Sebagian besar warga Makassar mungkin tidak pernah menginjak lereng Gunung Bawakaraeng. Namun setiap kali mereka membuka keran air di rumahnya, sesungguhnya mereka sedang menikmati keputusan yang dibuat oleh bentang alam di pegunungan itu ribuan bahkan jutaan tahun sebelumnya. Air yang mengalir ke dapur, kamar mandi, atau tempat wudu ternyata memulai perjalanannya jauh di hulu Sungai Jeneberang, puluhan kilometer dari kota yang menggunakannya setiap hari.

     Hubungan itu tidak selalu tampak. Yang terlihat hanyalah sungai yang mengalir menuju laut. Padahal jauh sebelum menjadi sungai, setiap tetes hujan terlebih dahulu harus menemukan tempat untuk berkumpul.

     Bayangkan sebuah mangkuk raksasa yang diletakkan di atas bentang alam. Setiap tetes hujan yang jatuh ke dalam mangkuk itu pada akhirnya akan mengalir menuju satu saluran keluar. Dalam hidrologi, "mangkuk" alami itu dikenal sebagai catchment area atau daerah tangkapan air. Ia bukan bendungan, bukan pula waduk buatan manusia, melainkan bentang alam yang selama jutaan tahun membimbing arah perjalanan air.

     Di hulu Jeneberang, "mangkuk" itu bukan sekadar perumpamaan. Ia benar-benar ada. Kaldera purba Bawakaraeng membentuk cekungan alami yang dikelilingi punggungan-punggungan pegunungan. Kaldera adalah jejak dari gunung api purba yang sebagian tubuhnya runtuh setelah letusan besar pada masa lampau. Runtuhan itu meninggalkan bentang alam berupa cekungan luas yang kemudian menjadi tempat berkumpulnya air hujan dari lereng-lereng di sekitarnya. Hampir setiap tetes hujan yang jatuh di kawasan ini pada akhirnya menemukan jalan menuju Sungai Jeneberang.

     Namun hujan yang jatuh belum tentu langsung menjadi berkah.

     Setiap tetes air selalu dihadapkan pada dua kemungkinan. Ia dapat segera berlari mengikuti permukaan tanah, atau ia dapat tinggal lebih lama di dalam tanah. Air yang langsung mengalir di permukaan dikenal sebagai runoff. Semakin besar runoff, semakin cepat air meninggalkan pegunungan. Sungai akan tampak deras sesaat setelah hujan turun, tetapi beberapa hari kemudian debitnya kembali menyusut karena sebagian besar air telah lebih dahulu menuju laut.

      Sebaliknya, ketika air sempat meresap ke dalam tanah, perjalanan itu menjadi jauh lebih panjang. Material vulkanik yang telah lama mengalami pelapukan membentuk tanah yang gembur dan kaya pori. Rekahan-rekahan batuan vulkanik juga menyediakan jalan bagi air untuk bergerak perlahan ke bawah permukaan. Proses ini dikenal sebagai infiltrasi. Air kemudian tersimpan di dalam lapisan batuan sebagai akuifer, cadangan air tanah yang perlahan-lahan melepaskan airnya kembali melalui mata air, rembesan lereng, dan aliran dasar sungai. Karena itulah Sungai Jeneberang tetap mengalir bahkan ketika musim hujan telah lama berlalu.

     Di sinilah hutan memainkan peran yang sering kali tidak terlihat.

     Pohon tidak menciptakan air. Hujan tetap turun dengan atau tanpa hutan. Namun hutan memperlambat kepergian air. Tajuk pepohonan meredam energi tetesan hujan, serasah daun menahan aliran di permukaan, sementara akar-akar memperbaiki struktur tanah sehingga infiltrasi berlangsung lebih efektif. Semakin banyak air yang masuk ke dalam tanah, semakin sedikit yang langsung berubah menjadi runoff. Air tidak tergesa-gesa meninggalkan pegunungan, melainkan disimpan terlebih dahulu di dalam tubuh bumi.

     Banjir dan kekeringan sering dianggap sebagai dua bencana yang berbeda. Padahal keduanya dapat lahir dari penyebab yang sama. Ketika terlalu banyak air berlari di permukaan, sungai akan meluap pada musim hujan. Namun karena sedikit yang tersimpan sebagai air tanah, sungai yang sama akan kehilangan pasokannya ketika kemarau tiba. Air datang berlebihan pada satu musim, lalu menghilang pada musim berikutnya.

