Ayah yang terhormat,
Terima kasih telah mengirimkan surat panjang tentang kerja keras, kesederhanaan, dan kejujuran. Surat itu indah, sungguh, hampir seperti poster motivasi yang akan laris di toko buku diskon. Tapi izinkan aku membalasnya dengan bahasa zaman ini, bahasa yang bukan sekadar dari lidah, tapi dari layar yang tak pernah mati.
Dulu, Ayah bilang “uang bukan segalanya”. Kini, algoritma telah membuktikan bahwa Ayah salah—bukan hanya salah, tapi usang. Karena tanpa uang, algoritma tak berdenyut. Ia mati, seperti ponsel tanpa baterai. Setiap iklan yang Ayah lewati di jalan, setiap video yang muncul di beranda kami, setiap notifikasi yang membuat jantung kami memompa lebih cepat—semuanya dipompa oleh nadi uang. Kami hidup di era di mana nilai manusia diukur dari seberapa sering ia muncul di linimasa orang lain, dan untuk itu, Ayah, kita harus membayar.
Ayah juga bilang uang tak bisa membeli harga diri. Mungkin benar, tapi uang berhasil membeli panggung tempat harga diri dipertontonkan. Ia membeli jangkauan, membeli perhatian, membeli kesempatan untuk didengar. Di dunia kami, sering kali orang yang berbicara paling keras bukan yang paling bijaksana, melainkan yang paling mampu membayar pengeras suaranya.
Kerja keras? Ah, itu konsep romantis. Di sini yang berlaku adalah kerja strategis—strategi untuk menembus sistem yang mengatur apa yang orang lihat, pikir, dan beli. Di dunia Ayah, bekerja keras berarti berkeringat. Di dunia kami, berkeringat itu pertanda kalah. Yang menang adalah mereka yang tahu kapan harus menekan tombol “boost post” atau kapan harus memancing algoritma dengan sedikit drama.
Ayah bilang tidak ada pekerjaan yang hina selama dilakukan dengan jujur. Barangkali benar. Hanya saja, algoritma tidak pernah bertanya apakah pekerjaan itu mulia. Ia hanya menghitung angka. Tukang tipu yang berhasil mengumpulkan jutaan perhatian sering kali lebih sering muncul daripada pekerja jujur yang diam-diam membangun dunia. Kami tidak mengatakan itu baik. Kami hanya sedang menjelaskan cara mesin memilih siapa yang layak dilihat.
Ayah percaya pada kesederhanaan. Di sini, kesederhanaan hanya tren musiman. Minimalisme pun dijual sebagai estetika yang memerlukan belanja. Bahkan rasa puas harus dibeli—melalui “premium subscription” yang menjanjikan hidup lebih lancar, bebas iklan, lebih cepat, lebih “you deserve this”.
Tentang hidup sederhana, kami bahkan diajari cara memamerkannya. Meja kayu, secangkir kopi hitam, buku yang sengaja dibiarkan terbuka, semuanya bisa menjadi konten. Kesederhanaan tetap ada, Ayah. Hanya saja sekarang ia harus fotogenik.
Ayah bicara soal kejujuran. Kami bicara soal “narasi yang dikurasi”. Kejujuran mentah di dunia ini terlalu berisiko; ia tidak ramah algoritma. Kami harus memoles kenyataan agar layak dibagikan, agar algoritma menganggapnya relevan. Dan relevansi, Ayah, adalah bentuk baru dari keberadaan. Tanpa relevansi, kita hanyalah file tak terbuka di folder yang terlupakan.
Ayah bilang nama baik adalah kekayaan yang tak bisa dicuri. Kami percaya. Masalahnya, di dunia kami nama baik sering kalah cepat dibanding fitnah yang koneksinya lebih kencang. Kebohongan sudah viral sebelum kejujuran sempat membuka aplikasi.
Jadi, Ayah yang baik, bukan berarti kami melupakan nilai-nilai Ayah. Kami hanya menyesuaikannya dengan zaman yang menganggap uang sebagai detak jantung, dan algoritma sebagai sistem saraf. Kami adalah generasi yang lahir dengan denyut digital di telinga. Kami tidak hanya hidup di bawah cahaya matahari, tapi juga di bawah sorot layar yang dingin, konstan, dan penuh perhitungan.
Kalau Ayah ingin kami kembali ke cara hidup Ayah, mungkin Ayah harus menulis ulang surat itu sebagai “konten viral” dan menyebarkannya melalui akun dengan minimal sejuta pengikut. Jangan lupa, Ayah, siapkan dana untuk iklan berbayar. Sebab di sini, nasihat pun butuh sponsor agar terdengar.
Dengan penuh rasa hormat dan sedikit auto-tune,
Anakmu,
Yang sedang online.

Posting Komentar
...