Disiplin kolektif tidak pernah lahir dari moralitas, apalagi dari kebajikan yang dikultuskan dalam pidato-pidato kenegaraan. Ia lahir dari sesuatu yang lebih buas dan lebih jujur: ancaman. Jepang tidak menjadi Jepang karena etos kerja yang indah, Korea tidak menjadi Korea karena budaya malu yang dipoles estetika, Jerman tidak menjadi Jerman karena kecerdasan teknokratnya. Mereka menjadi seperti itu karena sejarah mengajarkan pelajaran yang tidak bisa ditolak: bila mereka tidak bekerja bersama, mereka mati bersama. Trauma kolektif menghasilkan sistem kolektif. Itu rumus yang dingin dan nyaris universal.
Bangsa-bangsa yang hari ini dipuji sebagai model kedisiplinan pernah dicabik habis oleh sejarah. Jepang kehilangan dua kota dalam kilatan nuklir, Jerman tenggelam dalam rasa malu pasca-Nazi, Korea Selatan pernah lebih miskin daripada banyak negara Afrika pada dekade 50-an, negara-negara Skandinavia dulunya adalah tanah kelaparan, bajak laut, dan perang antarkerajaan. Mereka semua pernah berada pada titik nol. Thomas Hobbes mungkin tersenyum getir dari dalam kuburnya, sebab inilah bentuk paling nyata dari kondisi yang ia sebut “bellum omnium contra omnes”—perang semua melawan semua—yang memaksa lahirnya Leviathan. Bedanya, Leviathan di sini bukan hanya negara, tetapi mental kolektif yang lahir dari ketakutan yang rasional.
Kontras dengan itu, bangsa yang tidak pernah benar-benar berada di ambang kepunahan tidak pernah merasakan urgensi membangun sistem. Indonesia adalah contoh yang terlalu sempurna untuk diabaikan. Ratusan tahun kolonialisme memang meninggalkan jejak, tetapi tidak pernah melahirkan kelaparan nasional yang memaksa bangsa ini berada pada pilihan biner: berdisiplin atau mati. Nusantara adalah surga biologis yang membebaskan manusia dari rasa takut terhadap alam. Tidak ada musim dingin, tanah subur di mana-mana, sungai memberi ikan tanpa teknologi, hujan datang tanpa koreografi, dan pohon berbuah tanpa ritual industrialisasi. Seperti kata Jared Diamond dalam Guns, Germs, and Steel, alam adalah arsitek utama sejarah manusia, dan bangsa-bangsa yang hidup di wilayah yang terlalu murah hatinya tidak pernah memiliki insentif evolusioner untuk menciptakan mesin sosial yang ketat.
Di Eropa Utara, kesalahan kecil dalam perencanaan bisa berarti kematian. Tidak menanam cukup gandum berarti kelaparan di musim dingin. Tidak menyimpan kayu berarti mati beku. Tidak berkoordinasi berarti desa musnah. Itu sebabnya Weber menulis tentang Etika Protestan dan semangat kapitalisme: karena rasionalitas ekonomi tumbuh dari rasa takut yang sangat konkret terhadap murka alam. Di Indonesia, gagal panen berarti pindah kampung. Sungai meluap berarti menunggu surut sambil bergurau. Tidak ada ikan berarti pindah perahu. Hidup tidak pernah menghukum rakyat dengan cara yang membuat mereka harus mengorganisir diri sampai derajat neurotik seperti yang terjadi pada Skandinavia atau Jepang.
Dalam kondisi seperti ini, kebudayaan pun beradaptasi. Bangsa yang hidup dalam ancaman membangun struktur sosial. Bangsa yang hidup dalam kelimpahan membangun seni retorika. Kita mengembangkan segala bentuk keluwesan sosial dan kelicinan diplomatik dalam skala mikro. Kita bertahan bukan dengan sistem, melainkan dengan jejaring informal. Kita lebih menghargai silaturahmi daripada aturan, lebih memuliakan suasana daripada prosedur, lebih memercayai orang dalam daripada institusi. Dan di sinilah letak perbedaan yang kerap memecah nalar bangsa: kebenaran di Eropa dan Jepang adalah struktur, sedangkan kebenaran di Nusantara adalah nuansa.
Retorika pun menjadi alat bertahan hidup. Ketika sistem tidak pernah bekerja secara konsisten, kata-kata mengambil alih fungsi kontrol sosial. Kita belajar menenangkan konflik dengan metafora, menunda masalah dengan senyum "tiba masa tiba akal", menghindari konfrontasi dengan peribahasa, mengelola frustrasi dengan kelakar, dan menggantung masa depan pada konsep “rezeki sudah ada yang atur.” Kearifan lokal tumbuh bukan sebagai institusi rasional, melainkan sebagai kompensasi terhadap absennya institusi rasional. Clifford Geertz melihat ini dengan cukup jeli ketika dia membedakan etika “santri”, “abangan”, dan “priyayi”, di mana struktur sosial tidak diatur oleh hukum, tetapi oleh estetika sosial dan simbolisme status.
Maka tidak heran bila budaya kita sangat mahir dalam improvisasi. Kita menjadi bangsa negosiator, bukan administrator. Kita jago menyelesaikan konflik antar-keluarga, tetapi kesulitan menyelesaikan konflik antar-institusi. Kita ahli dalam kompromi sosial, tetapi lemah dalam desain jangka panjang. Kita mampu menyelesaikan kecelakaan sosial secara ad hoc, tetapi gagal menciptakan infrastruktur yang mencegah kecelakaan itu terjadi lagi tahun depan. Inilah paradoks yang membuat banyak orang keliru menyangka bahwa keluwesan adalah kejeniusan. Padahal ia hanya adaptasi dari kenyamanan struktural.
Pada titik ini kesimpulan pahit mulai terbuka: kedisiplinan kolektif bukan ciri bangsa yang lebih tinggi moralitasnya. Ia hanya ciri bangsa yang pernah didesak sejarah ke tepi jurang. Sebaliknya, improvisasi bukan ciri bangsa yang bodoh. Ia hanya ciri bangsa yang terlalu lama dimanjakan alam. Disiplin muncul dari luka. Improvisasi muncul dari kelimpahan.
Indonesia belum terluka cukup parah untuk merasa perlu berubah. Kita belum mengalami kekalahan historis yang menceburkan kita ke trauma nasional. Kita hanya mengalami ambruk yang samar, lambat, mendatar, penuh tawa sinis. Kita masih bisa bergurau sambil kecewa, masih bisa berharap sambil menunda, masih bisa mencintai negara ini sambil membiarkannya bocor. Selama kita masih bisa tertawa, kita jarang merasa perlu membangun mesin sosial.
Namun sejarah tidak pernah kehabisan cara untuk membuat bangsa belajar. Dan gelombang sejarah selalu berubah lebih cepat daripada kesadaran kolektif. Itu sebabnya pertanyaan akhirnya lagi-lagi menjadi tidak dapat dihindari: apakah bangsa ini akan belajar sebelum terlambat, atau baru akan belajar setelah kehilangan segalanya? ( part 4 of 6 )

Posting Komentar
...