     Karena itu, menanam pohon di daerah tangkapan air bukan sekadar menghijaukan lereng pegunungan. Yang sesungguhnya sedang dibangun adalah sistem penyimpanan air alami yang bekerja tanpa pompa, tanpa listrik, dan tanpa suara. Akuifer di hulu terisi sedikit demi sedikit, mata air tetap hidup, debit dasar Sungai Jeneberang terjaga, dan jutaan masyarakat di hilir memperoleh jaminan air yang lebih berkelanjutan.

     Dari Makassar, masyarakat dapat melihat siluet Lompobattang dan Bawakaraeng berdiri tegak di kejauhan. Pegunungan itu menjadi penanda arah yang akrab di cakrawala timur. Namun yang sesungguhnya bekerja menjaga kehidupan kota bukanlah punggungan yang tampak itu, melainkan kaldera tua yang tersembunyi di baliknya. Di sanalah hujan dikumpulkan, diperlambat, lalu disimpan jauh di dalam tanah dan batuan sebelum perlahan dilepaskan kembali ke Sungai Jeneberang. 

     Bentang alam itu mungkin tidak pernah terlihat dari kota, tetapi setiap tetes air yang mengalir ke rumah-rumah warga Makassar membawa jejak perjalanan panjang yang dimulai dari cekungan purba di hulu—sebuah pekerjaan sunyi yang telah dilakukan bumi jauh sebelum manusia membangun kota di hilirnya.

     Dalam acara penutupan munas alim ulama di Bangkalan, Presiden Prabowo mengorasikan keheranannya:

     Ekonomi tumbuh, katanya. Angka-angka bergerak naik. Grafik menanjak dengan penuh optimisme. Tetapi mengapa orang miskin justru bertambah?

     Sungguh sebuah misteri besar. Sedemikian besar sehingga rakyat yang setiap hari membeli beras dengan harga baru, membayar listrik dengan tarif baru, dan menghitung ulang isi dompetnya, tiba-tiba merasa menjadi saksi atas sebuah keajaiban: orang yang paling memiliki akses pada data ternyata ikut bingung.

     Padahal, rakyat yang tidak pernah membaca laporan ekonomi tahunan pun tahu bahwa pertumbuhan dan kesejahteraan bukanlah saudara kembar. Yang tumbuh bisa saja laba perusahaan, nilai investasi, atau gedung-gedung yang semakin tinggi menusuk langit. Tetapi tinggi gedung tidak pernah menjamin isi panci.

     Sebuah negara dapat memiliki jalan tol yang panjang, pelabuhan yang megah, dan angka pertumbuhan yang mengilap. Namun di dapur-dapur kecil, orang tetap berdiskusi tentang berapa butir telur yang bisa dibeli hari ini.

     Itu bukan rahasia negara. Itu juga bukan teori ekonomi yang hanya dipahami profesor.

     Bahkan tukang kopi di pinggir jalan pun tahu: bila kue ekonomi membesar tetapi potongannya tetap berada di meja yang sama, maka orang yang berdiri jauh dari meja hanya akan melihat kue itu dari kejauhan sambil menelan ludah.

     Karena itu, ketika presiden mengatakan dirinya heran, rakyat mungkin ikut terdiam sejenak.

     Heran?

     Bukankah seorang presiden hidup di tengah lautan data? Bukankah setiap hari ada laporan statistik, analisis ekonomi, simulasi, rapat kabinet, dan nasihat para ahli? Bukankah seluruh mesin negara bekerja untuk memetakan persoalan seperti ini?

     Sulit membayangkan bahwa seseorang yang melihat seluruh peta justru tidak memahami jalan yang sedang dilalui.

     Mungkin kata "heran" memang bukan tentang ketidaktahuan.

     Mungkin itu adalah bahasa yang lebih halus. Sebuah cara untuk berdiri di sisi rakyat dan berkata, "Saya juga terkejut."

     Atau mungkin lebih halus lagi: ketika persoalan dibingkai sebagai sesuatu yang mengherankan, maka penyebabnya tampak seperti kabut. Tidak jelas dari mana datangnya, tidak jelas siapa yang harus menjawabnya.

     Seolah kemiskinan adalah hujan yang turun dari langit tanpa sebab. Seolah daya beli melemah dengan sendirinya. Seolah ketimpangan tumbuh seperti rumput liar yang tidak pernah disentuh oleh kebijakan.

