Rumah yang Dibawa Pergi

     Ada orang yang pergi dari sebuah tempat dengan membawa koper.

     Ada yang pergi hanya dengan pakaian yang melekat di tubuhnya.

     Dan ada yang pergi dengan membawa sesuatu yang jauh lebih berat, meskipun tidak seorang pun dapat melihatnya: ia membawa cara berpikir, cara merasa, cara mempercayai orang, cara menghadapi ketakutan, cara menilai keberanian, hingga cara memandang kegagalan.

     Ia membawa suara-suara yang pernah didengarnya bertahun-tahun lalu, bahkan suara orang yang sudah lama tidak ditemuinya. Kadang suara itu membantu, kadang mengganggu, dan kadang baru terdengar kembali ketika ia berada dalam keadaan yang sangat sulit.

     Ia telah meninggalkan rumah, tetapi rumah belum meninggalkannya.

     Mungkin tidak ada cara lain. Manusia tidak pernah benar-benar pergi dari tempat yang telah membentuknya; ia hanya berhenti tinggal di sana secara fisik. Yang lain tetap berjalan bersamanya, kadang begitu halus sampai ia tidak menyadarinya.

     Seseorang yang pernah hidup dalam lingkungan yang mengajarkannya untuk selalu memeriksa keadaan sebelum bertindak mungkin akan terus melakukan hal itu ketika usianya sudah jauh lebih tua. Ia memeriksa pintu sebelum tidur, memeriksa keadaan orang lain sebelum mengambil keputusan, atau memikirkan kemungkinan terburuk sebelum berangkat.

     Bagi orang lain, itu mungkin hanya kebiasaan. Baginya, itu adalah cara hidup yang dahulu menyelamatkannya. Rumah telah berubah menjadi refleks.

     Ada pula orang yang membawa sesuatu yang lebih sulit: ia membawa ketakutan.

     Bukan lagi tempatnya yang membuat takut, melainkan aturan lama yang tertanam di dalam dirinya. Ia takut salah karena dahulu kesalahan selalu mendapat hukuman; ia takut meminta bantuan karena dahulu kelemahan dianggap sebagai beban; ia takut berbeda karena dahulu perbedaan membuatnya dikeluarkan dari lingkaran.

     Ia sudah pergi, tetapi ia masih hidup menurut aturan rumah lama.

     Inilah salah satu hal paling aneh tentang rumah psikologis: pintunya dapat ditinggalkan dalam satu hari, tetapi cara rumah itu bekerja di dalam diri dapat bertahan selama bertahun-tahun. Jarak fisik tidak otomatis menghasilkan jarak batin.

     Seseorang dapat pindah kota, mengganti pekerjaan, meninggalkan kelompok, bahkan membangun kehidupan yang sama sekali baru, tetapi tetap membawa struktur lama ke dalam kehidupan barunya. Ia mungkin tidak lagi mendengar suara siapa pun, namun suara itu telah menyatu menjadi suaranya sendiri.

     Pada titik tertentu, rumah lama tidak lagi membutuhkan penghuni lain untuk mempertahankan aturannya. Penghuninya telah menginternalisasikannya.

     Itu dapat menjadi hal yang baik. Nilai yang dahulu diajarkan oleh orang lain dapat berubah menjadi kompas pribadi. Seseorang tidak lagi membutuhkan orang lain untuk mengatakan bahwa orang yang tertinggal harus ditunggu; ia melakukannya karena memang begitulah ia memahami tanggung jawab.

     Tetapi hal yang sama dapat terjadi pada aturan yang buruk. Seseorang dapat terus menghukum dirinya sendiri meskipun tidak ada lagi orang yang menghukumnya, terus merasa tidak cukup meskipun tidak ada lagi yang meremehkannya, atau terus meminta izin kepada masa lalu untuk menjalani masa depan.

     Barangkali di sinilah perjalanan meninggalkan rumah yang sebenarnya dimulai—bukan ketika kaki menjauh dari pintu, melainkan ketika seseorang mulai bertanya: *apa saja yang sebenarnya kubawa?*

     Pertanyaan itu tidak selalu nyaman. Sebab ketika seseorang membongkar isi rumah psikologisnya, ia mungkin menemukan barang-barang yang tidak pernah ia pilih sendiri: keyakinan yang diwariskan, ketakutan yang dipelajari, kebiasaan yang dianggap normal hanya karena sejak awal menjadi bagian dari kehidupan, atau nilai yang ternyata begitu kuat sehingga ia mengira nilai itu berasal dari dirinya sendiri—padahal ia hanya belum pernah mengujinya.

