Ada sesuatu yang ganjil dalam cara manusia mencintai.
Ketika seseorang masih hidup, ia terasa seperti waktu yang tidak akan habis. Kehadirannya dianggap stabil, seperti langit yang selalu ada di atas kepala—tidak perlu dikejar, tidak perlu dipastikan. Kita menunda kunjungan, menunda percakapan, menunda kehangatan, seolah hidup menyediakan tombol “nanti” tanpa batas.
Lalu kematian datang, dan dengan kejam mematikan semua kemungkinan itu sekaligus.
Di situlah orang-orang berlari.
Bukan semata karena cinta yang tiba-tiba muncul, tapi karena kesadaran yang terlambat. Kematian mengubah status seseorang dari “masih bisa ditemui” menjadi “tidak akan pernah lagi.” Dan manusia, anehnya, jauh lebih responsif terhadap kehilangan daripada keberadaan.
Ada beberapa lapisan di balik fenomena ini.
Pertama, manusia hidup dalam ilusi kelimpahan waktu. Kita memperlakukan relasi seperti persediaan yang selalu bisa diambil nanti. Sampai tiba-tiba waktu itu dipotong. Kematian adalah pengingat brutal bahwa “nanti” adalah kebohongan paling halus yang sering kita pelihara.
Kedua, rasa bersalah. Banyak orang datang bukan hanya untuk menghormati yang meninggal, tapi untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Ada kalimat yang tidak sempat diucapkan, perhatian yang tidak diberikan, atau sekadar kehadiran yang ditunda terlalu lama. Di hadapan jenazah, semua itu berubah menjadi sunyi yang tidak bisa dijawab lagi.
Ketiga, tekanan sosial. Dalam banyak budaya, termasuk kita, hadir di saat kematian adalah bentuk kewajiban moral. Tidak datang terasa seperti pengkhianatan. Maka orang datang—kadang lebih karena takut dinilai, daripada dorongan hati yang jujur.
Keempat, kematian memberi makna yang tidak dimiliki kehidupan sehari-hari. Saat seseorang hidup, ia bercampur dengan rutinitas, konflik kecil, bahkan kejengkelan. Tapi ketika ia meninggal, semua itu disaring. Yang tersisa hanya narasi besar: “ia pernah ada.” Dan tiba-tiba, keberadaannya terasa penting.
Ironisnya, nilai seseorang sering baru terlihat utuh ketika ia sudah tidak bisa lagi merespons nilai itu.
Kalau mau jujur, ini bukan semata soal kemunafikan manusia. Ini juga soal keterbatasan kesadaran. Kita tidak dirancang untuk terus-menerus hidup dengan kesadaran bahwa segala sesuatu bisa hilang kapan saja—itu akan membuat kita lumpuh. Maka kita lupa. Kita menunda. Kita hidup seolah waktu jinak.
Sampai suatu hari, waktu menunjukkan taringnya.
Dan kita berlari.
Bukan untuk mereka yang sudah pergi—karena mereka sudah tidak membutuhkan apa-apa lagi—tetapi untuk diri kita sendiri, yang tiba-tiba sadar: ada sesuatu yang seharusnya dilakukan ketika masih ada kesempatan.
Mungkin yang lebih jujur bukan bertanya “mengapa orang baru datang saat kematian,” tapi: kenapa kita semua begitu mudah merasa masih punya waktu.
Dan pertanyaan itu, kalau dibiarkan menggantung, pelan-pelan bisa mengubah cara kita hidup—atau setidaknya, cara kita menunda.

Posting Komentar
...