Apakah Bangsa Ini Akan Belajar

     Pertanyaan “apakah bangsa ini akan belajar sebelum terlambat, atau hanya akan belajar setelah kehilangan segalanya?” bukan pertanyaan intelektual. Itu pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh nasib. Tidak ada akademisi yang bisa menjawabnya dengan tenang, tidak ada pidato kenegaraan yang berani mengucapkannya tanpa sensor, dan tidak ada seminar nasional yang sanggup menyentuhnya tanpa membungkusnya dalam jargon-jargon yang dipilih agar tidak terlalu menyakitkan. Jawabannya tidak ada di perpustakaan, tetapi di ambang krisis: seberapa jauh sebuah bangsa dibiarkan jatuh sebelum ia merasa perlu bangun.

     Jika kita jujur, bangsa-bangsa tidak belajar karena mereka ingin. Mereka belajar karena tidak punya pilihan lain. Jepang tidak menjadi Jepang karena etos kerja yang menggetarkan jiwa dan budaya malu yang estetis. Jepang menjadi Jepang setelah Hiroshima dan Nagasaki dilumat dalam cahaya yang tidak bisa dilukiskan oleh mata. Jerman tidak berubah karena para filsufnya menemukan moralitas politik; Jerman berubah setelah Berlin menjadi puing dan rasa malu historis menempel di leher seluruh bangsa seperti noda yang tidak bisa dicuci. Korea Selatan tidak meloncat dari kemiskinan ke industri karena seminarnya bagus; mereka meloncat karena perang saudara dan kelaparan membuat masa depan tidak mungkin ditunda.

     Hannah Arendt pernah menulis bahwa revolusi bukan lahir dari idealisme, tetapi dari ketidakmungkinan untuk bertahan dalam kondisi lama. Marx menyebutnya dengan lebih telanjang: sejarah bukan digerakkan oleh gagasan besar, tetapi oleh kontradiksi yang memaksa. Camus menambahkan ironi dalam The Rebel: pemberontakan muncul bukan karena cinta terhadap perubahan, tetapi karena rasa sakit yang tak tertahankan. Dan rasa sakit adalah guru yang jauh lebih efektif daripada ceramah moral atau nasionalisme romantik.

     Indonesia belum mencapai titik itu. Kita masih bisa makan, masih bisa bercanda, masih bisa menikmati kopi yang dihidangkan dengan nama estetis dan harga yang dibuat untuk menenangkan ego kelas menengah. Kita masih bisa menggulir TikTok, masih bisa debat di ruang wacana, masih bisa memilih untuk marah hanya pada hal-hal yang aman. Dengan kata lain, rasa sakitnya belum cukup. Sejarah bangsa ini memberi kelonggaran yang ganjil: kita terluka, tetapi tidak sampai terkapar; tersandung, tetapi tidak sampai jatuh; kecewa, tetapi tidak sampai membenci; tertawa, tetapi tidak sampai menangis; marah, tetapi tidak sampai mengubah apa pun.

     Kita bangsa yang menunda. Dan penundaan itu bukan kebodohan, melainkan kebiasaan. Krisis sering disamarkan menjadi wacana. Skandal diubah menjadi drama. Bencana dijadikan momentum doa bersama. Korupsi dijadikan meme dan hiburan. Semua ini dibungkus dengan mantra pamungkas: “yang penting suasana tetap damai.” Tetapi sebenarnya yang kita sebut damai adalah sunyi yang malas. Damai yang sejati membutuhkan kerja keras, pengorbanan, disiplin, dan tekanan institusional. Yang kita pilih adalah kesunyian yang hanya berfungsi untuk menghindari konfrontasi.

     Namun tragedi sejarah tidak pernah mengizinkan kelalaian berlangsung selamanya. Apa yang ditunda pada akhirnya harus dibayar. Bangsa yang menolak belajar pada waktunya akhirnya dipaksa belajar dalam kesakitan. Mungkin bangsa ini harus kehilangan hutannya, sampai banjir mengambil alih kota-kota tanpa belas kasihan. Mungkin kita harus kehabisan batu bara dan minyak sebelum kita bertanya mengapa tidak membangun energi alternatif. Mungkin kita harus melihat anak-anak kita menjadi tenaga kerja murah dunia sebelum kita bertanya mengapa pendidikan hanya menjadi pabrik ijazah. Mungkin kita harus menyaksikan ibu kota tenggelam sambil para oligark memindahkan kekayaan mereka ke tempat aman. Mungkin kita butuh “Hiroshima versi kita,” bukan bom, tetapi kebenaran telanjang yang tidak bisa lagi ditutupi oleh musik pengiring optimisme.

     Sejarah selalu membalas kelalaian. Toynbee pernah menulis bahwa peradaban runtuh bukan karena ditaklukkan musuh, tetapi karena tidak mampu merespons tantangan. Dan di titik ini, bangsa ini mungkin tidak akan belajar sebelum terlambat. Itu pola historis kita. Itu juga pola banyak bangsa lain.

     Namun ada jalan ketiga yang terlalu sering dilupakan. Tidak optimis. Tidak pesimis. Tragis-heroik. Bangsa masih bisa belajar tanpa kehancuran total jika muncul sekelompok kecil manusia yang tidak mencari tepuk tangan, tidak mabuk kata cinta tanah air, tidak percaya pada revolusi instan, dan tidak berharap disiarkan televisi. Mereka bekerja dalam diam, menata struktur dari bawah, membentuk disiplin sebagai kebiasaan, bukan sebagai slogan, dan mengasah keahlian bersama tanpa pamer moral. Mereka tidak berbicara tentang bangsa di kafe-kafe; mereka membangunnya di bengkel, laboratorium, perpustakaan kecil, komunitas teknis, koperasi, ruang kerja, studio seni, atau sekolah yang diorganisir tanpa panggung.

     Itu bukan gerakan massa. Itu formasi sunyi. Ia tumbuh seperti akar pohon, yang bekerja jauh sebelum batangnya tampak. Ia mengingatkan pada Gramsci: pesimisme intelektual, optimisme kemauan. Atau pada Spinoza: kebebasan bukan perasaan, tetapi struktur. Perubahan besar tidak dimulai dari stadion yang penuh. Ia dimulai dari ruang sempit yang tidak disadari siapa pun. Lalu tiba-tiba, pada suatu hari yang tampak biasa, dunia menyadari bahwa sesuatu telah berubah.

     Jadi apa jawabannya? Bangsa ini cenderung hanya belajar setelah terlambat. Itu bukan ejekan. Itu pembacaan. Tetapi itu bukan takdir. Takdir bukan benda jatuh dari langit, takdir adalah kebiasaan yang dipelihara. Kebiasaan baru selalu dimulai dari sedikit orang yang menolak hidup dengan kebohongan bersama.

     Jika bangsa ini tidak kunjung merasakan sakit yang cukup, maka tugas sebagian manusia di dalamnya adalah menjadi kesadaran sebelum bencana datang. Itu bukan tugas glamor. Tidak ada panggung. Tidak ada medali. Tidak ada tepuk tangan. Hanya keheningan. Dan kesetiaan. ( part 5 of 6 )


Sejarah selalu membalas kelalaian. Peradaban runtuh bukan karena ditaklukkan musuh, tetapi karena tidak mampu merespons tantangan.

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.