Retakan yang Menjadi Pintu

     Ada masa ketika hidup tampak seperti garis lurus: sekolah, kerja, prestasi, reputasi, keluarga, kontribusi. Semua bergerak seperti proyek yang rapi. Target ditetapkan, capaian diukur, kegagalan dihitung, keberhasilan dipamerkan secukupnya agar tetap tampak rendah hati. Dunia menyukai garis lurus; ia mudah dipahami, mudah dipuji.

Namun manusia tidak pernah benar-benar lurus.

     Di sela-sela kerapian itu, selalu ada retakan halus. Bukan ledakan. Bukan tragedi besar yang membuat dunia runtuh. Hanya semacam garis tipis yang muncul di permukaan batin—nyaris tak terlihat, tetapi terasa. Dan retakan itu bukan aib. Ia justru tanda bahwa hidup pernah dianggap sungguh-sungguh. Mereka yang hanya meluncur di permukaan jarang retak; mereka hanya aus, terkikis perlahan tanpa pernah sadar bahwa yang hilang bukan sekadar tenaga, melainkan kedalaman.

     Retakan pertama sering lahir dari waktu—musuh paling sopan sekaligus paling tak bisa diajak tawar-menawar. Waktu bekerja tanpa teriakan. Ia mengikis ilusi dengan elegan. Di usia muda, hidup terasa seperti proyek konstruksi besar: ada desain, ada puncak yang hendak dicapai, ada pembuktian yang membuat dada membusung. Tubuh patuh, ambisi riuh, masa depan terasa plastis, seolah bisa dibentuk sesuai kehendak.

     Lalu, tanpa pengumuman resmi, orientasi itu melemah. Bukan karena kegagalan. Justru karena kenyang. Yang dulu memacu kini terasa repetitif. Yang dulu memanggil kini terdengar seperti gema lama. Retakan muncul ketika hidup berhenti terasa sebagai “perjalanan menuju” dan berubah menjadi “keberadaan yang sedang berlangsung.” Tidak ada lagi sensasi mengejar; yang ada hanyalah berada.

     Pada titik itu, gunung—yang dahulu menjadi medan pembuktian—perlahan berubah fungsi. Ia bukan lagi tantangan untuk ditaklukkan, melainkan jam matahari batin. Di punggungnya, waktu menjadi kasatmata. Nafas terukur. Langkah melambat. Tidak ada yang bisa dinegosiasikan dengan usia; yang bisa dilakukan hanyalah berdamai dengannya.

     Retakan kedua sering tidak dramatis. Ia bernama krisis, tetapi tanpa suara ledakan. Ia hadir sebagai stagnasi yang samar, kebosanan yang tidak bisa dijelaskan, rasa tak lagi relevan di tengah peran-peran yang tetap berjalan otomatis. Dunia luar mungkin melihat kompetensi yang utuh. Tugas terselesaikan. Tanggung jawab terpenuhi. Namun di dalam, resonansi menipis.

     Ini jenis krisis yang berbahaya karena tidak membuat jatuh. Ia hanya membuat terlepas. Seseorang tetap berfungsi, tetapi tanpa urgensi eksistensial. Hidup dijalani dengan baik, namun tanpa getar.

     Di jalur pendakian, krisis semacam itu menjadi konkret. Lapar, dingin, lelah, takut—semuanya nyata dan jujur. Masalah-masalah abstrak yang di kota terasa besar tiba-tiba mengecil di hadapan tanjakan yang tidak kompromi. Tubuh memaksa pikiran turun dari menara konseptualnya. Anehnya, justru di situ ada kelegaan. Setidaknya ada sesuatu yang bisa dihadapi secara langsung.

     Retakan ketiga lahir dari pergeseran nilai. Nilai-nilai yang dahulu dibela mati-matian—prestasi, pengakuan, kecepatan, bahkan heroisme—memiliki masa pakai. Pada suatu titik, mereka tidak lagi sebanding dengan energi yang dikorbankan. Ini bukan pengkhianatan terhadap nilai lama. Ini evolusi yang sunyi.

     Masalahnya, nilai baru tidak datang bersamaan dengan runtuhnya nilai lama. Di antara keduanya ada ruang kosong. Di ruang inilah retakan menetap. Dunia tetap meminta performa, tetapi batin mulai menanyakan makna.

