Formasi Tonasa

     Formasi Tonasa adalah salah satu tubuh geologi paling dominan di barat Sulawesi Selatan—sebuah bentang karbonat raksasa yang tak hanya menyusun lanskap, tetapi juga menyimpan riwayat laut purba yang panjang dan kompleks. Ia membentang luas dari Barru hingga Jeneponto, dari Pangkep hingga daerah-daerah yang kini tampak tenang oleh sawah, perbukitan kapur, dan alur sungai musiman. Nama “Tonasa” sendiri diambil dari wilayah Tonasa di Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep—sebuah penamaan yang diusulkan oleh geolog Rab Sukamto, dan sejak itu menjadi istilah baku dalam stratigrafi regional Sulawesi Selatan.

     Secara spasial, formasi ini mendominasi stratigrafi bagian barat Sulawesi Selatan dengan penyebaran mencapai ribuan kilometer persegi. Di Barru, khususnya sepanjang Sungai Palakka, lapisan-lapisannya tersingkap sebagai perselingan batugamping dan napal dengan ketebalan yang dapat mencapai sekitar 3000 meter—suatu akumulasi yang tidak mungkin terjadi tanpa kestabilan lingkungan pengendapan dalam rentang waktu geologi yang panjang. Singkapan penting lainnya ditemukan di Sungai Karama (Jeneponto), Ralla, Binuang (Balusu), Tabo-Tabo (Bungoro), hingga Mallasoro (Bangkala). Namun menariknya, penyebaran ini terhenti di sebelah timur Sesar Walanae; di sana, Formasi Malawa lebih dominan, seolah batas struktural menjadi garis pemisah dua kisah geologi yang berbeda.

     Kerangka tektonik yang melingkupi pembentukan Formasi Tonasa berkaitan dengan dinamika konvergensi lempeng litosfer di kawasan Sulawesi—wilayah yang memang dikenal sebagai mosaik tektonik yang rumit. Sistem sesar besar seperti Palu-Koro dan Walanae memainkan peran penting dalam mengontrol deformasi regional. Mekanisme simple shear yang berkembang menghasilkan lipatan, sesar naik, sesar normal, hingga sesar geser mendatar yang kemudian memengaruhi distribusi, kemiringan, dan ketebalan satuan batuan karbonat ini. Struktur bukan sekadar gangguan; ia adalah arsitek yang membengkokkan dan memahat tubuh karbonat yang sebelumnya terendapkan relatif tenang di laut dangkal.

     Dari sisi umur, Formasi Tonasa mencatat rentang waktu yang luas—mulai dari Eosen (sekitar 56–33,9 juta tahun lalu) hingga Miosen Awal (sekitar 23–16 juta tahun lalu). Penentuan umur ini didasarkan pada analisis biostratigrafi foraminifera planktonik. Di lintasan Sungai Palakka, misalnya, interval umur mencakup zona P.9 hingga P.16 yang merepresentasikan Eosen Awal hingga Eosen Akhir. Sementara itu, di lintasan Karama B, ditemukan zona N.1 hingga N.7 yang menunjukkan umur Oligosen Tengah hingga Miosen Awal. Rentang ini memperlihatkan bahwa Formasi Tonasa tidak terbentuk dalam satu episode singkat, melainkan dalam rangkaian fase sedimentasi yang berkelanjutan dan dipengaruhi perubahan global.

     Secara stratigrafi, formasi ini selaras di atas Formasi Malawa, meskipun pada beberapa lokasi terdapat basal konglomerat—misalnya di Lapali Haling—yang menandakan fase transisi atau perubahan energi lingkungan pengendapan. Di bagian atas, Formasi Tonasa tidak selaras dengan Formasi Camba, mencerminkan jeda atau perubahan rezim sedimentasi yang signifikan. Secara internal, satuan ini lazim dibagi menjadi tiga bagian. Bagian bawah didominasi batugamping massif dengan fosil foraminifera besar, berlapis, disertai sisipan breksi dan batugamping pasiran. Bagian tengah memperlihatkan sisipan batulempung dan batupasir dengan kehadiran fosil moluska seperti Gastropoda. Bagian atas kembali didominasi batugamping massif dengan sisipan napal. Urutan ini menggambarkan fluktuasi energi dan kedalaman laut selama jutaan tahun.

