Literasi yang Kehilangan Tubuhnya

     Kata literasi hari ini berjalan seperti spanduk di sebuah pawai panjang—besar, mencolok, mudah difoto, tetapi sering kali hampa di dalamnya. Ia diangkat tinggi-tinggi, dielu-elukan, dijadikan identitas kolektif yang terdengar mulia. Namun di balik gemanya, ada sesuatu yang pelan-pelan menguap: kesungguhan itu sendiri.

     Membaca, dalam bentuknya yang paling jujur, tidak pernah benar-benar cocok dengan keramaian. Ia adalah kerja sunyi. Ia menuntut waktu yang tidak singkat, kesediaan untuk tinggal lebih lama dalam kalimat orang lain, dan keberanian untuk mengakui bahwa pikiran kita bisa saja goyah. Membaca bukan sekadar menyerap, tetapi juga bersedia terguncang. Dan di situlah letak ketegangannya dengan dunia yang bergerak cepat. Algoritma menginginkan reaksi instan; membaca justru meminta kita melambat. Algoritma menyukai kepastian; membaca yang sungguh sering berakhir pada keraguan yang tidak nyaman.

     Di ruang yang serba cepat itu, lahirlah paradoks yang hampir lucu jika tidak terasa getir. Jargon literasi diproduksi dengan kecepatan tinggi, melampaui praktik membacanya sendiri. Buku berubah fungsi menjadi latar visual. Kutipan diambil sepotong, dipoles, lalu dilepaskan dari konteksnya seperti serpihan yang dianggap cukup mewakili keseluruhan. Judul dibaca seperti daftar menu—cukup tahu namanya, tanpa benar-benar merasakan isinya. Dari sana, opini pun dilahirkan dengan percaya diri.

     Yang pelan, yang sulit, yang menantang—perlahan ditinggalkan. Teks yang menggugat keyakinan, yang tidak ramah terhadap kenyamanan berpikir, menjadi sesuatu yang dihindari. Padahal justru di sanalah membaca menemukan martabatnya: ketika ia tidak menghibur, tetapi mengganggu.

     Ada pergeseran halus yang sering tak disadari. Orang yang sungguh membaca biasanya tidak semakin lantang, tetapi justru semakin hati-hati. Ia tidak terburu-buru menyimpulkan. Ia tidak alergi terhadap gagasan yang bertentangan dengan dirinya. Bahkan ia mencarinya, seolah sadar bahwa pikirannya hanya akan tumbuh jika berhadapan dengan sesuatu yang tidak ia sukai. Ia belajar bahwa memahami tidak selalu berarti setuju.

     Di titik itu, gagasan tentang “komunitas literasi” menjadi menarik sekaligus mencurigakan. Karena komunitas yang benar-benar hidup sering kali tidak terlihat seperti yang dibayangkan. Ia tidak selalu ramai, tidak selalu produktif dalam ukuran yang mudah diukur. Ia bisa kecil, sunyi, bahkan terasa membosankan bagi mereka yang terbiasa dengan ritme cepat. Anggotanya membaca sampai selesai sebelum berbicara. Mereka lebih sering bertanya daripada mengutip. Diskusi mereka tidak selalu menghasilkan sesuatu yang bisa dipamerkan.

     Namun justru dalam kesederhanaan itu, sesuatu yang lebih jujur sedang berlangsung. Literasi di sana bukan slogan, melainkan kebiasaan yang dijalani. Ia tidak membutuhkan pengumuman besar, karena ia tidak sedang mencari pengakuan.

     Barangkali ada satu tanda yang paling mudah dikenali: mereka yang benar-benar membaca jarang merasa perlu mengatakan bahwa mereka sedang membangun gerakan. Mereka hanya membaca, berpikir, berdiskusi, lalu menulis—perlahan, tanpa tergesa, tanpa kebutuhan untuk selalu terlihat.

     Seperti api kecil di dapur yang terus menyala. Tidak spektakuler, tidak mengundang kerumunan, tetapi cukup untuk mengolah sesuatu yang benar-benar bisa memberi makan.

     Dan mungkin memang di situlah letak kejujurannya. 

     Apa yang terlalu sering diumumkan biasanya sedang meminta perhatian. Apa yang benar-benar bekerja, justru sering memilih untuk diam.

Literasi dalam kesederhanaan itu bukan slogan, melainkan kebiasaan yang dijalani. Ia tidak membutuhkan pengumuman besar, karena ia tidak sedang mencar

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.