     Dan rakyat, yang sejak lama menjadi penonton paling setia, kembali menyaksikan sebuah pertunjukan lama: semua orang tampak prihatin, semua orang tampak terkejut, tetapi tak seorang pun tampak menjadi penulis naskahnya.

     Lucunya, rakyat tidak pernah punya kemewahan untuk heran terlalu lama.

     Mereka harus tetap bekerja. Tetap membayar cicilan. Tetap mengurangi lauk. Tetap menunda berobat. Tetap mengubur pelan-pelan cita-cita yang dahulu mereka tanam dengan harapan.

     Sementara itu, angka-angka terus diumumkan dengan wajah optimistis, seperti foto udara sebuah kota yang tampak indah dari ketinggian. Dari sana, rumah-rumah reyot tidak terlalu terlihat. Dapur yang sepi tidak masuk bingkai. Anak yang membatalkan kuliah karena biaya pun hanya menjadi titik kecil yang hilang di antara statistik.

     Mungkin memang ada sesuatu yang salah dengan cara kita melihat.

     Atau mungkin tidak.

     Mungkin semua orang sebenarnya sudah tahu apa yang terjadi. Hanya saja, ada yang menanggung akibatnya, dan ada yang cukup nyaman untuk mengaku heran.

     Dan di situlah pertanyaan yang sesungguhnya berdiri, sederhana tetapi sukar dihindari:

     "Kalau Anda saja heran, lalu siapa yang memegang kemudi?"

     Pagi itu seorang lelaki tua menyapu halaman rumahnya. Daun-daun yang gugur semalam dikumpulkannya menjadi satu tumpukan kecil. Tak ada yang istimewa. Angin datang, menyebarkannya lagi. Lelaki itu hanya tersenyum, lalu mengulang pekerjaannya. Yang paling sabar bukan pohon. Yang paling sabar adalah orang yang tetap menyapu halaman yang tahu akan kembali dipenuhi daun.

     Barangkali hidup memang tidak pernah bergerak menuju kemenangan. Ia hanya bergerak dari satu pengulangan ke pengulangan berikutnya. Yang berubah bukan dunianya, melainkan cara manusia memandang dunia. Karena itulah dua orang dapat melewati jalan yang sama, tetapi pulang dengan cerita yang berbeda. Perjalanan tidak mengubah jalan. Ia mengubah siapa yang pulang. 

     Mungkin sebab itu masa kanak-kanak terasa lebih panjang daripada usia dewasa. Bukan karena waktu berjalan lebih lambat, melainkan karena hampir setiap hari menghadirkan sesuatu yang belum pernah dilihat.

     Seorang anak kecil memandangi hujan dari balik jendela. Ia bertanya mengapa langit menangis. Bertahun-tahun kemudian ia belajar tentang penguapan, tekanan udara, dan kondensasi. Ia akhirnya mengetahui bagaimana hujan terjadi, tetapi diam-diam kehilangan satu pertanyaan yang dulu membuatnya menatap langit begitu lama. Pengetahuan menjawab banyak pertanyaan. Rasa ingin tahu melahirkan yang lebih penting.

     Bertambah usia sering disangka sama dengan bertambah mengerti. Padahal yang lebih sering terjadi adalah bertambah terbiasa. Sesuatu yang dulu dipandang dengan rasa ingin tahu perlahan diterima sebagai sesuatu yang sewajarnya ada. Pertanyaan-pertanyaan mengecil, sementara keyakinan tumbuh tanpa banyak disadari. 

     Manusia tumbuh bersama jawaban. Lalu perlahan menyadari bahwa setiap jawaban hanyalah pagar sementara. Di baliknya selalu ada ladang yang lebih luas. Orang yang paling cepat menemukan jawaban sering kali berhenti paling awal. Semakin luas pengetahuan, semakin sadar seseorang akan luasnya apa yang belum diketahuinya. Kesombongan adalah pengetahuan yang berhenti berjalan.

     Di pasar, seorang pedagang menimbang gula dengan timbangan yang sedikit dimiringkan. Selisihnya hampir tak terlihat. Pembeli pulang sambil tersenyum karena merasa mendapatkan harga murah. Pedagang pun tersenyum karena merasa lebih cerdik. Mereka berdua sama-sama merasa menang. Kecurangan yang paling awet adalah yang menguntungkan dua pihak pada saat yang sama.

     Tidak banyak orang menganggap dirinya tidak jujur. Hampir semua memiliki alasan yang terdengar masuk akal. Timbangan yang dimiringkan dianggap sekadar mencari untung. Janji yang diingkari disebut keadaan yang berubah. Kebohongan kecil diberi nama sopan: terpaksa. 

