Rumah yang Melindungi, Rumah yang Mengurung

     Ada rumah yang membuat seseorang berani keluar karena ia tahu selalu ada tempat untuk kembali. Ada pula rumah yang membuat seseorang takut keluar karena ia tidak lagi tahu siapa dirinya ketika berada di luar.

     Keduanya dapat dibangun dari bahan yang hampir sama: rasa memiliki, ingatan, kebiasaan, kesetiaan, pengalaman bersama, nilai yang diwariskan, dan orang-orang yang pernah berdiri di samping kita ketika keadaan menjadi sulit. Tidak ada yang tampak berbahaya dari semua itu. Justru sebaliknya, manusia membutuhkan sebagian besar hal tersebut agar dapat tumbuh.

     Masalahnya mungkin bukan pada rumahnya, melainkan pada saat seseorang mulai percaya bahwa dunia hanya ada sejauh yang terlihat dari jendelanya.

     Rumah psikologis memberikan sesuatu yang sangat penting: rasa bahwa seseorang tidak sepenuhnya sendirian menghadapi dunia. Ia mengetahui siapa dirinya, dari mana ia berasal, apa yang dianggap penting, dan bagaimana seharusnya menghadapi keadaan tertentu. Dalam hidup yang sering kali penuh ketidakpastian, kepastian semacam itu bukan kemewahan—ia adalah tempat bertumpu.

     Seseorang yang pernah melalui perjalanan panjang bersama orang lain membawa keyakinan bahwa kesulitan dapat dilewati. Ia pernah berada di tengah hujan, pernah kehilangan arah, pernah kehabisan tenaga, dan pernah melihat seseorang jatuh lalu bangkit kembali. Pengalaman itu menjadi semacam persediaan keberanian.

     Ketika kehidupan kemudian menghadirkan kesulitan dalam bentuk yang berbeda, ia tidak benar-benar memulai dari nol. Ada sesuatu di dalam dirinya yang berkata: pernah ada masa yang lebih sulit, dan waktu itu tetap berjalan.

     Rumah psikologis menjadi sumber daya dengan cara seperti itu: memberikan bahasa untuk memahami pengalaman, memberikan ingatan yang dapat dipakai ketika keberanian sedang tipis, memberikan orang-orang yang dapat diingat ketika kesepian datang, dan memberikan ukuran ketika dunia mulai terasa terlalu kabur.

     Namun, justru karena rumah memberi kepastian, ia juga dapat membuat ketidakpastian terasa mengancam.

     Seseorang yang terlalu lama hidup dalam sebuah pola dapat mulai menganggap pola itu sebagai kebenaran—bukan lagi sebagai salah satu cara hidup atau pengalaman yang pernah berguna, melainkan sebagai satu-satunya cara yang benar.

     Perubahannya sangat halus. Dahulu seseorang berkata, “Di tempat kami, kami terbiasa melakukan ini.” Lama-lama kalimat itu berubah menjadi, “Memang seharusnya begini.” Kemudian, tanpa disadari, menjadi: “Yang melakukan selain ini berarti tidak mengerti.”

     Sebuah kebiasaan telah berubah menjadi ukuran moral. Sebuah pengalaman berubah menjadi dogma, dan sebuah rumah perlahan menutup pintunya.

     Hal semacam itu dapat terjadi pada individu maupun kelompok. Seseorang dapat membangun rumah psikologis dari pengalaman masa lalu, kemudian menghabiskan hidupnya mempertahankan masa lalu itu. Ia merasa aman karena tahu bagaimana segala sesuatu seharusnya berlangsung, sehingga setiap perubahan terasa seperti ancaman terhadap dirinya sendiri.

     Padahal tidak semua perubahan adalah kehilangan; kadang perubahan hanyalah tanda bahwa rumah lama sudah tidak lagi cukup untuk menampung kehidupan yang baru.

     Namun manusia tidak selalu mudah menerima itu. Ada sesuatu yang menyakitkan ketika sebuah cara hidup yang dahulu menyelamatkan ternyata harus ditinggalkan. Sebab jika cara itu ditinggalkan, muncul pertanyaan yang lebih dalam: *Kalau bukan itu, lalu siapa aku?*

     Di situlah rumah psikologis dapat menjadi sangat mengikat. Seseorang tidak lagi hanya mempertahankan kebiasaan, ia mempertahankan identitas.

