Formasi Sunyi

     Ada sesuatu yang memalukan dalam gagasan bahwa sebuah bangsa hanya akan belajar setelah hancur. Itu berarti bangsa itu tidak lagi memiliki martabat sejarah; ia hanya memiliki naluri bertahan hidup yang paling rendah. Setiap bangsa berhak untuk gagal, tetapi tidak semua bangsa berhak untuk menyerah sebelum mencoba. Dan karena itu mari kita berbicara tentang formasi sunyi—jalan yang tidak glamor, tidak heroik, tetapi juga tidak memalukan. Jalan yang tidak meminjam bahasa utopia, tidak berkubang dalam slogan, dan tidak membutuhkan romantisasi pengorbanan.

     Sejarah bangsa-bangsa selalu digerakkan oleh minoritas yang tidak berisik. Nietzsche menyebut mereka “aristokrasi jiwa”—bukan aristokrasi harta atau gelar, tetapi aristokrasi yang terbentuk dari disiplin, keberanian, dan kesabaran. Mereka bekerja terlalu dalam untuk diperhatikan dan terlalu lambat untuk dijadikan siaran langsung. Dalam tradisi Islam klasik, kita mengenal istilah rijâl al-ghaib, mereka yang berjalan tanpa nama. Dalam tradisi republik Prancis, mereka disebut corps intermédiaires, lapisan penghubung antara individu dan negara yang menjaga republik dari oligarki. Dalam dunia modern, istilahnya lebih sederhana: orang-orang yang tidak mencari tepuk tangan.

     Formasi sunyi dimulai dari individu yang menolak ketergesa-gesaan. Kita hidup di negeri yang mencintai hasil instan: gelar instan, jabatan instan, pencerahan instan, kesimpulan instan. Masyarakat kita lebih sering memuja performa daripada proses. Seorang penipu publik lebih dihormati apabila ia tampil percaya diri di depan kamera dibanding seorang pekerja jujur yang tidak pandai berbicara. Kita mengira kecerdasan adalah retorika, pengabdian adalah pencitraan, dan perubahan adalah trending topic. Padahal perubahan yang sesungguhnya selalu dimulai dengan ritme yang membosankan: bangun, bekerja, membaca, berpikir, mengulang. Bukan disiplin ideologis, tetapi disiplin ritmis.

     Musuh utama bangsa ini bukan oligarki, bukan kapitalisme buruk, bukan politisasi agama. Semua itu hanya gejala. Musuhnya lebih mendalam: mental “asal jalan”. Itu penyakit yang menghalangi bangsa dari membangun struktur yang tahan lama. Itulah yang membuat filsuf Italia seperti Antonio Gramsci begitu terobsesi pada “kebiasaan kolektif”—kebiasaanlah yang melahirkan hegemoni; bukan pidato. Dan sebelum seseorang bekerja pada kebiasaan kolektif, ia harus terlebih dahulu menundukkan kebiasaan buruk dalam dirinya sendiri. Tidak ada reformasi nasional yang dimulai sebelum reformasi pribadi.

     Namun satu individu tidak akan cukup. Formasi sunyi terjadi ketika orang-orang yang disiplin bertemu satu sama lain. Mereka tidak perlu banyak bicara. Mereka membaca lebih banyak daripada berbicara, dan berpikir lebih dalam daripada tampil. Mereka tidak mudah terjebak dalam teater politik yang dirancang untuk membuat kita lupa bahwa republik adalah kerja panjang, bukan tontonan. Namun para individu seperti ini sering terpecah, berjalan sendiri-sendiri dalam kota yang padat tapi kesepian. Formasi sunyi bukan organisasi—organisasi terlalu cepat berubah menjadi kompetisi posisi dan logo. Ia bukan gerakan massa—massa terlalu cepat mencari juru bicara karismatik. Formasi sunyi adalah jaringan kepercayaan kecil: dua orang di perpustakaan daerah yang saling bertukar buku; tiga mahasiswa di kamar kos yang berdiskusi tentang problem institusi; seorang perajin yang membaca buku ekonomi lalu mengubah cara ia mengajar muridnya; seorang guru desa yang mengajari siswanya mencintai presisi; seorang pekerja bengkel yang mulai mengajarkan disiplin kerja tanpa menggurui siapa pun.

     Mereka tidak memiliki manifesto. Yang mereka miliki adalah ritme, kontinuitas, dan kejelasan tujuan: memperbaiki cara berpikir dan cara bekerja. Hannah Arendt mengingatkan bahwa totalitarianisme lahir bukan dari kebencian ideologis semata, tetapi dari “ketidakmampuan berpikir”—inability to think. Oleh karena itu kemampuan berpikir bukan sekadar kegiatan intelektual, tetapi benteng politik.

     Formasi sunyi tidak berhenti pada gagasan. Ia membangun struktur. Struktur itu kadang sangat remeh bagi mata yang hanya mengukur hal-hal besar: datang tepat waktu, mematuhi tenggat, menolak menipu pelanggan, menahan diri untuk tidak mencuri uang publik walau bisa, menjaga kualitas sesuatu walau tidak ada yang melihatnya. Poin-poin seperti ini terdengar banal sampai kita menyadari bahwa negara-negara yang berhasil—Jepang, Finlandia, Korea Selatan—tidak mungkin eksis tanpa prasyarat banal tersebut. Nurcholish Madjid pernah mengatakan bahwa bangsa ini selalu berusaha memecahkan problem besar tanpa menyelesaikan syarat dasar. Kita ingin demokrasi tanpa hukum, meritokrasi tanpa etos, inovasi tanpa disiplin, kemakmuran tanpa industri. Tidak mengherankan jika hasilnya adalah sandiwara panjang yang melelahkan.

     Perubahan yang cepat selalu rapuh. Revolusi kadang memotong kepala, tetapi jarang membangun institusi. Yang lambat justru tidak bisa dibalikkan. Seseorang tidak bisa mengajari bangsa untuk menghormati waktu hanya melalui undang-undang; ia harus melatih orang-orang yang kelak akan berada di ruang rapat kementerian, forum desa, ruang kelas, studio seni, majelis hakim, laboratorium, bengkel kerja, dan meja redaksi. Tanpa panggung, tanpa bendera, tanpa narasi heroik. Mereka bukan “revolusioner”, mereka hanya manusia yang tidak bisa dibeli. Itu jauh lebih berbahaya bagi oligarki.

     Formasi sunyi tidak menjanjikan kemenangan. Ia hanya menjanjikan martabat dalam perjuangan. Itulah satu-satunya cara untuk tidak menjadi bangsa yang memalukan di hadapan sejarah. Sebuah bangsa dinilai bukan dari apakah ia menang, tetapi dari cara ia berusaha untuk tidak menjadi rendah. Dan jika kita bertanya siapa yang memulai, jawabannya selalu sama: yang pertama adalah orang yang berani berhenti menjadi bagian dari kebohongan kolektif. ( part 6 of 6 )


Mereka tidak memiliki manifesto. Yang mereka miliki adalah ritme, kontinuitas, dan kejelasan tujuan: memperbaiki cara berpikir dan cara bekerja.

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.