     Barangkali memang demikian cara hati bekerja. Ia lebih sibuk mencari pembenaran daripada mengakui kesalahan. Banyak keyakinan bertahan bukan karena benar, melainkan karena belum pernah dipertanyakan dengan sungguh-sungguh. Dan mungkin keyakinan yang paling sulit dipertanyakan adalah keyakinan tentang diri sendiri.

     Waktu berlalu. Rambut mulai memutih. Nama-nama yang dulu sering disebut perlahan menghilang dari percakapan. Wajah mulai kabur di dalam ingatan. Tanggal lahir dan tanggal kematian akhirnya hanya menjadi angka. 

     Anehnya, satu kalimat dapat bertahan jauh lebih lama daripada seluruh riwayat hidup yang melahirkannya. Tubuh berhenti menua ketika mati. Kalimat bisa terus menua tanpa pernah mati.

     Mungkin karena itulah ada kalimat-kalimat yang tidak terasa seperti hasil menulis. Ia lebih menyerupai sesuatu yang terlalu lama hidup di dalam seseorang, lalu suatu hari menemukan bentuknya. Sebelum menjadi satu kalimat, ia pernah menjadi kebingungan, kegagalan, penyesalan, percakapan yang terlambat dipahami, juga kesunyian yang terlalu lama menemani.

     Orang menyebutnya aforisme.

     Padahal aforisme bukanlah kalimat yang berhasil dipendekkan. Ia adalah pengalaman yang telah terlalu lama diendapkan hingga tak lagi menyisakan bagian yang bisa dibuang. Seperti sungai yang selama bertahun-tahun mengikis batu, waktu perlahan mengikis kata-kata yang tidak penting. Yang tertinggal hanyalah inti.

     Karena itu aforisme tidak lahir setiap hari. Yang lahir setiap hari hanyalah kalimat. 

     Aforisme lahir jauh lebih lambat. Ia membutuhkan mata yang bersedia memperhatikan, waktu yang bersedia mengendapkan, dan kehidupan yang cukup panjang untuk menghapus semua kata yang tidak perlu. Ketika akhirnya tiba, ia sering kali hanya terdiri atas satu kalimat. Namun di belakang satu kalimat itu, diam-diam berdiri bertahun-tahun kehidupan.

     Ada sesuatu yang menggelitik sekaligus menyedihkan dari kegiatan sensus ekonomi yang telah berlangsung sejak lama di negeri ini. Setiap beberapa tahun, negara datang mengetuk pintu rumah rakyat dengan kesungguhan yang hampir menyerupai kasih sayang. Mereka ingin tahu siapa kita, berapa penghasilan kita, berapa meter luas rumah kita, apakah dindingnya permanen atau papan, apakah lantainya keramik atau semen, berapa jumlah motor yang terparkir, bahkan kadang lebih mengetahui kondisi ekonomi kita daripada kita sendiri yang setiap malam masih sibuk menghitung sisa uang di dompet.

     Namun suatu hari, seorang warga memutuskan untuk membalik arah pertanyaan itu. Setelah menjawab dengan sabar semua yang ditanyakan petugas, ia menatap wajah muda di hadapannya dan bertanya dengan nada datar, "Apa untungnya untuk saya?"

     Petugas itu tentu sudah dibekali jawaban. Data ini untuk pembangunan, untuk pemerataan ekonomi, untuk kesejahteraan, untuk program yang lebih tepat sasaran. Kalimat-kalimat yang terdengar baik dan mulia, seolah diambil dari sebuah negeri yang sangat teratur dan hampir sempurna. Namun warga itu kembali bertanya, "Apa untungnya untuk saya?" Lagi dan lagi. Sampai tujuh kali. Sampai sembilan belas kali. Bukan karena ia tidak mengerti, tetapi justru karena ia terlalu mengerti.

     Ia mengerti bahwa selama puluhan tahun negara begitu rajin menghitung rakyatnya, tetapi hasil perhitungannya sering kali terasa seperti ramalan cuaca: terdengar meyakinkan, tetapi tidak selalu cocok dengan kenyataan di lapangan. Ia melihat orang yang rumahnya besar, kendaraannya lebih dari satu, usahanya berkembang, tetapi tetap menjadi penerima bantuan sosial. Sebaliknya, ia mengenal seorang janda tua yang hidup dari menjual gorengan, yang atap rumahnya bocor di tiga tempat dan harus menaruh ember saat hujan, tetapi namanya tak pernah ditemukan dalam daftar penerima bantuan. Negeri ini rupanya memiliki definisi kemiskinan yang unik. Anda boleh miskin dalam kehidupan nyata, tetapi bila tidak miskin dalam database, maka kemiskinan Anda hanyalah perasaan pribadi yang sayangnya tidak memiliki kekuatan administratif.