     Gunung tidak menawarkan nilai baru. Ia tidak memberikan manifesto. Ia hanya menghapus kebisingan. Di ketinggian, ketika sinyal melemah dan percakapan menyusut menjadi seperlunya, tersisa satu pertanyaan sederhana: apa yang masih penting ketika tidak ada yang perlu dipertahankan? Banyak orang menyebut pengalaman itu spiritual. Sering kali ia hanya bentuk paling jujur dari keheningan.

     Retakan berikutnya berasal dari kehilangan. Tidak selalu berupa kematian. Kadang berupa hilangnya peran yang dulu melekat, kesempatan yang tak kembali, atau versi diri yang dulu diyakini akan bertahan selamanya. Kehilangan semacam ini jarang dirayakan sebagai duka. Ia disimpan rapi agar hidup tetap terlihat normal.

     Yang paling menggerogoti bukan kehilangan itu sendiri, melainkan kehilangan yang tidak diberi ruang berkabung. Duka yang tidak sempat menjadi duka. Tubuh tetap berjalan, pikiran tetap bekerja, tetapi sesuatu di dalam tidak pernah benar-benar diberi izin untuk runtuh.

     Di kota, setiap jeda dicurigai sebagai kemalasan. Di gunung, diam adalah bahasa yang sah. Tidak ada tuntutan untuk produktif. Tidak ada kewajiban menjelaskan mengapa seseorang memilih menatap kabut selama satu jam penuh. Dalam ruang tanpa tuntutan itulah retakan kadang terbuka perlahan—bukan untuk diperbaiki, melainkan untuk diakui.

     Ada pula retakan yang lahir dari tuntutan yang tak pernah selesai. Dunia modern tidak menekan dengan cambuk; ia menekan dengan kontinuitas. Menjadi baik, menjadi berguna, menjadi relevan, menjadi stabil, menjadi berhasil—semua tanpa jeda, tanpa ritus pelepasan. Tidak ada momen resmi di mana seseorang diizinkan berkata: "cukup, bagian hidup ini telah ditunaikan."

     Pendakian, secara psikologis, menghadirkan sesuatu yang langka: struktur yang utuh. Ada berangkat, ada proses, ada puncak, ada kembali. Sebuah siklus lengkap. Sebuah ritus yang memiliki awal dan akhir. Di tengah hidup yang serba berlanjut tanpa garis penutup, pengalaman semacam ini menjadi katup tekanan yang hampir sakral.

     Dan akhirnya, ada retakan yang tidak bisa dijelaskan dengan krisis, kehilangan, atau tuntutan. Ia lebih mirip panggilan. Bukan suara yang menggema. Lebih seperti ketidakpuasan yang tenang. Sejenis kesadaran bahwa hidup bisa dijalani baik-baik saja tanpa harus kembali ke ruang sunyi, tetapi tetap ada dorongan untuk kembali.

     Panggilan ini tidak selalu indah. Ia tidak menjanjikan wahyu. Ia hanya mengajak menata ulang orientasi. Retakan di sini bukan luka, melainkan celah tempat cahaya masuk—bukan untuk menyilaukan, tetapi untuk menunjukkan ulang batas-batas diri.

     Jika semua sumber itu ditumpuk—waktu yang tak bisa ditawar, kejenuhan nilai lama, krisis sunyi, kehilangan yang tertunda, tuntutan tanpa akhir, dan panggilan yang tidak rasional—maka retakan bukan lagi gejala tunggal. Ia adalah persilangan banyak arus. Sebuah tanda bahwa manusia sedang bertransisi dari hidup sebagai proyek menuju hidup sebagai kehadiran.

     Gunung menjadi altar bukan karena ia sakral secara inheren. Ia hanya menyediakan kondisi minimum agar manusia bisa berdiri tanpa peran. Tanpa jabatan. Tanpa reputasi. Tanpa target. Hanya tubuh yang bernafas, langkah yang dihitung, dan langit yang tidak peduli pada riwayat hidup siapa pun.

     Di ruang seperti itu, retakan tidak perlu ditutup. Ia cukup dipahami sebagai pintu. Sebab yang retak bukan hidup itu sendiri, melainkan cara lama memahaminya. Dan ketika cara lama runtuh, yang lahir bukan kehancuran, melainkan kemungkinan untuk menjadi lebih utuh—tanpa harus kembali menjadi keras.

Retakan tidak perlu ditutup. Ia cukup dipahami sebagai pintu. Sebab yang retak bukan hidup itu sendiri, melainkan cara lama memahaminya.

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.