     Tidak semua yang diwariskan harus dibuang. Justru tidak mungkin hidup tanpa warisan. Manusia selalu menerima sesuatu dari orang lain: bahasa, cara memperlakukan sesama, pengetahuan, cerita, kebiasaan, keberanian, bahkan cara memandang alam.

     Persoalannya bukan apakah seseorang membawa warisan, melainkan apakah ia pernah memilih kembali warisan tersebut setelah cukup dewasa untuk menilainya.

     Sebab ada perbedaan besar antara membawa sesuatu karena sadar memilihnya dan membawa sesuatu karena tidak pernah tahu bahwa benda itu dapat diletakkan.

     Seseorang dapat menghormati masa lalu tanpa harus tinggal di dalamnya. Ia dapat mencintai orang-orang yang pernah membentuknya tanpa harus mengulangi seluruh cara hidup mereka. Ia dapat berterima kasih kepada sebuah tempat tanpa menjadikannya ukuran untuk semua tempat lain, dan ia dapat mengakui bahwa sebuah kelompok pernah memberinya banyak hal tanpa menjadikan kelompok itu sebagai pengadilan terakhir bagi seluruh hidupnya.

     Mungkin kedewasaan bukan meninggalkan rumah, melainkan menjadi pemilik rumah atas diri sendiri.

     Ada perbedaan antara kedua hal itu. Seseorang dapat pergi jauh dan tetap menjadi penghuni rumah lama; sebaliknya, seseorang dapat tetap dekat dengan tempat asalnya tetapi sudah memiliki kebebasan batin untuk memilih apa yang ingin dibawa.

     Ia tidak perlu memutus semua hubungan, tidak perlu mengutuk masa lalu, dan tidak perlu membuktikan bahwa kehidupan baru lebih baik. Ia hanya mulai mampu membedakan: *yang ini masih milikku, yang itu pernah menjadi milikku, yang ini ternyata bukan milikku sejak awal, dan yang itu boleh kutinggalkan.*

     Kemampuan membedakan semacam itu merupakan salah satu bentuk kebebasan yang paling sunyi. Tidak ada upacara untuknya, tidak ada sertifikat, dan orang lain mungkin bahkan tidak menyadari bahwa sesuatu telah berubah.

     Tetapi seseorang tahu. Ia mendengar suara lama di dalam dirinya dan—untuk pertama kalinya—tidak langsung mematuhinya. Ia berhenti sejenak, mempertimbangkan, lalu memilih.

     Rumah psikologis yang sehat mungkin bukan rumah yang tidak pernah berubah, melainkan rumah yang memungkinkan penghuninya melakukan hal semacam itu. Ada ruang untuk menyimpan masa lalu tanpa diperintah olehnya, ada ruang untuk menerima orang lain tanpa kehilangan diri, ada pintu yang dapat dibuka, ada jendela yang memungkinkan dunia luar masuk, dan ada kemungkinan untuk memperluas rumah ketika kehidupan membawa pengalaman baru.

     Karena manusia tidak berhenti tumbuh hanya karena telah menemukan tempat yang terasa cocok. Justru kadang tempat yang terasa paling nyaman harus diperiksa kembali: apakah ia masih menjadi rumah, ataukah telah berubah menjadi benteng?

     Pertanyaan itu penting karena benteng dan rumah mempunyai fungsi yang berbeda: rumah memungkinkan seseorang hidup, sementara benteng memungkinkan seseorang bertahan.

     Ada masa ketika manusia membutuhkan benteng—ketika dunia sedang tidak ramah, ketika harus melindungi sesuatu yang penting, atau ketika ancaman datang terlalu dekat—dinding yang tebal memang diperlukan. Tetapi tidak seorang pun dapat hidup selamanya di dalam benteng tanpa membayar harga: udara menjadi terbatas, pandangan menjadi sempit, orang luar selalu terlihat sebagai ancaman, dan pada akhirnya, seseorang mungkin lupa bahwa dinding yang dahulu dibangun untuk melindungi dirinya kini juga menghalanginya melihat dunia.

     Rumah perlu memiliki kemampuan untuk berubah kembali menjadi rumah.