     Maka setiap kali ada kekeliruan, jawaban yang selalu muncul adalah: datanya akan diperbaiki. Betapa menenteramkan kalimat itu. Seolah-olah nasib rakyat hanyalah file excel yang suatu saat akan diperbarui versinya. Anehnya, data terus diperbaiki, tetapi orang yang sama tetap miskin, tetap kesulitan berobat, tetap menunggu bantuan yang kadang salah alamat. Barangkali yang diperbaiki memang data, bukan kenyataan.

     Warga itu lalu teringat rumah sakit. Ia membayar iuran BPJS dengan disiplin, bahkan ketika penghasilannya sedang tidak baik. Namun ketika sakit, ia harus berhadapan dengan antrean, rujukan yang berbelit, ruang tunggu yang penuh, dan biaya-biaya kecil yang jika dikumpulkan tidak lagi kecil. Ia pernah bercanda kepada tetangganya bahwa penyakit yang paling cepat berkembang di rumah sakit mungkin bukan diabetes atau hipertensi, melainkan bisnis parkir. Sebab orang boleh menunggu dokter berjam-jam, tetapi tarif parkir tumbuh dengan penuh semangat, seolah sedang mengejar cita-cita menjadi sektor ekonomi unggulan.

     Rumah sakit kini berdiri megah dengan lobi yang lebih menyerupai hotel. Ada kafe, toko, mesin ATM, bahkan sudut swafoto yang nyaman. Orang miskin yang datang ke sana kadang bingung apakah ia sedang mencari kesembuhan atau sedang mengunjungi pusat perbelanjaan yang menyediakan layanan kesehatan sebagai usaha sampingan. Tetapi keheranan seperti ini tentu tidak pernah masuk ke dalam formulir sensus. Yang dicatat hanyalah angka. Manusia terlalu rumit untuk ditanyakan.

     Begitu pula dengan beras bantuan yang semestinya sampai kepada warga miskin, tetapi kadang lebih mudah ditemukan di kios pasar. Beras itu tampaknya memiliki naluri dagang yang lebih baik daripada naluri sosial. Ia berangkat sebagai bantuan, lalu berubah menjadi komoditas. Mungkin ia tersesat. Atau mungkin ia sedang mengikuti peta yang tidak pernah dicetak secara resmi.

     Namun semua itu belum cukup menjelaskan mengapa warga tadi terus mengulang pertanyaannya. Jawabannya mungkin terletak pada sesuatu yang lebih besar: ia sudah terlalu lama menyaksikan bagaimana uang negara bergerak dengan cara yang misterius. Ada program yang lahir dengan anggaran fantastis dan slogan yang menyentuh hati, tetapi hasilnya sulit ditemukan di lapangan. Ada proyek yang diresmikan berkali-kali, diperbaiki berkali-kali, lalu rusak berkali-kali, seolah yang sedang dibangun bukan infrastruktur melainkan kesempatan untuk menganggarkan ulang.

     Ada pula perjalanan dinas ke luar negeri yang tampaknya sangat penting. Rombongan pejabat berangkat mempelajari tata kota, transportasi, pengelolaan sampah, hingga digitalisasi pelayanan. Mereka pulang dengan koper penuh pengalaman dan ribuan foto, sementara jalan di kampung warga itu tetap berlubang, drainase tetap mampet, dan pelayanan publik masih meminta kesabaran yang setara dengan seorang pertapa. Mungkin ilmu yang mereka pelajari memang sangat canggih sehingga membutuhkan puluhan tahun untuk diterapkan. Atau mungkin oleh-oleh terbaik dari perjalanan itu memang hanya foto bersama.

     Warga itu tidak tahu pasti. Tetapi ia mulai memiliki dugaan yang nakal. Jangan-jangan sensus ekonomi ini bukan hanya untuk membangun kesejahteraan. Jangan-jangan data yang begitu rinci ini juga membantu agar segala sesuatu berjalan lebih efisien, termasuk jika ada yang ingin mengelola anggaran secara kreatif. Dulu mungkin penyimpangan dilakukan secara kasar dan kira-kira. Sekarang semuanya bisa berbasis data, lebih terukur, lebih tepat sasaran, lebih modern. Bahkan korupsi pun tampaknya dipaksa mengikuti perkembangan zaman.

