Altar di Punggungan

    Ada masa ketika langkah di gunung digerakkan oleh tenaga yang riuh. Ritme tubuh yang ingin membuktikan daya tahannya sendiri. Hasrat untuk pulang membawa cerita. Foto-foto yang disusun rapi, kisah yang diceritakan ulang di meja makan, rasa lega yang sulit dijelaskan tetapi nyata. Itu bukan kesalahan. Dalam bahasa biologi evolusioner, fase itu adalah pengujian dan penandaan—tubuh menguji batas, ego mengirim sinyal. Dalam bahasa antropologi, itu adalah ritus peralihan: seseorang meninggalkan dataran aman masa remaja dan kembali dengan identitas baru yang bisa ditunjukkan.

     Namun fase itu cepat kenyang. Bukti diri, seperti gula, memberi energi yang sebentar lalu habis. Puncak yang dulu terasa monumental pelan-pelan menjadi koordinat biasa di peta. Daftar gunung tidak lagi menyalakan api yang sama.

     Lalu terjadi pergeseran yang tidak gaduh. Dari ekstroversi eksistensial menuju kontemplasi yang lebih sunyi. Dari “ingin menunjukkan pernah ke sana” menuju “ingin mendengar apa yang tidak bisa didengar di sini.”

     Motif pun berubah bentuk. Bukan lagi status, bukan sekadar pelarian. Yang muncul adalah dua kata yang tampak berlawanan tetapi justru berdamai di jalur: kebersamaan dan kesendirian. Kebersamaan di langkah—tawa kecil, berbagi air, ritme yang disamakan. Kesendirian di kepala—ruang privat yang tidak bisa disentuh siapa pun, bahkan oleh sahabat seperjalanan.

Itu bukan lagi performa sosial. Itu laboratorium keberadaan.

     Tujuan geografis mulai memudar. Jawaban “menuju entah” menjadi lebih jujur daripada “menuju puncak.” Sebab yang dikejar bukan lagi titik tertinggi di peta, melainkan titik temu antara tubuh, pikiran, dan sesuatu yang lebih luas dari keduanya.

     Menariknya, klimaks tidak lagi diletakkan di puncak. Banyak pendaki muda menganggap puncak sebagai tempat gelar sosial dibagikan. Di sana ada foto, ada sorak, ada simbol kemenangan. Tetapi bagi yang sudah melewati fase itu, camp justru lebih menentukan. Camp adalah tempat waktu melambat. Tidak ada tepuk tangan alam. Tidak ada yang perlu ditaklukkan. Yang ada hanya tenda tipis, udara dingin, api kecil, dan malam yang panjang.

Di situlah hening bekerja.

Hening yang mengecilkan ego.
Absurd yang menolak memberi penjelasan.
Jernih yang tetap membuat dunia terlihat terang.

     Hening bukan kekosongan; ia adalah ruang tanpa komentar. Absurd bukan ancaman; ia hanya pengingat bahwa semesta tidak berkewajiban masuk akal. Dan kejernihan adalah kemampuan melihat semua itu tanpa tergesa menilai.

     Di fase ini, cerita tidak lagi menjadi komoditas. Pengalaman menjadi rahasia yang disimpan baik-baik, bukan untuk disembunyikan, tetapi untuk dirawat. Keinginan kembali ke gunung bukan untuk menambah daftar, melainkan untuk memperpanjang dialog yang belum selesai. Bukan dialog dengan orang lain, melainkan dengan keberadaan itu sendiri.

     Gunung pelan-pelan berhenti menjadi panggung. Ia berubah menjadi altar.

     Altar bukan soal dewa atau dogma. Altar adalah arah. Tempat seseorang menyetel ulang dirinya. Di altar, manusia tidak membuktikan apa-apa; ia menata ulang apa yang sudah retak. Tidak semua berani menyebut gunung sebagai altar, karena terdengar terlalu khusyuk di zaman yang gemar berisik. Tetapi yang pernah merasakan tahu: ada momen ketika berdiri di punggungan bukan lagi tentang pencapaian, melainkan tentang penyelarasan.

     Dari pola perjalanan semacam itu, lahir satu tipe yang tidak banyak tetapi konsisten: perakit makna sunyi.

     Ciri-cirinya jelas namun tidak mencolok. Motif tidak lagi status atau pelarian, melainkan penyelarasan batin. Puncak bukan tujuan; heninglah yang dicari. Pengalaman tidak diolah menjadi cerita yang dipamerkan, melainkan menjadi lapisan memori yang menebal diam-diam. Gunung menjadi altar, bukan panggung. Kembali ke kota bukan akhir perjalanan, melainkan undangan untuk menguji apakah penyelarasan itu bisa bertahan di antara klakson dan rapat.

     Dalam psikologi eksistensial, fase ini muncul ketika validasi eksternal kehilangan daya magisnya. Retakan keberadaan tidak lagi ditutup dengan prestasi atau pelarian. Ia dirapikan, diselaraskan, dibiarkan menjadi bagian dari struktur diri. Retakan tidak dihapus; ia diberi tempat.

     Dan mungkin seluruh perjalanan itu dapat dirangkum dalam satu kalimat sederhana: 'Pendakian bukan untuk menemukan siapa diri ini, melainkan untuk menemukan cara yang pantas untuk tetap ada.'

     Jika kelak anak-anak bertanya mengapa gunung begitu penting, jawabannya mungkin tidak perlu panjang. Cukup katakan bahwa ada tempat-tempat di dunia ini yang membuat manusia berhenti ingin menjadi sesuatu, dan mulai belajar menjadi apa adanya. Di tempat seperti itu, seseorang tidak sedang mencari ketinggian. Ia sedang mencari kejujuran.

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.