Tidak ada rapat yang biasanya dimulai dengan kalimat, “Mulai hari ini kita akan membangun rumah psikologis bersama.” Rumah semacam itu tumbuh tanpa denah.
Orang-orang datang membawa rumahnya masing-masing. Mereka membawa cara memandang dunia, pengalaman masa lalu, rasa takut yang berbeda, kebiasaan yang tidak sama, hingga ukuran masing-masing tentang apa yang dianggap penting. Pada awalnya mereka mungkin hanya kebetulan berada di tempat yang sama—sebuah perjalanan, sebuah pekerjaan, atau sebuah kelompok kecil yang harus menyelesaikan sesuatu bersama dalam rentang beberapa hari, beberapa bulan, atau bertahun-tahun.
Kemudian sesuatu mulai terjadi. Mereka mulai mengetahui satu sama lain tanpa perlu terlalu banyak bertanya.
Seseorang tahu kapan temannya sedang lelah hanya dari cara ia meletakkan ransel. Yang lain tahu bahwa orang tertentu akan selalu memeriksa perlengkapan dua kali sebelum berangkat. Ada yang paling banyak bicara ketika keadaan tegang, ada yang justru semakin diam, ada yang selalu menjadi orang terakhir sebelum semua berangkat, dan ada yang tidak pernah mengaku takut tetapi selalu berada paling dekat ketika orang lain membutuhkan bantuan.
Tidak ada aturan tertulis tentang semua itu, tetapi kelompok mulai mengenalinya. Dari pengenalan yang berulang itulah, sebuah *kami* perlahan terbentuk.
Mungkin kelompok pada awalnya hanyalah sekumpulan orang yang melakukan hal yang sama. Lama-kelamaan mereka berubah menjadi sekumpulan orang yang mengalami sesuatu dengan cara yang kurang lebih sama. Perbedaannya tampak kecil, tetapi sesungguhnya sangat penting.
Dua puluh orang dapat berjalan di jalur yang sama tanpa pernah menjadi sebuah kelompok. Mereka melihat gunung yang sama, hujan yang sama, kabut yang sama, bahkan tidur di tempat yang sama. Tetapi ketika mereka mulai memiliki pengalaman yang tidak dapat sepenuhnya dipahami oleh orang di luar lingkaran itu, sesuatu yang lain mulai lahir: sebuah ingatan bersama, sebuah bahasa bersama, dan sebuah cara bersama untuk memahami apa yang pernah terjadi.
Dan mungkin, pada suatu titik yang sulit ditentukan, terbentuklah sebuah rumah.
Ia tidak mempunyai dinding, tetapi memiliki batas. Orang yang berada di dalam tahu rasanya; orang yang berada di luar sering kali tidak.
Sebuah lelucon dapat menjadi contoh paling sederhana. Ada cerita yang jika disampaikan kepada orang luar tidak lucu sama sekali, bahkan mungkin terdengar bodoh. Tetapi orang-orang yang mengalaminya bersama dapat tertawa hanya karena satu kata.
Yang ditertawakan bukan kata itu, melainkan seluruh dunia yang tersimpan di belakangnya: ada malam tertentu, seseorang yang tersandung, keputusan yang keliru, hujan yang tidak berhenti, atau seseorang yang berkata sesuatu dengan wajah sangat serius pada saat yang sama sekali tidak tepat.
Cerita itu kemudian menjadi semacam benda kecil di dalam rumah. Setiap kali disebut, seluruh penghuni tahu di mana letaknya.
Begitulah kelompok menyimpan pengalaman. Ia tidak menyimpannya seperti arsip, melainkan melalui cerita, kebiasaan, lelucon, keheningan, panggilan tertentu, atau cara memandang seseorang. Pada akhirnya, sebuah kelompok mulai mempunyai ingatan yang tidak dimiliki oleh individu mana pun secara utuh.
Ini menarik karena ingatan kelompok tidak selalu sama dengan apa yang benar-benar terjadi. Satu kejadian dapat mengalami perubahan setiap kali diceritakan: bagian tertentu menjadi semakin jelas, bagian lain menghilang. Seseorang yang dahulu hanya kebetulan melakukan sesuatu kemudian menjadi tokoh penting dalam cerita. Sebuah keputusan yang pada saat itu diambil dengan ragu-ragu, bertahun-tahun kemudian dapat terdengar seperti langkah yang sejak awal memang sudah direncanakan.
