Pagi itu seorang lelaki tua menyapu halaman rumahnya. Daun-daun yang gugur semalam dikumpulkannya menjadi satu tumpukan kecil. Tak ada yang istimewa. Angin datang, menyebarkannya lagi. Lelaki itu hanya tersenyum, lalu mengulang pekerjaannya. Yang paling sabar bukan pohon. Yang paling sabar adalah orang yang tetap menyapu halaman yang tahu akan kembali dipenuhi daun.
Barangkali hidup memang tidak pernah bergerak menuju kemenangan. Ia hanya bergerak dari satu pengulangan ke pengulangan berikutnya. Yang berubah bukan dunianya, melainkan cara manusia memandang dunia. Karena itulah dua orang dapat melewati jalan yang sama, tetapi pulang dengan cerita yang berbeda. Perjalanan tidak mengubah jalan. Ia mengubah siapa yang pulang.
Mungkin sebab itu masa kanak-kanak terasa lebih panjang daripada usia dewasa. Bukan karena waktu berjalan lebih lambat, melainkan karena hampir setiap hari menghadirkan sesuatu yang belum pernah dilihat.
Seorang anak kecil memandangi hujan dari balik jendela. Ia bertanya mengapa langit menangis. Bertahun-tahun kemudian ia belajar tentang penguapan, tekanan udara, dan kondensasi. Ia akhirnya mengetahui bagaimana hujan terjadi, tetapi diam-diam kehilangan satu pertanyaan yang dulu membuatnya menatap langit begitu lama. Pengetahuan menjawab banyak pertanyaan. Rasa ingin tahu melahirkan yang lebih penting.
Bertambah usia sering disangka sama dengan bertambah mengerti. Padahal yang lebih sering terjadi adalah bertambah terbiasa. Sesuatu yang dulu dipandang dengan rasa ingin tahu perlahan diterima sebagai sesuatu yang sewajarnya ada. Pertanyaan-pertanyaan mengecil, sementara keyakinan tumbuh tanpa banyak disadari.
Manusia tumbuh bersama jawaban. Lalu perlahan menyadari bahwa setiap jawaban hanyalah pagar sementara. Di baliknya selalu ada ladang yang lebih luas. Orang yang paling cepat menemukan jawaban sering kali berhenti paling awal. Semakin luas pengetahuan, semakin sadar seseorang akan luasnya apa yang belum diketahuinya. Kesombongan adalah pengetahuan yang berhenti berjalan.
Di pasar, seorang pedagang menimbang gula dengan timbangan yang sedikit dimiringkan. Selisihnya hampir tak terlihat. Pembeli pulang sambil tersenyum karena merasa mendapatkan harga murah. Pedagang pun tersenyum karena merasa lebih cerdik. Mereka berdua sama-sama merasa menang. Kecurangan yang paling awet adalah yang menguntungkan dua pihak pada saat yang sama.
Tidak banyak orang menganggap dirinya tidak jujur. Hampir semua memiliki alasan yang terdengar masuk akal. Timbangan yang dimiringkan dianggap sekadar mencari untung. Janji yang diingkari disebut keadaan yang berubah. Kebohongan kecil diberi nama sopan: terpaksa.
Barangkali memang demikian cara hati bekerja. Ia lebih sibuk mencari pembenaran daripada mengakui kesalahan. Banyak keyakinan bertahan bukan karena benar, melainkan karena belum pernah dipertanyakan dengan sungguh-sungguh. Dan mungkin keyakinan yang paling sulit dipertanyakan adalah keyakinan tentang diri sendiri.
Waktu berlalu. Rambut mulai memutih. Nama-nama yang dulu sering disebut perlahan menghilang dari percakapan. Wajah mulai kabur di dalam ingatan. Tanggal lahir dan tanggal kematian akhirnya hanya menjadi angka.
Anehnya, satu kalimat dapat bertahan jauh lebih lama daripada seluruh riwayat hidup yang melahirkannya. Tubuh berhenti menua ketika mati. Kalimat bisa terus menua tanpa pernah mati.
Mungkin karena itulah ada kalimat-kalimat yang tidak terasa seperti hasil menulis. Ia lebih menyerupai sesuatu yang terlalu lama hidup di dalam seseorang, lalu suatu hari menemukan bentuknya. Sebelum menjadi satu kalimat, ia pernah menjadi kebingungan, kegagalan, penyesalan, percakapan yang terlambat dipahami, juga kesunyian yang terlalu lama menemani.
Orang menyebutnya aforisme.
Padahal aforisme bukanlah kalimat yang berhasil dipendekkan. Ia adalah pengalaman yang telah terlalu lama diendapkan hingga tak lagi menyisakan bagian yang bisa dibuang. Seperti sungai yang selama bertahun-tahun mengikis batu, waktu perlahan mengikis kata-kata yang tidak penting. Yang tertinggal hanyalah inti.
Karena itu aforisme tidak lahir setiap hari. Yang lahir setiap hari hanyalah kalimat.
Aforisme lahir jauh lebih lambat. Ia membutuhkan mata yang bersedia memperhatikan, waktu yang bersedia mengendapkan, dan kehidupan yang cukup panjang untuk menghapus semua kata yang tidak perlu. Ketika akhirnya tiba, ia sering kali hanya terdiri atas satu kalimat. Namun di belakang satu kalimat itu, diam-diam berdiri bertahun-tahun kehidupan.

Posting Komentar
...