     Pikiran itu tentu terdengar sinis. Tetapi sinisme sering kali lahir bukan karena rakyat terlalu curiga, melainkan karena mereka terlalu sering kecewa. Mereka melihat negara sangat teliti menghitung jumlah ayam, kambing, motor, dan penghasilan warga, tetapi tampak lebih sulit menghitung berapa banyak uang yang hilang dalam perjalanan menuju kesejahteraan. Negara begitu rajin mendata kemiskinan, tetapi tampak kurang bersemangat mendata penyebab mengapa kemiskinan itu terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

     Mungkin sudah waktunya sensus tidak hanya mengumpulkan data ekonomi. Mungkin petugas juga perlu bertanya: berapa kali Anda merasa bantuan salah sasaran? Berapa kali Anda menunda berobat karena takut biaya tambahan? Berapa kali Anda merasa negara lebih rajin menghitung Anda daripada mendengarkan Anda? Sebab manusia tidak hanya hidup dari pendapatan per bulan. Ia juga hidup dari kepercayaan. Dan jika kepercayaan itu terus menyusut, maka suatu hari nanti angka-angka statistik akan tetap terlihat indah, sementara rakyat diam-diam kehilangan keyakinan bahwa semua perhitungan itu pernah benar-benar dibuat untuk mereka.

     Maka pertanyaan sederhana itu masih menggantung sampai sekarang: "Apa untungnya untuk saya?" Dan mungkin ironi terbesar negeri ini adalah bahwa setelah puluhan tahun melakukan sensus, kita masih belum memiliki jawaban yang mampu membuat rakyat berhenti bertanya.

     Entah buzzer siapa yang memulainya. Entah pembela pemerintah. Entah pembenci pemerintah. Entah mereka yang marah kepada mahasiswa. Entah mereka yang marah kepada program makan gratis. Entah siapa. Yang jelas, beberapa hari terakhir beredar sebuah logika yang begitu cepat menyebar hingga orang lupa memeriksa kakinya.

foto : cyrustimes.com

     Mahasiswa berdemonstrasi memprotes kenaikan harga Pertamaxmenuntut harganya diturunkan. Mahasiswa juga mengkritik program makan bergizi gratis yang dinilai kacau, bocor, dan digerogoti korupsimenuntut program itu dihentikan. Lalu dari berbagai sudut ruang publik lahirlah kesimpulan yang tampak gagah sekaligus ganjil: mahasiswa sedang membela orang kaya pemilik mobil dan berusaha merampas makanan orang miskin.

     Selesai.

     Tidak perlu berpikir lebih jauh. Tidak perlu bertanya lagi. Vonis dijatuhkan sebelum sidang dimulai.

     Cara berpikir seperti ini sebenarnya sangat efisien. Ia menghemat energi otak. Sama seperti seseorang yang melihat asap di kejauhan lalu langsung menyimpulkan gunung meletus, tanpa peduli apakah yang terbakar sebenarnya hanya tumpukan sampah di belakang rumah tetangga.

     Padahal kenyataan memiliki kebiasaan buruk: ia jarang sesederhana slogan.

     Harga Pertamax memang menyangkut BBM non-subsidi. Namun di negeri yang penyaring subsidinya bocor seperti ember tua, kenaikan harga BBM non-subsidi sering mendorong perpindahan konsumsi ke BBM subsidi. Orang yang semestinya berada di jalur kanan perlahan masuk ke jalur kiri. Mereka yang seharusnya membeli tanpa bantuan negara ikut mengantre bantuan negara. Akibatnya, mereka yang benar-benar membutuhkan subsidi harus berbagi dengan mereka yang sekadar tidak ingin mengurangi kenyamanan.

     Sementara itu, program makan bergizi gratis juga bukan kitab suci yang turun dari langit dalam keadaan sempurna. Tujuannya mungkin mulia. Pelaksanaannya belum tentu. Di negeri yang bahkan kesulitan menjaga uang pembangunan jembatan, sekolah, jalan, stadion, bansos, pupuk, dan proyek-proyek lain dari tangan-tangan kreatif, publik tentu berhak bertanya ketika uang dalam jumlah besar mulai mengalir ke dapur-dapur baru yang tumbuh lebih cepat daripada jamur setelah hujan.

