah rumah justru karena di sana ia pernah gagal, pernah dimarahi, pernah merasa tidak mampu, pernah hampir menyerah, atau pernah menyadari bahwa dirinya tidak sehebat yang dibayangkan. Anehnya, pengalaman seperti itu kadang menjadi bagian paling kuat dari rumah batin.
Sebab manusia tidak hanya membutuhkan tempat untuk mengingat keberhasilannya. Ia juga membutuhkan tempat di mana kegagalannya dapat ditempatkan tanpa harus terus-menerus menyangkal bahwa hal itu pernah terjadi.
Mungkin karena itu beberapa orang tetap menyimpan benda-benda yang bagi orang lain tampak tidak berguna: sepatu lapangan yang sudah aus, peta yang kusut di lipatannya, carabiner yang tidak lagi dipakai, sepotong kain tua, foto yang agak buram, atau catatan dengan tulisan tangan yang hampir tidak terbaca. Benda-benda itu tidak berharga karena wujud fisiknya, melainkan karena ia bekerja sebagai pintu. Di baliknya, ada seseorang yang pernah menjadi dirinya sendiri dengan cara tertentu.
Manusia sering kali tidak merindukan tempat sebanyak ia merindukan dirinya yang pernah ada di tempat tersebut.
Ini mungkin menjelaskan mengapa seseorang dapat kembali ke sebuah lokasi setelah bertahun-tahun dan merasa asing. Tempatnya masih ada, tetapi sesuatu tidak lagi sama. Jalan yang dahulu terasa panjang kini dapat ditempuh dalam waktu singkat. Bukit yang dahulu tampak besar ternyata tidak sebesar yang tersimpan dalam ingatan. Pohon yang dulu terasa seperti penanda abadi mungkin sudah lama tumbang.
Yang berubah bukan hanya tempat itu. Orang yang datang kembali juga bukan lagi orang yang dahulu pergi.
Rumah psikologis ternyata dapat bertahan bahkan ketika bangunan fisiknya berubah, tetapi ia juga dapat mengalami keretakan ketika manusia yang menghuni ingatan itu sendiri telah berubah terlalu jauh.
Ada orang yang akhirnya tidak bisa lagi pulang ke rumah lamanya—bukan karena jalannya tertutup, melainkan karena dirinya sudah tidak lagi mempunyai kunci yang sama.
Namun itu tidak selalu berarti tragedi. Pertumbuhan memang kadang berarti meninggalkan sebuah rumah yang dahulu sangat diperlukan. Seorang anak harus meninggalkan rumah orang tuanya, seorang pendaki harus turun dari gunung, dan seseorang harus keluar dari kelompok yang pernah membentuknya. Sebuah kehidupan tidak mungkin terus-menerus tinggal dalam satu ruang batin tanpa berubah menjadi stagnasi.
Meski demikian, meninggalkan rumah tidak berarti menghapusnya. Ada bagian-bagian tertentu yang tetap terbawa.
Cara seseorang memperlakukan orang lain, cara menghadapi ketakutan, atau kebiasaan-kebiasaan kecil seperti memeriksa perlengkapan sebelum berangkat, memastikan orang terakhir tidak tertinggal, tidak mengambil sesuatu yang tidak diperlukan, atau tetap mencari jalan ketika keadaan mulai kacau—hal-hal semacam itu terus terbawa jauh setelah gunung tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Rumah psikologis bekerja dengan cara yang sunyi. Ia tidak selalu bersuara dan mengatakan dari mana ia berasal. Ia hanya membuat seseorang bertindak dengan cara tertentu ketika tidak ada seorang pun yang sedang mengawasinya.
Mungkin itulah bentuk rumah yang paling dalam: bukan tempat seseorang merasa paling nyaman atau paling hebat, melainkan tempat yang telah begitu lama membentuk dirinya sehingga ia tidak lagi dapat memisahkan mana yang berasal dari rumah itu dan mana yang memang sejak awal merupakan bagian dari dirinya.
Dan barangkali manusia memang tidak pernah hanya mempunyai satu rumah.
Ada rumah masa kanak-kanak, rumah persahabatan, rumah intelektual, rumah yang dibangun oleh seseorang yang pernah mencintai kita, rumah yang lahir dari penderitaan, hingga rumah yang ditemukan di sebuah perjalanan panjang. Ada rumah yang hanya berlangsung beberapa tahun tetapi meninggalkan bekas lebih dalam daripada tempat yang dihuni sepanjang hidup.
Sebagian rumah bertahan, sebagian runtuh, sebagian ditinggalkan, dan sebagian baru disadari keberadaannya setelah kita berjalan terlalu jauh.
Seperti pendaki yang tidak selalu tahu kapan sebuah tempat telah menyatu menjadi bagian dari dirinya, manusia hanya berjalan terus—membawa beban di punggung, meninggalkan jejak, melewati tanjakan, menuruni lembah, kehilangan arah lalu menemukan kembali jalannya. Baru bertahun-tahun kemudian, ketika hidup terasa terlalu asing, ia menyadari bahwa ada sebuah tempat yang selama ini ikut berjalan bersamanya.
Ia tidak terlihat dan tidak dapat ditunjukkan di peta, tetapi ketika dunia menjadi terlalu luas, ia tahu ke mana harus pulang.

Posting Komentar
...