Selama ini kita membayangkan “eko” dengan lanskap hijau yang tercabik, laut yang menelan plastik, udara yang menyimpan partikel halus seperti rahasia beracun. Kita menunjuk cerobong asap dan gergaji mesin sebagai biang keladi. Namun diam-diam kita telah pindah ke habitat lain—tak kalah padat, tak kalah riuh—yang tak berakar di tanah, melainkan di kabel serat optik dan pusat data. Sebuah ekosistem tanpa daun, tanpa burung, tetapi penuh server yang berdengung seperti koloni lebah mekanik. Di sana tidak ada kabut asap, tetapi ada kabut informasi. Tidak ada gunungan sampah organik, tetapi ada arsip tak berujung yang tak pernah benar-benar membusuk.
Kegelisahan jenis baru lahir dari ruang ini. Bukan dari suara pohon tumbang, melainkan dari notifikasi yang bergetar tanpa jeda. Dari linimasa yang melaju lebih cepat daripada kemampuan kita mencerna. Dari opini yang viral sebelum sempat diverifikasi. Jika dulu kita mencemaskan suhu bumi yang meningkat, kini kita juga menyaksikan suhu percakapan yang terus memanas—tanpa musim dingin untuk menenangkannya.
Sampah digital bukan kiasan yang dibuat-buat agar terdengar puitis. Ia nyata dalam bentuk unggahan tanpa arah, video singkat yang diproduksi demi algoritma, debat kosong yang dibungkus seolah-olah mendesak. Setiap potongan konten menambah lapisan kebisingan. Kita berenang dalam banjir informasi, dan seperti hukum banjir pada umumnya, yang paling ringan sering kali mengapung paling tinggi. Yang dangkal justru paling terlihat.
Di sinilah makna “eko” bergeser. Ekologi digital adalah jaringan relasi yang rumit: manusia, platform, algoritma, ekonomi perhatian, reputasi, identitas. Jika dalam alam kita mengenal polusi udara dan limbah plastik, dalam ruang digital kita berhadapan dengan polusi informasi dan limbah perhatian. Dampaknya tak menyesakkan paru-paru, tetapi menyesakkan pikiran. Kejernihan berpikir terkikis perlahan, seperti batu yang terus digerus arus.
Kisah seorang profesor yang dipersoalkan karena mengkurasi hal-hal remeh demi atensi receh hanyalah satu fragmen kecil dari lanskap yang lebih luas. Gelar akademik bukan hadiah undian. Ia lahir dari disiplin panjang, penelitian yang memakan usia, dan legitimasi yang—disadari atau tidak—ditopang oleh dana publik. Maka publik berharap kualitas tertentu. Bukan berarti seorang akademisi harus kaku dan steril dari humor, tetapi ada hirarki nilai yang secara moral diemban.
Masalahnya, algoritma tidak mengenal hirarki itu. Ia tak peduli siapa pemilik akun. Ia hanya membaca pola: apa yang membuat orang berhenti menggulir layar. Dalam mekanisme distribusi perhatian, gelar bisa menyusut menjadi ornamen. Yang dihitung adalah interaksi, bukan integritas. Engagement menjadi mata uang, dan pasar tidak pernah bertanya tentang kedalaman, hanya tentang daya tarik.
Di titik inilah eco anxiety digital menguat. Jika mereka yang semestinya menjadi jangkar intelektual ikut hanyut dalam arus receh, siapa yang menjaga mercusuar? Bila semua orang berlomba relevan dalam hitungan detik, siapa yang masih bersedia menulis panjang, berpikir lambat, dan menimbang argumen hingga matang? Kecemasan itu bukan sekadar keluhan generasi tua yang rindu sunyi; ia adalah kegelisahan melihat kualitas larut dalam kuantitas.