     Namun pertanyaan semacam itu terlalu merepotkan bagi sebagian orang. Jauh lebih mudah menghapus seluruh kerumitan tersebut.

     Mahasiswa protes Pertamax?
     Berarti pembela orang kaya.
 
     Mahasiswa mengkritik MBG?
     Berarti pembenci orang miskin.
 
     Sederhana. Praktis. Tidak perlu membaca. Tidak perlu menghitung. Tidak perlu memahami.

     Kalau logika seperti ini diterapkan secara konsisten, kita mungkin bisa mencapai efisiensi nasional yang luar biasa.

     Dokter yang mengkritik rumah sakit berarti membenci pasien. Guru yang mengkritik sekolah berarti membenci murid. Wartawan yang mengkritik korupsi berarti membenci pembangunan. Orang yang mengkritik kebocoran kapal berarti membenci penumpang.

     Betapa indahnya dunia ketika setiap kritik bisa diubah menjadi kejahatan hanya dengan menghapus beberapa premis yang mengganggu.

     Barangkali inilah warisan pendidikan kita yang paling berhasil. Kita menghasilkan begitu banyak orang yang pandai mengambil kesimpulan dan begitu sedikit orang yang sabar memeriksa dasar kesimpulannya. Kita melatih murid menjawab soal pilihan ganda selama bertahun-tahun, lalu terkejut ketika mereka mulai melihat dunia sebagai pilihan ganda: setuju atau musuh, mendukung atau membenci, pemerintah atau oposisi, rakyat atau oligarki.

     Padahal kehidupan nyata lebih mirip sungai berlumpur daripada lembar ujian. Arusnya bercabang. Dasarnya tidak selalu terlihat. Banyak batu tersembunyi di bawah permukaan.

     Sayangnya, dunia yang rumit tidak pernah cocok dengan kebutuhan propaganda.

     Propaganda membutuhkan cerita yang pendek. Ia membutuhkan pahlawan dan penjahat. Ia membutuhkan kambing hitam. Ia membutuhkan kesimpulan yang bisa ditelan dalam sekali teguk.

     Karena itu, ketika seseorang datang membawa argumen yang rumit, pekerjaan pertama propaganda adalah memotongnya menjadi karikatur. Setelah karikaturnya selesai dibuat, barulah karikatur itu dipukul ramai-ramai.

     Mungkin itulah yang sedang kita saksikan hari ini.

     Bukan pertarungan antara mahasiswa dan pemerintah. Bukan pertarungan antara Pertamax dan makan gratis. Melainkan pertarungan yang jauh lebih tua: antara keinginan untuk berpikir dan godaan untuk menyederhanakan segala sesuatu sampai kehilangan akal sehatnya.

     Dan seperti biasa, yang paling ramai bukan mereka yang sedang berpikir.

     Melainkan mereka yang sudah terlanjur tiba di kesimpulan sebelum perjalanan dimulai.

     Bagaimana mungkin sebuah kampung berpindah tempat tanpa seorang pun memindahkan rumahnya?

     Pertanyaan itu muncul berulang kali setelah gempa Palu pada 28 September 2018. Foto-foto memperlihatkan rumah-rumah yang masih berdiri, tetapi tidak lagi berada di tempat semula. Hamparan sawah bergeser puluhan hingga ratusan meter. Jalan raya yang sehari sebelumnya lurus, mendadak terputus. Aspal di satu sisi masih ada, tetapi sambungannya lenyap entah ke mana. Di beberapa tempat, tanah berubah menjadi lumpur yang menelan bangunan utuh. Banyak orang menyebutnya kiamat kecil. Sebagian lagi menyebut bumi sedang marah.

     Geologi tidak mengenal kemarahan.

     Yang bergerak bukanlah kemarahan bumi, melainkan Sesar Palu-Koro, salah satu sesar aktif yang membelah Sulawesi. Ia bukan rekahan yang baru muncul pada 2018. Jauh sebelum kota Palu berdiri, jauh sebelum jalan raya dibangun, bahkan jauh sebelum manusia mengenal nama Sulawesi, sesar itu telah menjadi batas tempat dua blok kerak bumi saling bergeser. Perlahan, hampir tak terasa, hanya beberapa sentimeter setiap tahun.

     Beberapa sentimeter terdengar sepele. Kuku manusia tumbuh lebih cepat daripada itu. Namun bumi tidak menghitung waktu dengan kalender manusia.