     Karena itu, kritik terhadap rumah dapat terdengar seperti serangan terhadap diri sendiri. Ketika seseorang mempertanyakan nilai yang selama ini dipegang, yang terdengar di dalam diri bukan hanya pertanyaan tentang nilai tersebut, melainkan ancaman terhadap seluruh kisah hidupnya. Itulah sebabnya orang dapat mempertahankan sesuatu bahkan ketika mereka sudah tahu bahwa hal itu tidak lagi bekerja—bukan karena mereka tidak mengerti, tetapi karena terlalu banyak bagian dari dirinya telah dibangun di atasnya.

     Hal yang sama terjadi dalam kelompok. Sebuah kelompok yang pernah mengalami masa sulit bersama dapat membangun solidaritas yang sangat kuat. Mereka belajar saling percaya karena keadaan pernah memaksa mereka untuk saling bergantung. Namun, pengalaman yang sama dapat melahirkan keyakinan bahwa orang luar tidak dapat dipercaya.

     Pada awalnya mungkin ada alasan yang nyata. Kemudian alasan itu dilupakan, sementara kesimpulannya tetap hidup.

     Orang baru dicurigai bukan karena apa yang dilakukannya, tetapi karena ia belum menjadi bagian dari *kami*. Pendapat dari luar dianggap tidak memahami keadaan, pertanyaan dianggap sebagai ketidaksopanan, dan perbedaan dianggap sebagai ketidaksetiaan. Kelompok pun perlahan menjadi semakin rapat.

     Semakin rapat, semakin aman; semakin aman, semakin sulit ditembus.

     Di sinilah paradoksnya: rumah yang terlalu pandai melindungi dapat membuat penghuninya tidak belajar menghadapi dunia di luar.

     Seorang anak yang selalu dilindungi dari semua kesulitan tidak otomatis menjadi kuat. Sebuah kelompok yang selalu menjaga anggotanya dari semua perbedaan juga tidak otomatis menjadi kokoh. Kekuatan bukan hanya kemampuan untuk bertahan di dalam lingkungan yang dikenal, melainkan juga kemampuan untuk bertemu dengan sesuatu yang tidak dikenal tanpa kehilangan seluruh pijakan.

     Itulah sebabnya rumah yang sehat seharusnya mempunyai pintu.

     Pintu bukan tanda bahwa rumah itu lemah. Justru sebaliknya, pintu memungkinkan seseorang keluar dan kembali, sementara jendela memungkinkan penghuni melihat bahwa ada dunia lain. Rumah yang baik tidak memerlukan dunia luar untuk menjadi kecil agar dirinya terasa besar.

     Tetapi dalam kehidupan nyata, rumah psikologis tidak selalu memiliki pintu dan jendela yang mudah dibuka. Ada rumah yang dibangun dari rasa malu, ketakutan, pengalaman ditolak, atau kebutuhan untuk selalu dianggap kuat.

     Seseorang mungkin bertahun-tahun hidup dengan keyakinan bahwa meminta bantuan berarti lemah. Ia menjadi orang yang selalu membawa bebannya sendiri. Orang lain melihatnya sebagai pribadi yang kuat, bahkan dirinya sendiri mempercayainya—sampai suatu hari ia tidak lagi mampu mengangkat sesuatu yang terlalu berat.

     Bukan tubuhnya yang pertama kali runtuh, melainkan aturan rumah yang selama ini ia bangun: *di sini tidak boleh meminta pertolongan.* Padahal mungkin justru pertolongan adalah bentuk keberanian yang belum pernah diajarkan kepadanya.

     Begitu pula dengan kelompok. Ada kelompok yang sangat bangga karena anggotanya tahan menghadapi kesulitan. Mereka terbiasa berjalan dalam kondisi berat, tidur seadanya, bekerja tanpa banyak keluhan, dan menganggap ketahanan sebagai ukuran karakter.

     Nilai itu dapat sangat berharga, tetapi ia dapat berubah menjadi sesuatu yang lain ketika penderitaan mulai dianggap sebagai bukti keaslian.

     Seseorang yang kesulitan dianggap kurang kuat, yang membutuhkan jeda dianggap manja, dan yang mempertanyakan metode dianggap tidak tahan ditempa. Akhirnya kelompok bukan lagi bertanya apakah sebuah kesulitan diperlukan, melainkan apakah seseorang cukup menderita untuk dianggap layak menjadi bagian dari mereka. Pada titik itu, rumah telah melakukan kesalahan yang cukup tua: mengira rasa sakit sebagai bukti cinta.

     Tidak semua luka adalah pendidikan. Tidak semua penderitaan membuat manusia lebih kuat.