     Mungkin karena itu pergi tidak selalu berarti kehilangan; kadang pergi adalah cara untuk mengetahui apa yang sebenarnya berarti. Ketika seseorang masih berada di sebuah tempat, hampir semua hal terasa biasa: orang-orang yang setiap hari ditemui tidak tampak istimewa, jalur yang setiap minggu dilewati tidak terasa menyimpan apa-apa, dan kebiasaan yang terus diulang terasa seperti udara.

     Jarak mengubah semuanya. Baru ketika jauh, seseorang menyadari bahwa ada percakapan tertentu yang ternyata tidak pernah ia lupakan, ada suara langkah tertentu yang masih dapat dikenali dalam ingatan, ada seseorang yang dahulu dianggap hanya teman seperjalanan ternyata telah menjadi bagian dari cara dirinya memahami persahabatan, dan ada nilai yang dahulu dianggap biasa baru terlihat betapa besar pengaruhnya setelah bertemu dunia yang berbeda.

     Jarak tidak selalu menghapus rumah; kadang jarak justru membuat bentuk utuh rumah menjadi terlihat.

     Namun jarak juga membuka kemungkinan lain: seseorang mungkin menemukan rumah baru—bukan sebagai pengganti rumah lama, melainkan sebagai perluasan dirinya. Ia bertemu orang-orang dengan pengalaman berbeda, belajar cara hidup yang berbeda, dan memasuki ruang yang dahulu dianggap asing, hingga mendapati bahwa sesuatu yang dulu diyakini sebagai satu-satunya cara ternyata hanyalah salah satu cara.

     Rumahnya bertambah besar. Dinding lama tidak harus dihancurkan; sebuah ruangan baru saja ditambahkan.

     Begitulah manusia dapat berkembang tanpa harus mengkhianati seluruh masa lalunya.

     Ada masa ketika seseorang membutuhkan rumah yang membuatnya merasa diterima. Kemudian ada masa ketika ia membutuhkan rumah yang menantangnya. Ada masa ketika ia membutuhkan kelompok, ada masa ketika ia harus berjalan sendiri, ada masa ketika ia harus kembali, dan ada masa ketika ia harus menerima bahwa tempat yang dahulu menjadi rumah memang telah selesai menjalankan tugasnya.

     Tidak semua rumah dimaksudkan untuk dihuni selamanya; beberapa rumah memang dibangun untuk masa tertentu. Rumah masa kanak-kanak tidak seharusnya menampung seluruh kehidupan dewasa, rumah masa muda tidak harus menjadi ukuran bagi seluruh umur, dan rumah sebuah kelompok tidak harus menentukan seluruh identitas seseorang.

     Bahkan rumah yang pernah menyelamatkan seseorang mungkin suatu hari perlu ditinggalkan agar kehidupan dapat bergerak lebih jauh.

     Yang tinggal bukan rumahnya, melainkan apa yang telah dibentuk olehnya.

     Mungkin pada akhirnya manusia membawa terlalu banyak rumah di dalam dirinya: ada rumah yang terang, ada rumah yang gelap, ada kamar yang tidak pernah lagi dibuka, ada pintu yang masih dikunci, ada ruang yang telah direnovasi berkali-kali, dan ada sudut yang masih menyimpan bau hujan dari sebuah perjalanan puluhan tahun lalu.

     Dan mungkin tidak semuanya perlu dibereskan. Tidak semua masa lalu harus diselesaikan agar kehidupan dapat berjalan. Beberapa hal cukup ditempatkan—bukan dilupakan, bukan pula terus dihuni, hanya ditempatkan.

     Sehingga ketika suatu hari seseorang berjalan jauh dan tiba-tiba mencium bau tanah basah yang sama seperti bertahun-tahun lalu, ia tidak harus kembali. Ia dapat berhenti sebentar, mengingat, tersenyum—mungkin—lalu meneruskan perjalanan.

     Karena akhirnya ia memahami sesuatu yang dahulu belum ia mengerti: rumah tidak selalu merupakan tempat untuk kembali. Kadang rumah adalah tempat yang telah mengajarkan seseorang
bagaimana membawa dirinya ketika pergi.


Manusia tidak berhenti tumbuh. Kadang tempat yang terasa paling nyaman harus diperiksa kembali: apakah ia masih menjadi rumah, ataukah telah berubah m

Label:

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.