     Sentimeter demi sentimeter terus terkumpul. Sepuluh tahun menjadi puluhan sentimeter. Seratus tahun menjadi beberapa meter. Selama batuan masih mampu menahan tegangan, semuanya tampak tenang. Kota dibangun. Sawah ditanami. Jalan diaspal. Orang menikah, menua, lalu meninggal tanpa pernah menyadari bahwa di bawah rumahnya, batuan sedang menyimpan utang yang suatu hari harus dibayar.

     Lalu tibalah saat batuan tidak lagi sanggup menahan tekanan.

     Dalam hitungan belasan detik, energi yang dikumpulkan selama ratusan tahun dilepaskan sekaligus. Dua sisi sesar saling bergeser secara mendatar. Itulah sebabnya Sesar Palu-Koro digolongkan sebagai sesar geser (strike-slip fault). Yang bergerak bukan gunung yang runtuh, melainkan dua massa batuan yang saling menggesek ke arah berlawanan.

     Dari permukaan, semuanya tampak mustahil.

sumber: https://link.springer.com/article/10.1186/s40562-020-0150-2/figures/1

ilustrasi generated by Banana

     Rumah-rumah seolah berjalan. Pagar tidak lagi bertemu dengan halaman. Jalan raya kehilangan pasangannya. Sungai menemukan alur yang baru.

     Padahal rumah tidak pernah berjalan. Jalannya pun tidak pernah melompat. Yang berpindah adalah tanah tempat semuanya berdiri.

     Namun Palu menyimpan satu cerita lain yang bahkan lebih ganjil.

     Di Petobo, Balaroa, dan Jono Oge, tanah kehilangan sifatnya sebagai tanah. Getaran gempa membuat lapisan sedimen yang jenuh air berubah perilaku seperti cairan. Dalam beberapa menit, permukaan yang selama ini dianggap kokoh mendadak mengalir. Rumah-rumah terbawa bersama pepohonan, sawah, bahkan tiang listrik. Peristiwa itu dikenal sebagai likuefaksi.

     Ironisnya, likuefaksi bukan terjadi karena tanah menjadi lebih lemah. Ia terjadi karena air yang selama ini mengisi pori-pori sedimen tiba-tiba menerima tekanan sedemikian besar sehingga butiran tanah kehilangan kemampuan saling mengunci. Tanah tidak berubah menjadi air. Ia hanya berhenti bersikap seperti tanah.

     Tidak jauh dari sana, dasar Teluk Palu juga bergerak. Perubahan mendadak pada dasar laut, ditambah longsoran bawah laut yang dipicu gempa, membangkitkan tsunami yang dalam hitungan menit mencapai daratan. Gempa, likuefaksi, dan tsunami datang hampir bersamaan, seolah bumi sedang mempertontonkan seluruh kemampuannya dalam satu panggung.

     Padahal tidak ada pertunjukan.

     Yang terjadi hanyalah hukum-hukum geologi bekerja sebagaimana mestinya.

     Istilah "luka" lahir dari pengalaman manusia, bukan dari cara bumi bekerja. Bagi bumi, sesar bukanlah tanda kegagalan, melainkan jejak dari perubahan yang tidak pernah berhenti. Selama lebih dari empat miliar tahun, kerak bumi terus menerima tekanan, melengkung, bergeser, terangkat, lalu terkikis kembali. Yang disebut sesar hanyalah bagian dari perjalanan panjang itu yang kebetulan cukup jelas untuk dikenali dan diberi nama.

     Kata "patah" membantu manusia memahami perubahan yang melampaui ukuran hidupnya sendiri. Gempa yang berlangsung belasan detik terasa datang tanpa peringatan, padahal energi yang dilepaskannya telah terkumpul selama ratusan hingga ribuan tahun. Dalam umur bumi, peristiwa itu hanyalah satu bab dari kisah yang nyaris tak berujung. Dalam umur manusia, ia cukup untuk membelah kehidupan menjadi dua: sebelum dan sesudah.

     Karena itulah bumi tidak pernah benar-benar patah. Rumah dapat bergeser, jalan dapat kehilangan sambungan, bahkan satu kampung dapat berpindah tempat. Semua itu mengubah hidup manusia, tetapi tidak mengubah cara bumi bekerja. Yang sesungguhnya runtuh sering kali bukan planet ini, melainkan keyakinan manusia bahwa tanah di bawah kakinya akan selalu tetap di tempatnya.

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.