     Ada penderitaan yang memang membentuk, tetapi ada pula yang hanya melukai. Membedakan keduanya membutuhkan keberanian yang berbeda dari sekadar kemampuan bertahan.

     Kemampuan bertahan adalah satu hal; kemampuan mengatakan bahwa sesuatu tidak lagi layak dipertahankan adalah hal lain. Sering kali yang kedua jauh lebih sulit. Mempertahankan rumah lama dapat memberi rasa bahwa seseorang setia kepada masa lalunya, sedangkan meninggalkannya dapat terasa seperti pengkhianatan. Seorang manusia dapat menghabiskan bertahun-tahun mencoba membuktikan bahwa keputusan yang pernah diambilnya benar hanya karena terlalu mahal untuk mengakui bahwa keputusan itu salah.

     Kelompok juga melakukan hal yang sama. Tradisi dipertahankan bukan karena masih berguna, melainkan karena terlalu banyak orang telah memberikan waktu dan tenaga untuk membangunnya. Cerita lama terus diulang karena cerita itu menjaga rasa kebesaran kelompok, dan kesalahan lama tidak dibicarakan karena dapat mengganggu gambaran tentang siapa mereka.

     Rumah kemudian menjadi museum: semua benda masih berada di tempatnya, tidak ada yang boleh dipindahkan, tidak ada yang boleh bertanya mengapa, dan penghuni baru akhirnya belajar berjalan pelan-pelan agar tidak menyentuh apa pun.

     Padahal rumah yang hidup seharusnya mengalami perubahan. Dinding dapat diperbaiki, jendela dapat diperbesar, dan ruangan dapat ditata ulang. Ada barang yang disimpan karena memang masih berarti, ada yang dibuang karena sudah tidak diperlukan, dan ada pula yang baru diketahui nilainya setelah bertahun-tahun.

     Demikian pula rumah psikologis. Kedewasaan mungkin bukan kemampuan untuk mempertahankan seluruh isi rumah, melainkan kemampuan mengetahui apa yang harus dibawa ketika pergi dan apa yang harus ditinggalkan.

     Tidak semua warisan harus diteruskan, tidak semua kebiasaan harus dihormati hanya karena sudah tua, tidak semua kesetiaan berarti bertahan, dan tidak semua perubahan berarti kehilangan identitas.

     Ada saat ketika seseorang harus membuka pintu dan menyadari bahwa rumahnya selama ini memang memberinya perlindungan, tetapi dunia ternyata tidak berhenti di halaman depan. Ia keluar—mungkin takut, mungkin merasa bersalah, mungkin masih menoleh berkali-kali—namun ia tetap berjalan.

     Yang menarik, ketika seseorang benar-benar memiliki rumah yang sehat, ia tidak perlu membakar rumah itu untuk pergi. Ia dapat meninggalkannya tanpa membencinya. Ia dapat mengakui bahwa tempat itu pernah menyelamatkannya, sekaligus mengakui bahwa tempat itu tidak lagi cukup.

     Dua hal yang tampaknya bertentangan itu dapat benar pada waktu yang sama. Sebuah rumah dapat berjasa pada masa lalu dan membatasi masa depan. Sebuah kelompok dapat membentuk seseorang dengan sangat baik dan pada saat yang sama meninggalkan luka. Sebuah nilai dapat pernah menyelamatkan hidup seseorang dan kemudian menjadi sesuatu yang harus ditinjau kembali.

     Tidak ada kontradiksi di sana; manusia memang hidup dengan lapisan-lapisan pengalaman yang tidak selalu tunduk pada logika sederhana.

     Mungkin itu sebabnya rumah psikologis tidak seharusnya diperlakukan sebagai tempat yang harus selalu dipertahankan. Ia lebih mirip tempat bertumbuh, dan tempat bertumbuh—jika benar-benar hidup—akan mengalami perubahan.

     Kadang penghuninya membutuhkan atap, kadang membutuhkan pintu, kadang membutuhkan jendela, dan pada suatu masa, membutuhkan keberanian untuk keluar.

     Sebab rumah yang paling baik bukan rumah yang membuat seseorang tidak pernah pergi, melainkan rumah yang membuat seseorang cukup aman untuk pergi tanpa kehilangan dirinya.


Sebuah rumah dapat berjasa pada masa lalu dan membatasi masa depan. Sebuah kelompok dapat membentuk seseorang dengan sangat baik dan pada saat yang sa

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.