Air yang Tidak Pernah Terburu-buru
Sebagian besar warga Makassar mungkin tidak pernah menginjak lereng Gunung Bawakaraeng. Namun setiap kali mereka membuka keran air di rumahnya, sesungguhnya mereka sedang menikmati keputusan yang dibuat oleh bentang alam di pegunungan itu ribuan bahkan jutaan tahun sebelumnya. Air yang mengalir ke dapur, kamar mandi, atau tempat wudu ternyata memulai perjalanannya jauh di hulu Sungai Jeneberang, puluhan kilometer dari kota yang menggunakannya setiap hari.
Hubungan itu tidak selalu tampak. Yang terlihat hanyalah sungai yang mengalir menuju laut. Padahal jauh sebelum menjadi sungai, setiap tetes hujan terlebih dahulu harus menemukan tempat untuk berkumpul.
Bayangkan sebuah mangkuk raksasa yang diletakkan di atas bentang alam. Setiap tetes hujan yang jatuh ke dalam mangkuk itu pada akhirnya akan mengalir menuju satu saluran keluar. Dalam hidrologi, "mangkuk" alami itu dikenal sebagai catchment area atau daerah tangkapan air. Ia bukan bendungan, bukan pula waduk buatan manusia, melainkan bentang alam yang selama jutaan tahun membimbing arah perjalanan air.
Di hulu Jeneberang, "mangkuk" itu bukan sekadar perumpamaan. Ia benar-benar ada. Kaldera purba Bawakaraeng membentuk cekungan alami yang dikelilingi punggungan-punggungan pegunungan. Kaldera adalah jejak dari gunung api purba yang sebagian tubuhnya runtuh setelah letusan besar pada masa lampau. Runtuhan itu meninggalkan bentang alam berupa cekungan luas yang kemudian menjadi tempat berkumpulnya air hujan dari lereng-lereng di sekitarnya. Hampir setiap tetes hujan yang jatuh di kawasan ini pada akhirnya menemukan jalan menuju Sungai Jeneberang.
Namun hujan yang jatuh belum tentu langsung menjadi berkah.
Setiap tetes air selalu dihadapkan pada dua kemungkinan. Ia dapat segera berlari mengikuti permukaan tanah, atau ia dapat tinggal lebih lama di dalam tanah. Air yang langsung mengalir di permukaan dikenal sebagai runoff. Semakin besar runoff, semakin cepat air meninggalkan pegunungan. Sungai akan tampak deras sesaat setelah hujan turun, tetapi beberapa hari kemudian debitnya kembali menyusut karena sebagian besar air telah lebih dahulu menuju laut.
Sebaliknya, ketika air sempat meresap ke dalam tanah, perjalanan itu menjadi jauh lebih panjang. Material vulkanik yang telah lama mengalami pelapukan membentuk tanah yang gembur dan kaya pori. Rekahan-rekahan batuan vulkanik juga menyediakan jalan bagi air untuk bergerak perlahan ke bawah permukaan. Proses ini dikenal sebagai infiltrasi. Air kemudian tersimpan di dalam lapisan batuan sebagai akuifer, cadangan air tanah yang perlahan-lahan melepaskan airnya kembali melalui mata air, rembesan lereng, dan aliran dasar sungai. Karena itulah Sungai Jeneberang tetap mengalir bahkan ketika musim hujan telah lama berlalu.
Di sinilah hutan memainkan peran yang sering kali tidak terlihat.
Pohon tidak menciptakan air. Hujan tetap turun dengan atau tanpa hutan. Namun hutan memperlambat kepergian air. Tajuk pepohonan meredam energi tetesan hujan, serasah daun menahan aliran di permukaan, sementara akar-akar memperbaiki struktur tanah sehingga infiltrasi berlangsung lebih efektif. Semakin banyak air yang masuk ke dalam tanah, semakin sedikit yang langsung berubah menjadi runoff. Air tidak tergesa-gesa meninggalkan pegunungan, melainkan disimpan terlebih dahulu di dalam tubuh bumi.
Banjir dan kekeringan sering dianggap sebagai dua bencana yang berbeda. Padahal keduanya dapat lahir dari penyebab yang sama. Ketika terlalu banyak air berlari di permukaan, sungai akan meluap pada musim hujan. Namun karena sedikit yang tersimpan sebagai air tanah, sungai yang sama akan kehilangan pasokannya ketika kemarau tiba. Air datang berlebihan pada satu musim, lalu menghilang pada musim berikutnya.
Karena itu, menanam pohon di daerah tangkapan air bukan sekadar menghijaukan lereng pegunungan. Yang sesungguhnya sedang dibangun adalah sistem penyimpanan air alami yang bekerja tanpa pompa, tanpa listrik, dan tanpa suara. Akuifer di hulu terisi sedikit demi sedikit, mata air tetap hidup, debit dasar Sungai Jeneberang terjaga, dan jutaan masyarakat di hilir memperoleh jaminan air yang lebih berkelanjutan.
Dari Makassar, masyarakat dapat melihat siluet Lompobattang dan Bawakaraeng berdiri tegak di kejauhan. Pegunungan itu menjadi penanda arah yang akrab di cakrawala timur. Namun yang sesungguhnya bekerja menjaga kehidupan kota bukanlah punggungan yang tampak itu, melainkan kaldera tua yang tersembunyi di baliknya. Di sanalah hujan dikumpulkan, diperlambat, lalu disimpan jauh di dalam tanah dan batuan sebelum perlahan dilepaskan kembali ke Sungai Jeneberang.
Bentang alam itu mungkin tidak pernah terlihat dari kota, tetapi setiap tetes air yang mengalir ke rumah-rumah warga Makassar membawa jejak perjalanan panjang yang dimulai dari cekungan purba di hulu—sebuah pekerjaan sunyi yang telah dilakukan bumi jauh sebelum manusia membangun kota di hilirnya.