     Secara litologi, Formasi Tonasa didominasi oleh batugamping berwarna abu-abu hingga putih, dengan tekstur mikritik maupun klastik. Napal hadir sebagai sisipan halus yang menunjukkan fase sedimentasi lebih tenang. Pada beberapa lokasi dijumpai pula batupasir, breksi vulkanik, tufa, bahkan sekis, yang mengindikasikan pengaruh aktivitas vulkanik atau suplai material dari daratan terdekat. Fasies batuan umumnya berupa packstone, dengan porositas yang menjadi perhatian penting dalam studi potensi hidrokarbon. Proses diagenesis yang dialami batuan ini meliputi mikritisasi, sementasi, pelarutan, neomorfisme, dan kompaksi. Tahapan tersebut berlangsung dalam berbagai lingkungan—dari shallow marine, marine phreatic, hingga meteoric phreatic dan vadose—serta melalui fase eogenesis, mesogenesis, hingga telogenesis. Dengan kata lain, batuan ini tidak hanya terbentuk di laut, tetapi juga “dimasak ulang” oleh air, tekanan, dan waktu.

     Kekayaan paleontologi Formasi Tonasa menjadi salah satu kunci penting dalam rekonstruksi paleo-oseanografi kawasan ini. Foraminifera planktonik dan bentonik melimpah, termasuk spesies seperti Globigerina senni, Globigerina ampliapertura, Globorotalia centralis, Hantkenina dumblei di lintasan Palakka, serta Globorotalia kugleri dan Catapsydrax dissimilis di Karama B. Selain itu, ditemukan pula alga, moluska (Gastropoda), dan nannofosil. Analisis komposisi dan kelimpahan foraminifera menunjukkan adanya penurunan variasi genus dan spesies pada transisi Eosen–Oligosen, yang berkorelasi dengan perubahan iklim global dari kondisi hangat menuju fase pendinginan. Dengan demikian, Formasi Tonasa bukan sekadar arsip lokal; ia merekam denyut perubahan iklim global yang tercetak dalam cangkang-cangkang mikroskopik.

     Lingkungan pengendapannya ditafsirkan sebagai platform karbonat, terutama pada zona neritik luar hingga back reef lagoon dalam kondisi laut dangkal. Iklim tropis hingga subtropis mendominasi selama Eosen, dengan indikasi perairan hangat yang mendukung pertumbuhan organisme karbonat. Memasuki Oligosen hingga Miosen Awal, bukti paleontologi menunjukkan kecenderungan pendinginan. Secara struktural, kehadiran lipatan, sesar normal seperti Sesar Binuang, sesar geser dekstral Sungai Matampapone, serta sesar naik Batupute, bersama sistem kekar yang berkembang, mengontrol distribusi dan kemunculan singkapan di permukaan.

     Signifikansi Formasi Tonasa tidak berhenti pada kepentingan akademik. Batugampingnya menjadi bahan baku utama industri semen; tufa, sekis, pasir, dan batuannya dimanfaatkan sebagai material konstruksi. Potensi rembesan hidrokarbon juga tercatat, terutama yang dikontrol oleh pola kelurusan berarah baratlaut–tenggara (NW–SE). Selain itu, intrusi granodiorit berumur Miosen Awal membuka peluang studi dan eksplorasi panas bumi. Dalam konteks regional yang lebih luas, Formasi Tonasa membantu menjelaskan evolusi tektonik Sulawesi—termasuk hubungannya dengan sistem subduksi di sekitar Palung Sulawesi Utara dan Tunjaman Tolo.

     Pada akhirnya, Formasi Tonasa adalah kesaksian panjang tentang laut yang pernah dangkal, hangat, lalu berubah; tentang organisme mikroskopik yang membangun pegunungan; tentang gaya tektonik yang melipat dan mengangkat dasar samudra menjadi daratan. Ia adalah arsip batu yang tebalnya ribuan meter, tetapi maknanya jauh lebih dalam dari itu—rekaman waktu yang diam, namun fasih bagi siapa pun yang mau membacanya.

Formasi Tonasa didominasi oleh batugamping berwarna abu-abu hingga putih, dengan tekstur mikritik maupun klastik. Napal hadir sebagai sisipan halus ya

Label:

Posting Komentar

...

[blogger][facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.