Selera Kecoa atau Kupu-kupu

     Ada sesuatu yang diam-diam kita sembunyikan di balik kata “moral”: selera.

     Kecoa tidak pernah diberi kesempatan untuk menjadi simbol keindahan. Ia datang dengan kaki-kaki yang terlalu cepat, tubuh yang terlalu gelap, dan kebiasaan hidup yang terlalu dekat dengan sisa. Ia bukan hanya “hidup”—ia mengganggu narasi kita tentang hidup yang bersih dan tertata. Maka ketika ia mati di bawah sandal, kita tidak merasa sedang membunuh makhluk hidup; kita merasa sedang merapikan dunia.

     Sementara kupu-kupu… ia hampir seperti lukisan yang kebetulan bernapas. Sayapnya membawa warna, geraknya pelan, tidak mengancam apa pun selain mungkin kesadaran kita sendiri bahwa dunia ini bisa indah tanpa alasan. Membunuhnya terasa seperti merusak puisi.

     Di situ, moralitas tersenyum tipis. Bukan sebagai hukum yang tegak lurus, melainkan sebagai sesuatu yang lentur, yang diam-diam tunduk pada estetika: apa yang indah kita lindungi, apa yang menjijikkan kita singkirkan, lalu kita beri label “benar” dan “salah” seolah-olah itu keputusan rasional.

     Padahal kalau ditarik lebih jauh, ini bukan sekadar soal kecoa dan kupu-kupu. Ini tentang bagaimana manusia menilai manusia lain. Yang rapi, yang fasih, yang “enak dilihat”—lebih mudah dianggap baik, bahkan sebelum ia melakukan kebaikan. Yang kasar, yang berisik, yang tidak sesuai selera—lebih cepat dicurigai, bahkan sebelum ia berbuat salah.

     Moralitas, dalam praktiknya, seringkali bukan hakim. Ia lebih mirip kurator galeri: memilih mana yang layak dipajang, mana yang disingkirkan ke gudang.

     Dan di titik itu, kita mulai melihat sesuatu yang agak tidak nyaman: bahwa rasa keadilan kita mungkin tidak sebersih yang kita kira. Ia berbaur dengan rasa suka dan tidak suka, dengan jijik dan kagum, dengan kebiasaan-kebiasaan yang kita warisi tanpa pernah benar-benar kita periksa.

     Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah moralitas punya standar estetika—itu hampir pasti iya.

     Pertanyaannya: berani tidak kita tetap menganggap sesuatu itu salah, bahkan ketika ia tampak indah? Dan sebaliknya, berani tidak kita mengakui nilai sesuatu, bahkan ketika ia tidak enak dilihat?

     Di situ moralitas mulai naik kelas—dari sekadar selera, menjadi kesadaran.

Moralitas, dalam praktiknya, seringkali bukan hakim. Ia lebih mirip kurator galeri: memilih mana yang layak dipajang, mana yang disingkirkan ke gudang

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.