Kelompok tidak hanya mengingat masa lalu; kelompok menulis ulang makna masa lalu agar sesuai dengan dirinya yang sekarang.
Di situlah rumah psikologis kelompok mulai mempunyai kekuatan. Sebuah pengalaman bersama perlahan berubah menjadi ukuran tentang siapa mereka.
“Kita pernah melewati itu.”
Kalimat semacam ini tampaknya sederhana, tetapi menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar. Ia mengatakan bahwa kelompok mempunyai masa lalu, pernah menghadapi sesuatu, dan yang paling penting: mempunyai kemampuan untuk melewatinya. Pengalaman yang dahulu mungkin hanya berupa kesulitan kemudian menjadi sumber keberanian bagi generasi berikutnya.
Seorang anggota baru mungkin tidak pernah mengalami malam ketika sebuah perjalanan hampir gagal. Ia hanya mendengar ceritanya. Tetapi cerita itu memengaruhi cara ia memahami kelompok tempat ia baru saja bergabung.
Ia belajar bahwa kelompok ini pernah berada dalam keadaan sulit dan tidak bubar. Ia belajar bahwa ada cara tertentu untuk menghadapi keadaan buruk. Ia belajar bahwa ketika seseorang tertinggal, orang lain menunggu—atau mungkin ia belajar sesuatu yang berbeda: bahwa dalam keadaan tertentu, seseorang harus mampu berjalan sendiri.
Semua itu tidak perlu dituliskan sebagai peraturan, melainkan diwariskan melalui cerita dan contoh. Rumah psikologis kelompok dengan demikian memiliki semacam pendidikan yang berlangsung tanpa kurikulum. Orang belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan, tetapi dari apa yang terus dilakukan.
Seorang anggota baru mungkin mendengar berkali-kali tentang pentingnya solidaritas. Tetapi pada satu malam ketika seorang anggota lain sakit dan semua orang tanpa banyak bicara mengubah rencana perjalanan agar ia dapat dibantu, nilai solidaritas tiba-tiba menjadi sesuatu yang konkret. Sebaliknya, seseorang dapat mendengar tentang kebersamaan setiap hari, namun menyaksikan bahwa ketika masalah muncul, yang kuat menyelamatkan dirinya sendiri dan yang lemah dibiarkan tertinggal.
Di sana pun sebuah rumah sedang dibangun. Rumah tidak selalu dibentuk oleh nilai yang diumumkan; sering kali ia dibentuk oleh nilai yang dipraktikkan ketika tidak ada yang sedang menjelaskan apa pun.
Karena itu orang baru biasanya membutuhkan waktu untuk benar-benar memahami sebuah kelompok. Ia dapat membaca aturan, mengikuti kegiatan, menghafal sejarah, dan mengetahui nama-nama orang. Tetapi semua itu belum membuatnya menjadi penghuni rumah.
Ia masih mengetuk pintu. Ia mengamati, melakukan kesalahan kecil lalu melihat bagaimana orang-orang merespons. Ia membuat lelucon dan melihat apakah orang lain tertawa. Ia menyampaikan pendapat dan melihat apakah pendapat itu diterima. Ia memperhatikan bagaimana senior berbicara kepada junior, bagaimana orang kuat memperlakukan orang lemah, bagaimana kelompok bereaksi ketika seseorang gagal, dan bagaimana mereka memperlakukan orang yang tidak lagi berguna bagi kepentingan kelompok.
Dari hal-hal kecil itu, ia mulai mengetahui aturan yang sebenarnya—bukan aturan yang tertulis, melainkan aturan yang hidup.
Mungkin inilah yang membuat sebuah kelompok dapat terasa seperti rumah bagi sebagian orang dan terasa asing bagi orang lain, meskipun semua berada di tempat yang sama.
Rumah psikologis kelompok tidak hanya dibangun dari kesamaan, tetapi juga dari kesediaan untuk menanggung perbedaan. Sebuah kelompok yang sehat tidak mengharuskan semua penghuninya mempunyai rumah batin yang sama persis. Mereka dapat berbeda dalam temperamen, pengalaman, kemampuan, bahkan cara memahami kehidupan. Yang membuat mereka menjadi *kami* bukan karena semua orang telah menjadi seragam, melainkan karena ada cukup banyak ruang untuk tetap berbeda tanpa harus keluar dari rumah.