Waktu kita terbatas, tetapi ruang digital seolah tak berbatas. Setiap menit yang kita habiskan menatap layar adalah fragmen hidup yang tak kembali. Ketika fragmen itu diisi oleh konten yang tak meninggalkan jejak makna, ada rasa hampa yang sulit dijelaskan. Seperti makan tanpa nutrisi: kenyang, tetapi tak pernah benar-benar kuat.
Ada pula dimensi moral yang tak bisa diabaikan. Monetisasi, endorsement, adsense—semua sah sebagai cara mencari nafkah. Namun ketika seluruh ruang publik berubah menjadi etalase, dan setiap opini menyimpan potensi harga tersembunyi, integritas perlahan dinegosiasikan. Kita hidup dalam pasar atensi, dan pasar selalu mendorong yang paling laku, bukan yang paling benar.
Tetapi kita tak bisa berpura-pura suci. Kita penonton sekaligus pemasok energi bagi mesin yang kita kritik. Kita mengklik, membagikan, memberi reaksi. Kita mencela plastik, sambil tetap membawa tas belanja sekali pakai versi digital. Ekosistem ini bertahan karena partisipasi kolektif kita.
Kecemasan ini bukan sekadar kerinduan pada masa lalu yang lebih tenang. Ia lahir dari kegelisahan melihat batas antara ahli dan selebritas makin kabur, antara otoritas epistemik dan popularitas makin tipis. Ketika jumlah pengikut menjadi ukuran kebenaran, diskursus publik berubah menjadi arena adu sorak, bukan adu argumen.
Respons yang muncul sering kali ekstrem: menarik diri sepenuhnya dan menganggap internet tak lagi layak diselamatkan, atau sebaliknya, menyerang setiap gejala dengan kemarahan yang melelahkan. Keduanya tak menyembuhkan ekosistem; ia hanya menambah kebisingan.
Mungkin yang lebih mendesak bukan perang terbuka, melainkan disiplin sunyi. Kurasi diri. Puasa notifikasi. Keberanian untuk tidak selalu ikut bersuara. Dalam ekologi alam, kita belajar tentang keberlanjutan. Dalam ekologi digital, kita perlu belajar tentang keberlanjutan perhatian—bagaimana menjaga agar energi mental tidak habis oleh hal-hal yang tak bernilai.
Seorang profesor, dosen, atau profesional memang manusia biasa, rapuh terhadap godaan yang sama. Namun simbol yang ia sandang bukan milik pribadi semata; ia adalah kontrak sosial. Ketika simbol itu kehilangan bobot, publik berhak mempertanyakan. Bukan untuk membungkam, melainkan untuk mengingatkan bahwa setiap peran membawa tanggung jawab.
Eco anxiety digital mungkin tak membakar hutan, tetapi ia membakar konsentrasi. Ia tak mencairkan es di kutub, tetapi mencairkan standar mutu. Ia tak menenggelamkan kota pesisir, tetapi bisa menenggelamkan kedalaman berpikir.
Kita tak mungkin keluar sepenuhnya dari dunia digital; itu ilusi. Pertanyaannya lebih jujur: bagaimana tinggal di dalamnya tanpa berubah menjadi limbahnya? Bagaimana memproduksi makna, bukan sekadar kebisingan?
Barangkali kedewasaan berikutnya bukan hanya soal menurunkan emisi karbon, tetapi juga menurunkan emisi kata-kata yang tak perlu. Bukan hanya menanam pohon di tanah, tetapi menanam jeda di antara unggahan. Bukan hanya mengurangi plastik, tetapi mengurangi impuls untuk selalu tampil.
Pada akhirnya, baik hutan maupun linimasa adalah ruang hidup. Dan ruang hidup yang terus dipenuhi sampah—apa pun bentuknya—akan membuat penghuninya sesak. Kita bisa memilih menjadi bagian dari penumpukan itu, atau menjadi penjaga kecil yang merawat kebersihan makna. Pilihan itu sunyi, tetapi dampaknya nyata.

Posting Komentar
...