Di sinilah sebuah kelompok diuji.
Ketika semuanya berjalan baik, hampir semua kelompok tampak harmonis. Persoalan muncul ketika seseorang melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kebiasaan kelompok: seseorang mempertanyakan keputusan yang selama ini tidak pernah dipertanyakan, memilih jalan yang berbeda, menolak melakukan sesuatu yang dahulu selalu dianggap biasa, atau bertanya, “Mengapa harus begitu?”
Pertanyaan kecil itu dapat terasa seperti seseorang memindahkan satu batu dari fondasi rumah. Kelompok dapat merespons dengan rasa ingin tahu, tetapi dapat pula merespons dengan pertahanan: “Dari dulu memang begini.”
Kalimat itu mempunyai dua kemungkinan. Kadang ia adalah cara sebuah kelompok mempertahankan pengetahuan yang sudah terbukti berguna. Namun kadang, ia hanya cara yang lebih sopan untuk mengatakan: jangan mengubah rumah kami.
Pada titik ini rumah psikologis kelompok mulai memperlihatkan sifatnya yang lain. Ia dapat menjadi tempat yang memberi rasa memiliki, tetapi juga dapat membuat penghuninya sulit melihat dunia di luar jendela.
Semakin lama orang hidup bersama, semakin mudah mereka membangun bahasa yang hanya dimengerti oleh mereka sendiri. Bahasa itu mempererat hubungan, tetapi sekaligus menciptakan jarak dengan orang luar. Mereka mulai mempunyai cara sendiri untuk menilai keberanian, standar sendiri tentang loyalitas, ukuran sendiri tentang siapa yang dapat dipercaya, dan cara sendiri untuk mengingat siapa yang pernah berjasa serta siapa yang pernah melakukan kesalahan.
Semua itu perlahan menjadi semacam moral internal—dan moral internal kelompok tidak selalu sama dengan moral yang berlaku di luar.
Seseorang dapat melakukan sesuatu yang dianggap sangat terhormat oleh kelompoknya, tetapi dipandang aneh oleh orang lain. Sebaliknya, tindakan yang secara umum dianggap wajar dapat dianggap sebagai bentuk pengkhianatan oleh kelompok.
Di sini rumah psikologis kelompok menjadi semakin jelas sebagai ruang makna. Bukan karena semua orang sepakat melalui kata-kata, melainkan karena mereka telah terlalu sering mengalami sesuatu bersama sehingga tidak perlu lagi menjelaskan mengapa sesuatu begitu berarti.
Namun rumah itu tetap bukan milik kelompok sepenuhnya; setiap orang membawa dirinya sendiri ke dalamnya.
Itulah sebabnya dua orang yang telah hidup dalam kelompok yang sama selama bertahun-tahun dapat keluar membawa sesuatu yang sangat berbeda. Yang satu membawa keberanian, yang lain membawa luka. Yang satu mengingat persahabatan, yang lain mengingat penghinaan. Yang satu merasa pernah menemukan keluarga, yang lain merasa pernah kehilangan dirinya sendiri.
Kelompok yang sama, rumah yang sama, tetapi pengalaman yang sama sekali tidak sama.
Mungkin karena itu tidak ada rumah psikologis kelompok yang benar-benar utuh. Ia selalu merupakan hasil tawar-menawar yang berlangsung diam-diam antara rumah-rumah individual para penghuninya. Kadang seseorang mengubah kelompok, kadang kelompok mengubah seseorang. Kadang keduanya saling memperkaya, dan kadang salah satunya harus menyerah.
Dan sesekali, ada orang yang datang membawa sesuatu yang begitu berbeda sehingga kelompok tidak dapat lagi menjadi rumah yang sama setelah kehadirannya. Tidak selalu karena ia lebih benar; kadang hanya karena ia membuka jendela yang selama ini tertutup.
Setelah jendela terbuka, orang-orang di dalam rumah mungkin melihat bahwa dunia ternyata lebih luas daripada yang mereka kira. Sebagian akan merasa lega, sebagian akan menutupnya kembali, dan sebagian lagi mungkin baru sadar bahwa selama ini mereka memang hidup di dalam sebuah rumah.
Sebelumnya, mereka hanya menyebutnya: kami.

Posting Komentar
...